MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Gagal



Semua orang yang ada di sekeliling meja makan langsung terdiam mendengar kalimat pedas yang keluar dari mulut Lusiana. Terlebih lagi Raffasya yang langsung menatap tajam Mamanya itu.


" Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba membahas soal mantan suami?" Fariz langsung bertanya saat mendengar ucapan Lusiana tadi.


" Nggak ada apa-apa kok, Pa. Bukan hal yang penting." Raffasya menyahuti pertanyaan Fariz, karena dia tidak ingin masalah ini terus dibahas.


" Kia, ada apa? Kenapa Mama mertuamu yang cerewet ini sampai mengatakan kalimat arogan seperti itu?" Tak mendapat jawaban memuaskan dari Raffasya, Fariz kini bertanya kepada menantunya itu.


" Kia nggak tahu apa-apa kok, Pa. Kia cuma bilang seandainya Papa Mama masih bersama Naufal pasti akan senang. Kia juga nggak mengerti kenapa Mama malah bilang seperti itu? Kenapa Mama berpikir kalau Kia berniat menjodohkan Papa dan Mama?" Azkia malah berkelit dan terkesan ingin cuci tangan hingga memojokkan Mama mertuanya.


Tentu saja sanggahan yang dilontarkan Azkia membuat Lusiana membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka menantu yang begitu disayanginya justru menyudutkannya seperti sekarang ini. Padahal dia tahu jika semua ini adalah rencana dari Azkia yang berniat menyatukan dia dengan mantan suaminya kembali.


" Ya seperti itulah Mama mertuamu ini, Nak. Kamu harus banyak bersabar menghadapi Mama mertuamu." Fariz makin leluasa menyindir Lusiana.


" Azkia, Mama nggak sangka kamu bisa berbuat seperti itu kepada Mama." Lusiana masih menggelengkan kepala seakan sulit untuk mempercayai tindakan Azkia yang terlihat lebih mendukung Fariz dan mempermalukannya seperti saat ini.


" Ma, Mama jangan marah sama Kia, dong." Azkia yang melihat Mama mertuanya terlihat penuh amarah langsung mengusap lengan Lusiana. " Tapi sejujurnya Kia senang kok, kalau Papa Mama bisa balikan lagi. Nggak ada salahnya 'kan kalau Kia berharap seperti itu? Kia rasa itu akan baik juga untuk Naufal ke depannya jika melihat Opa sama Omanya bisa bersama kembali."


" Dan harapan kamu itu tidak akan terwujud, Kia!" tegas Lusiana.


" Sebaiknya kamu nggak terus membicarakan hal itu, May. Maafkan Almayra, Pa, kalau Almayra sudah bikin kegaduhan ini." Raffasya kembali ingin menyudahi perbincangan seputar perjodohan kedua orang tuanya seraya menatap dengan sorot mata tajam seolah memerintahkan istrinya agar berhenti membahas soal kedua orang tuanya.


" Maaf, Pa. Sebenarnya ini memang rencana Kia." Azkia memilih untuk memberi pengakuan soal rencananya.


" May ...!"


" Kia memang berencana ingin menyatukan kembali Papa dan Mama. Karena Kia ingin kita menjadi satu keluarga kembali. Kak Raffa mempunyai orang tua yang utuh, seperti yang Kak Raffa idamkan selama ini. Dan Naufal pun punya Opa dan Oma yang dekat dengan dia. Papa sekarang sudah tidak ada pendamping, Mama juga masih betah menyendiri. Kia rasa nggak ada salahnya kalau Papa dan Mama saling membuka hati kembali. Kia melakukan ini karena Kia sangat menyayangi Kak Raffa juga Papa dan Mama. Semua ini Kia lakukan untuk kebahagiaan keluarga kita. Kia berharap agar Mama dan Papa tidak mempertahankan ego masing-masing. Pikirkanlah kami anak dan cucu Papa dan Mama," tutur Azkia memohon.


Diluar dugaan, Fariz justru malah tertawa kecil menanggapi pengakuan Azkia.


" Kia, Kia, kamu ini ada-ada saja, Nak. Masa mau menjodohkan kami, seperti anak muda saja main jodoh-jodohan segala. Kamu dengar sendiri 'kan Mama mertuamu tadi bilang apa? Dia tidak mau memungut barang bekas, padahal barang bekasnya ini dulu pernah dipujanya setengah mati." Fariz melirik ke arah Lusiana. " Siapa tahu sampai sekarang juga masih seperti itu, cuma gengsi saja mengakuinya," lanjutnya kemudian saat mendapati Lusiana juga sedang meliriknya.


" Jangan geer ya, Mas! Siapa juga yang masih memuja Mas Fariz??" Lusiana menyangkal secepat kilat.


" Jangan membohongi perasaan kamu, Lus. Untuk apa terus menyendiri kalau bukan karena masih belum bisa melupakan aku." Fariz tersenyum senang karena berhasil memancing emosi mantan istrinya dulu.


" Aku menyendiri itu karena aku nggak mau menikah dan mendapatkan suami seperti Mas Fariz lagi!" sergah Lusiana.


" Memang apa yang salah denganku? Tidak ada salah, justru kamunya saja yang sangat egois jadi tidak bisa melihat kebaikan mantan suami kamu ini!" balas Fariz.


Raffasya hanya menghela nafas panjang, sepertinya perdebatan ini tidak mudah untuk diakhiri begitu saja. Apalagi kedua orang tuanya sudah saling serang dengan sindiran-sindiran. Sementara Azkia langsung menggaruk tengkuknya seraya melirik ke arah Raffasya yang sedang menatapnya seolah berkata. " Ini semua karena ulahmu, May."


***


Beberapa hari berlalu hingga kini usia Naufal sudah masuk empat puluh hari. Acara tasyakuran empat puluh hari kelahiran Naufal pun diadakan di rumah milik Raffasya sesuai dengan keinginan Raffasya meskipun sebenarnya Natasha ingin acara itu diadakan di rumahnya.


Beberapa ibu-ibu tetangga di sekitar rumah Raffasya datang di acara tersebut selain kerabat dari keluarga Raffasya dan Azkia. Tasyakuran empat puluh hari Naufal berjalan dengan sederhana namun khidmat. Raffasya memang tidak ingin menyelenggarakan acara tersebut dengan acara yang mewah karena dia memang tidak suka segala sesuatu yang terlalu berlebihan, walaupun orang tua dan mertuanya sangat berkecukupan.


Setelah acara tasyakuran selesai Raffasya terlihat begitu bersemangat menggendong putranya yang sedang dikelilingi oleh adik-adik sepupu dan juga iparnya. Sementara Azkia sendiri masih berbincang dengan Natasha.


" Ma, nifas aku kok belum selesai, ya? Masih saja ada darah yang keluar, belum bersih." Azkia merasa tak tenang karena dia masih belum dalam kondisi suci padahal sudah memasuki usia empat puluh hari pasca kelahiran Naufal.


" Kamu masih belum bersih?"


" Iya, Ma. Kenapa ya, Ma?"


" Ya sudah nggak apa-apa. Itu biasa terjadi, kok. Kondisi setiap ibu pasca melahirkan itu berbeda-beda. Ada yang masa nifasnya kurang dari empat puluh hari ada yang lebih dari empat puluh hari. Besok konsultasi sama Tante Dessy saja biar kamu enak tanya-tanya nya." Natasha menganjurkan putrinya itu untuk berkonsultasi kepada dokter Dessy.


" Iya, Ma. Kia kasihan sama Kak Raffa, sudah lama nggak dikasih jatah," ujar Azkia jujur seraya menatap ke arah suaminya.


" Kamu sendiri nggak kepingin, Kia?"


Azkia langsung mengeser pandangannya kini ke arah Natasha seraya menyeringai.


" Iya Kia juga sudah kepingin sih, Ma." Azkia tersipu malu.


" Hmmm, sudah ketagihan ya sekarang?" Natasha sengaja menggoda Azkia.


" Iya, Ma." sahut Azkia jujur. " Kia nggak menyangka ternyata bersama Kak Raffa, Kia bisa bahagia seperti sekarang ini, Ma."


" Oh ya, Kia. Nanti kamu langsung KB saja, ya!Takutnya kamu kebobolan lagi kayak Mama dulu. Kasihan Naufal masih kecil." Natasha menyarankan Azkia untuk memakai alat kontrasepsi agar Azkia tidak kembali hamil dalam waktu dekat.


" Kia juga berencana menambah anaknya dua atau tiga tahun mendatang, Ma." jawab Azkia yang memang sepemikiran dengan Mamanya.


" Syukurlah kalau kamu juga punya planning seperti itu," sahut Natasha.


Setelah berbincang cukup lama, semua kerabat Azkia dan Raffasya sudah kembali ke rumah masing-masing sebelum Maghrib. Dan suasana rumah Raffasya pun kembali seperti semula. Hanya ada Raffasya, Azkia, Naufal, Bi Neng dan juga Uni. Lusiana sendiri sebenarnya tadi berniat ingat lebih lama berada di sana, namun ada urusan mendadak yang membuat Oma Naufal itu meninggalkan rumah Raffasya.


" Naufal, Sayang. Nanti Papa sama Mama mau lepas kangen, Naufal jangan ganggu Papa sama Mama, ya!? Naufal bobo saja yang nyenyak." Raffasya terlihat sedang mengajak bicara Naufal yang hanya menatap wajah Papanya sambil melengkungkan senyuman di bibir mungilnya walaupun bayi mungil itu tidak mengerti apa yang diucapkan Papanya.


" Anak pintar, Naufal mengerti apa yang Papa mau, kan?" Raffasya mencium gemas anaknya itu yang langsung tertawa karena merasa geli.


" Ada apa sih Papa sama Naufal ketawa-ketawa?" Azkia keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe dengan tangan memegang handuk mengeringkan rambutnya.


" Naufal, lihat tuh ... Mama habis mandi wajib, kayaknya nanti malam Papa bisa balas dendam karena nggak dikasih jatah sebulan lebih sama Mama."


" Astaga, Kak! Jangan bicara sembarang depan anak, dong!" Azkia melancarkan protes karena ucapan Raffasya yang dianggapnya tidak pantas diucapkan di depan Naufal walaupun Naufal masih belum memahami.


Raffasya bangkit dan menghampiri Azkia lalu memeluk tubuh istrinya itu.


" Maaf, Mama Sayang. Mama Naufal sudah mandi wajib, kan? Sudah siap betapa ronde nanti malam?" Raffasya tersenyum senang sambil menciumi leher Azkia.


" Nggak apa ronde-rondean nanti malam, Kak." Azkia mencoba melepas pelukan suaminya.


" Kok nggak ada, May? Ini sudah empat puluh hari, kan? Sudah waktunya buka puasa, dong!" protes Raffasya.


" Iya, tapi nifasku belum selesai, Kak. Jadi nggak bisa melakukan hubungan suami istri dulu." Azkia menjelaskan seraya menatap suaminya yang wajahnya nampak kecewa.


" Nggak bisa gitu dong, May! Kamu bilang empat puluh hari, ini sudah empat puluh hari, masa mau ditambah lagi??" ketus Raffasya.


" Mana aku tahu, Kak. Nifas aku memang belum selesai, kok."


" Kenapa pakai kamu lama-lamain segala masa nifasnya, sih??" Raffasya merasa kesal.


" Ya ampun, Kak. Yang mengatur 'kan bukan aku, kenapa Kak Raffa malah menyalahkan aku?" Melihat Raffasya seolah menyalahkannya akibat masa nifasnya belum juga selesai, hal itu membuat Azkia tak terima.


" Harusnya kamu konsultasi sama dokter Dessy kenapa belum selesai padahal sudah empat puluh hari. Kalau begini 'kan aku yang rugi, May. Sudah senang-senang mau masuk sarang malah gagal!" gerutu Raffasya yang merasa kecewa karena dia masih harus menahan has rat nya untuk bercinta dengan istrinya.


" Besok aku konsultasi ke Tante Dessy," sahut Azkia.


" Kenapa nunggu besok? Kenapa nggak sekarang saja?" Raffasya langsung mengambil ponsel Azkia dan mencari nomer dokter Dessy.


" Kak Raffa mau apa?" Azkia mengekor langkah suaminya.


" Aku mau telepon dokter Dessy."


Azkia langsung mengambil ponsel miliknya dari tangan Raffasya.


" Kak Raffa tuh egois banget, sih! Apa yang ada dipikiran Kak Raffa itu hanya hubungan badan saja?? Kak Raffa pikir aku ini nggak lelah setelah melahirkan dan harus melewati masa nifas selama empat puluh hari lebih?" Azkia merasa kesal karena Raffasya seolah tidak mengerti kondisinya saat ini. Dan justru menyalahkannya karena dia belum bisa menjalankan kewajibannya melayani suami dengan seutuhnya.


Azkia langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur di samping Naufal dan memeluknya sama seperti beberapa hari lalu saat dia marah terhadap suaminya itu tanpa mengganti bathrobe nya terlebih dahulu.


Raffasya menyadari kesalahannya, dia menghela nafas panjang lalu berjalan mendekat ke arah istrinya dan berbaring di samping Azkia dan memeluk tubuh Azkia dari belakang


" Maafkan aku, May. Aku sudah egois nggak memperdulikan kondisi kamu." Raffasya menciumi leher dan pipi Azkia. Namun Azkia bergeming sama sekali tidak memperdulikan suaminya yang sedang membujuknya.


" Naufal, Mama marah lagi deh sama Papa. Hiks ... Naufal bantu Papa bujuk Mama supaya Mama ngambeknya jangan lama-lama." Raffasya sengaja memakai anaknya untuk meluluhkan kemarahan Azkia.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️