
Raffasya berjalan memasuki sebuah restoran tempat dia dan Gibran berjanji untuk bertemu. Raffasya menyerahkan kepada Gibran untuk mengatur tempat di mana mereka akan bertemu dan berbincang soal Rosa.
Raffasya melihat Gibran yang ternyata sudah datang lebih dahulu ke restoran tersebut. Dia lalu melangkah mendekati pria mantan kekasih istrinya yang kini sedang dekat dengan adik perempuannya itu.
" Hai, Gib ..." Raffasya menyapa Gibran setelah sampai di dekat Gibran dan melakukan fish bump, gaya bersalaman anak muda dengan menempelkan kepalan tangannya yang disambut kepalan tangan Gibran.
" Hai ..." sahut Gibran.
" Sorry gue telat dikit," ucap Raffasya meminta maaf karena telat datang tepat waktu.
" It's OK," sahut Gibran yang sedang memilih menu makanannya untuk dia makan.
" Mbak ...!" Gibran lalu melambaikan tangannya memanggil pelayan restoran tersebut.
" Mbak, saya pesan soto daging sama air mineral." Gibran menyebut pesanannya. " Kau mau pesan apa?" Gibran menanyakan pesanan Raffasya.
" Samakan saja, Mbak." Raffasya memilih menu yang sama dengan yang dipesan Gibran.
" Baik, Mas." Pelayan restoran lalu berlalu setelah mencatat pesanan Gibran dan Raffasya.
Gibran menarik tipis satu sudut bibirnya ke atas. " Apa kau harus menyukai apa yang aku sukai?" sindir Gibran menatap tajam ke arah Raffasya.
Raffasya mengerti apa yang dimaksud oleh Gibran.
" Mungkin memang sudah begitu jalannya takdirnya," sahut Raffasya. " Tapi gue mengajak lu ketemu di sini bukan untuk membahas masa lalu kita. Gue ingin kita membahas soal Oca." Raffasya langsung meluruskan agar Gibran tidak mengungkit kembali kisah mereka bersama Azkia.
" Apa kamu juga akan melarang aku mendekati Oca?" tanya Gibran curiga jika Raffasya mengajaknya bertemu dan berbicara untuk memintanya menjauhi Rosa.
" Apa lu serius ingin mendekati adik gue?" tanya Raffasya ingin memastikan jika niat Gibran memang tulus.
" Apa kau juga takut adikmu itu jadi korban pembalasanku?" sindir Gibran kembali.
" Gue nggak kepingin berburuk sangka. Walaupun Oca nggak serahim sama gue, tapi gue sangat menyayangi dia. Gue nggak ingin dia disakiti atau dipermainkan oleh cowok." Raffasya menjelaskan jika tujuannya hanya ingin melindungi adiknya.
" Gue akui gue dulu memang salah. Tapi kita nggak bisa terpaku terus dengan kejadian masa lalu. Gue tahu bagaimana perasaan lu ke Almayra, karena itu gue hanya ingin memastikan apa lu serius mendekati Oca? Dia masih lugu dan belum mengenal rasa suka terhadap lawan jenis sebelumnya. Sebagai seorang kakak laki-laki, gue rasa wajar kalau gue mencemaskan adik gue itu." Raffasya mengungkapkan alasan meminta bertemu dan berbicara dengan Gibran.
" Aku bukan tipe pria yang suka menyakiti hati wanita. Aku mengenal Oca sebagai wanita yang baik dan tidak banyak bertingkah, apa kau pikir aku tega menyakiti hati Oca?" Gibran menegaskan jika kedekatannya dengan Rosa bukan hanya sekedar iseng belaka.
" Jika memang lu benar-benar tulus mendekati Oca, gue akan dukung lu, Gib. Gue tahu lu cowok baik. Gue akan merestui hubungan lu dengan Oca. Masalah Mama gue, biar gue yang akan menjelaskan ke Mama. Walau bukan anak kandungnya, tapi Mama sudah menyayangi Oca seperti anaknya sendiri. Jadi gue harap lu mengerti sikap Mama gue yang sangat melindungi Oca. Kalau masalah Papa, gue rasa Papa gue nggak ada masalah. Beliau pasti akan mengerti." Raffasya menerangkan begitu jelas tentang sikap dan dukungannya terhadap hubungan Gibran dan Rosa.
" Kau serius dengan ucapanmu itu?" tanya Gibran masih tidak percaya jika Raffasya akan mendukung dirinya dengan Rosa.
" Gue rasa lu juga berhak mengejar kebahagiaan lu sendiri, Gib. Dan mungkin gue juga akan lebih tenang jika adik gue itu berhubungan dengan cowok yang gue kenal baik." Raffasya memang mau berbesar hati menerima kehadiran Gibran di tengah-tengah keluarganya tanpa memperdulikan jika Gibran adalah pria masa lalu istrinya, karena Raffasya sendiri sudah mendapat kepastian tentang sikap dan pilihan Azkia yang memantapkan hati hanya untuknya.
" Thank's atas kepercayaan lu itu, Raf." Gibran tentu merasa senang karena Raffasya tidak menghalangi dirinya menjalin hubungan asmara dengan Rosa.
" Cuma gue minta sama lu, lu harus benar-benar menjaga adik gue. Jangan sampai lu kecolongan lagi seperti dulu, karena lu nggak punya banyak waktu untuk memperhatikan Almayra. Kalau lu mau tahu, bukan sekali saja gue membantu dia saat dia mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan. Bukan bantuan materi, tapi pertolongan berbentuk tindakan saat dia merasa butuh untuk dibantu. Dan lu nggak pernah tahu itu, kan?" Raffasya mengingat jika dia beberapa kali membantu Azkia saat wanita itu sedang dalam keadaan membutuhkan bantuan.
" Kia nggak pernah cerita apa-apa ke aku." Gibran terkesiap saat mengetahui jika Azkia sering mendapatkan bantuan dari Raffasya.
" Lu tahu sendiri bagaimana hubungan kami sebelumnya, sudah pasti dia akan gengsi mengatakan kalau gue sering menolong dia." Raffasya terkekeh menceritakan bagaimana kisah dia dulu.
Gibran mende sah, akhirnya dia tahu kenapa Tuhan tidak menjodohkan Azkia untukmu, karena bukan dirinya yang selalu ada di saat Azkia sedang berada dalam kesulitan.
" Kamu beruntung mendapatkan Kia, Raf." ujar Gibran karena dia bisa melihat baik Raffasya maupun Azkia terlihat sangat bahagia dengan pernikahan mereka.
Raffasya mengulum senyumannya. " Gue yakin, lu juga pasti bisa bahagia dengan Oca, Gib." Raffasya menyemangati Gibran agar tidak patah semangat.
" Adik lu itu benar-benar polos, aku nggak menyangka jika gadis seusia dia belum pernah mengenal kata pacaran, padahal Oca itu cantik." Gibran memang tidak menyangka di usia Rosa sekarang gadis itu belum pernah mengenal kata cinta sebelumnya.
" Lu tahu alasannya kenapa?" tanya Raffasya.
" Apa?" Gibran mengerutkan keningnya.
" Karena Tuhan memang sudah mempersiapkan pria yang tepat untuk dicintai oleh adik gue itu, dan lu tahu jawabannya siapa?" Raffasya tersenyum.
Senyum di bibir Raffasya seperti tertular ke Gibran hingga Gibran pun ikut melengkungkan senyuman di bibirnya. Sepertinya ketengangan antara kedua pria itu sudah mulai mencair setelah mereka sama-sama berbincang. Dan mungkin sosok Rosa lah yang banyak membantu mencairkan ketengangan di antara mereka berdua.
" Permisi ..." Pelayan restoran kini menyajikan pesanan Gibran dan Raffasya hingga kedua pria itu pun akhirnya menyantap makan siang mereka.
***
Setelah bertemu dengan Gibran, Raffasya menyempatkan diri mampir ke kantor Lusiana. Dia benar-benar ingin memberi jalan kepada Gibran dan Rosa untuk bisa bersama tanpa ada halangan dari pihak manapun.
" Siang, Mbak. Mama saya ada?" tanya Raffasya kepada sekretaris Lusiana.
" Ada, Mas." Sekretaris Lusiana menjawab dan hendak menghentikan aktivitasnya untuk mengantar Raffasya ke dalam ruangan Lusiana.
" Sudah nggak usah, Mbak. Biar saya sendiri saja." Raffasya menolak sekretaris Mamanya karena dia tidak ingin mengganggu pekerjaan sekretaris dari Lusiana itu.
" Baik, Mas."
Raffasya lalu melangkah ke arah pintu ruangan kerja Lusiana dan mengetuknya.
" Assalamualaikum, Ma." Raffasya memberi salam terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ruangan Lusiana.
" Waalaikumsalam ... Raffa?" Lusiana terlihat terkejut dengan kehadiran Raffasya di ruangannya. " Ada apa kamu ke sini, Nak? Kok nggak kasih tahu Mama dulu?" Lusiana bangkit dari kursi kerjanya lalu mendekati putranya yang disambut Raffasya dengan mencium tangan wanita paruh baya yang belakangan terlihat ceria setelah pernikahan kedua dengan mantan suaminya dulu.
" Raffa sengaja datang kemari, Ma." sahut Raffasya.
" Kamu sengaja datang kemari kenapa nggak bawa Naufal? Kalau Kia jangan dibawa pergi-pergi dulu, kasihan perutnya sudah besar begitu."
" Iya, Ma. Raffa tadi habis bertemu dengan Gibran jadi nggak bawa Naufal." Raffasya mengatakan kepada Lusiana jika dia baru berjumpa dengan Gibran hingga tidak memungkinkan membawa anaknya ikut serta.
" Kamu bertemu dengan Gibran? Kamu sudah melarang dia mendekati Oca, kan?" Lusiana masih kurang setuju jika Gibran mendekati Rosa.
" Kita duduk dulu, Ma." Raffasya meminta Mamanya duduk terlebih dahulu agar obrolan mereka lebih rileks.
" Ma, sebenarnya apa yang Mama khawatirkan dengan hubungan Gibran dengan Oca?" tanya Raffasya walaupun dia sudah tahu jawabannya seperti apa.
" Tentu saja Mama khawatir kalau pria itu akan balas dendam sama kamu lewat Oca, Raffa. Kamu nggak kasihan adik kamu jadi pelampiasan sakit hati pria itu? Lalu apa kamu yakin, dia nggak akan mengganggu hubungan harmonis rumah tangga kamu?"
" Gibran bukan tipe pria seperti itu, Ma. Gibran pria baik dan Raffa percaya Gibran nggak akan menyakiti hati Oca." Raffasya menegaskan jika Mamanya salah menilai Gibran.
" Bagaimana kamu bisa semudah itu percaya sama orang, Raffa?" tanya Lusiana heran dengan sikap Raffasya yang dianggapnya terlalu lemah terlalu percaya dengan Gibran.
" Raffa kenal Gibran sejak kecil, Ma. Walaupun kami nggak dekat tapi Raffa yakin jika Gibran bukan tipe pria pendendam." Raffasya terus meyakinkan Mamanya jika Gibran memang sosok yang baik.
" Tapi Mama khawatir sama Oca, Raffa. Mama takut kalau sampai Oca dikecewakan sama pria itu." Lusiana memang menyanyangi Rosa hingga dia merasa khawatir Rosa agak disakiti oleh pria yang merupakan mantan kekasih Azkia itu.
" Gibran nggak akan berani macam-macam sama Oca, Ma. Gibran sangat menghormati Papa Yoga, jadi tidak mungkin Gibran berbuat seperti itu. Percayalah apa yang Raffa katakan ini, Ma." Raffasya menggenggam tangan Lusiana.
" Kamu yakin?"
" Insya Allah kata hati Raffa ini benar, Ma. Lagipula sebagai Mama tiri, Mama jangan kejam-kejam dong, sama Oca! Kasihan Oca lho, Ma." Raffasya terkekeh menggoda Mamanya. Mungkin selama ini, baru kali ini dia bisa menggoda Mamanya seperti ini.
Lusiana sontak memukul lengan Rafasya karena Raffasya menyebutnya kejam terhadap Rosa.
" Kamu ini! Mama itu sayang sama Oca, bukan kejam!" Lusiana menangkis anggapan putranya itu.
" Hahaha, Mama sama menantu sama saja, nih! Senang banget pukul lengan." Raffasya kembali tertawa mengingat sikap Mamanya itu tidak beda jauh dengan sang istri.
" Istri kamu sering pukul kamu?"
" Iya, kalau aku goda dia ... hahaha ...."
" Memang kamu pantas dipukul karena kamu itu iseng!" Lusiana mensyukuri apa yang diterima Raffasya dari Azkia. " Tapi soal iseng, kalian berdua itu sama-sama iseng, jadi kalian berdua itu klop banget jadi suami istri." ucap Lusiana berpendapat.
" Namanya juga sehati, Ma." Raffasya merasakan hatinya terasa damai karena dia bisa bercanda lepas seperti ini dengan Mamanya. " Oh ya, Ma. Raffa sangat senang Mama bisa menerima Oca dengan baik," sambung Raffasya.
" Mama juga senang, Oca itu anak baik. Dan bagaimanapun juga Oca itu adik kamu dan anak dari suami Mama sekarang ini. Sudah pasti Mama menerima Oca seperti anak Mama sendiri. Mama ingin kalau Mama sudah tua nanti dan Mama sudah tidak bisa apa-apa, anak-anak perempuan Mama, istrimu dan juga Oca mau mengurusi Mama." Lusiana memang berharap Azkia dan Rosa akan saling berlomba mengurus dia ketika dia tua nanti.
" Mama nggak mau, Mama ditaruh di panti jompo kalau Mama sudah tua renta nanti," lanjutnya.
" Nggak akan mungkinlah, Ma. Kami semua menyayangi Mama, mana mungkin kami akan menelantarkan Mama seperti itu." Raffasya memeluk tubuh Lusiana memberikan rasa nyaman kepada wanita yang melahirkannya itu.
" Makasih, Nak. Makasih kalian sudah menyanyangi Mama. Mama benar-benar menyesal dengan sikap Mama yang dulu terhadap kamu, Nak." Lusiana tidak dapat membendung air matanya yang tiba-tiba menetes.
" Sudahlah, Ma. Jangan ingat hal itu lagi. Kita sudah menutup masa lalu kita. Sekarang ini kita sudah hidup bahagia. Papa dengan Mama, Aku dengan Almayra. Dan Oca ... Insya Allah sebentar lagi akan menyusul dengan Gibran." Kata-kata yang keluar dari mulut Raffasya terdengar sangat menyejukkan hati siapapun yang mendengarnya termasuk Lusiana.
Lusiana mengurai pelukan Raffasya, tangannya kini menangkup wajah tampan anaknya itu.
" Mama senang dan bangga terhadapmu, Raffa. Kamu sangat dewasa dan bisa bersikap bijaksana," ucap Lusiana mengecup kening Raffasya cukup lama karena merasa bangga mempunyai anak seperti Raffasya yang tumbuh sebagai sosok pria mandiri dan bersikap dewasa.
***
Rosa baru selesai melaksanakan sholat Isya saat pintu kamarnya diketuk. Dia bergegas melepas mukenanya dan berjalan membuka pintu kamarnya.
" Mama?" Ternyata Lusiana lah yang mengetuk pintu kamar Rosa.
" Boleh Mama masuk, Ca?" tanya Lusiana.
" Silahkan, Ma " Rosa membuka pintu kamarnya lebih lebar dan mempersilahkan Lusiana masuk ke dalam kamar.
" Kamu sudah sholat?" tanya Lusiana melihat sajadah Rosa yang masih terbentang di atas karpet.
" Iya, Ma." Rosa lalu merapihkan sajadah itu.
" Kamu duduk di sini, Ca." Lusiana meminta Rosa duduk di sampingnya.
" Ada apa, Ma?" tanya Rosa, sejak kejadian makan malam kemarin, Lusiana memang belum bicara berdua dengan Rosa, Rosa sendiri terlalu takut berhadapan dengan Lusiana karena sikap Lusiana yang menentang hubungannya dengan Gibran.
" Kamu benar-benar menyukai Gibran?" tanya Lusiana membuat Rosa hanya tertunduk.
" Kamu nggak masalah kalau Gibran itu mantan kekasih kakak iparmu?" tanya Lusiana kembali.
Rosa masih terdiam, dia tidak berani menjawab pertanyaan Lusiana.
" Oca, maafkan Mama kalau Mama bersikap keras seperti kemarin. Semua itu Mama lakukan karena Mama menyayangi kamu seperti anak Mama sendiri." Lusiana membelai kepala Rosa penuh kasih sayang.
" Rosa mengerti, Ma." Kali ini Rosa berani menjawab pertanyaan Lusiana. " Karena itu, Oca nggak akan menentang kata-kata Mama." Rosa yang sengaja tidak dikabari oleh Raffasya maupun Gibran terlihat pasrah dengan keputusan Lusiana.
" Mama ingin kamu bahagia, Nak. Dan kalau kamu merasa Gibran bisa membuat kamu bahagia, Mama akan mendukung kalian berdua."
Rosa membelalakkan matanya mendengar ucapan Lusiana.
" Ma ...."
" Papamu, Kakakmu dan juga Kakak iparmu sudah meyakinkan Mama jika Gibran adalah pria yang baik. Sepertinya Mama akan menjadi ibu tiri yang kejam jika Mama harus terus menghalangi hubungan kalian."
" Ma ..." Rosa langsung memeluk tubuh Lusiana. " Mama jangan pernah menyebut jika Mama adalah Mama tiri. Mama sudah Oca anggap seperti Mama Wina, Mama kandung Oca sendiri." Bagi Rosa sebutan Mama Tiri terlalu kasar dan kurang enak didengar di telinganya, hingga dia tidak ingin mendengar Lusiana menyebut kata ibu sambung dengan kata 'Mama tiri' lagi.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️