MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Pacarnya Hamil Ya, Mas?



Setelah mendapat informasi dari Melati tentang siapa saja yang terlibat dalam penjebakan terhadap Azkia dan motif dari penjebakan itu, Raffasya bergegas kembali ke Jakarta hari itu juga, karena dia merasa penasaran terhadap barang yang dititipkan Azkia untuknya.


Hampir menyentuh pukul dua belas malam Raffasya sampai di Raff FM. Masih terlihat beberapa pengunjung yang tersisa di cafe itu karena ini bukan weekend jadi hanya sedikit tamu yang bertahan sampai menjelang dini hari. Dia lalu berlari menaiki anak tangga untuk mengambil barang yang ingin Azkia tunjukan kepadanya.


Raffasya membuka pintu ruangan kerjanya lalu dengan langkah lebar mencapai meja mencari sesuatu yang diserahkan Azkia kepada Adam. Raffasya melihat amplop berwarna coklat, Dia mengambil amplop itu kemudian mengoyaknya hingga tersembullah benda yang dia duga adalah alat pengecek kehamilan. Dia mengambil alat itu dan melihat satu tanda merah yang muncul di alat tersebut. Walaupun dia seorang pria dan tidak berpengalaman dengan hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan, tapi dia tahu apa arti dari tanda satu garis yang terlihat di alat itu.


Sebenarnya apa yang dilihat dari alat itu adalah suatu hal yang melegakan karena Azkia tidak hamil, namun entah mengapa ada sedikit rasa kecewa dengan hasil yang dia dapatkan.


Raffasya memilih langsung pulang ke rumahnya setelah dia melihat hasil alat test kehamilan yang diberikan Azkia.


Raffasya sendiri tidak tahu kenapa? Dia merasa seperti ada yang lepas dari raganya saat mengetahui hasil negatif dari test pack milik Azkia. Seolah dia adalah seorang suami yang mendapati istrinya tidak hamil padahal mereka sudah sangat merindukan kehadiran sang buah hati.


Raffasya kembali mengambil hasil test pack Azkia yang dia taruh di saku jaketnya. Dia terus memandang satu garis merah di alat itu.


" Si al! Kenapa gue malah sedih lihat hasil ini?" Raffasya lalu membuang alat test kehamilan itu ke tempat sampah lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci wajahnya sebelum dia beristirahat, karena dia merasakan tubuhnya yang sangat lelah.


***


Azkia menyantap dua cup salad buah di hadapannya saat dia dan Atika berada di kantin kampus siang ini. Saat ini rasanya hanya makanan yang terasa asam yang bisa diterima dengan baik oleh perutnya.


" Bu, aku minta tambah lagi dong, salad buahnya!" ujar Azkia kepada Ibu kantin yang baru saja membawakan pesanan kepada mahasiswa yang duduk di belakang meja Azkia.


" Lagi, Mbak Kia?" tanya Ibu kantin heran karena Azkia tadi sudah memesan dua cup salad sebelumnya.


" Iya, Bu. Enak banget salad buahnya, segeeerrr ..." sahut Azkia.


" Lu dari tadi makan salad terus, nggak takut sakit perut, Az?" tanya Atika.


Azkia menggelengkan kepalanya menolak anggapan Atika kalau dia akan merasakan sakit di perutnya karena terlalu banyak mengkonsumsi sald buah.


" Kayak lagi ngidam aja lu, Az!" celetuk Atika kemudian.


Ucapkan Atika seketika membuat Azkia menghentikan kunyahannya pada piringan buah kiwi yang ada di dalam mulutnya saat Atika mengatakan soal ngidam yang sudah pasti akan berhubungan dengan orang hamil. Saat itu juga Azkia teringat tentang Raffasya yang selalu mengiranya hamil setelah peristiwa di Bandung. Seketika itu rasa cemas hinggap kembali di hatinya. Namun saat teringat dia sudah memeriksa urine nya, dan hasilnya ternyata negatif, Azkia kembali bisa menarik nafas lega.


" Gi la lu, Tik! Masa ngatain gue hamil! Nikah saja belum!" tepis Azkia mencoba menghibur diri. Walaupun dia saat ini bukan perawan lagi tapi setidaknya dia tidak sampai hamil.


" Ya siapa tahu lu langsung mempraktekan apa yang kita lihat di apartemen Chelsea sama cowok lu!" Atika terkekeh meledek.


Azkia terdiam mendengar sindiran dari Atika. Dia memang mempraktekan apa yang dia lihat saat itu, namun bukan dilakukan dengan pria yang dia cintai, dan dilakukan di waktu yang belum saatnya dia memberikan kesuciannya sebagai wanita terhormat.


Azkia menggigit bibirnya, seraya memejam mata sejenak. Peristiwa di Bandung itu selalu membuat hatinya tercubit. Dia merasa sangat bodoh karena bisa dijebak. Bahkan ilmu beladiri yang dia pelajari selama ini pun tidak mampu menolongnya terhindar dari musibah yang menimpanya.


" Nggak usah dibawa serius omongan gue, Az. Gue yakinlah, anak Pak dosen nggak mungkin hamil duluan, iya kan?" Atika merangkul Azkia.


Dan sekali lagi Azkia bisa bernafas lega karena dia tidak sedang dalam keadaan hamil. Jika dia sampai hamil, dia tidak bisa membayangkan bagaimana dengan orang tuanya? Mereka pasti akan malu atas kejadian yang menimpa dirinya. Terutama Papanya yang berprofesi sebagai seorang dosen. Karena kadang orang luar lebih senang menjudge tanpa pernah perduli apa yang membuat hal itu sampai terjadi.


***


Mata kuliah terakhir hari ini Azkia mencoba mengikuti dengan konsentrasi karena Papanya lah yang mengajar. Azkia tidak mau kejadian dulu saat dia melamun sampai diusir dari kelas sampai terulang kembali.


Namun tiba-tiba saja dia merasakan rasa mual dan pusing yang biasa dia dapatkan tiap pagi beberapa hari ini.


Azkia langsung berdiri dan berkata kepada Yoga yang saat ini sedang serius menerangkan materi di depan kelas.


" Pak, maaf saya ijin ke toilet ..." ucap Azkia saat berjalan menghampiri Yoga.


Yoga memperhatikan wajah putrinya yang terlihat memucat. " Kamu sakit, Almayra?" tanya Yoga.


Azkia tertegun sesaat saat mendengar nama yang disebut Papanya sama seperti nama yang biasa Raffasya pakai saat memanggilnya. Padahal saat di kelas, Yoga sering memakai nama itu untuk memanggilnya.


" Almayra?" Yoga heran karena Azkia malah terpaku memandangnya.


" Ah, i-iya, Pak?" Azkia mengerjapkan matanya dengan tangan memijat pelipisnya.


" Kamu sakit?" tanya Yoga kembali.


" Iya, sedikit pusing, Pak." Azkia kini merasakan pandangan matanya mulai berbayang dan kepalanya terasa berputar hingga dia dengan cepat menangkap lengan Yoga untuk bisa bertahan agar tidak terjatuh.


" Kamu kenapa, Kia?" Kini Yoga sudah memposisikan dirinya sebagai Papa dari Azkia bukan lagi sebagai dosen.


Tiba-tiba saja Azkia terkulai lemas membuat Yoga dengan cepat menangkap tubuh putrinya itu agar tidak terjatuh.


" Astaghfirullahal adzim, Kia!" Yoga langsung mengangkat tubuh Azkia dengan kedua lengannya.


Beberapa mahasiswa ada yang mendekati Yoga dan menawarkan jasa untuk membawa Azkia ke ruang kesehatan namun Yoga menolak, karena dia sendiri yang akan membawa Azkia ke ruang kesehatan di kampus. Salah seorang mahasiswa langsung membukakan pintu untuk Yoga. Sedangkan Atika langsung membereskan tas milik Azkia.


***


Yoga memperhatikan Ibu Sari, petugas kesehatan yang sedang memeriksa kondisi Azkia.


" Bagaimana, Bu Sari?" tanya Yoga khawatir, karena selama yang dia tahu putrinya itu adalah sosok wanita yang kuat dan tidak pernah mendapati Azkia tiba-tiba pingsan seperti tadi.


" Tidak apa-apa, Pak dosen, mungkin hanya kelelahan, tekanan darahnya juga rendah. Nanti saya beri suplemen untuk menambah darah ya, Pak dosen," sahut Ibu Sari.


Sementara Azkia yang kini mulai kembali dengan kesadarannya langsung mengerjapkan matanya. Dia menatap ruangan dia berada sekarang. Dia yang mendengar suara orang yang berbincang langsung bangkit dan terduduk di atas ranjang.


" Kia, kamu sudah siuman, Nak?" Yoga langsung mendekati putrinya.


" Kok Kia ada di sini, Pa?" tanya Azkia heran.


" Kamu tadi pingsan makanya Papa bawa ke sini, karena Papa khawatir kamu kenapa-kenapa." Yoga menjawab pertanyaan Azkia seraya mengusap kepala Azkia.


" Permisi, Pak, Bu ..." Atika masuk ke dalam ruangan kesehatan. " Pak, biar saya saja yang menemani Kia. Pak Yoga barangkali mau kembali ke kelas." Atika menawarkan diri untuk menjaga Azkia karena dia tahu Yoga harus meneruskan mengajar mahasiswa lainnya.


" Kamu nggak apa-apa Papa tinggal, Kia?" tanya Yoga kepada Azkia.


Azkia mengangguk dengan cepat menandakan jika dia akan baik-baik saja.


" Ya sudah, Papa tinggal dulu, ya! Papa sudah telepon Mama untuk menyuruh Pak supir jemput kamu ke sini. Kamu jangan bawa mobil sendiri nanti kalau pulang! Tekanan darah kamu rendah, Papa takut nanti pusingnya kambuh lagi di jalan." Yoga menasehati Azkia dan melarang anaknya itu mengendarai mobilnya sendiri.


" Iya, Pa." jawab Azkia cepat.


" Atika, Bapak titip Kia, ya! Kalau dia membandel, kamu cepat laporan ke Bapak." Yoga mengacak rambut putrinya itu.


" Siap, Pak!"


" Terima kasih kamu mau menjaga Kia."


" Sama-sama, Pak."


" Ya sudah, Papa kembali ke kelas ya, Kia." Yoga kemudian berpamitan kepada Azkia dan juga berbicara sebentar dengan Ibu Sari sebelum akhirnya meninggalkan ruang kesehatan.


" Papa lu memang ganteng ya, Az. Pantas masih saja ada mahasiswi yang berharap bisa jadi baby sugar nya Papa lu." Atika terkekeh.


" Coba saja kalau berani macam-macam sama bokap gue! Mau gue kirim ke rumah sakit apa itu orang?!" geram Azkia. Memang dia juga menyadari jika sampai sekarang ada saja mahasiswi di kampusnya yang mencoba menggoda Yoga. Untung saja Papanya itu tipe pria yang setia pada pasangannya, dan tidak terpengaruh pada godaan-godaan di hadapannya. Karena itu dia berharap bisa mendapatkan pendamping seperti Papanya kelak.


" Eh, Az ... lu kenapa tiba-tiba pingsan?" tanya Atika kemudian menanyakan alasan yang membuat Azkia bisa pingsan.


" Nggak tahu, tiba-tiba saja kepala gue pusing kayak berputar-putar gitu," sahut Azkia sambil memijat pelipisnya.


" Mungkin karena tadi lu nggak makan kali, ya?"


" Bisa jadi." Azkia kemudian turun dari ranjang.


" Lho, lu mau ke mana?" tanya Atika saat melihat Azkia ingin beranjak pergi.


" Keluar dari sini, berasa kayak orang sakit kalau di sini," sahut Azkia.


" Lah, memang lu sakit, kan?" Atika terkekeh menyahuti.


" Gue mau ke kantin sambil menunggu Pak Jojo jemput gue," Azkia lalu berjalan hendak meninggalkan ruang kesehatan.


" Lho, Azkia mau ke mana?" Ibu Sari yang membawa obat di tangannya terkesiap melihat Azkia yang hendak pergi.


" Saya mau keluar, Bu. Saya sudah mendingan, kok." Azkia menyahuti.


" Ya sudah, ini obat penambah darahnya. Ini aman, kok." Ibu Sari tersenyum saat menyerahkan obat itu kepada Azkia.


" Oh, i-iya, Bu. Makasih ..." Azkia lalu menaruh obat itu dalam tasnya lalu berpamitan kepada Ibu Sari.


" Eh, kok Bu Sari bilang obat yang dikasih ke gue itu aman, ya? Memangnya ada obat yang nggak aman beredar di sini?" tanya Azkia terheran dengan ucapan Ibu Sari tadi.


" Itu juga yang gue ingin tanya. Biasanya kalau aturan pengunaan obat aman itu, aman untuk penderita penyakit ini, atau aman dikonsumsi oleh ibu hamil, tapi lu nggak hamil, kan?"


Azkia langsung mendelik mendengar perkataan Atika dan langsung menepis, " Jangan ngaco, deh!"


" Haha, santai saja kali, Az. Kan gue percaya seratus persen sama lu. Lu nggak akan terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Secara kedua orang tua lu perhatian sama lu, lu juga dapat cowoknya yang baik, sabar, pengertian. Kadang gue iri, kepingin kayak lu, Az." Atika merangkulkan lengannya di pundak Azkia.


" Sudah ah, gue mau ke kantin. Perut gue tiba-tiba lapar banget, lu mau ikut ke kantin?" tanya Azkia mengalihkan obrolan mereka.


" Iya, dong! Let's go, deh!" Atika bersama Azkia kemudian melangkah menuju kantin kampus mereka.


***


Ddrrtt ddrrtt


Azkia melirik ponselnya yang dia letakan di meja saat dia sedang menyantap bakso di kantin kampus. Dan nama Mamanya yang tampil di layar ponselnya itu.


" Assalamualaikum, Ma." Azkia dengan cepat mengangkat panggilan telepon masuk dari Natasha.


" Kia di kantin kampus, Ma."


" Ya sudah, Mama ke sana."


" Mama mau ke sini?" tanya Azkia kaget karena Natasha mengatakan akan segera ke kampusnya.


" Iya, Mama ini sudah sampai diantar Pak Jojo. Nanti biar Mama yang antar kamu pulang."


" Hahh?? Mama sudah di sini?" Azkia langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu kantin dengan mata memandang ke luar ke arah pintu gerbang.


" Iya, ini Mama lagi jalan ke sana."


" Kok Mama yang jemput, sih? Nggak suruh Pak Jojo saja."


" Mama khawatir waktu Papa bilang kamu pingsan, makanya Mama cepat-cepat ke kampus kamu. Ya sudah Mama ke kantin sekarang. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ..." Azkia langsung mengakhiri panggilan telepon dengan Mamanya.


" Mama lu jemput lu kemari, Az?" tanya Atika saat Azkia kembali ke meja.


" Iya, gue cabut dulu, deh! Gue duluan, Tik!" Azkia kemudian memasukan ponsel ke dalam tas lalu meninggalkan kantin.


" Kita ke dokter dulu ya, Nak!" ujar Natasha saat dia dan Azkia kini sudah berada di dalam mobil Azkia meninggalkan halaman kampus Azkia.


" Mau apa ke dokter, Ma? Orang Kia nggak apa-apa, kok! Tadi Bu Sari juga sudah kasih obat untuk Kia." Azkia keberatan dengan niat Natasha yang ingin membawanya ke dokter.


" Tapi Mama khawatir, Kia. Belakangan ini kamu sering mendalami keluhan kesehatan. Kamu mesti periksa ke dokter agar diketahui apa yang menyebabkan kamu selama ini sering mual-mual, lemas, pusing ...."


" Kia cuma capek, Ma! Nggak ada apa-apa kok, sama Kia!" Azkia tetap bersikukuh mengatakan dia baik-baik saja dan menolak menemui dokter.


Natasha mendengus mendengar penolakan dari Azkia.


" Tadi di kasih obat apa di kampus? Coba Mama lihat!" Natasha mengulurkan tangan kirinya meminta obat yang diberikan Ibu Sari.


Azkia lalu mengeluarkan obat penambah darah yang diberikan oleh Ibu Sari kepada Natasha.


Natasha memperhatikan obat itu sambil melihat ke arah jalan karena saat ini dia sedang membawa kendaraan.


" Ma, fokus ke depan menyetirnya, dong!" Azkia memperingatkan Mamanya yang dianggapnya melakukan aktivitas berbahaya karena tidak fokus dengan jalanan di depannya, membuat Natasha akhirnya menyerahkan obat itu kembali kepada Azkia.


***


" Dam, lusa gue mau ke Bandung. Mungkin gue akan menginap di sana selama dua hari. Gue titip cafe sama lu, ya!" ucap Raffasya kepada Adam yang siang itu berada di dalam ruang kerjanya.


" Oke, Mas. Ada proyek di Bandung, Mas?" tanya Adam menyahuti permintaan Raffasya.


" Gue sama Bang Dimas mau memantau pembangunan Raff FM di Bandung, Dam." sahut Raffasya seraya menyerahkan arsip yang baru selesai di cek kepada Adam.


" Jadi juga dibangun yang di Bandung itu, Mas?"


" Iya, teman yang bikin cuma pakai nama Raff FM. Kalau gue yang bangun sendiri, gue lagi nggak punya dana segar, Dam. Butuh beberapa tahun ke depan gue kumpulin duit dulu baru bisa bikin sendiri." Raffasya menarik sudut bibirnya ke atas.


" Dua usaha cafe Mas Raffa di sini juga sudah lumayan hasilnya, semoga makin maju dan lancar usahanya, Mas."


" Thanks, Dam." Raffasya kemudian bangkit dari duduknya. " Gue mau keluar dulu ya, Dam. Kalau ada yang cari gue, kalau penting banget cepat kabari gue." Raffasya kemudian berjalan ke arah pintu ruang kerjanya.


" Oke, Mas." Adam masih sempat menjawab ucapan Raffasya sebelum pria itu menghilang dari hadapannya.


***


Azkia menjauhkan tubuhnya dari Gibran saat pria itu hendak merangkul tubuhnya ketika mereka berdua memasuki kawasan mall malam Minggu ini.


" Kenapa, Yank?" Gibran merasa aneh karena Azkia seolah enggan dipeluk olehnya.


" Parfum Kak Gibran baunya nggak enak banget, deh!" Azkia menutup hidung dengan telapak tangannya.


" Masa, sih?" Gibran sampai mengendus tubuhnya sendiri mendengar komplain dari Azkia. " Perasaan biasa saja, Yank. Ini 'kan parfum yang biasa aku pakai sehari-hari," sahut Gibran.


" Tapi baunya nggak enak banget, Kak! Hoek ..." Azkia segera menutup mulutnya karena dia kembali diserang rasa mual.


" Kamu sakit, Yank?" Gibran justru mencemaskan Azkia yang tadi terlihat ingin muntah.


" Aku mau ke toilet, Kak!" Azkia bergegas mencari toilet. Mencium aroma parfum yang dipakai Gibran seolah memacu rasa mual di perutnya yang memintanya untuk mengeluarkan isi perutnya saat itu juga.


" Yank, kamu kenapa?" Gibran berlari kecil mengikuti Azkia yang terlihat terburu-buru ke arah toilet.


Sesampainya di toilet Azkia mengeluarkan apa yang membuat perutnya tadi bergolak hingga tubuhnya terasa lemas. Azkia menunggu beberapa saat supaya tenaganya kembali normal hingga dia bisa keluar dari toilet itu.


" Kia ...! Kamu nggak apa-apa, Yank?" Dari luar area toilet wanita Gibran terlihat sangat cemas, karena Azkia tidak juga keluar dari dalam toilet.


Gibran bahkan hampir memasuki toilet wanita namun pengunjung mall yang kebetulan keluar dari dalam toilet wanita melarang Gibran yang akan masuk.


" Eh, Mas, Mas ... ini toilet wanita, lho!" ucap wanita itu.


" Oh, maaf, Mbak. Saya cuma khawatir pacar saya di dalam dari tadi nggak keluar-keluar." Gibran memang tidak bisa menutupi rasa cemasnya


" Yang muntah-muntah tadi mungkin." bisik wanita lainnya.


" Iya di dalam kayaknya ada cewek. Itu pacar Mas, ya?" Wanita itu menatap Gibran dari atas kepala hingga ujung sepatu yang dipakai Gibran.


" Pacarnya hamil ya, Mas? Lagi muntah-muntah gitu di toilet," celetuk wanita tadi.


Sontak apa yang dikatakan wanita itu membuat Gibran membelalakkan matanya dengan rahang mengeras.


" Mbak kalau bicara jangan sembarangan! Jangan asal menuduh, ya!" geram Gibran merasa kesal mendengar wanita itu menuduh Azkia hamil


" Yeee, 'kan kita cuma tanya," Wanita itu kemudian berjalan pergi meninggalkan Gibran yang menatap kepergian kedua wanita itu dengan kesal.


Setelah mencuci mulut dengan air yang mengalir dari kran dan menyeka peluh di wajahnya, Azkia pun keluar dari toilet.


" Yank, kamu kenapa? Aku khawatir banget kamu kenapa-kenapa." Gibran lalu merangkul Azkia saat melihat kehadiran Azkia dari dalam toilet.


" Aku itu mual gara-gara parfum Kak Gibran," keluh Azkia.


" Memang parfum aku kenapa sih, Yank? Ini parfum aku yang biasa aku pakai, lho!"


" Berarti Kak Gibran beli parfum KW."


" Nggak mungkin KW, orang aku beli di outletnya, kok!" sanggah Gibran. " Apa kita pulang saja?" Gibran yang sangat mencemaskan kondisi Azkia meminta agar mereka kembali ke rumah Azkia.


" Sudah jauh-jauh datang ke sini masa pulang sih, Kak?" Azkia kemudian berjalan mendahului Gibran keluar area toilet membuat Gibran akhirnya mengikuti langkah Azkia dan meraih tangan Azkia lalu menggenggamnya karena saat ini Azkia tidak ingin dia rangkul.


" Hai, Azkia ...!"


Azkia menolehkan wajahnya saat seseorang menyapanya.


" Mbak Astrid?" Azkia mendapati Astrid dan suami beserta dua orang anaknya berjalan mendekati mereka.


" Malam mingguan, ya?" tanya Astrid melirik ke arah Gibran yang sedang menggenggam tangan Azkia.


" Iya, Mbak." Azkia menyahuti.


" Lho, ini Mbak Astrid nya Tante Fifi, kan?" Gibran mengenali Astrid.


" Iya, benar. Kamu ...." Astrid mencoba mengingat Gibran karena dia sendiri merasa mengenal Gibran.


" Aku Gibran, Mbak. Keponakan Om Jamal." sahut Gibran mencoba membuka ingatan Astrid.


" Oh iya, ya, ya ... kamu keponakan Om Jamal yang di Jambi itu, kan?" tanya Astrid akhirnya mengenali Gibran.


" Benar, Mbak. Mbak Astrid apa kabar? Oh hai, Mas ..." Setelah menyalami Astrid, Gibran pun menyalami Dimas.


" Mbak baik, kamu ada di Jakarta?" tanya Astrid.


" Iya, aku meneruskan kuliah di sini dan sekarang juga kerja di sini. Kebetulan calon istri aku juga tinggal di sini." Gibran kini melingkarkan lengannya di pundak Azkia.


" Calon istri?" Astrid mengeryitkan keningnya seraya melirik ke arah Dimas, karena dia baru saja mendengar cerita tentang Raffasya dan Azkia beberapa hari lalu.


" Iya, Kia ini calon istri aku, Mbak. Oh ya, Mbak Astrid sendiri kenal sama Kia di mana?" tanya Gibran yang merasa surprise karena Astrid ternyata mengenal Azkia juga.


" Mbak ini pelanggan di butiknya Azkia." Astrid menjawab pertanyaan Gibran.


" Mbak Astrid ini kenal sama Kak Gibran juga, ya?" tanya Azkia kemudian.


" Jadi gini, Yank. Om aku, adiknya Mama itu menikah sama Tantenya Mbak Astrid. Ya seperti kamu sama Raffa lah gitu ..." Gibran menjelaskan hubungan kekerabatannya dengan Astrid.


Hati Azkia kembali terasa tercubit saat Gibran menyebut nama Raffasya, tentu saja kejadian Sabtu siang kala itu di Bandung yang membuat hatinya merasa gelisah jika mendengar nama Raffasya.


Sementara Astrid dan juga Dimas pun langsung saling berpandangan saat Gibran menyebut nama Raffasya. Mereka sama sekali tidak menduga jika Gibran pun ternyata mengenal Raffasya.


*


*


*