MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Anak Adalah Rezeki



Azkia memperhatikan buah mangga yang bergelantung di pohon yang dahannya menjuntai hampir menyentuh balkon kamarnya. Buah yang nampak hijau segar itu seakan menggoda tenggorakan Azkia hingga wanita itu menelan salivanya.


Azkia melangkah mendekat ingin mengambil buah mangga muda itu, namun dia agak kesulitan memetiknya walaupun dia sudah berusaha untuk berjinjit. Azkia bahkan sampai berusaha naik ke atas tembok pagar balkon untuk mengambil mangga itu.


" Almayra ...!! Kamu ini apa-apaan, sih!?"


Azkia tersentak kaget saat tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh Raffasya yang entah kapan datangnya, tiba-tiba saja sudah memeluk dan menurunkan tubuhnya yang sudah setengah berdiri di atas tembok pagar balkon.


" Papa?"


" Kenapa naik-naik tembok? Itu bahaya, Ma! Kalau jatuh ke bawah bagaimana?" Raffasya terlihat marah melihat tindakan istrinya yang sangat berbahaya tadi.


" Aku ingin ambil buah mangga itu, Pa." Azkia menunjuk buah mangga di pohon.


" Buah itu belum matang, Ma. Kalau mau mangga nanti Papa suruh Uni beli di toko buah di depan."


" Aku nggak mau yang matang, Pa. Aku mau yang itu." Azkia bersikukuh menginginkan buah mangga dari pohon.


" Tapi itu pasti asam rasanya."


" Nanti 'kan tinggal dicolek pakai sambal kacang, Pa. Pasti enak dan segar banget." Azkia mengusap lehernya.


Raffasya menyipitkan matanya mendengar permintaan istrinya.


" Ma, kamu kepingin makan mangga muda? Jangan-jangan kamu sedang mengidam lagi ..." Raffasya mencurigai istrinya itu sedang hamil, karena beberapa hari ini banyak sikap Azkia yang tidak seperti biasanya. Banyak tidur siang, banyak makan dan sekarang ini kepingin makan mangga muda.


Azkia terbelalak mendengar dugaan suaminya jika dia sedang mengidam.


" Aku ngidam? Aku hamil maksudnya, Pa?" Azkia justru balik bertanya kepada suaminya.


" Iya, kamu belum datang bulan, kan? Terakhir datang bulan itu sebelum sakit, kan? Itu sudah sebulan lalu." Raffasya mengingat kapan terakhir kali istrinya mengalami menstruasi.


" Iya, aku belum datang bulan lagi setelah itu," jawab Azkia.


" Sebaiknya cepat cek kehamilan, Ma. Aku curiga kalau sekarang ini kamu sedang hamil muda. Kamu belum suntik KB lagi, kan?" tanya Raffasya lagi.


" Iya, aku memang belum suntik, Pa."


" Ya sudah, kamu harus segera periksa ke dokter Dessy. Aku antar sekarang, ya?" Raffasya ingin mengajak istrinya periksa untuk memastikan apakah istrinya itu hamil atau tidak.


" Aku cek pakai test pack saja dulu, Pa. Papa belikan saja dulu test pack nya." Azkia memilih mengeceknya menggunakan test pack. Karena sebenarnya dia tidak berharap harus hamil lagi sekarang ini saat dia masih menyu sui Naufal.


" Oke, aku ke apotik sekarang." Raffasya terlihat bersemangat ingin membeli alat cek kehamilan untuk istrinya.


" Tapi, Pa. Aku mau mangga itu." Azkia masih berminat memakan mangga muda dari pohon yang ada di pekarangan rumah Raffasya.


" Nanti aku suruh Uni ambil mangga itu."


" Memang Uni bisa naik pohon, Pa?"


" Nanti pakai alat pemetik buah. Bi Neng sama Uni biasa suka pakai itu buat ambil buah." Raffasya menjelaskan.


" Kamu tunggu di kamar saja, Ma. Nanti aku yang bilang Mbak Atun untuk buatkan sambal kacangnya. Aku ke apotik dulu, ya!?" Raffasya segera meninggalkan kamarnya untuk menyuruh Uni dan Atun menyiapkan apa yang diinginkan Azkia.


***


" Bagaimana, Ma?" tanya Raffasya saat Azkia mengecek urinnya setelah Raffasya membelikan alat pengecek kehamilan untuk Azkia. Raffasya berharap jika istrinya itu benar-benar hamil anak kedua mereka.


Azkia menunjukkan hasil test kehamilan di tangannya kepada Raffasya.


" Garisnya dua tapi masih agak samar, Pa." ucap Azkia.


" Jadi artinya apa? Hamil apa nggak, Ma?" tanya Raffasya tidak paham.


" Kemungkinan besar hamil, Pa." Azkia nampak tidak terlihat bahagia mengetahui dirinya hamil.


" Benar kamu hamil lagi, Ma? Alhamdulillah ..." Raffasya langsung memeluk Azkia karena rasa bahagia yang seketika menerpanya. Namun dia segera melerai pelukannya karena merasa Azkia terlihat kurang semangat mengetahui jika mereka akan segera memiliki momongan lagi.


" Kamu kok kelihatannya nggak bahagia, Ma? Kamu nggak suka hamil lagi?" tanya Raffasya heran.


" Bukan aku nggak senang, tapi Aku kasihan sama Naufal, Pa." ujar Azkia. Dia merasa kasihan karena anaknya itu masih kecil dan belum genap berusia setahun.


" Lalu bagaimana, dong? Kamu sudah terlanjur hamil sekarang ..." Raffasya pun terlihat bingung melihat Azkia yang kurang bersemangat.


" Papa, sih! Nggak mau sabaran banget kalau kepingin ..." keluh Azkia.


" Ya habis mau gimana lagi? Sudah terlanjur menjadi janin di sini." Raffasya mengelus perut Azkia yang masih datar. Sementara Azkia menatap ke arah Naufal yang terlelap di atas tempat tidur.


" Ma, walaupun kamu hamil, bukan berarti kamu berhenti memberikan kasih sayang kepada Naufal, kan? Naufal tetap akan mendapatkan kasih sayang dari kita berdua. Kamu jangan khawatirkan tentang itu, Ma." Raffasya mencoba menyakinkan Azkia jika anak pertama mereka tidak akan sedikitpun kehilangan rasa kasih sayang dari mereka.


" Kita mesti bersyukur karena kembali dipercaya mempunyai momongan. Harus diterima dengan ikhlas dan senang hati. Allah memberikan kita anak lagi, artinya Allah kembali melimpahkan rezeki buat kita." Raffasya memberikan nasehatnya kepada Azkia, agar istrinya itu tetap tenang dan tidak menyesal mengetahui tengah hamil anak kedua mereka.


***


" Waalaikumsalam, Kia. Ada apa, Nak? Naufal sedang apa?" Tiap kali menerima telepon dari Azkia, Natasha selalu menanyakan tentang cucunya itu.


" Naufal sedang sama Papanya, Ma." sahut Azkia.


" Mama selalu kangen sama cucu Mama itu. Kapan Naufal mau menginap di sini lagi, Kia?" tanya Natasha, dia ingin selalu berada di dekat cucu pertamanya itu.


" Nantilah, Ma. Aku bilang ke Papanya Naufal dulu," jawab Azkia.


" Kamu kenapa, Kia? Kok suaranya terdengar kurang semangat begini? Kamu sakit?" tanya Natasha terheran mendengar suara Azkia terdengar lesu.


" Aku hamil, Ma." ungkap Azkia mengatakan apa yang menyebabkannya kurang semangat.


" Hamil? Kamu pakai KB, kan?" Natasha terkejut mendengar kabar yang disampaikan putri tertuanya itu.


" Kemarin waktu Kia sakit lupa suntik, Ma."


" Lalu kalian berhubungan?"


" Suamiku sudah kebelet, Ma. Karena aku habis menstruasi dan sakit, jadi mau gimana lagi?"


" Ya sudah nggak apa-apa. Anak itu rezeki jadi patut kita syukuri. Mama juga waktu hamil kamu, kakak kamu usianya lebih muda dari Naufal. Oh ya, Naufal masih kamu kasih ASI?" Natasha pun mencoba membuka pikiran Azkia agar bisa berpikiran positif dan bisa menerima kehamilannya kembali yang terlalu cepat dari planningnya.


" Tadi Tante Dessy bilang Kia masih bisa menyu sui Naufal, tapi memang ada yang harus diperhatikan jika hamil saat masih menyu sui, Ma." ujar Azkia.


" Iya, memang, salah satunya rasa ASI nya itu akan berubah, yang biasanya manis akan terasa lebih asin. Biasanya anak akan enggan meneruskan menyu sui jika merasakan perubahan rasa dari ASI itu. Yang penting nutrisi kamu harus tetap diperhatikan agar sehat semuanya. Kamu, Naufal dan calon cucu Mama yang baru semuanya terpenuhi gizinya." Natasha menyemangati Azkia.


" Iya, Ma. Ya sudah ya, Ma. Kia hanya ingin memberitahu itu saja ke Mama. Kia juga mau kasih tau Mama Lusi soal kehamilan Kia ini, Ma." Azkia berniat mengakhiri obrolannya dengan Mamanya itu.


" Mama mertua kamu pasti heboh kalau tahu kamu hamil lagi, Kia." Natasha sudah memperkirakan tanggapan dari besannya itu.


" Iya, Ma. Mama Lusi pasti senang jika tahu akan dapat cucu lagi."


" Kamu beruntung dari awal dapat Mama mertua yang sayang dan mendukung kamu, Kia." Natasha merasa besannya itu memang sangat menyayangi Azkia. Sebagai orang tua, tentu saja dia bahagia anaknya itu begitu diperhatikan dan disayang seperti anak sendiri oleh Lusiana.


" Iya, Ma. Alhamdulillah Kia nggak mengalami yang namanya dimusuhi sama Mama mertua." Azkia terkikik menyindir Mamanya karena Natasha pernah cerita jika dulu Mamih Ellena pernah tidak setuju Yoga memperistri Natasha.


" Nyindir Mama, nih? Tapi sekarang Eyang Mamih kamu itu 'kan sudah berubah sayang sama Mama."


" Iyalah, orang Mama kasih banyak cucu yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik buat Eyang Papih sama Eyang Mamih."


Natasha tertawa mendengar ucapan Azkia.


" Sudah dulu ya, Ma. Salam buat Papa. Assalamualaikum ..." pamit Azkia mengakhiri panggilan teleponnya.


" Iya nanti Mama sampaikan salam dan kabar baik dari kamu. Waalaikumsalam ...."


***


" Kia ...! Naufal ...!"


Dari dalam kamarnya Azkia mendengar suara teriakan Lusiana memanggil namanya dan juga Naufal di luar kamar tidurnya. Azkia segera bengkit dari tempat tidur. Dia haru saja hendak beranjak tidur menyusul Naufal yang baru saja terlelap.


" Kia, Naufal ...!" Suara Lusiana semakin jelas terdengar saat pintu kamar dibuka oleh Mama mertua dari Azkia itu.


" Naufal sedang tidur, Ma." Azkia menempelkan jari telunjuknya di dekat bibirnya, meminta Mama mertuanya untuk tidak berisik.


" Naufal sedang tidur, ya?" Lusiana langsung memelankan suaranya.


" Iya, baru tidur, Ma. Dari tadi disuruh tidur susah sekali. Lagi rewel ..." Azkia menceritakan bagaimana anaknya itu sedang uring-uringan sebelum tertidur tadi.


" Bawaan karena dia ingin punya adik lagi mungkin, Kia." Lusiana kemudian mendekati Azkia dan memeluk tubuh menantunya itu.


" Selamat ya, Sayang. Kamu akan punya anak lagi. Nggak salah 'kan Mama pilih kamu jadi menantu Mama?" Lusiana merasa bahagia setelah dikabari oleh Azkia jika dia akan mempunyai cucu lagi selain Naufal.


" Terima kasih, Ma."


" Kamu jangan terlalu banyak aktivitas dulu, selain kamu sedang hamil muda, kamu juga masih menyu sui Naufal. Pasti akan sangat melelahkan harus hamil dan memberikan ASI. Karena itu kamu harus banyak makan makanan yang penuh gizi agar nutrisi untuk ASI kamu dan janin di perut kamu itu terpenuhi. Mama sudah belikan makanan dan buah-buahan untuk kamu. Mama sudah suruh Bi Neng siapkan dan bawa ke sini."


Azkia tersenyum mendengar penuturan Lusiana. Benar yang Mamanya bilang, dia sangat beruntung mendapatkan Mama mertua sebaik Lusiana, yang menyayanginya. Dan Azkia pun berjanji akan membalas kebaikan Lusiana dengan membahagiakan Mama mertuanya itu. Tentu saja selain memberikan cucu, rencana untuk menyatukan kembali Papa Mama mertuanya masih tetap dia usahakan agar Lusiana bisa merasa lebih bahagia mempunyai pendamping hidup kembali di usia yang sudah setengah abad lebih itu.


Mengingat rencana menyatukan kedua mertuanya kembali, seketika dia menemukan ide baru dalam pikirannya. Dia akan memanfaatkan kehamilannya ini untuk membuka jalan kedua mertuanya itu bersatu kembali.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️