MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Perdebatan



Azkia memperhatikan foto profil suaminya di aplikasi sosial media chattingnya. Dengan menyampirkan handuk kecil di atas kepalanya selepas melakukan aktivitas berolah raga. Dan bertelan jang dada hingga memperlihatkan otot-otot liatnya. Tanpa sadar sebuah senyuman terukir di sudut bibir wanita cantik itu.



Tangan Azkia mengusap bagian wajah hingga turun ke tubuh berotot Raffasya di foto itu seraya memejamkan matanya. Masih terasa saat tubuh liat itu menyentuh dan memeluk tubuhnya.


" Ganteng banget sih kamu, Kak." Tanpa sadar kalimat itu terucap dari bibir Azkia.


" Cieee, yang sedang terpesona sama suaminya sendiri."


Azkia terkesiap saat mendengar suara Atika yang baru muncul di kantin kampus.


" Happy Birthday ya, Say " Atika langsung mengucapkan selamat dan memeluk Azkia.


" Thanks, Tik."


" Tapi memang ganteng laki lu itu, Az. Makanya lu mesti hati-hati, jangan jutek-jutek sama dia. Kalau dia bete sama sikap lu, bisa-bisa dia kabur ninggalin lu," lanjut Atika memperingatkan lalu menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Azkia.


" Coba saja kalau Kak Raffa berani kabur, nggak aku kasih ijin ketemu anaknya, tahu rasa nanti!" ancam Azkia.


" Wah, kalau ancamannya itu sih, suami lu nggak bakal berani ninggalin lu, ya? Suami lu kayaknya sayang banget sama anaknya." Atika berpendapat.


" Iyalah, orang Kak Raffa yang maksa buat tanggung jawab, kok." Azkia mengecilkan suaranya karena tidak ingin banyak orang yang mendengar. " Kak Raffa juga nggak mau anaknya ini bernasib seperti dia yang orang tuanya terpisah jadi kurang perhatian dari orang tua," sambungnya menerangkan.


" Beruntung lu dapat suami seperti itu, artinya dia akan setia sama lu," ucap Atika kemudian menatap sebuah cincin yang melingkar di jari Azkia.


" Cincin baru, nih?" Atika menarik tangan Azkia dan memperhatikan cincin berlian itu.


" Hadiah ulang tahun dari Kak Raffa," sahut Azkia. " Semalam dia kasih gue kejutan ulang tahun, terus kasih kado ini dan buket bunga yang besar. Nih ..." Azkia menunjukkan gambar buket bunga pemberian suaminya yang sempat dia foto dan tunjukkan ke Mamanya pagi tadi.


" Ya ampun, so sweet banget laki lu, Az." Atika memuji Raffasya. " Hmmm, pasti setelah itu ada adegan dewasa, dong." Atika meledek Azkia.


" Ya gitu, deh." Azkia menyeringai.


" Kia ..."


Azkia menoleh saat terdengar suara yang dia kenal menyapanya.


" Pa ..." Azkia segera berdiri saat Papanya itu menyapanya.


" Selamat ulang tahun ya, Nak." Yoga memeluk Azkia dan mengecup kening putrinya tersebut, yang disambut dengan pelukan Azkia ke pinggang Yoga. Karena sekarang Azkia sudah tidak tinggal bersama, Yoga baru bisa memberikan ucapan selamat secara langsung kepada putrinya.


" Makasih, Pa." sahut Azkia.


" Nanti malam kamu sama Raffa datang ke rumah, ya! Mama kamu mau merayakan ulang tahun kamu bersama keluarga," ucap Yoga mengajak putrinya itu untuk datang ke rumahnya.


" Iya, Pa. Nanti Kia bilang sama Kak Raffa untuk datang ke rumah," sahut Azkia masih melingkarkan lengannya di pinggang sang Papa.


" Ya sudah, Papa tinggal dulu, ya!" Yoga mengusap kepala Azkia sebelum meninggalkan putrinya itu.


" Iya, Pa."


" Keluarga lu itu benar-benar cerminan keluarga bahagia banget deh, Az. Biarpun Papa Mama lu sibuk dengan karir, tapi kasih sayang dan perhatian untuk anak-anaknya nggak pernah putus. Ya walaupun ada kejadian lu sampai hamil." Atika mengecilkan volume suaranya dengan berbisik saat mengucapkan kalimat terakhir, " Tapi itu bukan karena lu kurang perhatian dari orang tua. Lu lagi apes saja itu, sih." Atika berpendapat.


" Eh, tapi lu jujur ya sama gue. Terlepas dari kejadian yang menimpa lu, lu hepi nggak nikah sama Kak Raffa?" tanya Atika penasaran. " Ya karena gue tahu lu itu 'kan cintanya sama Gibran. Tapi selama berumah tangga, sudah dua bulan lebih, pasti ada hal-hal yang dilakukan oleh Kak Raffa yang bikin lu melted banget, kan? Selain hadiah ultah itu."


" Entah deh, Tik. Tapi yang gue rasa sih, Kak Raffa itu selalu memperhatikan kehamilan gue. Pokoknya beda banget sama Kak Raffa sebelum kejadian di Bandung itu." Azkia menyahuti.


" Ya mungkin karena dia merasa bersalah dan bertanggung jawab sama perbuatannya, walaupun itu pun nggak dia lakukan secara sengaja," tutur Atika.


" Mungkin juga."


Azkia melirik Atika, " Gue nyesel kenapa harus hamil duluan sebelum menikah. Ini nggak pernah masuk prediksi gue, Tik. Walaupun dibilang gue ini bar-bar, tapi gue berusaha kontrol pergaulan gue biar nggak kebablasan dan nggak sampai bikin malu orang tua gue. Tapi nyatanya malah kena si al gini," sesal Azkia.


" Tapi untungnya orang yang nolong lu itu Kak Raffa, orang yang tepat. Nggak kebayang deh, kalau cowok lain, belum tentu berani dan mau tanggung jawab seperti Kak Raffa."


" Gue nggak sangka bakalan nikah sama Kak Raffa, Tik. Lu bayangin saja, sejak kecil selalu berantem, Ada saja masalah yang kita perdebatkan ...."


" Dan sekarang berdebatnya di ranjang, kan?" Atika memotong ucapan Azkia berkelakar.


" Hahaha ... nggak usah ngomongin itu, deh!" Azkia mengibaskan tangannya, yang langsung ditanggapi oleh tawa renyah sahabatnya itu.


***


" Kak, nanti malam Mama mengundang kita makan malam merayakan ulang tahun aku." Saat Raffasya menjemput Azkia sepulang dari kampus, Azkia memberitahukan undangan makan malam dari orang tuanya.


" Nanti malam aku ada acara di La Grande, May." ujar Raffasya yang sepertinya tidak bisa memenuhi undangan dari orang tua Azkia.


" Tapi Mama sudah menyiapkan makan malam untuk ulang tahun aku, Kak."


" Aku juga sudah menyiapkan acara untuk perayaan ulang tahun kamu di La Grande bersama teman-teman aku yang kebetulan kemarin nggak sempat datang di resepsi pernikahan kita." Raffasya tetap bersikukuh pada rencananya.


" Ya sudah, Kak Raffa cancel saja acaranya," ucap Azkia.


" Ya nggak bisa dong, May! Acara aku di La Grande itu 'kan sudah aku siapin dari beberapa hari lalu, nggak bisa dicancel gitu saja." tegas Raffasya.


" Aku nggak perlu perayaan ulang tahun dengan teman-teman Kak Raffa. Lagipula aku nggak kenal sama mereka. Yang terpenting itu berkumpul dengan keluarga aku, Papa, Mama, saudara-saudaraku. Kalau Kak Raffa nggak bisa hadir, biar aku saja yang datang sendirian ke rumah Papa!" ketus Azkia merasa kecewa karena Raffasya tidak menghargai undangan orang tuanya yang ingin mengundangnya makan malam.


" Acara itu 'kan perayaan Birthday kamu, masa kamunya nggak datang? Ya nggak lucu, dong!"


" Lagipula siapa suruh Kak Raffa bikin acara itu tanpa seijin aku?"


" Memangnya salah suami bikin acara spesial untuk istrinya?" Raffasya tetap beranggapan apa yang dilakukannya bukanlah suatu kesalahan.


" Iya tapi nggak harus mengabaikan pihak keluarga istri, kan?" Azkia tak ingin mengalah.


" Ya sudah, nanti keluarga kamu ikut datang saja sekalian ke La Grande," ucap Raffasya.


" Aku nggak suka cara Kak Raffa yang maksa banget seperti ini!" ketus Azkia. " Pokoknya aku akan tetap ke sana walaupun Kak Raffa nggak mau mendampingi!" tegas Azkia tetap pada keputusannya.


" Kamu nggak bisa pergi tanpa seijinku, May!"


" Kak Raffa melarang aku ketemu orang tua sendiri?"


" Tapi nggak untuk malam ini!"


" Tapi Mama itu mengundang makan malamnya nanti malam, Kak! Mama pasti sudah menyiapkan perayaan kecil untuk aku." Azkia semakin gemas karena suaminya itu seolah tidak mengijinkan dirinya berkumpul dengan keluarganya.


" Kalau aku nggak kasih ijin, artinya kamu nggak boleh melanggar apa yang aku putuskan, May. Kamu harus nurut apa kata suamimu. Titik, nggak pakai tapi-tapian! Dan nanti aku akan bilang ke Papa Mama kamu kalau malam ini kita nggak bisa datang ke sana!" tegas Raffasya.


Azkia menoleh suaminya dengan tatapan mata sinis, tentu saja keputusan Raffasya membuat Azkia merasa kecewa dan kesal. Dia tidak akan bisa menentang suaminya karena suaminya itu pasti akan melakukan apa yang menurut dirinya benar walaupun dia harus melewati perdebatan yang panjang.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️