MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Perhatian Kecil



Raffasya memperhatikan Azkia yang sedang memoles bibirnya dengan lipstik warna nude. Istrinya itu memaksa ikut ke cafe untuk bertemu dengan Salsa, karyawan baru yang dia terima untuk menggantikan posisi Tuti yang akan resign bulan depan.


Setelah memoles bibirnya, kini Azkia menyemprotkan parfum ke tubuhnya sebelum dia mengganti pakaiannya.


" Ma, sebaiknya Mama nggak usah ikut, deh! Aku nggak enak sama Adam kalau sampai Mama ngomong macam-macam ke sepupunya itu." Raffasya masih berusaha menahan agar istrinya itu membatalkan niatnya yang ingin ikut bersamanya.


" Kenapa mesti nggak enak? Atau jangan-jangan Papa sendiri tertarik sama cewek itu sampai nggak mau aku ke sana?" tuduh Azkia curiga.


" Ya ampun, kenapa berpikiran seperti itu, sih? Aku 'kan sudah sering bilang kalau aku nggak mungkin berpaling dari Mama." Entah harus berapa kali Raffasya meyakinkan istrinya agar percaya jika dia tidak akan mudah goyah karena wanita.


" Aku percaya sama Papa, tapi kalau ceweknya yang nekat berusaha dekati Papa gimana?" tanya Azkia merasa khawatir jika ada wanita yang nekat merebut Raffasya darinya.


" Aku pastikan itu nggak akan terjadi, Ma." Raffasya memeluk Azkia dari belakang, dia terus berusaha membujuk istrinya itu agar lebih tenang dan tidak terlalu emosi.


" Tapi aku tetap ingin tahu wanita yang bekerja di cafe Papa itu. Aku ingin semua pegawai di cafe Papa terutama yang wanita tahu kalau Papa itu sudah punya istri dan anak!" tegas Azkia.


" Kan memang sudah pada tahu kalau Papa ini sudah punya bodyguard yang galaknya melebihkan tukang pukul ..." Raffasya malah meledek Azkia seraya tertawa dan menciumi wajah istrinya itu.


" Iiihhh, jangan cium-cium dong, Pa! Aku sudah rapih, sudah cantik begini." Azkia mengusap pipinya yang tadi disentuh bibir sang suami.


" Lagipula mau ke cafe saja buat apa berhias cantik-cantik segala?" sindir Raffasya.


" Siapa tahu di jalan ketemu cowok ganteng." Azkia meladeni ledekan suaminya.


" Memang kalau ketemu cowok ganteng mau apa? Nggak akan ada yang mau kalau melihat perut kamu yang buncit begitu! Sudah ketahuan punya suami." Raffasya kembali menyendir.


Azkia memutar bola matanya kemudian mengurai pelukan sang suami.


" Sudah, ah! Ayo cepat berangkat!" Azkia kemudian menyampirkan sling bagnya dan mengajak suaminya itu untuk segera berangkat ke cafe.


Setengah jam kemudian Raffasya sudah sampai di cafenya karena lalu lintas hari ini cukup lancar. Dia lalu turun lebih dahulu dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk istrinya, kemudian membukakan pintu untuk Atun yang membawa Naufal. Azkia memang mengajak Naufal karena dia tidak ingin meninggalkan anaknya terlalu lama di rumah ketika dia berpergian.


" Pak Adam ...!" Azkia memanggil nama Adam saat naik ke lantai atas hingga membuat Adam keluar dari ruangannya dan menghampiri Azkia.


" Ada apa, Mbak Kia?" tanya Adam saat muncul di hadapan Azkia.


" Pak Adam, suruh sepupu Pak Adam itu ke ruangan suami saya sekarang!" Setelah memberikan perintah, Azkia langsung melangkah masuk ke dalam ruang kerja Raffasya. Sementara Adam langsung menoleh ke arah Raffasya dengan bingung, apalagi saat dilihatnya Raffasya justru mengedikkan bahunya seolah tidak ingin ikut campur.


" Duduk dululah, Ma. Jangan kayak orang mau mengajak perang seperti ini." Raffasya yang melihat Azkia hanya berdiri dengan tangan berkacak pinggang menyuruh Azkia tenang dan duduk.


" Oke aku duduk ..." Azkia berjalan menuju meja Raffasya dan duduk di kursi kerja milik suaminya, membuat Raffasya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Kalau sedang dalam mode cemburu, istrinya itu memang suka semaunya sendiri, dan Raffasya harus sabar menghadapi, apalagi saat ini kondisi Azkia sedang hamil, sudah dapat dipastikan emosinya akan labil.


Tok tok tok


" Permisi ..." Tak lama Adam datang mengetuk pintu membawa seorang wanita cantik yang tak lain adalah Salsa.


" Ini sepupu saya, Mbak." Sebenarnya Adam merasa cemas saat Azkia tiba-tiba datang dan meminta Salsa untuk datang ke ruangan Raffasya, apalagi saat dia melihat saat ini Azkia lah yang duduk di kursi singgasana milik Raffasya, dia merasa sesuatu yang buruk akan segera terjadi.


Azkia menoleh ke arah wanita yang ada di samping Adam, dan seketika itu juga bola matanya melebar saat dia mengenali wanita yang merupakan sepupu dari karyawan suaminya itu.


" Salsa? Ya ampun, lu Salsa, kan?" Azkia bahkan langsung bangkit dari duduk dan bergegas menghampiri Salsa.


Tak beda jauh dengan Azkia, Salsa pun terlihat kaget saat mendapati Azkia yang mengenalinya.


" Azkia?" Salsa juga ternyata mengenali Azkia.


" Iya, gue Kia. Lu ke mana saja sih, Sa? Kangen banget gue sama lu." Azkia langsung memeluk Salsa hingga kedua wanita itu saling berpelukan satu sama lain. Tentu saja apa yang dilakukan kedua Azkia dan Salsa membuat Raffasya dan Adam sampai terbengong karena kedua pria itu sempat cemas kalau Azkia akan mendam prat Salsa.


" Mama kenal Salsa?" tanya Raffasya kemudian.


" Kenal dong, Pa. Salsa itu teman SMA aku, Aku, Salsa sama Thomas." sahut Azkia tanpa melepas rangkulan tangannya di pundak Salsa.


" Pak Adam, kok nggak bilang-bilang kalau Pak Adam itu saudaranya Salsa, sih?!" Azkia seolah menyalahkan Adam karena Adam tidak memberitahu tentang hubungan kekeluargaan pria itu dengan sahabat lama Azkia yang selama ini tidak dia dengar kabarnya.


" Maaf, Mbak. Saya nggak tahu kalau Mbak Kia itu teman sekolah Salsa." Adam membela diri.


" Lu apa kabar, Sa? Lu ngumpet di mana selama ini?" Azkia terlihat girang saat bertemu sahabat SMA nya dulu.


" Iya, gue pindah ke luar kota selepas lulus SMA, Az." sahut Salsa seraya menoleh ke arah perut Azkia dan menatap ke arah Raffasya. " Jadi Pak Raffa itu suami lu, Az?" tanya Salsa kemudian.


" Iya, Sa."


" Pantas saja gue itu kayak familar banget sama suami lu. Eh, tapi ... kayaknya dia bukan pacar lu waktu SMA deh, Az." bisik Salsa masih memperhatikan Raffasya. " Bukannya dulu pacar lu itu cowok yang dari Jambi, ya?"


" Itu cerita lalu ..." Azkia mengibas tangannya ke udara. " Kita sambil duduk deh, ngobrolnya ...!" Azkia lalu menarik Salsa untuk duduk di sofa dan melanjutkan obrolan mereka.


" Lho, gue 'kan lagi kerja, Az." Salsa merasa tidak enak karena ini hari pertama dia mulai bekerja tapi justru mengobrol dengan Azkia.


" Sudah lu tenang saja, cafe ini milik suami gue berarti milik gue juga, kan? Jadi hari ini tugas lu itu nemenin gue gobrol. Gue itu kangen banget sama lu, tau!" Jika Azkia sudah memberi perintah, jangankan Salsa yang hanya seorang karyawan baru, suaminya pun pasti hanya menurut apa yang dikehendaki oleh istrinya itu.


" Pak Adam, silahkan lanjutkan pekerjaannya." Azkia menyuruh Adam untuk keluar dari ruangan kerja Raffasya. " Pa, aku ngobrol-ngobrol dulu sama Salsa, ya!? Papa kalau mau aktivitas silahkan aktivitas saja.


" Hmmm,. nggak jadi mau pecat Salsa nya?" sindir Raffasya mengingatkan tujuan kedatangan istrinya ke cafe itu karena ingin memecat karyawan baru Raffasya yang tak lain adalah Salsa.


" Hahh? Gue mau dipecat, Az?" tanya Salsa kaget.


" Nggak, kok! Biasalah, Sa. Gue tuh antisipasi saja kalau ada karyawan baru cewek apalagi cantik. Soalnya dulu pernah kejadian ada pegawai di rumah masih muda dan cantik, eh ujung-ujungnya mau jadi bibit pelakor, gue 'kan jadi trauma ..." Azkia berasalasan atas sikapnya.


" Mbak Atun titip Naufal sebentar, ya!?" Azkia kemudian meminta Atun menjaga Naufal dulu, karena saat ini dia ingin fokus berbincang dengan sahabat lamanya itu.


" Itu anak lu, Az?" tanya Salsa melihat Naufal yang sedang asyik dengan mainannya.


" Iya, itu anak pertama gue, namanya Naufal." Azkia menyebutkan nama anaknya.


" Dan lu sekarang hamil lagi? Rajin banget produksi anaknya lu, Az." Salsa terkekeh.


" Namanya juga rezeki, Sa." Azkia menyeringai.


" Eh, tapi gue penasaran sama suami lu itu, deh!" Salsa kembali melirik Raffasya. " Katanya suami lu dulu sering ke sekolah kita. Dulu lu sudah kenal dia sebelumnya, ya?" Sepertinya rasa penasaran Salsa terhadap Raffasya belum juga hilang.


" Lu ingat Rayya sepupu gue, kan?" tanya Azkia.


" Lu ingat cowok yang dulu suka datang pakai motor sport ke sekolah buat jemput Rayya tapi nggak pernah berhasil? Nah, cowok itu sekarang ini yang jadi suami gue." Azkia terkikik geli mengingat bagaimana dulu dia menghalangi Raffasya untuk dekat dengan Rayya.


" Hahh?? Serius lu, Az? Jadi suami lu itu yang dulu naksir Rayya?" Salsa terkejut dengan kenyataan yang disampaikan oleh Azkia.


" Iya."


" Kok, bisa? Dulu 'kan lu sering bertengkar sama cowok itu ..." Salsa tentu ingat bagaimana Azkia selalu melindungi Rayya dari Raffasya yang berusaha ingin membawa Rayya pulang. " Pantas saja lu selalu menghalangi dia dekati Rayya, ternyata lu sedang menjaga jodoh lu sendiri biar nggak jadi sama sepupu lu ya, Az!?" Salsa menertawakan sikap Azkia dulu.


" Iya kali, ya?" Azkia pun ikut tertawa lepas.


" Terus Rayya sendiri di mana sekarang? Sudah pulang ke Jakarta apa masih lanjut kuliah di Italia?" Salsa menanyakan kabar seputar Rayya.


" Rayya sekarang kayak gue sibuk ngurus suami sama anak." Azkia menjelaskan.


" Rayya sudah nikah juga? Kok kalian kompakan pada nikah muda semua?" Salsa agak terkejut mengetahui teman-teman seangkatannya sudah pada menikah.


" Kalau sudah ketemu jodohnya untuk apa ditunda-tunda? Lagipula menikah itu ternyata enak, kok!" Azkia berpendapat.


" Ngomong-ngomong lu ke mana saja selama ini? Gue pernah ketemu sama Thomas, dia juga nyariin lu, tuh! Lu menghilang nggak ada kabar, sih!" Azkia menceritakan pertemuannya pada Thomas. " Kenapa lu pindah nggak kasih kabar ke gue sama Thomas sih, Sa? Lu tuh kayak hilang ditelan bumi tahu, nggak!?"


" Sorry, Az. Sebenarnya gue malu ... karena waktu itu usaha Papaku jatuh dan harus menjual asset-asset yang ada. Akhirnya kami pulang ke kampung halaman Mamaku di Magelang." Salsa menceritakan alasannya kenapa menghilang tanpa memberi kabar kepada sahabat-sahabatnya.


" Ya ampun, gue turut prihatin ya, Sa." Azkia mengusap pundak Salsa mencoba memberi kekuatan kepada sahabatnya itu.


Sementara Raffasya masih memperhatikan kedua wanita yang sekarang asyik mengobrol seolah tidak menganggap keberadaannya di ruangan itu.


***


Lusiana baru saja keluar dari toilet ruang kerjanya saat tiba-tiba ponsel di mejanya berbunyi. Lusiana bergegas berjalan ke arah meja kerjanya untuk mengetahui siapa yang menghubunginya saat itu.


Lusiana mengeryitkan keningnya karena dia mendapati nomer tak dikenal yang muncul di layar ponselnya. Lusiana memilih mengabaikan panggilan itu karena dia jarang menerima panggilan tanpa nama di ponselnya.


Namun setelah panggilan telepon itu berhenti, nomer tak dikenal itu kembali menghubungi nomer Lusiana. Dan Lusiana masih tetap tidak ingin mengangkat panggilan masuk tersebut.


Setelah panggilan kedua terhenti, sebuah notif pesan masuk ke dalam ponselnya. Kali ini Lusiana sempat mengintip sebagian pesan yang masuk di WhatsApp nya.


" Assalamualaikum, Tante. Ini Rosa ...."


Itu sedikit isi pesan yang sempat dia intip masuk ke dalam WhatsApp nya.


Lusiana segera membuka isi pesan setelah dia mendapat jawaban jika orang yang menghubunginya tadi adalah Rosa, anak dari mantan suaminya itu.


" Assalamualaikum, Tante. Ini Rosa ... Tante apa kabar?" Itu isi pesan lengkap yang masuk dari Rosa.


Lusiana segera mengetik balasan kepada Rosa," Waalaikumsalam, Rosa. Alhamdulillah Tante baik, ada apa Rosa?" Sebenarnya Lusiana merasa heran dan kaget karena ini pertama kalinya dia berkomunikasi via telepon dengan Rosa.


" Alhamdulillah kalau Tante baik-baik saja. Tante sedang sibuk, ya? Maaf kalau Rosa mengganggu Tante."


" Oh, nggak, kok! Ini kebetulan sebentar lagi mau makan siang. Kenapa Rosa?" tanya Lusiana penasaran.


" Nggak ada apa-apa sih, Tante. Hanya ingin menanyakan kabar saja. Ya sudah kalau Tante mau makan siang, silahkan saja, Tante. Jangan telat makan, Tante harus jaga kesehatan ...."


Lusiana tertegun membaca kalimat terakhir yang diketik oleh Rosa. Gadis itu seolah mengingatkan agar dia memperhatikan kesehatannya. Seketika sebuah senyuman terkulum di bibir wanita paruh baya itu.


" Iya, Rosa. Makasih atas perhatian kamu terhadap Tante. Oh ya, bagaimana rencana kepindahan kuliahmu ke Jakarta? Apa jadi?" tanya Lusiana kemudian.


" Insya Allah, Tante. Ini Rosa sedang urus-urus dulu."


" Ya sudah, semoga semuanya lancar," sahut Lusiana.


" Aamiin, makasih, Tante. Rosa pamit dulu ya, Tante. Assalamualaikum ...."


" Waalaiakumsalam ...."


Lusiana menatap ponselnya masih dengan tersenyum. Dia sendiri tidak tahu kenapa hatinya begitu berbunga-bunga mendapat perhatian kecil dari anak mantan suaminya itu.


***


Seharian tadi Azkia memang banyak menghabiskan waktu berbincang dengan Salsa. Bahkan Azkia meminta agar Raffasya memberi waktu satu hari ini untuk Salsa menemaninya. Sejak lulus SMA, Azkia memang tidak pernah lagi bertemu dengan Salsa karena itu dia senang sekali bisa bertemu Salsa kembali.


" Aku senang banget deh, Pa. Akhirnya bisa ketemu sama Salsa lagi.


" Saking senangnya sampai cuekin suami sama anak," sindir Raffasya memprotes Azkia yang seolah melupakan dirinya dan juga Naufal.


" Habis aku sudah lama banget nggak ketemu Salsa, Pa. Maaf, ya!?" Azkia mengusap lengan suaminya yang sedang berkendaraan menuju rumah mereka.


" Titip Salsa ya, Pa. Jangan dimarah-marahin, lho! Nggak enak soalnya, dia temen dekat aku dulu ..." Azkia meminta suaminya agar jangan bersikap keras kepada Salsa.


" Walaupun dia melakukan kesalahan?" Raffasya menoleh sekilas ke arah istrinya dan kembali fokus pada jalanan di depannya.


" Ya kalau mau dimarahin jangan keras-keras, Pa. Aku nggak enak nantinya ..." Azkia membujuk Raffasya karena dia tidak tega jika sahabatnya itu sampai kena marah Raffasya.


" Kan kamu sendiri yang bilang kalau aku itu harus tegas sama cewek biar ceweknya nggak jadi baper. Sekarang berubah pikiran lagi? Mau dia itu teman kamu atau bukan, kalau salah ya salah saja dong, Ma. Nggak ada pengecualian!" tegas Raffasya.


" Tapi Salsa itu nggak akan macam-macam sama Papa, aku yakin banget, deh!" Azkia bahkan berani menjamin jika Salsa adalah wanita yang baik.


" Curang, kan?!" tuding Raffasya. " Kemarin aku disuruh menghilangkan rasa nggak tega hanya karena nggak enak sama Adam, hanya karena Salsa itu sepupu Adam. Sekarang Mama sendiri bagaimana?" protes Raffasya mengeluhkan sikap Azkia yang cenderung mau menang sendiri.


" Namanya juga cewek, Pa. Cewek itu selalu benar ... hahaha ..." Azkia tertawa lebar menanggapi kritikan dari sang suami membuat Raffasya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja dan seperti biasanya mengalah kepada sang istri yang dicintainya itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️