
Seseorang nampak mengerutkan keningnya saat mendapati kehadiran sepasang muda-mudi yang muncul di taman belakang cafe tempat diadakannya resepsi pernikahan salah satu pegawainya. Sepasang muda-mudi yang tentu saja dia kenal. Dia lebih memusatkan pandangannya ke arah si wanita yang malam ini berpenampilan feminim dengan balutan dress warna natural dengan heels warna senada dengan kulitnya yang putih mulus.
Ini bukan pertama kali dia melihat wanita tomboy itu mengenakan dress. Di setiap acara formal yang diadakan oleh Om nya. Dia memang sering mendapati wanita itu berpenampilan feminim. Namun tentu saja bukan sosok wanita itu yang selalu menjadi fokus perhatiannya jika Om nya mengadakan acara-acara, tapi sosok anggun Rayya lah yang begitu menarik perhatiannya.
Raffasya terus memperhatikan saat keduanya memberikan ucapan selamat kepada mempelai dan sedikit berbincang dengan mempelai pria. Dia juga memperhatikan saat tangan si pria menggenggam tangan sang wanita hingga memilih tempat duduk di sebelah barat.
Pemandangan penuh keakraban terlihat jelas di antara muda-mudi yang sejak tadi berada dalam pantauan mata Raffa. Dan kini tatapan matanya merekam moment saat si pria yang tak lain adalah Gibran menyampirkan rambut Azkia ke belakang telinga yang sengaja disisakan terjuntai di antara banyaknya helaian rambut yang sengaja diikat dengan style Messy bun hingga memuat Azkia tersipu malu.
" Cih, norak ..." cibir Raffasya mendapati moment kemesraan Azkia dengan Gibran yang tertangkap oleh matanya.
Sementara itu di meja Gibran dan Azkia.
" Kak, Kia mau ke toilet dulu, ya. Mau pipis, kebelet." Azkia terkikik tanpa merasa canggung atau jaim di hadapan cowok yang disukainya itu.
" Toiletnya kamu tahu di mana?" Gibran lalu memanggil seorang pelayan yang sedang menyajikan beberapa menu makanan.
" Mas, maaf. Toiletnya sebelah mana, ya?" tanya Gibran kepada pelayan cafe itu.
" Oh, masuk ke dalam bangunan ke arah kiri, Mas." Dengan sopan pelayan cafe itu memberi tahu letak kamar kecil.
" Makasih ya, Mas." Selepas Gibran mengucapkan terima kasihnya, pelayan itu kembali dengan aktivitasnya.
" Mau Kakak antar?" Gibran menawarkan diri
" Nggak usah, Kak. Biar Kia sendiri saja. Kalau kita pergi, nanti kursinya ada yang nempatin, susah lagi deh carinya." Azkia menolak tawaran Gibran.
" Ya sudah sana buruan, katanya sudah kebelet. Nanti malah ngompol duluan," sindir Gibran meledek Azkia membuat gadis itu tertawa renyah sebelum akhirnya menuju ke arah yang dituju.
Azkia mencuci tangannya di wastafel saat dia menyelesaikan urusannya di toilet. Dia lalu berjalan ke luar toilet. Namun tiba-tiba dia tersentak saat seseorang telah menghadangnya di depan toilet wanita.
" Astaghfirullahal adzim ..." Azkia sampai memegangi dada saking merasa kagetnya.
" Ngapain lu di sini?" tanya Raffasya yang menghalangi langkah Azkia.
" Astaga, Kak Raffa?" Azkia semakin terkejut saat mengetahui orang yang menghalangi langkahnya adalah Raffasya, pria yang selalu membuat masalah dengannya.
" Kak Raffa yang ngapain ada di sini? Kak Raffa ngikutin aku, ya?" tuding Azkia dengan melipat tangan di dadanya.
" Nggak usah kepedean jadi orang!" Raffasya menoyor kening Azkia dengan telunjuknya membuat Azkia mendelik kesal.
" Kasar banget sih sama cewek! Mau Kia tonjok lagi mukanya biar langsung masuk kamar operasi?!" Kini Azkia berkacak pinggang.
" Coba saja kalau berani! Mau langsung diusir sama security, lu?!" Raffasya menantang.
" Mana ada security berani mengusir cewek cantik kayak gini." Azkia memutar bola matanya.
" Cantik dari Hongkong?! Jangan kegeeran jadi orang! Yang namanya cantik itu kayak Rayya, cantik, anggun, sopan, kalem. Bukannya yang bar-bar macam preman kayak lu!" Raffasya langsung mencibir Azkia.
" Cantik itu kayak Rayya. Cantik, anggun, sopan." Azkia mengikuti ucapan Raffasya dengan gaya mencibir. "Sayangnya Rayya nggak demen sama Kak Raffa! Kasihan deh, lu!" balas Azkia seraya menjulurkan lidah seraya berjalan melewati Raffasya. Dan dengan sengaja Azkia menyenggol lengan Raffasya dengan lengannya layaknya seorang jagoan.
" Kok lama banget di toiletnya?" tanya Gibran saat melihat Azkia kembali dengan wajah ditekuk.
" Gara-gara urusan dulu sama cowok rese," gerutu Azkia.
" Cowok rese? Siapa?" Tentu saja Gibran tahu, siapa orang yang selalu disebut Azkia sebagai cowok rese. Tapi apa mungkin orang yang diduganya itu ada di cafe ini? pikir Gibran.
" Memangnya siapa lagi cowok rese di dunia ini? Heran, deh. Ada gitu ya, orang model begitu? Mestinya di tenggelamkan di segi tiga Bermuda." Azkia masih bersungut-sungut.
" He-eh. Nggak ngerti deh, itu orang dikloning berapa biji? Sepertinya disetiap tempat selalu ada dia." Azkia menggeleng-gelengkan kepalanya merasa heran karena selalu saja bertemu di tempat tak terduga dengan Raffasya.
" Selamat malam tamu undangan yang baru datang, terima kasih atas kehadirannya di acara wedding party Mas Fero dan Mbak Fenita. Untuk kedua mempelai sekali lagi selamat menempuh hidup baru, Samawa till Jannah, ya. Aamiin." Suara pembawa acara kemudian terdengar membuat sebagian pengunjung memperhatikan sang MC.
" Tadi hantaran lagu-lagu romantis sudah dibawakan oleh Mbak penyanyi yang cantik, Mbak Cindy dan Mas Gun.yang ganteng. Pengantin juga tadi sudah menyumbangkan suaranya. Ada lagi dari tamu undangan mungkin yang ingin menyumbangkan suaranya untuk Mas Fero dan Mbak Fenita, waktu dan tempat kami persilahkan." MC kemudian menoleh ke arah sebelah kiri stage saat sang pengantin perempuan menyerukan satu nama.
" Oh, ini ada request dari mempelai wanita, nih. Katanya minta Mas Raffasya selaku bos dan pemilik cafe ini untuk menyumbangkan satu buah lagu."
Suara riuh dari para pegawai dan pengantin langsung terdengar saat nama Raffasya disebut oleh MC.
" Gimana nih para tamu undangan, setuju nggak kalau pemilik cafe ini ikut menyumbangkan suaranya sebagai kado pernikahan untuk Mas Fe dan Mbak Fe?" tanya MC kepada tamu undangan yang disambut dengan tepuk tangan sebagian tamu yang hadir.
Sedangkan Gibran dan Azkia langsung saling berpandangan saat mengetahui jika Raffasya adalah pemilik cafe yang mereka datangi malam ini.
" Jadi cafe ini punya Kak Raffa, ya? Pantas saja dia tadi belagu. Tahu tempat ini punya dia, Kia nggak akan mau diajak ke sini, Kak." Azkia nampak menyesali telah menyetujui menemani Gibran, sementara matanya kini menatap dengan sinis ke arah Raffasya yang terlihat duduk di depan piano.
" Selamat malam untuk tamu undangan dari Fero dan Fenita. Selamat datang di La Grande Cafe'n Resto. Saya sampai turun gunung nih, karena kebetulan yang mempunyai acara adalah salah satu dari kru d cafe ini. Sebuah lagu saya persembahkan untuk kedua pengantin yang berbahagia. Selamat menikmati, semoga nggak bikin para tamu undangan tutup telinga." Raffasya sempat berseloroh sebelum jari-jarinya kini menari di antara tuts piano memainkan intro lagu slow romance milik Richard Marx
...Oceans apart day after day .......
...And I slowly go insane .......
...I hear your voice on the line .......
...But it doesn't stop the pain .......
Suara tepuk tangan kembali riuh saat Raffasya mulai menyanyikan lagu Right Here Waiting. Bahkan Azkia pun langsung membuka matanya lebar-lebar saat mendengar suara Raffasya yang terdengar sangat merdu. Dia tidak menyangka jika pria badboy seperti Raffasya bisa menyanyikan lagu seromantis ini.
...If I see you next to never ......
...How can we say forever .......
...Wherever you go .......
...Whatever you do .......
...I will be right here waiting for you .......
...Whatever it takes .......
...Or how my heart breaks ......
...I will be right here waiting for you .......
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️