
Keesokan harinya Azkia sudah diijinkan untuk pulang ke rumah. Tentu saja kepulangan Azkia dari rumah sakit pun harus dilewati dengan perdebatan antara Natasha dan Lusiana soal ke mana Azkia dan Raffasya beserta bayinya itu akan tinggal sementara waktu sebelum kembali ke rumah Raffasya.
" Kalian sementara ini tinggal sama Mama dulu saja, ya? Biar Mama bisa lihat cucu Mama yang ganteng ini setiap hari." ujar Lusiana saat menggendong baby Naufal di tangannya.
" Mereka masih akan tinggal di rumah saya, Mbak. Soalnya Kia 'kan belum berpengalaman mengurus bayi, jadi sebaiknya di rumah saya saja seperti kemarin biar ada yang membantu Kia mengurus bayinya." Natasha langsung menimpali ucapan Lusiana yang ingin membawa cucu mereka ke rumah Lusiana.
" Aku juga bisa bantu Kia mengurus bayi, kok. Lagipula sebelum melahirkan, Kia dan Raffa 'kan sudah menginap di rumah kamu, Nat. Sekarang gantian dong di rumahku biar adil. Naufal itu cucuku juga, kan?" protes Lusiana karena menganggap Natasha hanya ingin menang sendiri dalam mengurus cucu mereka.
" Tapi Mbak Lusiana 'kan bekerja, kalau saya bisa menghandle butik dari rumah, jadi saya bisa menemani Kia seharian." Natasha tetap keberatan jika Naufal harus bersama Lusiana, karena menurut cerita dari Amara yang bersumber dari Raditya, waktu Raffasya kecil saja semua diurus oleh baby sitternya, lalu setelah puluhan tahun, apa mungkin Lusiana bisa membantu Azkia mengurus bayinya? Tentu saja Natasha menyangsikan kesanggupan Lusiana mengurus Azkia dan juga bayinya.
" Saya 'kan ada ART, nanti saya juga akan cari baby sitter untuk membantu Kia agar Kia nggak repot urus Naufal," sahut Lusiana.
" Kia nggak mau pakai baby sitter, Ma. Kia mau urus Naufal sendiri saja." Azkia menolak rencana Lusiana yang ingin memperkerjakan baby sitter dalam mengurus Naufal.
" Tuh, Mbak. Kia nya juga nggak mau pakai baby sitter, jadi sementara ini biar Kia dibantu saya saja." Natasha tetap mempertahankan keinginannya untuk membawa Azkia dan keluarga sementara ini tinggal di rumahnya.
" Saya juga 'kan ingin mengurus cucu saya, Nat. Kalau sudah dari rumahmu pasti Raffa akan bawa Naufal ke rumahnya, lantas kapan aku bisa dikasih waktu untuk bersama cucuku ini?" Lusiana nampak kecewa karena keinginannya ditentang oleh banyak pihak.
" Mama tinggal sama kami saja, Mama bisa pakai kamar Nenek Mutia atau kamar tamu, jadi Mama bisa lihat Naufal tiap hari." Azkia mengusulkan agar Mama mertuanya itu ikut tinggal bersama di rumah Raffasya.
Raffasya langsung melirik istrinya saat mendengar istrinya itu mengusulkan Mamanya untuk tinggal bersama mereka. Dia tidak pernah berpikiran jika Azkia akan mengajak Lusiana untuk tinggal bersama mereka, Namun untuk kali ini Raffasya memilih diam tak membantah ucapan istrinya itu.
" Biar Mama makin akrab dengan Naufal, Ma. Lagipula Mama di rumah 'kan tinggal sendiri, mending Mama ikut bersama kami jadi Mama bisa dekat dengan anak, menantu dan juga cucu." Azkia masih berusaha mendekatkan hubungan suami dan Mama mertuanya itu.
" Itu ide bagus, Mbak. Aku rasa apa yang Kia usulkan ada baiknya." Natasha menimpali, karena Natasha pernah mendengar dari Azkia cerita tentang Mama mertuanya itu yang merasakan kesepian karena tidak menikah lagi setelah bercerai dengan Papa dari Raffasya.
Dan akhirnya, Lusiana harus menerima keputusan dan merelakan Azkia dan Naufal untuk tinggal sementara waktu di rumah besannya itu.
***
Kehadiran Naufal di rumah keluarga Yoga tentu saja membawa keceriaan dan kebahagiaan keluarga besar dosen senior itu. Tak sedikit para tetangga berdatangan untuk melihat bayi tampan nan menggemaskan itu.
" Anak ganteng, semoga menjadi anak sholeh ya, Nak." Doa Azzahra saat menggendong Naufal.
" Aamiin ..." Azkia menimpali doa yang diucapkan Auntie nya itu.
" Sebentar lagi Auntie juga akan punya cucu 'kan dari Rayya?" Azkia melanjutkan ucapannya.
" Iya, semoga Rayya juga bisa melahirkan normal dan sehat seperti kamu, Kia," harap Azzahra.
" Aamiin, Auntie. Rayya juga pasti bisa melahirkan normal, sehat wal alfiat Mom dan baby nya, kok." Azkia turut mendoakan sepupunya itu agar lancar dalam menghadapi persalinannya.
" Auntie jadi ingat waktu Mamamu dan Auntie melahirkanmu dan Rayya. Hanya selang beberapa bulan saja, dan sekarang malah tertular pada kamu dan Rayya." Azzahra terkekeh mengingat dulu dia pun berdekatan saat melahirkan Azkia dan juga Rayya.
" Bagus 'kan, Auntie? Jadi kekerabatan kita tetap terjalin utuh, dari persahahatan Mama sama Auntie, menular ke Kia dan Rayya, mudah-mudah nanti berlanjut ke Naufal dan anak Rayya ya, Auntie?" tutur Azkia penuh harap.
" Tapi calon bayi Rayya perempuan, Kia. Apa mungkin bisa sedekat seperti kamu dan Rayya?" Azzahra meragukan cucunya nanti bisa akrab dengan Naufal karena berlainan jenis.
" Tergantung, Auntie. Kalau anak Rayya tipikalnya kayak aku, pasti bisa akrab dengan Naufal, tapi kalau sikapnya seperti Rayya, agak susah deh akrab dengan Naufal nantinya. Rayya itu 'kan agak sudah bergaul sama cowok, " Azkia memprediksi apakah kedekatan dirinya dan Rayya akan tertular ke anak-anak mereka.
" Assalamualaikum ..." Suara Rayya terdengar dari pintu kamar Azkia. " Sedang ngomongin Rayya, ya?"
" Waalaikumsalam ..." Azkia dan Azzahra menjawab bersamaan.
" Lho, Rayya kok nggak bilang Mommy mau datang nengokin dedek Naufal?" Azzahra yang tidak diberi kabar oleh anaknya terlihat surprise dengan kedatangan Rayya.
" Rayya 'kan ingin kasih kejutan juga untuk Mommy." Rayya terkekeh seraya mencium tangan dan memeluk tubuh Azzahra.
" Halo, Baby Naufal ... kenalin ini Tante Rayya." Rayya langsung menciumi pipi menggemaskan Naufal yang sedang dalam gendongan Mommy nya.
" Kamu sama siapa ke sini, Rayya?" tanya Azzahra kemudian.
" Sama Mas Rama, Mom." sahut Rayya.
" Kak Rama nya mana? Kok nggak ikut masuk lihat Naufal?" tanya Azkia yang tidak melihat keberadaan Ramadhan.
" Kak Rama ada di depan berbincang sama Auntie Tata, Kia." sahut Rayya kemudian.
" Kia, selamat ya atas kelahiran Baby Naufal. Aku jadi nggak sabar ingin cepat melahirkan juga." Rayya memberikan ucapan selamat dan memberikan pelukan kepada Azkia.
" Makasih, Ray. Tunggu beberapa bulan lagi baru baby girl nya keluar, Ray." Azkia mengusap perut buncit Rayya yang sudah memasuki usia lima bulan.
" Iya, Kia. Tapi nggak sabar banget, deh. Apalagi liat Naufal yang menggemaskan ini, jadi kepingin buru-buru gendong anak sendiri." Rayya tertawa kecil dan terlihat sangat antusias ingin cepat-cepat melalui persalinan.
" Semoga nanti kamu juga bisa melahirkan lancar dan sehat semuanya ya, Ray." Azkia mendoakan untuk persalinan Rayya kelak.
" Aamiin, makasih Kia. Rayya mau gendong Naufal dong, Mom." Rayya meminta Azzahra memberikan bayi yang sangat menggemaskan itu kepadanya. " Nggak apa-apa 'kan, Mom? Rayya gendong Naufal?" Rayya bertanya apakah aman dia menggendong bayi ketika hamil.
" Nggak apa-apa, Naufal masih belum berat badannya dan kamu juga gendongnya sambil duduk saja biar nggak terlalu membebani perut kamu." Azzahra menasehati seraya menyerahkan Naufal kepada Rayya. " Menggendongnya jangan lama-lama ... " Azzahra mengingatkan.
" Iya, Mom." sahut Rayya.
" Ya sudah Mommy tinggal dulu, mau menemani Auntie kamu berbincang dengan Rama." Azzahra memilih keluar dan bergabung di ruang tamu dengan menantunya dan juga Natasha.
" Anak kamu ganteng banget deh, Kia." Rayya tak bosan-bosan memuji ketampanan bayi yang baru dilahirkan Azkia itu.
" Ganteng, dong! Papanya saja ganteng ..." celetuk Azkia terkekeh.
" Pasti kalau besar jadi rebutan cewek-cewek deh, Kia. Kia siap-siap saja menghadapi anak-anak gadis yang cari perhatian Kia demi bisa mendapatkan Naufal nanti." Rayya menggoda Azkia jika kelak Azkia akan kerepotan menghadapi penggemar-penggemar Naufal jika anak Azkia itu sudah dewasa nanti.
" Tenang saja, Kia. Kan ada Naufal yang pasti akan melindungi anakku. Seperti dulu Kak Alden juga menjaga aku." Rayya yakin jika Naufal dewasa kelak akan bisa menjaga putrinya seperti Alden menjaga dia dan juga Azkia.
" Ya benar juga, ya." Azkia menganggukkan kepala.
" Eh, kenapa kita sudah jauh mikirnya, ya? Melahirkan saja belum ..." Rayya terkekeh karena dia sudah membayangkan terlalu jauh soal anak-anaknya jika sudah beranjak dewasa.
" Yang mulai 'kan kamu, Ray." Azkia menimpali dan ikut tertawa bersama Rayya. Kedua ibu dan calon ibu muda itu pun akhirnya terlihat asyik membicarakan tentang kehamilan dan rumah tangga mereka yang sama-sama harmonis dengan suami masing-masing.
***
Azkia dan Raffasya berbaring dengan posisi miring dan saling berhadapan di antara Naufal yang berada di tengah-tengah mereka. Bayi mungil menggemaskan itu terus saja menggeliat menggerakkan tangan dan kakinya ke udara, membuat kedua orang tuanya terlihat asyik menikmati keajaiban yang terlihat nyata di hadapan mata mereka.
Raffasya benar-benar menatap takjub darah dagingnya itu. " Nggak sangka kita akan punya anak secepat ini ya, May?" Jari tangan Raffasya kini berada dalam genggaman tangan mungil Naufal.
" Iya, seperti mimpi, tapi nyata ..." sahut Azkia.
" Terima kasih, May. Kamu tetap mempertahankan Naufal dalam kandungan kamu sampai melahirkan."
" Maafkan aku ya, Kak. Karena awalnya aku hampir menyia-nyiakan Naufal waktu pertama kali tahu aku hamil." Azkia merasa bersalah karena dulu bersikap ketus kepada niat baik Raffasya yang ingin bertanggung jawab dan menikahinya.
" Aku sempat khawatir waktu kamu bilang akan menggugurkan kandunganmu, May. Aku merasa bersalah kalau sampai kamu nekat melakukan itu." Raffasya merasa bersyukur Azkia tidak benar-benar melakukan hal itu.
" Iya waktu itu kita 'kan masih bermusuhan, Kak. Terus terjadilah peristiwa di Bandung, Apa aku nggak syok??" Azkia mengatakan alasannya.
" Kalau aku tahu kamu yang akan menjadi jodohku, aku pasti akan menjaga kamu sejak awal, May." sesal Raffasya akan sikap buruknya dulu kepada istrinya itu.
" Dan nggak terus-terusan mengejar Rayya, kan?" sindir Azkia membuat Raffasya menarik satu sudut bibirnya ke atas.
" Kak Raffa ingat waktu melempar hamster ke toilet waktu sekolah dulu?" Azkia mengingat satu peristiwa menghebohkan di sekolah dulu bersama suaminya.
Raffasya tergelak mengingat kenakalannya dulu. " Iya aku ingat, sampai aku disidang sama Uncle mu yang galak itu, kan?" Raffasya menyindir soal Gavin yang selalu merasa berkuasa dan bisa bertindak semaunya.
" Iyalah, habis Kak Raffa sudah keterlaluan nakalnya. Kalau aku sampai pingsan saking ketakutannya gimana coba?" Azkia mencebikkan bibirnya masih suka merasa kesal mengingat keisengan suaminya dulu.
" Aku pikir kamu itu nggak takut sama apapun, makanya aku lempar hamster." Raffasya belum menghentikan tawanya.
" Dasar iseng!" umpat Azkia. " Naufal nanti jangan ikuti sikap buruk Papa, ya!? Naufal harus jadi anak yang baik, yang nurut sama Mama." Azkia mencium gemas pipi Naufal.
" Kok cuma sama Mama saja? Memang Naufal nggak boleh nurut sama Papa juga?" protes Raffasya.
" Aku nggak mau Kak Raffa menurunkan sikap usil Kak Raffa pada Naufal." Azkia memberikan alasan.
" Nggak mungkinlah, May. Aku 'kan sudah insyaf, May. Kamu yang membuat aku berubah, apalagi dengan kehadiran Naufal. Aku pasti akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi, khususnya untuk kalian berdua." Raffasya sudah bertekad untuk memperbaiki kesalahannya.
" Eheeek ... eheekk ..." Naufal suara terdengar merengek mengalihkan obrolan kedua orang tuanya.
" Eh,. eh, kenapa, Sayang? Mau ne nen, ya?" Azkia lalu bangkit kemudian mengambil tubuh Naufal dan memangku dengan lengan kanannya. Azkia lalu membuka kancing baju tidur dan mengeluarkan salah satu aset kembarnya yang puncaknya langsung dihisap dengan lahap oleh mulut mungil Naufal.
" Giliran aku kapan, May?" tanya Raffasya menatap penuh harap ke milik istrinya yang sedang dikuasai oleh Raffasya.
" Nantilah, Kak. Kalau nifaski sudah selesai empat puluh hari." Azkia terkekeh menggoda suaminya.
" Ya ampun, May. Aku bisa kering kerontang kalau nggak dikasih vitamin sama kamu," keluh Raffasya. " Cium sedikit saja nggak apa-apa 'kan, May?" Raffasya langsung mendekat ke arah istrinya dan mengendus kulit mulus Azkia yang membalut bukit kembar istrinya itu.
" Nanti Kak Raffa pusing, lho, Nggak bisa disalurkan ..." Azkia semakin menggoda Raffasya.
" Kan bisa dipuasin pakai mulut kamu, May." Raffasya terkekeh sambil menciumi asset Azkia itu.
" Itu curang namanya, Kak!" Kini Azkia memprotes Raffasya.
" Curang bagaimana?" Raffasya mengeryitkan keningnya.
" Kalau aku jadi ikutan kepingin gimana?" tanya Azkia polos.
" Makanya kamu jangan lama-lama nifasnya, May. Biar kita bisa bertempur lagi."
" Astaga, Kak. Baru juga kemarin melahirkan ..." Azkia memutar bola matanya.
" Sungguh tersiksa rasanya harus puasa lama, May."
" Sabar, Papa." Azkia menggerakkan tangan Naufal menepuk wajah Raffasya. " Papa harus mengalah sama Naufal, ya! Papa sayang sama Naufal, kan?" Azkia menirukan suara anak kecil berbicara pada suaminya.
" Iya, Sayang. Papa sayang Naufal, kok." Kini Raffasya berganti menciumi pipi gembil anaknya itu hingga membuat mulut Naufal terlepas dari sumber ASI nya dan membuat bayi mungil itu menangis.
" Sayang, sayang, Papa nakal, ya?" Azkia kembali memasukkan puncak assetnya ke mulut Naufal hingga bayi itu kini terdiam.
" Nanti Mama jewer telinga Papa karena sudah gangguin Naufal ne nen!" Azkia kini mendelik ke arah suaminya yang menyeringai seraya menggaruk tengkuknya yang tidak sakit.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️