MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Panas Dingin



Raffasya dan Azkia duduk bersantai di kursi ayunan yang ada di teras pekarangan samping rumahnya yang menghadap ke arah kolam ikan, sementara Naufal tertidur di pangkuan Azkia setelah kenyang menyu sui.


" Pa, ingat nggak waktu dulu Papa pernah cemburin aku ke kolam itu?" tanya Azkia menoleh ke arah Raffasya yang merangkulkan tangannya ke pundak Azkia.


Raffasya tersenyum ikut menoleh ke arah istrinya. " Itu hal yang nggak perlu kita ceritakan kepada anak cucu kita kelak, Ma. Karena itu suatu hal yang sangat memalukan," ucap Raffasya terkekeh.


" Itu salah satu momen tergila yang pernah kita lewati bersama," sambung Azkia. " Menurut Papa selain kejadian di Bandung, momen apa lagi yang paling konyol yang pernah kita perbuat?" tanya Azkia mengenang masa-masa mereka masih saling bermusuhan.


" Salah satunya kejadian di rumah ini, waktu kita berantem, cemburin kamu ke kolam lalu melihat hutan gersang kamu untuk pertama kalinya." Raffasya tak kuasa menahan tawanya jika mengingat kejadian yang membuat sosok Azkia selalu hadir di dalam mimpinya.


" Lalu waktu kita berkelahi di rumah Om Radit, kamu ingat?" lanjut Raffasya.


" Yang aku tendang motor Papa terus Papa tendang mobilku, kan? Terus kita pukul-pukulan?" Azkia tertawa, tentu Azkia tidak akan lupa momen-momen yang pernah dia lalui bersama Raffasya walaupun semua itu adalah momen buruk yang tidak dia sukai.


" Kenangan kita waktu pacaran nggak ada yang manis-manis, ya?" Raffasya tersenyum mengucapkan hal tersebut.


" Sejak kapan kita pacaran, Pa?" protes Azkia karena merasa tak pernah pacaran sebelum mereka menikah.


" Ya anggap saja itu cara pacaran kita sebelum menikah yang anti mainstream ..." Raffasya tergelak memeluk dan mencium pipi Azkia.


Sementara itu dari balik gordyn pintu rolling door kaca, sorot mata Ratih terlihat memandang dan mendengarkan obrolan sepasang suami yang tampak harmonis itu.


" Astaga ...!" Ratih terperanjat karena tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh Uni hingga dia terbawa sampai ke dapur. " Kamu apa-apaan sih? Bikin kaget aku saja!" Ratih merasa kesal karena Uni menariknya secara tiba-tiba.


" Kamu yang kenapa?? Kamu jangan bikin malu aku, ya! Kalau kamu berani macam-macam sebaiknya kamu berhenti kerja saja dari rumah ini!" Uni yang mencium gelagat tidak baik dari temannya langsung bertindak tegas.


" Kamu apaan sih, Ni? Kamu jangan berpikiran negatif sama aku, dong!" elak Ratih berkelit.


" Gimana aku nggak berpikir negatif? Ini bukan pertama kalinya aku melihat kamu mengintip Mas Raffa. Kamu jangan punya pikiran ingin merusak rumah tangga Mbak Kia sama Mas Raffa, ya!" geram Uni kesal.


" Terserah kamu mau berpikiran apa! Aku nggak seperti itu!" Ratih masih membantah lalu melangkah pergi meninggalkan Uni yang terlihat sangat kesal karena ulah temannya itu.


***


Raffasya memperhatikan Azkia yang masih bergelung selimut hingga menutupi lehernya. Sementara suara rintihan yang terdengar dari mulut istrinya dengan mata terpejam, membuat Raffasya bergegas mendekat ke istrinya itu.


" Kamu kenapa, Ma?" Raffasya menempelkan tangannya di kening Azkia. Dia merasakan suhu panas di kening istrinya. " Kamu demam, Ma?" Raffasya menyentuh leher Azkia dan menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya itu.


" Dingin, Pa ..." Azkia menarik kembali selimut yang dibuka oleh Raffasya karena dia merasakan menggigil.


" Dingin? Tapi badanmu panas, Ma. Kamu harus ke dokter, Ma. Kita ke dokter sekarang, ya!?" Raffasya bangkit dari tempat tidur dan menyiapkan sweater untuk dipakai Azkia.


Raffasya lalu membantu Azkia untuk terduduk, dia lalu memasangkan sweater di tubuh Azkia dan mengikat rambut panjang istrinya itu menjadi satu. Setelah selesai membantu Azkia, Raffasya lalu keluar kamar dan memanggil Bi Neng.


" Bi, Bi Neng ...!" teriak Raffasya memanggil nama Bi Neng.


" Ada apa, Pak?" Ratih yang berada di ruang tamu langsung menyahuti.


" Ratih, Bi Neng mana? Tolong suruh cepat ke kamar saya!" perintah Raffasya kepada Ratih.


" Bi Neng sedang di taman sama dedek Naufal, nanti saya panggilkan, Pak."


Setelah mendapat jawaban dari Ratih, Raffasya kembali ke dalam kamarnya. Dia kembali mendapatkan istrinya yang tadi duduk di tepi tempat tidur kembali berbaring dengan posisi meringkuk.


" Ma, kita berangkat sekarang, yuk! Tunggu Bi Neng sebentar." Raffasya memijat tubuh Azkia sembari menunggu Bi Neng di kamarnya.


" Mas Raffa panggil Bibi?" Tak lama Bi Neng datang di kamar Raffasya sambil menggendong Naufal.


" Bi, aku mau antar Almayra ke dokter." Raffasya mengatakan rencananya kepada Bi Neng.


" Lho, Mbak Kia sakit apa, Mas Raffa?" tanya Bi Neng saat melihat Azkia yang tertidur meringkuk.


" Panas dingin kayaknya, Bi. Dia bilang kedinginan tapi badannya panas," ucap Raffasya. " Aku mau bawa dia ke dokter, Bi."


" Kalau begitu cepat dibawa ke dokter, Mas Raffa. Naufal biar di sini saja sama Bibi," ujar Bi Neng mempersilahkan Raffasya yang berpamitan ingin membawa Azkia periksa ke dokter.


" Naufal nggak apa-apa ditinggal sama Bi Neng?" Raffasya merasa berat meninggalkan anaknya tanpa dirinya dan juga Azkia.


" Nggak apa-apa, Mas Raffa. Naufal 'kan anak pintar." Bi Neng menatap Naufal yang digendong di pinggangnya. " Lagipula kasihan kalau Naufal ikut dibawa, Mas Raffa. Di sana 'kan banyak orang sakit, takut nanti tertular." Bi Neng sangat mengkhawatirkan kesehatan bayi kecil itu.


" Ya sudah kalau begitu, aku sama Almayra ke dokter dulu ya, Bi. Titip Naufal ya, Bi!?" Raffasya menghampiri Naufal terlebih dahulu lalu mencium pucuk kepala Naufal.


" Naufal jangan nakal ya, Nak. Papa mau antar Mama berobat dulu." Raffasya berpamitan kepada anaknya.


Setelah berpamitan Raffasya mengambil kunci mobil dan membangunkan Azkia yang masih meringkuk di atas tempat tidur. " Kita berangkat, Ma." Raffasya lalu mengangkat tubuh Azkia dengan kedua lengannya dan membawa istrinya itu keluar dari kamarnya diikuti oleh Bi Neng di belakanganya.


" Uni, tolong bukakan pintu mobil ...!" Raffasya menyuruh Uni yang hendak masuk ke ruangan tengah.


" Mbak Kia kenapa, Mas Raffa?" tanya Uni saat melihat Azkia digendong oleh Raffasya.


" Mamanya Naufal sakit, tolong bukakan pintu mobilnya, Ni." perintah Raffasya kembali.


" Oh, iya, Mas." Uni langsung berlari ke luar rumah dan membuka pintu mobil Raffasya.


" Bu Kia sakit apa, Bi?" tanya Ratih yang melihat Raffasya menggendong Azkia, karena dia merasa penasaran saat Raffasya tadi memanggil Bi Neng, dia merasa ada hal yang serius terjadi dengan majikannya itu.


" Mbak Kia demam tapi menggigil," sahut Bi Neng menyusul langkah Raffasya yang cepat.


" Benar-benar suami idaman banget Pak Raffa itu," gumam Ratih memperhatikan punggung Raffasya sampai masuk ke dalam mobil.


" Naufal biar saya yang gendong saja, Bi Neng." Ratih meminta Bi Neng menyerahkan Naufal kepadanya.


" Biar Bibi saja, Ratih. Naufal belum biasa sama kamu, takut dia rewel nantinya." Bi Neng menolak permintaan Ratih. " Kamu bantu Uni saja sana, biar Naufal Bibi saja yang urus." Bi Neng kemudian berjalan menuju ruang keluarga di lantai atas untuk menemani Naufal bermain.


***


" Istirahat saja, Ma. Jangan banyak bergerak dulu biar lekas sembuh." Raffasya melepaskan sweater yang tadi dikenakan oleh Azkia lalu membantu Azkia berbaring.


" Naufal mana, Pa?" Azkia menanyakan keberadaan putranya itu.


" Naufal sama Bi Neng, sementara ini biar Bi Neng sama aku yang urus Naufal biar kamu bisa istirahat, Ma," ujar Raffasya kemudian.


Tok tok tok


" Permisi, Mas Raffa, Mbak Kia, Naufal kangen sama Papa Mamanya ini." Bi Neng yang membuka pintu dan masuk ke dalam kamar langsung menghampiri orang tua bayi yang digendongnya.


" Naufal kangen Papa sama Mama ya, Nak? Sini sama Papa." Raffasya mengambil Naufal yang sepertinya paham jika dia adalah orang tuannya karena bayi itu merentangkan tangan ke arahnya seolah meminta untuk digendong.


" Tadi ditinggal sama Papa Mama, ya?" Raffasya mencium anaknya. " Naufal rewel nggak selama kami tinggal, Bi Neng?' tanya Raffasya.


" Nggak kok, Mas. Anteng Naufal tadi main sama Bibi, ya?" Bi Neng mengusap wajah anak dari majikannya itu.


" Syukurlah kalau Naufal nggak rewel. Ya sudah, Bi Neng barangkali mau istirahat, biar Naufal sama aku saja, Bi Neng." Raffasya menyuruh Bi Neng untuk beristirahat karena tadi sudah menjaga Naufal.


" Ya sudah, Bibi ke bawah dulu mau siapin makan untuk Naufal." Bi Neng berpamitan lalu keluar dari kamar Raffasya.


" Papa memang nggak ke cafe?" tanya Azkia karena suaminya itu meminta Naufal dari Bi Neng, sementara saat ini sudah hampir tengah hari


" Nggaklah, Ma. Papa harus menjaga Naufal sama Mamanya Naufal yang sedang sakit." Karena mengetahui istrinya itu sakit, Raffasya memilih untuk tidak pergi ke cafenya dan memilih mengurus Azkia dan juga Naufal.


" Aku nggak apa-apa kok, Pa. Sebentar lagi juga sembuh." Azkia merasa tak enak melihat suaminya sampai harus mengabaikan pekerjaannya, walaupun sejujurnya dia sangat senang ada suami yang menemaninya saat ini.


" Kamu itu lebih penting dari pekerjaan, Ma. Tidak jadi masalah aku nggak ke cafe sehari saja, aku bisa pantau dari sini." Raffasya tidak masalah harus menemani istrinya itu di rumah.


" Makasih ya, Pa." Azkia tersenyum bahagia mendapatkan perhatian yang sangat istimewa dari suaminya itu.


" Mama cepat sembuh ya, Ma. Jangan lama-lama sakitnya, Ma. Biar bisa main sama Naufal lagi." Raffasya berkata seolah Naufal lah yang berkata kepada Azkia.


" Iya, Sayang. Maafin Mama, ya!? Hari ini Mama nggak bisa mengurus Naufal." Azkia menatap anaknya penuh rasa bersalah.


" Mama tenang saja, kan ada Papa yang jaga Naufal. Mama bobo saja istirahat ya, Ma." Raffasya mewakili Naufal kembali menyuruh Azkia beristirahat, dan Azkia pun menuruti apa yang diperintahkan suaminya itu.


***


Raffasya memeluk Azkia yang sedang melipat mukenahnya setelah mereka selesai melaksanakan sholat Isya bersama.


" Kamu sudah sembuh 'kan, Ma?" Raffasya menciumi ceruk leher Azkia. Sudah seminggu berlalu sejak Azkia sembuh dari sakit, Raffasya tentu saja merindukan bisa berhubungan in tim dengan istrinya lagi.


" Sudah, Pa. Kenapa?" tanya Azkia, walaupun dia paham maksud dari pertanyaan suaminya namun dia sengaja berpura-pura tidak tahu.


" Berarti kalau Papa minta itu bisa 'kan, Ma?" Tangan nakal Raffasya sudah mulai menyusup ke bagian dalam pakaian malam Azkia, mulai menggerayangi dan meremas kedua bongkahan milik istrinya itu.


" Dua Minggu ini aku nggak dikasih jatah lho, sama Mama. Seminggu libur datang bulan, disambung seminggu lagi pemulihan dari sakit. Sudah kepingin banget bikin gempa lokal di atas tempat tidur." Raffasya menyeringai.


" Baru juga dua minggu, kan pernah mengalami puasa empat puluh hari lebih, berarti sudah biasa, dong." Azkia meledek suaminya.


" Tapi sekarang kamu bukan sedang nifas, Sayang." Raffasya mencengkram tanpa tenaga leher Azkia hingga membuat Azkia menengadahkan kepalanya dan menyandarkan kepalanya ke dada suaminya, membuat suaminya itu leluasa menciumi wajah wanita cantik itu. Sedangkan anak mereka sudah tertidur sebelum Isya, hingga mereka bisa bebas menyalurkan has rat mereka berdua sebagai pasangan suami istri.


Raffasya lalu mengangkat tubuh Azkia ala bridal style lalu membaringkan tubuh sang istri di atas tempat tidur. Dia kemudian menempatkan tubuhnya di atas Azkia memulai melakukan pemanasan sebelum masuk ke dalam permainan inti yang sebenarnya mereka inginkan.


" Pa, aku belum suntik KB, lho!" Azkia teringat jika dia belum sempat suntik KB untuk mencegah kehamilan saat mereka sedang menikmati beradunya kedua bibir mereka.


* Kalau kamu belum suntik apa kamu bisa hamil?" tanya Raffasya, dia mengalihkan area jajahannya kini di bagian leher, menghiasi leher putih mulus istrinya itu dengan hiasan berwarna merah.


" Mungkin saja, karena aku sedang masa subur, Pa." sahut Azkia.


" Tapi cuma sekali belum tentu bisa hamil juga 'kan, Ma?" Raffasya percaya walaupun istrinya sedang dalam masa subur jika Allah SWT belum mentakdirkan Azkia memiliki anak lagi, maka istrinya itu tidak mungkin hamil.


" Iya, tapi aku tanpa pelindung, Pa. Itu kemungkinan bisa membuat aku hamil. Papa saja yang pakai pelindung, atau dibuang di luar saja ya?" Azkia memberikan pilihan.


" Nggak asyik buang di luar, Ma! Enak di dalam!" protes Raffasya


" Ya sudah, Papa harus pakai pelindung, beli dulu di mini market di depan ada deh kayaknya." Azkia menyuruh suaminya untuk membeli alat pelindung sebelum mereka melakukan aktivitas bercinta.


" Ya ampun, Ma. Bira hi ku sudah sampai di ubun-ubun malah disuruh beli kon dom! Sudahlah, kalau memang harus hamil, nggak masalah, kamu 'kan punya suami!" Raffasya kembali memprotes permintaan Azkia.


" Suruh Uni saja beliin gih, Pa." Azkia masih bersikukuh meminta suaminya memakai alat kontrasepsi.


" Oke, aku akan suruh Ratih belikan alat itu!" Raffasya bangkit dan hendak beranjak ke arah pintu kamar. Dia sengaja menyebut nama Ratih karena dia tahu istrinya pasti tidak akan suka dia berhadapan dengan Ratih.


" Iihh, nggak usah suruh-suruh dia, deh!" Kini giliran Azkia memprotes suaminya. Dia tidak suka suaminya itu berkomunikasi dengan ART mereka.


" Ya sudah, nggak usah pakai alat pelindung segala." Akhirnya Azkia mengalah dan pasrah jika dia harus hamil kembali karena saat ini dia belum suntik KB.


" Nah gitu, dong! Jadi sudah siap Papa buat panas dingin sekarang, nih?" Raffasya menyeringai lalu kembali menguasai tubuh sang istri memberikan sentuhan memabukkan hingga mereka siap untuk melewati acara puncak yang akan membawa mereka menikmati indahnya surga dunia.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️