
Bola mata Azkia terbelalak sempurna melihat kilauan berlian di hadapannya, belum lagi buket bunga rose dan baby's breath berukuran jumbo yang disodorkan Raffasya untuknya, hingga membuat Azkia tertegun beberapa saat. Dia serasa seperti berada di dunia novel, mendapatkan hadiah ulang tahun berlian dan buket bunga yang terlalu manis dan terlalu romantis jika harus diungkapkan lewat kata-kata.
Azkia merasa jika dirinya bak seorang putri yang begitu dicintai oleh seorang pangeran. Benar-benar membuat hatinya hampir meleleh. Namun saat melihat wajah suaminya yang sedang mengembangkan senyuman seketika rasa kesal itu kembali hadir jika mengingat suaminya itu telah berhasil mengerjainya hingga membuat dia cemas dan menangis.
" Kak Raffa pikir aku ini cewek matre, yang akan luluh lihat beginian?" Azkia menunjuk ke arah cincin dan buket bunga dengan lirikan matanya.
" Ya ampun, May. Aku ini lagi belajar jadi suami yang romantis, tanggapan kamu malah seperti itu, sih?" Raffasya yang awalnya menduga Azkia akan terkejut, terpana lalu mengucapkan terima kasih, justru merasa kecewa dengan reaksi biasa saja bahkan terkesan acuh yang ditunjukkan oleh Azkia terhadap pemberiannya.
" Aku tuh nggak butuh semua itu!" tegas Azkia. " Kak Raffa itu sudah bikin bayi di perutku ini cemas menunggu. Sekarang kasih hadiah, minta maaf, langsung selesai? Enak saja!" Azkia tidak menerima permintaan maaf suaminya itu dengan mudah.
" Oh, jadi dedek bayinya nungguin Papa, ya? Kangen sama Papa? Minta ditengokin Papa?" Raffasya tersenyum nakal dengan tangan mengusap berputar di perut Azkia, seolah tidak memperdulikan Azkia yang merajuk.
" Nggak! Siapa juga yang minta ditengokin??" Azkia buru-buru menjauhkan tangan Raffasya dari perutnya membuat Raffasya terkekeh.
Raffasya lalu bangkit ingin ke kamar mandi.
" Mau ke mana lagi?" tanya Azkia saat melihat Raffasya berdiri.
" Aku mau sikat gigi, mencuci muka, cuci tangan, cuci kaki, cuci alat tempur juga biar steril, soalnya mau jenguk anakku." Raffasya kembali menyeringai nakal.
" Dasar otak me sum! Sudah sana-sana!" Azkia segera mengusir suaminya.
" Jangan tidur dulu sebelum aku selesai, ya!" Raffasya tertawa menggoda Azkia karena dia tahu istrinya itu pasti akan mengumpatnya. Sedangkan Azkia segera menaruh kotak perhiasan dan buket bunga di atas nakas, setelah itu dia segera bergelung selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.
***
Azkia merasa geli saat dia merasakan bibir Raffasya menciumi punggung kakinya, bahkan saat ini ibu jari kakinya sedang dihisap oleh Raffasya.
" Kak Raffa apa-apaan?" Azkia mencoba menarik kakinya, karena apa yang dilakukan Raffasya dengan menciumi bagian kakinya adalah hal yang dia anggap tidak sepantasnya dilakukan. Namun Raffasya tidak melepaskan Azkia, kini bibir Raffasya malah bergerak ke atas hingga mencium dan menyapu betis hingga paha istrinya menggunakan bibirnya.
" Kak Raffa ...." Saat Raffasya membuka kaki Azkia, Azkia seolah tidak sanggup berkata apa-apa lagi, karena permainan tak biasa Raffasya kali ini kembali mampu membangkitkan gelenyar aneh di tubuh Azkia. Apalagi saat bibir Raffasya sudah mulai menguasai daerah di antara kedua kaki Azkia. Daerah yang sudah terlihat lembab karena permainannya.
" Oouugghhh ..." Azkia melenguh saat lidah tak bertulang suaminya itu menjelajahi daerah inti Azkia, hingga membuat Azkia menggeliat dengan punggung sedikif mengangkat.
" Kak ... Aakkhh ..." Azkia semakin tidak kuasa meladeni permainan Raffasya yang sudah on fire.
" Kak, sudah! Cepat masukin saja!" Azkia tidak kuasa menahan ga irah yang dipercikan oleh sentuhan suaminya hingga kepalanya seakan mau pecah. Mungkin seperti itulah yang dirasakan oleh Raffasya setiap Azkia menolaknya.
Tapi sepertinya Raffasya tidak ingin menyudahi pemanasan itu, hingga dia dan istrinya benar-benar merasa terbakar. Indra perasanya justru terus menikmati permukaan bagian luar surga dunia milik sang istri.
" Kak ... aku nggak tahan ..." Rasanya Azkia ingin menyerah saja meladeni hasrat bira hi sang suami yang selalu ingin mengajaknya melakukan aktivitas berbagi peluh dan kenikmatan.
Melihat istrinya yang sudah pasrah, Raffasya segera bangkit dan mengungkung tubuh Azkia.
" Aku sudah memberimu hadiah ulang tahun dalam bentuk barang, saatnya memberimu hadiah ulang tahun dalam bentuk kepuasan." Raffasya langsung menyergap, mengecap dan melu mat bibir Azkia yang segera dibalas oleh Azkia, hingga kini mereka berdua sudah sama-sama terbakar gelora asmara yang memabukkan. Sementara tangan Azkia mengarahkan alat tempur milik suaminya untuk segera memasuki intinya, karena dia pun sudah menginginkan penyatuan itu.
" Kamu tadi khawatir aku nggak pulang cepat dan nggak kasih kabar, kan?" tanya Raffasya dengan tangan memainkan anak rambut Azkia.
" Bukan aku yang khawatir, tapi anak Kak Raffa di perut ini yang khawatir." Azkia menampik anggapan kalau dirinya mencemaskan suaminya itu.
" Oh, jadi dedek bayi di sini yang khawatir? Pantas tadi kamu nggak sabar suruh aku masuk nengokin dedek bayinya, ya?" Raffasya kembali terkekeh kembali mengusap perut Azkia. Walaupun istrinya itu masih selalu gengsi mengakui perasaannya, namun kini Azkia sudah mulai mengikuti dan menikmati setiap sentuhannya.
" Sudah ah, Kak. Aku ngantuk ..." Azkia melingkarkan tangannya di perut sang suami dan memejamkan matanya. Raffasya sempat mengecup kening Azkia sebelum membiarkan istrinya itu tertidur lelap.
***
" Pagi, Nek." Raffasya dan Azkia menyapa Nenek Mutia yang sudah menunggu di ruang makan.
" Semalam kamu pulang jam berapa, Raffa? Nenek sudah bilang ke kamu, rubah kebiasaan kamu pulang malam. Kamu tidak kasihan istri kamu cemas menunggu kamu tanpa ada kabar?" Nenek Mutia langsung memarahi Raffasya tanpa meladeni sapaan sepasang suami istri itu.
" Kalau kamu sudah tidak mau menuruti Nenek, kamu mau menuruti siapa lagi?" Nenek Mutia masih belum puas menegur cucunya itu.
" Nek, Nenek jangan marah dulu. Kak Raffa semalam itu ternyata kasih kejutan ulang tahun sama Kia, Nek. Jadi Kak Raffa sengaja pulang telat dan nggak kasih kabar." Azkia memberi pembelaan kepada suaminya yang kena marah Neneknya.
Nenek Mutia menoleh ke arah Azkia saat mendengar ucapan cucu menantunya itu.
" Jadi dia memang sengaja telat pulang dan sengaja tidak memberi kamu kabar, kan?" Nenek Mutia tetap menganggap Raffasya bersalah.
" Bukan begitu, Nek!" sanggah Azkia dengan cepat. " Kak Raffa pulang telat bukan karena Kak Raffa kembali seperti dulu lagi, Nek." Azkia yang merasa bersalah karena semalam dia sudah memprovokasi Nenek Mutia untuk menegur Raffasya langsung memberikan klarifikasi. " Kak Raffa sengaja itu karena ingin memberi kejutan bukan karena bermaksud tidak baik."
" Jadi Nenek jangan marah sama Kak Raffa, ya?" Azkia memberi penjelasan kepada Nenek Mutia agar tidak salah paham lagi.
" Nenek tetap akan menghukum Raffa, Kia! Tidak seharusnya Raffa mengerjai kamu seperti semalam. Kamu semalam cemas, stres, tidak tenang. Itu bisa berpengaruh ke janin di perutmu, Kia. Dan itu sangat berbahaya." Kini Nenek Mutia menatap tajam ke arah Raffasya. " Nenek nggak suka dengan rencana-rencanamu yang mengancam keselamatan calon cicit Nenek, Raffa!" tegas Nenek Mutia berkata serius.
" Maaf, Nek." Raffasya langsung mengucapkan permintaan maafnya kepada Neneknya. Sementara Azkia menjadi serba salah karena kemarahan Nenek Utami terjadi karena dia mengadukan sikap Raffasya yang telat pulang semalam.
*
*
*
Bersambung ...
Selamat hari Raya Idul Fitri, untuk beberapa hari ke depan mungkin up nya nggak akan panjang, ya. Mungkin juga akan absen, karena Othornya mau mudik dan menikmati liburan ke Bandung. Maklum Othornya rada kurang piknik dan butuh ketemu piknik soalnyađ¤
Happy Readingâ¤ď¸