MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Menjenguk Rayya



Selepas makan, Raffasya dan Azkia membawa Naufal berkunjung ke rumah Kakek dan Neneknya. Karena kebetulan jarak dari tempat mereka makan ke rumah Yoga dan Natasha hanya berjarak sekitar tiga kilometer membuat mereka menyempatkan waktu mampir ke rumah orang tua Azkia.


" Assalamualaikum ..." sapa Azkia dan Raffasya bersamaan saat masuk ke dalam rumah yang tidak dikunci pagi itu.


" Waalaikumsalam, eh ... cucu Mami datang ..." Dari arah tangga Natasha menyambut kedatangan cucu pertamanya itu. Dia kemudian berjalan menghampiri anak dan cucunya lalu mengambil Naufal dari tangan Azkia.


" Kalian dari mana?" tanya Natasha menerima uluran tangan Azkia dan Raffasya bergantian.


" Kami habis jalan-jalan pagi, Ma." sahut Azkia.


" Habis jalan-jalan pagi? Wah, kok nggak ajak-ajak Mami sih, Sayang?" Wanita berusia lima puluh tahun itu mencium gemas pipi Naufal.


" Papa mana, Ma?" tanya Azkia.


" Papa sepertinya ada di halaman belakang, deh. Tadi sih bilang mau mandiin kelinci," sahut Natasha.


" Raffa ke belakang dulu mau ke Papa ya, Ma?!" Raffasya memilih bergabung dengan Papa mertuanya di belakang.


" Ya sudah ...."


" Aku ke Papa dulu, May." Raffasya pun berpamitan kepada Azkia.


" Iya, Kak."


Setelah Raffasya pergi ke halaman belakang, Azkia dan Natasha memilih duduk di sofa tamu. Natasha begitu bahagia bertemu kembali dengan cucunya.


" Tambah berat saja ini cucu Mami, pasti ne nen nya kuat, ya?" Natasha tak puas terus menciumi pipi Naufal yang membulat dan menggemaskan.


" Iya, Mami. Naufal maunya ne nen saja, nih." Azkia duduk mendekat ke arah Natasha seraya memegang tangan Naufal.


" Kamu harus banyak makan yang bernutrisi biar ASI kamu lancar, Kia." Natasha menasehati.


" Iya, Ma. Bi Neng rajin masakin sayuran yang bagus untuk memperlancar ASI kok, Ma." sahut Azkia.


" Baguslah kalau begitu, biar Naufal sehat ya, Nak? Kamu gemesin banget sih, Sayang. Mami gemes, gemes, gemes sama Naufal ..." Natasha kembali menciumi Naufal membuat bayi itu merasa tak nyaman karena terus dicium dengan gemas dan agresif.


" Eheekk ... eheekk ..." Naufal pun merajuk.


" Aduh ... aduh, cucu Mami ngambek, ya? Mami nakal ya, Sayang?" Natasha terlihat senang karena membuat cucunya itu merengek hingga menangis.


" Sayangnya Mama ... diapain sama Mami, Nak?" Azkia meminta Natasha menyerahkan Naufal kembali kepadanya.


" Dicium sama Mami, ya? Habis Mami gemas sama Naufal." Walaupun sudah kembali ke tangan Azkia namun rasanya Natasha masih belum puas menggoda Naufal bahkan menciumi ketiak bayi lucu itu.


" Mami gemas sama Naufal katanya, Nak." Azkia lalu menyu sui Naufal hingga rengekan Naufal terhenti.


" Oh ya, kamu masih nifas, Kia?" tanya Natasha setelah puas menggoda cucunya.


" Sudah, Ma. Dari dua hari lalu," sahut Azkia.


" Hmmm, pantas wajah kalian sumringah. Pasti sudah mulai berhubungan lagi, kan?" selidik Natasha seraya tersenyum menggoda.


Azkia tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


" Kamu sudah KB belum, Kia? Awas jangan sampai kebobolan lagi, lho!" Natasha menanyakan apakah Azkia sudah mulai program KB karena dia khawatir Azkia akan kecolongan lagi seperti dirinya dulu.


" Sudah sih, Ma. Waktu konsultasi sama Tante Dessy kemarin, Kia langsung minta pakai KB, takut kami khilaf karena keasyikan, Ma." Azkia terkikik tanpa malu mengungkapkan alasannya.


"Ya sudah kalau memang sudah pasang. Tapi kadang KB juga ada yang bocor, makanya kalau mau hubungan lihat-lihat waktu juga. Usahakan jangan di masa subur." Azkia kembali menasehati.


" Memang dulu Papa sama Mama kalau mau hubungan pakai diatur waktunya, Ma?" Azkia justru membalikkan kata-kata Natasha tentang harus melihat waktu saat ingin berhubungan suami istri.


" Hmmm, nggak juga, sih. Kamu tahu sendiri Papa kamu bagaimana, Kia." Natasha tersenyum mengingat bagaimana perlakuan suaminya itu jika berkeinginan minta dipenuhi kebutuhan biologisnya.


" Kayaknya Kak Raffa juga persis kayak Papa deh, Ma." Azkia pun teringat, bahkan sejak kecil dia selalu melihat Papanya itu tak canggung bersikap mesra terhadap Mamanya, Dan sudah dipastikan Papanya itu tak beda jauh dengan suaminya itu.


" Itu 'kan keinginan kamu, Kia. Kamu ingin seperti Mama, punya suami yang baik, perhatian dan sayang istri. Akhirnya kamu dapat apa yang kamu mau, kan?"


" Hehe, iya sih, Ma." Azkia terkekeh.


Sementara di halaman belakang rumah Yoga, Raffasya menghampiri pria paruh baya itu yang terlihat serius merawat hewan peliharaannya.


" Assalamualaikum, Pa." sapa Raffasya.


" Waalaikumsalam, eh, Raffa ... sama siapa kamu kemari, Nak?" Yoga menolehkan wajahnya ke arah Raffasya.


" Sama May dan Naufal, Pa." Raffasya mengulurkan tangannya ingin menyalami Papa mertuanya itu.


" Tangan Papa kotor, sebentar Papa cuci tangan dulu." Yoga kemudian menaruh kelinci ke dalam kandangnya dan segera mencuci tangannya menggunakan sabun.


" Kamu habis dari mana, Nak?" tanya Yoga saat Raffasya mencium punggung tangannya.


" Habis jalan-jalan di area car free day, Pa." sahut Raffasya.


" Oh, mana Naufalnya?" tanya Yoga karena tidak melihat kehadiran Azkia dan Naufal bersama Raffasya.


" Naufal sama Mama, Pa."


" Hmmm, Naufal kalau sudah di tangan Maminya, habis dia diunyel-unyel." Yoga tertawa kecil membayangkan bagaimana sikap istrinya terhadap cucu pertamanya.


Raffasya tersenyum menanggapi perkataan Yoga.


" Oh ya, Pa. Tadi waktu sarapan di luar kami bertemu dengan Pak Diding, orang yang menolong Raffa saat kecelakaan dulu." Raffasya menceritakan jika tadi dia bertemu dengan Diding.


" Bapak supir angkot itu? Bagaimana kabar dia?" tanya Yoga mengajak Raffasya duduk di kursi teras belakang.


" Dia tadi mau narik angkot," sahut Raffasya.


" Papa sedang mencari supir untuk menempati posisi Pa Hasan. Pak Hasan kemarin minta ijin ke Papa kalau dia berniat pensiun. Menurut kamu bagaimana kalau Diding, Papa tarik sebagai supir pribadi, Raffa? Anggap saja sebagai bentuk balas budi terhadap bantuan dia dulu, walaupun kemarin juga Papa sudah kasih imbalan ke dia, tapi mungkin kalau diberi pekerjaan mungkin akan lebih baik." Yoga berniat mempekerjakan pria yang sudah menolong menantunya itu.


" Terserah Papa saja, sepertinya Pak Diding memang orang baik. Raffa juga tadi minta nomer telepon Pak Diding karena kemarin Raffa nggak sempat save nomernya. Raffa pikir barangkali sewaktu-waktu Raffa butuh orang untuk bekerja, Raffa mau panggil Pak Diding saja, Pa." Raffasya pun ternyata sependapat dengan Papa mertuanya.


" Syukurlah kalau kamu sependapat. Nanti Papa minta tolong kamu hubungi Diding nya."


" Baik, Pa." Raffasya menyahuti. " Oh ya, Pa. Soal penyebab Raffa kecelakaan kemarin, May sudah tahu karena tadi Pak Diding menyinggung soal pelaku dan May curiga hingga memaksa Raffa untuk cerita masalah yang sebenarnya." Raffasya menerangkan kepada Yoga bahwa rahasia yang ditutupi oleh Raffasya dan keluarga Azkia soal kecelakaan Raffasya kemarin sudah diketahui oleh Azkia.


" Ya sudah nggak apa-apa, mungkin Kia juga harus tahu agar dia juga bisa hati-hati." Yoga memaklumi keputusan yang diambil oleh Raffasya.


" Ayo kita masuk saja, Papa mau ketemu sama Naufal." Yoga kemudian bangkit dan mengajak menantunya untuk bergabung dengan istri-istri mereka di dalam.


***


Azkia membuka pesan yang masuk ke ponselnya yang berasal dari Mamanya. Saat dia membuka pesan itu ternyata pesan gambar seorang bayi perempuan mungil yang sedang tertidur pulas.



" Rayya semalam sudah melahirkan, baby nya cantik dan imut banget ya, May?" Itu pesan yang dikirimkan Natasha.


" Masya Allah, cantik banget baby nya," ucap Azkia mengagumi bayi mungil anak dari sepupunya, Rayya dan Ramadhan. Dia pun lalu membalas pesan dari Mamanya itu.


" Siapa, May?" tanya Raffasya yang sedang menemani Naufal yang kini sudah berusia empat bulan di atas playmate di kamarnya sebelum berangkat ke cafe.


" Rayya sudah melahirkan, Kak." Azkia menyodorkan ponselnya menunjukkan foto bayi anak dari Rayya kepada suaminya. " Cantik kan, Kak?"


" Iya." Raffasya memperhatikan gambar bayi mungil itu.


" Kayak Mamanya, ya?" Azkia iseng menggoda suaminya yang pernah menyukai Rayya.


Raffasya melirik ke arah istrinya lalu tersenyum seraya mengembalikan ponsel itu kepada Azkia.


" Jangan mulai memancing deh, May. Nanti malah kamu yang senewen," sindir Raffasya.


" Mau nengokin kapan?" tanya Raffasya.


" Besok saja, besok Kak Raffa nggak ke cafe, kan?"


" Boleh, kamu sudah beli kado untuk anaknya Rayya, May?" tanya Raffasya kemudian.


" Sudah aku siapkan dari seminggu yang lalu, Kak." Karena hasil USG anak Rayya baby girl, Azkia sudah menyiapkan kado yang akan diberikan untuk keponakannya jika lahir nanti.


" Ya sudah kalau sudah kamu siapkan," sahut Raffasya. " Aku berangkat dulu ya, May!?" Raffasya menggendong Naufal di lengannya kemudian menyerahkan kepada Azkia.


" Iya, Kak."


" Naufal sama Mama dulu ya, Nak. Papa mau kerja dulu, nanti kalau Papa pulang kita main lagi." Raffasya mencium pipi Naufal.


" Iya, Pa. Jangan sore-sore pulangnya ya, Pa!" Azkia menggerakkan tangan Naufal, mengajarkan anaknya itu mencium tangan Raffasya walaupun Naufal masih belum paham soal kebiasaan sikap sopan santun terhadap orang tua itu.


" Iya, nanti Papa usahakan pulang cepat." Raffasya mengusap wajah anaknya penuh rasa sayang.


" Aku berangkat, May." Kini Raffasya mengecup kening Azkia dan Azkia pun membalas dengan mencium tangan suaminya itu.


" Hati-hati bawa mobilnya ya, Kak." Azkia menasehati agar Raffasya tidak kebut-kebutan.


" Iya, Sayang. Cup ..." Sebuah kecupan dari bibir Raffasya kini mengarah ke pipi kanan Azkia membuat wajah Azkia bersemu merah.


" Kamu kayak ABG saja, May. Dicium langsung bersemu merah malu-malu kayak gitu." Raffasya terkekeh sengaja meledek istrinya.


" Bukan malu-malu, Kak. Cuma aku masih nggak menyangka saja sekarang ini kita sudah menikah dan punya anak." Azkia menepis anggapan suaminya.


" Itu namanya takdir, May. Ya sudah, aku berangkat sekarang, ya!" Raffasya berpamitan kepada Azkia.


" Aku antar sampai teras, Kak." Azkia ingin mengantar suaminya itu turun sampai teras rumah.


" Sini aku saja yang gendong Naufal kalau kamu mau antar sampai teras." Karena Azkia berniat mengantar sampai teras, Raffasya meminta Naufal untuk dia gendong kembali karena dia merasa kasihan melihat Azkia harus menggendong Naufal yang semakin berat turun dari tangga.


***


Mobil Raffasya terparkir di rumah milik Ramadhan dan Rayya karena Rayya ternyata sudah pulang dari rumah sakit siang tadi. Di halaman rumah milik asisten dari Angkasa Raya Group itu terparkir beberapa mobil. Sudah dipastikan mereka adalah kerabat dari Rayya dan Ramadhan yang datang untuk menjenguk Rayya dan bayinya.


Raffasya membuka seat beltnya lalu turun dari mobil untuk membuka pintu dan membantu Azkia yang menggendong Naufal untuk turun. Setelah itu mereka berdua berjalan ke teras rumah Ramadhan yang pintunya terbuka. Terdengar suara orang-orang yang sedang berbincang dari ruangan tamu.


" Assalamualaikum ..." Azkia dan Raffasya mengucapkan salam ketika sampai di depan pintu rumah.


" Waalaikumsalam ..." Orang-orang di dalam rumah Ramadhan membalas salam yang diucapkan pasangan suami istri itu.


Terlihat Gavin beserta Azzahra, Ricky bersama Anindita yang ada di ruangan tamu itu.


" Eh, ada Naufal ..." Azzahra langsung berjalan mendekat ke arah Azkia.


" Auntie, selamat ya, atas kelahiran baby girl nya Rayya." Azkia mencium tangan dan memberi pelukan kepada Auntie nya itu.


" Terima kasih, Kia. Naufal sini digendong sama Uti Rara." Azzahra mengambil Naufal dari Azkia.


Azkia dan Raffasya pun kemudian bersalaman bergantian kepada semua orang yang ada di ruangan itu.


" Sudah berapa bulan Naufal, Kia?" tanya Anindita saat Azkia menyalami Anindita.


" Empat bulan, Tante." sahut Azkia.


" Nggak sangka kalian, Kia dan Rayya masih muda sudah pada punya anak. Sudah jadi Mama-mama muda sekarang, ya?" Anindita tersenyum mengingat usia Azkia dan Rayya yang baru dua puluh tiga tahun sama-sama kompak mempunyai anak.


" Biar melanjutkan keakraban Kia sama Rayya, Tan. Dari Mama sama Auntie, turun ke Kia sama Rayya, berlanjut ke Naufal sama anak Rayya." Azkia terkekeh.


" Tapi 'kan anakmu sama anak Rayya beda jenis kelamin, Kia." Kali ini Gavin ikut berpendapat.


" Nggak apa-apa 'kan, Uncle? Kayak Rayya sama Kak Alden. Kak Alden bisa melindungi Rayya ..." Azkia menganggap tak masalah perbedaan jenis kelamin anak dan anak Rayya.


" Iya memang bagus juga, Naufal bisa menjaga Aisha nantinya," ucap Gavin, tentu dia merasa senang ada Naufal yang kelak akan menjaga cucunya seperti Alden menjaga Rayya.


" Nama baby nya Rayya, Aisha, Uncle? Di mana Baby Aisha sekarang?" tanya Azkia.


" Ada di kamar Rayya," sahut Azzahra.


" Kia mau nengokin Baby Aisha dulu ya, Uncle, Auntie, Om, Tante ..." Azkia berpamitan ingin melihat bayi dari Rayya. " Kak Raffa mau ikut?" Azkia menawarkan suaminya.


" Aku di sini saja, May." Raffasya menolak dan memilih duduk berbincang dengan para seniornya itu.


" Kalau gitu aku ke Rayya dulu ya, Kak!?"


Raffasya menganggukkan kepalanya mengijinkan istrinya itu untuk menengok Rayya dan Baby Aisha.


" Assalamualaikum ..." Azkia mengetuk pintu lalu membuka pintu kamar Rayya.


" Waalaikumsalam ..." Rayya dan Ramadhan menyahuti bersamaan.


" Iiihh, Kak Rama bisa gendong bayi, ya?" Azkia terkejut saat melihat Ramadhan sedang menggendong anaknya sementara Rayya terlihat sedang menyantap makanan. " Selamat atas kelahiran babynya ya, Ray." Azkia memeluk Rayya terlebih dahulu setelah Rayya menaruh piring bekas makannya.


" Makasih, Kia." sahut Rayya.


" Tentu saja bisa! Memangnya suamimu nggak bisa gendong bayi?" sindir Ramadhan menanggapi ucapan Azkia.


" Waktu baru lahir sih, Kak Raffa takut suruh pegang Naufal," aku Azkia jujur.


" Sayang, kau dengar, kan? Aku lebih hebat dari suaminya Kia itu!" Ramadhan merasa bangga karena merasa unggul dibanding Raffasya.


" Jangan suka membandingkan begitu dong, Mas." Rayya menegur suaminya.


" Tapi memang suamimu ini lebih ahli dalam menggendong bayi, kan?" Ramadhan tetap merasa sanggup mengalahkan Raffasya.


" Kak Raffa juga keren kok, bisa ngurus Naufal dengan baik. Kalau malam bangun buat gantiin pampers Naufal, siapin ASI buat Naufal." Azkia tak segan menyanjung suaminya di hadapan Ramadhan dan Rayya.


" Kamu kok bisa berubah cinta gitu ya sama mantan musuhmu itu? Yang pacaran bertahun-tahun bisa hilang dalam sekejap, ya?" sindir Ramadhan kembali.


" Mas, jangan suka mengungkit-ungkit masalah itu, deh!" Rayya kembali menegur Ramadhan karena merasa suaminya itu tidak pantas menyinggung soal mantan kekasih Azkia.


" Karena buat aku, Kak Raffa itu paling the best, deh! Kak Rama saja sih, lewatlah ..." Azkia mengibas tangan ke udara seolah menyepelekan suami dari sepupunya itu. Dia lalu meminta Baby Aisha dari tangan Ramadhan.


" Siapa nama lengkap Baby Aisha, Ray?" Azkia duduk disamping Rayya sambil menggendong Baby Aisha. Sementara Ramadhan memilih keluar dan bergabung dengan kedua orang tua dan mertuanya.


" Aisha Lashira Shafiqa." Rayya menyebutkan nama putrinya bersama Ramadhan.


" Namanya cantik sekali," sahut Azkia. " Artinya apa, Ray?"


" Anak perempuan yang cerdas, lemah lembut dan penuh kasih sayang. Semoga Aisha menjadi anak seperti arti dari namanya itu." Rayya menatap anaknya dengan wajah bahagia.


" Aamiin Ya Rabbal Alamin, oh ya Baby Aisha panggil kamu dan Kak Rama apa? Mommy sama Daddy juga?" sindir Azkia terkekeh.


" Nggak, Kia. Nanti Aisha panggil Ayah sama Bunda saja ya, Nak?" Rayya mengusap pipi Aisha dengan punggung tangannya.


" Hmmm, bagus juga tuh panggil Ayah sama Bunda, di keluarga kita nggak ada yang panggil ayah bunda, kan?" Azkia pun setuju dengan panggilan Baby Aisha untuk kedua orang tuanya itu.


*


*


*


Bersambung ..


Happy Reading❤️