
Azkia mengerjapkan matanya saat merasakan aroma yang sudah sangat familiar di indra penciumannya. Dan saat pandangannya sudah nampak jelas, dia langsung terbelalak karena saat ini dia sedang tertidur di samping Raffasya dengan kepala berbantalkan lengan Raffasya dan tangan memeluk tubuh suaminya itu.
" Aaakkhh ..." Azkia langsung berteriak dan menjauhkan tubuhnya dari suaminya. " Aakkhh ...."
" May, awas jatuh!" Raffasya yang mendengar teriakan Azkia langsung terjaga apalagi saat dia melihat Azkia hampir terjungkal ke bawah tempat tidur. Sehingga dengan cepat Raffasya menarik tubuh Azkia agar tubuh istrinya tidak terjatuh ke bawah spring bed miliknya.
" Kamu hati-hati dong, May! Kalau kamu terjatuh ke bawah itu sangat berbahaya untuk janin di perut kamu." Raffasya langsung menegur Azkia dengan nada menyentak dan wajah serius.
" Coba kalau aku nggak cepat-cepat menghadang kamu, kamu pasti terjatuh tadi! Dan itu bisa berakibat fatal untuk anakku ini!" Raffasya yang sangat khawatir akan keselamatan janin di perut Azkia kembali memarahi Azkia.
Azkia yang syok karena hampir saja terjatuh semakin kaget karena mendengar Raffasya yang berkata dengan nada menyentak terhadapnya. Sebenarnya ini bukan kali pertama dia mendengar kalimat bernada kasar dari Raffasya. Namun kali ini rasanya aneh jika Raffasya berkata kasar, karena belakangan ini Raffasya selalu bersikap manis kepadanya.
" Sorry, May. Aku hanya takut terjadi sesuatu dengan calon bayi kita." Raffasya yang menyadari Azkia terlihat syok karena dia tadi berbicara dengan nada tinggi langsung meminta maaf kepada Azkia.
Azkia menelan saliva seraya memejamkan matanya mendengar permintaan maaf dari suaminya. Namun tak lama dia kembali membuka matanya saat suaminya itu tiba-tiba menciumi wajahnya.
" Aku minta maaf, May. Aku nggak bermaksud menyalahkan kamu." Raffasya sepertinya merasa menyesal karena tadi seolah menyalahkan Azkia saat Azkia hampir terjatuh. Dia menyadari, tidak seharusnya dia menyalahkan istrinya.
" Kak, lepaskan ..." Azkia yang merasa tidak nyaman dengan sikap Raffasya meminta suaminya itu berhenti menciumnya dan menjauh dari tubuhnya.
Setelah Raffasya melepaskannya, Azkia langsung turun dari tempat tidur berniat ke kamar mandi.
" Kamu mau ke mana, May?" Raffasya ikut bangkit mengikuti Azkia.
" Kamar mandi," sahut Azkia berjalan ke arah kamar mandi tanpa menoleh dan menghentikan langkahnya.
Setelah sampai di kamar mandi, Azkia langsung mengunci pintu kamar mandi.
" Dasar aneh, tadi marah-marah, terus cium-cium! Dasar labil!" Azkia bersungut-sungut seraya mengelap wajahnya yang tadi dicium Raffasya dengan tangannya.
" Dugaanku benar, ternyata dia hanya perduli sama bayi ini." Azkia menyentuh perutnya. " Aku nggak boleh terpengaruh sama sikap manis dia." Azkia menyadarkan tubuhnya ke dinding seraya menarik nafas yang terasa berat. Dia sadar jika hubungan dia dan Raffasya selama ini tidaklah berjalan baik, mana mungkin tiba-tiba pria itu berubah baik jika tidak ada alasannya. Dan janin yang dikandungnya lah penyebabnya. Jika saja dia tidak sedang mengandung anak dari Raffasya, mungkin sikap pria itu masih akan sama terhadapnya.
***
Sejak keluar dari kamar mandi, Azkia lebih banyak diam, termasuk ketika menyantap sarapan pagi bersama. Azkia hanya bicara jika Nenek Mutia bertanya kepadanya. Selebihnya dia hanya memilih diam.
" Nanti malam kamu ikut ke cafe, May. Ada yang pakai La Grande buat engagement party. Aku akan pantau acara di sana," ujar Raffasya saat hendak pergi ke Raff Caffee kepada Azkia yang memilih duduk bersantai di ayunan di teras balkon dengan handsfree terpasang di telinganya dan buku di tangannya. Sudah pasti apa yang diucapkan oleh suaminya itu tak terdengar di telinga Azkia
" Aku berangkat dulu, nanti aku jemput kalau mau ke La Grande." Raffasya yang melihat istrinya mengenakan handsfree langsung berdiri di depan Azkia dan melepas alat yang menempel di telinga istrinya.
" Ck, apaan sih, Kak?? Ganggu saja kesenangan orang!" Azkia yang merasa terusik dengan sikap Raffasya langsung menyentak suaminya itu.
" Aku ini mau berangkat kerja, harusnya kamu itu melayani aku. Menyiapkan pakaian dan lain-lainnya," ujar Raffasya saat mendengar nada tinggi dari kalimat yang diucapkan oleh Azkia
" Kak Raffa punya tangan sendiri, kan? Buat apa aku siapkan?" Azkia kemudian bangkit dari kursi ayunan dan berkacak pinggang. " Dan Kak Raffa harus ingat perjanjian kita. Kita akan berpisah setelah anak ini lahir! Jadi jangan berharap aku akan melakukan tugas seorang istri untuk Kak Raffa!" geram Azkia mendorong tubuh Raffasya agar tidak menghalangi langkahnya lalu masuk ke dalam kamar.
Azkia memilih naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut hingga kepalanya. Rasa kesal di hatinya membuat dia terisak. Karena dia merasa sikap manis Raffasya hanya untuk memanfaatkan dirinya saja.
Saat Azkia masuk ke dalam kamar, Raffasya pun mengikuti arah langkah Azkia, hingga kini dia bisa melihat istrinya itu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Da bisa melihat bahu Azkia yang berguncang menandakan jika istrinya itu sedang menangis walaupun tak terdengar suara tangisannya.
Raffasya menghela nafas panjang, dia menduga jika ucapannya tadi pagi yang mempengaruhi sikap Azkia saat ini.
" May, soal ucapan aku tadi pagi, aku minta maaf." Raffasya mendekati dan memeluk tubuh Azkia dari belakang.
" Aku benar-benar nggak bermaksud menyalahkan kamu, May. Kamu jangan merajuk seperti ini." Raffasya menarik selimut yang menutupi wajah istrinya hingga terlihat wajah Azkia yang memerah dan lembab karena cairan bening yang menetes dari matanya.
Azkia langsung menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya karena suaminya berhasil menyingkirkan selimut yang menyembunyikannya dari tangisan.
" Hei, jangan menangis." Raffasya menjauhkan tangan Azkia yang menutupi wajah istrinya itu. " Aku minta maaf, oke?!"
" Apaan, sih?? Marah-marah, minta maaf, cium-cium! Nggak jelas banget!" Azkia mencebikkan bibirnya seraya bangkit dan duduk di tepi tempat tidur.
Raffasya tersenyum melihat istrinya yang memberengut dengan bibir mengerucut setelah menggerutu.
" Aku minta maaf kalau perkataanku menyinggung kamu. Aku nggak bermaksud menyalahkan kamu, aku hanya takut tadi kamu terjatuh dan akan mencelakai janin di perut kamu. Pasti nanti orang tua kamu menganggap aku nggak becus menjaga kamu. Aku juga nggak ingin kamu kenapa-kenapa." Raffasya menangkup wajah istrinya dan menyeka air mata Azkia.
" Jangan nangis lagi, ya!" Raffasya membenamkan kecupan di bibir manis istrinya.
" Aku berangkat dulu." Raffasya kemudian bangkit dan mengacak rambut Azkia membuat Azkia semakin memberengut.
" Jangan cemberut saja, kelihatan semakin jelek wajahnya." Raffasya terkekeh seraya melangkah meninggalkan kamarnya membuat Azkia membelalakkan matanya. Seumur hidupnya, baru Raffasya seorang laki-laki yang berani menghinanya dengan mengatakan wajahnya jelek. Sudah pasti Azkia terus menggerutu karena cibiran suaminya tadi
***
Azkia mencari kontak nama Atika di ponselnya, dia tiba-tiba saja kangen dengan sahabatnya itu. Dan saat dia menemukan kontak Atika, dia pun langsung menghubungi nomer telepon Atika.
" Halo, Assalamualaikum, Az ... Duh, pengantin baru apa kabar, nih?" sapa Atika setelah sambungan telepon Azkia tersambung.
" Waalaikumsalam, Alhamdulillah gue baik, Tik." sahut Azkia. " Lu sedang di mana? Di kampus?"
" Iya masih di kampus. Lu sendiri tinggal di mana sekarang?" tanya Atika.
" Gue di rumah Kak Raffa sekarang. Lu main ke sini dong, Tik." Azkia meminta Atika untuk berkunjung ke rumah Raffasya di mana dia sekarang tinggal.
" Nanti gue ganggu pengantin baru, dong." Atika menyindir.
" Kak Raffa nggak ada di sini sekarang. Dia pulang dari cafe sore. Makanya lu main di sini, deh. Gue bete sumpah di rumah saja," keluh Azkia.
" Kita hangout saja ketemu di luar, Az."
" Gue ke butik saja nggak dikasih ijin apalagi niat keluyuran, Tik."
" Waduh, lu berasa burung dalam sangkar dong, Az." Terdengar kekehan suara Atika meledek.
" Ya gitulah kira-kira."
" Iiisshh, kejam dong suami lu itu?"
" Ya gitulah ... makanya lu main ke sini, deh. Gue serius kangen ngobrol sama lu, Tik."
" Oke, deh. Lu serlok saja tempatnya nanti pulang kuliah gue mampir di sana."
" Oke gue serlok sekarang. Gue tunggu lho, Tik. Gue tutup teleponnya sekarang, ya. Assalamualaikum ..." Azkia berpamitan ingin menyudahi perbincangan via teleponnya.
" Waalaikumsalam ..."
" Di sini, sebelah sini, Mas."
Azkia menoleh ke arah pintu kamar saat mendengar suara Bi Neng berbicara, entah dengan siapa dia sendiri tidak tahu. Dia pun langsung bangkit dan berjalan untuk mengetahui apa yang terjadi di luar kamar Raffasya.
" Ada apa, Bi Neng?" tanya Azkia saat melihat Bi Neng dan seorang pria yang sedang membawa barang yang Azkia perkirakan adalah bingkai foto.
" Oh, silahkan ..." Azkia membuka daun pintu kamar lebar-lebar.
" Permisi, Mbak." Orang suruhan Raffasya itu kemudian masuk ke dalam kamar Raffasya setelah mendapat ijin dari Azkia.
" Mau ditaruh di mana figuranya, Mas?" tanya Azkia kepada orang itu.
" Mas Raffa bilang dipasang di dinding di atas sofa, Mbak." Orang suruhan Raffasya menjelaskan perintah yang diberikan oleh Raffasya kepadanya.
" Oh, di sana." Azkia kemudian menunjuk arah yang dimaksud Raffasya.
" Bu, ada tangga atau bangku plastik yang bisa dipakai untuk naik?" Orang suruhan Raffasya bertanya kepada Bi Neng.
" Oh, sebentar, Mas." Bi Neng kemudian keluar dari kamar Raffasya untuk mengambil barang yang diminta oleh orang tadi.
" Figura foto apa sih, Mas?" tanya Azkia penasaran dengan foto yang akan dipasang. Karena bingkai itu masih tertutup kertas pembungkus.
" Saya sendiri nggak tahu, Mbak. Saya cuma disuruh untuk memasang di kamar," sahut orang itu.
" Ini kursinya, Mas." Bi Neng tak lama kembali ke kamar Raffasya dengan membawa kursi plastik.
" Makasih, Bu." Orang suruhan Raffasya lalu mengeluarkan peralatan yang akan dipakai untuk memasang figura tersebut. Sementara Azkia sendiri langsung melangkah ke arah balkon.
Beberapa saat kemudian setelah figura selesai dipasang Bi Neng berpamitan kepada Azkia yang masih duduk bersantai di kursi ayunan.
" Mbak, figuranya sudah dipasang. Bi Neng keluar dulu antar Mas nya tadi."
" Iya, Bi Neng." sahut Azkia menoleh ke arah Bi Neng.
Azkia kemudian masuk kembali ke dalam kamar karena dia merasa penasaran dengan foto yang dipajang oleh orang suruhan Raffasya. Dan Azkia langsung tercengang melihat figura berukuran 24R di atas sofa kamar Raffasya. Foto yang memperlihatkan Raffasya saat menjabat tangan Yoga dan menatap ke arah Yoga saat mengucapkan kalimat ijab qobul, sementara dirinya terlihat duduk di sebelah Raffasya dengan tertunduk dan tidak memperlihatkan wajah bahagia.
Azkia mendekati foto itu. Hingga dia bisa dengan jelas melihat wajah tampan Raffasya mengenakan pakaian akad nikad.
" Ganteng sih, tapi nyebelin!" Tangan Azkia tanpa sadar mengusap foto wajah Raffasya dan kini berhenti di bibir Raffasya. " Apalagi mulutnya ini, kalau ngomong kayak rawit se tan pedasnya," mulut Azkia mencela suaminya sendiri.
***
Azkia sengaja menunggu kedatangan Atika di teras rumah Raffasya agar Atika lebih mudah menemukannya.
" Kia kok di luar? Sedang menunggu siapa?" tanya Nenek Mutia yang melihat Azkia sedari tadi duduk di kursi teras rumah suaminya.
" Kia sedang menunggu teman kuliah Kia, Nek. Dia mau main ke sini. Nggak apa-apa 'kan, Nek?" Azkia memang belum sempat ijin terlebih dahulu kepada Nenek Mutia jika dia mengundang temannya untuk datang ke rumah Raffasya.
" Tentu saja boleh. Kamu pasti jenuh, butuh teman mengobrol selain Nenek. Apalagi selama ini kamu kuliah, pasti kangen sama teman dan kampus kamu, kan?" Nenek Mutia bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Azkia.
" Iya, Nek."
" Berapa orang yang akan datang kemari? Nenek mau suruh Bi Neng buatkan makanan untuk teman kamu nanti."
" Nggak usah, Nek. Hanya satu orang kok yang datang. Dia sahabat baik Kia, Nek." Azkia menjelaskan.
Tin tin
Terdengar suara klakson mobil dari luar pagar rumah Raffasya.
" Nah, itu teman Kia, Nek. Kia bukakan pintu dulu ya, Nek." Azkia bergegas membukakan pintu gerbang untuk Atika.
" Nggak nyasar 'kan, Tik?" tanya Azkia sambil membuka pintu gerbang rumah Raffasya dan mempersilahkan mobil Atika masuk.
" Nggak, Az. Alamatnya mudah dijangkau ..." sahut Atika mengendarai mobilnya ke dalam halaman rumah Raffasya.
" Assalamualaikum ..." Atika mengucapkan salam saat melihat Nenek Mutia di teras kemudian menyalami Nenek Mutia.
" Waalaikumsalam ..." Nenek Mutia membalas ucapan salam Atika.
" Nek, kenalkan ini Atika, dia sahabat dekat Kia." Azkia memperkenalkan Atika kepada Nenek Mutia. " Tik, Ini Nenek Mutia, Neneknya Kak Raffa ...."
" Saya Atika, Nek."
" Ya sudah, kalian silahkan mengobrol. Nenek masuk dulu, ya." Nenek Mutia berpamitan ingin meninggalkan mereka berdua.
" Iya, Nek."
" Silahkan, Nek."
Azkia dan Atika menyahuti Nenek Mutia bersamaan.
" Nenek mertua lu itu kelihatannya baik, Az." Atika langsung mengomentari soal Nenek Mutia.
" Iya, Nenek Mutia memang baik, kok. Kadang Nenek Mutia juga belain aku kalau aku berdebat dengan Kak Raffa."
" Wah, enak tuh kalau keluarga suami lu itu lebih pro ke lu, Az. Lu nggak menderita-menderita banget, dong! Nggak sampai disiksa-siksa gitu 'kan sama laki lu?"
" Disiksa sih nggak, tapi kalau dipaksa sih iya ..." sahut Azkia.
" Dipaksa apa? Dipaksa mengerjakan perkerjaan rumah maksudnya?"
" Bukan, bukan itu ..." tepis Azkia.
" Lalu dipaksa apa?"
" Dipaksa buat berhubungan badan."
" Hahh??" Atika terbelalak mendengar kepolosan Azkia yang mengatakan tentang paksaan yang dilakukan oleh Raffasya.
" Sebentar-sebentar, jadi lu sama suami lu itu sudah pernah hubungan suami istri lagi?" Atika menyeringai. " Wah ... seru nih, nggak cinta tapi uhuuk uhuuk juga ..." Atika terkekeh mendengarkan cerita dari Azkia.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
,