
Azkia menggulung dan mengikat rambutnya ke atas hingga memperlihatkan leher berkulit putih yang ditandai dua bekas kecupan berwarna merah yang merupakan hasil karya suaminya. Azkia menyentuh lehernya dengan senyuman mengembang sambil memperhatikan bekas tanda cinta sang suami sisa percintaan mereka semalam. Bukan hanya di leher saja suaminya itu menciptakan tanda cinta, namun juga di bukit kembarnya.
Azkia mengambil concealer dan mengoleskannya untuk menyamarkan noda merah itu di lehernya,
" Kenapa ditutupi, Ma?" Raffasya terkekeh melihat Azkia sibuk menutupi bekas aktivitas bercintanya semalam.
" Malu-maluin tahu, Pa!" keluh Azkia.
" Kenapa malu-maluin sih, Ma? Ini 'kan hasil karya suami kamu sendiri." Raffasya berjalan mendekat ke arah Azkia dan melingkarkan tangannya ke pinggang sang istri. Tak lupa dia memberi kecupan di pundak istrinya itu.
" Sudah ah, Pa! Jangan mulai lagi, deh!" Azkia meminta suaminya untuk menghentikan aktivitasnya karena jika dibiarkan, suaminya akan terus melanjutkan aksinya.
" Kenapa sih, Ma? Kayak takut banget kalau didekati Papa?" tanya Raffasya menggoda Azkia.
" Takut kebobolan, Pa." ucap Azkia beralasan.
" Nggak apa-apa kebobolan juga. Aku siap tanggung jawab, kok." Raffasya tergelak meledek, membuat Azkia mencubit pinggang sang suaminya.
" Coba saja kalau sampai berani nggak mau tanggung jawab!" ancam Azkia.
" Dulu 'kan Mama nggak mau Papa tanggung jawab. Nolak-nolak sampai pakai mengajukan syarat segala. Sekarang sudah nggak mau jauh dari Papa, kan?" sindir Raffasya.
" Itu 'kan dulu, sekarang beda ..." sahut Azkia beralasan.
" Bedanya apa, hemm?" Raffasya sepertinya memang senang menggoda Azkia, sikap usilnya terhadap wanita itu sejak kecil sepertinya tidak pernah pudar.
Azkia memutar tubuhnya hingga kini berhadapan dengan sang suami lalu dia melingkarkan tangannya ke leher suaminya itu.
" Sekarang ini aku 'kan sudah cinta banget sama Papa," ucapnya manja.
" Oh, sudah cinta rupanya sekarang?" Raffasya tersenyum senang dan langsung memberikan kecupan di bibir sang istri.
" Sudah deh, Pa. Malu itu dilihat Naufal." Azkia menunjuk Naufal yang sedang duduk serius di atas playmat dengan mainan-mainannya.
" Kita sarapan dulu, yuk!" Azkia kemudian berjalan mengambil Naufal dan menyerahkan kepada Raffasya agar menggendong anaknya dan keluar kamar untuk menyantap sarapan pagi.
***
Ratih berlari menuju ruangan tamu saat mendengar suara bel berbunyi, menandakan ada tamu yang datang ke rumah majikannya itu.
" Assalamualaikum, Kia nya ada, Mbak?"
Saat Ratih membuka pintu rumah, dia mendapati seorang wanita cantik berhijab dan seorang pria tampan berkulit putih bersih yang sedang menggendong bayi perempuan di tangannya. Dia menduga jika orang-orang di hadapannya adalah pasangan suami istri dan anak mereka.
" Waalaikumsalam ... Maaf, Ibu ini siapa, ya?" tanya Ratih.
" Saya Rayya, Mbak. Saya saudara sepupunya Kia." Wanita cantik berhijab yang ternyata adalah Rayya memperkenalkan dirinya dengan ramah kepada Ratih.
" Oh, silahkan, Bu. Bu Kia ada, kok. Nanti saya panggilan dulu." Ratih mempersilahkan Rayya dan Ramadhan masuk ke dalam rumah keluarga Raffasya.
" Terima kasih, Mbak." sahut Rayya kemudian mengajak suaminya untuk masuk ke dalam rumah itu. Sedangkan Ratih segera berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Azkia berada.
Tok tok tok
" Bu, ada tamu di luar mencari Bu Kia!" Ratih tidak berani membuka pintu kamar Azkia, dia hanya mengetuk dan berseru dari luar kamar menunggu Azkia membukakan pintu kamarnya.
" Maaf, Bu. Ada Bu Rayya, sepupu Bu Kia di depan," ucap Ratih saat pintu kamar dibuka oleh Azkia.
" Rayya?" Azkia nampak bahagia saat mengetahui Rayya datang mengunjunginya. " Ya sudah, nanti saya ke bawah." Azkia kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil Naufal. " Naufal, ada Aisha di luar, yuk kita ke depan." Azkia segera membawa anaknya turun ke bawah.
" Hai, Aisha ..." Dari atas tangga Azkia langsung menyapa anak dari Rayya.
" Hai, Naufal ..." Rayya bangkit dari duduknya dan menghampiri Azkia untuk mengambil keponakannya itu dari tangan Azkia. " Hallo, baby boy keponakan Tante Rayya, kamu tambah cakep saja, deh." Rayya mencium gemas pipi Naufal.
" Sayang, kamu cium Naufal jangan pakai naf su gitu, dong! Kamu nggak sedang membayangkan mencium Papanya Naufal, kan?" protes Ramadhan yang melihat istrinya terlihat gemas menciumi Naufal.
" Ya ampun, Kak Rama! Masih sensi saja sama suamiku." Azkia dengan cepat menanggapi perkataan suami sepupunya itu dengan sindiran.
" Apa kamu lupa kalau suamiu itu dulu pernah tergila-gila dengan istriku ini?" Ramadhan balik menyindir.
" Memang dulu Kak Rama sendiri bagaimana dengan Kak Kayla? Kak Rama juga menolak dijodohkan dengan Rayya gara-gara Kak Kayla, kan? Lalu sekarang apa? Apa Kak Rama masih menyukai Kak Kayla?" Azkia tak ingin kalah, dia justru kembali menyerang Ramadhan dengan sindiran seraya berkacak pinggang.
" Itu masa lalu, Kia. Sudah aku tutup rapat-rapat, sekarang aku sudah sangat bahagia dengan istri dan anakku." tegas Ramadhan.
" Kalau begitu kenapa Kak Rama masih mempermasalahkan suamiku yang dulu pernah menyukai Rayya?" Azkia mempertanyakan untuk apa Ramadhan masih saja mencemburui Raffasya.
" Sini sama Tante Kia, Sayang " Azkia mengambil Aisha dari tangan Ramadhan.
" Cantik sekali Aisha. Aku juga mau punya anak selucu dan secantik Aisha ini, Ray." Melihat bayi perempuan membuat Azkia kepingin memiliki anak perempuan.
" Mintalah sama suamimu ..." celetuk Ramadhan.
" Minta dikarunia anak itu sama Allah SWT, Mas." protes Rayya meralat ucapan suaminya.
" Iya, aku paham, Sayang. Tapi 'kan tetap harus berusaha untuk membuat bayi itu. Kalau Kia kepingin anak perempuan, dia harus berusaha membuatnya dengan suami dia, kan? Masa dengan aku." Ramadhan menyeringai, membuat Rayya melotot ke arahnya.
" Kalau urusan seperti itu nggak perlu diperintah pun suamiku ahli lah, Kak." Azkia membalas perkataan Ramadhan dengan penuh rasa bangga.
" Eheek ... eheek ..." Naufal yang melihat Azkia menggendong Aisha langsung merajuk, sepertinya bayi itu mengerti kalau Mamanya sedang menggendong bayi lain.
" Naufal tahu, ya? Mamanya gendong bayi lain? Takut Mamanya diambil orang, ya?" Rayya yang sedang menggendong Naufal yang menangis berusaha menenangkan Naufal yang mulai merajuk.
" Sayang, nggak boleh ngambek dong, Nak. Ini Aisha, anaknya Tante Rayya, saudaranya Mama." Azkia mendekat ke arah Rayya, membuat Naufal merentangkan tangannya minta untuk digendong olehnya.
" Naufal mau digendong Mama juga, ya? Sini digendong berdua sama Aisha." Azkia meminta Naufal dari tangan Rayya, hingga kini tangan kanan dan kirinya menggendong Naufal dan Aisha.
" Sini Aisha aku yang gendong, Kia." Rayya meminta anaknya kepada Azkia.
" Sudah nggak apa-apa sama aku saja, Ray. Biar Naufal sama Aisha akrab nantinya." Azkia lalu duduk di sofa.
" Begini kali, ya? Repotnya kalau punya anak jarak usianya dekat, hahaha ..." Azkia membayangkan jika dia harus mempunyai anak dengan jarak berdekatan seperti Mamanya saat mempunyai Alden dan dirinya.
" Kia mau rencana tambah anak dalam waktu dekat?" tanya Rayya.
" Nggak sih, Ray. Tapi ya nggak tahu, deh! Kalau tiba-tiba dikasih lagi," sahut Azkia, mengingat sampai saat ini dia belum berani suntik KB, karena dia takut hasil berhubungan badan beberapa hari lalu tanpa pelindung akan menyebabkannya hamil lagi.
" Memang Kia nggak pakai KB?" tanya Rayya.
" Hmmm, pakai sih, tapi kemarin kelupaan belum suntik lagi ..." Azkia menyeringai.
" Eh, kok dipukul, Nak? Nggak boleh nakal, Sayang. Tuh, jadi nangis 'kan Aisha nya." Azkia langsung menegur Naufal sementara Aisha langsung diambil oleh Rayya.
" Naufal cemburu nih, Aisha digendong Mama Kia, ya?" Kini Rayya mencoba menenangkan putrinya.
" Duh, maaf ya, Aisha. Naufal nakalin Aisha, ya? Nanti Tante Kia jewer Naufalnya, ya!?" Azkia mengusap wajah Aisha yang masih merengek.
" Sini sama Ayah, Nak. Anakmu ini bar-bar menuruni bakat Papa Mamanya ya, Kia?" sindir Ramadhan kemudian berjalan ke luar rumah Raffasya mengajak putrinya itu melihat taman bunga di pekarangan rumah Raffasya yang terhubung ke pekarangan samping rumah di mana terdapat kolam ikan di sana.
Tak lama Ratih muncul di ruang tamu membawakan makanan dan minuman untuk Rayya dan juga Ramadhan.
" Terima kasih ya, Mbak." ucap Rayya dengan ramah.
Ratih tersenyum seraya menganggukkan kepala kepada Rayya kemudian berpamitan meninggalkan Azkia dan Rayya di ruangan tamu.
" Dia ART di sini, Kia?" tanya Rayya yang agak terkaget melihat ART berparas ayu di rumah keluarga sepupunya itu.
" Iya." sahut Azkia malas.
" Cantik wajahnya, sudah lama kerja di sini?" tanya Rayya penasaran.
" Baru dua bulan, sudah deh, jangan ngomongin dia!" Azkia meminta Rayya berhenti membahas soal Ratih.
Rayya tersenyum mengerti kenapa Azkia enggan membahas soal Ratih. Mungkin karena Azkia tidak ingin ada wanita cantik di rumah itu selain Azkia.
" Oh ya, Kak Raffa belum pulang?" tanya Rayya karena tidak melihat kehadiran suami dari sepupunya itu.
" Tadi ijin pulang agak telat karena ada acara di La Grande," sahut Azkia.
" Kak Raffa nggak berminat bekerja di kantoran, Kia? Kalau Kak Raffa mau, Daddy pasti bisa kasih posisi untuk Kak Raffa bekerja di hotelnya." Rayya siap membantu jika Raffasya berminat bekerja kantoran.
" Papanya Naufal itu sudah nyaman dengan bisnisnya, Ray. Suamiku itu bukan tipe orang yang senang bekerja di atur oleh orang lain. Apalagi kalau pekerjaan itu didapat dari orang lain, bukan dari hasil usaha dia sendiri. Kalau memang niat bekerja di kantor, Mamanya sendiri menginginkan suamiku itu meneruskan usahanya menghandle perusahaan leasing punya Mama Lusi, tapi suamiku menolak. Kalau aku sendiri sih, mendukung di mana dia merasa nyaman saja, Ray." Azkia menjelaskan bagaimana prinsip yang dipegang teguh suaminya itu.
" Iya juga, ya? Kak Raffa itu susah menerima bantuan dari orang lain termasuk dari keluarga sendiri."
" Ya seperti itulah ..." Azkia mengedikkan bahunya. " Oh ya, kalian ini habis dari mana?" tanya Azkia kemudian.
" Kami tadi dari rumah Papa Ricky sama Mama Anin terus sekalian mampir ke sini, deh." jawab Rayya.
" Oh ya, bagaimana kabar Om sama Tante?"
" Alhamdulillah sehat, Kia."
" Syukurlah kalau begitu ...."
Rayya mengedar pandangan ke seluruh sudut ruangan tamu yang pernah dia datangi beberapa tahun lalu saat dia masih berseragam putih abu-abu. Kala itu Raffasya mengajaknya ke rumah itu tanpa sepengetahuan keluarganya.
Tak banyak berbeda kondisi saat ini dengan saat dia datangi dulu, hanya warna cat dan beberapa perabotan baru yang ada di sana.
Azkia yang mendapati Rayya sedang mengedar pandangan ke sekeliling ruang tamu langsung tersenyum.
" Sedang mengingat masa lalu ya, Ray? Waktu kamu diculik Papanya Naufal.
Sementara di dapur Ratih yang merasa penasaran dengan sosok Rayya, langsung bertanya kepada Bi Neng, karena dia merasa sikap Rayya yang lembut dan ramah sangat berlawanan dengan sikap dengan Azkia yang selalu bersikap jutek kepadanya.
" Bi Neng, kalau Bu Rayya itu sepupunya Bu Kia, ya? Kok beda banget sama Bu Kia, ya? Orangnya kayaknya baik." tanya Ratih pada Bi Neng yang sedang memasukan makanan dan su su formula Raffasya ke dalam laci kitchen set.
" Maksud kamu apa, Ratih? Membanding-bandingkan Mbak Kia dengan Mbak Rayya?" tanya Bi Neng menyelidik.
" Maksud Ratih, kalau Bu Rayya itu ramah orangnya, kalau Bu Kia agak galak," aku Ratih jujur.
" Mbak Kia itu sama baiknya, kok! Kalau kamu merasa Mbak Kia itu galak, mungkin ada yang salah dengan diri kamu sendiri. Kalau kamu nggak percaya kamu tanya sama Uni, selama Mbak Kia di sini, apa pernah dia pernah kena marah?" Sudah pasti Bi Neng akan membela Azkia, karena Bi Neng sudah merasakan sendiri suasana di rumah tempat dia bekerja terasa menghangat sejak kehadiran Azkia sebagai istri Raffasya.
" Bibi pesan sama kamu, Ratih! Mbak Kia itu majikan kamu, jangan berbuat sesuatu yang membuat Mbak Kia nggak nyaman kalau kamu mau diterima baik di rumah ini." Bi Neng mencoba menasehati Ratih, karena Bi Neng sendiri sudah diberi mandat oleh Lusiana untuk mengawasi gerak-gerik ART baru itu.
***
" Bi Neng, Uni mau ke pasar dulu, ya!?" Uni berpamitan kepada Bi Neng, karena dia ingin berbelanja sayuran dan ikan di pasar tradisional karena untuk besok persediaan bahan makanan itu sudah menipis.
" Kamu ke pasar sama siapa, Ni?" tanya Bi Neng.
" Sendiri saja, Bi. Nanti pakai Ojol saja," sahut Uni.
" Ya sudah, hati-hati. Oh ya, pakaian kotor di kamar Mas Raffa sudah diambil belum, Ni? Biar nanti Bibi saja yang cuci kalau kamu ke pasar."
" Sudah Uni taruh dekat mesin cuci, Bi. Biar nanti pulang dari pasar saja Uni yang cuci, Bi." Uni meminta Bi Neng menunggunya sepulang dari pasar.
" Nggak apa-apa, mumpung Naufal sedang tidur jadi Bibi bisa cuci," sahut Bi Neng.
" Iya, Bi. Kalau begitu Uni pergi sekarang ya, Bi. Assalamualaikum ..." Uni berpamitan.
" Waalaikumsalam ..." Bi Neng menyahuti sebelum Uni pergi ke pasar, sedangkan Bi Neng melangkah ke belakang berniat mencuci pakaian.
" Bi Neng, biar Ratih saja yang mencuci baju." Ratih yang melihat Bi Neng sedang menuang diterjen ke dalam tabung mesin cuci yang sudah diisi air.
" Ya sudah, kamu cuci baju punya Mbak Kia sama Mas Raffa. Punya Naufal dicuci manual pakai tangan saja jangan dicampur. Pisahkan juga pakaian yang berwarna dan putih." Bi Neng memberikan petunjuk.
" Iya, Bi." sahut Bi Neng.
" Bi Neng mau memasang sprei di kamar Bu Mutia dulu," ujar Bi Neng kemudian meninggalkan Ratih menuju kamar Nenek Mutia.
Sepeninggal Bi Neng, Ratih memilih baju-baju yang ingin dia cuci, namun tiba-tiba dia menjeda memilah-milah pakaian kotor saat dia menemukan kemeja milik Raffasya. Dia mengambil pakaian Raffasya lalu mendekap dan mendekatkan pakaian itu ke hidungannya hingga dia bisa menghirup aroma maskulin yang tertinggal di baju yang dipakai Raffasya kemarin, bahkan dia sampai memejamkan matanya seolah menikmati aroma tubuh majikannya itu.
" Ngapain kamu cium-cium pakaian suami saya?!"
Ratih tersentak kaget saat mendengar suara Azkia apalagi saat Azkia menarik paksa pakaian Raffasya yang sedang dipeluknya.
" I-ibu?" Wajah Ratih seketika memucat menahan rasa malu dan takut karena dia kepergok langsung oleh Azkia sedang mencium aroma baju dari suami Azkia.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading,❤️