
Azkia mencari nama adiknya di daftar kontak ponselnya. Setelah dia menemukan nama Abhinaya, segera dia melakukan panggilan telpon dengan adik laki-laki satu-satunya itu.
" Assalamualaikum, ada apa, Mbak?" sapa Abhinaya saat mengangkat panggilan telepon Azkia.
" Waalaikumsalam, kamu ada di mana, Bhi?" tanya Azkia.
" Di rumahlah, Mbak. Sudah jam sepuluh begini. Mau digetok palu Thor sama Mama kalau jam segini masih keluyuran di luar?" Abhinaya berkelakar.
" Aaahh, biasanya juga jam segini kamu masih di luar, kok!" sindir Azkia, karena Abhinaya memang sering berkumpul dengan teman-teman satu komplek di perumahan Yoga hingga malam. Yoga memang mengijinkan Abhinaya pulang malam selama masih di lingkungan komplek, karena terawasi jika masih dalam lingkungan perumahannya. Namun itupun tidak lebih sampai jam sepuluh malam.
" Hahaha ... di luar juga di kandang sendiri, Mbak. Nggak ke mana-mana," sahut Abhinaya. " Ada apa Mbak Kia telepon aku malam-malam?"
" Bhi, besok kamu ikut datang di acara makan malam di hotelnya Uncle sama keluarga Papanya Naufal, yuk!" Azkia mengajak Abhinaya ikut datang ke acara makan malam keluarga suaminya karena dia memang berniat mendekatkan Abhinaya dengan Rosa.
" Ngapain aku harus ikut, Mbak? Itukan acara makan malam keluarga suami Mbak, nggak ada urusannya sama akulah, Mbak!" tanya Abhinaya heran.
" Biar kamu lebih akrab dengan Opa Omanya Naufal sama Oca," jawab Azkia.
" Abhi 'kan sudah kenal sama Om Fariz dan Tante Lusi, Mbak. Apalagi sama Oca, hampir tiap hari ketemu di kampus." Abhinaya merasa tidak perlu mengikuti apa yang Kakaknya itu inginkan.
" Biar kamu makin akrab sama Oca, Bhi." Azkia bersikeras ingin mengajak Abhinaya.
" Memang kenapa harus lebih akrab? Mbak, jangan bilang kalau Mbak ingin menjodohkan Abhi sama Oca, deh!" Abhinaya sepertinya bisa menebak apa yang direncanakan Kakaknya itu.
" Memangnya kenapa kalau Mbak ingin jodohkan kamu sama Oca? Oca baik kok, anaknya." Azkia merasa tidak ada yang salah dengan rencananya menjodohkan Abhinaya dengan Rosa.
" Mbak jangan ikut-ikutan seperti Mama, dong! Suka jodoh-jodohin orang!" protes Abhinaya. " Pantas saja Kak Alden jadi bete dijodohkan. Kami ini cowok, nggak pantas lagi diatur-atur kayak anak perawan!" Abhinaya masih terus melancarkan protesnya.
" Isshh, kalian ni, ya! Dikasih pilihan cewek baik-baik nggak pada bersyukur! Fa sama Oca itu wanita baik-baik, asal usulnya juga jelas. Memangnya kalian mau cari cewek yang kayak gimana lagi?" Kali ini Azkia yang mengkritik adiknya.
" Lagian Mbak ngapain sih, jodohin aku sama Oca? Bukannya Oca sendiri sedang dekat sama cowok, ya!?" Karena Abhinaya beberapa kali sempat melihat Rosa dan Gibran, dia lalu beranggapan jika kedua orang itu pasti mempunyai hubungan spesial.
" Hah? Oca sedang dekat sama cowok? Siapa?" Azkia tersentak kaget mendengar kabar yang dia dengar dari adiknya.
" Lho, memang Mbak nggak tahu sekarang ini Oca sedang dekat dengan siapa?" Abhinaya justru terkikik karena ternyata Azkia belum mengetahui kedekatan adik ipar kakaknya dengan mantan kekasih kakaknya dulu.
" Memang sama siapa sih, Bhi?" Azkia semakin dibuat penasaran dengan informasi yang disebutkan oleh Abhinaya.
" Haha, Mbak kenal kok, siapa cowok yang sedang dekat dengan adik ipar Mbak Kia itu." Abhinaya masih belum mau menyebutkan nama pria yang sedang dekat dengan Rosa.
" Astaga, Bhi! Kamu jangan bikin Mbak kamu ini mendadak kontraksi karena penasaran dan langsung melahirkan saat ini juga, dong!" Jiwa kepo Azkia semakin meronta-ronta karena Abhinaya masih menyembunyikan identitas pria itu.
" Sebaiknya Mbak tanya sendiri sama Oca. Dia yang berhak memberitahu bukan aku, Mbak." Abhinaya merasa jika dia tidak berkepentingan untuk memberitahu siapa pria yang dekat dengan Rosa. Dia tidak ingin ikut campur karena Abhinaya merasa itu adalah urusan Rosa dan Gibran, masalah Gibran adalah mantan dari kakak ipar Rosa, biarkan Azkia dan Rosa yang mengetahuinya sendiri.
" Abhiiiii ...!" Azkia semakin kesal dengan sikap Abhinaya yang terkesan tutup mulut.
" Mbak, aku nggak berhak memberitahukan siapa pria itu ke Mbak. Mbak tanya saja langsung ke Oca nya. Tapi Abhi pastikan jika pria itu pria baik-baik, kok! Ya, setidaknya selama Abhi kenal dia, dia memang baik." Suara Abhinaya terdengar dibarengi suara kekehan.
" Sudah ya, Mbak. Aku mau tidur, nih! Ngantuk ... hehe ... selamat merasakan penasaran. Kalau sudah mulai kontraksi jangan lupa kasih tahu Mama ya, Mbak!? Assalamualaikum ..." Abhinaya yang tidak ingin keceplosan karena Azkia terus saja memaksanya untuk bercerita memilih mengakhiri sambungan telepon tersebut.
" Waalaikumsalam ... iiihhh, dasar! Bikin penasaran orang saja!" Azkia menggerutu sambil menatap layar ponselnya.
" Ada apa, Ma?" Suara Raffasya terdengar di belakang Azkia.
" Lho, Papa belum tidur?" Azkia kaget karena dia pikir suaminya tadi sudah terlelap.
" Tadi sudah tidur, tapi dengar suara Mama teriak panggil nama Abhi jadi terbangun," jawab Raffasya.
" Papa dengar aku bicara dengan Abhi?" tanya Azkia.
" Nggak, tadi cuma dengar Mama teriak panggil Abhi. Memangnya kenapa teriak-teriak begitu, Ma?" tanya Raffasya penasaran dan khawatir.
" Itu, Pa. Abhi bilang kalau Oca ini sekarang sedang dekat sama cowok. Dan Abhi kenal sama cowok itu, tapi Abhi nggak mau bilang siapa cowok itu, Pa." Azkia mengadukan kelakuan adiknya yang seperti menyembunyikan sesuatu terhadapnya.
" Ya sudah, nanti besok aku cari tahu siapa cowok itu ke Oca. Mama jangan terlalu memikirkan hal itu. Ingat kandunganmu ini." Raffasya yang tidak ingin istrinya berpikir berat karena penasaran dengan sosok pria misterius yang dekat dengan adiknya menyuruh Azkia untuk segera beristirahat.
" Tapi bagaimana kalau cowok itu berniat nggak baik sama Oca, Pa?"
" Kamu bilang Abhi kenal sama dia, kan? Kalau Abhi kenal berarti dia cowok baik-baik. Kalau cowok itu nggak baik, Abhi pasti sudah bertindak, kan? Sudah sekarang kamu istirahat, Ma. Sudah jam sepuluh lebih. Ibu hamil jangan tidur terlalu malam." Raffasya menuntun istrinya ke arah tempat tidur dan menyuruh istrinya itu istirahat.
***
Hari ini Raffasya tidak sempat mendapatkan informasi dari Rosa tentang pria yang dekat dengan Rosa. Pagi ini Rosa pergi bersama Fariz, sedangkan saat pulang kuliah, Raffasya berhalangan menjemput karena dia memajukan jadwal bertemu dengan orang yang harusnya dijadwalkan dua Minggu ke depan karena dia ingin menemani Azkia saat mendekati masa persalinan.
Malam harinya, Azkia dan Raffasya beserta Naufal dan Uni sampai lebih dahulu di restoran hotel milik Gavin. Selang seperempat jam kemudian Fariz dan Lusiana pun datang bersama Rosa yang malam ini terlihat cantik menggunakan gaun berwarna soft.
" Assalmaualaikum ..." Fariz menyapa Azkia, Raffasya dan juga Naufal.
" Waalaikumsalam, Pa." Azkia dan Raffasya menjawab lalu mencium tangan Fariz dan Lusiana bergantian.
" Kalian sudah lama menunggu?" tanya Lusiana duduk di samping Fariz dan kemudian mengambil Naufal dari Uni.
" Belum lama kok, Ma." sahut Raffasya.
Sementara Azkia memperhatikan Rosa yang malam ini berdandan sedikit berbeda dari biasanya.
" Hai, Kak." Rosa yang melihat Azkia begitu intens memperhatikannya menyapa kakak iparnya itu seraya tersenyum.
" Kamu cantik banget, Ca. Tumben dandan begitu?" tanya Azkia heran.
" Oca mau memperkenalkan seseorang kepada kalian." Fariz membocorkan informasi tentang seseorang yang ingin dikenalkan Rosa kepada keluarganya, membuat Rosa tersipu malu.
" Memperkenalkan siapa, Mas?" Lusiana langsung menoleh ke arah suaminya.
" Oca mau mengenalkan pacarnya, ya? Kok kamu nggak pernah berita ke aku kalau kamu sudah punya pacar, Ca?" Azkia merasa kecewa karena dia pikir adik iparnya itu tidak terbuka kepadanya.
" Dia bukan pacar aku kok, Kak." sanggah Rosa.
" Belum resmi lebih tepatnya." Fariz merevisi ucapan Rosa sambil terkekeh membuat Rosa semakin tertunduk malu.
" Memang siapa sih, Ca? Abhi bilang dia kenal sama cowok itu, dan Kakak juga kenal sama cowok itu." Azkia yang sejak semalam merasa penasaran dengan cerita Abhinaya kini bertanya kepada Rosa.
" Nanti juga kalian akan tahu, karena dia akan datang ke sini untuk dikenalkan kepada kalian." Fariz seperti juru bicara bagi Rosa malam ini
" Papa sudah pernah bertemu sama pria itu?" Raffasya yang sejak tadi hanya mendengarkan kini ikut bicara.
" Belum, makanya Papa kasih kesempatan Oca untuk memperkenalkan pria itu mumpung kita berkumpul di sini," jawab Fariz.
" Apa pria itu pria baik, Ca? Mama kok jadi penasaran siapa pria itu?" Hampir semua orang termasuk Lusiana merasa penasaran dengan sosok calon kekasih Rosa.
" Sabarlah, Lus. Nanti juga pasti ketemu. Tapi kalau sudah ketemu jangan diusir lagi seperti kemarin." Fariz terkekeh menyindir istrinya.
Lusiana menoleh ke arah suaminya dan Rosa Dia menduga jika Rosa sudah menceritakan kepada Fariz tentang perbuatan dirinya yang mengusir Gibran.
" Apa pria itu pria yang datang ke rumah itu, Ca?" tanyanya kemudian.
" Iya, Ma." sahut Rosa.
" Tapi pria itukan ...."
" Dia belum berkeluarga dan belum menikah, Ma." Rosa memotong perkataan Lusiana. " Yang dimaksud keluarga waktu itu adalah orang tuanya bukan istrinya, Ma." Rosa menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi selama ini.
" Papa kenapa waktu itu bilang istrinya sih, Pa!?" Azkia langsung memprotes suaminya yang pertama kali menyebarkan gosip tentang pria befistri.
" Mana aku, Ma. Lagian kenapa Oca menyangkal?" Raffasya menyeringai dan menyalahkan adiknya.
" Oca pikir nggak akan bertemu dia lagi, Kak." Rosa tersipu malu.
" Sampai mana temanmu itu, Ca?" Fariz bertanya kepada Rosa menanyakan keberadaan Gibran saat ini.
" Masih dalam perjalanan kemari, Pa," jawab Rosa.
" Ya sudah, kita makan saja dulu kalau begitu sambil menunggu teman kamu datang. Ayo ..." Fariz mengajak anggota keluarga itu menyantap makanan yang sudah dipesan terlebih dahulu.
Sepuluh menit berlalu, Rosa terlihat gelisah. Berkali-kali dia melihat ke arah pintu masuk restoran berharap kedatangan Gibran. Hingga akhirnya senyum gadis itu mengembang saat melihat pria yang belakang ini perlahan mulai memasuki hatinya muncul dari pintu masuk.
" Assalamualaikum, Om, Tante ..." Gibran menyapa Fariz dan Lusiana saat sampai di depan meja yang ditempati keluarga Fariz.
Suara Gibran yang terdengar membuat Azkia, Raffasya, Lusiana dan Fariz menolehkan wajahnya ke arah Gibran dan mereka semua sama-sama terkejut saat melihat kehadiran Gibran di tengah-tengah mereka.
" Kak Gibran?" Azkia terperanjat.
Tak beda dengan Azkia, Raffasya pun terkejut saat dia mengetahui jika pria yang dekat dengan adiknya adalah Gibran, mantan kekasih istrinya. Begitu juga dengan Gibran, dia juga tersentak kaget saat menjumpai Azkia bersama Raffasya di meja yang sama dengan orang tua Rosa.
" Kia?" Tanpa sadar Gibran menyebut nama Azkia.
" Lho, Kak Kia kenal Kak Gibran?" Rosa pun nampak terkesiap saat mengetahui Azkia ternyata mengenali Gibran.
" Oh, Mama ingat, Mama ingat. Pantas saja waktu Mama melihat kamu, Mama seperti kenal. Kamu itu mantan pacarnya Kia dulu, kan?" Lusiana akhirnya bisa mengenali Gibran dan langsung menyebut jika Gibran adalah mantan kekasih Azkia. Membuat semua yang ada di meja itu terkejut terutama Rosa yang terlihat syok saat mengetahui jika pria yang dekat dengannya itu adalah mantan kekasih kakak iparnya.
" Ma ..." Raffasya menegur Mamanya. Dia tidak menyangka jika Mamanya itu membuka fakta yang sesungguhnya di depan Rosa. Sementara Azkia langsung menggenggam tangan suaminya. Dia takut acara macam malam ini akan menjadi kacau karena kedatangan Gibran.
" Benarkan, Kia? Dia ini mantan pacar kamu?" Lusiana malah mengulang kata-kata itu.
" Itu masa lalu, Tante." Gibran menjawab ucapan Lusiana yang tegas. Dia berusaha move on dan tidak lagi mengingat soal Azkia namun ternyata dia kembali dipertemukan dengan Azkia. Dan yang lebih mengejutkan ternyata wanita yang sedang berusaha dia dekati adalah adik dari pria yang merebut wanita yang dicintainya.
" Silahkan duduk dulu, Nak!" Fariz yang sebenarnya terkejut jika pria yang disukai anaknya adalah mantan kekasih menantunya tetap berusaha bersikap ramah terhadap Gibran dan menyuruh pria itu duduk.
" Terima kasih, Om." Gibran lalu menarik kursi dan duduk di samping Rosa yang menampakkan wajah sedih dan kecewa.
Azkia melirik ke arah Rosa yang hanya tertunduk. Dia tahu pasti gadis itu merasa bingung dengan situasi saat ini. Ketika Rosa sedang merasakan tertarik dengan pria, ternyata pria itu mantan kekasih kakak iparnya. Apalagi Rosa sendiri sudah mendengar dari Gibran tentang kisah percintaannya yang kandas karena kekasihnya itu telah direbut pria lain. dan pria yang telah merebut kekasih Gibran adalah kakaknya sendiri.
" Jadi, kamu pria yang sedang dekat dengan putri saya? Sapa namamu tadi?" tanya Fariz.
" Saya Gibran, Om."
" Om kaget waktu Rosa mengatakan ingin mengenalkan kamu kepada kami, dan Om tidak tahu jika kamu dan Kia dulu pernah saling dekat." Fariz lebih menggunakan bahasa yang lebih halus ketimbang istrinya.
" Oh ya, Gibran. Kamu dekat dengan Oca, apa kamu ada maksud tertentu?" Lusiana ikut bertanya.
" Maksud Tante?" tanya Gibran.
" Ya kamu tahu sendiri kalau anak saya itu sudah merebut wanita yang kamu cintai. Apa kamu sekarang ini mendekati Oca karena ingin membalas perbuatan Raffa dulu?" Lusiana menuduh jika Gibran mendekati Rosa karena mempunyai misi membalas dendam.
" Maaf, Tante. Saya tidak tahu kalau Oca adalah adik Raffa. Dan saya sama sekali tidak punya pikiran untuk membalaskan perbuatan anak Tante atas apa yang pernah dia lakukan kepada saya dulu!" tegas Gibran kini melirik ke arah Raffasya yang juga sedang menatapnya hingga kedua pria tampan yang mencintai wanita yang sama itu beradu pandang.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️.