MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Rencana Babymoon



Saat perjalanan menuju Raff Caffee, Azkia dan Raffasya terlihat beberapa kali saling pandang dengan senyuman saling mengembang di bibir mereka. Sejak penyatuan mereka semalam dan ungkapan perasaan mereka masing-masing membuat dua insan yang sedang dimabuk asmara itu bahagia dengan hati yang banyak dihiasi bunga-bunga. Bahkan ketika mobil mereka berhenti di traffic light, berkali-kali Raffasya menggenggam dan mencium tangan istrinya itu.


" Kita mampir ke Bank dulu ya, May. Mau ganti kartu debit, sudah mau expired," ucap Raffasya yang berniat mengganti kartu ATM nya dengan yang baru.


" Iya, Kak." sahut Azkia.


Tak berapa lama mobil Raffasya sampai di sebuah bank swasta ternama.


" Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" tanya Security saat Raffasya dan Azkia masuk melewati pintu utama bangunan bank tersebut.


" Saya ingin perpanjang kartu debit karena sebentar lagi expired, Pak," sahut Raffasya.


" Mau kartu yang instan atau yang pakai nama di kartunya, Pak?" tanya satpam tadi.


" Yang pakai nama."


" Boleh, sebentar ya, Pak." Security itu lalu mengambil nomer antrian costumer service lalu memberikannya kepada Raffasya. " Siapkan KTP nya ya, Pak. Silahkan, ini nomer antriannya, ditunggu di sebelah sana ya, Pak." Security tadi menunjuk arah deretan kursi tunggu di depan customer service.


" Terima kasih." Raffasya lalu merangkulkan tangannya di pundak Azkia lalu berjalan menuju tempat duduk antrian.


" Aku waktu kecil pernah kepingin jadi teller bank lho, Kak. Soalnya aku lihat jadi teller uangnya banyak." Azkia terkekeh mengingat masa kecilnya setiap di ajak ke bank oleh Mamanya. Dia selalu melihat tumpukan uang di meja teller hingga dia bercita-cita ingin menjadi teller karena saat itu dia pikir uang yang bertepuk itu adalah milik teller pribadi.


" Nggak usah jadi teller, uang kamu sudah banyak, May. Mamamu pebisnis punya banyak butik. Papamu dosen, orang tuanya pengusaha terkenal dan punya banyak perkebunan berhektar-hektar di Bogor, suamimu juga punya cafe, walaupun nggak sekaya Papamu." Raffasya terkekeh menanggapi ucapan istrinya.


" Kak Raffa nggak sekaya Papa tapi Kak Raffa bisa bersikap seperti Papa, dan aku suka itu." Azkia mengusap rahang tegas suaminya.


" Sudah ah, jangan memuji aku di depan umum, takut aku khilaf mengajak kamu bercinta di sini," kelakar Raffasya menyeringai.


" Dasar otak me sum!" Azkia melotot namun dia mengatakannya dengan nada berbisik karena berada di tempat umum.


" Aku mau ke toilet sebentar ya, May." Raffasya pamit kepada Azkia akan ke kamar kecil. " Kamu mau ke toilet juga?"


" Nggak, Kak."


" Ya sudah, aku ke toilet sebentar." Raffasya lalu berjalan ke arah toilet meninggalkan Azkia yang menunggu di bangku antrian dengan beberapa nasabah lainnya.


" Kia ...."


Azkia menoleh saat seseorang memanggil namanya. Dan dia terkesiap saat melihat kemunculan Gibran di hadapannya.


" Kak Gibran?"


" Kamu ada di sini? Dengan siapa kamu ke sini, Kia?" tanya Gibran karena melihat Azkia duduk sendirian.


" Aku ..." Azkia tidak enak hati mengatakan jika saat ini dia sedang bersama Raffasya. " Kak Gibran sendiri sama siapa kemari?" Azkia justru balik bertanya kepada mantan kekasihnya itu.


" Aku sendirian, kebetulan ada yang perlu aku urus di bank ini." Gibran lalu duduk di samping Azkia dan menatap perut Azkia yang semakin membuncit. Wajah kecewa terihat jelas di wajah Gibran. Karena kehamilan Azkia membuat kisah cintanya dengan wanita di hadapannya itu terpaksa kandas.


" Aku menyesal dulu nggak bisa mendampingi kamu pergi ke Bandung, Kia." sesal Gibran yang masih saja menyayangkan dirinya yang tidak bisa mendampingi Azkia ke Bandung beberapa bulan lalu hingga terjadi peristiwa yang akhirnya membuat hubungan dirinya dan juga Azkia berakhir.


" Maafkan Kia, Kak. Kak Gibran jangan menyalahkan diri sendiri. Takdirnya memang seperti ini, harus kita terima walaupun itu sangat mengecewakan dan menyakitkan." Azkia mencoba memberi pengertian kepada Gibran. Dia sangat tahu jika mantan kekasihnya itu kecewa berat karena gagal memiliki dirinya. Bagaimanapun juga dia adalah wanita yang sangat dicintai oleh Gibran sejak kanak-kanak. Dan ironisnya hubungan mereka terpaksa harus berakhir karena kehamilan Azkia oleh pria lain yang notabene adalah pria yang selalu bermusuhan dengan Azkia.


" Rasanya berat untuk melepas kamu, Kia." ungkap Gibran dengan nada pilu menatap wajah Azkia.


Seketika Azkia menjadi serba salah mendapati sikap Gibran yang masih belum ikhlas melepasnya. Gibran terlihat masih mencintainya sedangkan dia sendiri sudah mulai jatuh cinta kepada suaminya.


" Eheemm ..." Suara pria berdehem membuat Azkia dan Gibran tersentak dan menoleh ke arah pria yang tak lain adalah Raffasya.


***


Ddrrtt ddrrtt


Raffasya baru saja selesai di toilet saat ponselnya berbunyi. Dia segera mengambil ponselnya dan menjawab panggilan telepon yang masuk ke ponselnya itu.


" Halo ..." sapa Raffasya menjawab panggilan masuk tersebut.


" Selamat pagi, Pak Raffasya. Saya Rahma dari Wisata Tour & Travel. Saya konfirmasikan pemesanan paket tour & travel yang Pak Raffasya pesan. Kami ingin mengirimkan tiket dan vouchernya ke alamat Raff FM & Caffee, benar ya, Pak?" tanya wanita bernama Rahma itu.


" Iya benar, Mbak." sahut Raffasya.


" Baik, Pak. Kalau begitu akan kami kirimkan segera ke alamat Bapak. Itu saja yang ingin kami sampaikan, jika Bapak perlu informasi tambahan bisa hubungi kami di nomer ini. Selamat pagi, Pak. Semoga perjalanan Bapak nanti lancar & menyenangkan." Wanita itu kemudian menutup panggilan teleponnya.


Setelah mengakhiri percakapan, Raffasya segera keluar dari toilet untuk kembali menemui Azkia di kursi antrian customer service. Namun langkah Raffasya tertahan saat dia melihat seorang pria yang duduk di kursi tempat duduknya yang dia tempati tadi di samping Azkia.


" Gibran?"


Jika saja laki-laki itu bukan Gibran, mungkin Raffasya dengan cepat menyingkirkan pria yang sudah berani duduk di samping istrinya itu. Tapi karena Gibran yang saat ini duduk bersama Azkia, Raffasya pun sebenarnya merasa tidak enak hati bertemu dengan Gibran saat dia bersama Azkia. Karena Raffasya sangat tahu jika Gibran memang menyukai Azkia sejak kecil.


Flashback on


" Rayya mau music box seperti itu? Kak Raffaa juga bisa belikan yang seperti itu." Raffasya yang sedari tadi memperhatikan Rayya yang terlihat menyukai music box pemberian dari Gibran untuk Azkia langsung mendekati Rayya, Azkia juga Gibran.


" Kak Raffa?" Rayya telihat kaget melihat Raffasya muncul di hadapan mereka bertiga


" Kak Raffa nggak boleh dekat-dekat Rayya, nanti Uncle Gavin marah, lho!" Azkia memperingatkan Raffasya. " Tuh, lihat ... Om bodyguardnya melotot terus ke sini." Azkia menunjuk ke gerbang mencari bodyguard yang biasa mengawasi Rayya namun ternyata tak dia jumpai di sana.


" Hahaha ... mana bodyguardnya?" cibir Raffasya seraya menjulurkan lidah.


" Raffa, kamu jangan ganggu Rayya dan Kia!" Gibran memperingatkan Raffasya yang masih saja mengusik dua saudara sepupu itu.


" Diam, kamu! Aku nggak ada urusan sama kamu!" Raffasya menyentak.


" Kak Raffa jangan bentak-bentak Kak Gibran, dong!" Azkia terlihat emosi karena Raffasya membentak Gibran.


" Hahaha, pacarnya jadi dibelain ..." Raffasya tergelak melihat Azkia membela Gibran.


" Iiihh ... Kia nggak pacaran sama Kak Gibran, Kak!" sanggah Azkia. " Masih kecil nggak boleh pacar-pacaran!"


" Nggak pacaran?" Raffasya langsung merebut music box yang ada di tangan Azkia.



" Kak Raffa, kembalikan ...!!" seru Azkia.


" Raffa, berikan kembali ke Azkia!" Gibran nampak geram karena ulah Raffasya.


" Ini apa? Tuh ada love love nya!" Raffasya menunjuk boneka di dalam music box itu. " Ini kamu sama dia, love itu cinta. Berarti kamu sama dia itu cinta-cintaan, hahahaha ..." Raffasya kembali terbahak.


" Kak Raffa nggak boleh nakal terus." Rayya yang ikut kesal dengan tingkah Raffasya langsung menegur anak laki-laki itu.


" Kak Raffa kembalikan punya Kia!" Kini Kia melompat-lompat mencoba meraih music box yang sengaja Raffasya angkat ke atas dengan tangannya.


" Ayo ambil kalau bisa." Raffasya nampak senang mengerjai Azkia.


" Raffa ...!" Gibran membentak Raffasya.


" Apa?!" Raffasya yang dibentak Gibran langsung melotot lalu membusungkan dadanya dan menyenggol dada Gibran seolah menantang Gibran untuk berkelahi.


" Kembalikan benda itu ke Kia!" geram Gibran.


" Kalau aku nggak mau memangnya kamu mau apa? Mau pukul aku? Memangnya kamu berani, gendut?!"


" Kak Raffa, Kak Gibran jangan berkelahi ...!" Rayya nampak ketakutan melihat Raffasya dan Gibran nampak saling tatap penuh permusuhan.


" Kembalikan kataku!" Gibran mengepalkan tangannya siap untuk memukul Raffasya.


" Ini? Kasih barang jelek seperti ini saja bangga banget, sih!" Raffasya lalu melemparkan music box itu ke lantai.


" Kak Raffa jahat ...!!" Azkia yang melihat hadiah pemberian Gibran dilempar oleh Raffasya langsung menangis dan menyerang memukuli Raffasya dengan brutal.


" Kia ...!!" Rayya berteriak kaget melihat Azkia yang memukuli Raffasya.


" Kak Raffa jahat !!" Azkia terus menangis dan memukul Raffasya.


Sedangkan Gibran mencoba untuk menghentikan aksi Azkia namun gerak Azkia yang lincah agak susah dihentikan.


Flashback off


Raffasya menghela nafas dalam-dalam agar dia bisa mengontrol emosinya. Karena dalam hal ini justru dialah yang bersalah telah merebut paksa Azkia dari tangan Gibran.


Raffasya melangkah perlahan mendekati Azkia dan juga Gibran yang duduk bersebelahan.


" Eheemm ..." Raffasya sengaja berdehem untuk mengalihkan pembicaraan sepasang mantan kekasih itu.


" Kak Raffa ...."


" Raffa ...."


Azkia dan Gibran sama-sama tersentak kaget, walaupun Azkia tahu jika saat ini dia datang bersama dengan suaminya, namun tetap saja dia merasa serba salah ketahuan berbincang berduaan dengan mantan kekasihnya. Azkia bahkan segera bangkit dan mendekati suaminya itu.


" Hai, Gib. Apa kabar?" Raffasya mencoba menyapa Gibran seraya mengulurkan tangannya mengajak bersalaman, namun Gibran tak menggubrisnya.


" Aku duluan, Kia." Gibran berpamitan dan berlalu dari hadapan Azkia dan juga Raffasya.


Sungguh hati Azkia merasa sakit melihat Gibran yang masih terlihat kecewa dengan pernikahannya dengan Raffasya.


" Gibran membutuhkan waktu untuk bisa menerima kenyataan kalau kamu saat ini milik aku, May." Raffasya mengusap pundak Azkia. Dia bisa memaklumi sikap Gibran yang masih belum bisa memaafkannya.


" Maafkan sikap Kak Gibran ya, Kak." Azkia tidak ingin Raffasya menyimpan dendam terhadap mantan kekasihnya itu.


" Aku tidak mungkin menyimpan dendam kepada dia, May. Karena aku yang sudah merebut kamu dari dia." Raffasya menyuruh Azkia kembali duduk dan dia pun ikut duduk di samping Azkia seraya merangkulkan tangannya di pundak Azkia, hingga Azkia langsung menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.


Azkia tidak memperdulikan saat ini dia berada di tempat umum, karena Azkia tidak dapat menutupi kesedihannya melihat Gibran yang terlihat masih kecewa atas pilihannya. Dan tanpa disadari oleh Azkia sorot mata Gibran menangkap kemesraan yang ditunjukkan sepasang suami istri itu dari sudut ruangan yang berbeda.


***


" Tadi ada pihak dari tour & travel yang mengantar ini kemari, Pak Raffa." Adam menyerahkan amplop berisi tiket pesawat dan voucher hotel yang Raffasya pesan dari pihak agensi tour & travel.


" Oke, Dam. Lu nggak usah ikutan panggil gue Pak, Dam." Raffasya terkekeh mendengar Adam merubah panggilan terhadapnya.


" Daripada saya kena tegur Nyonya bos, Pak." Adam ikut tertawa kecil menyahuti permintaan Raffasya.


" Oh ya, Dam. Soal ini jangan sampai istriku tahu dulu, aku mau kasih kejutan untuk dia." Raffasya berbisik menunjuk amplop ditangannya.


" Baik, Pak."


" Kalian berdua sedang membicarakan apa sampai berbisik seperti itu?" Azkia yang baru keluar dari toilet menatap curiga suaminya dan Adam yang terlihat berbisik dan menunjuk sebuah amplop coklat di tangan Raffasya.


" Nggak, nggak lagi ngomongin apa-apa kok, May." Raffasya buru-buru menyembunyikan amplop coklat di belakang tubuhnya.


" Bohong! Aku tadi sempat dengar Kak Raffa bilang 'jangan sampai istriku tahu." Azkia merasa jika suaminya itu tidak berkata dengan sejujurnya.


" Benar, May. Untuk apa kami berbohong?" sangkal Raffasya.


" Pak Adam? Kalian tadi sedang bicara apa sampai berbisik-bisik gitu? Ada yang disembunyikan dari saya?" Kali ini Azkia menatap penuh selidik kepada Adam. Dia seperti seorang guru yang mendapati muridnya menyontek saat mengerjakan soal ujian.


" Kami tidak membicarakan hal yang disembunyikan dari Mbak Kia. Kami tadi hanya membahas soal klien yang mengajak bekerja sama dengan pihak radio soal lomba dakwah remaja muslim kok, Mbak."


Peryataan Adam sontak membuat Raffasya dan Azkia terbelalak lebar. Raffasya sampai menelan salivanya mendengar Adam malah menyinggung soal Humaira, karena Adam memang tidak tahu jika karena nama itulah yang membuatnya diikuti istrinya sampai ke tempat kerja.


" Oh, jadi karena sedang membicarakan soal wanita itu kalian berbincang, berbisik dan tidak ingin aku ketahui?" Azkia langsung berkacak pinggang dengan mata melotot ke arah Raffasya. Apalagi saat melihat tangan kanan Raffasya seperti menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya.


" Apa yang Kak Raffa sembunyikan? Sini aku lihat!" Azkia mengulurkan tangan meminta Raffasya memberikan sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya itu.


" Hmmm, saya permisi, Pak Raffa, Mbak Kia." Adam yang melihat akan terjadi keributan antara sepasang suami istri itu memilih berpamitan dan segera kabur dari ruangan Raffasya.


" Aku mau lihat yang Kak Raffa sembunyikan di belakang itu." Azkia kembali meminta amplop yang disembunyikan Raffasya.


" Ini bukan apa-apa kok, May." Raffasya masih berkelit karena dia memang berencana memberi surprise kepada istrinya itu nanti.


" Kemarikan kataku!" perintah Azkia dengan nada tinggi.


Raffasya akhirnya mengalah dengan menyerahkan amplop berisi tiket dan voucher yang dia dapatkan dari agensi tour & travel.


Bola mata Azkia terbelalak melihat tulisan kop amplop berwarna coklat yang menunjukkan nama Wisata Tour & Travel. Dia langsung menatap tajam suaminya.


" Kak Raffa mau berpergian sama wanita itu?? Pantas saja aku nggak boleh tahu! Iiihh ...!! Kak Raffa jahat ...!!" Tanpa membuka dan mencari tahu isi di amplop itu, Azkia yang sudah terbakar cemburu langsung memukuli tubuh Raffasya dengan amplop di tangannya berkali-kali.


" May, tunggu dulu!" Raffasya menangkis beberapa pukulan dari istrinya yang bertubi-tubi.


" Kak Raffa jahat! Berani-beraninya selingkuh! Sekarang mau mengelak, hah?!" hardik Azkia sudah dengan air mata yang menetes di pipinya.


" Ya ampun, May. Kamu lihat dulu dong isinya apa sebelum menuduh aku yang tidak-tidak!" Raffasya meminta Azkia membuka isi amplop itu, membuat Azkia menghentikan pukulannya.


" Coba kamu buka, setelah itu kamu mau lanjut pukul aku juga nggak masalah," ujar Raffasya seolah menantang.


Masih dengan sorot mata terbakar api cemburu Azkia akhirnya membuka isi amplop yang dipegangnya. Dia melihat tiket pesawat atas namanya dan juga Raffasya dan juga voucher penginapan di sebuah resort di Labuan Bajo. Azkia kini menoleh ke arah suaminya.


" Kak, ini ..." Azkia seakan tak bisa melanjutkan perkataanya.


" Itu tiket kita pergi berlibur awal bulan depan. Sejak menikah kita belum pernah pergi honeymoon, kan? Jadi aku ingin mengajak kamu dan bayi di perut kamu ini pergi liburan babymoon ke Labuan Bajo." Raffasya menjelaskan rencananya agar istrinya itu tidak curiga lagi.


" Ya ampun, Kak Raffa." Azkia langsung memeluk tubuh Raffasya. " Maafkan aku, Kak." sesal Azkia karena sudah mencurigai suaminya itu.


" Sudah nggak marah-marah lagi 'kan sekarang?" sindir Raffasya terkekeh. " Seharusnya setelah kejadian semalam kamu lebih percaya sama aku, dan nggak curiga terus sama aku, May."


" Habisnya Kak Raffa nggak bilang-bilang sama aku kalau Kak Raffa punya rencana pergi babymoon," ucap Azkia dengan nada manja masih bergelayut manja di tubuh suaminya.


" Kalau aku bilang namanya bukan kejutan dong, May."


Azkia mendongakkan kepalanya ke arah wajah suaminya, " Iiihh, Kak Raffa so sweet banget, sih." Azkia kembali memeluk dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.


" Kamu suka nggak aku ajak pergi babymoon? Tapi maaf, aku hanya ajak berlibur ke dalam negeri saja. Karena aku rasa di Indonesia juga banyak tempat-tempat indah," ungkap Raffasya.


" Aku nggak masalah, selama bersama Kak Raffa, tempat di mana juga pasti akan terasa indah."


Raffasya tergelak mendengar ucapan istrinya. " Sejak kapan kamu pintar modus begini?" Raffasya mencubit cuping hidung istrinya.


" Kok modus sih, Kak? Aku itu sedang menggambarkan perasaanku, Kak." keluh Azkia karena dianggap modus oleh suaminya.


" Iya, iya, aku percaya kok, May. Ya sudah, sekarang kamu simpan tiket sama vouchernya." Raffasya meminta istrinya itu untuk menyimpan dokumen yang mereka perlukan untuk pergi berlibur awal bulan depan, yang disambut dengan anggukan kepala istrinya itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️