MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Ini Nomer Gue, Lu Save Saja



Raffasya melihat Azkia yang masih berdiri di luar mobil padahal dia sudah membuka kunci pintu mobilnya.


" Mana kuncinya?" Azkia mengulurkan tangannya meminta Raffasya menyerahkan kunci mobil kepadanya.


" Buat apa lu minta kunci mobil gue?" tanya Raffasya heran.


" Biar aku saja yang bawa mobilnya!" Azkia masih mengulurkan tangannya.


" Nggak, gue akan biarin lu bawa mobil!" tegas Raffasya menolak permintaan Azkia yang berniat membawa mobil sendiri.


" Kak Raffa itu bawa mobilnya nggak enak! Kalau nanti aku mual lagi gimana??" Azkia bersikukuh ingin mengendarai mobil Raffasya.


" Lu nggak usah ngeyel banget, deh!" Raffasya kemudian membuka pintu mobil untuk Azkia. " Cepat masuk!" perintahnya kemudian.


Dengan besungut-sungut Azkia akhirnya masuk ke dalam mobil Raffasya dan duduk di samping kursi kemudi.


Setelah menutup pintu setelah Azkia masuk ke dalam mobil, Raffasya pun kemudian berjalan menuju kursi kemudi dan menjalankan mobilnya kembali untuk melanjutkan perjalanan dan meninggalkan rest area.


Raffasya melirik ke arah Azkia yang sedang mengarahkan pandangan ke luar jendela dengan tangan menutup hidung dan mulutnya.


" Lu bawa essential oil nggak buat menghilangkan mual lu?" tanya Raffasya.


Azkia hanya diam tak menjawab pertanyaan Raffasya.


" Nanti kita periksa kandungan lu dulu sebelum pulang ke rumah orang tua lu."


Perkataan Raffasya kali ini sukses membuat Azkia menoleh ke arahnya, Mamanya sempat membawa dia periksa kehamilannya ke bidan dalam perjalanan ke rumah Neneknya.


" Aku sudah periksa, ngapain periksa lagi?" ketus Azkia.


" Gue ingin tahu bagaimana kondisi calon anak gue," ucap Raffasya.


" Dia baik-baik saja! Nggak usah terlalu berlebihan, deh!"


" Tapi lu tadi muntah gitu, apa nggak bahaya untuk bayi di dalam perut lu itu?"


" Aku itu muntah karena naik mobil Kak Raffa!" Azkia beralasan.


" Ya sudah nanti sekalian lu periksa juga biar nggak mual-mual seperti tadi." Raffasya ingin tetap membawa Azkia ke klinik untuk memeriksa kehamilan Azkia.


" Sudah deh, nggak usah ngomong terus! Pusing kepalaku denger suara Kak Raffa!" hardik Azkia membuat Raffasya terdiam.


Setelah keluar dari pintu tol, Raffasya tetap melakukan apa yang diinginkannya, yaitu memeriksakan kandungan Azkia meskipun Azkia sendiri sudah menegaskan jika sudah memeriksa kandungannya itu.


" Ngapain berhenti sih, Kak?" tanya Azkia saat mobil Raffasya berhenti di sebuah klinik bersalin.


" Gue tadi sudah bilang kalau ingin periksa bayi dalam kandungan lu." Raffasya melepas seat beltnya dan membuka pintu mobil. " Buruan keluar!" perintahnya kembali.


Azkia pun kembali menuruti apa yang Raffasya perintahkan kepadanya walau dengan wajah memberengut.


Sebelum memasuki klinik, Azkia melihat orang yang berjualan rujak buah. Dia lalu berjalan mendekati penjual buah itu.


" Bang, ini berapa?" tanya Azkia kepada penjual buah dan menunjuk potongan mangga muda yang dibungkus menggunakan wadah plastik mika.


" Lima belas ribu, Neng." jawab di penjual buah.


" Aku mau dua bungkus dong, Bang. Yang muda-muda ya, Bang! Jangan yang matang!" ucap Azkia kemudian.


" Boleh, Neng." sahut penjual buah kembali.


" Lu mau beli apa?" tanya Raffasya yang melihat Azkia mendekati penjual buah.


" Kelihatannya saja beli apa?" ketus Azkia.


" Ini, Neng." Penjual buah itu memasukan dua bungkus mika mangga muda yang sudah dia kupas sebelumnya.


" Bang, aku nggak mau yang ini!" Azkia menolak plastik berisi mangga yang diberikan oleh si penjual.


" Lho, tadi si Neng minta dua bungkus yang mangga muda." Penjual buah dibuat bingung dengan penolakan Azkia atas pesanan wanita itu.


" Aku maunya buahnya itu dadakan dikupas, nggak mau yang sudah jadi." Azkia beralasan.


" Tapi ini juga barusan saya kupas kok, Neng. Masih baru, ini kulitnya saja masih ada belum saya buang." Penjual buah itu sampai menunjuk kantong sampah di samping gerobaknya.


" Tapi aku maunya yang itu!" Azkia menunjuk buah yang masih utuh dan belum dikupas kulitnya. " Tinggal dikupas lagi saja apa susahnya sih, Bang?" gerutu Azkia. " Kalau Abang keberatan mengupas, suruh dia saja yang mengupas buahnya!" Azkia menunjuk ke arah Raffasya, membuat Raffasya mengeryitkan keningnya. " Jadi pedagang itu jangan bawel banget dong, Bang!"


" Yang bawel itu si Neng," sahut penjual buah.


" Bang, kalau yang namanya pembeli itu adalah raja, wajar dong kalau bawel!" protes Azkia disebut bawel oleh penjual buah.


" Bang, turuti saja apa yang dia mau." Raffasya lalu mengeluarkan uang dua lembar seratus ribuan dan menyerahkan ke si penjual buah.


" Ambil saja uangnya semua, tolong buatkan apa yang di mau. Dia sedang hamil muda, harap maklum kalau sedikit bawel," sindir Raffasya melirik ke arah Azkia yang juga melirik ke arah Raffasya saat dia menyindirnya.


" Oh, lagi ngidam, toh! Pantas saja mintanya aneh-aneh saja. Terima kasih lho, Mas." Si penjual buah itu menerima uang yang disodorkan oleh Raffasya dan mengupas mangga muda yang diminta oleh Azkia.


Setelah selesai dengan pesanan buah mangga mudanya, Azkia dan Raffasya kemudian masuk ke dalam klinik bersalin.


Karena harus mengantri, Azkia memilih membuka satu wadah buah mangga muda yang tadi dibelinya.


" Lu makan buah itu, tadi sudah sarapan belum di rumah Nenek?" tanya Raffasya khawatir melihat buah yang terlihat masih mentah dan pasti asam rasanya.


" Sudah!" ketus Azkia singkat sambil mulai mengunyah buah mangga muda yang dibelinya.


" Jangan banyak-banyak makannya, nanti perut lu sakit! Itu pasti asam rasanya." Raffasya sampai mengedikkan bahunya membayangkan rasa asam dari mangga muda itu.


" Biasa saja ..." sahut Azkia enteng seraya terus memakan potongan buah mangga muda. " Enak, mau coba?" Azkia menyodorkan wadah mika berisi mangga muda itu ke arah Raffasya.


" Ogah!" tolak Raffasya.


" Ya sudah ..." Azkia kembali memasukan kembali potongan buah yang berasa asam itu ke mulutnya.


" Ibu Almayra Azkia ..." suster memanggil nama Azkia hingga membuat Azkia bangkit dan masuk ke dalam ruang periksa diikuti oleh Raffasya di belakangannya.


" Silahkan ..." Ibu dokter menyuruh Azkia dan Raffasya duduk di kursi depan mejanya.


" Ingin memeriksa kandungan? Apa ada keluhan?" tanya Dokter kepada Azkia


" Nggak ada, Dok."


" Ada, Dok."


Azkia dan Raffasya menjawab bersamaan namun dengan jawaban yang berlawanan.


" Dia tadi mual dan muntah parah banget, Dok." keluh Raffasya.


" Itu hal biasa terjadi dengan wanita hamil 'kan, Dok?" Azkia membantah dengan mengatakan apa yang dialaminya adalah suatu hal yang wajar.


Dokter kandungan itu tersenyum melihat perdebatan Azkia dan Raffasya di hadapannya.


" Iya, benar. Itu adalah hal yang wajar yang dialami oleh ibu hamil. Sudah periksa kandungan sebelumnya?" tanya Dokter itu.


" Sudah seminggu lalu, Dok." sahut Azkia.


" Ada keluhan lain selain mual dan muntah?" tanya Ibu dokter .


" Nggak ada kok, Dok." jawab Azkia.


" Aku bilang juga apa??" sindir Azkia melirik ke arah Raffasya.


" Kemarin periksa, berapa Minggu usia kehamilannya?" tanya Ibu dokter.


" Empat Minggu, Dok."


" Masih sangat muda, sangat riskan usia kandungan di usia itu. Kalau bisa untuk hubungan suami istrinya ditunda dulu sampai masuk ke usia trimester kedua. Tapi kalau sudah nggak tahan, boleh saja tapi harus hati-hati melakukannya." Dokter itu tersenyum saat menjelaskan soal melakukan aktivitas bercinta layaknya suami istri.


Tentu saja apa yang dikatakan dokter itu membuat Azkia dan Raffasya membelalakkan matanya kemudian mereka saling melirik.


" Tapi kalau dilihat-lihat sepertinya kalian ini pasangan pengantin muda, kayaknya susah ya kalau disuruh menahan. Jadi pelan-pelan saja kalau mau melakukan aktivitas berhubungan in tim." Nasehat dokter itu kembali.


" Dok, kayanya sudah tidak ada yang ingin kami tanyakan lagi, deh. Jadi kami permisi saja kalau begitu." Azkia langsung bangkit dari kursi karena dia tidak nyaman mendengar dokter itu membahas tentang aktivitas suami istri, karena akan mengingatkan bagaimana dulu dia dan Raffasya sampai melakukan hubungan badan dan itu membuatnya sangat malu sampai ke ubun-ubun.


***


Sekitar jam setengah sebelas mobil yang dikendarai Raffasya telah sampai di depan rumah Yoga. Raffasya dan Azkia kemudian turun dari mobil. Dan di saat yang bersamaan dari rumah sebelah, Rayya ke luar dari rumah Gavin. Raffasya yang melihat kehadiran wanita yang sejak dulu begitu diidamkannya nampak tertegun menatap wajah cantik wanita berhijab itu


" Rayya ..." sapa Raffasya


" Kak Raffa ..." Rayya pun membalas sapaan Raffasya.


" Rayya mau ke mana?" tanya Raffasya kemudian.


" Hmmm, Rayya ada janji bertemu dengan seseorang, Kak."


Azkia yang teringat jika Raffasya itu menyukai Rayya langsung mengerutkan keningnya saat Raffasya menyapa Rayya. Dia lalu melirik ke arah Raffasya, dia melihat jika pria itu nampak tertegun menatap kehadiran Rayya.


" Begitu mau gaya-gayaan tanggung jawab! Males banget!" umpat Azkia dalam hati kemudian berlari masuk ke dalam rumahnya.


" Kia, hati-hati! Jangan lari-lari!" Bahkan suara Rayya yang berteriak pun tidak didengarnya sama sekali.


" Almayra!" Raffasya yang baru menyadari Azkia berlari segera menyusul Azkia dan meninggalkan Rayya.


" Assalamualaikum ..." Azkia memberi salam saat masuk ke dalam rumahnya.


" May, lu jangan suka lari-lari begitu, dong! Itu berbahaya buat janin lu, tau!" tegur Raffasya saat berhasil menyusul langkah Azkia.


Azkia tidak memperdulikan ucapan Raffasya, dia malah berlari kembali menaiki anak tangga.


" Kia, astaghfirullahal adzim ...! Jangan lari-lari seperti itu, Nak!" tegur Natasha yang baru keluar dari dalam kamarnya.


" Tante ..." Raffasya menyapa Natasha dan Natasha hanya menganggukkan kepala merespon sapaan Raffasya sementara Azkia sudah masuk ke dalam kamarnya.


" Itu koper Kia, ya? Sini biar Tante saja yang bawa." Natasha yang melihat Raffasya membawa koper milik Azkia langsung meminta koper itu dari tangan Raffasya.


" Ini, Tan ..." Raffasya menyerahkan koper di tangannya.


" Oh ya, Raffa. Kemarin itu Mama kamu datang ke sini ...."


" Mama aku bilang apa saja, Tante?" Raffasya memotong pertanyaan Natasha, dia takut Mamanya akan membuat kacau di rumah Natasha.


" Mama kamu hanya meminta pendapat Tante soal konsep wedding party kalian." Natasha menjelaskan apa yang dilakukan Lusiana kepadanya kemarin.


" Maaf kalau kedatangan Mama saya kurang berkenan buat Tante." Raffasya yang menilai tindakan Mamanya itu tidak sepantasnya dilakukan mengingat apa yang terjadi antara dirinya dan Azkia adalah sebuah musibah langsung menyatakan permintaan maafnya.


" Iya sudah, nggak apa-apa. Yang penting sekarang Kia sudah mau pulang dan setuju dengan pernikahan kalian nanti," sahut Natasha.


" Kalau begitu saya pamit pulang dulu, Tan." Raffasya kemudian berpamitan kepada Natasha.


" Ya sudah, terima kasih, Raffa."


" Iya, Tan."


Raffasya kemudian pergi meninggalkan rumah Yoga untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu sebelum kembali ke cafenya.


***


Sementara di dalam kamarnya Azkia langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia masih teringat tadi saat melihat Raffasya menatap Rayya. Tatapan mata Raffasya masih terlihat sangat mendambakan Rayya.


" Jangan-jangan Kak Raffa itu ada maksud tersembunyi ingin menikah denganku. Bisa jadi itu cara dia agar bisa mendekati Rayya lagi." Azkia menduga-duga setelah melihat bagaimana reaksi Raffasya saat bertemu dengan Rayya tadi.


" Nggak, aku nggak boleh membiarkan Kak Raffa mendekati Rayya lagi, bisa repot nanti Uncle Gavin kalau anaknya didekati cowok berandalan kayak Kak Raffa." Azkia bertekad akan menghalangi upaya Raffasya jika berusaha mendekati Rayya kembali.


" Kia ..." Suara Natasha terdengar dari luar pintu kamar Azkia dan tak lama Natasha sudah membuka pintu kamar itu lalu masuk ke dalam kamar dengan membawa koper di tangannya.


" Kia, Mama senang kamu sudah kembali." Natasha kemudian menghampiri Azkia yang berbaring di atas tempat tidurnya.


" Gimana? Apa masih mual-mual?" tanya Natasha lalu duduk di tepi tempat tidur Azkia sambil mengusap lengan Azkia.


" Masih, Ma."


" Ya sudah nggak apa-apa. Kalau hamil muda memang kebanyakan seperti itu, yang penting vitaminnya dan su su hamilnya tetap diminum tiap hari, biar janin di perut kamu ini tumbuh sehat. Mama nggak mau cucu Mama ini kenapa-kenapa." Kini tangan Natasha mengusap perut Azkia.


" Maafkan Kia ya, Ma. Sudah bikin Mama kecewa ..." ucap Azkia melihat wajah Mamanya yang masih terlihat sedih walaupun bibirnya mengembangkan senyuman.


Natasha menghela nafas panjang dan menatap wajah Azkia.


" Dulu Mama juga pernah mengalami peristiwa yang hampir sama dengan Kia. Untung saja saat itu Mama bertemu Papamu. Dan Papamu yang menyelamatkan Mama dari peristiwa menyeramkan itu." Natasha teringat peristiwa buruk yang menimpanya puluhan tahun silam.


" Sekarang semua sudah terjadi. Yang penting sekarang masalahnya sudah teratasi. Lain kali kamu harus lebih hati-hati ya, Nak." Natasha menasehati Azkia.


" Iya, Ma."


" Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Kia mau makan apa? Nanti Mama buatkan untuk Kia." tanya Natasha kemudian bangkit dari posisi duduknya.


" Kia nggak kepingin makan apa-apa sih, Ma."


" Tapi perut kamu harus tetap terisi. Nanti Mama buatkan sup kacang merah sama ayam goreng saja, ya?"


" Terserah Mama saja, deh."


" Ya sudah ..." Natasha kemudian bangkit dan meninggalkan kamar Azkia.


Ddrrtt ddrrtt


Azkia mendengar ponselnya berbunyi di dalam Sling bagnya, membuat dia bangkit untuk mengambil poselnya itu. Sebuah pesan masuk dari nomer yang tidak dia kenal. Azkia lalu membuka pesan itu.


" Ini nomer gue, lu save saja. Kalau lu butuh sesuatu segera hubungi gue."


Itu isi pesan di ponsel Azkia, dan dia tahu siapa pengirim pesan itu.


" Males banget! Ngapain juga disave? Nggak penting juga!" gumam Azkia kemudian menaruh ponselnya itu di atas nakas dan kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️