
Azkia terkejut saat Raffasya sudah berada di atas tubuhnya. Bahkan wajah tampan pria yang merupakan ayah dari janin yang dikandungnya itu begitu cepat dengan wajahnya saat ini. Seakan mengingatkan kembali pada kejadian Bandung lautan asmara yang mereka lakukan beberapa pekan lalu.
" Kak Raffa mau apa? Kak Raffa jangan macam-macam, ya!!" Azkia mengancam Raffasya agar tidak mengulangi apa yang pernah mereka lakukan dulu.
" Memang lu pikir gue mau apa?" tanya Raffasya tanpa beranjak dari posisinya yang masih mengungkung tubuh Azkia.
" Kak Raffa awas!!" Azkia memukuli tubuh Raffasya agar menjauh dari tubuhnya.
" Memangnya kenapa? Bukannya dulu malah lu yang minta gue buat sentuh lu?" seringai tipis terbentuk di satu sudut bibir Raffasya.
Wajah Azkia seketika memerah sangat Raffasya menyinggung aktivitas mereka di Bandung kala dia berada dalam pengaruh obat pe rangsang.
" Apa gue juga perlu kasih obat itu juga biar lu nggak nolak gini?" sindir Raffasya membuat Azkia membelalakkan matanya.
" Coba saja kalau Kak Raffa berani, aku akan teriak biar semua orang datang ke sini!" ancam Azkia membali.
" Teriakan di malam pengantin memang siapa yang mau perduli?"
" Hoek ...."
Raffasya yang melihat Azkia seperti ingin muntah langsung menjauhkan tubuhnya dari Azkia. Sedangkan Azkia langsung menahan tawanya karena tipuannya berhasil membuat Raffasya melepaskannya dari kungkungan tubuh pria itu.
Setelah Raffasya bangkit, Azkia buru-buru menguasai tempat tidurnya dengan tidur di tengah-tengah dan merentangkan kaki dan tangannya seolah membentuk huruf X seakan melarang Raffasya untuk ikut tidur di atas spring bed mikiknya.
" Ini punya aku, ya! Jadi Kak Raffa dilarang tidur di sini!!" larang Azkia kembali.
Raffasya yang menyadari jika telah dikerjai Azkia langsung mendengus kasar mengetahui kelicikan wanita itu
Raffasya pun akhirnya memilih mengistirahatkan tubuhnya di atas sofa, tanpa ingin berdebat lagi dengan wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
Setengah jam berlalu, Azkia masih belum bisa memejamkan matanya karena dia takut jika Raffasya akan melakukan sesuatu kepadanya saat dia tertidur, Azkia lalu melirik ke arah sofa di mana dia melihat Raffasya yang sudah terlelap tak bergerak di sana.
" Enak sekali dia bisa tidur, aku yang khawatir malah dia yang nyenyak!" Azkia lalu bangkit dan berjalan ke arah sofa di mana Raffasya tertidur.
" Kak Raffa bangun!! Aku belum minum su su hamil, cepat ambilkan!" Azkia membangunkan Raffasya yang telah tidur pulas.
" Kak Raffa!! Cepat buatkan su su hamil!" Azkia menepuk lengan Raffasya yang tidur dengan melipat tangan di dada.
" Hmmm ..." sahut Raffasya tanpa membuka matanya yang terpejam.
" Astaga, Kak Raffa!!" Azkia kemudian duduk di atas perut Raffasya karena suaminya itu tidak juga terbangun.
" Apaan sih gangguin orang tidur saja!!"
Azkia langsung bangkit kembali saat Raffasya sudah terbangun.
" Aku belum minum su su hamil, cepat ambilkan! Kan Kak Raffa yang ingin aku tetap mempertahankan bayi ini." Azkia beralasan seraya mengusap perutnya.
Karena memakai alasan bayi dalam kandungan, akhirnya Raffasya pun bangkit dan melangkah ke luar kamar untuk membuatkan su su hamil untuk istrinya itu.
" Cari apa, Mas?" tanya Bi Jun sesampainya Raffasya di dapur dan terlihat kebingungan mencari di mana letak su su hamil milik Azkia.
" Saya mau buat su su buat Almayra, Bi. Tapi saya nggak tahu di mana tempatnya," sahut Raffasya.
" Oh, biar Bi Jun yang buatkan saja, Mas." Bi Jun lalu mengambil mug dan wadah su su hamil di dalam laci yang ada di kitchen set.
" Makasih, Bi." ucap Raffasya karena bantuan Bi Jun. " Biasanya Almayra minum su su hamil nya apa, Bi?" tanya Raffasya karena dia merasa perlu juga menyiapkan itu jika Azkia tinggal di rumahnya nanti.
" Yang seperti ini, Mas." Bi Jun kemudian menunjukkan kemasan su su hamil yang masih baru.
" Variantnya apa, Bi?"
" Non Kia biasanya minum rasa coklat di-mix sama mocca, Mas." Bi Jun menjelaskan.
" Kok pakai es, Bi?" tanya Raffasya heran saat Bi Jun memasukan potongan es batu ke dalam mug su su hamil untuk Azkia.
" Iya, Non Kia senangnya yang dingin, kalau pakai air hangat suka mual nanti malah dimuntahkan lagi su sunya, Mas."
" Oh gitu ya, Bi?"
" Iya, Mas. Nah, ini sudah jadi." Bi Jun menyerahkan segelas su su hamil itu kepada Raffasya.
" Makasih ya, Bi." Raffasya mengambil gelas su su itu lalu kembali ke kamar Azkia
Raffasya melihat Azkia masih duduk bersandar di tempat tidur dengan ponsel di tangannya.
" Nih, minum!" Setelah menyodorkan gelas su su yang diminta oleh Azkia, Raffasya hendak melangkah kembali ke sofa.
" Eh, Kak Raffa mau ke mana?" tanya Azkia menghentikan langkah Raffasya dan membuat Raffasya memutar kepala menghadap ke arah Azkia.
" Balik tidur di sofa, kenapa? Minta gue kelonin?" sindir Raffasya.
" Kaki aku capek, pijat kakiku dulu baru boleh tidur." Azkia meminta Raffasya memijat kakinya.
" Lu pikir gue tukang pijat?!" Raffasya menolak permintaan Azkia.
" Aku itu capek gara-gara tadi banyak berdiri terima tamu. Salah Kak Raffa kenapa bilang mau menikahi aku, jadi Kak Raffa harus tanggung jawab!" Azkia tidak perduli dengan penolakan Raffasya dan kembali memakai alasan kesalahan Raffasya yang jadi senjata andalannya untuk membuat Raffasya menuruti semua kemauannya.
Dengan mendengus kesal Raffasya akhirnya memutar tubuhnya dan kembali mendekati Azkia. Dia lalu duduk di tepi tempat tidur Azkia dan mulai memijat kaki Azkia sementara pandangannya menatap kesal karena merasa dikerjai oleh wanita yang sedang mengandung anaknya itu.
" Pijat telapak sampai betis saja, nggak usah naik ke atas-atas!" perintah Azkia sambil kembali memainkan ponselnya.
Raffasya melirik kembali ke arah wanita yang sejak kecil selalu bersikap melawannya itu. Dia sama sekali tidak pernah menyangka akhirnya akan terjebak dalam hubungan pernikahan dengan Azkia. Benar-benar di luar perkiraannya.
Hampir satu jam Raffasya memijat kaki Azkia. Dari Azkia berposisi duduk hingga kini berbaring karena rasa kantuk mulai melanda, apalagi dengan pijatan Raffasya pada kakinya membuat dia terlelap dengan ponsel masih di tangannya.
***
Azkia mengerjapkan matanya saat penciumannya menangkap aroma maskulin yang begitu menyeruak ke dalam hidungnya. Dan saat pandangannya kini nampak jelas, dia mendapati wajah Raffasya tepat berada di hadapannya dan kepalanya sedang berbantalkan lengan kokoh pria itu.
Azkia membelalakkan matanya seraya berteriak, " Aaakkkhh ...! Kak Raffa kenapa tidur di sini??"
Raffasya yang terbangun gara-gara teriakan Azkia langsung membekap mulut istrinya itu dengan telapak tangannya.
" Hmmpptt ..." Suara Azkia teredam telapak tangan Raffasya hingga membuat mata Azkia melotot.
" Sssttt, jangan berisik!" Raffasya meminta Azkia untuk tidak terus berteriak.
Azkia lalu bangkit dari tempat tidurnya setelah Raffasya melepaskan tangannya dari mulut Azkia.
" Aku 'kan sudah bilang Kak Raffa nggak boleh tidur di tempat tidurku, kenapa Kak Raffa malah tidur di sini??" Azkia berkacak pinggang.
" Memangnya kenapa? Gue sudah ambilkan su su, sudah pijat lu, masa masih dilarang tidur di sini juga! Lagipula lu juga tidur nyenyak banget meluk gue," sindir Raffasya tersenyum sinis.
" Eh, apa? Aku meluk Kak Raffa? Jangan mengarang, deh! Mana mungkin aku peluk-peluk Kak Raffa!" Azkia menyangkal apa yang dikatakan Raffasya.
" Kalau lu nggak percaya ya sudah!" Raffasya lalu bangkit dan beranjak ke arah kamar mandi kamar Azkia.
" Eh, eh ... Mau ngapain kesitu? Itu kamar mandi pribadi, nggak boleh orang lain masuk ke sana!" Azkia menarik baju Raffasya hingga langkah Raffasya tertahan.
" Lu pelit banget sih, jadi orang!" Raffasya yang melihat bajunya ditarik oleh Azkia seketika membuka kancing bajunya hingga kini terbuka.
" Ngapain buka baju segala?" Azkia terkesiap saat Raffasya melepas bajunya hingga kini pria itu berte lanjang dada. Dia sampai menelan salivanya karena dia melihat tubuh berotot Raffasya yang pernah menguasainya bahkan dia pernah mencium dada bidang milik Raffasya itu.
Namun sebuah lemparan baju Raffasya ke arah muka Azkia membuat kesadaran Azkia kembali.
" Nggak sopan banget!" Azkia kembali melempar baju Raffasya ke arah Raffasya namun suaminya itu sudah berlalu melangkah ke dalam kamar mandi.
" Kak Raffa!! Jangan pakai kamar mandi aku!" Azkia mengikuti Raffasya sampai pria itu sudah sampai di dalam kamar mandi.
" Lu kalau mau lihat gue mandi? Masuk saja nggak usah malu-malu. Kan lu sudah pernah lihat juga." Raffasya dengan santainya menurunkan celananya hingga tersisa boxer nya saja.
" Dasar pria me sum!!" umpat Azkia langsung menutup mata dan memutar tubuhnya. " Nggak sopan buka pakaian depan orang!" Azkia terus menggerutu membuat Raffasya tersenyum melihat tingkat Azkia.
Raffasya kemudian melepas semua pakaiannya hingga sekarang tak ada satu benang pun yang melekat di tubuhnya.
" Kenapa pakai tutup mata dan balik badan? Bukannya lu sudah lihat semua?" Raffasya sengaja menggoda Azkia lalu mengunci pintu kamar mandi.
" Lu mau ikut mandi bareng gue juga, nggak?" Raffasya lalu menyalakan shower.
" Dasar me sum!!" Azkia langsung bergegas ingin meninggalkan kamar mandi.
Duuugggg
" Aaaakkhh ..."
Azkia menabrak pintu kamar mandi yang sudah terkunci, membuat Raffasya tertawa puas melihat Azkia yang menabrak pintu karena istrinya itu berjalan tanpa membuka matanya.
Mendengar Raffasya menertawakannya, Azkia langsung menoleh ke arah Raffasya dan matanya langsung membulat saat melihat penampakan tubuh Raffasya yang terlihat polos saat ini.
" Kak Raffa gi laaaa!!" Azkia terburu-buru membuka pintu yang tiba-tiba saja terasa sulit dibukanya.
" Butuh bantuan?" Raffasya berjalan mendekati Azkia seraya menyeringai.
" Jangan bergerak!! Nggak usah dekat-dekat!!" Azkia melarang Raffasya yang ingin menolongnya. Tapi Raffasya tetap melangkah hingga kini dia sudah berada di belakang tubuh Azkia.
" Sini gue bantu ..." bisik Raffasya di telinga Azkia membuat Azkia seketika merinding, apalagi saat tubuh Azkia tersentuh tubuh Raffasya
" Aakkhh ... Kak Raffa jangan dekat-dekat!" Azkia semakin ketakutan.
" Memang kenapa kalau gue dekat-dekat? Jangankan hanya mendekat, menyentuh lu saja gue punya hak melakukannya, seperti begini." Raffasya justru memeluk tubuh Azkia dari belakang.
Darah Azkia seketika berdesir saat Raffasya memeluk tubuhnya.
" Lepaskan!! Aaaakkhh ... dasar pria me suuuuummm!!" pekik Azkia.
" Mulut lu dari tadi teriak-teriak terus, mesti disumpal pakai cium kayaknya." Raffasya kembali menyeringai, sepertinya dia bersemangat mengerjai Azkia yang nampak ketakutan.
" Coba saja berani macam-macam!" ancam Azkia.
Raffasya sepertinya tidak memperdulikan ancaman sang istri. Tangannya kini malah melucuti satu persatu kancing baju tidur yang dipakai oleh Azkia. Bahkan tangannya sudah berhasil menyentuh salah satu aset kembarnya membuat Azkia terbelalak.
" Kak Raffa!! Iiihhh ... ngapain pegang-pegang?!" Azkia berontak ingin melepaskan diri dari tubuh Raffasya yang memeluknya.
" Kalau lu bergerak terus nanti ada milik gue menegang, dan minta masuk. Lu tahu 'kan ke mana yang tegang itu minta masuk? Lu kepingin mengulang kejadian di Bandung lagi sekarang?" bisik Raffasya kini sengaja menyentuh bibirnya di cuping telinga Azkia.
Azkia memejamkan mata, menahan nafas dan menggigit bibirnya secara bersamaan. Dia tidak bisa membayangkan jika aktivitas mereka di bandung itu terjadi lagi saat ini.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️