
Setelah berbincang dengan Nenek Mutia, Azkia dibawa oleh Raffasya ke dalam kamarnya. Dia memasuki kamar milik suaminya itu. Azkia sedikit terkejut melihat kamar Raffasya. Kamar bercat warna pastel dan interior dengan sentuhan feminim.
" Kita nanti tidur di sini," ujar Raffasya menaruh koper milik Azkia di atas tempat tidur. Kemudian dia menata pakaian Azkia ke dalam lemari yang ada di kamar Raffasya.
" Kita? Maksudnya Kak Raffa tidur di sini juga? Aku nggak mau! Aku nggak mau sekamar dengan Kak Raffa!" Azkia menolak tidur satu kamar dengan Raffasya.
" Ini kamar gue, jadi tentu saja gue tidur di sini."
" Kalau Kak Raffa tidur di sini, aku tidur di kamar lain saja!" Azkia tetap tidak ingin sekamar dengan Raffasya. " Aku tidur di kamar tamu saja." Azkia ingin melangkah keluar namun tangan Raffasya lebih dahulu mencekal lengan Azkia.
" Jangan selalu melawan suami bisa nggak? Gue ini suami lu!"
" Yang namanya suami itu pria yang kita cintai, sedangkan aku itu nggak cinta Kak Raffa. Apa jangan-jangan Kak Raffa itu sebenarnya diam-diam cinta sama aku, makanya maksa banget mau nikahin aku?" sindir Azkia.
" Nggak usah besar kepala! Kalau bukan karena bayi itu, gue juga nggak akan menikahi lu," tepis Raffasya melirik ke arah perut Azkia.
" Karena bayi? Aku ngidam minta es kado saja Kak Raffa nggak bisa kasih," cibir Azkia.
" Ya lu mintanya yang aneh! Bentuknya gimana saja gue nggak tahu." Raffasya membela diri.
" Ya namanya juga orang ngidam pasti aneh, kalau nggak aneh bukan ngidam namanya," sahut Azkia. " Sana Kak Raffa pergi cari es itu sampai ketemu, kalau nggak ketemu jangan masuk kamar ini." Azkia menarik lengan Raffasya dan menyuruh pria itu ke luar kamarnya sendiri.
" May, ini kamar gue, kenapa gue nggak boleh masuk ke kamar gue sendiri?" protes Raffasya.
" Makanya kalau mau aku ijinkan masuk ke sini, Kak Raffa harus membawa apa yang aku inginkan." Azkia mengajukan syarat kepada Raffasya jika suaminya itu ingin masuk ke dalam kamar itu. Setelah Raffasya keluar dari kamar Azkia pun langsung menutup dan mengunci pintu kamar Raffasya.
Setelah mendapatkan pengusiran dari Azkia, Raffasya kemudian berjalan turun ke arah dapur.
" Bi, Bi Neng tahu es kado?" Raffasya menarik kursi dan duduk di atasnya dan bertanya kepada Bi Neng yang sedang berada di dapur.
" Es kado? Itu jajanan jaman Bi Neng waktu kecil. Memangnya kenapa, Mas?" tanya Bi Neng.
" Almayra minta saya cari es itu, Bi." keluh Raffasya.
" Memang ada yang jual, Mas?" Bi Neng mengerutkan keningnya. " Itu 'kan makanan jadul."
" Entah, Bi. Tapi tadi Almayra lihat ada penjual yang lewat saat di lampu merah, tapi waktu kami kejar ternyata sudah menghilang. Dan sekarang Almayra suruh saya cari itu sampai ketemu." Raffasya mendengus kasar.
" Waduh, Calon dedek bayi ngidamnya bikin Papanya pusing." Bi Neng terkekeh. " Coba cari di youtube saja, Mas. Siapa tahu ada cara buatnya, nanti Bi Neng bantu buatkan." Bi Neng memberikan saran.
" Memang bisa buat sendiri, Bi?" Raffasya pun kemudian mengambil ponselnya dan mengetikan aplikasi yang ditunjukan oleh Bi Neng.
" Siapa tahu bisa, Mas."
Raffasya pun mencari tutorial pembuatan es yang dimaksud oleh Azkia, dan dia menemukan konten yang menerangkan cara membuat es yang diinginkan Azkia itu.
" Ada ini, Bi." Raffasya lalu menunjukkan kepada Bi Neng konten yang dia temukan itu. Dan Bi Neng memperhatikan video itu dengan cermat.
" Bi Neng bisa bikin ini, Mas. Tinggal Mas Raffa beli bahan-bahannya saja." Bi Neng menyanggupi membuat apa yang diminta Azkia.
" Oke, Bi. Kalau begitu saya beli bahan-bahannya sekarang." Raffasya dengan antusias bergegas mencari apa yang dibutuhkan untuk membuat es kado itu.
Sekitar dua puluh menit kemudian Raffasya sudah kembali ke rumahnya dan menyerahkan bahan yang dia beli untuk membuat es kado. Bi Neng pun mulai membuat es keinginan Azkia.
Setelah selesai membuat es itu dan masukan ke dalam cetakan ke dalam loyang, adonan es yang matang itu dimasukan ke dalam frezzer.
" Harus ditunggu beberapa jam sebelum es nya membeku, Mas. Baru malam baru bisa dipotong-potong." ujar Bi Neng.
Raffasya melirik ke arah arloji di dindingnya.
" Ya sudah, buat besok saja, Bi." ucap Raffasya.
" Bi Neng sudah siapkan makanan untuk makan malam?" tanya Raffasya kemudian.
" Sudah, Mas. Mau makan sekarang?" tanya Bi Neng.
" Iya, boleh. Saya panggilkan Almayra dulu." Raffasya kemudian berjalan ke kamarnya untuk memanggil Azkia untuk makan malam.
" May, makan dulu ..." Namun Raffasya kaget saat dia hendak membuka pintu ternyata pintu itu terkunci.
" May ...!" Raffasya sambil mengetuk pintu dia memanggil nama Azkia agar istrinya itu keluar untuk menyantap makan malam.
Tak lama dari Raffasya mengetuk pintu, Azkia pun muncul dari balik pintu.
" Mana es nya?" Azkia mengulurkan tangannya.
" Besok baru bisa lu makan, sekarang sudah malam."
" Ya sudah aku nggak mau makan ..." Azkia ingin menutup kembali pintu kamar namun Raffasya menahannya.
" Lu harus makan karena bayi di perut lu itu perlu gizi. Apa perlu Nenek yang suruh kemari?" tegas Raffasya menatap tajam ke arah Azkia karena istrinya itu selalu saja membangkang sehingga membuat Azkia akhirnya menuruti apa yang diperintahkan oleh suaminya.
" Kia, sini duduk dekat Nenek." Nenek Mutia meminta Azkia duduk di kursi di sebelahnya.
" Iya, Nek." Azkia kemudian berjalan dan duduk di dekat Nenek Mutia.
" Kia makan yang banyak, ya. Nenek sudah suruh Neng buat buatkan sayur untuk Kia, biar janin di kandungan kamu sehat." Nenek Mutia bahkan mengambilkan nasi untuk Azkia.
" Biar Kia saja, Nek." Azkia mengambil centong nasi dari tangan Nenek Mutia. Dia sebenarnya senang dengan sikap Nenek Mutia yang sangat lembut dan penuh kasih sayang berbeda sekali dengan cucunya yang terkesan sombong dan kasar.
Mengingat tentang cucu dari Nenek Mutia, Azkia langsung melirik ke arah Raffasya, yang ternyata sedang memperhatikan dirinya. Azkia langsung melengos tak ingin terus bertatapan dengan Raffasya.
Selepas mereka bersantap makanan, dan berbincang antara Azkia dan Nenek Mutia. Azkia meminta ijin ke kamarnya karena dia sudah merasa mengantuk.
" Raffa, kamu harus sabar menghadapi wanita hamil. Jangan mengeluh, karena rasa lelah yang kamu rasakan tidak akan sebanding dengan waktu yang akan dilewati oleh Kia selama sembilan bulan lebih mengandung janin dari benih yang kamu tanamkan. Belum lagi saat melahirkan nanti, itu perjuangan mempertaruhkan nyawa. Jadi kamu tidak boleh mengeluh jika Kia meminta atau berbuat yang aneh-aneh." Nenek Mutia menasehati Raffasya agar lebih bersabar menghadapi Azkia.
" Hush, jangan seperti itu!" tegur Nenek Mutia membuat Raffasya terkekeh.
" Kamu juga harus mementingkan istri kamu daripada pekerjaan kamu, Raffa. Kurangi pulang larut malam." Nenek Mutia yang tahu kebiasaan cucunya yang sering telat ke rumah langsung mengingatkan.
" Iya, Nek." Raffasya mengiyakan. Kerena setelah dia melakukan kesalahan di Bandung, dia benar-benar merasa bersalah pada Azkia dan bersiap jika dia harus bertanggung jawab untuk itu.
***
Jam sepuluh malam Raffasya kembali ke kamarnya dan ternyata Azkia melakukan ancamannya dengan tidak mengijinkannya masuk ke dalam kamar yang sebenarnya milik dirinya sendiri.
" May ..." Raffasya mengetuk pintu kamarnya, namun Azkia tidak juga membukakan pintu.
" Dasar keras kepala!" umpat Raffasya. yang akhirnya memilih tidur di kamar tamu.
Hampir satu jam Raffasya mencoba memejamkan matanya namun ternyata susah sekali matanya untuk terpejam. Rasanya dia akan sulit untuk tertidur jika bukan di kamarnya sendiri.
Raffasya lalu memilih keluar dari kamar tamu menuju samping rumahnya. Dia lalu menengadahkan kepala menatap arah balkon kamarnya. Raffasya melirik ke dahan pohon mangga yang menjuntai hampir mendekati balkon kamarnya hingga dia pun memutuskan untuk menaiki pohon mangga itu untuk melompat ke arah balkon kamarnya, dia berharap Azkia tidak mengunci pintu balkon itu.
***
Azkia terbangun dari tidurnya saat dia merasakan ingin buang air kecil. Dia lalu melangkah ke arah kamar mandi. Namun langkah Azkia seketika terhenti saat dia melihat bayangan seseorang dari jendela balkon kamar Raffasya. Azkia membelalakkan matanya, saat dia melihat orang itu terlihat melompat dari dahan pohon, dan bayangan itu terlihat mendekat ke arah jendela.
" Maling??" Azkia langsung mengambil sikap untuk melakukan perlawanan terhadap orang itu. Dia bisa saja berkelahi melawan orang yang dia kira maling itu, namun dia tidak mau mengambil resiko jika terjadi sesuatu dengan janinnya.
Azkia kemudian melihat gitar elektrik milik Raffasya, lalu mengambil gitar itu dan bersiap di belakang pintu untuk menghajar orang itu jika sampai berhasil masuk ke dalam kamar, karena dia teringat tidak mengunci pintu balkon.
Dan ketika pintu balkon terbuka ...
" Rasakan ini!!"
Buuuggghhh
Azkia menghantamkan gitar ke arah tubuh Raffasya.
" Berani-beraninya mau merampok di sini!!" geram Azkia kembali mengayunkan tangannya untuk menghantamkan kembali ke tubuh Raffasya.
" Aaakkhh ...! May, ini gue!!" suara Raffasya menghentikan gerakan tangan Azkia yang hendak memukul dirinya kembali.
" Kak Raffa?" Azkia langung melepaskan gitar dari tangannya. " Kak Raffa ngapain mengendap-endap masuk dari balkon kayak maling saja?!"
" Gue mau tidur di kamar gue." Raffasya kemudian berjalan dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya sambil merasakan sakit di bahunya karena tadi terkena hantaman gitar oleh Azkia.
" Kak Raffa kenapa tidur di situ?" Azkia berkacak pinggang. Namun karena dia merasa tidak tahan ingin membuang air kecil membuatnya lari ke dalam toilet terlebih dahulu.
Setelah Azkia kembali dari kamar mandi, dia lalu mendekat ke arah Raffasya dan dia melihat pria itu sudah terlelap.
" Cepat sekali dia tidur." Bahkan saat dia menguncang tubuh Raffasya, suaminya tidak juga terjaga dari tidurnya.
" Lalu aku tidur di mana?" Azkia memberengut lalu memilih tidur di sofa santai kamar Raffasya.
***
Raffasya terbangun saat mendengar adzan Shubuh berkumandang. Dia meraba sisi tempat tidurnya namun dia tidak merasa ada orang lain yang tidur di atas tempat tidur itu. Dia lalu bangkit dan berposisi terduduk. Dia mencari keberadaan Azkia. Raffasya mendapati Azkia yang terbaring di atas sofa.
Raffasya seketika berdiri dan berjalan mendekat ke arah Azkia. Dia tidak menyangka jika istrinya itu akan memilih tidur di atas sofa.
" May, bangun ... kenapa lu tidur di sofa?" Raffasya membangunkan Azkia.
" Bangun, sudah Shubuh ..." Raffasya kembali membangunkan Azkia untuk mengingatkan istrinya untuk menjalankan sholat Shubuh.
Azkia menggeliat dengan merenggankan otot-ototnya seraya membuka matanya dan dia terkejut saat melihat wajah Raffasya terlihat dekat dengan mukanya.
" Kak Raffa ngapain dekat-dekat? Mau curi-curi kesempatan cium aku, ya?" tuduh Azkia kemudian bangkit dan melangkah ke arah kamar mandi.
" Awas saja kalau berani mengintip!" ancam Azkia sebelum menutup pintu kamar mandi.
***
Azkia menemani Nenek Mutia mengobrol di halaman belakang rumah Raffasya sementara Raffasya sendiri baru saja ingin ke cafenya.
" May, ini es yang lu mau." Raffasya menyodorkan beberapa es yang dipotong persegi panjang dan dibungkus dengan kertas kado kepada Azkia sesuai yang dia lihat di YouTube.
Azkia menerima es kado yang diberikan oleh Raffasya untuknya.
" Kok rasa coklat sama strawberry? Aku maunya alpukat sama kacang hijau." Azkia mengembalikan es itu kepada Raffasya.
" Nek, Kia ke kamar dulu, ya." Setelah berpamitan dengan Nenek Mutia, Azkia pun langsung meninggalkan Nenek mertua dan suaminya itu.
" Sabar, Raffa ..." Nenek Mutia menepuk pundak cucunya seraya tersenyum karena dia melihat wajah kesal cucunya itu saat Azkia menolak apa yang diberi oleh Raffasya.
*
*
*
Bersambung
Happy Reading