MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Rencana Azkia dan Natasha



Rosa membulatkan matanya mendengar cerita Gibran tentang wanita yang disebut Gibran sebagai wanita yang akan menggantikan mantan kekasih Gibran itu. Jika dilihat dari ciri-ciri yang disebutkan oleh Gibran tadi sangat mirip dengan kata-kata yang disebutkan olehnya saat mereka berbincang di kampus beberapa hari lalu.


" Hmmm, maksud Kak Gibran apa, ya?" Rosa tidak cukup percaya diri menanyakan kepada Gibran, apakah wanita yang dimaksud Gibran adalah dirinya.


" Maksud aku? Aku hanya minta pendapat kamu kira-kira aku punya kesempatan nggak untuk jadi pacar cewek itu? Menurut kamu apa cewek itu berkata begitu sama saja dengan dia menolak aku?" tanya Gibran mencoba memancing reaksi Rosa.


Rosa terdiam, dia bingung harus menjawab apa? Sementara jantungnya berdegup tak beraturan.


" Ca? Kamu masih dengar aku, kan?" tanya Gibran karena Rosa tidak merespon pertanyaannya cukup lama.


" Eh, Oh iya, Kak. Kenapa?" Rosa merasa serba salah saat ini.


" Kamu melamun, ya?" tanya Gibran.


" Ng-nggak kok, Kak!" sanggah Rosa menyangkal anggapan Gibran yang mengatakan dirinya melamun. Rosa memang tidak melamun namun lebih tepatnya tertegun.


" Kok nggak jawab pertanyaan aku tadi?" Menyadari Rosa yang nervous, Gibran semakin asyik menggoda gadis cantik itu.


" S-saya nggak tahu harus jawab apa, Kak?" aku Rosa jujur karena dia sendiri bingung harus menjawab apa.


" Kamu nggak tahu harus jawab apa? Tapi kamu bisa bantu aku, kan? Bantu aku cari cara biar cewek itu mau menerima aku jadi kekasihnya." Mungkin Rosa tidak tahu jika saat ini Gibran sedang mengembangkan senyuman lebar karena berhasil menggoda Rosa dan membuat gadis itu salah tingkah.


" Hmmm ...."


" Nggak usah jawab sekarang, Ca. Anggap saja ini PR. Aku sedang kesulitan mencari cara untuk dapatin cewek itu, dan kamu harus bantuin aku cari cara yang jitu untuk membuat hati cewek itu luluh. Oke, Ca!? Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya, ya!? Barangkali kamu mau istirahat karena besok kamu ada acara, kan? Jangan lupa bantu aku, ya!? Assalamualaikum ..." Gibran sengaja mengakhiri sambungan teleponnya hingga sukses membuat semakin Rosa bingung.


" Waalaikumsalam ..." sahut Rosa kemudian menutup panggilan telepon tadi.


Rosa menghela nafas panjang lalu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur selesai berbicara dengan Gibran melalui telepon. Pikirannya seketika kacau setelah Gibran kembali mengatakan ciri-ciri wanita yang ingin pria itu jadikan kekasih sangat mirip dengannya. Bukan mirip, namun Rosa yakin yang dimaksud Gibran memang dirinya. Dia bingung apakah Gibran benar serius atau hanya bercanda? Tapi jika hanya bercanda, kenapa Gibran sampai datang ke rumah Lusiana.


" Duh, aku harus gimana, ya?" Rosa menggigit bibirnya sementara hatinya terus berdebar. Dia tidak bisa menampikkan jika apa yang dikatakan Gibran tadi sukses membuat hatinya berbunga-bunga.


***


Gibran memang serius dengan niatnya mendekati Rosa. Hampir setiap hari pria berusia dua puluh delapan tahun itu berkomunikasi via telepon baik sekedar kirim pesan dan malam harinya akan menelepon Rosa. Tak jarang juga Gibran mendatangi Rosa di kampus saat dia keluar dari kantornya ketika jam makan siang.


Gibran tidak mempermasalahkan jika Abhinaya akan memergokinya kembali dia datang hanya untuk menemui Rosa, begitu juga jika Yoga tahu. Abhinaya sendiri tidak ingin ikut campur dengan kedekatan Gibran dengan Rosa. Dia hanya diminta menjaga Rosa agar tidak jatuh ke tangan pria yang berniat jahat kepada gadis itu. Sementara Abhinaya sangat kenal mantan calon kakak iparnya itu bukanlah pria yang jahat, jadi dia merasa Rosa berada di tangan yang tepat walaupun Abhinaya sendiri tidak pernah menceritakan kepada Azkia tentang keakraban Rosa dan Gibran.


" Ca, cowok yang suka ke sini itu pacar kamu, ya?" tanya Yanti saat Rosa sedang membereskan bukunya ke dalam tas karena jam mata kuliah terakhir telah selesai.


" Bukan, kok. Hanya teman saja." Rosa masih malu mengakui jika Gibran adalah pacar karena dia memang belum berpacaran dengan Gibran.


" Teman apa teman?" goda Yanti.


" Memang benar teman, kok." Rosa menyangkal namun warna di wajahnya yang seketika berubah tidak bisa menutupi jika ada sesuatu di hatinya terhadap Gibran.


" Dia sudah punya pacar belum, Ca?" tanya Yanti kemudian.


" Kenapa memangnya?" tanya Rosa.


" Kalau belum punya pacar, aku 'kan bisa daftar jadi pacar cowok itu. Ganteng banget soalnya." Yanti tertawa kecil.


" Dia itu sudah punya pacar, kok!" Seolah menutupi status Gibran yang sebenarnya, Rosa sengaja berbohong kepada Yanti.


" Sudah punya pacar tapi sering ketemu kamu. Apa pacarnya itu nggak marah cowoknya sering datangin kamu di sini? Cowok itu selingkuhi pacarnya, ya?" tebak Yanti menduga-duga.


" Jangan suudzon gitu dong, Yan." sanggah Rosa.


" Hehe ... siapa tahu? Oh ya, kamu jadi ikut nebeng pulang sama aku 'kan, Ca?" tanya Yanti kemudian. Hari ini Raffasya tidak bisa menjemput Rosa karena ada keperluan. Dan Rosa sendiri meminta agar Raffasya tidak menyuruh orang untuk menjemputnya karena dia ingin pulang bersama Yanti yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Lusiana.


" Jadi, dong." sahut Rosa sambil mengambil ponsel di tasnya karena dia mendengar suara ponselnya tiba-tiba berbunyi.


" Assalamualaikum, Kak." sapa Rosa saat mengangkat panggilan masuk dari Gibran.


" Waalaikumsalam, Ca. Aku ada di kantin." sahut Gibran.


" Oh oke, Kak. Aku ke sana sekarang." Rosa segera mematikan panggilan telepon itu.


" Yan, aku ke kantin dulu ya sebentar." Rosa langsung berlari menuju kantin untuk menemui Gibran sebelum dia pulang bersama Yanti.


" Hai, Kak." Rosa menyapa Gibran yang duduk di kursi paling depan dekat pintu masuk kantin Bu Dzul.


" Hai, sudah selesai kuliahnya?" tanya Gibran


" Sudah, Kak." sahut Rosa.


" Duduk dulu sini sambil nunggu kakak kamu jemput." Gibran menyuruh Rosa duduk sebelum jenputannya datang.


" Kakak aku nggak jemput aku karena ada keperluan kok, Kak." ujar Rosa memberitahukan jika dia tidak dijemput siang ini.


" Oh ya? Lalu kamu pulang sama siapa?" Gibran terlihat senang saat mengetahui tidak ada Kakak Rosa yang menjemput gadis itu pulang. Dia jadi mempunyai kesempatan untuk mengantar Rosa kembali.


" Sama teman aku, Kak." Rosa menjelaskan dengan siapa dia akan pulang siang ini.


" Cowok apa cewek?" selidik Gibran, dia menduga jika teman yang akan mengantar Rosa adalah Abhinaya.


" Cewek." Jawaban dari Rosa membuat hati Gibran lega. Setidaknya dia tidak harus bersaing dengan anak dari dosennya dulu.


" Kalian mau pergi ke suatu tempat?" Gibran ingin tahu apakah Rosa dan temannya mempunyai tempat tujuan lain selain pulang ke rumah.


" Nggak, Kak. Mau langsung pulang ke rumah." jawab Rosa.


" Kalau begitu aku saja yang antar kamu pulang, ya!?" Dengan cepat Gibran menawarkan jasanya untuk mengantar Rosa pulang.


" Aku nggak mau merepotkan Kak Gibran." Rosa menolak tawaran Gibran karena dia tidak ingin merepotkan pria itu.


" Nggak merepotkan, kok! Kan sekalian aku balik ke kantor." Gibran beralasan karena memang jalan menuju kantornya dan rumah Lusiana menggunakan jalan yang sama.


" Ca, ayo jadi nggak!? Katanya mau ikut pulang!" Suara Yanti terdengar muncul dari arah pintu kantin mengajak Rosa pulang.


" Oca nanti pulang sama saya!" Gibran yang menjawab ucapan Yanti.


" Benar, Ca?" Yanti bertanya kepada Rosa untuk meyakinkan apa yang dikatakan Gibran itu benar.


" Hmmm, iya, Yan." sahut Rosa ragu.


" Ya sudah, aku duluan ..." Yanti pun meninggalkan Rosa setelah mendapat jawaban dari Rosa.


" Kamu mau pulang sekarang?" tanya Gibran kemudian.


" Iya, Kak." sahut Rosa.


" Ayo ..." Gibran lalu bangkit. " Sebentar aku mau bayar makanan dan minumanku dulu. Kamu nggak mau pesan apa-apa?" tanya Gibran kemudian.


" Nggak, Kak. Makasih." Rosa menolak.


" Oke ..." Gibran berjalan menemui Bu Dzul untuk membayar makanan yang telah dia pesan tadi lalu bersama Rosa keluar dari kantin untuk mengantar gadis itu pulang ke rumah Lusiana.


***


Besok akan dilaksanakan acara akad nikah Lusiana dan Fariz. Kedua orang tua Raffasya itu akhirnya memutuskan segera menikah. Apalagi saat ini Fariz sudah mulai bekerja di Jakarta. Suasana di rumah Lusiana sudah pasti sangat ramai dengan keluarga Lusiana termasuk Raffasya, Azkia dan Naufal. Karena besok akan di adakan pesta kecil-kecilan dengan beberapa kerabat dan tetangga di sekitar rumah Lusiana. Hingga lepas Isya akhirnya keluarga Lusiana termasuk anak, menantu dan cucu dari Lusiana itu akhirnya kembali ke rumah masing-masing.


" Assalamualaikum, Kak." sapa Rosa saat mengangkat panggilan masuk dari Gibran.


" Waalaikumsalam ... kamu sudah tidur, ya? Aku telepon dari tadi tapi baru diangkat." tanya Gibran karena ini kelima kali panggilan telponnya yang akhirnya bisa terangkat oleh Rosa.


" Oh, maaf, Kak. Saya tadi di luar kamar. Soalnya hari ini di rumah lagi repot untuk persiapan pernikahan Papa sama Mama Lusi." Rosa menjelaskan alasannya tidak mengangkat panggilan telepon dari Gibran tadi.


" Oh, sorry ... aku ganggu kamu, ya?" Kali ini Gibran yang meminta maaf.


" Nggak kok, Kak. Ini baru selesai dan saya juga baru masuk kamar," sahut Rosa.


" Jadi besok Papa kamu menikah sama Tante Lusi? Selamat ya, Ca." Gibran memberikan ucapan selamat kepada Rosa.


" Terima kasih, Kak."


" Kalau kamu undang aku ke sana, aku pasti akan datang, sekalian bisa ketemu sama Papa kamu dan membicarakan hal selanjutnya," ucap Gibran terkekeh.


" Membicarakan hal selanjutnya apa, Kak?" Kening Rosa berkerut mendengar ucapan Gibran.


" Minta ijin ke Papa kamu supaya mau kasih kamu buat aku." Gibran kembaki tertawa kecil karena berhasil menggoda Rosa.


Wajah Rosa bersemu seketika, untung saja Gibran saat itu tidak ada di hadapannya jadi dia tidak repot menyembunyikan warna mukanya saat ini.


" Kak, jangan godain saya terus, dong." Rosa merasa malu digoda Gibran terus seperti itu.


" Kamu jangan panggil saya-saya terus dong, Ca. Terlalu formal kedengarannya." Gibran meminta Rosa mengganti sebutan saya agar lebih akrab.


" Iya, Kak. Kak Gibran mau datang ke sini besok?" tanya Rosa menanggapi serius perkataan Gibran.


" Aku nggak ingin bikin kacau acara sakral pernikahan orang tua kamu, Ca. Jangan sampai saat sedang pengucapan ijab qobul terganggu karena Mama kamu lihat aku datang dan langsung marah terus usir aku lagi. Nanti jadi heboh dong, kedatanganku itu." Gibran berkelakar.


" Ya sudah, kamu istrirahat saja, besok kamu pasti akan repot banget dan pasti harus bangun pagi, kan? Jadi sebaiknya kamu istirahat saja. Aku tutup teleponnya, ya!? Assalamualaikum ..." Gibran memberikan kesempatan untuk Rosa beristirahat.


" Iya, Kak. Waalaikumsalam ..." sahut Rosa.


***


" Bumil auranya cantik sekali ..." Raffasya memuji kecantikan istrinya yang hari ini mengenakan gaun berwarna merah muda. Pagi ini mereka bersiap untuk berangkat ke rumah kediaman Lusiana untuk menghadiri acara akad nikah Fariz dan Lusiana. Kedua orang tua Raffasya itu memang menginginkan pernikahan sebelum Azkia melahirkan yang dijadwalkan akan melahirkan dua Minggu yang akan datang.


" Cantik dong, Pa! Istrinya siapa dulu?" Azkia terkekeh. " Sudah siap semua, Pa?" tanya Azkia kemudian mengambil clutch bag nya.


" Sudah, dong! Ayo ...!" Raffasya menyodorkan lengannya hingga membuat Azkia langsung melingkarkan tangannya di lengan kokoh suaminya tersebut.


" Naufal sudah sama Mbak Atun?" tanya Azkia.


" Naufal sama Opanya," sahut Raffasya kemudian berjalan ke luar kamar mereka.


" Pa, gimana rasanya mau ijab qobul lagi? Grogi, nggak?" tanya Azkia menggoda Fariz saat mereka berada di mobil dalam perjalanan menuju rumah kediaman Lusiana tempat diadakan akad nikah nanti.


" Sedikit nervous, Nak." Fariz yang duduk di samping Raffasya yang sedang mengendarai kendaraan menjawab pertanyaan Azkia seraya terkekeh.


" Masa sudah dua kali merasakan ijab qobul masih grogi saja sih, Pa?"Azkia terkikik.


" Biarpun sudah pengalaman, tapi yang namanya ijab qobul itukan suatu hal yang sakral yang benar-benar dilakukan dengan sepenuh hati. Jadi ketegangan itu tetap ada, walaupun tidak setegang saat pertama kali menikah. Apalagi sekarang ini usia Papa sudah tidak muda lagi, sebenarnya malu juga harus berkali-kali melakukan akad nikah." Fariz kembali terkekeh. Berbeda dengan istrinya yang selalu salah tingkah jika digoda oleh Azkia, Fariz terlihat lebih santai menanggapi candaan menantunya itu.


" Berkali-kali melakukan pernikahan juga niatnya baik, kok. Papa bukan orang yang suka kawin cerai karena hobi." Azkia tidak menyalahkan Fariz dalam hal Fariz akan melakukan acara akad nikah untuk yang ketiga kalinya.


" Apaaaa ..." Naufal yang duduk bersama Atun meminta duduk di pangkuan Opanya yang duduk di depan.


" Naufal mau duduk sama Opa, ya? Sini ..." Fariz meminta Atun menyerahkan Naufal kepadanya.


" Jangan, Opa! Nanti baju Opa kusut! Opa 'kan mau menikah sama Oma. Naufal di sini saja sama Mama, ya!?" Azkia melarang Naufal yang ingin bersama Opanya.


" Eheek ... eheeekk ... Apaaaa ..." Namun Naufal justru merajuk karena dilarang oleh Mamanya.


" Nggak apa-apa, Kia. Kalau kusut nanti tinggal disetrika saja sebentar." Fariz mengulurkan tangannya ke arah Naufal dan mengambil tubuh Naufal lalu menaruh di pangguannya membuat bocah yang merajuk itu terdiam dan menyandarkan tubuhnya di dada Opanya.


" Naufal sayang sama Opa, ya?" Fariz mengusap pucuk kepala cucunya itu.


" Naufal sepertinya akan keras kepala sepertimu, Nak." Fariz menoleh ke arah Raffasya.


" Nggak apa-apa seperti Papanya, Opa. Papanya baik, kok! Cuma agak bandel saja waktu kecil, tapi itu karena Papa sama Mama berpisah. Selebihnya Papanya Naufal itu benar-benar suami idaman banget, kok." Azkia membela dan memuji suaminya.


Raffasya melirik istrinya dari kaca spion seraya tersenyum.


" Mama sudah bucin sama Papa tuh, Nak." Raffasya kemudian menimpali perkataan istrinya.


" Mamang cuma Mama saja yang bucin? Papa juga bucin 'kan sama Mama?" Tanpa merasa canggung dengan orang-orang disekitar mereka, Azkia dengan santainya berkata seperti itu.


" Judulnya Papa Mama Naufal bucin, dong! Benar begitu, Nak?" Fariz ikut menimpali anak dan menantunya yang sedang berdebat kecil


" Next, Opa sama Oma nya Naufal yang bucin." Azkia tergelak membuat semua yang ada di dalam mobil itu tertawa termasuk Naufal yang ikut tertawa karena melihat semua orang tertawa.


***


" Assalamualaikum ..." Azkia memasuki kamar Lusiana, dia melihat Mama mertuanya itu sedang dipakaikan kebaya oleh MUA.


" Waalaikumsalam ..." Lusiana melihat dari cermin bayangan Azkia yang masuk ke dalam kamarnya.


" Kamu sudah datang, Kia?" tanya Lusiana


" Sudah, Ma. Mama belum selesai?" tanya Azkia.


" Sebentar lagi, Mbak." Kata Mbak MUA yang mendandani Lusiana.


" Mama cantik banget, deh. Kayak anak perawan yang bentar lagi melepas masa gadisnya." Azkia terkekeh meledek Lusiana.


" Mbak ini bisa saja." Mbak MUA sampai tertawa mendengar candaan Azkia.


" Naufal mana, Kia?" Lusiana mengalihkan pembicaraan agar Azkia tidak terus menggodanya.


" Naufal sama Opanya, Ma. Dari tadi mintanya ikut sama Opanya terus." Azkia menyahuti dengan pandangan mata terus menatap Lusiana.


" Kia senang, akhirnya keinginan Kia dan Papanya Naufal tercapai. Selamat ya, Ma." Azkia memang tidak bisa menutupi rasa bahagianya saat ini.


" Mama belum ijab qobul, Kia. Nanti saja ucapan selamatnya." Lusiana sepertinya agak grogi menghadapi pernikahan kedua kalinya dengan pria yang sama.


" Nggak apa-apa kali, Ma. Nanti kalau sudah ijab qobul tinggal ngucapin untuk kedua kalinya." Azkia menyeringai.


" Ma ..." Suara Raffasya terdengar dari arah pintu kamar Lusiana. Pria itu lalu masuk ke dalam kamar Lusiana setelah Lusiana memakai kebaya berwarna broken white.


" Mbak, Mama sudah selesai diriasnya, kan?" tanya Azkia kepada Mbak MUA. Azkia ingin memberikan ruang suaminya dan Mama mertuanya itu berbicara berdua.


" Sudah, Mbak."


" Kita keluar dulu, Mbak. Suamiku mau bicara sama Mamanya." Azkia berbisik kepada Mbak MUA.


" Oh, iya-iya, Mbak." Mbak MUA itu pun mengerti apa yang dimaksud oleh Azkia.


" Kia keluar dulu ya, Ma." Azkia berpamitan kepada Lusiana kemudian keluar kamar Lusiana meninggalkan Lusiana dan Raffasya berdua di kamar.


" Mama cantik sekali pagi ini ..." Raffasya mengulurkan tangannya ke arah Mamanya dan mengajak Lusiana duduk di tepi tempat tidur. Dia sendiri segera menarik kursi rias dan meletakkan di depan Lusiana duduk kemudian dia duduk di hadapan Lusiana.


" Hari ini Raffa sangat bahagia, Papa dan Mama akhirnya akan bersatu kembali." Raffasya menggenggam tangan Lusiana. " Ini yang selalu Raffa harapkan sejak dulu. Semoga Papa dan Mama selalu mendapatkan kebahagian di pernikahan kedua ini. Tetaplah bersama sampai akhir hayat. Tetaplah bersama hingga terus bisa menemani Raffa, istri Raffa dan anak-anak Raffa. Kami semua sayang sama Mama dan Papa." Raffasya memeluk Mamanya hingga membuat Lusiana meneteskan air matanya dan menangis haru.


" Iiiihhh Papa ini gimana, sih? Mama Lusi belum ijab qobul malah disuruh nangis! Nanti riasan Mama luntur lagi karena air mata." Azkia yang ternyata mencuri dengar pembicaraan suaminya dan Lusiana di balik pintu langsung masuk kembali dan menegur suaminya. Tanpa memperdulikan jika dia sudah mengganggu momen haru ibu dan anak itu.


***


Acara ijab qobul Fariz dan Lusinan berjalan dengan lancar. Acara pernikahan Lusiana dan Fariz dihadari oleh keluarga Yoga yang diwakili oleh Yoga dan Natasha juga keluarga Raditya dan Amara. Tak banyak yang diundang dalam acara tersebut selain beberapa tetangga di sekitar rumah Lusiana.


" Selamat ya, Mbak. Semoga rumah tangga Mbak dan Mas Fariz ini langgeng dan SAMAWA." Raditnya sebagai adik kandung Lusiana memberikan selamat kepada Kakaknya itu.


" Makasih, Dit." Lusiana memeluk adiknya itu.


" Aku ikut senang Mbak akhirnya memutuskan untuk menikah kembali. Dan alhamdulillah jodoh Mbak Lusi masih orang yang sama. Aku berharap Mbak bisa memperbaiki apa yang dulu menyebabkan kalian berpisah." Raditya mencoba memberi wejangan kepada Kakaknya meskipun usia dia lebih muda dari Lusiana.


" Iya, Dit. Mbak sedang berusaha untuk memperbaiki sikap Mbak yang dulu." Dan Lusiana pun tidak tersinggung dinasehati Raditya meskipun dia lebih tua usianya.


" Mas Fariz, aku titip Mbakku ini. Semoga Mas Fariz bisa lebih tahan menghadapi Mbakku ini." Raditya pun menitipkan Kakaknya kepada Fariz.


" Insya Allah, Dit. Mas akan berusaha menjaga Lusi lebih baik dari yang dulu!" tekad Fariz.


Sementara itu di sudut rumah bagian lain, Azkia sedang berbincang dengan Natasha.


" Akhirnya rencana kamu menyatukan Papa dan Mama mertuamu berhasil, Kia. Hmmm ... kamu pasti akan makin disayang sama suami kamu, nih." Natasha tersenyum melirik putrinya yang sedang asyik memasukan potongan buah ke dalam mulutnya.


" Hmmm, pastilah, Ma. Papanya Naufal pasti akan semakin cinta sama aku, karena berhasil menyatukan Papa Mamanya kembali." Dengan mulut penuh dengan buah Azkia menanggapi perkataan Mamanya.


" Kamu bahagia ya, Nak?" Natasha mengusap lengan Azkia.


" Banget, Ma."


" Alhamdulillah, satu anak Mama sudah bahagia dengan rumah tangganya. Mama tinggal memikirkan Kakakmu dalam waktu dekat ini," ucap Natasha.


" Mama mau menikahkan Kak Alden dengan Fa secepatnya?" tanya Azkia.


" Mama masih berembuk dengan Tante Rania apa suaminya itu mengijinkan Fa menikah cepat. Fa itukan seperti Rayya bagi Uncle Gavin," ujar Natasha.


" Iya, iya, Kia paham, Ma. Tapi Kak Alden nya juga masih cuek-cuek saja, sih! Nggak gercep gitu!" Azkia berpendapat jika Kakaknya seperti kurang bersemangat dengan perjodohannya dengan Falisha.


" Mama juga heran, padahal Fa itu cantik dan baik." Natasha agak pusing memikirkan kisah percintaan Falisha dan Alden.


" Kak Alden terlalu cool sama cewek, nggak kayak Abhi. Ma," ucap Azkia menilai sifat kedua saudara laki-lakinya yang berbeda.


" Abhi itu seperti Papamu, Kia."


" Ma, gimana kalau Mama jodohin Abhi sama Oca saja, Ma? Oca anaknya baik kok, Ma." Azkia yang menuruni sikap Natasha yang senang menjodohkan orang mulai mengeluarkan idenya.


" Boleh juga, tuh! Oca belum punya pacar, kan?" Natasha terlihat setuju dengan ide yang disampaikan oleh Azkia.


" Belum, Ma. Kalau Abhi sama Oca, kita 'kan jadi tenang, Ma. Mama mendapat menantu yang baik. Suami aku juga tenang karena adiknya mendapatkan pria yang baik seperti Abhi."


" Mama setuju sama kamu, Kia! Natasha dengan cepat menimpali.


" Nanti kita bicarakan lagi hal ini tapi jangan di sini takut ada yang dengar." Azkia terkikik seraya menutup mulutnya. Dia tidak ingin rencananya itu diketahui orang lain dulu kecuali Mamanya.


*


*


*


Bersambung ..


Happy Reading❤️