MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Apes Dibayar Tunai



" Kak Raffa!! Lepaskan ...!!" Azkia berusaha berontak, sementara Raffasya masih mencoba mengangkat tubuh Azkia.


" Nggak akan semudah itu gue lepasin lu!" geram Raffasya..


" Raffa, Azkia, kalian sedang apa?"


Suara Lusiana yang tiba-tiba terdengar membuat Azkia dan Raffasya yang terlihat seperti anak kecil sedang berebut mainan langsung mengarahkan pandangan ke arah suara Lusiana berasal.


" Tante?" Azkia terperanjat saat melihat Lusiana menatap heran ke arah dirinya.


Sementara Raffasya memilih tidak menyapa Mamanya, tapi pria itu tak juga melepaskan tubuh Azkia dari dekapannya


" Aaakkkhh ...!" Raffasya meringis kesakitan karena Azkia tiba-tiba menggigit lengan Raffasya . " Si*al ...!! Dasar cewek bar-bar!" Raffasya kembali mengejar Azkia yang berlari setelah terlepas dari Raffasya.


Azkia berlari ke arah belakang Lusiana seolah menjadikan wanita paruh baya itu tameng baginya agar tidak tertangkap lagi oleh Raffasya.


" Raffa, Azkia, kalian ini apa-apaan, sih? Seperti anak kecil saja kalian berdua." Lusiana menggelengkan kepala melihat kelakuan Raffasya dan juga Azkia.


" Kak Raffa duluan yang cari masalah, Tan! Masa Kia diusir?! Kia ke sini itu 'kan mengantar pesanan gaun Tante." Azkia mengadu perlakuan yang diterimanya dari Raffasya.


" Lalu kenapa pakaian kamu basah kuyup seperti ini, Kia?" Lusiana menatap Azkia dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hampir tidak ada bagian tubuh Azkia yang terlihat kering.


" Ini ulah Kak Raffa, Tante! Kak Raffa ceburin Kia ke kolam ikan di sana!" Azkia menunjuk arah kolam ikan di samping rumah Raffasya.


Lusiana terperangah mendengar perkataan tentang perilakuan putranya kepada Azkia.


" Astaga, Raffa! Kamu keterlaluan sekali! Kamu kasar sekali sama Azkia! Kalau Papa Mamanya nggak terima kamu memperlakukan Kia seperti ini, kamu mau tanggung resikonya?! Kamu bisa nggak sih, jangan selalu bikin masalah?!" geram Lusiana kesal.


" Salah sendiri kenapa dia tendang motor Raffa sampai jatuh?! Tuh, lihat! Sampai lecet gini. Ini karena ulah si nenek sihir itu" Raffasya menunjuk Azkia, tak kalah emosi.


" Lagian kenapa Kak Raffa usir Kia sampai dorong-dorong Kia keluar?! Kia itu bukan maling, Kia itu tamu yang mestinya dihormati!" Azkia tidak ingin disalahkan lebih dahulu, karena memang dia datang ke rumah itu secara baik-baik.


" Kan sudah gue bilang, kalau mau antar pesanan atas nama Ibu Lusiana itu di kantornya bukan di sini! Di sini itu bukan rumah Ibu Lusiana, tapi rumah milik Ibu Mutia!" Raffasya yang merasa Mamanya tidak mempunyai hak di rumah neneknya langsung menegaskan kepemilikan rumah itu.


" Raffa! Mama juga nggak pernah mengaku jika ini rumah Mama. Mama hanya menyuruh Azkia untuk mengantar dan menunggu sebentar di sini, karena Mama juga ingin menengok Nenek kamu." Lusiana beralasan, karena tidak mungkin dia mengatakan jika tujuan dia adalah ingin mendekatkan Raffasya dengan Azkia.


" Sejak kapan Mama perduli sama Nenek?" sindir Raffasya.


" Raffa! Meskipun Mama dan Papa kamu sudah berpisah, Mama tetap menghormati Nenek kamu seperti orang tua sendiri." Lusiana keberatan disebut tidak perduli terhadap mantan ibu mertuanya itu. Karena walaupun jarang mengunjungi, tapi Lusiana masih sering mengirimkan uang dan kebutuhan untuk Nenek Mutia, karena mantan ibu mertuanya itulah yang sudah merawat Raffasya selama ini.


" Tante, Kia mau permisi pulang saja." Azkia yang mengira akan terjadi pertengkaran antara ibu dan anak memilih untuk pergi dari sana. Dia lalu melihat gaun pesanan Lusiana yang terjatuh dekat mobilnya. Untung saja semua gaun itu terbungkus cover gaun gantung hingga tidak sampai kotor walaupun terjatuh.


" Eh, nanti dulu, Kia. Kia mau pulang dengan kondisi basah seperti ini? Nanti kamu masuk angin, lho! Bisa sakit kamu nanti." Lusiana melarang Azkia yang ingin pulang.


" Nggak apa-apa, Tan. Kia permisi ya, Tan. Assalamualaikum ...."


" Nanti-nanti ... kamu jangan pulang dulu! Sebaiknya kamu ganti baju, kamu mandi saja dulu. Habis tercebur di kolam ikan, pasti baunya nggak enak." Lusiana berjalan mengambil gaun pesanannya yang terjatuh. " Ayo kamu masuk dulu ke dalam."


" Tapi, Tan. Kia nggak bawa baju ganti."


Lusiana menoleh ke arah Raffasya.


" Raffa, pinjamkan kemeja kamu sama celana jeans kamu yang masih baru." Lusiana meminta Raffasya meminjamkan pakaiannya yang masih baru.


" Ogah!" Raffasya menolak kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya membuat Lusiana menggelengkan kepalanya.


" Kia, ayo!"


" Assalamualikum ..." Lusiana mengucapkan salam.


" Waalaikumsalam ..." Bi Neng yang menjawab salam Lusiana. " Eh, Ibu ...."


" Bi Neng, Mama di mana?" tanya Lusiana kepada Bi Neng menanyakan keberadaan mantan Ibu mertuanya.


" Ibu Mutia baru masuk ke kamar, Bu." jawab Bi Neng.


" Bi, tolong antar Azkia ke kamar mandi yang di kamar tamu saja." Lusiana menyuruh Bi Neng mengantar Azkia membersihkan tubuhnya di kamar tamu karena pasti Azkia akan berganti pakaian.


" Memang Mbak nya kenapa?" tanya Bi Neng melihat pakaian Azkia yang basah.


" Itu karena ulah majikan Bi Neng. Masa dia menceburkan Azkia ke dalam kolam ikan? Keterlaluan sekali itu anak." Lusiana masih merasa jengkel dengan ulah Raffasya.


" Mas Raffa, Bu?"


" Memangnya siapa lagi yang tega menceburkan orang ke kolam kalau bukan dia? Memangnya Bi Neng pikir Mama Mutia yang sanggup melakukan itu? Sudah cepat antar Azkia! Kasihan nanti masuk angin. Terus nanti Bi Neng ke kamar Raffa, suruh Raffa pinjamkan bajunya."


" Baik, Bu. Mari Mbak."


Azkia pun mengikuti langkah Bi Neng ke arah kamar tamu di lantai atas, sementara Lusiana berjalan ke kamar Nenek Mutia.


Selepas membersihkan diri, Azkia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk baru yang disediakan Bi Neng. Dan bersamaan dia keluar dari pintu kamar mandi, Raffasya pun masuk ke dalam kamar membawa baju yang akan dipinjamkan dengan wajah memberengut.


Baik Azkia dan Raffasya sama-sama terperanjat saat mereka saling bertatapan. Azkia tersentak karena ada laki-laki yang bukan mahramnya melihatnya dalam posisi dia yang hanya menggunakan handuk. Begitu juga dengan Raffasya yang terkaget mendapati pemandangan tubuh Azkia yang hanya ditutup handuk dari dada hingga setengah paha. Jika beberapa tahun lalu dia sempat melihat putih mulusnya paha Azkia, kini dia seolah mendapat bonus karena bisa melihat bagian lain tubuh Azkia yang tidak tertutup handuk.


" Aaakkkhh ...!! Kak Raffa ngapain masuk-masuk ke sini? Kak Raffa mau mengintip Kia mandi ya?" bentak Azkia segera mengambil bantal dan menyerang Raffasya dengan beberapa pukulan.


" Eh, gue itu mau baik hati kasih pinjam baju gue ini! Ngapain lu pukul-pukul gue?! Lagian sapa juga yang mau mengintip?! Gue pernah bilang, gue nggak naf*su lihat body lu!" Raffasya menangkis pukulan yang diarahkan kepadanya


" Kalau mau kasih pinjam baju, kenapa nggak suruh si bibi saja? Kenapa mesti Kak Raffa yang antar?!"


" Memangnya Bi Neng itu Bibi lu main suruh-suruh semau lu?!" Raffasya langsung menyerahkan pakaian itu ke arah Azkia secara kasar hingga membuat Azkia terhuyung ke belakang.


" Pakaian itu nggak usah dikembalikan! Gue anti baju gue dipakai sembarang orang! Bisa-bisa apes badan gue!" Raffasya kemudian membalikkan tubuhnya ingin keluar kamar tamu.


Buuugghh


" Ah sh*it!!" Raffasya langsung mengelus kening dan hidungnya karena saat dia berputar dia menabrak ujung daun pintu yang tadi tidak tertutup rapat.


Sementara Azkia langsung tertawa puas saat melihat Raffasya menabrak daun pintu.


" Rasain!! Apes nya langsung dibayar tunai, kan?!" Azkia masih tertawa seakan mensyukuri apa yang dialami oleh Raffasya, membuat Raffasya geram hingga akhirnya dia kembali mengangkat tubuh Azkia lalu menghempaskan tubuh wanita itu ke atas tempat tidur, membuat handuk yang dipakai Azkia tersilak dan memperlihatkan sebagian daerah sensitif milik Azkia yang berwarna merah muda. Raffasya langsung terbelalak melihat daerah terlarang di depan matanya yang nampak menggoda hingga dia terpaksa harus menelan salivanya.


*


*


*


Bersambung ...


😱 Apa yang akan terjadi?


Happy Reading❤️