
Azkia sengaja mendudukkan Naufal tepat di samping Raffasya yang masih terlelap pagi hari ini. Sepertinya suaminya itu terlalu penat, karena tidak seperti biasanya jika malam Naufal merengek, Raffasya selalu terbangun, Tapi semalam, tidur Raffasya sepertinya tidak terganggu dengan tangisan Naufal.
" Papa, bangun, Pa. Sudah Shubuh ini, Pa." ucap Azkia saat tangan mungil Naufal memukul tanpa tenaga ke wajah Papanya.
" Naufal sudah bangun ini, Pa. Papa bangun dong, Pa." lanjut Azkia seraya menciumi wajah suaminya itu.
" Halo anak Papa sudah bangun, ya?" tanya Raffasya yang akhirnya terbangun dan langsung mengangkat tubuh Naufal dan mendudukkan anaknya itu di atas tubuhnya dan menciumi wajah Naufal hingga bayi itu tertawa-tawa riang.
" Sana sholat dulu, Pa. Sudah hampir jam lima." Azkia mengambil Naufal dari tangan Raffasya dan menyuruh suaminya itu segera mengerjakan kewajiban dua rakaat terlebih dahulu.
" Naufal sama Mama dulu ya, Nak. Papa mau sholat dulu." Raffsya sempat menciumi pipi Naufal terlebih dahulu sebelum melangkah ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Setelah selesai menjalankan kewajibannya, Raffasya kembali bergabung dengan Naufal bermain di atas tempat tidur. Sementara Azkia berniat menyiapkan sarapan pagi untuk Raffasya.
" Mau ke mana, Ma?" tanya Raffasya saat melihat istrinya membuka pintu kamar.
" Mau menyiapkan sarapan, Pa." sahut Azkia membalas pertanyaan sang suami.
" Nggak udahlah, Ma. Kan sudah ada yang membantu Uni dan Bi Neng di dapur. Mama di sini saja temani Papa sama Naufal. Aku menambah ART agar kamu nggak kelelahan melakukan aktivitas mengurus pekerjaan rumah tangga, Ma." Raffasya melarang Azkia melakukan pekerjaan rumah tangga.
" Cuma menyiapkan sarapan nggak bikin repot kok, Pa." Azkia tidak merasa keberatan hanya menyiapkan sarapan.
" Ya sudah, tapi jalan lama-lama." Raffasya mengijinkan Azkia turun ke bawah tapi memberikan syarat, Azkia tidak boleh terlalu lama berada di dapur.
" Iya, Pa." Setelah mendapat ijin dari suaminya, Azkia lalu keluar dari kamar dan bergabung dengan ART nya di dapur.
" Hari ini bikin menu sarapan apa, Mbak?" tanya Azkia pada Uni yang sedang sedang memeras santan dari parutan kelapa
" Mau bikin nasi uduk, Mbak. Dapat menu dari Ratih ini, Mbak." ucap Uni menunjuk Ratih yang ada di hadapannya.
" Nggak usah buat nasi uduk, deh!" Azkia langsung menunjukkan sikap tidak sukanya saat mengetahui jika Ratih lah yang mempunyai ide membuat nasi uduk.
" Papanya Naufal minta aku buatkan nasi goreng, biar aku saja yang buatkan nasi gorengnya." Azkia sampai harus berbohong jika suaminya lah yang meminta dibuatkan nasi goreng.
" Jadi ini gimana, Mbak?" tanya Uni bingung.
" Ya sudah buat sarapan Bi Neng. Mbak Uni dan teman Mbak ini saja," sahut Azkia melirik ke arah Ratih yang langsung menundukkan pandangannya saat mendapati tatapan mata sinis Azkia.
" Mau Uni yang buatkan nasi gorengnya, Mbak?" Uni menawarkan bantuannya.
" Nggak usah, biar aku sendiri saja yang bikin." Azkia menolak, dia lalu mengambil sisa nasi semalam dari magic com dan menyiapkan bahan untuk membuat sarapan sang suami.
Sementara Ratih langsung membuang nafas karena melihat Azkia masih saja bersikap kurang bersahabat terhadapnya.
***
" Kamu betah tinggal di sini, Ni?" tanya Ratih saat membantu menjemur pakaian Naufal.
" Kalau aku nggak betah, nggak mungkin aku kerja sampai sepuluh tahun di sini, Rat. Dari aku lulus SMP aku sudah kerja di sini. Dari Mas Raffa masih remaja sampai sekarang punya anak." Uni menjelaskan.
" Rumah ini milik Pak Raffa, ya?" tanya Ratih penasaran memandang bangunan rumah bagian belakang milik Raffasya itu.
" Dulunya milik orang tua Mas Raffa, tapi sejak mereka berceri rumah ini jadi milik Mas Raffa." Uni menerangkan dengan jelas.
" Wah, enak ya yang jadi istrinya Pak Raffa, sudah ganteng, keren, kaya lagi ... beruntung sekali istrinya itu." Ratih memuji Raffasya. Dia bahkan membayangkan betapa beruntungnya jika mempunyai suami seperti Raffasya.
" Sama-sama beruntung, sih. Mbak Kia juga 'kan bukan kaleng-kaleng, Rat. Mbak Kia itu Papanya dosen, Mamanya punya butik terkenal, Om nya punya hotel bintang lima. Kalau menurutku sih, justru Mas Raffa itu yang beruntung dapat istri seperti Mbak Kia, Bahkan sejak menikah dengan Mbak Kia, Mas Raffa terlihat sangat bahagia hidupnya." Uni yang sangat mengenal sosok Raffasya muda itu seperti apa, menjelaskan secara mendetail bagaimana akhirnya Raffasya menjadi sosok pria yang baik sejak berkeluarga.
" Bu Kia itu galak ya, Mbak?" tanya Ratih, karena selama berjumpa dengan Azkia tak sekalipun Azkia bersikap lembut terhadapnya.
" Mungkin karena baru kenal jadi kamu pikir Mbak Kia itu galak, aslinya Mbak Kia itu baik, kok. Aku malah senang sejak ada Mbak Kia tinggal di sini, suasana rumah ini menjadi lebih hidup."
" Tapi Bu Kia sepertinya kurang suka sama aku lho, Ni. Aku juga nggak ngerti kenapa?" Sejak pertama bertemu Azkia, Ratih memang merasakan jika Azkia kurang humble terhadapnya berbeda dengan Raffasya.
" Itu perasaan kamu saja kali, Rat. Tapi nanti lambat laun kamu juga akan terbiasa dengan sikap Mbak Kia, karena Mbak Kia itu baik banget, kok." Uni meyakinkan Ratih jika Azkia tidak seburuk yang disangka temannya itu.
" Mereka itu sudah berapa lama menikah, Ni?"
" Mereka pengantin baru yang Alhamdulillah langsung dikarunia anak yang lucu kayak Naufal." Uni tidak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya bagaimana Raffasya bisa menikahi Azkia.
" Oh, masih baru, ya? Pantas Bu Kia kelihatannya masih muda," sahut Ratih.
" Iya, baru dua puluh tiga tahun. Sudah yuk, kita ke dalam lagi. Bersih-bersih rumah dulu baru istirahat." Selesai berjemur, Uni mengajak Ratih untuk melanjutkan pekerjaan selanjutnya sebelum mereka bisa beristirahat.
***
" Assalamualaikum ... Naufal, Sayang. Oma datang ini, Nak." Suara Lusiana langsung menggelegar di ruang tamu saat wanita paruh baya itu memasuki ruangan tamu rumah Raffasya.
" Waalaikumsalam ... Maaf, Ibu ini siapa, ya?" tanya Ratih yang keluar dari arah ruangan tengah saat mendengar suara setengah berteriak Lusiana dari ruang tamu.
Lusiana yang mendapati kehadiran Ratih langsung menyipitkan matanya, karena dia merasa asing dengan sosok Ratih, wanita muda yang mempunyai paras ayu.
" Saya siapa? Saya yang mestinya tanya sama kamu, kamu ini siapa? Dan sedang apa kamu di rumah anak saya?" Lusiana melipat tangan di dadanya.
" Saya pegawai baru di sini, Bu. Maaf ..." Saat mengetahui jika wanita paruh baya yang datang mengaku sebagai orang tua dari pemilik rumah tempat dia bekerja saat ini, Ratih langsung meminta maaf.
" Pegawai baru?" Lusiana memperhatikan Ratih dari ujung rambut sampai ujung kaki. " Siapa yang bawa kamu ke rumah ini?" tanyanya menyelidik.
" Ow, ada Bu Lusi ..." Tiba-tiba Bi Neng terlihat turun dari arah tangga.
" Bi Neng, dia itu ART baru di sini?" tanya Lusiana.
" Oh, oke. Naufal mana, Bi Neng?" tanya Lusiana seraya melangkah menaiki anak tangga.
" Naufal sedang di kamar sama Mamanya, Bu." sahut Bi Neng.
" Oh, Bi Neng tolong taruh makanan ini untuk Naufal." Lusiana menyerahkan paper bag berisi makanan-makanan ringan untuk Naufal kepada Bi Neng kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar Raffasya.
" Naufal, Sayang ... Naufal sedang apa, Nak? Ini ada Oma datang. Oma bawa mainan nih untuk Naufal." Lusiana membuka pintu kamar Raffasya dan juga Azkia.
" Eh, ada Oma ... Oma Naufal datang tuh, Nak." Azkia langsung mengangkat tubuh Naufal dan mendekati Lusiana saat dia melihat kehadiran Lusiana. Dia lalu mencium tangan Mama mertuanya itu kemudian menggerakkan tangan Naufal mengajarinya bersalaman kepada Omanya.
" Naufal cucu Opa sedang apa, Nak?" Lusiana menaruh bag berisi mainan yang dia beli di atas sofa lalu mengambil Naufal dari tangan Azkia. Dia lalu mencium gemas pipi cucunya itu.
" Sedang main sama Mama, Oma." Azkia menyahuti.
" Tambah berat kamu, Sayang. Lama-lama Oma nggak kuat deh gendong Naufal." Lusiana terkekeh lalu kembali berkata, " Berat badannya naik ini pasti."
" Iya, Oma. Naufal 'kan sekarang sudah makan jadi tambah berat badannya," jawab Azkia.
" Pantas pipinya tambah bulat." Lusiana kembali mencium pipi cucunya. " Nih, lihat Oma bawa mainan untuk Naufal." Lusiana kemudian mengambil mainan yang tadi dia belikan untuk cucunya sebelum datang ke rumah Raffasya.
" Makasih, Oma. Naufal dibelikan mainan lagi sama Oma." Azkia mewakili anaknya mengucapkan terima kasih kepada Lusiana.
" Oh ya, Kia. ART baru itu, sejak kapan dia bekerja di sini?" Tiba-tiba Lusiana menyinggung soal Ratih yang tadi dia temui saat masuk ke dalam rumah Raffasya.
" Baru beberapa hari ini, Ma." Sebenarnya Azkia agak malas membahas soal Ratih dengan Mama mertuanya itu.
" Kok bisa dia bekerja di sini? Kamu nggak masalah? Dia masih muda, wajahnya juga ... lumayanlah. Nggak takut wanita itu kegenitan goda-goda suami kamu?" Lusiana juga merasa kurang suka ada ART baru di rumah Raffasya apalagi masih muda dan berparas ayu. Diapun bisa merasakan rasa khawatir seorang istri mendapati seorang ART muda dan berparas ayu di dalam rumah.
" Mau gimana lagi, Ma? Itu sudah keputusan Papanya Naufal, karena Papanya Naufal merasa nggak tega. Masalah orang itu pernah ditabrak sama Papanya Naufal, Ma." Azkia menjelaskan kenapa Raffasya mempekerjakan Ratih kepada Lusiana.
" Ditabrak Raffa? Raffa nabrak orang? Kapan itu? di mana? Kok kalian nggak cerita-cerita?" Lusiana langsung cemas seketika.
" Hampir tiga bulan lalu, Ma. Waktu kami pulang jenguk Baby Aisha. Kami nggak cerita ke siapa-siapa karena semua masalah bisa diatasi kok, Ma. Kami uga nggak ingin membuat Mama khawatir saat tahu masalah itu." Azkia menerangkan kenapa mereka menyembunyikan masalah ini.
" Apa luka yang dia derita parah sampai Raffasya merasa tidak enak lalu mempekerjakan dia di sini? Mama lihat kondisi dia baik-baik saja, kok."
" Karena dia teman Uni juga, Ma. Makanya Papanya Naufal kasih ijin dia kerja di sini."
" Kamu harus selalu waspada lho, May. Jangan sampai wanita itu berani bertingkah. Kamu harus musnahkan segala kemungkinan tumbuhnya bibit pelakor dalam rumah ini. Bukan Mama merendahkan, banyak juga ART yang baik dan loyal terhadap majikannya, kayak Bi Neng sama Uni. Bi Neng apalagi, dia sudah mengabdi puluhan tahun di sini, Bi Neng sama Uni kerja di sini awalnya juga dari usia muda, tapi mereka semua baik dan nggak punya niat jahat dengan keluarga ini. Kalau kamu butuh ART cari yang lain saja, deh! Apa mau Mama carikan saja untuk kalian?" Lusiana bahkan menawarkan bantuannya untuk mencarikan ART yang cocok bekerja di rumah anaknya itu. Karena dia sendiri merasa tidak nyaman dengan keberadaan Ratih di sana.
" Nanti Kia bicarakan dulu dengan Papanya Naufal ya, Ma!?" Azkia tetap harus meminta persetujuan suaminya itu.
" Kalau bilang sama Raffa percuma, Kia. Dia pasti nggak akan setuju dengan usul Mama." Lusiana pesimis jika sarannya itu akan diterima oleh putranya. " Gini saja, deh! Kamu harus selalu siaga sama gelagat mencurigakan dari wanita itu. Kamu minta Bi Neng juga untuk mengawasi dia, biar cepat ketahuan jika dia punya niat nggak baik dengan keluarga kamu ini." Lusiana menasehati Azkia agar waspada supaya rumah tangga anak dan menantunya itu aman-aman saja.
" Iya, Ma. Kalau dia berani macam-macam, Kia tonjok saja mukanya itu." Azkia juga tentunya tidak akan tinggal diam jika ada orang-orang yang akan mengusik rumah tangganya.
***
Ratih yang berniat mengganti bunga dari vas bunga mendadak menghentikan langkahnya saat dia mendapati Raffasya yang sedang berlari di atas treadmill di ruang gym yang terletak di dekat taman samping rumah Raffasya. Pria bertubuh maskulin itu menggenakan kaos tanpa lengan, celana pendek setengah paha dan sneakers, membuat otot-otot pria tampan itu terlihat jelas ditambah dengan keringat yang membasahi kulit Raffasya membuat pria itu terlihat lebih sek si.
Ratih tersenyum melihat Raffasya yang asyik berlari di atas treadmill tanpa menyadari keberadaannya.
" Ya ampun, benar-benar sempurna sekali dia ini," gumam Ratih seakan terpesona. " Coba aku bisa dapat suami seperti ini, bahagia banget rasanya." Rasa kagum Ratih terhadap Raffasya tidak bisa dia tutupi. Karena selain berwajah tampan, menurutnya Raffasya adalah tipe pria sejati, karena terlihat saat sayang terhadap keluarga.
" Kamu sedang apa, Rat?"
Sebuah tepukan mendarat di pundak Ratih, dan suara Uni yang mengagetkannya membuat Ratih terperanjat hingga dia menjatuhkan vas bunga dari tangannya.
Prraaannngg
" Astaga!" Ratih yang gugup karena ketahuan sedang mengintip Raffasya langsung memegangi dadanya.
" Kamu kenapa sih, Rat? Kok kelihatan kaget gitu?" tanya Umi heran.
Sementara Raffasya yang sedang asyik nge-gym langsung menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara benda pecah karena terjatuh.
" Ada apa ini?" Raffasya melihat pecahan vas berserakan di lantai.
" Hmmm, m-maaf, Pak. Tadi saya teledor sampai menjatuhkan vas bunganya." Ratih merasa takut ketahuan Raffasya jika dia sedang mengintip pria itu berolah raga.
" Ya sudah, tolong dibersihkan pecahan vas nya, jangan ada yang tertinggal." Raffasya menyampirkan handuk kecil di lehernya lalu berjalan ke arah anak tangga ke arah kamarnya.
" Kamu tadi sedang apa melamun di sini, Rat?" selidik Uni, dia lalu menoleh ke arah ruang gym yang biasa dipakai Raffasya berolah raga.
" Kamu tadi mengintip Mas Raffa, ya?" tanya Uni tiba-tiba.
" Ng-nggak kok, Ni. Aku nggak mengintip Pak Raffa." Ratih mengelak. Dia lalu berjalan ke arah dapur untuk mengambil sapu dan juga serok.
" Awas lho, Rat. Kamu jangan macam-macam di sini! Jangan buat nama aku jelek karena kamu punya niat nggak baik sama keluarganya Mas Raffa dan Mbak Kia!" Uni yang berjalan mengekori Ratih langsung menebar ancaman kepada temannya itu. Tentu dia tidak ingin kehadiran Ratih akan menjadi masalah dalam rumah tangga majikannya, jika itu sampai terjadi, sudah pasti dia akan merasa paling bersalah karena sudah membawa Ratih masuk ke rumah Raffasya dan Azkia.
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️