MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Sikap Tak Ramah Lusiana



Abhinaya berjalan di koridor kampus menuju halaman parkir, namun langkahnya tertahan saat melihat Gibran di kampus kantinnya, membuat dia mengurungkan langkahnya ke arah parkiran dan melangkah masuk ke dalam kantin Bu Dzul.


" Kak Gibran?" Abhinaya menyapa Gibran yang asyik tertawa dan berbincang dengan seorang wanita yang juga dia kenal


Gibran yang mendengar suara yang memanggilnya langsung menolehkan pandangan ke arah orang yang memanggilnya itu.


" Oh, hai, Bhi ..." Gibran pun menyapa balik Abhinaya dan melakukan fist bump dengan mendekatkan kepalan tangannya ke kepalan tangan Abhinaya.


" Kak Abhi?" Rosa yang ketahuan Abhinaya sedang berbincang dengan seorang pria langsung salah tingkah. Tentu Rosa takut Abhinaya akan membocorkan hal ini kepada kakaknya


" Kak Gibran kok ada di sini?" tanya Abhinaya menatap ke arah Gibran dan Rosa bergantian.


" Aku tadi ada perlu dengan Pak Zaenal, Bhi. Kamu apa kabar?" Gibran menjelaskan kenapa dia bisa ada di sana.


" Alhamdulillah baik, Kak. Kak Gibran kenal sama Oca. ya?" Abhinaya merasa penasaran dari mana Gibran bisa mengenal Rosa.


" Aku kenal Rosa karena dulu dia hampir keserempet mobilku di dekat mini market dekat kampus ini sewaktu dia ingin mengejar penjambret," ucap Gibran jujur.


" Oh ..." Hanya kata itu yang keluarga dari mulut Abhinaya, Abhinaya sendiri sudah mendengar cerita tentang penjambretan terhadap Rosa dari Azkia. Bahkan kakaknya itu langsung menyuruhnya untuk menjaga Rosa di sekitar kampus, setidaknya sampai Raffasya menjemput Rosa.


" Ya sudah kalau begitu aku duluan ya, Kak. Ada acara sama teman-teman soalnya. Titip Oca ya, Kak." Abhinaya menitipkan Rosa kepada Gibran dan berpamitan karena berniat meninggalkan kantin kampus itu.


" Oke, Bhi."


" Duluan ya, Ca." Abhinaya pun berpamitan dengan Rosa.


" Iya, Kak." jawab Rosa.


" Kamu dekat sama Abhi, ya?" tanya Gibran karena melihat Abhinaya menyapa Rosa, bahkan Abhinaya sampai menitipkan Rosa kepadanya.


" Iya, Kak." sahut Rosa namun dia tidak menjelaskan tentang hubungan dia dengan Abhinaya jika Abhinaya adalah adik dari kakak iparnya.


" Abhi ganteng, lho! Anak dosen lagi ... kamu suka sama cowok kayak Abhi itu?" Gibran merasa jika Abhinaya menyukai Rosa. Dan tiba-tiba dia merasa Abhinaya akan menjadi saingannya.


" Kak Abhi memang baik, orangnya juga humble, menyenangkan memang kalau bicara dengan Kak Abhi." Rosa memang mengagumi sosok Abhinaya yang mempunyai pribadi yang menyenangkan.


" Apa Abhi masuk dalam kriteria cowok yang kamu harapkan menjadi kekasihmu?" tanya Gibran menyelidik.


" Saya belum memikirkan hal itu, Kak." Rosa kembali menegaskan jika dirinya belum memikirkan untuk berpacaran dalam jangka waktu dekat ini.


" Ini juice alpukatnya, Mas Gibran. Maaf telat, tadi Ibu melayani yang pesan duluan." Bu Dzul membawa pesanan juice alpukat yang diminta Gibran.


" Makasih, Bu." Rosa yang merasa jika dia yang memesan juice itu langsung mengucapkan terima kasih kepada Bu Dzul.


" Eh, Neng Oca." Bu Dzul kaget saat melihat Rosa bersama dengan Gibran, karena dia sangat mengetahui jika Gibran adalah mantan kekasih dari Azkia dan Azkia adalah kakak ipar dari Rosa.


" Iya, Bu." Rosa tersipu malu.


" Mas Gibran kenal sama Neng Oca, ya?" Bu Dzul merasa penasaran dengan kedekatan Gibran dengan Rosa.


" Kita berteman, Bu Dzul." Gibran menjawab pertanyaan Bu Dzul.


" Oh, baguslah kalau Mas Gibran sama Neng Oca bisa berteman, mudah-mudahan bisa jadi jodoh," celetuk Bu Dzul seraya terkekeh. Setelah itu Bu Dzul berjalan meninggalkan mereka berdua.


Ddrrtt ddrrtt


Rosa merasakan suara panggilan telepon dari ponselnya membuat di segera mengeluarkan ponselnya itu dari dalam tasnya.


" Assalmaualaikum, Kak." Rosa menjawab panggilan masuk yang berasal dari Raffasya.


" Waalaikumsalam, kamu sudah selesai kuliah? Kakak ada di depan," suara Raffasya terdengar di telinga Rosa.


" Sudah, Kak. Ini aku mau keluar." Rosa langsung mematikan ponselnya dan berniat meninggalkan kantin.


" Kak, saya duluan, ya!? Kakakku sudah menjemput ..." Rosa berpamitan kepada Gibran.


" Oke, hati-hati ..." sahut Gibran sebelum Rosa meninggalkannya untuk menemui Raffasya yang sudah menunggu di depan gerbang kampus.


***


Gibran memperhatikan rumah berlantai dua di hadapannya. Setelah berpikir beberapa saat dia akhirnya turun dan menghampiri pintu gerbang rumah tersebut.


" Assalamualaikum, permisi, Pak. Rosa nya ada?" tanya Gibran kepada Pak Satpam yang menjaga di pintu gerbang rumah Lusiana.


" Waalaikumsalam ... Mas ini temannya Mbak Oca?" tanya Pak Satpam.


" Iya, Pak. Saya Gibran temannya Rosa." sahut Gibran.


" Oh, sebentar, Mas." Pak Satpam membukakan pintu untuk Gibran. " Silahkan, Mas."


" Saya parkir mobil di depan ini nggak apa-apa 'kan, Pak?" tanya Gibran karena meninggalkan mobilnya di jalan di depan rumah Lusiana.


" Dibawa masuk saja, Mas. Biar aman." Pak Satpam menyuruh Gibran membawa masuk mobilnya ke dalam halaman rumah Lusiana.


" Oh, sebentar, Pak." Gibran lalu berlari ke arah mobilnya dan mengarahkan mobilnya itu masuk ke dalam pekarangan rumah Lusiana.


" Terima kasih ya, Pak." Gibran mengucapkan terima kasih kepada Pak Satpam setelah keluar dari mobilnya.


Gibran kemudian melangkah ke teras rumah Lusiana dan menekan bel di dekat pintu ruang tamu.


Beberapa menit Gibran menunggu hingga akhirnya ART di rumah Lusiana membukakan pintu rumah Lusiana.


" Assalamualaikum, Bu. Rosa nya ada?" Gibran langsung menyapa seorang wanita yang dia pikir adalah ART di rumah tempat Rosa tinggal.


" Waalaikumsalam, Mas ini siapa, ya?" tanya Bi Junah, salah satu ART di rumah Lusiana menatap Gibran yang baru pertama kali dia lihat.


" Saya Gibran, temannya Rosa, Bu." Gibran menjawab pertanyaan Bi Junah. " Apa Rosa ada, Bu?" tanya Gibran kembali.


" Mbak Oca ada, Mas. Mari silahkan masuk. Sebentar saya panggilan dulu Mbak Oca nya, Mas." Bi Junah mempersilahkan Gibran masuk sementara dia sendiri segera melangkahkan kaki menaiki anak tangga untuk memanggil Rosa.


" Ada siapa, Jun?" tanya Lusiana saat melihat Junah muncul dari tangga paling atas.


" Itu, Bu. Ada temannya Mbak Oca di bawah," jawab Bi Junah.


" Teman Oca?" Lusiana mengerutkan keningnya. Selama Rosa tinggal bersamanya, dia tidak pernah melihat ada teman Rosa yang datang ke tempatnya. " Perempuan atau laki-laki temannya, Jun?" tanya Lusiana.


" Laki-laki, Bu." jawab Bi Junah kembali.


" Laki-laki?" Tentu Lusiana terkejut saat mengetahui ada teman laki-laki Rosa yang berani datang ke rumahnya. Dia lalu bergegas menuruni anak tangga untuk menemui teman laki-laki Rosa itu.


Lusiana mendapati seorang pria tampan yang duduk di sofa ruangan tamunya. Lusiana kembali mengerutkan keningnya, dia seperti pernah mengenal sosok pria itu namun dia lupa di mana.


" Selamat sore, Tante." Gibran bahkan langsung berdiri dan menyalami Lusiana dengan sopan.


" Apa perlu apa sama Oca?" tanya Lusiana lagi karena dia belum mendapatkan jawaban dari Gibran.


" Hmmm, saya hanya ingin berkunjung saja, Tante. Kebetulan saya tadi lewat dekat sini," jawab Gibran menanggapi sikap Lusiana yang terlihat tidak menyukai kehadirannya.


" Kamu teman Oca? Kenal Oca di mana?" selidik Lusiana sudah seperti polisi yang sedang mengintrogasi tersangka.


" Saya kemarin yang mengantar Rosa pulang waktu HP nya dijambret sama orang, Tante." Gibran menjelaskan kapan dia berjumpa dan kenal Rosa.


" Kamu yang menolong Oca? Apa jangan-jangan kamu bersekongkol dengan pejambret itu?" tuduh Lusiana yang mulai sangat posesif terhadap Rosa. Lusiana memang tahu soal penjambretan yang dialami oleh Rosa, namun Lusiana juga diminta tutup mulut dari Fariz tentang musibah yang menimpa Rosa.


" Demi Allah saya nggak ada hubungan dengan penjahat itu, Tante." Gibran menepis tuduhan Lusiana sampai bersumpah atas nama Tuhan.


Sementara itu di kamarnya, Rosa sedang membuka berita online di laptop saat pintu kamarnya diketuk. Gadis cantik itu turun dari tempat tidur dan membuka pintu untuk orang yang mengetuk pintu kamarnya.


" Ada apa, Bi?" tanya Rosa saat dia melihat Bi Junah di depan pintu kamar.


" Ada teman Mbak Oca di bawah," Bi Junah memberitahu Rosa tentang tamu yang mengaku sebagai teman Rosa.


" Teman Oca? Siapa, Bi?" Rosa terkesiap mendengar ucapan Bi Junah. Karena sebelumnya tidak pernah ada temannya yang berkunjung ke rumah itu, dan Rosa juga tidak pernah mengajak temannya untuk main ke rumah milik Lusiana. Karena dia tidak enak kalau membawa temannya ke rumah Lusiana karena dia merasa itu bukan rumah orang tuanya.


" Tadi bilang sih namanya Gibran, Mbak." sahut Bi Junah.


Bola mata Rosa membulat sempurna mendengar ucapan Bi Junah saat mengetahui jika tamu yang datang ke rumah itu adalah Gibran.


" Kak Gibran?" Rosa begitu terperanjat mendengar nama Gibran.


" Iya, Mbak." sahut Bi Junah.


" Oh, ya sudah, makasih, Bi." Rosa langsung menutup pintu dan berlari kecil ingin turun ke bawah.


Rosa seketika menghentikan langkahnya saat dia melihat Lusiana sedang berbicara bersama Gibran dengan posisi berdiri dan melipat tangannya di dada.


" Kak, ada apa Kakak kemari?" Setelah turun perlahan dan mendengarkan obrolan Lusiana dengan Gibran, Rosa memberanikan diri mendekat ke arah ruang tamu.


" Halo, Ca." sapa Gibran saat melihat kehadiran Rosa.


Rosa langsung melirik ke arah Lusiana yang menatapnya dengan sorot mata tajam.


" Maaf, Ma." Rosa langsung menunduk karena dia takut Lusiana akan marah dengan kehadiran Gibran di rumah itu.


" Oca, Mama nggak suka kalau ada sembarangan orang masuk ke rumah Mama ini!" tegas Lusiana yang memang tidak suka jika orang asing yang masuk ke rumahnya jika bukan karena kehendaknya.


" Maaf, Ma." Rosa merasa bersalah walaupun dia sebenarnya tidak bersalah.


" Maafkan saya, Tante. Rosa memang tidak tahu jika saya akan berkunjung ke sini." Melihat Lusiana yang marah terhadap Rosa, Gibran lalu menjelaskan jika Rosa memang tidak tahu soal rencananya yang datang ke rumah itu.


" Kalau begitu saya permisi, Tante. Maaf kalau saya mengganggu Tante dan Rosa. Assalamualikum ..." Gibran langsung berpamitan kepada Lusiana dan Rosa.


" Waalaikumsalam ..." Lusiana dan Rosa menjawab bersamaan. Namun Rosa langsung mengikuti langkah Gibran karena dia sendiri merasa tidak enak hati melihat Gibran seolah terusir oleh sikap Lusiana.


" Kak, saya minta maaf kalau perkataan Mama tadi membuat Kakak tersinggung," sesal Rosa sambil mengucapkan permohonan maafnya.


" Nggak apa-apa, Rosa. Saya yang salah nggak konfirmasi dulu mau datang kemari." Gibran tidak menyalahkan Rosa atas sikap tak ramah Lusiana terhadap dirinya.


" Maaf ya, Kak."


Gibran tersenyum tipis lalu masuk ke dalam mobilnya dan segera keluar dari halaman rumah Lusiana.


Setelah Gibran keluar dari pintu gerbang, Rosa kembali masuk ke dalam rumah Lusiana dan dia masih mendapati Lusiana yang berdiri di ruangan tamu dengan melipat tangan di dadanya. Wajah wanita paruh baya itu terlihat serius, membuat Rosa semakin ketakutan.


" Oca, Mama nggak mau kamu berkenalan dengan sembarang laki-laki. Apalagi laki-laki itu sudah punya istri. Mama dengar dari Kia kalau orang yang menolong kamu itu sudah berkeluarga, lalu apa maksudnya dia datang kemari dan ingin bertemu dengan kamu?" Rupanya Azkia telah memberitahu Lusiana soal pria yang menolong Rosa.


Rosa membelalakkan matanya saat mendengar Lusiana menyebut Gibran adalah pria beristri. Namun dia tidak ingin berdebat dengan Lusiana hingga dia memilih menuruti apa yang diucapkan oleh Lusiana.


***


" Apa, Ma? Pria yang tolong Oca datang ke rumah Mama untuk ketemu Oca?" Azkia langsung mendapatkan kabar dari Lusiana soal pria penolong Rosa yang berkunjung ke rumah Mama mertuanya itu.


" Iya, Kia. Untung saja Mama tahu jadi orang itu langsung pergi," sahut Lusiana dari seberang.


" Waduh, bahaya itu, Ma. Oca harus dikawal ketat, jangan sampai dia dimanfaatkan sama cowok itu, Ma." Sejak tahu dari suaminya kalau pria penolong Rosa sudah berkeluarga, Azkia tidak mengharapkan kedekatan Rosa dengan pria itu.


" Kamu tenang saja, Kia. Mama juga nggak akan membiarkan pria itu mendekati Oca. Adik ipar kamu itu masih polos, harus diawasi, jangan sampai dia salah jalan karena terpesona dengan ketampanan pria itu." tekad Lusiana.


" Memang cowok ganteng banget ya, Ma?" Azkia penasaran.


" Ganteng, sih. Terus Mama juga kayak pernah kenal wajahnya tapi lupa pernah lihat di mana ..." Lusiana tidak ingat kalau dulu dia pernah menyuruh orang untuk mencari tahu tentang kekasih Azkia saat dia ingin memisahkan Azkia dengan kekasihnya itu hanya untuk mendekatkan Azkia dengan Raffasya


" Kia juga akan suruh Papanya Naufal untuk menjaga Oca, Ma. Jangan sampai cowok itu mempunyai kesempatan mendekati Oca lagi." Sama seperti Lusiana, Azkia pun bertekad melindungi adik iparnya itu dari pria-pria berhidung belang.


" Kia. Mama tutup teleponnya dulu, ya!? Papa mertuamu telepon Mama ini." Lusiana ingin mengakhiri panggilan telepon dengan Azkia karena dia mendapat panggilan telepon lain dari Fariz.


" Cieee, dapat telepon dari calon ya, Ma?" Azkia malah meledek Mama mertuanya itu.


" Sudah, ah ... jangan meledek Mama! Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ..." sahut Azkia kemudian sambungan teleponnya langsung terputus.


" Pa, kata Mama Lusi, tadi cowok yang menolong Oca datang ke rumah Mama Lusi, lho." Azkia memberitahukan suaminya yang baru masuk ke dalam kamar.


" Datang ke rumah Mama? Mau apa dia datang ke rumah Mama?" Rahang Raffasya seketika mengeras saat mengetahui pria penolong adiknya itu datang ke rumah orang tuanya. Bukan dia tidak tahu balas budi karena pria itu sudah membantu adiknya saat berada dalam kesusahan. Namun karena status pria itu sudah beristri membuat Raffasya merasa tak nyaman pria itu mendatangi adiknya.


" Iya, Pa. Coba menurut Papa apa tujuan cowok itu datang menemui Oca di rumah Mama Lusi kalau bukan untuk mendekati Oca? Bahaya kalau hal itu sampai terjadi dan Oca sampai jatuh cinta sama cowok itu, Pa. Papa harus cepat bertindak, dong! Jangan sampai Oca yang polos terjebak rayuan pria beristri itu!" Azkia menyuruh Raffasya untuk bertindak tegas pada pria itu.


" Iya, Ma. Nanti besok Papa coba bicara masalah ini sama Oca kalau jemput Oca kuliah," jawab Raffasya kemudian.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️