
Azkia tersenyum saat melihat seorang pria yang sedang bersandar di mobilnya. Dia segera berlari menghampiri pria itu.
" Hai, Kak. Kak Gibran sudah lama nungguin, ya?" sapa Azkia kepada Gibran yang langsung menolehkan wajahnya saat terdengar Azkia menyapanya.
" Ah, nggak juga, kok." Gibran menyahuti.
" Az, cowok lu cakep juga. Setia lagi dia jemput lu tiap hari." Salah seorang teman Azkia yang jalan melewati Azkia langsung berkomentar. Sedang Azkia hanya tersenyum membalas ucapan temannya itu.
" Kita pulang sekarang yuk, Kak." ajak Azkia kemudian.
" Rayya sudah pulang duluan?" tanya Gibran seraya membukakan pintu untuk Azkia.
" Rayya sudah dijemput Pak Rudi tadi. Rayya sedang membiasakan diri lepas dari Kia." Azkia terkekeh membalas pertanyaan Gibran.
" Melepaskan diri dari Kia gimana maksudnya?" tanya Gibran kembali saat dia sudah duduk di belakang kemudi.
" Rayya itu selama ini 'kan selalu bersama Kia, Kak. Dan rencananya Rayya itu akan kuliah di luar negeri, jadi mulai sekarang Rayya harus membiasakan diri dari ketergantungan terhadap Kia." ucap Azkia penuh percaya diri.
Gibran terkekeh menanggapi ucapan Azkia yang mengatakan jika selama ini Rayya bergantung kepada Azkia.
" Rayya itu kalau ke mana-mana pasti ajak Kia. Dan Uncle Gavin nggak kasih ijin Rayya pergi kalau nggak ditemani Kia, Kak." Azkia yang melihat Gibran justru menertawakannya langsung mengklarifikasi.
" Iya, iya, Kakak mengerti." Gibran memilih memaklumi apa yang dikatakan Azkia. " Memang Rayya mau lanjut kuliah di mana?" tanya nya kemudian.
" Antara London sama Milan pilihannya, sih."
" Memang Rayya berani tinggal jauh dari Om Gavin sama Tante Rara?" Gibran sedikit terkejut dengan pilihan tempat yang akan Rayya pilih.
" Itu dia yang Kia pikirkan, Kak. Nggak akan mudah untuk Rayya mendapatkan ijin tinggal di luar. Kalau pilihannya Singapura atau Aussie mending, ada Kak Willy sama Kak Alden."
" Kia sendiri ada rencana lanjut kuliah di mana? Mau ikut Alden juga?" tanya Gibran.
" Kia sih di Jakarta saja, Kak. Di tempat Papa."
Gibran melirik ke arah Azkia. Untuk sebagian remaja seusia Azkia bisa kuliah di luar negeri adalah suatu impian tapi Azkia justru memilih tetap di Indonesia.
" Kia nggak berminat kuliah di luar?" tanya Gibran penasaran dengan pilihan Azkia.
" Kak Alden sudah kuliah di luar, kalau Kia ikut kuliah di luar negeri kasihan Papa, pengeluarannya makin banyak dan kasihan Mama, nggak ada teman buat diajak ngemall. Aulia sama Aliza 'kan masih kecil, belum bisa diajak tukar pendapat kalau jalan-jalan ke mall." Azkia menyeringai mengatakan alasannya kenapa memilih tetap di Jakarta.
Tentu saja alasan yang dilontarkan Azkia yang awalnya membuat dia mengerti tentang Yoga kini membuat dia menggelengkan kepalanya saat mendengar alasan yang dikatakan Azkia mengenai Natasha.
" Syukurlah kalau kamu tetap di sini, Kia. Jadi Kak Gibran nggak akan jauh-jauh dari kamu. Kak Gibran sengaja pindah ke sini untuk ketemu Kia, masa Kia nya malah pergi dari Jakarta." Gibran tertawa kecil seraya bercanda.
Azkia lalu melirik ke arah Gibran.
" Memang kenapa kalau Kia jauh dari Kak Gibran?" Azkia sengaja memancing Gibran karena sejujurnya dia ingin tahu bagaimana perasaan Gibran sebenarnya terhadap dirinya.
" Kehilangan lah pastinya. Masa kita mau LDR. Nanti kalau di luar kamu terpikat sama pria lain, Kakak di sini gigit jari, dong!" canda Gibran seraya menoleh ke arah Azkia.
Sontak apa yang dikatakan Gibran membuat Azkia merona.
" Iiihh, apaan sih, Kak Gibran ...." Azkia langsung membuang pandangan ke luar jendela karena wajahnya saat ini sudah bersemu merah.
Gibran terlihat senang karena dia telah berhasil menggoda gadis cantik di sampingnya itu.
" Oh ya, Kia. Nanti malam Minggu mau nggak menemani Kakak ke acara teman Kakak?" tanya Gibran kini mengalihkan topik pembicaraan.
" Memang mau ke mana, Kak? Acara apa?" tanya Azkia kemudian.
" Teman Kakak nikahan dan katanya sih mau mengadakan acara pestanya di cafe tempat dia kerja."
" Hmmm, Kak Gibran ijin dulu deh sama Papa. Kalau Papa kasih ijin, Kia sih mau saja," ucap Azkia menanggapi ajakan Gibran untuk menemani pria itu keluar malam Minggu.
" Kakak sudah bilang ke Om Yoga, kok. Dan Om Yoga kasih ijin kalau waktunya weekend." Gibran mengatakan jika sebelumnya dia sudah meminta ijin dan sudah mendapatkan ijin dari Yoga yang merupakan dosen di kampusnya.
" Gibran gitu, lho."
Gibran dan Azkia pun akhirnya tertawa bersama. Mereka pun melanjutkan obrolan sepanjang perjalanan pulang ke rumah Azkia.
***
Malam Minggu ini Gibran menjemput Azkia yang akan dia ajak untuk menghadiri pesta pernikahan yang diadakan oleh temannya.
" Kamu cantik banget pakai dress gini, kelihatan lebih feminim." Gibran nampak kagum dengan penampilan Azkia yang malam ini memakai gaun berwarna nude ditambah heels yang dipakainya.
" Memangnya kalau nggak pakai baju ini Kia nggak cantik?"
Gibran tertawa mendengar ucapan Azkia.
" Cantik, kok. Anaknya Tante Tata pastilah cantik." Gibran segera menyahuti.
" Ya sudah kita berangkat sekarang, yuk." Azkia lalu masuk ke dalam mobil Gibran sebelum akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan rumah Yoga menuju cafe yang mereka tuju.
***
" Setengah jam kemudian mobil yang membawa Gibran dan Azkia sampai di cafe tempat diadakannya resepsi pernikahan sahabat dari Gibran. Suasana di luar cafe berlantai dua itu nampak ramai dengan beberapa kendaraan tamu dan pengunjung cafe.
" Malam, Pak. Mau tanya untuk acara wedding party Fero di mana acaranya?" tanya Gibran kepada satpam yang berjaga di depan.
" Oh, tamu undangan Mas Fero dan Mbak Fenita, ya? Acaranya di taman belakang, Mas. Silahkan ..." Satpam itu memberikan informasinya.
" Oh terima kasih, Pak." Gibran lalu mengajak Azkia menuju taman belakang cafe karena sahabat dari Gibran memilih tema outdoor untuk resepsi pernikahannya.
" Tema outdoor gini kelihatan lebih romantis ya, Kak," ucap Azkia berbisik ke arah Gibran.
" Nanti kita juga gini ya kalau nikah." Kini berbalik Gibran yang berbisik.
" Iihh, Kak Gibran." Azkia langsung mencubit pinggang Gibran membuat pria itu meringis.
" Hai, Fer. Congrat ya, Bro." Gibran kemudian menyalami dan memeluk sahabatnya saat mereka sudah berhadapan dengan kedua mempelai.
" Eh, Gib. Thanks lu sudah datang kemari." Fero mengucapkan terima kasih karena kedatangan Gibran. Fero lalu melirik ke arah Azkia yang berada di samping Gibran.
" Cewek lu, nih?" tanya Fero kemudian.
" Calon bini, Insya Allah." sahut Gibran melirik Azkia seraya mengedipkan matanya hingga membuat Azkia tersipu malu.
" Cantik juga, boleh juga selera. lu, Gib." Fero berkomentar. " Jadi kapan menyusul gue ke pelaminan?" tanya Fero.
" Hahaha, dia masih SMA, Bro. Masih lama lah. Nikmati saja dulu masa muda baru mikirin nikah," sahut Gibran lalu menyalami Fenita, si mempelai wanita diikuti Azkia di belakangnya.
" Kita duduk di sana saja." Setelah memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai, Gibran langsung menggenggam tangan Azkia kemudian mengarahkan Azkia untuk memilih tempat duduk di sebelah barat.
Sementara itu tanpa disadari oleh keduanya sepasang mata tengah memperhatikan mereka berdua sejak mereka bersalaman dengan Fero dan Fenita hingga kini Gibran menggenggam tangan Azkia dan duduk saling bersebelahan.
*
*
*
Bersambung ..
Happy Reading ❤️