
Setelah mendapat kabar dari Rosa, Azkia langsung menghubungi Raffasya meminta agar suaminya itu membelikan ponsel yang baru untuk Rosa. Karena Rosa pasti akan kerepotan jika tidak memegang ponsel.
" Kasihan Oca ya, Pa. Dia pasti syok banget dapat perlakuan nggak enak di sini dari orang jahat." Malam harinya Azkia mengajak suaminya itu berbincang sebelum tidur.
Raffasya menghempaskan nafas panjang. Dia merasa bersalah karena kejadian yang menimpa Rosa karena dia berhalangan menjemput adiknya itu dari kampus.
" Iya," sahutnya penuh rasa penyesalan.
" Lain kali kalau memang Papa berhalangan jemput Oca, apa Papa suruh pegawai Papa yang senggang saja jemput Oca pulang, Pa? Jadi dia lebih aman. Aku nggak bisa mengandalkan Abhi karena dia pasti punya kesibukan sendiri. Ojol juga belum tentu lagi kosong kalau mendadak. Aku khawatir lho, Pa. Jangan sampai ada kejahatan lain yang akan menimpa Oca." Azkia yang pernah mengalami beberapa kali musibah juga merasakan khawatir kepada adik iparnya itu. Apalagi dibandingkan dirinya yang menguasai ilmu bela diri, Rosa sama seperti wanita kebanyakan yang tidak belajar ilmu bela diri.
" Iya, nanti aku coba suruh atur orang untuk jemput Oca kalau pulang kuliah," ucap Raffasya.
" Kata Oca ada orang yang mau mengantarkan Oca pulang ke rumah Mama. Papa harus kasih tahu Oca juga, agar hati-hati jangan asal terima kebaikan orang asing yang nggak dikenal." Azkia meminta Raffasya menasehati Rosa agar Rosa tidak terlalu polos saat berkenalan dengan orang baru. Apa yang pernah terjadi terhadap dirinya membuat Azkia merasa harus tetap waspada.
" Iya, aku juga sudah bilang ke Oca agar dia tetap waspada tapi nggak menyinggung orang yang memberikan bantuan itu. Tapi Oca meyakinkan aku kalau orang yang menolongnya itu orang baik dan nggak punya niat jahat terhadapnya." sahut Raffasya.
" Oca cerita, nggak? Yang menolongnya itu masih muda atau sudah tua?" tanya Azkia penasaran.
" Katanya sih masih muda, orang yang menolong itu mau kembali ke kantornya menurut Oca, sih." jawab Raffasya.
" Ganteng, nggak?"
Raffasya langsung menoleh ke arah Azkia dengan kening berkerut.
" Ngapain Mama tanya-tanya cowok itu ganteng atau nggak?" tanya Raffasya curiga.
" Kalau cowok itu masih muda, baik dan ganteng, siapa tahu bisa jadi jodohnya Oca 'kan, Pa?" Azkia terkekeh.
" Kamu ini senang sekali menjodoh-jodohkan orang, Ma." Raffasya menggelengkan kepalanya menanggapi perkataan istrinya itu.
" Siapa tahu rezekinya Oca, Ma. Hehehe ...."
" Tapi kalau pria itu sudah punya istri, kamu mau menjodohkan sama Oca juga, gitu?"
" Iiihh, jangan deh, Pa! Jangan sampai Oca jadi pelakor!" protes Azkia.
" Makanya Mama jangan asal menjodohkan orang sebelum kenal lebih jauh dengan orang itu." Raffasya menasehati istrinya. " Sudah malam, buruan tidur, Ma." Raffasya mengecup perut buncit Azkia dan menyuruh Azkia segera tidur.
" Iya, Pa." Azkia kemudian berganti posisi dan membelakangi suaminya itu.
" Kok Papa dikasih punggung, Ma?" Raffasya memprotes saat Azkia tidur membelakanginya.
" Aku mau dipeluk Papa dari belakang tidurnya." Azkia menoleh ke belakang sembari menyeringai.
" Oh, gitu ..." Raffasya segera mendekat ke tubuh Azkia lalu memeluh istrinya itu dari belakang sementara satu lengannya kini sudah menjadi bantal untuk kepala Azkia.
" Tidurlah yang nyenyak, istriku sayang." bisik Raffasya sembari membenamkan ciuman di pipi Azkia membuat Azkia tersenyum dan menoleh kembali ke suaminya.
" Selamat tidur, Papa ganteng." Kali ini Azkia yang mencium bibir Raffasya sebelum mereka berdua akhirnya terlelap dalam pelukan kehangatan cinta mereka yang semakin hari semakin menguat.
***
" Halo, Assalamualaikum, Pa." Raffasya menjawab telepon masuk dari Papanya saat dia baru saja keluar dari kamar mandi di ruang kerjanya.
" Waalaikumsalam, Raffa, rencananya awal Minggu depan Papa akan ke Jakarta. Ada beberapa teman Papa yang menawarkan Papa bekerja dengan mereka karena mereka ingin membuka kantor akuntan publik di sini." Fariz mengabarkan jika dia akan datang ke Jakarta dan mendapat tawaran pekerjaan dari rekannya.
" Syukurlah kalau gitu, Pa. Papa nanti kabari saja kalau mau ke sini, nanti Raffa jemput Papa dan antar Papa ke tempat teman Papa itu," ujar Raffasya.
" Iya, Nak. Setidaknya ada pekerjaan yang bisa Papa kerjakan nanti jika Papa pindah ke Jakarta. Sekalian Papa juga nanti mau mencari tempat tinggal agar Oca juga bisa tinggal sama Papa." ucap Fariz menjelaskan rencana selanjutnya.
" Pa, apa Papa sudah mencoba berbicara dengan Mama?" Entah kenapa tiba-tiba Raffasya tergugah untuk menanyakan tentang apa yang pernah ditanyakan Papanya beberapa waktu lalu kepada dirinya tentang keinginan dirinya kepada kedua orang tuanya itu.
" Sudah, tapi kamu kenal Mamamu itu seperti apa, kan? Mamamu itu terlalu gengsi ..." Fariz mengomentari sikap mantan istrinya.
" Nanti biar Raffa yang coba bicara sama Mama, Pa." Raffasya akhirnya memutuskan untuk berbicara dengan Mamanya, karena selama ini dia terkesan tidak terlalu ingin ikut campur dengan rencana perjodohan Papa dan Mamanya kembali.
" Kamu ingin bicara dengan Mamamu?" tanya Fariz agak terkejut dengan niat Raffasya.
" Iya, Pa. Nanti Raffa coba bicara dengan Mama." tekad Raffasya kembali.
" Ya sudah kalau niatmu seperti itu, semoga kamu berhasil membujuk Mamamu." harap Fariz.
" Aamiin, Pa."
" Kalau begitu Papa tutup dulu teleponnya, ya. Assalamualaikum ..." Fariz mengakhiri teleponnya.
" Waalaikumsalam ..." sahut Raffasya sebelum panggilan teleponnya terputus.
***
" Selamat sore, Pak. Apa Ibu Lusiana saya ada di tempat?" tanya Raffasya kepada satpam yang membukakan pintu untuknya.
" Maaf, Mas ini sapa? Ada perlu dengan Ibu Lusi apa sudah ada janji sebelumnya?" tanya Satpam yang tidak mengenali Raffasya adalah anak dari bosnya.
" Saya Raffa, Pak. Saya anak dari Ibu Lusiana." Raffasya memperkenalkan dirinya.
" Oh, maaf, Mas. Saya baru di sini jadi belum tahu kalau Mas ini anak Ibu Lusi." Satpam itu langsung menyatakan permohonan maafnya.
" It's OK."
" Ibu Lusi ada, Mas. Silahkan, Mas ..." Pak satpam itu akhirnya mempersilahkan Raffasya untuk masuk.
" Terima kasih, Pak." Raffasya pun segera melangkah ke arah lift menuju lantai ruangan kerja Mamanya berada.
" Sore, Mbak. Apa Mama saya sedang ada tamu di dalam?" tanya Raffasya kepada sekretaris dari Lusiana.
" Oh, Mas Raffa. Ibu nggak ada tamu kok, Mas.." Sekretaris Lusiana menjawab pertanyaan Raffasya.
" Oke, terima kasih, Mbak." Setelah mendapatkan jawaban dari sekretaris Mamanya, Raffasya pun segera berjalan ke arah pintu ruangan Lusiana.
Tok tok tok
" Assalamualaikum, Ma." Raffasya masuk dan menyapa Lusiana yang sedang menandatangi beberapa berkas di atas mejanya.
" Waalaikumsalam ... Raffa? Ada apa kamu kemari?" Lusiana nampak terkejut dengan kehadiran Raffasya di kantornya itu. Karena Raffasya memang jarang sekali datang ke kantornya itu.
" Apa Mama sedang sibuk?" tanya Raffasya.
" Nggak, ada apa? Ayo duduk dulu ..." Lusiana langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Raffasya yang langsung disambut Raffasya dengan mencium tangan Lusiana. Lusiana kemudian mengajak Raffasya untuk duduk di sofa.
" Ada apa,. Raffa?" tanya Lusiana kembali, tentu saja dia senang dengan kehadiran putranya itu di kantornya.
Raffasya memperhatikan ruang kerja Mamanya itu.
" Sampai kapan Mama akan bekerja? Apa Mama berat sekali untuk meninggalkan kantor Mama ini?" tanya Raffasya membuat Lusiana mengerutkan keningnya.
" Tadi Papa telepon Raffa, Papa bilang Papa mendapat tawaran pekerjaan dari temannya di Jakarta ini. Papa juga bilang sama Raffa, kalau Papa sudah pernah menemui Mama dan mengajak Mama untuk memikirkan tawaran Papa untuk rujuk kembali, tapi Mama masih belum memberikan jawaban. Sebenarnya apa lagi yang dicari Mama selama ini? Anak, menantu dan mungkin cucu Mama kalau sudah besar dan mengerti, pasti menginginkan Papa dan Mama kembali bersama lagi. Apa Mama tidak ingin mencari kebahagiaan sejati Mama yang sesungguhnya? Apa Mama tidak merindukan kehangatan sebuah keluarga?" Pertanyaan yang lontarkan Raffasya terasa langsung menohok di hati Lusiana hingga bibir wanita itu hanya mengatup tak melontarkan kata-kata bantahan apapun.
" Kami semua ingin melihat Papa dan Mama hidup bahagia. Apakah keinginan kami itu terlalu berlebihan untuk Mama penuhi?" tanya Raffasya kembali. Dia lalu berjalan mendekat ke arah Lusiana dan duduk bersimpuh di depan Lusiana membuat Lusiana tercengang tak menyangka akan apa yang dilakukan anaknya itu saat ini.
Raffasya lalu menggenggam kedua tangan Mamanya. " Ma, walaupun selama ini Raffa bersikap keras terhadap Mama, tapi sejujurnya Raffa sangat menyayangi Mama. Raffa hanya kecewa kenapa Papa dan Mama memilih berpisah tanpa memikirkan perasaan Raffa saat itu. Dan sekarang ini, di saat ada kesempatan untuk Papa dan Mama bersatu kembali, Raffa harap Mama jangan menyia-nyiakan kesempatan ini. Yang selalu Raffa inginkan selama ini adalah melihat Papa dan Mama hidup bersama dan bahagia. Apalagi Mama sudah mempunyai menantu dan cucu yang sangat sayang sama Mama. Apa Mama juga tidak ingin membahagiakan kami?" Raffasya menatap kedua mata Lusiana yang terlihat mulau berkaca-kaca.
Seketika itu juga air mata Lusiana tumpah di pipinya hingga dia menangis tersedu. Raffasya yang melihat Mamanya menangis pun nampak tertegun. Selama ini dia hampir tidak pernah melihat Mamanya selemah ini sampai mengeluarkan air mata. Raffasya kemudian bangkit dan memeluk Mamanya dan membiarkan Mamanya itu terus terisak di dalam pelukannya.
***
" Assalamualaikum ...."
Azkia menoleh ke arah pintu kamarnya saat pintu itu terbuka dan terdengar suara Raffasya dari arah pintu.
" Waalaikumsalam ... Papa datang tuh, Nak." Azkia memberitahu Naufal yang sedang bermain dengan motor-motorannya.
" Papaaaa ..." Naufal yang melihat kehadiran Raffasya langsung turun dari mainannya dan berlari ke arah Raffasya.
" Jagoan Papa ..." Raffasya menyambut putranya dan mengangkat tubuh Naufal ke atas melebihi kepalanya membuat anaknya itu tertawa ceria.
" Papa belum mandi, Papa mau mandi dulu ya, Nak." Setelah cukup membuat anaknya itu tertawa girang, Raffasya kemudian menurunkan putranya itu kembali dan mendudukkan di atas mainan motornya.
" Kok telat pulangnya, Pa?" Kini Azkia mendekat dan mencium punggung tangan suaminya.
" Iya, tadi aku mampir ke kantor Mama dulu," sahut Raffasya.
" Mama siapa?" tanya Azkia karena seingatnya suaminya itu jarang datang ke kantor Lusiana untuk itu dia bingung dengan kata kantor Mama.
" Mamaku ..." sahut Raffasya.
Azkia menyipitkan matanya, " Mama Lusi? Tumben, apa ada, Pa?" tanya Azkia penasaran.
" Habis bicara dari hati ke hati ..." Raffasya menjawab seraya terkekeh. " Aku mandi dulu, nanti aku lanjut ceritanya, ya!?" Raffasya kemudian melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️