MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Sama-Sama Ingin



Raffasya terbangun saat mendengar rengekan Naufal yang terbangun tengah malam. Dia dengan cepat memeriksa diapers Naufal karena biasanya anaknya itu terbangun karena merasa tak nyaman dengan diapersnya yang sudah penuh dengan cairan ompolnya.


" Naufal pup, ya? Sebentar Papa ambil dulu pampersnya sama celananya," Raffasya segera menyiapkan waslap dan air hangat juga tissue basah, baby talk dan juga diapers juga celana.


Raffasya membersihkan kotoran dengan anti bacterial wipes dan mengelap dengan waslap menggunakan air hangat dan mengeringkan kulit pan tat Naufal, lalu membubuhkan baby talk ke pan tat berkulit halus dan sela-sela paha Naufal. Setelah itu Raffasya memakaikan diapers dan celana untuk anaknya.


" Naufal di sini dulu, jangan berisik. Mama lagi bobo, Mama lagi marah sama Papa, jadi Naufal jangan bikin Mama bangun." Raffasya melirik Azkia yang masih terlelap. Sejak sore tadi, Azkia memang tak menanggapi permintaan maaf darinya. Raffasya menyadari jika dia sudah keterlaluan menyalahkan Azkia kerena masa nifas istrinya itu belum berakhir hingga membuat dia gagal melampiaskan has rat nya yang sudah tertunda cukup lama.


Raffasya lalu meninggalkan Naufal untuk menaruh wadah bekas membersihkan kotoran Naufal dengan air hangat dan waslap serta membuang diapers Naufal di tempat sampah yang tersedia di kamar mandi. Setelah itu dia segera membersihkan tangannya terlebih dahulu sebelum menghangatkan ASI untuk dia berikan kepada Naufal.


Setelah menghangatkan ASI dan menaruh ke botol yang bersih. Raffasya mengambil tubuh Naufal dan menggendong dengan lengan berototnya. Dia memberikan botol berisi ASI untuk Naufal, karena dia tahu anaknya itu tidak akan tertidur lagi jika tidak digendong dan diberikan ASI.


Selama empat puluh hari sejak kelahiran Naufal, Raffasya perlahan-lahan mulai menempatkan diri sebagai suami dan ayah siaga untuk Azkia dan Naufal. Tidak jarang dia terbangun tengah malam seperti saat ini, untuk mengganti diapers atau memberikan ASI untuk Naufal karena dia enggan membangunkan Azkia yang terlelap tidur.


" Kok Naufal nggak bobo juga, Nak?" Raffasya menatap botol ASI yang telah kosong namun anaknya itu tak juga tertidur.


" Tidur dong, Nak. Ini sudah malam ... Papa juga mengantuk mau bobo." Raffasya lalu menaruh kembali tubuh Naufal di atas tempat tidur. Dia pun menepuk-nepuk paha Naufal dan mengusap kening putranya. Namun ternyata Naufal tidak juga menuruti apa yang Raffasya minta. Bayi kecil itu terus saja menggeliat tak tenang sambil merengek.


Setengah jam berlalu, usaha Raffasya untuk membuat Naufal kembali tertidur tidak juga berhasil. Dia menatap Azkia yang masih tertidur. Sebenarnya dia tidak ingin mengganggu istrinya itu. Namun karena melihat Naufal yang tidak juga terlelap akhirnya dia membangunkan istrinya itu.


" May ..." Raffasya menepuk lembut lengan Azkia membuat istrinya itu terjaga.


" Sorry, May. Aku bangunin kamu. Naufal dari tadi nggak mau tidur lagi. Tadi dia pup, sudah aku ganti pampersnya. Sudah aku kasih su su juga tapi nggak mau tidur-tidur juga." Raffasya menceritakan apa yang terjadi.


Azkia merapatkan tubuhnya ke arah Naufal, dia segera mengeluarkan satu assetnya dan mengarahkan ke arah mulut Naufal hingga anaknya itu dengan cepat menghisap ASI dari tempatnya.


" Bobo, Nak." Sambil menyu sui, Azkia mengusap kening anaknya agar cepat tertidur.


" May, kamu nggak mau maafkan aku?" Raffasya masih membujuk Azkia agar tidak terus mengambek.


" Ssssttt ...! Jangan berisik!" Azkia memprotes Raffasya yang justru mengganggu Naufal yang hampir saja memejamkan matanya.


Raffasya memperhatikan anaknya yang sedang mengerjapkan matanya.


" Maaf ya, Nak." Raffasya mencium pipi Naufal.


" Kak, nanti Naufal nggak tidur-tidur kalau digangguin terus kayak gini!" Azkia kembali memprotes.


" Iya, maaf ..." Raffasya pun akhirnya menutup mulutnya sambil menatap mulut anaknya yang terlihat asyik menyesap ASI dari pu ting Azkia, membuat dia harus berkali-kali menelan salivanya.


***


" Mbak, HP nya bunyi itu ..." Uni menunjuk ponsel Azkia yang berdering saat Azkia sedang asyik bengajak bercanda Naufal di atas baby bouncer nya.


" Tolong ambilkan, Mbak." Naufal meminta tolong Uni untuk mengambilkan ponselnya.


Uni segera mengambil ponsel milik Azkia dan memberikannya kepada Azkia. Azkia mendapatkan nama Rosa di layar ponselnya itu.


" Halo, Assalamualaikum, Tante Oca." Azkia menyapa adik Raffasya dari Mama yang berbeda, saat panggilan video callnya dia angkat.


" Waalaikumsalam, Kak Kia. Mana Dedek Naufal?" tanya Rosa. Rosa menghubungi Azkia saat melihat story' di sosial media Azkia yang memposting gambar Naufal yang sedang bergerak lincah di atas bouncernya.


Azkia mengarahkan layar ponsel ke arah Naufal. Dia sendiri mulai akrab dengan anak dari Fariz bersama Wina saat Rosa ikut datang ketika Nenek Mutia meninggal.


" Hai, keponakan Tante Oca ... lucu banget sih kamu, Dek." Rosa terlihat senang melihat Naufal yang terlihat menggemaskan.


" Makanya Tante Oca main ke sini, dong! Biar bisa ketemu sama Naufal." Azkia menyahuti adik iparnya itu.


" Aku mau main ke sana tapi masih sibuk kuliah, Kak." ujar Rosa beralasan.


" Kamu pindah kuliah saja di sini, Ca. Nanti kamu bisa kuliah di kampus tempat Papaku mengajar. terus kamu bisa tinggal di sini biar aku ada teman." Azkia mencoba membujuk Rosa agar mau kuliah di Jakarta. Seandainya Rosa mau pindah ke Jakarta, itu akan membuka peluang untuk mendekatkan kembali kedua mertuanya itu.


" Aku sih sebenarnya kepingin juga kuliah di sana, Kak. Tapi masih bingung, soalnya aku 'kan belum biasa tinggal di Jakarta," sahut Rosa memberikan alasannya.


" Nggak usah bingung dong, Ca. Kalau kamu mau kuliah di kampus Papaku mengajar, adikku yang cowok juga kuliah di kampus itu. Pasti dia akan bantu kamu. Jadi kamu tenang saja, kamu pasti akan tenang kuliah di sini." Azkia mencoba meyakinkan Rosa agar mau pindah ke Jakarta.


" Nanti aku pikir-pikir lagi deh, Kak. Aku juga nggak tega kalau meninggalkan Papa sendirian di sini kalau aku pindah kuliah di sana." Sudah


dipastikan jika Rosa pindah ke Jakarta dia akan meninggalkan Papanya sendirian.


" Kamu bujuk supaya Papa mau tinggal di sini juga dong, Ca. Kemarin waktu Papa ke Jakarta, aku sudah bujuk Papa untuk tinggal di Jakarta agar dekat dengan Naufal, tapi Papa menolak karena alasan kamu sendirian di sana. Kalau kamu jadi pindah ke sini, siapa tahu Papa juga mau ikut tinggal di sini jadi kita bisa kumpul bersama." Tak pantang menyerah Azkia membujuk Rosa.


" Nanti aku coba obrolkan dulu sama Papa ya, Kak." Rosa merasa perlu berdiskusi terlebih dahulu dengan Papanya.


" Ya sudah, kamu bicarakan lebih dahulu sama Papa, siapa tahu Papa pun setuju kamu pindah ke sini."


" Iya, Kak. Naufal sudah bisa apa saja, Kak?" Rosa mengganti arah pembicaraan kembali berpusat kepada Naufal.


" Naufal sudah bisa apa katanya, Nak? Bisa nangis sama pintar teriak-teriak,. Tante." sahut Azkia.


" Gemas banget lihat Naufal, Kak. Nanti kalau sudah besar pasti ganteng banget nih, Naufal. Kayak Papanya sama Opanya."


" Hmmm, Ca. Papa masih kelihatan tampan ya biarpun nggak muda lagi." Azkia kembali mengarahkan pembicaraan membahas soal Fariz.


" Iya, Kak. Teman-teman aku saja banyak yang naksir sama Papa, ampun, deh! Masa mereka bilang mau punya sugar Daddy seperti Papa!" keluh Rosa menceritakan kelakuan beberapa teman kampusnya.


" Waduh, bahaya tuh, Ca! Kalau sampai Papa jatuh ke cewek-cewek nggak bener model gitu!" sergah Azkia cepat.


" Iya, Kak! Aku juga nggak mereka dekat-dekat Papa. Kadang ada teman yang sengaja kepingin nginep di rumah cuma ingin dekat dan mengobrol sama Papa."


" Aku nggak rela Papa didekati cewek gatelan kayak gitu, Ca!"


" Aku juga nggak mau, Kak! Amit-amit, deh!"


" Ca, maaf kalau aku tanya seperti ini. Menurut kamu apa mungkin Papa akan menikah lagi nantinya? Apalagi kamu bilang banyak cewek muda yang naksir sama Papa. Nggak mungkin 'kan Papa hidup sendirian terus? Saat kamu menikah dan berumah tangga nanti, Papa pasti butuh pendamping yang akan menemani dan mengurus Papa." Azkia kembali melancarkan usahanya untuk membujuk Rosa agar sependapat dengannya.


Rosa terdiam beberapa saat seraya menarik nafasnya.


" Iya, Kak. Aku juga menyadari hal itu. Tapi aku takut, Kak. Aku takut Papa mendapatkan wanita yang nggak baik untuk Papa." Rosa menyampaikan kecemasannya.


" Kamu jangan khawatir, Ca. Aku juga nggak akan tinggal diam kalau ada perempuan jahat yang berani dekati Papa!" tegas Azkia.


" Makasih atas kepedulian Kak Kia terhadap Papaku."


" Iya, Kak. Aku senang bisa kenal dengan Kak Kia, semoga kita bisa semakin akrab ke depannya ya, Kak."


" Aamiin, Ca. Soal kuliah di Jakarta, coba dipertimbangkan lagi ya, Ca!"


" Iya, Kak."


Setelah berbincang beberapa saat, Azkia dan Rosa pun menyudahi perbincangannya via video call itu.


" Mbak Kia ini bisa saja cari-cari celah untuk mendekatkan Ibu sama Bapak." Bi Neng yang sejak tadi mendengarkan obrolan antara Azkia dan Rosa langsung berkomentar.


" Hahaha, namanya juga usaha, Bi Neng. Maju terus pantang mundur, dong!" Azkia menyemangati dirinya sendiri untuk terus berusaha menyatukan mertuanya kembali.


" Mas Raffa sungguh beruntung mempunyai istri seperti Mbak Kia ini, sangat perduli dengan Mas Raffa dan keluarganya." Bi Neng memuji sikap Azkia yang begitu perduli akan kebahagiaan Raffasya.


" Bi Neng bisa saja ... itu 'kan kewajiban aku sebagai seorang istri, Bi. Saat aku menerima Kak Raffa sebagai suamiku, aku juga harus bisa menerima dan menyayangi keluarganya Mas Raffa, termasuk Papa, Mama dan adik Kak Raffa."


" Bi Neng doakan semoga semua niat Mbak Kia bisa terwujud." Bi Neng mendoakan agar apa yang direncanakan oleh Azkia akan berhasil.


" Aamiin, Bi. Ya sudah, aku mau mandiin Naufal dulu ya, Bi." Azkia menggendong Naufal dan membawa anaknya itu ke kamarnya untuk dimandikan karena hari sudah menjelang sore.


***


Azkia melengkungan senyuman di bibirnya karena saat dia mandi tadi, dia tidak mendapati noda di pembalutnya seharian ini, bahkan sejak kemarin sore. Tentu saja dia berpikir kalau masa nifasnya sudah berakhir.


" Kak Raffa pasti senang banget kalau aku sudah selesai nifas." Azkia tersenyum senang. " Hmmm, tapi aku nggak mau kasih tahu dulu, ah. Aku 'kan masih kesal sama Kak Raffa." Azkia berniat mengerjai suaminya itu dengan tidak memberitahukan Raffasya tentang hal tersebut.


Azkia menaruh Naufal yang tertidur setelah dia berikan ASI. Dia lalu merapihkan baby box milik Naufal yang jarang sekali dipakai oleh Naufal. Dia rencananya akan menaruh Naufal di baby box jika dia nanti melakukan hubungan in tim dengan Raffasya setelah libur cukup lama. Tentu saja dia tidak ingin tidur Naufal akan terganggu jika dia dan Raffasya melakukan hubungan suami istri. Setelah menahan has rat tentu saja Azkia pun sama-sama ingin melakukan hubungan in tim kembali karena dia pun sudah sangat merindukan sentuhan dari suaminya itu.


" Assalamualaikum ...."


Azkia melihat ke arah pintu kamar saat mendengar suara Raffasya yang masuk ke dalam kamar.


" Waalaikumsalam ..." Azkia lalu mendekati Raffasya dan mencium tangan Raffasya tanpa berucap lainnya dan sengaja menekuk wajahnya agar masih terlihat marah di depan suami ya itu.


" Ya ampun, Dek. Mama masih marah saja sama Papa." Raffasya langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Naufal berbaring seraya menciumi pipi mirip kue bakpao Naufal.


" Jangan ganggu Naufal lagi tidur dong, Kak! Terus mandi dulu sebelum cium-cium anak!" protes Azkia karena setelah seharian di luar rumah, Raffasya langsung menyentuh putranya tanpa mandi terlebih dahulu.


Raffasya langsung bangkit melihat protes Azkia dibarengi dengan sorot mata tajam istrinya itu.


" Kalau cium Naufal harus mandi dulu, kalau cium Mamanya Naufal nggak harus mandi dulu juga nggak apa-apa, kan?" Raffasya lalu menarik tubuh Azkia dan memberi kecupan di pipi istrinya itu.


" Kak, iiihh ... sana mandi!" Azkia mendorong tubuh Raffasya agar segera membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


" Biasanya juga aku nggak mandi dulu kamu suka mencium aroma tubuhku, May." Raffasya meloloskan pakaian bagian atasnya hingga kini bertelan jang dada hingga memperlihatkan tubuh berotot liat pria itu.


" Kamu demen 'kan cium keringatku?" Raffasya melingkarkan lengannya di pundak Azkia dan menarik tubuh istrinya hingga kini wajah Azkia menempel ke kulit dada Raffasya yang berotot.


" Kak Raffa, lepaskan ...!!" Azkia berontak meminta suaminya itu melepaskannya.


" Minta ampun dulu baru aku lepaskan!" Raffasya memberikan syarat kepada Azkia jika ingin dilepaskan.


Azkia membelalakkan matanya mendengar syarat yang diajukan oleh Raffasya.


" Minta ampun? Memangnya aku salah apa harus minta ampun sama Kak Raffa?" Azkia yang tidak merasa telah melakukan kesalahan tidak terima disuruh minta maaf kepada suaminya.


" Kamu nggak sadar kesalahan kamu ke suamimu apa?" Raffasya menarik hidung Azkia membuat Azkia memberengut.


" Sakit, Kak!" keluh Azkia.


" Aku tarik pelan saja pakai mengeluh sakit ..." Raffasya lalu menggigit hidung Azkia.


" Aaawww ...."


" Nah, kalau yang ini baru aku percaya ini sakit." Raffasya malah senang mengerjai istrinya itu membuat Azkia kembali mengerucutkan bibirnya.


" Kamu tahu kesalahanmu apa? Kamu mendiamkan suamimu ini selama tiga hari. Ini dosa, tahu! Kamu mau jadi istri durhaka karena mendiamkan suami, hemm?"


" Aku mendiamkan Kak Raffa juga karena Kak Raffa salah, kok!" Azkia melakukan pembelaan.


" Tapi aku "kan sudah minta maaf, May."


" Nggak cukup hanya dengan kata maaf!"


" Lalu kamu inginnya apa? Aku bujuk pakai emas? Permata? Berlian? Nanti aku jual Raff Caffee dulu kalau kamu ingin minta itu."


Azkia semakin menekuk wajahnya mendengar Raffasya yang seolah mengejeknya. Dia berpikir jika suaminya beranggapan dirinya seperti wanita lain yang mudah luluh dengan segala perhiasan dan barang-barang mewah.


" Bercanda, May. Aku bercanda ..." Raffasya memeluk erat Azkia saat dilihat aura di wajah istrinya sudah diselimuti emosi.


" Sudah sana mandi!" Azkia kembali mendorong tubuh Raffasya agar melepaskan pelukannya.


" Kamu mandiin, dong! Kamu mandiin aku di bathtub, anggap saja kamu seperti mandiin Naufal, tapi versi Naufal dewasa, hahahaha ..." Raffasya tergelak hingga membuat Azkia terbelalak dan mencubit pinggang suaminya itu.


" Aku kangen begini lho, May. Aku kangen kamu cubit, kamu pukul. Itu lebih baik daripada kamu diamkan aku." Bagi Raffasya diamnya Azkia beberapa hari ini, tak mengajaknya bertegur sapa merupakan siksaan baginya.


" Sudah cepat mandi!!" seru Azkia dengan melotot.


" Naufal, lihat Mamamu, Nak. Nggak dijatah sama Papa sebulan lebih jadi tensinya tinggi terus ...!" Raffasya kembali tertawa dan melangkah memasuki kamar mandi.


" Awas saja, aku balas kerjain, tahu rasa!" umpat Azkia saat melihat Raffasya menghilang di pintu kamar mandi. Kemudian Azkia pun segera mengambilkan pakaian untuk dipakai oleh Raffasya,


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️