MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Melepas Rindu



Azkia sengaja mengerjakan sholat Maghrib di kamar Nenek Mutia agar tidak diketahui oleh Raffasya jika dia sudah dalam keadaan bersih.


" Lho, kok Mbak Kia sholat di kamar Ibu Mutia?" tanya Bi Neng dari pintu saat melihat Azkia yang sedang melipat mukenah.


" Sssttt ...!" Azkia mendekatkan telunjuknya di bibirnya meminta Bi Neng untuk tidak berisik. " Bi Neng jangan berisik, nanti Kak Raffa dengar!"


" Lho, memangnya kenapa, Mbak?" tanya Bi Neng terheran.


" Bi Neng jangan bilang-bilang Kak Raffa, ya!? Aku mau kasih kejutan Kak Raffa, Kak Raffa pikir aku masih nifas, padahal aku sudah selesai." Azkia terkikik menahan tawa.


" Oh, ceritanya nanti malam mau tempur ya,. Mbak?" Kali ini Bi Neng yang terkikik menggoda Azkia.


" Sssttt, jangan keras-keras dong, Bi!" tegur Azkia kembali.


" Eh, maaf, Non." Bi Neng menutup mulutnya. " Ya sudah, selamat melepas rindu sama suami, Mbak," lanjutnya kemudian.


" Makanan untuk makan malam sudah disiapkan, Bi?" tanya Azkia berjalan ke luar kamar Nenek Mutia menuju ruangan makan.


" Sudah, Mbak. Bibi sudah hangatkan sapi lada hitam sama buatkan capcay kuah." Bi Neng menyahuti. " Mau makan sekarang, Mbak?"


" Iya, Bi." jawab Azkia. " Mbak, tolong panggilkan Kak Raffa suruh makan malam. Sama tolong jagain Naufal dulu di kamar!" Azkia meminta tolong kepada Uni yang baru keluar dari kamar untuk memanggil Raffasya yang masih berada di dalam kamar menemani Naufal.


" Baik, Mbak." Uni bergegas menuruti perintah Azkia.


Tak lama Raffasya pun sudah muncul di ruang makan membawa Naufal dengan Uni mengekor di belakangnya.


" Kenapa Naufal dibawa, Kak?" tanya Azkia saat suaminya itu menggendong Naufal di lengannya.


" Naufal mau ikut menemani Papanya makan, soalnya Mama Naufal lagi marah terus sama Papa, jadi Papa nggak ada yang mengajak mengobrol." Raffasya menyampaikan alasannya kenapa dia membawa anaknya itu bersama.


Azkia memutar bola matanya mendengar alasan yang disampaikan oleh Raffasya. Dia lalu mengambil Naufal dari tangan Raffasya lalu menyerahkan kepada Uni. " Jangan ngaco deh, Kak!"


" Mbak, temani Naufal dulu di kamar!" perintah Azkia kembali.


" Baik, Mbak." Uni akhirnya membawa Naufal kembali ke dalam kamar.


" Sudah cepat makan! Nggak usah lebay!" Azkia menyuruh suaminya itu menyantap makanannya.


" May, besok hari libur. Mumpung car free day kita jalan-jalan ajak Naufal, yuk! Kita belum pernah ajak keluar Naufal sejak dia lahir, kan?" Raffasya mengajak Azkia untuk berjalan-jalan menikmati hari Minggu.


Azkia menoleh ke arah suaminya. Rasanya seru juga jika dia menikmati jalan pagi hari bersama suami dan anaknya itu. Sudah lama juga dia tidak merasakan jalan-jalan pagi di kota kelahirannya itu.


" Kamu capek nggak kalau besok aku ajak jalan?" tanya Raffasya lagi karena Azkia tak menjawab ajakannya.


" Iya sudah, tapi nanti Kak Raffa yang pegang Naufal, ya?" Akhirnya Azkia merespon.


" Oke, nggak masalah. Ada baby stroller ini." Raffasya menyeringai.


" Kak Raffa mau sapi lada hitam?" tanya Azkia saat mengambilkan nasi untuk suaminya.


" Boleh, aku minta agak banyak saja nasinya, sama pakai sayur juga," sahut Raffasya.


Azkia kemudian mengambilkan apa yang diminta oleh Raffasya kemudian meletakan piring berisi nasi dan lauk di hadapan suaminya itu.


" Kita makan bersama, satu piring berdua, biar terlihat romantis." Raffasya meminta Azkia duduk di sampingnya.


Azkia mengerutkan keningnya mendengar permintaan suaminya itu, namun dia tetap menuruti apa yang diminta suaminya itu.


" Aku suapin kamu ..." Raffasya menyendok nasi dan lauk dengan sendok lalu mengarahkan ke mulut Azkia hingga Azkia membuka mulutnya siap menyantap makanan yang disodorkan Raffasya.


" Baca doa dulu sebelum makan!" Raffasya menahan sendok yang dipegangnya padahal Azkia sudah membuka mulutnya.


Terang saja sikap usil Raffasya membuat Azkia seketika memberengut dan mengatupkan kembali mulutnya.


" Kok ngambek? Aku 'kan bicara benar. Sebelum makan harus baca doa dulu." Raffasya terkekeh karena berhasil mengerjai istrinya.


" Aku ambil makan sendiri saja!" Azkia mengambil piring dan siap mengisi nasi ke piring itu. Sebenarnya dia juga tidak benar-benar marah, dia hanya menutupi sandiwaranya saja agar suaminya tidak menduga jika dia akan memberikan kejutan kepada suaminya.


" Kamu jangan dikit-dikit ngambek, dikit-dikit ngambek. Sensi banget kamu, May. Sudah duduk lagi, baca doa dalam hati saja." Raffasya kemudian menyuapkan kembali nasi dan lauk ke mulut Azkia.


Azkia kembali terduduk dan akhirnya mulai menyantap makanan satu piring berdua bersama Raffasya.


" Mbak Kia sama Mas Raffa romantis sekali." Bi Neng yang menyiapkan puding di atas meja langsung mengomentari sikap mesra pasangan muda suami istri di hadapannya itu.


" Iya dong, Bi. Biar aku makin disayang sama istri." Raffasya menyahuti dan masih menyuapkan makanan ke mulut Azkia bergantian dengan mulutnya.


" Mbak Kia sudah pasti makin sayang sama Mas Raffa. Mas Raffa beruntung dapat istri seperti Mbak Kia. Sudah cantik, baik, sayang keluarga ...."


" Dari keluarga kaya raya lagi ..." Raffasya menyambung kalimat Bi Neng.


" Itu namanya rezeki, Mas." sahut Bi Neng.


" Iya, Bi Neng. Alhamdulillah, walaupun dapatnya tidak disengaja, hehe ..." Raffasya menyeringai. Karena dia memang tidak pernah menduga akan menikah dengan Azkia.


" Makanya Mas Raffa harus menjaga Mbak Kia baik-baik, belum tentu bisa dapat lagi wanita baik seperti Mbak Kia ini." Bi Neng menasehati.


" Siap, Bi Nenk. Aku akan ikat Mamanya Naufal biar nggak bisa ke mana-mana." Raffasya berkelakar membuat Bi Neng ikut tertawa senang.


***


Selepas sholat Isya, Azkia kembali ke kamarnya. Dia ingin memberikan ASI kepada Naufal agar anaknya itu cepat tertidur, jadi dia bisa mulai aksinya bersenang-senang melepas rindu bersama suaminya.


" Kamu habis darimana sih, May? Nggak cepat kembali ke kamar habis makan tadi?" Raffasya mempertanyakan kenapa Azkia telat bergabung ke kamar setelah makan malam dan membuat dia harus menunggu di dalam kamar bersama Naufal.


" Aku tadi habis bantu Bi Neng dulu di dapur," jawab Azkia.


" Ada Uni yang membantu, kenapa kamu harus ikut repot di dapur?" protes Raffasya.


" Sekali-sekali nggak apa-apa, kan?" Azkia segera menyu sui Naufal. " Sudah sana Kak Raffa sholat dulu!" Azkia tahu suami itu belum sempat menjalankan ibadah sholat isya nya karena tadi menjaga Naufal selama dia di bawah.


Raffasya pun segera bangkit dan menatap Naufal yang terlihat nyaman menyesap ASI nya.


" Kapan aku bisa seperti itu lagi, May? Apa nifasmu masih belum selesai juga?" tanya Raffasya kurang bersemangat.


" Sudah sana sholat dulu! Pikirannya disucikan dulu jangan mikir hal me sum terus!" sindir Azkia.


" Dekat dengan kamu, mana mungkin aku nggak mikir me sum." Raffasya menyeringai seraya berlalu ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Satu jam kemudian, Naufal sudah tertidur nyenyak dan melepas pu ting Azkia dari mulutnya. Azkia kemudian mengangkat tubuh Naufal yang sudah terlelap tidur kemudian menaruh di atas baby box nya yang terletak di sisi kiri tempat tidurnya.


Raffasya merasa terheran saat Azkia memindahkan Raffasya ke dalam baby box.


" Biar Kak Raffa nggak ganggu Naufal tidur." Azkia menyahuti dengan enteng.


Raffasya terkekeh, dia memang terkadang usil menciumi anaknya yang sedang tertidur.


" Bukan karena Mama Naufal kepingin tidur dipeluk Papa Naufal, ya?" Raffasya meledek Azkia dengan memeluk tubuh Azkia dari belakang dan mencium ceruk leher Azkia.


Apa yang dilakukan Raffasya sontak membuat Azkia memejamkan matanya. Sejujurnya dia juga begitu mendambakan sentuhan dari sang suami.


Azkia memutar tubuhnya dan menatap wajah pria yang semakin hari semakin dicintainya itu.


" Tidur saja, Kak. Biar kepala Kak Raffa nggak pusing mikirin itu terus." Azkia masih tidak memberitahu suaminya jika saat itu dia sudah siap untuk diajak melayang ke angkasa.


Raffasya pun berjalan dengan terseok ke arah tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur lemas seolah tak bertulang.


Azkia menahan tawanya melihat suaminya. Dia lalu segera bergabung bersama Raffasya berbaring di atas tempat tidur dengan posisi miring menghadap ke arah suami.


" Kenapa lihatin terus? Senang ya lihat aku menderita?" tuduh Raffasya yang melirik istrinya sedang tersenyum.


" Jangan su'udzon kayak gitu, Kak! Siapa juga yang senang melihat suami menderita?" tangkis Azkia.


" Sini aku pijat biar Kak Raffa nggak pusing terus. Kak Raffa balik badan, deh!" Azkia kemudian bangkit dan menyuruh suaminya itu tidur dengan posisi telungkup.


" Astaga, May! Kamu benar-benar ingin siksa aku, ya?" Tawaran Azkia tentu saja dianggap Raffasya seperti mengejeknya.


" Menyiksa gimana sih, Kak? Aku menawarkan jasa untuk memijat kok dibilang menyiksa? Atau Kak Raffa saja yang pihak kakiku, nih!" Azkia menyodorkan betisnya di atas paha Raffasya yang masih berbaring.


" Kamu sengaja meledekku, kan?" Raffasya masih menyangka jika Azkia hanya menggoda sekaligus meledek karena dia tidak bisa menyalurkan keinginannya sementara ini.


" Jadi Kak Raffa maunya apa? Aku tawarkan pijat Kak Raffa nggak mau, aku yang minta dipijat Kak Raffa juga nggak mau," gerutu Azkia.


" Dua-duanya itu hanya menambah penderitaanku, May!" keluh Raffasya.


" Lalu bagaimana supaya Kak Raffa nggak menderita? Kak Raffa ingin aku berbuat apa?" ucap Azkia manja seraya mengusap paha berbulu Raffasya yang mengenakan boxer. Tangan wanita itu kini semakin naik ke atas hingga sampai tepat di alat tempur sang suami.


" Ini yang tersiksa, ya?" Azkia terkekeh mengusap belalai yang awalnya terlelap kini mulai terjaga saat dia sentuh walaupun masih terbalut kain.


" Astaga, May!!" geram Raffasya memejamkan matanya karena tangan Azkia terus bergerak mengusap si belalai.


Azkia kembali tersenyum, dia lalu duduk di atas Raffasya tepat di atas alat tempur suaminya. Tangannya kini menyusup masuk ke dalam kaos yang dikenakan Raffasya sambil melakukan gerakan meraba perut hingga naik ke atas dan menyingkap kaos yang dipakai Raffasya, membuat perut kotak-kotak dan dada bidang suaminya itu terekspos.


Perlahan Azkia pun menciumi tubuh Raffasya dari perut lalu naik ke atas. Dia bahkan memainkan dan menyesap pu ting milik suaminya membuat Raffasya menggeliat.


" Oh, May ..." Raffasya masih memejamkan matanya, sungguh dia berusaha untuk terus meredam has rat nya untuk bercinta, karena dia tahu apa yang dilakukan Azkia tidak akan membawa dia menikmati indahnya surga dunia disebabkan dugaannya yang menganggap jika Azkia masih dalam masa nifas.


Azkia kini berganti menjelajahi leher Raffasya, memberikan gigitan kecil layaknya seorang vampir yang haus akan darah mangsanya.


" Kak Raffa sudah kepingin banget, ya?" Azkia mendekatkan wajahnya ke wajah Raffasya, sementara tangannya mengusap rahang sang suami.


" Banget, May." Raffasya tidak tahan untuk tidak menyergap bibir Azkia hingga saat ini mereka berdua beradu bibir. Saling menyesap dan melu mat bibir lawannya.


Azkia lalu memaksa Raffasya untuk melepaskan kaos yang membalut tubuh suaminya.


" Sini aku pijat Kak Raffa ..." ucapnya saat membantu meloloskan pakaian suaminya itu.


Azkia kembali menegakkan tubuhnya hingga kembali terduduk tegap di atas Raffasya dan tangannya mulai melakukan gerakan memutar dari perut hingga ke dada Raffasya, sementara tubuhnya terus bergerak di atas alat vi tal Raffasya yang sudah menegang karena gerakan yang dilakukannya.


" May ..." Raffasya menarik tangan Azkia hingga tubuh Azkia kembali terjatuh di dadanya dan Raffasya kembali menautkan bibirnya dengan bibir Azkia hingga menyebabkan suara decapan penuh ga irah dari kedua insan yang sedang dimabuk kepayang itu terdengar di dalam kamar milik Raffasya.


" May, punyaku sudah nggak tahan. Tolong bantu dikeluarkan ..." bisik Raffasya.


" Dikeluarkan sekarang?" tanya Azkia.


" Iya ..." suara Raffasya terdengar tersiksa karena memendam hasrat.


" Tapi aku belum puas, Kak. Masih ingin main-main dulu ..." Azkia tidak ingin buru-buru membuat suaminya itu mendapatkan pelepasan karena dia sendiri masih belum puas dengan pemanasan mereka.


Azkia lalu menarik daster selutut yang dia kenakan ke atas dan meloloskan pakaian itu dari atas kepalanya, hingga saat ini hanya menyisakan pakaian dalamnya saja. Azkia membuka pengait kain penutup kedua bukit kembarnya lalu melemparnya sembarang.


" Katanya Kak Raffa kangen ini." Azkia mengambil kedua tangan Raffasya dan menggerakkan tangan suaminya untuk menangkup kedua asset kembarnya itu.


Raffasya membelalakkan matanya melihat aksi Azkia, dia sepertinya sudah memahami apa yang sedang terjadi saat ini.


" May, kamu sudah selesai?" tanya Raffasya kemudian.


Azkia menganggukkan kepala seraya tersenyum.


" Ah, May ..." Raffasya langsung mengangkat kepala dan punggungnya dan menghempaskan Azkia yang tadi duduk di atasnya hingga kini wanita itu berada dalam kungkungannya.


" Kamu ngerjain aku, hemm?" Raffasya kembali menyatukan bibir mereka dan melu matnya dengan penuh semangat karena dia mengetahui jika permainan kali ini akan berakhir menyenangkan untuknya dan juga untuk istrinya.


" Usahakan jangan sampai terhisap ASI ku dengan sengaja ya, Kak!" Azkia memperingatkan suaminya agar tidak sampai sengaja menghisap ASI dari pu ting nya, saat Raffasya sedang menguasai daerah favoritnya itu.


" Siap, Sayang ..." Setelah cukup puas di wilayah tengah kini Raffasya mulai melepas kain segitiga yang menutupi daerah rawan nan memabukan milik Azkia.


Raffasya menelan salivanya mendapati area bermain paling the best yang ada di muka bumi ini. Sudah cukup lama dia tidak melihat bahkan menikmati bermain di dalamnya.


Raffasya tersenyum seraya menciumi bagian itu. " Ini sudah bisa dipakai 'kan, May?" tanya Raffasya kemudian.


Azkia menanggukkan kepalanya dan menjawab, " Tapi pelan-pelan, ya?" pintanya.


Setelah mendapatkan ijin dari Azkia, Raffasya pun segera melepas boxernya dan menempatkan senjatanya mengarah ke sarang yang sudah lama tak dikunjungi.


" Kak ...."


" Hemmm?" Saat hendak memasukan senjatanya, Azkia memanggil Raffasya hingga Raffasya menjeda niatnya itu.


" Jangan lupa baca doa, sudah baca doa belum?" Azkia melakukan hal yang sama seperti saat Raffasya menggodanya saat menyuapinya tadi.


" Oh ya lupa ..." Raffasya menyeringai. Dan setelah meniatkan dirinya untuk berse tubuh dengan istrinya, Raffasya pun segera meluncurkan rudalnya hingga kini memasuki daerah kekuasaannya. Dan dengan ritme yang beraturan dia terus bergerak membawa istrinya terbang melayang ke angkasa untuk melepaskan rindu mereka yang sebulan lebih tertahankan.


"


*


*


Bersambung ....


Happy Reading ❤️