
Azkia duduk berselonjor di sofa yang ada di ruang kerja Raffasya, sementara Raffasya sendiri terlihat sibuk menelepon dengan beberapa pihak dari partner bisnisnya yang akan mengadakan even memakai tempatnya, baik di La Grande maupun di Raff Caffee.
Tok tok tok
" Permisi, Mas Raffa tadi cari saya?" tanya Adam yang muncul dari balik pintu. Adam sendiri langsung melirik ke arah Azkia yang duduk di sofa.
" Oh ya, tadi gue mau suruh hubungin Pak Ridwan, yang mau masukin iklan produk dia di radio kita, tapi sudah gue hubungin tadi," sahut Raffasya.
" Ini istrinya Mas Raffa?" Adam kemudian bertanya seraya menatap Azkia karena merasa familiar dengan wanita cantik itu. " Mbak ini 'kan yang waktu itu ..." Adam teringat jika Azkia adalah wanita yang beberapa waktu lalu hampir terjatuh di tangga dan langsung ditolong oleh Raffasya.
" Iya, dia bini gue." Raffasya langsung menginyakan pertanyaan Adam.
" Oh hai, Mbak. Saya Adam, saya asistennya Mas Raffa di sini. Selamat menempuh hidup baru, Mbak. Senang akhirnya dengar Mas Raffa menikah," ungkap Adam mengulurkan tangannya pada Azkia.
" Makasih," sahut Azkia singkat menerima jabatan tangan Adam.
" Ya sudah, kalau gitu saya permisi, Mas Raffa." Adam pun kemudian berpamitan meninggalkan ruang kerja Raffasya.
" Aku bosan di sini, Kak. Aku mau pulang saja," keluh Azkia. " Aku pulang pakai ojek online saja, deh!" Azkia kemudian bangkit dari sofa.
" Lagipula di rumah juga kamu nggak ada kegiatan. Di sini saja sebentar, kalau kamu bosan, kamu bisa ke ruang siaran ikut siaran di sana." Raffasya menahan Azkia yang akan ingin pulang dari cafenya.
" Ikut siaran, trus diwanwancara bagaimana aku bisa hamil duluan?" ketus kalimat yang dilontarkan Azkia seraya berjalan meninggalkan Raffasya, tapi Raffasya mengejar langkah Azkia dan menangkap lengan Azkia hingga Azkia tidak berhasil keluar ruang kerja Raffasya.
" Kita ke La Grande kalau kamu bosan di sini." Raffasya kemudian membawa Azkia keluar dari ruangannya.
" Kak, daripada Kak Raffa repot-repot bawa aku ke sana kemari, kenapa nggak biarkan aku pulang saja? Aku nggak akan kabur, kok." Azkia meminta Raffasya mengijinkannya pulang ke rumah Raffasya, saat Raffasya melajukan mobilnya meninggalkan Raff Caffee.
" Istri itu harus nurut apa yang diperintahkan suami. Jangan menjadi istri durhaka!" sindir Raffasya.
Azkia memutar bola matanya. " Tergantung bagaimana suaminya. Kalau suaminya seperti Kak Raffa, siapa juga istri yang mau menurut??" cibir Azkia karena Azkia selalu menganggap Raffasya adalah pria yang selalu membuat kesal karena selalu membuat masalah dan selalu mengganggunya sejak mereka kanak-kanak.
" Oke, aku janji akan bisa jadi suami yang baik, asalkan kamu menggugurkan perjanjian tentang perpisahan setelah bayi ini lahir." Raffasya memberikan syarat kepada Azkia.
Azkia membelalakkan matanya saat Raffasya memintanya membatalkan perjanjian soal rencana berpisah.
" Aku itu ingin seperti Mama, mendapatkan suami yang baik, ganteng, keren, sayang sama keluarga. Benar-benar bisa jadi panutan keluarga, bukan seperti Kak Raffa," ketus Azkia.
" Kalau aku bisa seperti itu, apa kamu bisa menarik permintaan kamu soal perceraian?" Raffasya menantang Azkia.
" Oke, kita lihat saja nanti, apa Kak Raffa bisa buat aku berubah pikiran atau nggak?! Tapi jangan terlalu berharap!" tegas Azkia.
" Oke, deal." Raffasya menyetujui. Setidaknya dia masih mempunyai waktu beberapa bulan lagi untuk menaklukan kekerasan hati Azkia. Karena dia ingin menyelamatkan nasib anaknya. Dia tidak ingin darah dagingnya itu mengalami kehidupan seperti yang dia alami selama ini, walaupun bayinya itu terlahir dari suatu kesalahan.
***
" Hai, Raff ... apa kabar?" Fero menyambut kedatangan Raffasya saat melihat kehadiran bosnya di La Grande.
" Hai, Fer ..." Raffasya melakukan fish bump pada Fero.
" Wah, bawa calon bininya lagi, nih?" Fero menyeringai mendapati Azkia di samping Raffasya. " Hai, gue Fero ..." Fero mengulurkan tangannya ke arah Azkia.
" Kia ... " Azkia menyambut uluran tangan Fero.
" Dia sudah sah jadi bini gue, Fer." Rafffasya dengan cepat menegaskan status Azkia sekarang.
" Hah?? Serius lu, Raff? Memang kapan lu kawinnya? Eh, nikahnya?" Fero terkekeh.
" Weekend kemarin."
" Serius lu, Raff? Kenapa nggak kasih tahu gue, sih?" Fero terlihat kecewa karena Raffasya tidak memberi tahu soal pernikahannya.
" Itu baru akad, nanti party nya menyusul. Rencananya gue juga mau mengadakannya di cafe ini."
Azkia langsung menoleh ke arah Raffasya.
" Memang resepsinya di sini?" Azkia mengeryitkan keningnya. Karena selama ini setiap anggota keluarganya mengadakan acara besar selalu memakai hotel milik Gavin.
" Iya, aku sudah bilang ke Mama dan keluarga kamu kalau wedding party akan diadakan di sini," sahut Raffasya.
" Kenapa Kak Raffa nggak bilang ke aku kalau akan mengadakan acara di sini? Keluarga aku itu kalau mengadakan acara itu di hotel Uncle Gavin." Azkia memprotes keputusan suaminya yang akan menggadakan acara pesta pernikahan mereka di cafe milik Raffa itu.
" Justru karena keluarga besar kamu selalu mengadakan acara di tempat mewah itu, makanya aku bikin acaranya di Caffe ini. Tapi kamu jangan khawatir, aku akan bikin acaranya sebaik mungkin agar keluarga besar kamu nggak merasa malu." Raffasya meyakinkan kalau dia bisa membuat acara wedding party mereka tidak mengecewakan.
Azkia memberengut kesal karena sikap Raffasya yang mengambil keputusan di mana akan diadakan acara pesta mereka tanpa memberitahu dirinya terlebih dahulu.
" Di sini juga oke tempatnya kok, Mbak." Fero membantu Raffasya meyakinkan Azkia agar setuju dengan keputusan suami dari Azkia itu.
" Ya sudah, kamu istirahat saja dulu di ruanganku. Di sana ada kamar barangkali kamu mau ingin berbaring." Raffasya mengajak Azkia ke dalam ruangannya. Dia lalu membuka ruang tidur yang ada di dalam ruangan kerja di cafenya itu.
" Kamu ingin makan apa? Sudah kerasa lapar lagi belum?" tanya Raffasya karena saat ini waktu sudah mendekati pukul tiga siang.
" Aku mau nasi goreng yang pedas ..." sahut Azkia.
Raffasya nampak kaget mendengar jawaban Azkia karena dia pikir istrinya itu akan menolak dengan nada ketus.
" Jangan makan yang pedas, kasihan bayinya."
" Makan nasi goreng nggak pedas itu nggak enak."
" Ya sudah, kamu tunggu sebentar di sini." Raffasya kemudian meninggalkan Azkia dan menyuruh pegawainya untuk menyiapkan apa yang diinginkan Azkia tapi sudah pasti dia tidak memesan nasi goreng dengan level pedas.
" Raff, kayaknya gue ingat di mana gue pernah lihat cewek lu itu. Dia itu 'kan ceweknya Gibran." Fero akhirnya ingat jika saat acara pernikahan dia dengan Fenita, dia mengenal Azkia sebagai kekasih dari Gibran. " Gue ingat waktu gue nikah, Gibran kenalin dia sebagai calon bininya, eh malah sekarang jadi bini lu? Lu sama Gibran berteman juga, kan?"
Raffasya terkesiap, dia sendiri hampir lupa kejadian pertemuan dia bersama Azkia dan Gibran di pesta pernikahan Fero dan Fenita.
" Serius, Raff. Lu nikung Gibran?" Fero masih tak percaya. Apalagi saat dia ingat, pertemuan Azkia dengan Raffasya saat itu juga tidak terlalu baik, apalagi saat itu Azkia terlihat menyindir Raffasya.
" Bukan nikung, Fer. Itu namanya takdir." Raffasya mengelak dituding menikung Azkia dari Gibran, karena dia pun sebenarnya tidak menginginkan semua itu terjadi.
" Bisa saja lu ngelaknya, Raff." Fero tergelak menanggapi sanggahan Raffasya.
" Dia hamil anak gue, Fer."
" What???" Fero langsung terperanjat mendengar pengakuan Raffasya soal kehamilan Azkia.
" Lu serius, Raff??" Fero masih nampak syok mendengar pengakuan Raffasya tadi. Karena Raffasya yang jarang terlihat dekat dengan wanita, rasanya aneh sekali kalau Raffasya sampai menghamili Azkia.
" Gue serius, Fer. Kita terjebak dalam situasi yang rumit." Raffasya akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya tentang dia dan Azkia hingga akhirnya sekarang berada dalam satu ikatan pernikahan.
" Ah, si al! Siapa orang-orang yang menjebak bini lu itu?"
" Salah satunya Gladys."
" Gladys?" Karena Gladys sering datang mencari Raffasya di La Grande, sudah pasti Fero mengenal siapa Gladys yang dimaksud oleh Raffasya.
" Entahlah, pengakuan dari temannya sih, karena dia cemburu, takut gue naksir Almayra."
" Almayra? Siapa?"
" Nama bini gue itu Almayra Azkia. Gue biasa panggil dia Almayra."
" Oh ...."
" Dan salah satu pelaku lainnya adalah cewek yang kemungkinan suka sama Gibran."
" Oh, I see ... jadi kedua cewek itu cemburu sama Kia. Yang satu demen sama lu, satu lagi demen sama Gibran, gitu?" Fero langsung menarik kesimpulan.
" Bisa jadi."
" Lalu bagaimana lu bisa ada di sana?"
" Ya itu dia yang gue bilang tadi, sudah takdir." Raffasya menarik satu sudut bibirnya ke atas.
" Tapi untung saja dia cantik, Raff." Fero menyeringai. " Cuma agak galak," sambungnya.
" Bukan galak lagi dia itu, Fer. Tapi bar-bar ... gue saja sudah berapa kali kena tonjok." Raffasya terkekeh mengingat bagaimana sikap Azkia terhadapnya.
" Gi la! Serius lu pernah ditonjok bini lu? Wah superior banget bini lu." Fero tertawa mengejek.
" Nasib gue, Fer."
" Lu kebanyakan milih-milih sih, dapatnya jadi begitu," celetuk Fero.
" Kapan gue pernah milih-milih cewek?" sangkal Raffasya.
" Maaf, Mas Raffa. Nasi gorengnya sudah jadi." pelayan cafe menghampiri Raffasya dan membawa baki berisi sepiring nasi goreng, sebotol air mineral dan potongan buah melon dan pepaya.
" Oh, oke. Biar gue saja yang bawa." Raffasya mengambil baki dari pelayan wanita di cafe La Grande.
" Gue antar ini dulu buat bini gue, Fer."
" Oke, Raff. Selamat menaklukkan hati bini lu." Fero terkekeh meledek Raffasya sementara Raffasya langsung berjalan ke arah ruang kerjanya.
" May, ini nasi gorengnya sudah matang," ujar Raffasya saat masuk ke dalam kamar istirahat di ruang kerjanya. Namun dia melihat Azkia sudah terlelap di atas tempat tidur dengan kaki menggantung ke lantai.
Raffasya menaruh baki ke atas meja. Dia lalu mengangkat tubuh Azkia dan merapihkan posisi tidur Azkia.
" Aahhh ... Kak Gibran aku ngantuk ... jangan gangguin aku tidur."
Raffasya mengeryitkan keningnya mendengar kalimat yang keluar dari mulut istrinya itu. Dia lalu menghela nafas panjang. Dia tahu jika nama Gibran tidak akan hilang di hati Azkia, hingga dalam mimpinya pun Gibran lah yang disebut oleh Azkia.
Raffasya melepas jaketnya dan menyelimuti tubuh bagian atas Azkia, karena memang tidak tersedia selimut di sana. Setelah itu dia keluar dari ruang kamar dan duduk di kursi kerjanya.
***
" Assalamualaikum, Nek." Sebelum Maghrib Azkia dan Raffasya sampai di rumah Raffasya. Mereka yang melihat Nenek Mutia sedang duduk di teras rumah langsung menghampiri dan bergantian mencium punggung tangan Nenek Mutia.
" Waalaikumsalam, kalian baru pulang? Kamu bawa Kia ke mana saja, Raffa? Kasihan dia masih hamil muda, jangan dibawa capek-capek." Nenek Mutia langsung menegur cucunya itu
" Iya tuh, Nek. Dari siang juga Kia sudah pulang ke sini, tapi Kak Raffa larang Kia pulang, malah disuruh ikut muter-muter ke cafenya Kak Raffa. Padahal 'kan Kia capek, butuh istirahat, butuh tidur. Ibu hamil itu 'kan nggak boleh kelelahan ya, Nek?" Azkia mengadu kelakukan Raffasya dengan sedikit mendramatisir.
" Kamu kenapa besikap seperti itu, Raffa? Kamu nggak kasihan istri kamu? Nggak sayang sama bayi kamu?" Kembali Nenek Mutia menegur Raffasya.
" Coba, Nenek nasehati Kak Raffa, supaya jangan menyiksa istri. Gimana istrinya mau sayang, mau nurut kalau selalu memaksakan kehendak?" Dengan melipat tangan di dada Azkia terus saja memprovokasi Nenek Mutia sembari tersenyum sinis.
Raffasya memicingkan matanya hingga membuat kedua alisnya menyatu karena kelicikan istrinya yang mengadukan sikapnya yang segaja ditambah-tambahkan oleh Azkia, sehingga dia terlihat seperti suami yang kejam terhadap istrinya.
" Raffa, Nenek tidak suka kamu bersikap seperti itu kepada Kia! Kalau terjadi sesuatu dengan cicit Nenek ini, Nenek akan marah besar sama kamu, Raffa!" Nenek Mutia kemudian membawa Azkia masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Raffasya. Tentu saja Azkia merasa senang karena suaminya itu ditegur oleh Neneknya sendiri, walaupun selama mengajaknya pergi Raffasya memperlakukannya dengan baik. Dia kemudian melirik ke arah Raffasya lalu menjulurkan lidahnya seolah mengejek suaminya itu.
***
Seperti biasa, setelah makan malam dan sebelum masuk ke kamarnya, Azkia berbincang dengan Nenek Mutia terlebih dahulu.
" Siang tadi apa kehamilan kamu mengalami keluhan, Kia?" tanya Nenek Mutia.
" Nggak kok, Nek. Alhamdulillah." sahut Azkia.
" Syukurlah kalau memang tidak mengalami keluhan."
" Iya, Nek."
" Kia, apa Kia betah tinggal di sini?" tanya Nenek Mutia.
" Hmmm, di sini sepi, Nek. Di rumah Kia ramai. Ramai dengar suara Papa, Mama, adik-adik aku. Aaahh, jadi kangen rumah ..." Di rumah Raffasya memang suasananya lebih tenang dibanding dengan suasana rumah keluarga Kia yang selalu ramai karena lebih banyak penghuninya.
" Sewaktu-waktu, Kia bisa ajak Raffa untuk menginap di rumah orang tuamu agar Kia tidak merasa jenuh dan bosan."
" Boleh, Nek?"
" Tentu saja boleh, Kia." Nenek Mutia mengusap kepala Azkia.
" Tapi pasti Kak Raffa melarang Kia pulang ke rumah Papa aku, Nek."
" Kalau Raffa berani melarang Kia, nanti Nenek yang jewer Raffa biar tahu rasa." Nenek Mutia menebar ancamannya.
" Makasih ya, Nek. Nenek baiiiiiikkk banget." Azkia lalu memeluk Nenek dari suaminya itu. " Kia heran, kenapa cucu Nenek beda banget sifatnya dari Nenek?"
" Raffa itu sebenarnya anak yang baik, hanya saja dia merasa kecewa dengan perpisahan kedua orang tuanya. Dia anak tunggal, namun kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan kesibukan dunianya masing-masing, jadi dia berontak hingga selalu saja membuat masalah, apalagi saat masih sekolah." Nenek Mutia menceritakan sedikit tentang kisah Raffasya kenapa akhirnya bisa menjadi anak yang keras kepala dan selalu membuat masalah terutama saat masih duduk di bangku sekolah dulu.
Sementara di dalam kamarnya, Raffasya sedang membaca artikel di sebuah website helo doc.com tentang bagaimana cara aman melakukan hubungan suami istri saat istri sedang hamil muda.
" Intinya, berhubungan in tim saat hamil muda boleh-boleh saja. Memang bisa memicu kontraksi tapi sifatnya hanya sementara dan tidak memiliki risiko yang signifikan."
Itu sepenggal informasi yang dia dapatkan dari artikel yang dibacanya dari aplikasi goo gle di ponselnya.
*
*
*
.Bersambung ....
Hmmm, kira² mau apa Raffa cari info itu?🤔
Happy Reading❤️