
Azkia menyambut kehadiran Papa mertuanya dan juga suaminya di ruang tamu bersama Naufal. Saat mobil yang dikendarai oleh Raffasya itu memasuki pintu gerbang rumahnya, Azkia langsung menggandeng tangan Naufal dan melangkah ke arah teras rumah.
" Papa sama Opa datang, Nak. Ayo kita sambut di depan ...!" ucap wanita yang tengah hamil besar itu kepada putranya yang langsung disambut Naufal dengan girang hingga bocah itu melompat dan tertawa.
" Assalamuaikum, Cucu Opa." Saat turun dari mobil, Fariz langsung mengulurkan tangannya ke arah Naufal yang disambut bocah kecil itu dengan berlari ke arah Fariz seakan mengerti jika orang yang menyapanya itu adalah anggota keluarganya.
" Apaaaa ..." teriak Naufal begitu terlihat bersemangat menyambut Opanya.
Fariz langsung meraih tubuh Naufal dan mengangkatnya lalu menaruh di lengan kirinya.
" Salim dulu sama Opa, Naufal." Azkia mengingatkan anaknya untuk mencium tangan Opanya. Setelah dia menyalami tangan Papa mertuanya itu.
" Aiiimmm ..." Naufal menarik tangan kanan Fariz kemudian menempelkan bibirnya ke punggung tangan Fariz.
" Masya Allah, anak Sholeh makin pintar kamu, Nak." Fariz kemudian mencium kening Naufal.
" Sama Papa, salim nggak, Sayang?" Raffasya yang mendekat langsung menyodorkan tangannya kepada Naufal. Dan Naufal melakukan hal yang sama terhadap Raffasya.
" Kamu gimana kabarnya, Kia? Calon cucu Opa di perut kamu itu apa baik-baik saja?" tanya Fariz kepada Azkia.
" Alhamdulillah, Pa. Kandungan Kia sehat-sehat saja, kok." Azkia melingkarkan tangannya ke pinggang sang suami yang membawa koper milik Fariz.
" Ayo masuk dulu, Pa." Raffasya meminta Papanya untuk masuk ke dalam rumahnya.
" Alhamdulillah Mama sudah mau membuka hatinya ya, Pa!?" Azkia langsung membahas soal Mama mertuanya itu kepada Fariz.
" Ma ... Papaku baru sampai, nanti saja membahas masalah itu." Raffasya langsung bereaksi karena dia merasa Fariz pasti masih lelah.
" Nggak apa-apa, Raffa. Ini suatu hal yang menggembirakan. Papa nggak masalah harus membahas masalah itu." Fariz memahami kegembiraan Azkia karena inilahyang direncanakan oleh menantunya itu.
***
Lusiana menyemprotkan parfum ke belakang telinga, lipatan siku dan pergelangan tangannya. Dia akan diajak oleh putranya untuk makan malam di luar bersama dengan anak, menanti, cuci dan juga mantan suaminya.
Tok tok tok
" Ma, Mama sudah siap?" Rosa yang masuk ke kamar Lusiana menanyakan apakah Lusiana sudah siap untuk berangkat.
" Sebentar, Ca." Lusiana merapihkan lagi riasan di wajahnya. " Ayo!" Lusiana mengambil clutch bag berwarna rose gold dan berjalan ke luar dari kamarnya bersama Rosa.
Malam ini Azkia dan Raffasya memang mengajak Fariz dan Lusiana serta Rosa makan malam bersama di sebuah restoran Chinese food terkenal di kota itu. Fariz datang bersama Raffasya dan Azkia serta Naufal yang ditemani oleh Uni, sedangkan Lusiana datang bersama Rosa. Mereka memang datang dari tempat masing-masing dan bertemu di restoran tersebut.
" Selamat datang di Leo & Sandra Restoran, silahkan ..." seorang karyawan restoran menyambut Azkia dan anggota keluarganya saat masuk ke dalam restoran.
" Terima kasih, Mbak." sahut Azkia. " Kami sudah reservasi atas nama Almayra Azkia, Mbak." sambungnya.
" Oh, yang minta private room, ya? Mari ikut saya, Mbak." karyawan itu kemudian mengajak Azkia dan yang lainnya untuk mengikutinya.
" Hai, Kia ..." seseorang menyapa Azkia membuat Azkia menoleh ke arahnya.
" Oh halo Ci Vonie ..." Azkia menyapa balik Vonie, anak dari pemilik restoran tersebut, Azkia mengenal Vonie karena dulu dia selalu diajak Mamanya jika berkumpul dengan Anindita dan teman-teman lainnya di restoran itu.
" Sedang isi lagi, ya?" Vonie memperhatikan perut buncit Azkia.
" Iya, Ci Vonie. Alhamdulillah dikasih cepat rezekinya." sahut Azkia.
" Puji Tuhan ... Oh ya apa sudah pesan tempat sebelumnya, Kia?" tanya Vonie kemudian.
* Sudah kok, Ci. Kami sudah pesan private room," jawab Azkia.
" Oh, kamu tolong antar teman saya ini ke room yang sudah dipesannya!" Vonie berkata kepada karyawan tadi yang hendak mengantar Azkia.
" Baik, Bu. Mari ..." Karyawan restoran kembali melanjutkan langkahnya.
" Aku duluan ya, Ci Vonie." pamit Azkia.
" Oke, Kia." jawab Vonie.
" Mari silahkan ..." Setelah sampai di depan private room yang dipesan, karyawan restoran itu membuka pintu ruangan. Dia lalu mempersilahkan keluarga Azkia untuk masuk ke dalam.
" Mbak, kami masih menunggu dua orang lagi. Pesanan makannya minta langsung disiapkan sekarang saja, ya!" Setelah sampai di private room yang dipesan Azkia meminta agar pesanan yang sudah di order sebelumnya segera disiapkan sambil menunggu kedatangan Lusiana dan Rosa yang masih di jalan.
" Baik, Mbak. Permisi ..." Karyawan itu lalu berpamitan dan meninggalkan ruangan itu.
" Mama sama Oca sudah sampai di mana sekarang, Ma?" tanya Raffasya menanyakan posisi Mama dan adiknya.
" Sebentar lagi juga sampai katanya, Pa." Azkia yang sempat menghubungi Rosa sebelumnya langsung menjawab jika Rosa dan Lusiana sudah dekat posisinya.
" Ya sudah tunggu saja kalau begitu," ucap Fariz menanggapi.
Sepuluh menit kemudian mobil yang dikendarai oleh Lusiana sampai di halaman restoran tempat mereka berjanji untuk bertemu. Lusiana dan Rosa segera turun dan masuk ke dalam bangunan restoran berlantai dua di hadapannya.
" Selamat datang di Leo & Sandra Restoran, silahkan ..." Sama seperti kedatangan Azkia dan rombongan,. karyawan yang berjaga di depan pun menyapa Lusiana dan Rosa dengan sangat ramah.
" Mbak, kalau private room satu di mana?" tanya Lusiana kepada karyawan restoran itu.
" Oh, dengan Ibu Lusiana, ya?" tanya karyawan yang tadi sudah dititipi pesan oleh Azkia.
" Iya, benar." jawab Lusiana cepat.
" Mari saya antar, Bu." karyawan itu kemudian berjalan mengantar Lusiana dan Rosa ke tempat Azkia berkumpul.
" Assalamualaikum ..." Lusiana dan Rosa mengucapkan salam saat masuk ke dalam ruangan.
" Waalaikumsalam ..." .sahut yang ada di dalam ruangan bersamaan.
" Pa ..." Rosa lebih dulu menghampiri Fariz dan mencium tangan Fariz lalu memeluk Papanya itu.
" Gimana kuliahmu?" tanya Fariz.
" Nggak ada masalah, Pa. Semua lancar-lancar saja," jawab Rosa.
" Syukurlah ..." sahut Fariz, pria itu memang. tidak dikabari soal musibah yang menimpa Rosa beberapa waktu lalu karena Raffasya, Azkia dan juga Rosa tidak ingin membuat Fariz khawatir.
" Ca, kamu duduknya di sini saja dekat aku. Disitu buat Mama." Azkia meminta Rosa untuk berpindah duduk dan memberi kesempatan untuk Fariz dan Lusiana lebih dekat.
" Oh, iya ... Mama duduk di sini." Rosa lalu mempersilahkan Lusiana untuk duduk di samping Papanya.
" Halo, Lus ..." sapa Fariz kepada Lusiana.
" Halo, Mas ..." balas Lusiana tersenyum tipis.
" Mama hari ini cantik banget, deh! Pasti karena mau bertemu dengan Papa, ya!?" Ada saja celetukan iseng yang keluar dari mulut Azkia.
" Ma ..." Raffasya menegur Azkia agar jangan jadi pengacau di suasana yang terlihat tenang itu.
" Naufal sini sama Oma ...!" Demi menghilangkan rasa grogi karena ledekan dari menantunya, Lusiana memanggil Naufal yang duduk di pangkuan Raffasya, namun bocah itu menggelengkan kepalanya menolak ajakan Omanya.
" Permisi ..." Bersamaan pintu ruangan dibuka, tiga orang pelayan masuk ke dalam ruangan membawa beberapa piring makanan yang dipesan oleh keluarga Azkia dan menyajikannya di atas meja.
" Mbak, pesanan yang dibawa pulang jangan lupa, ya!?" Azkia mengingatkan pesanan yang dia pesan untuk Bi Neng dan Atun yang tidak ikut ke restoran.
" Pesan yang dibawa pulang nanti sekalian diambil di kasir, Mbak." salah satu pelayan menjawab ucapan Azkia.
" Oh, oke-oke ..." sahut Azkia.
" Permisi ..." Pelayan-pelayan itu kemudian berpamitan dan keluar dari ruangan.
" Kita makan sekarang?" tanya Raffasya.
" Iya dong, Pa. Aku sudah lapar banget ini." Azkia mengambil piring dan menyendokkan nasi untuk Raffasya terlebih dahulu.
" Mbak Uni, tolong Naufalnya dipegang dulu, ya! Kasih sup asparagus buat Naufal, Mbak!" Azkia menyuruh Uni mengambil Naufal lebih dahulu dari tangan Raffasya. " Nanti Mbak Uni makannya gantian ya sama aku!" lanjutnya.
" Papa mau makan apa?" tanya Azkia kepada Raffasya.
" Aku mau cumi goreng tepung sama capcay kuah, Ma." sahut Raffasya. Dan Azkia pun mengambilkan apa yang diminta oleh Raffasya.
Rosa yang melihat Kakak dan Kakak ipar bersikap romantis dengan Azkia yang mengambilkan makanan untuk Raffasya langsung melirik Papa dan Lusiana yang terlihat sedang mengambil nasi masing-masing.
" Papa mau Oca ambilkan lauknya?" tanya Rosa kemudian.
Ucapan Rosa membuat Lusiana melirik ke arah Fariz yang duduk di sampingnya. Tentu dia masih terasa canggung untuk meladeni mantan suaminya itu.
" Iiihh, jangan kamu dong, Ca. Mama saja yang ambilkan lauk untuk Papa!" protes Azkia, sepertinya dia tahu jika Rosa sedang memancing agar Lusiana melayani Fariz hingga Azkia langsung menimpali perkataan Rosa tadi.
" Kok, Mama?" tanya Lusiana.
" Kami ini belum resmi rujuk, jadi dia belum berkewajiban melayani Papa, Kia." Fariz kemudian mengambil fuyunghai asam manis dan udang goreng tepung di atas piring nasinya.
" Mas 'kan alergi udang, jangan makan udang, dong!" spontan Lusiana melarang Fariz yang mengambil beberapa udang tepung.
Sontak larangan yang diucapkan Lusiana membuat semua yang ada di ruangan itu kecuali Uni dan Naufal menoleh ke arah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.
" Hmmm, Mama perhatian juga nih sama Papa. Masih ingat saja kalau Papa arlegi sama udang, ya?" Azkia terkikik meledek Mama mertuanya.
" Ma ..." Kembali Raffasya menegur Azkia.
" Tentu saja Mama mertuamu ini masih ingat, Kia. Mama mertuamu cuma menikah sekali hanya sama Papa saja, tentu saja hanya ingat apa yang biasa dan tidak boleh dilakukan oleh Papa, dong." Fariz meladeni kelakar yang diucapkan oleh Azkia.
" Aku hanya mengingatkan, kalau Mas Fariz makan udang lalu alerginya kumat, salah sendiri!" Lusiana menjawab sindiran mantan suami dan menantunya itu.
Fariz tersenyum lalu berkata, " Terima kasih kamu sudah mengingatkan, Lus."
" Sebaiknya kita mulai makannya." Raffasya meminta keluarganya untuk segera menyantap makanan dengan dia yang memimpin doa terlebih dahulu.
" Kamu betah tinggal di Jakarta, Nak?" tanya Fariz kepada Rosa setelah mereka selesai menyantap makan malam mereka.
" Alhamdulillah betah, Pa. Apalagi Mama Lusi di sini baik banget sama Oca." Tak canggung Rosa memuji calon Ibu sambungnya itu, membuat wajah Lusiana bersemu merah.
" Terima kasih kamu sudah membantu mengurus putriku, Lusi." Kembali Fariz menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada Lusiana.
" Aku hanya menyediakan tempat untuk tinggal, tidak ikut mengurus Oca," sanggah Lusiana.
" Sama sajalah, Ma. Dengan Mama mau menerima Oca di rumah Mama, artinya Mama ikut membantu mengurus Oca. Benar 'kan, Pa?" Bukan Azkia namanya jika tidak ada celetukan yang keluar dari mulut wanita cantik itu.
" Benar sekali, Kia. Apalagi Papa kenal karakter Mama mertuamu ini, dia tidak mudah bisa menerima orang yang masuk ke dalam lingkungan keluarganya." Fariz menjelaskan bagaimana karakter seorang Lusiana.
" Berarti Kia dan Oca termasuk yang beruntung dong, bisa .dekat sama Mama. Iya nggak, Ca?" Azkia memainkan alisnya seraya melirik ke arah adik iparnya itu.
" Iya, Kak." sahut Rosa.
" Tapi nanti Mama nggak berkurang 'kan sayangnya ke Kia kalau Papa sama Mama sudah rujuk kembali? Nanti Mama sayangnya sama Oca saja, nih ..." Azkia merasa khawatir jika kasih sayang mertuanya yang selama ini tumpah ruah kepadanya akan menyurut setelah Rosa resmi menjadi anak sambung Lusiana.
" Nggak mungkin, Kia!"
" Nggak dong, Kak!"
Lusiana dan Rosa menangkis kekhawatiran Azkia dengan mengatakan jika Lusiana tidak akan pilih kasih dan akan memperlakukan adil.
" Kamu anak Mama, Oca juga anak Mama. Nggak mungkin Mama akan pilih kasih dengan kalian." Lusiana mencoba meyakinkan Azkia.
Raffasya yang mendengarkan interaksi hangat antara kedua orang tuanya, Azkia dan juga Rosa mengulum senyuman karena rasa bahagia yang dia rasakan saat ini.
" Oca mau. ke toilet dulu ya, Pa, Ma." Rosa tiba-tiba berpamitan ingin ke toilet. Dia pun segera keluar dari private room dan mencari toilet, karena yang tersedia di private room hanya wastafel untuk mencuci tangan.
Selepas buang air kecil, Rosa pun berniat kembali ke ruangan tadi mereka berkumpul.
" Hei, kamu ada di sini?" Seseorang menyapa Rosa membuat Rosa menahan langkahnya dan menolehkan pandangannya ke arah suara yang menyapanya.
Rosa membulatkan bola matanya saat dia melihat kehadiran Gibran di restoran itu.
" Kakak? Kakak ada di sini juga?" Rosa tampak terkejut.
" Iya, saya baru selesai makan sama Papa Mama saya yang datang dari Jambi." Gibran menunjuk ke arah sepasang paruh baya yang sedang berjalan ke luar restoran. Sementara dia sendiri baru saja membayar bill di kasir.
" Oh ...."
" Kamu di sini sama siapa?" tanya Gibran kemudian.
" Sama keluarga saya, Kak. Kebetulan Papa saya juga baru datang dari Menado jadi Kakak dan Kakak ipar saya mengajak kami makan bersama di sini," jawab Rosa sejujurnya.
" Keluarga kamu yang mana?" Gibran mengedar pandangan ingin tahu di mana keluarga Rosa, gadis yang dia kenal beberapa waktu lalu.
" Mereka di private room, Kak." jawab Rosa.
" Oh ya, kamu siapa namanya? Maaf saya lupa." Meskipun Gibran mengingat sosok Rosa namun dia lupa akan nama Rosa.
" Rosa, Kak."
" Oh, iya. Maaf kalau saya lupa. Kalau kamu masih ingat nama saya?"
" Kak Gibran, kan?"
" Ternyata ingatan kamu lebih kuat daripada ingatan saya." Gibran terkekeh. " Oh ya, Rosa. Saya boleh minta nomer telepon kamu?" Gibran memberanikan diri menanyakan nomer telepon Rosa.
" Untuk apa, Kak?" tanya Rosa.
" Ya, siapa tahu kita akan bertemu lagi tiba-tiba seperti ini. Jadi, kita bisa berteman, kan? Tapi kalau kamu merasa keberadaan saya tahu nomer kamu juga nggak apa-apa, kok."
" Oh, boleh, Kak." Rosa lalu menyebutkan deretan angka nomer ponselnya kepada Gibran.
" Oke, saya misscall ke nomer kamu. Itu nomer telepon saya, kamu save, ya!?"
" Oh, iya, Kak. HP saya ditinggal di meja di dalam," ucap Rosa yang memang tidak membawa ponsel ke toilet.
" Ya, sudah, nggak apa-apa. Kalau begitu saya duluan, ya!?" pamit Gibran kemudian.
" Iya, Kak." Setelah Rosa menjawab, Gibran lalu meninggalkan Rosa dan menyusul kedua orang tuanya keluar dari restoran.
" Kamu sedang apa berdiri saja di sini, Ca?" Suara Raffasya yang terdengar tiba-tiba dari arah belakang membuat Rosa seketika terperanjat.
" Kak Raffa?"
" Kamu sedang apa di sini? Bukannya masuk ke dalam?" Raffasya yang ingin ke kasir untuk membayar pesanannya tadi langsung terheran saat melihat adiknya hanya berdiri terpaku menatap ke arah pintu restoran.
" Ah itu, Kak. Tadi Oca ketemu sama orang yang waktu itu mengantar Oca waktu Oca dijambret." Rosa menjelaskan apa yang terjadi.
" Orang yang menolong kamu? Mana orangnya? Kenapa kamu nggak kenalkan ke Kakak?" tanya Raffasya.
" Dia tadi sama keluarganya, Kak." jawab Rosa.
" Oh, sama istrinya?" Raffasya salah mengartikan kata keluarga yang dimaksud oleh Rosa. " Ya sudah, kamu kembali dulu sana!" Raffasya menyuruh Rosa untuk kembali bergabung dengan yang lain sementara dia meneruskan niatnya membayar makanan yang telah mereka makan bersama.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️