
Seperti biasanya tiap kali Raffasya telat pulang, Azkia selalu dengan cemas menunggu kedatangan suaminya itu di ruang tamu. Wanita berusia dua puluh dua tahun itu nampak gelisah dan tak tenang. Sejak meninggalnya Nenek Mutia intensitas pertemuan Azkia dan suaminya itu terbatas karena Raffasya seolah menjauh darinya. Sekarang ini jangankan untuk bermanja-manja kepada suaminya, sekedar ingin memeluk saja rasanya tidak berani Azkia lakukan.
Bi Neng yang sejak tadi menemani Azkia menunggu Raffasya merasa kasihan melihat Azkia yang terlihat tidak tenang.
" Mbak Kia, sebaiknya Mbak Kia istrirahat saja nggak usah menunggu Mas Raffa pulang." Bi Neng yang tidak tega melihat Azkia yang sejak tadi mondar mandir menyuruh Azkia untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat.
" Aku nggak tenang kalau Kak Raffa belum pulang, Bi Neng." Azkia menggigit kuku-kuku jari tangannya.
" Tapi Mbak Kia sedang hamil, Mbak Kia nggak boleh stres seperti ini. Nggak baik untuk kondisi janin di perut Mbak Kia ini kalau Mbak Kia terlalu berat memikirkan suatu masalah." Bi Neng menasehati karena dia merasa cemas apa yang terjadi dengan Azkia akan mempengaruhi tumbuh kembang janin di perut Azkia.
" Tapi Kia nggak bisa tidur kalau Kak Raffa belum pulang, Bi." Azkia mengusap perutnya yang tiba-tiba saja terasa sakit. " Sssshhh ... aduh ..." Azkia merintih kemudian berjalan ke arah sofa dan dengan perlahan mendudukkan tubuhnya di sofa.
" Kenapa, Mbak?" Bi Neng mendekat ke arah Azkia saat melihat Azkia terlihat meringis menahan sakit.
" Perut aku sakit, Bi. Ssshhh ... aaakkhh ..." Azkia terus meringis kesakitan.
" Ya Allah, apa kontraksi ya, Mbak?" Bi Neng mengusap perut Azkia.
" Aku nggak tahu, Bi. Tapi sakit banget ..." Wajah Azkia sudah terlihat pucat menahan rasa perih di perutnya.
" Ni, Uni ...!!" Bi Neng segera memanggil ART lainnya di rumah milik Raffasya itu.
" Ada apa, Bi Neng?" Uni yang dipanggil oleh Bi Neng langsung berlari ke ruangan tamu.
" Uni, cepat kamu panggil Bu Bidan Eti, suruh Bu bidan ke sini. Bilang saja istrinya Mas Raffa sepertinya kontraksi butuh pertolongan." Bi Neng memerintahkan Uni untuk memanggil ibu. bidan yang kebetulan rumahnya hanya beda dua rumah dari rumah Raffasya.
" Mbak Kia mau melahirkan ya, Bi?" tanya Uni yang melihat Azkia merintih kesakitan.
" Sudah cepat kamu panggil bu bidan, Uni!" Bi Neng yang melihat Uni malah bertanya bukannya segera menjalankan apa yang diperintahkan langsung menegur Uni.
" I-iya, Bi Neng. Uni ke tempatnya Bidan Eti sekarang." Uni bergegas ke luar dari rumah Raffasya untuk memanggil ibu bidan dengan panik.
" Perut aku kenapa ini, Bi? Kok sakit banget ..." Azkia terus mengeluhkan tentang perutnya.
" Tadi 'kan Bibi sudah bilang supaya Mbak Kia jangan stres-stres, ini akan pengaruh ke bayi ini. Sekarang Mbak Kia sabar dan tenangkan pikiran. Uni sedang memanggil Bu Bidan." Bi Neng terus mengusap pinggang dan perut Azkia.
Tak lama kemudian Uni datang bersama ibu Bidan. Dan setelah ditanggani oleh Bu bidan, Azkia mulai bisa tenang. Keluhan diperutnya pun sudah mulai mereda.
" Mbak, Mbak Kia pindah di kamar saja tidurnya jangan di luar." Bi Neng kembali menyuruh Azkia beristirahat ke kamar setelah ibu bidan kembali ke rumahnya setelah memeriksa Azkia.
" Aku tidur di sini saja, Bi. Aku takut perutnya sakit lagi kalau dibawa berjalan naik ke atas." Azkia menolak disuruh pindah ke kamar, karena dia takut sakit diperutnya kambuh kembali jika dia harus menaiki anak tangga.
" Kalau Bi Neng mau tidur, tidur saja nggak apa-apa, nggak usah tungguin Kia." Azkia justru menyuruh Bi Neng beristirahat di kamar Bi Neng.
" Bibi nggak mungkin meninggalkan Mbak Kia di luar sendirian. Mbak Kia tidur di kamar Bu Mutia saja kalau begitu." Bi Neng menawarkan Azkia untuk tidur di kamar Nenek Mutia, karena di lantai bawah hanya ada kamar Nenek Mutia dan kamar untuk ART, sedangkan kamar Raffasya dan kamar tamu berada di lantai atas.
" Nggak, Bi. Aku takut Kak Raffa marah kalau aku tidur di kamar Nenek." Azkia merasa takut suaminya itu tidak mengijinkannya mengijakkan kakinya di kamar Nenek Mutia.
" Mas Raffa nggak mungkin marah, Mbak." Bi Neng mencoba meyakinkan Azkia.
" Biar Kia di sini saja, Bi." Azkia tetap menolak pindah tidur ke kamar Nenek Mutia.
" Ya sudah kalau Mbak Kia tidur di luar, biar Bibi temani." Bi Neng lalu menyuruh Uni mengambil bantal di kamar Azkia.
" Sekarang Mbak Kia istirahat, pikirannya yang tenang jangan mikir yang macam-macam." Bi Neng menaruh bantal yang dijadikan Azkia bantalan kepalanya.
Selama menemani Azkia, Bi Neng terus mengusap pinggang Azkia karena Azkia tidur dengan posisi miring, sementaranya mulutnya tak henti membaca doa agar Azkia bisa lebih tenang.
Setengah jam setelah Azkia terlelap Raffasya tiba di rumahnya. Dia merasa heran karena lampu ruangan tamunya masih dalam kondisi menyala.
" Mas Raffa ..." sapaan Bi Neng saat Raffasya masuk ke dalam rumahnya membuat Raffasya terkesiap. Apalagi saat dia melihat istrinya itu tertidur di sofa.
" Kenapa Almayra tidur di luar, Bi Neng?" tanya Raffasya dengan kening berkerut.
" Tadi Mbak Kia kesakitan karena ,mengalami kontraksi waktu sedang menunggu Mas Raffa di sini, Mas." Bi Neng menjelaskan kenapa Azkia tertidur di sofa.
" Kontraksi? Lalu bagaimana sekarang?" Raffasya segera mendekat ke arah Azkia saat mengetahui istrinya itu tadi mengalami kontraksi.
" Tadi Bi Neng sudah panggil Bidan Eti, Mas."
Raffasya langsung menoleh ke arah Bi Neng. " Kenapa Bi Neng nggak kabari aku soal ini?" Raffasya nampak kesal karena dia sama sekali tidak diberi informasi tentang kondisi yang dialami Azkia tadi.
" Maaf, Mas. Bi Neng tadi panik jadi cari pertolongan yang paling dekat saja. Tapi kata bu bidan, sudah tidak ada masalah dengan kandungan Mbak Kia." Bi Neng menjelaskan kenapa dia tidak segera menghubungi Raffasya.
" Lain kali kalau ada apa-apa dengan istriku segera kasih tahu, Bi!" Raffasya lalu mengangkat tubuh Azkia dengan lengannya dan membawa Azkia ke kamar mereka. Sedangkan Bi Neng mengekori di belakang dengan membawa bantal milik Azkia yang diambil dari kamar Raffasya.
" Mas, maaf kalau Bibi lancang bilang begini. Mas Raffa jangan menyalahkan Mbak Kia karena meninggalnya Bu Mutia. Mbak Kia juga sangat sedih dan sangat kehilangan dengan kepergian Bu Mutia. Beberapa hari ini Bibi lihat hubungan Mas Raffa dengan Mbak Kia menjadi renggang. Kasihan Mbak Kia, Mbak Kia itu sedang hamil, Mas. Ibu hamil itu pikirannya harus tenang dan nggak boleh stres. Kalau Mbak Kia stres memikirkan sikap Mas Raffa yang seolah menyalahkan Mbak Kia karena meninggalnya Bu Mutia, itu bisa berakibat fatal dengan bayi di perut Mbak Kia." Bi Neng mencoba menasehati Raffasya.
" Mas Raffa sudah kehilangan Bu Mutia, jangan sampai Mas Raffa kehilangan orang-orang yang sayang sama Mas Raffa lagi," lanjut Bi Neng berusaha terus membuka pikiran Raffasya agar lebih bijak menyingkapi permasalahan yang dihadapinya.
Raffasya mendengus kasar mendengar ucapan-ucapan dari Bi Neng, sejujurnya kalimat itu seperti tamparan keras untuknya. Dia menyadari, dia merasa kecewa karena Azkia menceritakan musibah yang dialami tempat usahanya hingga mengakibatkan kesehatan Nenek Mutia drop dan akhirnya meninggal dunia. Dia menyadari jika dia terlalu emosi karena masalah tersebut. Bahkan sejak mengetahui istrinya itu yang menyebabkan Nenek Mutia mengetahui permasalahannya, dia seolah mendiamkan istrinya dan secara tidak langsung menyalahkan Azkia atas meninggalnya Nenek tercintanya. Bahkan dia sengaja selalu keluar pagi dan pulang larut malam agar dia tidak bertemu muka dengan istrinya.
" Sebaiknya Bi Neng kembali ke kamar." Raffasya menyuruh Bi Neng kembali ke kamarnya.
" Maafkan Bibi kalau Bibi bicara lancang seperti tadi, Mas." Sebelum meninggalkan kamar Raffasya, Bi Neng sempat menyampaikan permintaan maafnya kepada majikannya itu karena dia takut dianggap terlalu ikut campur atas urusan rumah tangga Raffasya dan Azkia.
Selepas kepergian Bi Neng, Raffasya duduk di tepi tempat tidurnya. Dia menatap wajah Azkia dengan lekat. Dia bisa melihat kelopak mata Azkia yang membengkak. Dia tahu jika istrinya terus saja menangis, bukan hanya karena meninggalnya Nenek Mutia tapi juga karena sikap acuhnya beberapa hari ini.
" Maafkan Papa ya, Sayang. Maaf kalau Papa belakangan ini tidak memperhatikan dedek bayi." Raffasya lalu menciumi perut Azkia. Dia sungguh merasa bersalah karena bersikap kekanakan dalam menyingkapi masalah ini.
Setelah membersihkan tubuhnya, Raffasya kemudian bergabung dengan istrinya. Dia memeluk tubuh Azkia dan memberikan ciuman di wajah Azkia. Sejujurnya dia juga sangat merindukan istrinya itu, namun kekecewaannya menutupi rasa rindunya kepada istrinya.
***
Penciuman Azkia merasakan aroma maskulin yang menyeruak ke dalam hidungnya. Aroma yang beberapa hari ini begitu dirindukannya membuat matanya terpaksa untuk terbuka.
Azkia seakan tidak percaya penglihatannya hingga dia mengerjapkan matanya mencoba untuk meyakinkan pandangannya jika sosok yang saat ini di sampingnya itu adalah sosok yang membuat hatinya gelisah.
" Kak Raffa?" Saat pandangannya penuh mendapati wajah Raffasya Azkia seketika memeluk tubuh suaminya itu seraya terisak.
" Kenapa pagi-pagi menangis?" Raffasya yang terbangun karena mendengar suara tangis Azkia langsung bertanya.
" Kak Raffa semalam pulang jam berapa? Aku khawatir menunggu Kami Raffa pulang tadi malam." Azkia mengatakan alasan dia menangis, walaupun sebenarnya dia menangis karena merasa rindu kepada suaminya itu.
" Kenapa harus menangis? Ini rumahku, nggak perlu ditunggu juga aku pasti pulang." Raffasya kemudian bangkit dari tempat tidur dan beranjak menuju ke kamar mandi.
Azkia memberengut karena tidak mendapatkan perlakuan manis dari suaminya namun setidaknya dia merasa tenang karena akhirnya dia bisa tidur bersama suaminya lagi. Dia ingat jika semalam dia tidur di ruang tamu, dan dua menduga jika suaminya lah yang membawanya ke kamar mereka.
***
" Bi Neng bilang semalam perut kamu sakit, jadi nanti malam kamu nggak usah menunggu aku pulang lagi," ucap Raffasya saat mereka berdua menyantap sarapan bersama.
" Apa Kak Raffa akan pulang malam lagi?" Azkia terlihat kecewa karena suaminya kini lebih sering pulang larut malam.
" Banyak yang harus aku selesaikan di luar."
" Aku ikut ke cafe saja seperti biasa biar aku bisa membantu Kak Raffa." Sebelum mereka berbulan madu, Azkia memang selalu menemani Raffasya di kantornya, walaupun tak banyak yang dikerjakan oleh calon ibu muda itu.
" Nggak usah! Kamu di rumah saja!" Raffasya menolak permintaan Azkia.
" Tapi Kak Raffa selalu pulang malam, aku di sini sendirian. Aku jenuh Kak di sini tidak ada yang menemani," keluh Azkia.
Raffasya mendengus mendengar keluhan Azkia.
" Kamu turuti perintahku, jangan banyak membantah!" ketus Raffasya membuat Azkia terdiam tak ingin membantah ucapan suaminya lagi.
Setelah selesai sarapan Raffasya pun segera berpamitan kepada Azkia.
" Aku pergi dulu, dengar pesanku tadi, jangan bertindak bo doh dengan menungguku hingga larut malam!" Raffasya kembali mengingatkan istrinya itu agar tidak melanggar apa yang diperintahnya.
" Tapi Kak Raffa usahakan jangan pulang malam-malam ..." Azkia meminta Raffasya untuk pulang larut. " Sekarang ini banyak hal yang membuat Kak Raffa pusing. Kak Raffa juga harus memperhatikan kondisi kesehatan Kak Raffa."
" Aku akan baik-baik saja, kamu nggak usah khawatir." Raffasya mencium kening Azkia dan mengusap perut Azkia dan mencium perut istrinya itu. " Aku berangkat, Assalamualaikum ..." Raffasya kemudian meninggalkan Azkia.
" Waalaikumsalam ..." Azkia pun mengantar suaminya itu keluar sampai teras rumah. Walaupun sikap Raffasya masih belum bisa seromantis seperti awal, tetapi dengan suaminya itu mau berkomunikasi dengannya membuat Azkia merasa sedikit tenang.
***
Ddrrtt ddrrtt
Raffasya melirik ponselnya yang bergetar dan dia mendapati nomer yang tak dia kenal menghubunginya saat ini. Raffasya yang sedang berkendaraan segera memasang headset bluetooth di telinganya.
" Halo ..." sapa Raffasya saat dia mengangkat panggilan telepon dari nomer yang tak dikenalnya itu.
" Halo, selamat pagi, apa saya berbicara dengan Pak Raffasya?" tanya seseorang yang suaranya tidak Raffasya kenal.
" Iya saya sendiri. Maaf dengan siapa saya bicara, ya?" tanya Raffasya.
" Perkenalkan saya Sony, Pak Raffasya. Saya ingin menawarkan kerja sama dengan Pak Raffasya karena saya lihat cafe milik Anda baru saja terkena musibah," ucap pria bernama Sony itu.
Raffasya mengeryitkan keningnya mendengar maksud ucapan dari orang yang meneleponnya itu.
" Maksud Pak Sony bagaimana, ya? Kerjasama apa yang Pak Sony maksud?" tanya Raffasya.
" Saya berminat membeli tanah dan bangunan cafe milik Pak Raffasya yang kemarin kebakaran."
Raffasya membulatkan matanya mendengar niat orang yang meneleponnya itu.
" Maaf, Pak Sony. Saya tidak berniat menjual cafe itu!" tegas Raffasya.
" Pak Raffasya tidak perlu buru-buru mengambil keputusan, kita masih bisa bekerjasama dengan cara lain. Bagaimana jika saya menanamkan modal saya untuk merenovasi cafe tersebut jika Pak Raffasya tidak berminat menjualnya?" Sony tetap ngotot ingin menawarkan kerjasamanya dengan Raffasya.
" Mohon maaf, Pak Sony. Sementara ini saya rasa saya masih bisa menghandle masalah yang baru saja terjadi dengan cafe milik saya. Jadi mohon maaf sekali jika saya tidak bisa menerima kerjasama yang Pak Sony tawarkan. Maaf sekali lagi, saya saat ini sedang berkendaraan jadi saya akan tutup terleponnya, selamat pagi " Raffasya segera mengakhiri hubungan telepon dengan Sony. Dia mendengus kesal karena merasa diremehkan oleh orang yang sama sekali tidak dikenalnya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️