MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Megantara Poetra



Setelah berhasil menggiring Sony keluar dari ruangannya. Raffasya segera menuju kamar di mana Azkia beristirahat.


" May, kita makan dulu, yuk!" Raffasya mengajak istrinya itu makan siang.


" Lho, memang tamunya sudah pulang? Atau kita mau makan siang bareng tamu Kak Raffa?" tanya Azkia yang merasa heran karena belum lama dia masuk ruang kamar, Raffasya sudah menyusulnya.


" Siapa yang sudi pergi makan siang dengan laki-laki mata keranjang seperti Sony itu?? Aku nggak mau istriku ini dipandangi laki-laki model dia! Rasanya ingin aku colok saja matanya itu!" geram Raffasya


" Lalu orang itu sudah pulang?"


" Sudah aku usir dia! Aku sudah menduga maksud pria itu nggak baik datang menemuiku. Dia ngotot sekali ingin bekerjasama padahal sudah kutolak." ucap Raffasya dengan nada kesal.


" Kak Raffa harus hati-hati sama orang itu, Kak. Kak Raffa harus waspada, aku nggak mau Kak Raffa kenapa-napa." Azkia melingkarkan tangannya di pinggang Raffasya sambil menyadarkan kepalanya di bahu suaminya.


" Kamu nggak perlu khawatir, May. Aku bisa jaga diri." Raffasya membelai kepala Azkia. " Ya sudah, kita makan sekarang, kamu mau makan apa?" tanya Raffasya kembali.


" Aku mau ... mau apa, ya?" Azkia berpikir memilih menu makanan yang ingin disantapnya.


" Mau apa? Ayam? Soto? Steak?" Raffasya menawarkan beberapa menu makanan.


" Gado-gado, aku mau gado-gado, Kak." Azkia memilih satu menu makanan yang mampir di benaknya.


" Di sini juga ada gado-gado, mau yang di cafe ini atau yang di luar?" tanya Raffasya.


" Cari yang di luar saja deh, Kak."


" Ya sudah, ayo ..." Raffasya kemudian membawa Azkia keluar dari kamar dan ruangannya menuju kedai yang menjual gado-gado yang diinginkan oleh Azkia.


***


Gladys membuka pintu apartemennya saat Sony menekan bel di pintu apartemen dia tinggal.


" Pih ..." Gladys langsung menyambut Sony dengan memeluk pria paruh baya itu.


" Bagaimana, Pih? Sudah bertemu dengan Raffa?" tanya Gladys.


" Dia tetap menolak. Si al sekali, dia justru mengusir Papih secara halus dari tempatnya. Sombong sekali pria itu!" Sony yang merasa kedatangannya tidak disambut baik oleh Raffasya memang merasa kesal.


" Dia memang seperti itu, Pih. Papih merasakan apa yang aku rasakan. Aku pun begitu, selalu diusir setiap aku ingin menemuinya. Karena itu aku ingin membalas dendam dengan mengambil cafenya dan menghancurkan dia secara perlahan, Pih." Tangan Gladys mengelus rahang Sony dan menciumi wajah pria yang lebih cocok menjadi ayahnya itu.


" Makanya Papih bantu aku, ya?!" pinta Gladys merenggangkan dasi yang terikat di kerah kemeja Sony.


" Sayang, kita main sebentar saja, ya? Papih ada janji menghadap big bos jam satu ini," ujar Sony menanggapi aksi Gladys yang mulai menggodanya.


" Terserah Papih asalkan Papih tetap bersedia membantu aku." Gladys menautkan bibirnya penuh ga irah ke bibir Sony yang membuat Sony langsung melahap bibir wanita simpanannya itu dan menyalurkan kebutuhan biologis hanya untuk kesenangan semata.


***


Ddrrtt ddrrtt


Ketika Raffasya dan Azkia sedang menyantap gado-gado sebagai menu makan siang mereka, tiba-tiba ponsel Raffasya berbunyi.


Raffasya segera menoleh ke arah ponselnya dan melihat nama Papanya yang terlihat di ponselnya itu.


" Papa telepon aku, ada apa, ya?" tanya Raffasya heran saat melihat nomer Fariz yang menghubunginya.


" Coba angkat saja, Kak!" Azkia menyuruh Raffasya untuk mengangkat panggilan telepon dari papa suaminya itu.


" Assalamualaikum, ada apa, Pa?" tanya Raffasya saat dia mengangkat panggilan telepon Fariz.


" Waalaikumsalam, Raffa. Papa hanya ingin menyampaikan berita duka. Tante Wina meninggal dunia pagi tadi karena kecelakaan." Ada kesedihan dalam suara yang meluncur dari mulut Fariz.


" Innalillahi Wainnaillaihi Roji'un ... Ya Allah, Raffa turut belasungkawa, Pa. Semoga almarhumah Husnul khotimah," ucap Raffasya memberikan ucapan belasungkawa atas meninggalnya istri dari papanya itu.


" Siapa yang meninggal, Kak?" Azkia mengeryitkan keningnya saat suaminya itu mengucapkan kalimat istirja.


" Lalu kapan dimakamkannya, Pa?" tanya Raffasya sambil memberikan kode kepada istrinya untuk menahan pertanyaannya.


" Selepas Dzuhur ini, Nak."


" Raffa harap Papa bisa tabah ya, Pa." Raffasya bisa merasakan bagaimana terpukulnya sang Papa. Baru seminggu lebih orang tuanya yaitu Nenek Mutia meninggal sekarang justru istri Papanya itu yang meninggal. Dalam kurun waktu kurang dari dua Minggu, dua wanita yang paling disayangi Papanya itu pergi kehadapan Sang Khaliq.


" Iya, Raffa. Ya sudah Papa hanya ingin memberi kabar itu. Sekarang Ini sedang bersiap untuk menyolatkan jenazah setelah itu berangkat ke pemakaman." Fariz berniat menyudahi obrolannya dengan Raffasya


" Iya, Pa. Maaf Raffa nggak bisa ke sana." Raffasya menyatakan penyesalan dan meminta maaf karena dia tidak bisa menghadiri pemakaman mama tirinya itu.


" Tidak apa-apa, Raffa. Kamu jaga diri baik-baik, Nak. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam, Pa." Raffasya mengakhiri percakapannya dengan Fariz.


" Siapa yang meninggal, Kak?" Azkia kembali bertanya.


" Tante Wina, istrinya Papa Fariz." Raffasya menjelaskan kepada Azkia.


" Innalillahi Wa Innaillaihi Roji'un ... Ya Allah, Papa Fariz kasihan sekali ya, Kak? Kemarin baru kehilangan Mamanya sekarang justru ditinggal istrinya. Benar-benar keluarga Kak Raffa sedang diuji, kebakaran dan kematian. Semoga Kak Raffa dan Papa Fariz bisa tetap sabar dan tabah." Azkia menggenggam tangan Raffasya.


" Iya, May. Aamiin ...."


" Kak Raffa pernah bertemu dengan mama tiri Kak Raffa itu?" tanya Azkia.


" Iya, ketika hari raya Papa suka membawa keluarganya menemui Nenek walaupun nggak setiap tahun." Raffasya menerangkan.


" Papa sama istrinya itu punya anak berapa, Kak?"


" Satu, cewek ...."


" Kak, Papa Fariz sekarang jadi duda, Mama Lusi sampai sekarang masih sendiri. Next kalau Papa sudah nggak berduka lagi, apa kita coba mendekatkan mereka kembali ya, Kak?" Entah bagaimana ide itu muncul di benak Azkia walaupun saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu.


Raffasya terkesiap mendengar ide istrinya itu. " Kamu sempat-sempatnya memikirkan itu, May. Papa sama Mama itu nggak akan bisa bersatu, May. Aku 'kan pernah bilang kalau Mama itu nggak butuh sosok suami di sampingnya." Raffasya sangat mengenal sikap mandiri Lusiana yang dia anggap sudah terlalu melewati batas.


" Siapa bilang? Kemarin-kemarin aku pernah berbincang sama Mama soal arti sebuah keluarga dan pendamping hidup. Mama justru bilang ke aku, ' Siapa pria yang mau dengan wanita yang mau menjadi nenek seperti Mama?' Itu artinya di dalam hati kecilnya Mama juga sebenarnya ingin mempunyai pendamping hidup. Sekarang daripada Mama jatuh kepada pria nggak jelas apalagi sampai jatuh sama berondong matre, mending CLBK sama Papa Fariz saja, kan?" Azkia menyampaikan alasannya kenapa ingin membuat mertuanya itu kembali hidup bersama.


" Memang Kak Raffa nggak senang melihat Papa dan Mama Kak Raffa bersatu kembali?" Azkia ingin mengetahui keinginan suaminya. Karena yang membuat Raffasya menjadi pria keras kepala seperti sekarang ini adalah kurang perhatian dari orang tuanya terutama ketika mereka berpisah.


Raffasya mende sah, tentu saja sebagai seorang anak dan kebahagiaan seorang anak adalah melihat kedua orang tuanya hidup rukun dan saling menyayangi satu sama lain hingga menua bersama.


" Sejujurnya aku juga ingin agar Papa dan Mama bersatu kembali, tapi ... aku nggak ingin terlalu berharap, May. Aku takut kecewa lagi." Ada ketakutan yang tak pernah bisa hilang di hati Raffasya karena takut mengalami kekecewaan kembali.


" Tapi kalau aku berencana membuat Papa Fariz sama Mama Lusi rujuk lagi, Kak Raffa dukung, kan?"


" Kamu jangan pikirkan itu dulu, May. Sekarang ini kamu pikirkan anak kita saja dulu. Fokus sama kehamilan kamu. Jika memang Papa dan Mama memang masih berjodoh, Allah pasti akan bekerja dengan tangan-Nya sendiri untuk menyatukan mereka, kan?" Raffasya memang tidak ingin Azkia terlalu memusingkan soal jodoh kedua orang tuanya. Walaupun jauh di lubuk hatinya harapan ke arah sana memang sejak dulu dia inginkan.


***


Angkasa Raya Group


" Selamat siang, Mbak. Saya Sony dari perusahaan anak cabang Angkasa Raya, PT. Megantara Poetra. Apa Bapak ada?" tanya Sony saat sampai di depan ruangan bos besar perusahaan property ternama di negeri ini.


" Pak Dirga baru saja keluar bersama Ibu Rania, Pak." Susan, Sekretaris dari Dirga langsung memberitahukan jika bosnya itu sedang keluar bersama istrinya.


" Saya diperintahkan untuk menghadap beliau siang ini, Mbak. Apa Pak Dirga meninggalkan pesan?" tanya Sony kemudian.


" Oh, sebentar ... saya coba bicara dengan asistennya Pak Dirga. Silahkan duduk dulu, Pak." Susan meminta Sony untuk menunggu di sofa tunggu, sedangkan dia masuk ke dalam ruangan Ramadhan. Tak lama kemudian, Susan sudah kembali dengan Ramadhan berjalan di depannya.


" Pak Sony?" sapa Ramadhan.


" Oh, selamat siang Mas Rama. Pak Dirga sedang tidak di tempat, ya?" tanya Sony mengulurkan tangan ke arah Ramadhan.


" Oh iya, mari ikut saya ke ruangan Papa saya, Pak Sony." Ramadhan lalu mengajak Sony ke ruangan Ricky.


Tok tok tok


" Pa, ini ada Pak Sony dari Megantara Poetra yang dijadwal menghadap ke Om Dirga siang ini," ujar Ramadhan saat membuka pintu ruangan Ricky.


" Masuklah ..." Ricky mempersilahkan Ramadhan dan Sony masuk ke dalam ruangannya.


" Selamat siang, Pak Ricky." Sony menyapa Ricky.


" Selamat siang, duduklah Pak Sony." Ricky bangkit dari kursi singgasananya lalu menyuruh Sony duduk di sofa dan dia pun ikut duduk di kursi sebelah sofa Sony.


" Kau boleh kembali ke tempatmu. Rama!" Ricky lalu menyuruh Ramadhan kembali ke ruangannya.


" Baik, Pa. Permisi Pak Sony." Setelah berpamitan Ramadhan pun meninggalkan ruang kerja Papanya.


" Pak Sony, kami mendapat laporan jika omzet Megantara Poetra menurun dalam kurun waktu tiga bulan terakhir ini. Apa Pak Sony bisa menjelaskan tentang penurunan omzet perusahaan yang Pak Sony pegang?" Ricky menayankan alasan penurunan omzet anak perusahaan Angkasa Raya Group yang bergerak dalam penjualan dan rental alat berat.


" Iya, Pak Ricky. Kami juga menyadari dalam beberapa bulan terakhir memang terjadi penurunan dengan omzet kami. Sepertinya pesaing kami memang memasang tarif sewa dibawah yang ditawarkan Megantara hingga banyak pelanggan kami yang beralih menyewa alat-alat besar itu ke perusahan pesaing kami, Pak Ricky. Tapi kami sedang berusaha untuk mengatasi masalah itu saat ini, Pak." Sony menjelaskan alasannya kenapa perusahaan yang berada dalam kendalinya itu mengalami penurunan pendapatan.


" Baiklah, Pak Dirga sudah berdiskusi dengan saya. Beliau memberikan kesempatan sampai akhir bulan ini. Jika Pak Sony tidak bisa mengatasi masalah ini, kemungkinan besar Pak Dirga akan mengambil sikap akan bagaimana nasib Megantara ke depannya. Karena kami tidak bisa mentolelir penurunan omzet sampai empat bulan berturut-turut. Itu bisa kami anggap Pak Sony gagal menghandle anak perusahaan Angkasa Raya itu. Pak Sony paham 'kan maksud saya?" tanya Ricky dengan nada berbau ancaman.


" Baik, Pak Ricky. Saya paham dengan apa yang Pak Ricky jelaskan. Saya akan berusaha untuk meakukan perbaikan terutama di bagian marketing, Pak." Tentu ucapan Ricky membuat Sony gentar. Menjabat sebagai direktur di Megantara Poetra tentu saja membuat pundi-pundi tabungannya makmur hingga dia bisa bersenang-senang dengan wanita lain selain istrinya. Dan jika sampai nasibnya di Megantara terancam, dia harus bersiap-siap lambat laun akan kehilangan apa yang dia miliki sekarang ini.


***


Malam harinya Yoga mengajak keluarganya makan bersama di restoran hotel milik Gavin. Gavin, Azzahra dan juga kedua anak laki-lakinya juga turut serta, hanya Ramadhan dan Rayya saja yang tidak ikut bergabung karena Rayya sedang kurang enak badan.


" Tidak terasa sekarang ini kita sudah tua, Ga. Kita sebentar lagi sudah menjadi kakek-kakek. Tapi untuk urusan di atas ranjang tidak akan pernah surut 'kan, Ga?" Gavin berseloroh terhadap Yoga.


" Bhi, jaga ucapannya, dong! Banyak anak-anak di sini!" tegur Azzahra yang mendengar suaminya itu berbicara tanpa melihat kondisi.


" Mereka nggak mendengar, Honey." Gavin menyeringai ditegur Azzahra karena ucapannya tadi, karena anak-anak berjalan di depan mereka.


Sedangkan Yoga langsung tersenyum dan menimpali, " Kalau itu memang tidak boleh kendur, Vin. Karena istri-istri kita ini 'kan masih cantik-cantik. Daripada mereka berpaling kepada berondong-berondong yang segar, mending kita kasih servis yang memuaskan untuk istri. Benar 'kan, Yank?" Yoga melirik istrinya seraya memainkan alis matanya.


" Mas, iiihh ... ampun, deh!" Kali ini giliran Natasha yang menegur suaminya yang menanggapi obrolan berbau me sum dari Gavin.


" Selamat malam, Pak Gavin. Pak Yoga, silahkan ..." pelayan restoran di hotel Gavin memandu rombongan keluarga Yoga dan Gavin ke private room yang mereka pesan.


" Yoga ...!"


Yoga dan rombongan keluarganya langsung menghentikan langkahnya saat seseorang memanggil namanya. Mereka semua menolehkan pandangan ke arah orang yang memanggil nama Yoga.


Yoga mendapati seorang pria seumuran dengannya berjalan bersama seorang wanita dan menghampiri dirinya dengan merentangkan tangannya seolah ingin memeluk Yoga.


" Sony? Sony, kan?" Yoga pun akhirnya mengenali pria yang memanggilnya itu.


*


*


*


Bersambung ...


Nah, loh. Siapa Sony? Yang pernah baca novel MSI pasti ingat, kan? Ada part Yoga kumpul sama 3 temannya yang ngadain pesta lajang. Waktu itu Yoga lagi marah sama Tata. Gara-gara Tata terima pertolongan Gavin. Lalu bagaimana reaksi Sony setelah tahu jika Raffa adalah menantu Yoga? Tetap tungguin kisahnya besok, ya! Makasih ...🙏


Happy Reading❤️