MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Es Kado



Azkia keluar dari kamar tidurnya dan berlari menuruni anak tangga saat dia melihat Raffasya ingin mengejarnya.


" Kia, Astaghfirullahal adzim! Kamu jangan lari-lari seperti itu!" Natasha menangkap tubuh Azkia yang berlari ke arahnya. " Sudah berapa kali Mama bilang, hati-hati dengan kandunganmu! Jangan berlari apalagi berlari ditangga!" Natasha kembali menegur putrinya.


" Ma, Kia nggak mau ikut pindah ke rumah Kak Raffa!" Azkia mengadu kepada Natasha dan menolak keinginan Raffasya yang ingin membawanya ke rumah suaminya itu.


" Iya kemarin Raffa sudah minta ijin ke Papa, dan Papa kamu sudah kasih ijin Raffa untuk bawa kamu pindah ke tempatnya Raffa." Natasha menjelaskan kepada putrinya.


" Kok dikasih ijin sih, Ma? Kalau nanti di sana Kia dianiaya gimana?" Azkia mencoba mempengaruhi Mamanya.


" Kamu nggak usah mikir yang aneh-aneh deh, Kia. Masa Raffa mau menganiaya kamu?" Natasha menampik dugaan Azkia kepada menantunya itu.


" Mama kayak nggak kenal Kak Raffa saja, Kak Raffa itu 'kan orangnya dendaman." Azkia kesal karena Natasha sepertinya berpihak kepada Raffasya.


" Kalau dia pendendam, nggak mungkin dia kemarin-kemarin tolongin kamu," jawab Natasha.


" Iiihh, Mama kok malah belain Kak Raffa, sih?" Azkia memberengut kemudian melangkah meninggalkan rumahnya menuju rumah Uncle nya untuk berbincang dengan Rayya.


***


" Jadi Kia akan pindah ke tempatnya Kak Raffa, ya?" tanya Rayya saat mereka berdua berada di kamar Rayya.


" Aku nggak mau pindah, Ray! Aku ingin di sini saja sama Papa Mama," tolak Azkia.


" Tapi Kia dan Kak Raffa itu sekarang sudah jadi suami istri, jadi Kia harus ikut Kak Raffa, Kia wajib menuruti apa yang diperintahkan oleh suami Kia." Rayya menjelaskan kepada Azkia.


" Kenapa semua orang pada belain Kak Raffa, sih? Kia ke sini itu mau minta dukungan, Ray! Bukan minta dicerahi." Azkia memutar bola matanya.


" Rayya hanya memberitahukan hal-hal yang baik, agar Kia nggak jadi istri yang durhaka." Rayya terkekeh meledek Azkia, membuat Azkia memberengut.


" Kia ingat nggak, sih? Waktu ulang tahun Rayya yang ke tujuh belas?" Rayya menoleh ke arah Azkia yang berbaring di sampingnya dengan pandangan menatap langit-langit. Sementara dia sendiri tidur berposisi tengkurap dengan kedua siku menyangga tubuhnya.


" Ingat, waktu Rayya patah hati hampir mau nangis gara-gara lihat Kak Rama datang menggandeng Kak Kayla, kan?" Azkia kini yang justru terkekeh mengingat bagaimana saat itu Rayya sedang mengangumi Ramadhan secara diam-diam.


" Iihh, nggak usah mengingat yang itu dong, Kia!" Rayya langsung memprotes saat Azkia mengingatkan kembali kejadian di pesta ulang tahunnya yang ke tujuh belas.


Azkia tergelak puas, " Terus Kia mesti ingat apa, dong?" tanyanya kemudian.


" Kejadian di kamar ini saat kita buka-buka kado ulang tahun Rayya."


" Memang ada kejadian apa, sih?" tanya Azkia tidak ingat apa yang dimaksud oleh Rayya.


" Waktu buka kado dari Kak Raffa isinya cincin, terus cincin itu dipakai sama Kia, dan susah waktu mau dilepas dari jari Kia. Mungkin itu sudah kode kalau kalian itu berjodoh." Rayya menyangkutkan kejadian cincin dari Raffasya yang sempat dicoba oleh Azkia dan sulit saat ingin dilepas.


" Ah, itu hanya kebetulan saja. Nggak usah disangkutpautkan, deh!" Azkia menepis anggapan Rayya yang mengatakan jika dirinya dan Raffasya memang berjodoh.


" Tapi memang benar sekarang Kia sama Raffa menikah, kan? Dan sekarang ada cincin dari Kak Raffa di jari Kia." Rayya menunjuk cincin pernikahan yang melingkar di jari manis Azkia.


" Menikah itu belum berarti jodoh, kan? Bisa saja nantinya berpisah, cerai ...."


" Naudzubillah min dzalik! Kia nggak boleh bicara begitu! Ucapan itu adalah doa, maka berucaplah dengan kalimat-kalimat yang baik." Rayya menegur Azkia yang berkata asal dan buruk mengharapkan perceraian.


" Kia, apapun alasan kalian menikah, sekarang ini Kak Raffa adalah suami Kia. Aku tetap merasa Kak Raffa itu pria yang baik. Keberaniannya mengakui kesalahan dan mau bertanggung jawab adalah tindakan yang harus dihargai, karena tidak semua lelaki punya keberanian untuk mengakui kesalahannya. Apalagi pria itu adalah orang yang selama ini dianggap sebagai musuh. Rayya merasa Kak Raffa itu hanya tampilannya saja begitu namun hatinya itu baik. Coba Kia lebih lembut bersikap kepada Kak Raffa pasti Kak Raffa juga akan bersikap lebih lembut ke Kia." Rayya mencoba menasehati Azkia.


" Iiihh, itu namanya Kia nggak menjadi diri Kia sendiri. Kia berpura-pura menjadi orang lain. Lagipula aku nggak berharap Kak Raffa bersikap baik ke aku, kok." Azkia lalu bangkit dan melangkah menuju pintu kamar Rayya.


" Lho, Kia mau ke mana?" tanya Rayya melihat Azkia yang ingin meninggalkan kamarnya.


" Pulang, Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ..." Jawaban yang diberikan Rayya sempat terdengar di telinganya, sebelum Azkia meninggalkan kamar tidur sepupunya itu.


***


Akhirnya dengan sangat terpaksa dan setelah dinasehati panjang lebar oleh Papanya, Azkia akhirnya menerima keputusan Raffasya yang ingin membawanya pulang ke rumah sang suami.


" Pa, Ma, Raffa ijin bawa Almayra ke rumah Raffa,' ucap Raffasya kepada Yoga dan Natasha saat berpamitan untuk membawa sang istri ke rumahnya.


" Papa dan Mama titip Kia, Raffa. Jaga dia baik-baik. Sekarang ini kamulah yang berhak atas Kia daripada kami. Jadi kamu harus benar-benar membimbing dan melindungi Kia." Walaupun terasa berat melepas Azkia, namun Yoga sudah tahu resiko ini pasti akan terjadi saat anak-anaknya dewasa dan berumah tangga.


" Iya, Pa. Insya Allah Raffa akan menjaga Almayra dengan sebaik mungkin," janji Raffasya kepada Yoga dan juga Natasha.


" Kalian jangan selalu berantem! Kalian sekarang sudah menjadi suami istri, apalagi Kia sedang hamil. Tolong awasi Kia, dia sering lari-lari kalau turun dari tangga. Kalau bisa kamar kalian di sana jangan di atas biar lebih aman." Natasha menambahkan dengan air mata yang menetes di pipinya. Tentu saja dia tidak akan sekuat Yoga, karena seorang wanita lebih mudah memproduksi air matanya.


" Iya, Ma." sahut Raffasya.


" Jaga kesehatan ya, Kia. Jangan lupa vitamin dan su su hamilnya diminum." Kini Natasha memeluk putrinya dengan terisak membuat Azkia semakin berat untuk melangkah meninggalkan rumah orang tuanya itu.


" Sudah, Yank. Nanti Kia malah tambah nggak mau pisah dari kita." Yoga mengusap punggung istri tercintanya hingga Natasha akhirnya melepaskan tubuh Azkia, dan Azkia kini memeluk Papanya.


Azkia juga ikut menangis tak berkata sepatah katapun saat berpamitan kepada kedua orang tuanya itu.


" Sejak Papa menyerahkan Kia saat ijab qobul kemarin, maka kedudukan suami Kia lebih berhak atas Kia ketimbang Papa dan Mama. Jadi Kia harus taat terhadap suami. Jadilah istri yang baik yang menurut kepada suami." Yoga mengusap kepala Azkia, sementara bola matanya sudah mulai mengembun.


" Papa dan Mama melepas Kia dan membiarkan Raffa membawa Kia, bukan berarti Papa dan Mama tidak sayang dengan Kia, tapi karena itu memang hak Raffa sebagai suami kamu." Yoga memberi pengertian kepada Azkia.


Setelah perpisahan yang diwarnai rasa haru dan tangis Azkia dan Natasha, akhirnya Raffasya membawa Azkia ke rumahnya dengan menggunakan mobilnya.


Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Raffasya, Azkia hanya terdiam dengan pandangan terus ke luar jendela.


" Eh, stop, stop, stop ...!!" Azkia tiba-tiba menyuruh Raffasya menghentikan laju mobilnya secara mendadak.


" Ada apa, May?" tanya Raffasya terkesiap tanpa menghentikan laju kendaraannya.


" Ini lampu hijau, May! Mau diamuk orang tiba-tiba berhenti di traffic light saat lampu hijau??" Raffasya merasa jika tindakannya benar.


" Tapi aku mau beli itu!" Azkia menunjuk ke arah gerobak kecil bertuliskan es kado yang berjalan menjauh dari arahnya. hingga dia memutar tubuhnya ke belakang.


" Mau beli apa? Nanti kita berhenti di seberang." Raffasya baru akan menghentikan mobilnya setelah menyebrang dari perempatan itu.


" Nanti si Abang nya keburu hilang, dong?! Tuh, kan ... tambah jauh Abang es kado nya ..." Azkia menggerutu saat Raffasya tidak juga menghentikan mobilnya. " Putar balik saja mobilnya, kejar Abang es kado tadi!" perintah Azkia.


" Nggak bisa, May! Tunggu sebentar gue berhenti di depan." Raffasya tetap pada keputusannya menghentikan mobilnya setelah menyeberangi traffic light.


Saat mobil yang dikendarai Raffasya sudah berhenti, Azkia langsung membuka pintu dan keluar dari mobil Raffasya.


" May, tunggu dulu!" Raffasya bergegas keluar karena dia melihat Azkia berlari.


" Tuh, kan ... si Abang nya sudah menghilang ..." Azkia langsung memberengut kesal karena penjual es kado yang dimaksud oleh Azkia sudah tidak terlihat.


" Lu mau ice cream? Kita cari di mini market saja nanti." Raffasya menawarkan pilihan lain.


" Aku nggak mau yang lain, aku maunya es kado tadi! Ayo cepat Kak Raffa putar balik, siapa tahu di Abang nya belum jauh!" Azkia langsung menarik lengan Raffasya ke arah mobil, membuat Raffasya mengikuti apa yang diminta oleh Azkia.


Satu jam Raffasya berputar-putar mencari Abang penjual es kado, namun si penjual es itu tidak juga ditemukan.


" Kita cari di mana lagi, May?" Raffasya sudah putus asa mencari apa yang diinginkan Azkia.


" Ini gara-gara Kak Raffa nggak nurut apa yang aku bilang. Coba kalau tadi berhenti, nggak akan kehilangan jejak seperti ini!" gerutu Azkia dengan wajah memberengut dan bersungut-sungut langsung kembali ke mobil.


Dalam perjalanan menuju rumah Raffasya tak henti-henti Azkia mengomel.


" Lu bisa diam nggak, sih? Bawel banget jadi cewek! Suara lu itu mengganggu konsentrasi gue bawa mobil!" keluh Raffasya. " Kalau lu nggak diam juga, gue turunin lu sekalian di jalan!" ancam Raffasya.


Azkia langsung menoleh ke arah Raffasya.


" Benar 'kan dugaanku? Kak Raffa itu cuma kelihatan baik-baik di depan Papa Mama, dong! Aslinya tetap saja jahat!" ketus Azkia.


" Turunkan saja! Kak Raffa pikir aku takut diturunkan di tengah jalan?!" Azkia menantang Raffasya, membuat Raffasya hanya mendengus kesal tak memperdulikan.


Hingga akhirnya sampai di rumah Raffasya, Azkia terus saja menggerutu namun Raffasya memilih diam tak menanggapi.


Raffasya memarkirkan mobilnya di pekarangan rumahnya. Dia lalu membuka seat belt dan keluar dari dalam mobilnya. Setelah itu Raffasya membukakan pintu untuk Azkia. Azkia pun turun dengan wajah masih memberengut sementara Raffasya langsung mengambil koper Azkia dari bagasi.


" Assalamualaikum, Bi, Bi Neng!" Raffasya mengucapkan salam.


" Waalaikumsalam ... Eh, Mas Raffa sama Mbak Kia ..." Bi Neng nampak terkejut dengan kehadiran Raffasya dan juga Azkia di rumah itu. Apalagi dengan ucapan salam yang tak biasa diucapkan oleh Raffasya.


" Bi Neng, Nenek mana?" tanya Raffasya.


" Ibu Mutia sedang di halaman belakang, Mas Raffa." sahut Bi Neng.


" Oh ya sudah. Bi Neng, tolong bawakan koper yang kecil saja ke kamar saya dulu." Raffasya memerintah Bi Neng untuk membawa kopernya.


" Baik, Mas Raffa." Bi Neng lalu mengambil salah satu koper yang kecil dari tangan Raffasya.


" Kita temui Nenek dulu." Raffasya mengajak Azkia menemui Neneknya di halaman belakang.


" Assalamualaikum, Nek ..." Raffasya menyapa Nenek Mutia yang sedang memotong beberapa tangkai bunga mawar yang akan dia taruh di vas bunga.


Nenek Mutia menoleh ke arah Raffasya dan senyuman langsung merekah di bibir Nenek Mutia saat melihat kehadiran Raffasya dan Azkia.


" Waalaikumsalam ... Masya Allah, Raffa, Kia ..." Nenek Mutia langsung meletakkan beberapa tangkai mawar di tangannya juga melepas sarung tangan kemudian menyambut Raffasya dan Azkia.


" Nenek apa kabar?" tanya Azkia kepada Nenek Mutia seraya mencium punggung tangan Nenek Raffasya itu.


" Alhamdulillah ... Nenek sehat. Bagaimana cicit Nenek di sini? Apa menyusahkan Mamanya?" Tangan Nenek Mutia mengusap perut Azkia membuat Azkia dan Raffasya saling berpandangan, namun tak lama Azkia memutus tatapan terlebih dahulu.


" Nek, mulai saat ini Almayra akan tinggal di sini sama kita." Raffasya memberitahukan Neneknya.


" Benarkah? Alhamdulillah ... Nenek senang dengarnya. Nenek di sini jadi ada teman kalau Kia ada di sini." Nenek Mutia mengusap lengan Azkia.


Azkia menarik sudut bibirnya, dia bisa melihat wajah bahagia di Nenek Mutia saat mengetahui dirinya akan tinggal di rumah itu.


" Oh iya, Kia mau makan apa? Biasanya kalau hamil muda itu kepinginnya makan yang aneh-aneh, nanti Nenek buatkan untuk Kia." Nenek Mutia kini melingkarkan lengannya ke punggung Azkia.


" Tadi Kia mau es kado, Nek. Gara-gara Kak Raffa nggak mau menghentikan mobilnya, jadi Abang penjual es nya pergi, Nek. Padahal 'kan itu bukan keinginan Kia, Nek. Tapi keinginan yang ada di perut Kia." Azkia mengadukan apa yang tadi terjadi kepada Nenek Raffasya.


" Raffa, kenapa kamu nggak menuruti apa yang diminta Kia?" Nenek Mutia menegur cucunya.


" Terus Kak Raffa malah ngomel-ngomel bilang Kia bawel karena Kia minta Kak Raffa cari Abang penjualnya, Nek." Dengan sedikit mendramatisir Azkia mengadu kepada Nenek Mutia.


" Raffa!! Kamu nggak boleh seperti itu! Ibu hamil muda itu memang sering menginginkan sesutu, itu yang dinamakan ngidam. Dan kamu sebagai ayah dari bayi ini harus mau menuruti apa yang diinginkan Kia. Karena Ibu hamil itu sensitif dan emosinya nggak stabil. Jadi Kamu harus lebih memperhatikan Kia." Nenek Mutia menyalahkan Raffasya dan menasehati Raffasya agar lebih memperhatikan Azkia karena kondisi hamil muda wanita itu.


Azkia melirik ke arah Raffasya dengan tersenyum senang karena membuat Raffasya ditegur oleh Neneknya sendiri, sementara Raffasya hanya mendengus melihat tingkah Azkia yang menurutnya begitu menyebalkan.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️