
Azkia menggigit bibirnya seraya memejamkan matanya saat mendengar suara Gibran karena masih terjadi keributan kecil di depan rumahnya. Sedangkan Raffasya yang melirik ke arah Azkia di sebelahnya bisa merasakan kegelisahan wanita itu.
Tak lama berselang Raditya masuk ke dalam ruangan tamu kembali dan duduk di tempatnya semula seraya membisikkan sesuatu kepada Yoga yang duduk di depannya berhadapan dengan Raffasya.
" Silahkan dilanjut acaranya, Pak." Yoga lalu meminta Pak Penghulu melanjutkan acara ijab qobul.
Setelah diawali pembacaan ayat-ayat suci Alquran dan khutbah nikah oleh Penghulu yang diharapkan menjadi bekal untuk kedua mempelai untuk menjaga kerukunan dan keharmonisan dalam rumah tangga, kini saatnya moment yang paling ditunggu, yaitu pengucapan ijab qobul antara Yoga sebagai wali nikah dan Raffasya sebagai calon mempelai pria.
Saat ini Yoga menjabat tangan Raffasya dengan erat, bisa dirasakan telapak tangan Raffasya yang nampak dingin karena ketegangan yang dirasakan oleh pria muda itu. Dan setelah dibimbing oleh penghulu, Yoga kini siap mengucapkan kalimat ijab sebagai ucapan penyerahan putri tercintanya kepada calon suaminya yang akan dibalas dengan kalimat qobul oleh Raffasya.
" Bismillahirrohmanirrohim ..." Yoga membaca basmalah terlebih dahulu berharap apa yang akan dilakukan atas ridho Allah SWT.
" Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Raffasya bin Fariz Ibrahim dengan putri saya Almayra Azkia Atmajaya binti Prayoga Atmajaya dengan maskawin berupa logam mulia seberat seratus gram dan uang tunai sebesar dua puluh juta rupiah dibayar tunai." ucap Yoga membacakan kalimat ijabnya.
Azkia menatap wajah Papanya yang terlihat serius sedang menatap ke arah Raffasya.
" Saya terima nikah dan kawinnya Almayra Azkia Atmajaya binti Prayoga Atmajaya dengan maskawin tersebut tunai!" Diluar dugaan Raffasya bisa mengucapkan kalimat qobul dengan mantap dan tanpa grogi sedikitpun.
" Sah?"
" Saaahhh ...!!" seru beberapa tamu menyahuti.
" Alhamdulillah ..."
Bahkan tarikan nafas lega terdengar dari keluarga besar Yoga, Natasha dan juga Raffasya.
Setelah pembacaan Ijab qobul selesai, kini pasangan pengantin baru itu dipersilahkan untuk menyematkan cincin pernikahan mereka.
Raffasya terlebih dahulu mengambil tangan kiri Azkia untuk memasang cincin ke jari manis wanita itu. Dia menatap Azkia yang hanya menunduk tak menatapnya hingga dia melekatkan cincin yang dibelikan oleh Lusiana di jari Azkia.
Setelah Raffasya menyelesaikan tugasnya, kini giliran Azkia yang harus menyematkan cincin itu ke jari Raffasya. Azkia mengambil cincin yang diserahkan oleh Amara. Dia melirik dengan menatap tajam ke arah Raffasya yang masih menatapnya lekat. Azkia lalu menurunkan pandangannya kembali seraya memasukan cincin nikah ke jari Raffasya. Selanjutnya Azkia diminta mencium punggung tangan Raffasya kemudian Raffasya diarahkan untuk mencium kening Azkia.
" Ingat ya, Kak! Hanya sampai bayi ini lahir," bisik Azkia sengaja mendekatkan bibirnya ke telinga Raffasya dan membisikkan kalimat itu.
Sesudah pemasangan cincin di jari masing-masing mempelai, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa nikah, penandatanganan dokumen pernikahan, serah terima mahar kepada pengantin wanita, nasehat pernikahan yang langsung ditutup dengan acara sungkeman kepada kedua orang tua sebagai permintaan restu dan juga sebagai momen bersatunya kedua keluarga.
***
Setelah prosesi ijab qobul selesai kini kedua pengantin mendapatkan ucapan selamat dari keluarga dan beberapa tamu undangan yang datang.
" Kia, Kak Raffa, selamat ya atas pernikahan kalian." Rayya langsung memeluk Azkia dan memberi selamat kepada mereka berdua.
" Terima kasih, Rayya." Raffasya memperhatikan wanita berhijab yang merupakan saudara sepupu istrinya itu.
" Kia, congrat atas pernikahanmu." Ramadhan yang melihat Raffasya memandang Rayya begitu lekat langsung menutup pandangan Raffasya dengan tubuhnya saat mengucapkan selamat kepada Azkia.
" Doakan agar aku dan Rayya secepatnya menyusul kalian. Aku pun tidak sabar ingin segera memperistrimu, Sayang." Ramadhan sengaja mengatakan kata sayang seraya menoleh ke arah Rayya seolah ingin menegaskan kepada Raffasya jika dia lah yang akan memiliki wanita cantik berhijab itu.
Ucapan dan tindakan Ramadhan tentu saja membuat Raffasya mengalihkan pandangan kepada Ramadhan dengan kening berkerut.
" Sayang, aku mau makan tapi aku ingin makan sepiring berdua denganmu." Ramadhan memang sengaja memanas-manasi Raffasya sehingga membuat Azkia langsung menoleh ke arah Raffasya yang masih menatap Ramadhan.
Azkia memutuskan berjalan menjauh dari Raffasya, Rayya dan juga Ramadhan.
"Az, ya ampun. Suami lu itu cowok yang nolongin lu waktu hampir jatuh di tangga dulu, kan? Oh gosh, dia benar-benar jadi suami lu sekarang?" Atika yang sejak tadi duduk di dekat pintu saat acara prosesi ijab qobul langsung mendekati Azkia.
" Eh, lu Tik. Gue kira lu nggak jadi datang."
" Masa gue nggak datang, sih?? Lu itu sahabat gue, lagipula gue penasaran sama suami lu. Eh, ternyata si badboy yang sweet itu." Atika terkekeh menggoda Azkia.
" Nggak usah meledek!" protes Azkia membuat Atika tertawa.
" Eh, tadi ada Kak Gibran ya, Az. Dia pasti sedih banget, dong. Sejak SD nungguin lu, sampai akhirnya pacaran. Ujung-ujungnya malah harus melihat lu nikah sama cowok lain."
Azkia menghela nafas dalam-dalam, dia bisa merasakan kesedihan Gibran karena dia juga merasa sedih akhirnya harus berpisah dengan kekasihnya itu.
" Gue juga sedih, Tik. Harapan gue bisa hidup sama dia ternyata kandas," lirih Azkia.
" Lu nggak boleh sedih dong, Az! Lu akan punya baby, punya suami ganteng pula, nikmati sajalah ..." Atika tidak setuju dengan apa yang dipikirkan oleh Azkia.
Azkia lalu menoleh ke arah Raffasya yang kini sedang berbincang dengan Raditya.
" Semua itu nggak lama kok, Tik. Hanya sampai bayi ini lahir, doang." Tanpa sadar Azkia mengucapkan kalimat itu.
" Hahh?? Apa?? Maksud lu, pernikahan lu cuma sampai bayi lu lahir??"
Azkia langsung terkesiap saat mendengar Atika berbicara mengulang kalimat yang tadi diucapkannya.
" Sssttt ... lu jangan keras-keras ngomongnya!" Azkia membekap mulut Atika dengan telapak tangannya karena takut apa yang diucapkan Atika didengar orang lain.
" Maksud lu apa? Bilang hanya sampai bayi lu lahir?" Atika penasaran.
" Sudah ah, nggak usah dibahas! Lu ambil makanan dulu sana!" Azkia ingin menghentikan pembahasan seputar rencananya yang terendus oleh Atika tadi.
" Gue belum sempat ucapin selamat ke lu, Az." Atika menyeringai. " Selamat menempuh hidup baru, semoga samawa, ya! Dan semoga rencana lu itu tidak terwujud." Atika terkekeh seraya memberi selamat membuat Azkia memutar bola matanya.
***
Hari sudah menjelang malam. Azkia sudah kembali ke kamarnya. Dia merasa lelah sekali hari ini, karena harus menerima tamu-tamu yang ingin memberikan ucapan selamat kepadanya.
Tok tok tok
" Masuk saja!" sahut Azkia dari dalam kamarnya saat dia mengistirahatkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Azkia bisa mendengar suara pintu kamarnya terbuka namun dia tak menoleh untuk mengetahui siapa yang masuk ke dalam kamarnya. Namun seketika Azkia terkejut dan langsung bangkit dari tempat tidur saat dia melihat Raffasya sudah berdiri di samping tempat tidurnya.
" Kak Raffa ngapain masuk-masuk kamar aku?" tanya Azkia ketus.
" Papa lu yang suruh gue masuk ke sini," sahut Raffasya.
" Kenapa nggak pulang saja sih sana!" usir Azkia merasa tidak suka dengan kemunculan Raffasya di dalam kamarnya.
" Kalau gue pulang, lu juga mesti ikut pulang sama gue!" tegas Raffasya.
" Iiihh, ini rumah orang tua aku, ngapain mesti ikut Kak Raffa?" Azkia keberatan dengan rencana Raffasya yang akan membawanya ke rumah pria itu.
" Gue itu suami lu, jadi gue berhak bawa lu dari sini dan lu wajib mengikuti gue!" Raffasya mengingatkan soal hak dan kewajiban pasangan suami istri.
" Pernikahan kita itu cuma pura-pura, jadi Kak Raffa itu nggak usah mikir macam-macam soal hak dan kewajiban!" Azkia kembali menentang Raffasya.
" Sekarang Kak Raffa keluar dari sini!" Azkia kemudian mendorong tubuh Raffasya hingga keluar dari kamarnya kemudian mengunci pintu kamarnya itu.
Raffasya yang diusir dari kamar Azkia kemudian turun ke bawah, dia lalu melihat Yoga dan Natasha yang masih berbincang dengan Papih dan Mamih dari Yoga.
" Om, Tante, boleh saya bicara sebentar?" tanya Raffasya meminta ijin untuk berbincang.
" Kamu panggilnya itu Papa sama Mama, jangan Om sama Tante! Kamu sama Kia itu sudah menikah, otomatis sekarang ini Papa Mama Kia juga jadi Papa Mama kamu." Mamih Ellena yang memprotes panggilan Raffasya kepada Yoga dan Natasha.
" Nah, kalau ke Mamih jangan panggil Nenek! Panggil saja Eyang Mamih, ke Papih Eyang Papih. Samakan saja atuh sama Kia manggil ke kami." Mamih Ellena kembali memprotes.
" Oh Maaf Eyang Mamih." Raffasya buru-buru meralat dan minta maaf.
" Nah, begitu 'kan enak didengarnya," sahut Mamih Ellena.
" Kamu mau bicara apa, Raffa? Duduklah ..." tanya Yoga mulai merespon ucapan Raffasya sebelumnya yang meminta ijin bicara dengannya dan juga istrinya.
" Begini, Pa. Saya meminta ijin kepada Papa dan Mama untuk membawa Almayra ke rumah saya dan tinggal di sana." Raffasya menyampaikan niatnya yang ingin membawa Azkia pulang bersama dia.
" Dibawa ke rumah kamu? Lalu siapa yang akan mengurus Kia, Raffa? Kia itu sedang hamil, pasti akan banyak keluhan. Sedangkan kamu hanya tinggal dengan Nenek kamu. Mending kalian tinggal di sini saja, biar Mama bisa memantau kesehatan Kia dan kandungannya." Natasha terlihat keberatan dengan rencana yang disampaikan oleh Raffasya.
" Nanti Raffa yang urus Almayra, Ma."
" Memang kamu pengalaman urus orang hamil?" Natasha meragukan kemampuan Raffasya yang dianggapnya tidak akan bisa mengurus Azkia.
" Raffa nanti akan mempekerjakan orang khusus untuk mengurus Almayra, Ma." Raffasya mencoba meyakinkan Natasha.
" Tapi Kia lebih aman tinggal di sini, Raffa." Natasha tetap tidak setuju dengan rencana Raffasya.
" Kapan kamu mau bawa Kia ke tempatmu, Raffa?" tanya Yoga tak memperdulikan pertentangan istrinya.
" Mas ..." Natasha langsung menoleh ke arah Yoga.
" Secepatnya, Pa. Raffa sudah suruh orang untuk merapihkan kamar Raffa agar nyaman ditempati oleh Almayra." Raffasya menjawab pertanyaan Yoga.
" Baiklah, tunggu dua atau tiga hari saja dulu, baru kalian bisa pindah ke sana." Yoga sudah mengambil keputusan, karena dia sudah memprediksikan jika Raffasya pasti akan membawa Azkia keluar dari rumah ini.
" Mas, bukannya Kia justru lebih baik tetap di sini? Kia itu sedang hamil lho, Mas." Natasha kurang sependapat dengan Yoga.
" Raffa itu sudah menjadi suami Kia, dia berhak membawa Kia pergi ke tempatnya, Yank." Yoga menjelaskan kepada Natasha.
" Aku mengerti tapi Kia sedang hamil, Mas." Natasha tetap tak sependapat.
" Raffa sudah bersedia mengurus Kia. Kita percayakan saja Kia sama dia." Yoga tetap pada keputusannya.
Natasha tak bisa membantah lagi apa yang sudah menjadi keputusan sang suami.
" Ya sudah, Raffa. Sebaiknya kamu kembali ke kamar Kia." Yoga menyuruh Raffasya kembali ke kamar Azkia.
" Almayra nggak kasih ijin saya masuk ke kamarnya, Pa."
Ucapan Raffasya yang jujur membuat semua yang sedang berkumpul di sana membelalakkan matanya dan saling berpandangan.
" Kia nggak mengijinkan kamu masuk?" Antara kasihan dan ingin tertawa Yoga mengulang kalimat yang diucapkan menantunya itu.
" Yank, kasih tahu anakmu sana. Mereka sudah suami istri, tidak baik melarang suaminya masuk ke kamar." Yoga meminta Natasha untuk membujuk Azkia agar tidak keras kepala dan tidak melakukan kesalahan atas statusnya sebagai seorang istri.
Natasha kemudian bangkit dan beranjak menuju kamar Azkia seperti yang diperintahkan suaminya.
" Kau ikutlah dengan Mama mertuamu, Raffa." Yoga lalu menyuruh Raffasya mengikuti langkah Natasha.
" Baik, Pa. Terima kasih." Raffasya pun mengekori langkah Natasha ke kamar Azkia.
Tok tok tok
" Kia, buka pintunya, Nak!" Suara Natasha memanggil Azkia cukup kencang.
" Kia ..." panggil Natasha kembali.
Kurang dari satu menit pintu kamar Azkia terbuka lebar.
" Kia, kenapa kamu melarang Raffa masuk ke kamar kamu?" tanya Natasha saat melihat putrinya itu muncul di pintu kamar.
Azkia menatap penuh kekesalan kepada Raffasya, dia menduga jika Raffasya telah mengadukan kepada Mamanya tentang perlakuannya kepada pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.
" Kan Mama pernah bilang, dilarang bawa masuk pria ke dalam kamar," sahut Azkia dengan entengnya.
" Iya tapi Raffa ini sekarang sudah menjadi suamimu. Dia berhak masuk ke dalam kamar kamu dan kamu nggak boleh melarangnya." Natasha mencoba menasehati Azkia. Meskipun dia tidak sependapat dengan Raffasya yang ingin membawa pulang Azkia ke rumah pria itu, namun dia juga tidak setuju dengan sikap Azkia yang melarang Raffasya masuk ke dalam kamar.
" Masuklah, Raffa. Kalian jangan bertengkar! Masih banyak tamu di rumah. Jangan bikin mereka curiga dengan apa yang terjadi dengan kalian!" Natasha menyuruh Raffasya masuk ke dalam kamar Azkia kemudian pergi meninggalkan anak dan menantunya itu setelah sebelumnya memberikan peringatan terlebih dahulu.
" Bisanya mengadu!" cibir Azkia saat Mamanya sudah meninggalkan dia dan Raffasya.
" Lu dengar apa yang Mama lu bilang, kan? Jangan menimbulkan kecurigaan!" Raffasya kemudian berjalan masuk ke dalam kamar Azkia kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur Azkia.
" Eh, ngapain tidur di situ?! Itu punyaku! Kalau Kak Raffa mau tidur, tidur saja di karpet atau di sofa jangan di tempat tidurku!" Azkia berkacak pinggang karena kini tubuh Raffasya sudah meguasai tempat tidurnya.
Raffasya tidak memperdulikan larangan Azkia karena dia pun merasakan penat yang teramat sangat. Dia justru kini memejamkan matanya.
" Kak Raffa! Awas!!" Azkia memukuli tubuh Raffasya dengan bantal agar pria itu segera bangkit dari tempat tidurnya.
Bukannya beranjak dari tempat tidur, Raffasya justru merubah dan merapihkan posisi tidurnya menjadi tengkurap membuat Azkia semakin kesal.
" Kak Raffa ...!!" teriak Azkia menarik lengan Raffasya agar bangun dan menjauh dari tempat tidurnya.
" Apaan sih, lu? Gue itu capek!"
" Jangan di sini tidurnya!"
" Kasurnya lebar, muat untuk dua orang, kan? Lu kalau mau tidur, tidur sebelah sana!" Raffasya menunjuk sisi tempat tidur yang masih kosong kepada Azkia.
" Nggak mau, aku nggak bisa kalau tidur sama orang!" Azkia tetap menolak.
Raffasya melirik kemudian bangkit dari tidur kemudian mendekat ke arah Azkia.
" Nggak bisa tidur kalau ada orang? Bukannya dulu kita juga pernah tidur satu ranjang? Lebih sempit dari ranjang ini malah." Raffasya terus memangkas jarak dengan Azkia hingga membuat wanita itu mundur ke belakang karena dia merasa malu jika diingatkan kejadian lalu, hingga akhirnya dia tersudut di tepi tempat tidur dan tubuhnya terhempas ke atas spring bed dengan kaki menjuntai ke lantai
Raffasya yang melihat tubuh Azkia yang terlentang di hadapannya langsung mengungkung tubuh Azkia hingga membuat bola mata Azkia membulat lebar.
" Kak Raffa mau apa? Kak Raffa jangan macam-macam, ya!"
*
*
*
Bersambung ...
Ya ampun Thor, nanggung! Ssssttt puasa, puasa ...✌️🤭
Happy Reading❤️