MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Saling Menebar Ancaman



Azkia menyiapkan diapers, celana dan baju untuk ganti Azkia ke dalam tas. Dia juga memasukan botol su su dan juga su su formula Naufal, tak lupa dompet dan ponsel miliknya.


Azkia lalu memakaikan jaket ke tubuh Naufal dan topi berwarna biru setelah dia memakaikan sepatu di kaki Naufal.


" Ayo kita main ke tempat kerja Papa, Nak. Kita gangguin Papa kerja, yuk!" Azkia berencana membawa Naufal main ke cafe milik Raffasya.


Azkia lalu menyampirkan tas dan mengangkat Naufal kemudian menggendongnya ke luar dari kamarnya.


" Mbak Uni ...! Mbak Atun ...!" Azkia berteriak memanggil kedua ART nya saat menuruni anak tangga.


" Ada apa, Mbak Kia?" Uni dan Atun berlari dari arah ruang tengah menghampiri Azkia.


Uni bahkan langsung mengambil Naufal dari tangan Azkia karena dia kasihan melihat Azkia yang kerepotan. Sementara Atun meminta tas yang disampirkan di pundak Azkia.


" Mbak Kia mau ke mana?" tanya Uni kemudian.


" Aku mau ajak Naufal ke tempat kerja Papanya. Mbak Uni atau Mbak Atun salah satu ikut aku, yuk!" Azkia meminta salah satu ART nya untuk menemaninya ke Raff Caffee.


" Uni saja yang antar ya, Mbak?" Uni menawarkan diri.


" Ya sudah nggak apa-apa, buruan Mbak Uni ganti baju dulu!" Azkia menyuruh Uni mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


" Iya, Mbak." Uni lalu menyerahkan Naufal kepada Atun karena dia akan mengganti pakaiannya.


" Naufal mau main ke tempat Papa, ya?" tanya Atun yang menggendong Naufal.


" Apapapaa ...." sahut Naufal menjawab pertanyaan Atun.


" Iya, Mbak Atun. Naufal mau gangguin Papa kerja." Azkia ikut menjawab pertanyaan Atun seraya terkekeh kemudian berjalan ke arah sofa dan mendudukkan tubuhnya sambil menunggu Uni selesai berganti pakaian.


" Mbak Kia mau pergi naik apa?" tanya Atun.


" Naik mobillah, Mbak." sahut Azkia.


" Yang bawa siapa?" tanya Atun lagi karena Raffasya tidak mempunyai supir pribadi.


" Akulah, siapa lagi?"


" Memang Mbak Kia boleh bawa mobil sendiri sama Mas Raffa, Mbak?" Atun yakin Raffasya pasti tidak akan mengijinkan Azkia membawa mobil sendiri karena kondisi kehamilannya.


" Kalau bilang sama Papanya Naufal pasti nggak dikasih ijin, makanya nggak usah bilang lagi sama suamiku," sahut Azkia meminta Atun tidak memberitahu Raffasya jika dirinya akan pergi ke Raff Caffee.


" Tapi apa nggak apa-apa Mbak Kia bawa mobil sendiri lagi hamil gitu?" tanya Atun khawatir.


" Nggak apa-apa, tenang saja, Mbak Atun. Aku bawanya juga nggak akan ngebut, kok." Azkia menyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.


***


Sementara di Raff Caffe, Raffasya sedang kedatangan kedua teman lamanya Billy dan Hendra.


" Apa kabar, Bro? Sibuk sama kerjaan lu sekarang, ya? Jarang banget kumpul bareng lagi kita." Billy memberikan kepalan tangannya melakukan fist bump pada Raffasya.


" Ya begitulah, sekarang gue sudah punya keluarga, jadi harus fokus kerja cari duit untuk menafkahi anak sama bini gue," sahut Raffasya kini melakukan fist bump dengan Hendra.


" Jadi Family Man sekarang lu, Raf?" sindir Hendra kemudian.


" Seorang pria yang sudah menikah memang harus seperti itu, kan? Ayo silahkan duduk ...!" Raffasya mempersilahkan kedua temannya itu untuk duduk.


" Ada apa nih, kalian kemari?" tanya Raffasya setelah kedua temannya itu duduk di sofa.


" Nih, gue ngantar si Hendra. Dia mau menyusul lu kawin, Raf." Billy menjawab pertanyaan Raffasya.


" Lu mau nikah, Hen?" tanya Raffasya menoleh ke arah Hendra.


" Iya, Raf. Rencananya begitu," jawab Hendra.


" Kapan?" tanya Raffasya antusias, tentu Raffasya merasa senang jika teman-temannya bisa segera melepas masa lajangnya.


" Rencananya empat bulan ke depan, ini gue masih planning cari tempat. Gue rencananya mau sewa cafe lu yang La Grande buat acara resepsi. Lu bisa kasih discount lah buat gue, Raf." Hendra menyampaikan maksud dan tujuannya dia datang ke tempat Raffasya.


" Itu gampang diatur, lu kabari saja kapan tanggal pastinya," ujar Raffasya. Sudah pasti untuk temannya itu dia akan memberikan harga spesial.


" Oke, thanks, Raf." Hendra mengucapkan terima kasih karena Raffasya menyetujui permintaannya.


" Kalau gue yang nikah, gue nggak minta discount tapi gue minta gratis saja." Billy menimpali dengan berkelakar.


" Memangnya cafe milik nenek moyang lu minta gratis?" Justru Hendra yang memprotes ucapan Billy membuat suara tawa langsung terdengar di ruangan Raffasya.


Sedangkan di halaman parkir cafe milik Raffasya, Azkia baru saja sampai setelah menghabiskan waktu sekitar hampir empat puluh lima menit karena Azkia membawa mobilnya dengan kecepatan sedang.


" Ayo, Mbak Uni." Azkia membukakan pintu mobil untuk Uni yang mengendong Naufal. " Mbak Uni tolong pegang tasnya, Naufal biar aku yang bawa." Azkia lalu menggendong tubuh Naufal dengan lengan kirinya.


" Naufal biar Uni saja yang bawa, Mbak." Uni yang tidak ingin melihat Azkia kecapean meminta Azkia membiarkan dia yang membawa Naufal.


" Biar aku saja nggak apa-apa kok, Mbak." Azkia menolak tawaran Uni dan berjalan masuk ke dalam cafe.


" Pak Adam, suamiku ada?" tanya Azkia saat melihat Adam turun dari anak tangga.


" Mas Raffa ada kok, Mbak." Adam langsung menyahuti. " Halo, Naufal. Naufal sudah besar, ya?" Adam pun menyapa Naufal.


" Iya, Om. Naufal sudah besar." sahut Azkia. " Saya ke atas dulu ya, Pak Adam." Azkia berpamitan kepada Adam lalu melangkah menaiki anak tangga perlahan.


" Hati-hati ...! Pelan-pelan naiknya, Mbak. Sini Naufal saya saja yang bawa, Mbak. Duh, Uni takut kalau Mas Raffa lihat Mbak Kia gendong Naufal sambil naik tangga, nanti Uni yang kena marah, deh!" Uni cemas jika dia akan disalahkan oleh Raffasya karena membiarkan Azkia menggedong Naufal sambil menaiki anak tangga dan dalam kondisi hamil.


" Mbak Uni jangan lebay, deh!" Azkia terkekeh tak memperdulikan kecemasan Uni sampai mereka bertiga akhirnya tiba di depan pintu ruangan kerja Raffasya.


" Assalamualaikum, Papa ..." Azkia langsung masuk ke dalam ruangan suaminya berniat memberi kejutan kepada suaminya itu. Azkia tidak tahu jika di ruangan suaminya itu ada teman-teman Raffasya. " Eh, ada tamu ...."


" Waalaiakumsalam ..." Ketiga orang yang ada di ruangan Raffasya membalas salam yang diucapkan oleh Azkia.


" Mama? Naufal? Kok bisa kemari?" Raffasya yang terkejut mendapati istri dan anaknya tiba-tiba muncul di ruangannya langsung menghampiri Azkia dan mengambil Naufal yang terlihat sumrimgah melihat Papanya.


" Papa ada tamu, ya?" Bukannya menjawab pertanyaan Raffasya, Azkia malah fokus kepada dua orang yang sedang duduk santai di sofa ruangan suaminya.


" Mereka teman-teman aku. Kamu masih ingat kan, Ma? Hendra sama Billy." jawab Raffasya.


" Oh, hai ..." Azkia menyapa kedua teman Raffasya.


" Hai ..." Billy dan Hendra pun kompak membalas sapaan dari Azkia.


" Bini lu lagi bunting lagi, Raf?" tanya Billy melihat perut Azkia yang sudah terlihat membuncit.


" Iya, kejar setoran, Bro!" Sambil terkekeh Raffasya menjawab.


" Tokcer juga lu, Raf!" ucap Hendra. " Apa karena lu jarang main cewek jadi lancar jaya?" sambungnya terkekeh.


" Nggak ngaruh lagi,. Hen!" Billy tergelak.


" Dulu gue sudah feeling banget kalau kalian itu berjodoh, gue ingat waktu kamu terkilir terus si Raffa angkat kamu kayak pengantin mau ngajakin make love di malam pertama." Hendra terkekeh mengingat kejadian di tangga saat Raffasya dan Azkia saling berdebat yang menyebabkan Azkia hampir terjatuh dari tangga.


Raffasya dan Azkia hanya tersenyum menanggapi ucapan Billy dan Herman.


" Kamu sama siapa ke sininya, Ma?" tanya Raffasya kemudian.


" Sama Uni, tuh!" Azkia menunjuk Uni dengan gerak matanya.


" Naik apa?" tanya Raffasya lagi.


" Naik mobil," jawab Azkia.


" Pesan ojek online?" tanya Raffasya menyelidik.


" Nggak, aku bawa mobil sendiri," sahut Azkia enteng.


" Bawa mobil sendiri??" Raffasya langsung membulatkan bola matanya dan melirik ke arah Uni yang terlihat langsung menundukkan pandangannya karena Uni sudah menduga jika Raffasya akan marah jika mengetahui Azkia menyetir mobil sendiri.


" Kenapa nggak bilang kalau mau ke sini sih, Ma? Aku 'kan bisa suruh orang jemput Mama dan Naufal." Raffasya sudah pasti tidak menyetujui tindakan Azkia yang membawa mobil sendiri.


" Kelamaan kalau nunggu dijemput dari sini," sahut Azkia.


" Tapi kamu sedang hamil, Ma. Aku nggak mau terjadi sesuatu dengan janin di perutmu ini." Raffasya tetap tidak membenarkan tindakan istrinya.


" Sekali-kali bawa mobil sendiri sih, nggak apa-apa, Pa. Nggak tiap hari ini." Azkia menjawab dengan santai.


" Hen, kayaknya kita hanya akan jadi penonton drama rumah tangga, mending kita pulang saja, yuk!" Billy yang merasa sudah cukup berbincang dengan Raffasya berniat berpamitan. Dia juga tidak enak karena merasa kehadiran mereka akan mengganggu waktu Raffasya dan keluarganya.


" Lu bener, Bil. Raf, kayaknya kita pamit dulu. deh!" sahut Hendra kemudian berdiri.


" Lho, kenapa pada pulang, Kak? Kalau masih ada perlu sama suamiku nggak apa-apa, silahkan mengobrol saja." Justru Azkia yang merasa mengganggu kedua teman suaminya yang datang ke kantor Raffasya dan mempersilahkan kedua teman Raffasya untuk berbincang kembali dengan suaminya.


" Kami kebetulan sudah selesai, kok. Tadi kebetulan habis bincang santai saja," jawab Hendra. " Okelah, Raf. Gue pamit dulu, ya!? Nanti gue kabari lagi tanggal pastinya."


" Oke, Hen. Kabari saja secepatnya jadi gue bisa kosongkan tanggal itu buat resepsi lu," sahut Raffasya.


Setelah berpamitan, Hendra dan Billy pun keluar dari ruangan Raffasya.


" Lain kali jangan mengemudi mobil sendiri, Ma." Raffasya masih mempermasalahkan soal Azkia yang mengemudikan mobil sendiri.


" Iya, Pa. Apa kita harus cari supir pribadi buat aku kalau bepergian?" tanya Azkia kemudian.


" Memang kamu mau berpergian ke mana sih, Ma? Kamu kalau mau pergi, bilang saja dulu, nanti Papa yang antar Mama."


" Masa tiap mau pergi harus ganggu Papa kerja, sih? Nggak enak 'kan, Pa!? Mending cari supir sendiri, yang muda yang ganteng, kan lumayan bisa cuci mata ..." Azkia terkikik meledek suaminya.


Dan benar saja, Raffasya langsung mendelik saat istrinya itu mengatakan ingin mencari supir yang berwajah tampan dan masih muda.


" Buat apa cari yang ganteng? Memangnya Papanya Naufal ini masih kurang tampan?"


Azkia terkikik mendengar sikap narsis suaminya, selama menikah mungkin ini pertama kalinya dia mendapati Raffasya yang begitu percaya diri membanggakan wajah tampannya.


" Memangnya kenapa nggak boleh cari yang muda dan ganteng, Pa?" Azkia masih senang menggoda Raffasya.


" Kalau Mama ingin punya supir yang ganteng, Papa akan cari pegawai yang cantik buat jadi asistenku di sini." Raffasya balas mengancam.


Azkia terbelalak mendengar ancaman suaminya itu, dia tidak menyangka jika suaminya akan mengertaknya seperti tadi.


" Coba saja kalau Papa mau cari pegawai yang cantik! Aku akan bawa pulang Naufal ke rumah Mama!" ketus Azkia tak ingin memberi peluang suaminya untuk macam-macam. Sepasang suami istri itu kini saling menebar ancaman.


" Tuh, kan! Mama curang, kan!? Tadi Mama sendiri yang bilang mau cari supir ganteng, giliran Papa yang mau pegawai yang cantik, Mama yang jadi sewot." Raffasya kini tertawa melihat sikap tegas istrinya yang memberinya ancaman mematikan menurutnya. Tentu saja, jika Azkia sampai membawa Naufal pulang ke rumah mertuanya itu, alamat akan menjadi prahara besar dalam rumah tangganya.


" Aku sih nggak masalah, silahkan saja mau cari karyawan cantik yang banyak juga, tapi jangan harap bisa ketemu sama Naufal lagi!" kalimat yang keluar dari mulut Azkia masih ketus dan galak.


" Iya, iya, ampun, Ma. Raffasya merengkuh tubuh Azkia tak ingin membuat istrinya itu semakin menjadi.


" Naufal, Mama marah sama Papa, nih." Raffasya seolah mengadu pada anaknya. " Bilang sama Mama, Mama jangan marah-marah sama Papa, Ma. Cium Mamanya biar Mama nggak marah lagi ..." Raffasya menyuruh Naufal mencium Azkia. Dan bayi yang belum genap setahun itu pun seolah mengerti dan menuruti perintah Papanya karena Naufal langsung mencium pipi Azkia.


" Sekarang cium Papa, Nak." Raffasya menyodorkan pipinya ke arah Naufal meminta anaknya itu untuk mencium pipinya. Namun bukannya mencium, Naufal justru menggigit pipi Raffasya.


" Aduh ... kok digigit, Nak?" Raffasya pura-pura meringis kesakitan, membuat anaknya itu tertawa.


" Eh, malah tertawa? Naufal senang ya lihat Papa menderita?" Kini Raffasya membalas dengan menggelitik tubuh Naufal hingga anaknya itu tertawa kegelian.


***


" Pa, kakiku pegal ..." keluh Azkia menyodorkan kakinya ke arah paha suaminya. Tadi siang sepulang dari cafe, Azkia mengajak Raffasya ke mall untuk mencari baju untuk Naufal yang akan dipakai Naufal ulang tahun dua hari lagi.


" Aku bilang juga apa, Ma? Jangan terlalu capek! Ini pasti gara-gara tadi ke mall cari baju buat Naufal, kan?" Raffasya langsung menceramahi Azkia, namun tangannya mulai memijat kaki sang istri walau dengan menggerutu.


" Kalau pijat istri itu yang ikhlas, Pa. Nggak usah pakai menggerutu!" sindir Azkia mendengar suaminya itu masih saja menggerutu.


Sebenarnya bukan karena disuruh memijat yang membuat Raffasya menggerutu. Baginya, memijat tubuh sang istri adalah kegemaramnya sambil dia mencuri-curi kesempatan. Namun yang membuat dia kesal adalah sikap Azkia yang kadang membandel. Raffasya sangat memperdulikan kesehatan istri dan bayi di dalam kandungan Azkia, karena itu dia cukup rewel jika istrinya berbuat sesuatu yang kadang membahayakan kesehatannya dan calon anak mereka.


" Nggak usah manyun gitu dong, Pa. Cepat pijatnya yang benar. Kanan sama kiri dari paha sampai ujung kaki. Kalau sudah selesai pijat nanti aku kasih bonus deh, buat Papa ..." Azkia menyeringai sambil mengerakkan alisnya seakan memberi kode jika setelah Raffasya selesai melakukan tugasnya, Azkia akan memberikan bonus untuk Raffasya yang sudah pasti Raffasya paham maksud dari Azkia.


" Aku nggak mau, Ma." sahut Raffasya cepat.


" Nggak mau? Yakin Papa nggak mau begituan sama Mama?" Azkia menduga Raffasya hanya pura-pura menolak padahal pria itu pasti menginginkannya.


" Nggak!"


" Nggak nolak, maksudnya? Masa, sih?" ledek Azkia.


" Nggak! Papa nggak mau! Papa nggak mau melakukan hubungan in tim sekarang." tegas Raffasya.


" Kok nggak mau, sih?" Azkia menarik kakinya yang sedang dipijat oleh sang suami. " Papa sudah bosan ya sama aku??" Tiba-tiba Azkia merajuk dengan mulut mengerucut.


" Papa sudah nggak cinta ya sama aku? Papa punya wanita lain, ya!?" tuduh Azkia dan seketika itu juga Azkia menangis tersedu seraya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


Tentu saja apa yang terjadi pada Azkia membuat Raffasya bingung. Apalagi Azkia menuduhnya selingkuh. Padahal dia menolak tawaran Azkia untuk berhubungan in tim karena dia sangat mengkhawatirkan kehamilan Azkia. Raffasya harus menahan has ratnya demi kebaikan bersama, demi kesehatan istri dan bayinya karena Raffasya tidak ingin membuat Azkia kelelahan. Namun ternyata hal itu ditanggapi berbeda oleh Azkia dengan menuduhnya sudah bosan dan mempunyai wanita lain.


*


*


*


Bersambung ...





Happy Reading ❤️