MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Dua Garis Merah



Natasha baru saja akan menutup pintu rumahnya karena dia, suami dan kedua putrinya baru selesai berbincang di teras rumah saat mobil milik Gibran berhenti di depan rumahnya. Natasha menoleh ke arah jam di dinding, saat ini jam belum menunjukkan pukul sembilan malam, membuatnya terheran karena Gibran dan Azkia sudah kembali sampai di rumahnya.


" Assalamualaikum, Ma." sapa Azkia yang turun lebih dahulu dari mobil Gibran.


" Waalaikumsalam, kok tumben cepat sekali pulangnya?" tanya Natasha karena waktu yang dilewatkan Azkia dan Gibran untuk bermalam mingguan tidak lebih dari dua jam.


" Kia sakit, Tante. Tadi dia mual-mual." Gibran yang berjalan di belakangnya memberitahukan.


" Mual-mual lagi?" Kening Natasha berkerut seraya menatap lekat wajah Azkia yang terlihat sedikit pucat. " Kamu mesti periksa ke dokter, Kia. Mama takut ada masalah dengan lambung kamu itu. Besok Mama telepon dokter Eka supaya datang ke rumah."


" Kia ke kamar dulu, Ma." Tanpa mengiyakan atau menolak ucapan Natasha, Azkia langsung melangkah meninggalkan Mamanya dan juga Gibran.


" Hmmm, Kamu duduk dulu, Gibran. Tante panggilkan Papanya Kia sebentar, ya!" Natasha langsung beranjak menuju kamarnya setelah menyuruh Gibran duduk.


" Mas, coba tanya ke Gibran, sejauh apa hubungan mereka? Aku kok benar-benar khawatir sama Kia, Mas." Natasha meminta suaminya untuk menyelidiki hubungan putrinya dan kekasihnya itu.


" Memang kenapa, Yank?" tanya Yoga yang baru saja hendak merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


" Kia mual-mual lagi lho, Mas. Aku khawatir banget terjadi sesuatu dengan Kia. Makanya Mas coba tanya sama Gibran, kita nggak ingin mereka melangkah terlalu jauh dan melanggar aturan yang sudah kita buat." Natasha benar-benar merasakan kekhawatiran yang semakin hari semakin menguat.


" Ya sudah, Gibran nya ada di mana?" Yoga kemudian mendekati Natasha.


" Ada di ruang tamu."


Yoga lalu menepuk kedua pundak Natasha. " Kita harus percaya jika anak-anak pasti bisa memegang teguh kepercayaan yang sudah kita berikan kepada mereka." Yoga berusaha menenangkan istrinya itu kemudian berjalan meninggalkan kamar untuk menemui Gibran. Sementara Natasha sendiri segera beranjak ke kamar Azkia di lantai atas.


" Sudah menikmati malam minggunya, Gibran?" tanya Yoga setelah sampai di ruang tamu dan melihat Gibran sedang duduk dengan ponsel di tangannya.


" Iya, Om. Kia sepertinya kurang sehat." Gibran menjawab pertanyaan Yoga.


" Belakangan ini Kia memang sering mengalami keluhan dengan kesehatannya." Yoga menjelaskan.


" Apa Kia kelelahan karena harus bekerja juga, Om?" tanya Gibran.


" Iya mungkin salah satunya juga itu," sahut Yoga.


" Kia sebentar lagi akan menyiapkan skripsi 'kan, Om? Apa sebaiknya Kia fokus menyelesaikan kuliah dulu, Om?" Gibran menyampaikan pendapatannya karena dia mengkhawatirkan kesehatan Azkia.


" Kamu khawatir sekali dengan Kia ya, Gibran?" Yoga sengaja memancing pertanyaan yang akan mengarahkan dia kepada tujuannya mendapatkan informasi. Yoga tentu tidak ingin secara frontal menanyakan apa yang sudah dilakukan oleh Azkia dan Gibran sejauh ini. Karena dia tetap percaya jika anak muda di hadapannya saat ini dapat memegang janjinya untuk menjaga Azkia sampai menuju pelaminan.


" Tentu saja, Om. Gibran sangat khawatir dengan Kia. Hmmm, Kia kenapa ya, Om? Gibran merasa belakangan ini sikap Kia agak berubah sama Gibran, Om."


Yoga mengeryitkan keningnya hingga kedua alisnya hampir bersentuhan mendengar perkataan Gibran tentang Azkia.


" Berubah bagaimana maksud kamu, Gibran?"


" Aku merasa Kia seperti menjaga jarak sama Gibran, Om. Nggak seperti dulu. Seingat aku sih Kia jadi berubah sejak Gibran pulang ke Jambi, waktu ada saudara yang meninggal dan batal antar Kia ke Bandung. Kia seperti menyembunyikan sesuatu terhadap Gibran, Om. Gibran sempat tanya kenapa Kia seperti berbeda sikapnya ke Gibran? Kia bilang dia sedang merenungkan hubungan kami. Padahal apa yang harus direnungkan lagi? Kapanpun Kia siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, Gibran akan siap melamar Kia, Om." Gibran menjelaskan apa yang dia rasakan dengan sikap Azkia yang berubah kepadanya.


Yoga mengusap rahangnya seraya menganggukkan kepalanya. Dari cerita Gibran yang dia tangkap, dia bisa menarik kesimpulan jika hubungan putrinya dengan pria di hadapannya itu sejauh ini masih berada di dalam track nya. Dan Yoga juga sangat percaya kepada mereka bisa menjaga kepercayaan yang dirinya berikan setelah menyetujui mereka berpacaran.


Sementara Natasha di kamar Azkia, dia mendapati putrinya itu langsung merebahkan tubuhnya dan bergelung selimut.


" Kia, kalau tidur cuci muka dulu, dihapus make up nya." ujar Natasha karena melihat Azkia belum menghapus make up dan berganti pakaian.


" Ayo cepat cuci muka dulu terus ganti pakaian!" Natasha kemudian mengambilkan baju tidur untuk Azkia dari dalam lemari pakaian, membuat Azkia pun menuruti permintaannya.


" Ma ...!" teriak Azkia dari dalam kamar mandi.


Natasha segera menghampiri putrinya saat Azkia berteriak memanggilnya.


" Kenapa, Kia?"


" Ma, facial foam nya ganti saja! Baunya nggak enak banget, deh!" keluh Azkia seraya menutup hidungnya. " Hoek ..." Bahkan kini Azkia merasakan mual.


" Baunya nggak enak?" Natasha mendekatkan facial foam milik putrinya ke dekat lubang hidungnya. Dia merasakan tidak ada yang aneh dengan bau sabun untuk membasuh wajah itu. " Biasanya juga baunya begini lho, Kia." lanjut Natasha.


" Hoek ... beda, Ma. Tuh, kan ... bikin Kia mau muntah cium baunya!" keluh Azkia kembali kerena dia merasakan mual-mual.


Natasha lalu mengambilkan essential oil untuk mengatasi mual yang dialami Azkia lalu mengambilkan air hangat setelag


" Kia, Mama mau tanya sama kamu. Apa kamu dan Gibran sudah melakukan hal-hal yang belum sepantasnya kalian lakukan?" Natasha akhirnya menanyakan hal itu kepada Azkia, namun sungguh dia berharap jawaban yang diberikan oleh Azkia adalah bantahan dari dugaannya itu.


" Maksud Mama?"


" Kia, melihat yang kamu alami belakangan ini, Mama khawatir kamu mengalami sesuatu. Maaf kalau Mama menduga ini, Mama sudah berkali-kali mengalami kehamilan dan gejala yang kamu rasakan belakangan ini sama seperti gejala yang dialami wanita yang sedang mengalami hamil muda, Nak." Dengan nada bergetar Natasha mengucapkan kalimat itu. Karena dia benar-benar tidak sanggup jika hal itu kini terjadi pada Azkia, saat Azkia masih berstatus single dan belum resmi dalam suatu ikatan pernikahan.


Azkia menelan salivanya mendengar pernyataan yang diucapkan Mamanya. Dia pun merasakan nafasnya terasa sesak melihat Mamanya yang sangat mengkhawatirkan dirinya seperti itu. Namun saat dia kembali teringat jika hasil test urine yang dia lakukan beberapa hari lalu hasilnya negatif, dia kembali merasa tenang.


" Ma, aku dan Kak Gibran tidak pernah melanggar sesuatu yang dilarang, kok! Kak Gibran itu pria yang baik, dia tidak mungkin melanggar apa yang diminta Papa dan juga Mama." Azkia menyangkal dugaan Natasha atas dirinya dan juga Gibran, karena selama ini dia dan juga Gibran tidak pernah melakukan hal yang terlalu jauh selama berpacaran. Paling jauh yang mereka lakukan adalah berciuman saja, tidak lebih.


" Syukurlah kalau begitu. Mama sangat khawatir, Kia. Kamu anak perempuan, harus pintar jaga diri. Jangan menyerahkan begitu saja kehormatanmu kepada lelaki lain selain suami kamu, meskipun pria itu adalah kekasih kamu dan kamu begitu mencintainya. Kesucian seorang wanita hanya diberikan kepada suami kamu kelak." Natasha mengusap wajah putrinya yang tiba-tiba menegang mendengar ucapannya.


" Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Besok Mama akan panggil dokter Eka kemari untuk periksa kamu." Natasha lalu menyuruh Azkia beristirahat kemudian menyelimuti tubuh anaknya itu.


Setelah Natasha keluar dari kamarnya, Azkia lalu mengambil ponsel. Dia langsung mencari informasi soal kehamilan. Dia memang mengalami ciri-ciri seperti apa yang dialami. wanita yang hamil muda. Dia juga mencari info tentang keakuratan alat test kehamilan, membuat dirinya penasaran untuk melakukan test kehamilan kembali. Karena informasi yang dia dapatkan memungkinkan jika saat dia mengecek menggunakan test pack pertama kali, kehamilannya masih belum terdeteksi.


Azkia mengusap wajahnya. Rasa takut kembali menyeruak di hati jika mendapati kenyataan dirinya ternyata benar hamil. Azkia lalu menyibak selimutnya, dia ingin membeli alat itu ke apotik namun dia melihat Gibran dan Papanya masih berbincang di ruang tamu.


Setelah menunggu selama setengah jam dengan penuh kegelisahan, Gibran akhirnya berpamitan pulang, sedangkan Yoga kembali ke kamarnya. Lampu ruang tamu juga sudah mulai dipadamkan.


Azkia lalu memesan alat test kehamilan itu melalui apotik via online dan menggunakan jasa ojek online untuk mengantarkan pesanannya malam itu juga, agar besok pagi alat itu bisa digunakan.


Sementara di kamarnya Yoga dan Natasha masih membahas tentang apa yang terjadi dengan Azkia.


" Bagaimana, Mas? Gibran bilang apa?" tanya Natasha panasaran walaupun dia sudah mendapatkan kepastian dari jawaban Azkia tadi.


" Mereka masih di jalur aman, Yank." Yoga menyahuti pertanyaan istrinya.


" Syukurlah kalau mereka masih bisa menjaga diri mereka." Natasha bernafas lega.


" Aku 'kan sudah bilang sama kamu, Yank. Anak kita itu tidak akan melakukan hal bodoh yang bisa merugikan dirinya sendiri. Kita mendidik dia dengan baik selama ini. Kita selalu mengajarkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan olehnya. Jadi ketakutan kamu terhadap Kia itu sama sekali tidak beralasan." Yoga kembali memberi pernyataan yang bisa menenangkan hati Natasha.


" Iya, Mas. Tapi aku masih khawatir dengan penyakit Kia. Besok aku coba hubungan dokter Eka, semoga dia besok bisa kemari."


" Besok hari Minggu, apa nggak mengganggu, Yank?"


" Oh iya, ya ..." Natasha mengigit kuku ibu jarinya. " Coba aku minta tolong dokter keluarga Kak Gavin." Natasha langsung mengambil ponselnya dan segera menghubungi kakak sepupunya itu.


" Assalamualaikum, Kak. Kak aku minta tolong, besok bisa hubungi dokter keluarga Kakak?" tanya Natasha saat panggilan teleponnya sudah tersambung.


" Waalaikumsalam, siapa yang sakit, Alexa?" Suara Gavin terdengar sangat khawatir.


" Kia, Kak. Sepertinya lambungnya bermasalah."


" Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?"


" Sekarang ini sedang membaik, Kak. Tapi kadang suka kambuh mual-mualnya."


" Baiklah aku akan suruh dokter Aliyah ke sini sekarang."


" Nggak usah malam ini, Kak. Nggak enak sudah malam. Besok siangan saja ke sininya.


" Ya sudah, nanti Kakak hubungi dokter Aliyah."


" Terima kasih, Kak. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ...."


" Nanti Kak Gavin akan telepon dokter Aliyah supaya besok bisa memeriksa Kia, Mas." ucap Natasha setelah dia mengakhiri panggilan teleponnya dengan Gavin.


" Ya sudah, sekarang kita istirhat saja. Kamu jangan stress mikiran masalah Kia." Yoga meminta istrinya untuk lebih tenang, dan Natasha pun mengikuti saran suaminya untuk beristirahat karena belakangan ini dia memang kepikiran soal kondisi kesehatan Azkia.


***


" Bi, Nenek sudah tidur?" tanya Raffasya saat dia tiba ke rumahnya malam ini kepada Bi Neng.


" Sepertinya sudah, Mas." sahut Bi Neng.


" Oh ya sudah." Raffasya lalu melangkah ke arah kamar Nenek Mutia dan membuka pintu kamar Neneknya itu. Raffasya melihat neneknya itu sedang tertidur pulas dengan tangan masih menggenggam tasbih.


Tindakan Raffasya membuat Neneknya terbangun. " Raffa?"


" Nenek terbangun, ya?" Raffasya terkekeh, dia memang senang melakukan hal itu yang selalu membuat neneknya terbangun dari tidurnya


" Kamu baru pulang?" tanya Nenek Mutia saat melihat jaket kulit masih menempel di tubuh Raffasya.


" Iya, Nek. Nenek tidur lagi saja." Raffasya menahan Neneknya yang ingin bangkit dan terduduk.


" Kamu ini kapan akan berubahnya, Raffa?" Nenek Mutia tetap terbangun dan kini duduk di atas tempat tidurnya.


" Berubah bagaimana, Nek?" tanya Raffasya kali ini tertawa kecil.


" Kamu itu sudah dewasa, cepatlah menikah, agar ada yang mengurus kamu. Jadi kamu nggak pulang malam-malam terus seperti ini, Nak."


" Kalau menikah bikin Raffa nggak boleh pulang malam, mending Raffa nggak usah nikah deh, Nek!" Raffasya berkelakar.


" Astaghfirullahal adzim, Raffa! Jangan bicara sembarangan! Ucapan itu adalah doa, jadi berucaplah yang baik-baik, jangan berkata tentang hal yang buruk!" Nenek Mutia kembali memperingatkan cucunya itu.


" Iya, Nek. Maaf ..." Raffasya terkekeh menganggap apa yang dikatakan tadi hanyalah candaan semata.


" Apa kamu sudah punya wanita yang ingin kamu jadikan istri, Raffa? Setelah teman kamu dulu yang memakai hijab itu, kamu nggak pernah membawa teman wanita ke sini dan mengenalkan pada Nenek."


Raffasya tiba-tiba teringat akan Rayya, setahun lalu dia sempat bertemu secara tak terduga dengan wanita berhijab itu, namun saat itu Rayya sedang bersama calon tunangannya dan juga Azkia.


Mengingat akan Azkia membuat ingatannya kembali pada peristiwa di Bandung sekitar sebulan lalu.


" Nek, kalau Raffa berbuat kesalahan apa Nenek akan membenci Raffa?" tanya Raffasya tiba-tiba kepada Neneknya itu.


" Kesalahan? Kesalahan apa maksud Raffa? Selama ini apa Nenek membenci Raffa setiap Raffa membuat masalah di sekolah?" Nenek Mutia mengusap wajah cucunya itu.


Raffasya menggenggam tangan Nenek Mutia yang kini mengusap wajahnya, dia lalu mencium punggung tangan Nenek Mutia. Selama ini hanya Nenek Mutia lah yang selalu mengerti dirinya, Hanya Nenek Mutia lah yang benar-benar memberikan kasih sayang seutuhnya kepada dirinya.


" Terima kasih, Nek. Hanya Nenek yang Raffa punya saat ini." Raffasya langsung memeluk tubuh Nenek Mutia.


" Kamu nggak boleh bicara seperti itu, Raffa. Kamu masih punya Papa dan Mama kamu, Om kamu ..." Nenek Mutia menepis anggapan Raffasya yang mengabaikan keberadaan orang-orang yang juga berhubungan darah dengan Raffasya.


" Tapi hanya Nenek yang mengerti Raffa," tegas Raffasya.


" Sekarang katakan sama Nenek, kesalahan apa yang Raffa maksud tadi?" tanya Nenek Mutia yang merasa penasaran dengan kata-kata yang diucapkan oleh Raffasya sebelumnya.


" Sebuah dosa, Nek." lirih Raffasya kemudian


" Astaghfirullahal adzim, dosa apa Raffa? Dosa apa yang sudah kamu perbuatan?" Nenek Mutia terperanjat hingga menutup mukutnya karena merasa syok mendengar pengakuan Raffasya.


" Raffa melakukan hal itu bukan untuk kesenangan, Nek. Raffa sebenarnya berniat membantu wanita itu dari orang-orang yang berniat menjebaknya." Raffasya menduga jika neneknya pasti mengganggap dia melakukan hal itu karena dia terjerumus dalam pergaulan bebas.


" Maksud Raffa apa? Siapa yang dimaksud dengan wanita itu?" Nenek Mutia mendesak Raffasya untuk menceritakan apa yang terjadi.


Raffasya akhirnya menceritakan kepada Nenek Mutia peristiwa di Bandung tanpa menyebut siapa wanita yang telah dia nodai itu.


" Astaghfirullahal adzim, Raffa ..." air mata Nenek Mutia menetes tak terbendung di pipi keriputnya.


" Maafkan Raffa, Nek. Raffa benar-benar tidak bermaksud melakukan hal itu, Nek. Raffa hanya berniat menolong dia, dan Raffa tidak sampai kepikiran akhirnya Raffa yang terjebak di sana." Raffasya pun akhirnya sampai menitikkan air matanya karena dia merasa menyesal dengan perbuatannya hingga membuat Neneknya menangis seperti ini.


" Bagaimana nasib wanita itu, Raffa? Apa dia hamil? Kamu harus bertanggung jawab kepadanya Raffa!"


" Dia nggak hamil, Nek."


" Bagaimana kamu tahu dia tidak hamil?"


" Kemarin dia menunjukkan alat pengecek kehamilan kepada Raffa dan hasilnya negatif, Nek."


" Kau tetap harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu perbuat, Raffa!"


" Tapi dia tidak ingin Raffa bertanggung jawab, Nek! Dia justru meminta Raffa untuk melupakan apa yang pernah terjadi di antara kami di Bandung saat itu."


" Kenapa wanita itu menolak kamu bertanggung jawab, Raffa?"


" Entahlah, Nek. Mungkin karena dia sudah mempunyai kekasih dan dia sangat mencintai kekasihnya itu, Nek."


" Ya ampun, Raffa ..." Nenek Mutia masih terus terisak.


" Maafkan Raffa, Nek. Raffa benar-benar menyesal." Raffasya kini duduk bersimpuh di bawah tempat tidur Neneknya dan menciumi punggung tangan Nenek Mutia, karena dia telah mengecewakan wanita yang sangat dia sayanginya itu.


***


Sebelum masuk waktu Shubuh Azkia terbangun, karena dia sudah kembali mengalami morning sickness hingga air mata menetes di pipinya. Azkia benar-benar merasakan perutnya itu serasa diaduk-aduk.


Azkia lalu mengambil alat test kehamilan yang sudah dia taruh di kamar mandi sejak semalam. Setelah dia memasukan urine nya ke dalam wadah dia lalu mencelupkan alat pendeteksi kehamilan itu.


Sudah pasti degup jantungnya saat ini berdetak sangat kencang. Dia masih berharap alat test kehamilan itu masih berpihak kepadanya dan tidak menampakan hasil yang mengecewakannya.


Setelah beberapa detik dia mengeluarkan alat itu dari cairan urine nya, dia menunggu hasil yang akan muncul di alat pendeteksi itu. Dan setelah beberapa menit setelah menunggu, hasil itu muncul di alat yang ada di tangannya dengan menampakan dua garis merah sejajar yang terlihat sangat jelas.


Azkia membelalakkan matanya seraya menutup mulut dengan telapak tangannya. Dia menggelengkan kepala seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Sementara air mata seolah tak terbendung meleleh di pipinya.


" Nggak, ini nggak mungkin! Ini pasti salah! Aku nggak hamil! Aku nggak mau hamil!!" Azkia terisak kencang dan terduduk di toilet.


Sedangkan di kamar bawah, Natasha terbangun terlebih dahulu. Dia kemudian membangunkan suaminya karena akan memasuki waktu sholat Shubuh.


" Mas, ayo bangun. Sebentar lagi mau Shubuh." Natasha menepuk lengan suaminya,


" Uuggghh ... jam berapa sekarang, Yank,?" tanya Yoga menggeliat, merengangkan otot-ototnya.


" Jam empat lebih." Natasha lalu bangkit dari tempat tidur hendak membangunkan anak-anaknya lain untuk melaksanakan sholat Shubuh.


Natasha menaiki anak tangga, dia ingin menegok keadaan Azkia terlebih dahulu sebelum dia membangunkan anak-anak yang lainnya.


" Kia, kamu sudah bangun, Nak?" Natasha melihat lampu kamar Azkia yang sudah menyala menandakan putrinya itu sudah terbangun dari tidurnya. Namun dia tidak melihat putrinya itu berada di tempat tidurnya.


" Kia ...?" Natasha kini justru mendengar suara tangisan dari arah kamar mandi Azkia.


Natasha mempertajam pendengarannya saat mendengar suara orang terisak dari kamar mandi Azkia, membuat wanita yang mempunyai lima orang anak itu bergegas ke dalam kamar mandi Azkia.


" Kia ...!" Natasha kini terperanjat saat mendapati putrinya kini duduk meringkuk di atas toilet duduk dengan tangan memeluk betisnya dan wajah ditelungkupkan di atas lututnya.


" Kia kamu kenapa?" Natasha menghampiri Azkia dengan tergesa namun tiba-tiba kakinya menginjak suatu benda di lantai dekat toilet Azkia duduk.


Natasha menarik kakinya untuk mengetahui benda apa yang dia injak tadi, dan bola matanya langsung terbelalak saat dia mendapatkan test pack yang terjatuh di lantai. Natasha kemudian meraih test pack itu dan mendapati dua garis yang nampak jelas di alat yang sudah sangat dia hapal bagaimana cara bekerjanya.


" Asataghfirullahal adzim, Azkia ...!" Air mata langsung mengalir kencang di pipi Natasha seraya menatap putrinya yang kini sudah mengangkat pandangan ke arahnya dengan wajah yang nampak lusuh dan berderai air mata.


" Apa ini, Kia?!" Natasha langsung mengguncang pundak Azkia. Sudah pasti dia tahu apa alat yang dipegangnya itu, namun dia tidak menyangka jika anaknya akan mengalami kehamilan saat ini.


" Kenapa Kia lakukan hal ini sama Mama, Kia?! Kenapa Kia mengecewakan Mama?!" Natasha yang merasa syok dengan hasil test pack milik Azkia tidak dapat menutupi rasa kekecewaannya hingga dia menangis tak kuasa menahan kesedihannya.


" Mas ...! Mas Yoga ...!!!" teriak Natasha berlari ke luar dari kamar Azkia.


" Ibu, kenapa, Bu?" Bi Jun menyahuti dari arah dapur.


" Ada apa, Yank? Kenapa teriak-teriak?" Yoga yang mendengar Natasha berteriak langsung keluar dari kamarnya.


" Kia, Mas. Hiks ..." Natasha kembali terisak.


" Kia kenapa, Yank?" Yoga langsung berlari menaiki anak tangga sementara anak-anak Yoga lainnya langsung keluar dari kamar masing-masing saat mendengar suara Mamanya itu berteriak memanggil nama Papa mereka.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️