MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Wedding Party



" Ma, Kia sudah kelihatan cantik belum?" tanya Azkia kepada Natasha setelah selesai dimake up oleh Ester, karena sore ini wedding party Azkia dan Raffasya akan digelar di cafe milik Raffasya.


" Sudah, dong! Anak Mama sudah pasti cantik." Natasha memuji putrinya itu. " Gaunnya nyaman nggak dipakainya, Kia?" Natasha menanyakan apakah gaun pengantin yang dikenakan Azkia terasa enak dipakai atau tidak terutama di bagian perut dan pinggangnya.


" Nyaman kok, Ma." sahut Azkia.


" Ya sudah, kita berangkat sekarang?" Natasha mengulurkan tangannya mengajak Azkia keluar dari kamar Azkia di rumah Yoga.


" Iya, Ma." Azkia menyambut uluran tangan Mamanya itu dan mereka berdua keluar dari kamar Azkia.


Sementara di lantai bawah ...


" Nanti yang mengendarai mobil yang dipakai Raffa sama Kia siapa, Pa?" tanya Alden, yang harus pulang dari Autralia, tentu saja Alden tidak ingin melewatkan acara wedding party adiknya.


" Raffa sama Kia nanti sama Pak Mamat. Kamu nanti bawa mobil sendiri saja sama adik-adik kamu. Papa sama Mama nanti sama supir bareng sama Eyang sama Enin," ujar Yoga mengatur siapa-siapa saja yang akan mengantar ke La Grande Caffee.


" Nenek Nabilla sama siapa, Pa?" tanya Alden kemudian.


" Nenek nanti ikut sama Tante Mara dan Om Radit."


" Sudah siap berangkat sekarang, Mas?" tanya Natasha yang menuruni anak tangga menggandeng tangan Azkia.


Yoga yang mendengar suara Natasha langsung menoleh ke arah tangga.


" Masya Allah, kamu cantik sekali, Yank." Yoga menunggu istrinya di ujung tangga seraya mengulurkan tangannya menyambut Natasha.


" Mas ini ... bukan anaknya yang dipuji malah Mamanya yang dipuji." Natasha terkekeh karena suaminya lebih memperhatikan penampilannya ketimbang penampilan Azkia yang tampil cantik mempesona bak bidadari sore itu.


" Kalau Kia, biar suaminya saja yang suruh memuji, Kia 'kan sudah punya suami sendiri." canda Yoga melirik ke arah Raffasya yang langsung menaikkan kedua alisnya karena tidak menyangka jika Papa mertuanya itu akan menyindirnya dengan candaan seperti itu.


Azkia melirik suaminya yang tak se-tanggap Papanya yang langsung menghampiri Mamanya. Raffasya justru terpaku sebelum disindir oleh Papanya tadi


" Ih, Papa ... Kia 'kan anak Papa. Masa nggak dipuji juga." Azkia melampiskannya kepada Yoga.


" Tentu saja kamu juga cantik, Nak. Anaknya siapa dulu? Anaknya Mama Tata, kan?" canda Yoga kini merangkul Azkia yang merajuk kepadanya.


Raffasya yang melihat Azkia sempat melirik dengan tatapan mata sinis kepadanya kini mendekati Kia lalu menggenggam tangan Azkia.


" Kita berangkat sekarang, Pa, Ma?" tanya Raffasya.


" Ya sudah, kita berangkat sekarang saja." Yoga mengiyakan pertanyaan Raffasya kepadanya. Dan akhirnya Azkia dan Raffasya beserta keluarga besar Azkia pergi menuju La Grande Caffee untuk mengadakan acara resepsi pernikahan Azkia dan juga Raffasya.


***


Sepanjang perjalanan menuju tempat resepsi, Raffasya terus saja memandangi wajah Azkia. Sementara tangan mereka bergenggaman dan jari-jari Raffasya bertautan dengan jari lentik Azkia.


" Ngapain ngeliatin terus?" tanya Azkia melirik ke arah suaminya.


" Kamu cantik, sih." sahut Raffasya menarik senyuman di bibirnya.


" Memang aku cantik, dari dulu juga sudah cantik. Baru sadar, ya?" sahut Azkia percaya diri.


Raffasya terkekeh mendengar perkataan narsis Azkia.


" Nggak usah dilihatin terus nanti kelamaan bisa-bisa jatuh cinta!" Azkia menyindir Raffasya yang masih saja menatapnya.


" Aku nggak pernah kepikiran akan jatuh cinta sama cewek bar-bar kayak kamu, May." sahut Raffasya terkekeh, membuat Azkia memutar bola matanya.


" Aku heran kenapa Gibran bisa suka sama kamu, ya?" lanjut Raffasya.


Azkia spontan menoleh ke arah Raffasya saat suaminya itu menyebut nama Gibran dalam pembicaraan mereka.


" Nggak usah bawa-bawa Kak Gibran, ya!" protes Azkia.


" Iya, ngapain juga bawa dia, ya? Ini 'kan wedding party kita." Raffasya terkekeh mendengar ucapan Azkia. Dan kembali membuat Azkia memutar bola matanya dengan mendengus kesal karena ucapan Raffasya seolah menyindirnya.


" Aku mau cium pipi kamu, nanti make up nya luntur nggak, sih?" tanya Raffasya kemudian menggoda Azkia yang sedang cemberut.


" Kalau cuma nempel saja nggak akan nempel, Mas Raffa." Pak Mamat yang sedari tadi mencuri dengar perbincangan menarik antara anak majikannya dan suaminya langsung menimpali.


" Pak Mamat nggak usah ikut-ikutan, ya!" sergah Azkia cepat, membuat Pak Mamat langsung menganggukkan kepalanya.


" Maaf, Non." sahut Pak Mamat.


" Makasih infonya, Pak Mamat." Tanggapan berbeda keluar dari mulut Raffasya yang lebih santai. " Pak Mamat sudah berapa lama kerja di rumah Papa Yoga?" tanya Raffasya memilih berbincang dengan Pak Mamat.


" Saya sudah lima tahun ikut sama Pak dosen , Mas Raffa. Kebetulan saya punya kantin di kampus tempat Pak dosen mengajar dan Pak dosen cari supir pribadi, jadi saya melamar jadi supir pribadinya Pak dosen, Mas." Pak Mamat sedikit menceritakan bagaimana dia bisa bekerja dengan keluarga Yoga.


" Oh, berarti sudah kenal sama Papa sebelumnya, ya?" tanya Raffasya kemudian.


" Iya, Mas. Saya kenal Pak dosen sejak saya sekolah SMP lho, Mas. Waktu itu orang tua saya yang jualan di kantin di kampus. Waktu itu kenal sama Pak dosen sejak Pak dosen masih kuliah dan menjadi mahasiswa favorit di kampus itu, Mas." Pak Mamat melanjutkan ceritanya.


" Sudah lama kenal sama Papa Yoga berarti?"


" Iya, Mas. Sejak Pak dosen masih muda dan banyak digandrungi cewek cantik sampai akhirnya Pak dosen punya anak cewek yang cantik seperti Non Kia ini."


" Cantik-cantik tapi kayak preman, Pak." celetuk Raffasya melirik dan menyindir Azkia disusul dengan tawanya yang diikuti oleh tawa Pak Mamat.


Azkia mendelik kesal ke arah suaminya yang sedang mengoloknya.


" Pak Mamat, kalau mengendarai mobil itu jangan mengobrol, dong! Fokus sama jalan di depan!" Azkia memperingatkan Pak Mamat agar tetap fokus dan tidak banyak bicara.


" Tuh, sudah seperti preman 'kan galak ya, Pak?" sindir Raffasya kembali membuat Pak Mamat hanya menahan senyumnya karena takut Azkia akan semakin marah akibat dia menertawakan anak majikannya itu.


" Kita itu mau menghadapi banyak orang, May. Kamu jangan marah-marah terus, dong! Santai ..." ujar Raffasya menasehati. " Dedek sayang, jangan bikin Mama marah-marah terus, ya! Kalau dedek nurut sama Papa, nanti Papa tengokin dedek lagi." Raffasya mengelus perut Azkia sambil menyeringai. Sementara Azkia langsung membelalakkan mata dan buru-buru menyingkirkan tangan Raffasya dari perutnya.


***



Dengan bergandengan tangan Raffasya dan Azkia memasuki pekarangan belakang La Grande Caffee, tempat perayaan pesta pernikahan mereka dilaksanakan. Dekorasi yang nampak cantik dan beberapa standing flower sudah terlihat sejak memasuki pintu masuk Caffee yang sejak kemarin memang sudah ditutup untuk umum dalam menyambut acara wedding party pemilik cafe tersebut. Dan karena lebih banyak kerabat Yoga, Natasha dan juga orang tua Raffasya yang diundang dalam acara pesta tersebut, maka Raffasya memilih tema yang lebih resmi karena tentu saja akan banyak orang penting kolega dari kedua orang tua mereka.


...Di dekatnya aku lebih tenang...


...Bersamanya jalan lebih terang...


...Berdua kita hadapi dunia...


...Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju...


...Bersama arungi derasnya waktu...


Diiringi tembang Teman Hidup milik Tulus yang dinyanyikan oleh penyanyi cafe La Grande, Azkia dan Raffasya berjalan menuju stage pelaminan yang langsung disambut tepuk tangan tamu undangan yang sebagian sudah datang sore itu.


" Selamat datang untuk Mas Raffasya dan Mbak Azkia yang baru saja sampai, silahkan untuk menempati singgasana yang sudah disediakan. Sore hingga malam hari ini Mas Raffa dan Mbak Kia yang akan menjadi raja dan ratu di sini. Sudah terlihat kan auranya? Aura bahagia nampak jelas di antara dua pasangan yang sedang dimabuk asmara dan sudah memulai mahligai rumah tangga." Fero dan Fenita yang didampuk sebagai MC mulai menjalankan tugasnya.


" Selamat sore dan selamat datang juga kepada para undangan yang telah hadir di La Grande. Wedding party kali ini benar-benar istimewa karena yang punya acara adalah pemilik dari cafe ini." Fenita menyambung ucapan Fero.


" Benar sekali, ini ibaratnya La Grande yang punya hajat karena bos kami sendiri yang mengadakan wedding party nya ." Fero melanjutkan ucapan Fenita kemudian membuka acara wedding party bos mereka.


Setelah itu para tamu mulai memberikan selamat kepada kepada Azkia dan Raffasya secara bergantian.


" Azkia selamat ya, Nak." Seorang wanita paruh baya memberi selamat kepada Azkia dan memeluk tubuh Azkia.


" Bu Santi? Terima kasih ibu sudah datang kemari," sahut Azkia yang terlihat kaget dengan kehadiran guru SD nya bersama Raffasya.


" Wah, ibu benar-benar terkejut waktu tahu kamu dan Raffa sudah menikah. Ibu jadi ingat waktu kalian selalu berdebat ketika sekolah dulu." Wanita yang ternyata adalah guru BP saat Azkia dan Raffasya masih sama-sama sekolah SD ternyata yang datang memberikan ucapan selamat kepada Azkia.


Azkia melirik ke arah Raffasya saat Bu Santi menyinggung soal masa kanak-kanak mereka.


" Bu Santi terima kasih sudah berkesempatan datang di acara kami." Raffasya juga mengucapkan terima kasih saat melihat guru saat dia sekolah SD hadir di acaranya.


" Raffa, Ibu tidak menyangka ternyata kamu sama Kia ini berjodoh. Kamu tumbuh menjadi pemuda yang tampan. Kamu sudah terlihat semakin dewasa dan banyak berubah sekarang." Ibu Santi mengusap lengan Raffasya.


" Iya, Bu. Mungkin sudah takdir kami harus menjalaninya seperti itu, Bu." jawab Raffasya.


" Ya sudah tidak apa-apa, Ibu doakan semoga rumah tangga kalian langgeng dan diberkahi Allah SWT. Sekali lagi ibu ucapkan selamat menempuh hidup baru, Raffa, Kia." Ibu Santi mendoakan Azkia dan Raffasya.


" Aamiin, terima kasih, Bu." Raffasya dan Azkia menyahuti bersamaan.


" Raffa, Kia, selamat atas pernikahan kalian, semoga langgeng sampai kakek nenek." Kali ini Dimas yang memberikan ucapan selamat kepada Raffasya dan Azkia.


" Terima kasih, Bang." Raffasya membalas ucapan Dimas.


" Kia. selamat, ya." Istri dari Dimas memeluk Azkia dan juga mengucapkan selamat. " Bagaimana kabar dedek bayinya?" Astrid yang tiba-tiba menanyakan soal bayi di kandungan Azkia, membuat Azkia menoleh ke arah Raffasya. Karena Azkia tidak menduga jika Astrid tahu soal kehamilannya.


" Hmmm, Alhamdulillah baik, Mbak Astrid." Azkia tersenyum kaku, karena bagaimanapun Astrid masih mempunyai hubungan kerabat dengan Gibran. Dan terakhir kali bertemu dengan Astrid, saat itu Gibran bahkan mengenalkan dirinya sebagai calon istri Gibran.


" Syukurlah kalau begitu. Semoga kehamilannya sehat selalu dan lancar sampai melahirkan." Astrid ikut memberikan doanya.


" Makasih, Mbak." sahut Azkia.


" Raffa, Mbak ucapkan selamat menempuh hidup baru, semoga rumah tangga kalian samawa." Giliran Raffasya yang diberikan ucapan selamat oleh Astrid.


" Thanks, Mbak Astrid." sahut Raffasya.


" Kak Raffa cerita soal kehamilan aku sama mereka?" tanya Azkia menuduh Raffasya yang telah menceritakan seputar kehamilannya setelah Dimas dan Astrid menjauh dari mereka.


" Mereka dengar waktu kita berdebat di depan rumah mereka," sahut Raffasya.


" Dan Kak Raffa membongkar soal kehamilan aku kepada mereka?" Azkia kesal karena Raffasya membuka aib nya kepada teman-temannya.


" Bang Dimas dan Mbak Astrid sudah seperti kakak aku sendiri. Aku percaya kepada mereka." Raffasya meyakinkan Azkia kalau Dimas dan Astrid bukan tipe orang yang bermulut comel. Dan Azkia hanya mendengus mendengar jawaban suaminya itu.


" Raf. Congrat ya, Bro! Akhirnya ..." Harlan yang kini mendapat giliran mengucapkan selamat kepada Azkia dan Raffasya langsung memberi ucapan selamat.


" Hai, Lan. Thanks lu udah datang kemari." Raffasya dan Harlan saling berpelukan.


" Hai, akhirnya bisa bertemu langsung dengan kamu." Harlan yang merasa penasaran dan memang belum sempat melihat wajah Azkia saat di Bandung segera menyalami Azkia seraya menyeringai.


Mendapati Harlan yang menyeringai, Azkia spontan menoleh kembali ke arah suaminya.


" Harlan ini waktu di Bandung ikut bantu aku waktu nolong kamu. Teman dia yang punya penginapan di Bandung." Raffasya menjelaskan.


Mendengar kenyataan jika Harlan adalah orang yang membantu menyediakan tempat hingga akhirnya dia dan Raffasya melakukan suatu kesalahan, Azkia langung menatap dengan tajam ke arah Harlan. Karena dia juga berpikir saat itu Harlan melihat bagaimana saat dirinya dalam terpengaruh obat pe rangsang.


" Wah, gue diplototin sama bini lu, Raf." Bisik Harlan saat melihat tatapan mata tak bersahabat Azkia kepadanya.


" Lu masih belum bisa jinakin dia memangnya, Raf?" Harlan menyeringai mengatakan soal sikap Azkia yang telihat galak kepadanya.


Raffasya terkekeh mendengar perkataan Harlan, dia lalu mengusap punggung Azkia seraya membisikkan " Dia nggak lihat tubuh kamu, kamu tenang saja."


Azkia langsung menepis tangan Raffasya yang melingkar di punggungnya dengan memberengut kesal.


" Gue mau ke Bang Dimas dulu, deh. Gue takut lama-lama dekat bini lu, Raf." Harlan berpamitan ingin menghindar dari Azkia.


" Oke, thanks, Lan."


" Berapa orang lagi teman Kak Raffa yang tahu soal kejadian di Bandung selain suaminya Mbak Astrid dan cowok tadi?" Azkia merasa bukan hanya kepada mereka saja Raffasya menceritakan tentang kejadian mereka berdua di Bandung.


Raffasya yang ditanya Azkia secara reflek menoleh ke arah Fero.


" Dia juga tahu masalah ini?" Azkia terbelalak saat menyadari ternyata banyak yang tahu soal mereka.


" Mereka itu sahabat-sahabat aku, May. Mereka pasti bisa menjaga rahasia ini. Raffasya kembali mencoba meyakinkan Azkia.


" Mereka bisa menjaga rahasia, tapi Kak Raffa nggak bisa menjaga rahasia Kak Raffa sendiri. Mungkin bukan mereka yang akan menyebarkan hal ini tapi mulut Kak Raffa lah yang akan menyebarkan hal ini ke banyak orang lagi!" ketus Azkia kesal.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️