MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Sapi Lada Hitam



Yoga yang baru selesai melaksanakan sholat maghrib melirik istrinya yang sedang tersenyum dengan pandangan mata terpusat kepada benda pipih di tangannya.


" Senyum-senyum sama siapa, sih? Kelihatanya bahagia sekali senyumnya." Yoga kemudian duduk di samping sang istri dengan melingkarkan lengannya di pundak Natasha.


" Ini lho, anak kita, Mas." ucap Natasha membalas pertanyaan suaminya.


" Anak kita yang mana? Anak kita banyak lho, Yank."


" Kia, Mas."


" Kenapa memangnya dengan duplikatmu itu?" tanya Yoga terkekeh menyebut Azkia adalah duplikat istrinya karena memang putrinya yang satu itu hampir mewarisi semua sikap dari Natasha.


" Kia sama Raffa sepertinya sudah saling menyayangi lho, Mas." tutur Natasha mengungkap pengamatannya.


" Baguslah kalau begitu ..." sahut Yoga.


" Tapi Kia masih gengsi mengakuinya," jelas Natasha.


" Seperti Mamanya?" Yoga menyindir Natasha, membuat Natasha melotot.


" Kan memang dulu Mamanya ini gengsinya gede." Yoga langsung memeluk tubuh Natasha dan menghujani pipi Natasha dengan ciuman bertubi-tubi.


" Mas, udah deh, iihh ..." Natasha meminta suaminya itu segera melepaskannya.


" Kamu masih datang bulan, Yank?" tanya Yoga kemudian.


" Iyalah, kalau sudah selesai aku pasti ikut sholat tadi," jawab Natasha yang sudah menduga jika suaminya pasti akan mengajaknya bercinta, karena itu dia meminta suaminya untuk menghentikan kemesraannya itu.


" Tapi aku kepingin lho, Yank." bisik Yoga.


" Sudah ah, ayo kita makan dulu, Mas." Natasha kemudian menarik tangan suaminya untuk mengikutinya keluar dari kamar mereka.


Sementara itu di rumah Raffasya, Azkia pun sedang menyiapkan makan malam untuk Raffasya.


" Bi, Kia mau panggil Kak Raffa, Bi Neng yang panggil Nenek, ya?" Azkia dan Bi Neng berbagi tugas.


" Baik, Mbak." sahut Bi Neng kemudian melangkah menuju kamar Nenek Mutia, sedangkan Azkia sendiri segera naik ke atas menemui suaminya.


" Kak, ayo makan dulu ..." ajak Azkia saat masuk ke dalam kamar dan melihat suaminya itu sedang tidur berselonjor di sofa dengan ponsel di tangannya.


" Oke." Raffasya bangkit dan menghampiri Azkia lalu merangkulkan tangannya di pinggang Azkia kemudian berjalan ke luar dari kamar menuju ruang makan.


" Kia, ayo sini makan dulu." Sesampainya di ruang makan, Azkia langsung disambut hangat oleh Nenek Mutia.


" Iya, Nek." Azkia menyahuti.


" Kok hanya istri aku saja yang ditawari, Nek? Raffa nggak ditawari juga?" protes Raffasya seraya menarik kursi untuk istrinya itu duduk.


" Kamu ini seperti anak kecil saja, Raffa. Masa kamu cemburu pada istri dan anak kamu sendiri?" Nenek Mutia menggelengkan kepala menaggapi protes cucunya, membuat Raffasya terkekeh.


" Menu makanannya apa malam ini, Bi Neng?" Raffasya bertanya kepada Bi Neng yang sedang melepas daun yang membungkus pepes untuk Nenek Mutia karena Nenek Mutia tidak menyukai sapi lada hitam hingga Bi Neng membuatkan menu makanan lain.


" Sapi lada hitam, Mas." Bi Neng melirik ke arah Azkia dan Azkia langsung menggelengkan kepala memberi kode agar Bi Neng tidak memberitahu suaminya jika dialah yang memasak menu itu.


" Wah, masakan kesukaanku ini, Bi Neng." sahut Raffasya kemudian.


" Aku yang ambilkan ya, Kak?" Azkia lalu mengambil piring dan menyendokkan nasi juga sapi lada hitam untuk suaminya itu. " Kak Raffa mau pepes juga?"


" Nggak usah, May." Sebenarnya Raffasya agak sedikit terkejut melihat Azkia yang melayaninya, namun tak lama senyum terukir di sudut bibir Raffasya. Dia merasa jika istrinya kini sudah mulai menampakkan perubahan, terutama dari cara Azkia melayaninya sebagai seorang istri kepada suaminya.


" Makasih, May." Raffasya mengambil piring di tangan Azkia kemudian menaruhnya di meja dan memimpin doa sebelum menyantap makanan.


Azkia melirik ke arah suaminya karena dia ingin tahu reaksi suaminya saat menyantap masakannya. Dia melihat suaminya mengerutkan keningnya saat mengunyah suapan pertama yang masuk ke dalam mulutnya. Tak lama Raffasya mengambil air dan meneguk air mineral.


" Bi, ini masakan apa? Kok rasanya aneh?" tanya Raffasya yang merasa menu sapi lada hitam yang dia makan saat ini tidak seperti menu yang biasa ART nya itu buat.


" I-itu sapi lada hitam, Mas Raffa." sahut Bi Neng tergagap kembali melirik ke arah Azkia.


" Ini rasanya asin sekali dan terlalu pedas. Nggak biasa-biasanya Bi Neng masak begini." Raffasya menarik tissue kemudian mengelap mulutnya.


" Maaf, Mas. Memangnya kenapa dengan masakannya?" tanya Bi Neng bingung. Karena saat membantu Azkia memasak tadi, Bi Neng sudah mencicipi masakan itu dan dia merasa tidak ada yang salah dengan rasa masakan itu walau tadi sedikit kurang asin, namun dia sudah mengkoreksi rasanya.


" Bi Neng coba saja sendiri, apa yang salah sama masakannya ini," ketus Raffasya dengan nada kesal.


Azkia menggigit bibirnya saat mendengar suaminya itu terus memprotes masakan yang dibuatnya.


Flashback on


" Bi, tolong cicipi rasanya gimana?" tanya Azkia meminta pendapat Bi Neng.


" Sebentar, Mbak." Bi Neng menyahuti kemudian mengambil sendok untuk merasakan masakan yang dibuat oleh Azkia.


" Gimana, Bi? Kurang pedas ya, Bi?" tanya Azkia kemudian.


" Pedasnya cukup, Mbak. Cuma kurang asin dikit."


" Ya sudah Bi Neng tambahin apa yang kurang." Azkia menyuruh Bi Neng menambah bumbu yang dibutuhkan.


" Ini sudah cukup, tunggu sebentar lagi terus dimatikan kompornya. Bi Neng mau membungkus pepes untuk Bu Mutia. Nggak apa-apa 'kan kalau Bi Neng tinggal?" tanya Bi Neng.


" Kecil 'kan saja dulu kompornya, Mbak." ujar Bi Neng sebelum meninggalkan Azkia.


" Iya, Bi." Azkia mengikuti apa yang disarankan Bi Neng.


" Hmmm, aromanya enak banget ..." Selera makan Azkia tiba-tiba muncul membuatnya mengambil piring dan mengambil nasi dari magic com lalu mengambil sapi. lada hitam yang belum selesai dimasak.


" Kok nggak pedas, ya? masih manis rasanya kurang asin." Azkia kemudian menambahkan bubuk lada hitam dan menambah garam kembali pada masakannya itu.


Flashback off


" Gimana? Enak rasanya?" tanya Raffasya saat melihat Bi Neng mencicipi masakan sapi lada hitam yang terhidang di meja.


Bi Neng langsung menoleh ke arah Azkia dengan kening berkerut lalu berlari mengambil air dari galon dan meminumnya.


" Ini masakan Bi Neng terburuk selama ini yang Raffa pernah rasakan. Nggak biasanya Bi Neng masak makanan kacau dan nggak enak begini. Bikin selera makan aku hilang saja!"


Azkia yang mendengar suaminya terus saja menghina hasil masakan olehannya langsung bangkit dari tempat duduk dan bergegas meninggalkan meja makan.


" Lho, Kia mau ke mana, Nak?" Nenek Mutia terheran melihat Azkia yang berjalan meninggalkan meja makan.


" May, kamu kenapa?" Raffasya pun sama herannya dengan Nenek Mutia, dia pun segera berdiri ingin mengejar istrinya.


" Maaf, Mas Raffa." Bi Neng langsung menyampaikan permintaan maafnya.


" Ini gara-gara Bi Neng! Almayra juga jadi malas makan." Raffasya yang tidak mengetahui jika perkataannya lah yang membuat Azkia bersedih justru menyalahkan Bi Neng.


" Sebenarnya ini bukan Bi Neng yang masak tapi Mbak Kia, Mas." Perkataan Bi Neng spontan membuat Raffasya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Bi Neng.


" Maksud Bi Neng apa?" Raffasya terkesiap mendengar fakta yang diungkap oleh Bi Neng.


" Maaf, Mas. Tadi pagi itu Mbak Kia tanya soal makanan kesukaan Mas Raffa dan Mbak Kia ingin belajar memasak menu makanan kesukaannya Mas Raffa." Bi Neng menjelaskan. " Tapi tadi itu Bi Neng sudah koreksi rasanya sudah tidak ada masalah. Bi Neng juga nggak mengerti kenapa jadi pedas dan asin rasanya." Bi Neng sendiri merasa aneh dengan rasa makanan yang dicicipinya tadi.


" Raffa, Raffa, kamu ini sudah bikin sedih istri kamu. Istri kamu susah payah memasakan makanan favorit kamu, kamu malah mencela hasilnya." Nenek Mutia langsung berkomentar. Nenek Mutia bisa merasakan jika Azkia pasti akan merasa sedih dan kecewa.


" Mana Raffa tahu kalau ini Almayra yang masak, Nek." Raffasya menepis dituduh tidak menghargai hasil pekerjaan istrinya.


" Ya sudah kamu minta maaf dan bujuk istrimu untuk makan. Kasihan kalau tidak ada makanan yang masuk ke perutnya malam ini." Nenek Mutia menyuruh cucunya itu untuk membujuk Azkia agar tidak merasa bete setelah dicela hasil masakannya oleh suaminya sendiri.


" Iya, Nek." Raffasya segera meninggalkan ruang makan untuk menyusul istrinya yang sudah lebih dahulu kembali ke kamar mereka.


***


" Dasar suami nggak punya perasaan! Nggak menghargai jerih payah istri!" Azkia mengumpat karena cacian Raffasya terhadap hasil masakannya.


" Aku bela-belain panas-panasan depan kompor malah dihina-hina. Awas saja kalau berani sentuh-sentuh aku!" Azkia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan bergelung dengan selimut sambil terus menggerutu.


" Harusnya aku tadi nggak usah masakin Kak Raffa kalau tahu hasilnya akan begini," sesal Azkia masih tidak terima dengan penghinaan dari sang suami.


Krreekkk


Azkia langsung menutupi kepalanya dengan selimut saat dia mendengar pintu kamar dibuka.


Sesampainya di kamar, Raffasya melihat istrinya itu sudah menutupi tubuhnya dengan selimut, seperti biasa yang dilakukan istrinya itu jika sedang kesal kepadanya.


Raffasya berjalan mendekat ke arah Azkia. dan duduk di tepi tempat tidur.


" Aku minta maaf. Aku nggak tahu kalau makanan itu yang buat kamu, May. Maaf kalau tadi aku sudah mencela masakan kamu." Raffasya menghela nafas panjang.


" Aku benar-benar bukan suami yang baik. Nggak bisa menghargai kerja keras kamu untuk menyenangkan hati aku. Aku tahu kamu pasti kecewa karena sikapku tadi. Aku memang suami yang buruk, yang tidak bisa kamu banggakan," ucap Raffasya.


" Pantas saja kalau selama kamu ingin menyudahi hubungan kita, karena aku memang bukan pria yang pantas untuk kamu jadikan suami dan panutan yang baik untuk kamu." Nada berat terdengar dari ucapan yang dilontarkan oleh Raffasya.


Dari balik selimutnya Azkia mengerutkan keningnya mendengar suaminya berkata-kata seperti itu. Awalnya dia pikir suaminya itu akan membujuk dan merayunya agar dirinya mau memaafkan suaminya itu.


" Sekarang terserah kamu, May. Aku pasrah, apapun permintaan kamu, aku tidak bisa mencegahnya."


Kalimat bernada frustasi dari mulut Raffasya membuat Azkia menyibak selimutnya.


" Kenapa Kak Raffa bicara seperti itu? Memangnya Kak Raffa menginginkan kita berpisah?" Azkia langsung terduduk dan berbicara dengan nada sangat kecewa terhadap suaminya.


" Bukankah itu yang kamu inginkan selama ini?"


Azkia langsung menjatuhkan tubuhnya dengan mendekap tubuh suaminya.


" Aku nggak mau, Kak." Azkia langsung terisak dalam pelukan suaminya. Sementara Raffasya seketika menyeringai karena caranya berhasil membuat istrinya itu berhenti merajuk.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️