MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Bagaimana Kia Bisa Hamil Anak Raffa?



Gibran terus berusaha mencari informasi melalui Bi Jun perihal dengan siapa Azkia akan menikah? Tentu saja dia tidak rela melepas Azkia untuk laki-laki lain. Dia lebih memilih menerima Azkia dengan kehamilannya daripada harus merelakan Azkia kepada pria lain.


Gibran juga tidak mengerti kenapa Yoga memutuskan menikahkan Azkia tanpa memberitahukannya terlebih dahulu. Lalu siapa pria yang akan menikahi Azkia? Kenapa begitu cepat? Hanya berselang lima hari sejak dia mengetahui kondisi Azkia yang sedang hamil. Apakah pria yang menghamili Azkia telah ditemukan? Tidak, rasanya Gibran tidak bisa menerima jika Azkia menikah dengan pria lain.


" Lho, ada Kak Gibran?" Abhi yang berencana latihan basket bersama anak-anak komplek terkejut saat melihat Gibran terlihat jalan mondar-mandir dengan gelisah di teras rumahnya.


Gibran yang mendengar suara Abhi langsung menolehkan wajahnya ke arah Abhi.


" Abhi, tolong kasih tahu Kakak, siapa pria yang akan menikah dengan Kia? Apa pria itu yang menghamili Kia? Tolong kasih tahu Kakak siapa pria itu?" Gibran segera menghadang Abhi dengan melontarkan beberapa pertanyaan.


" Hmmm ..." Abhi kelabakan dengan pertanyaan yang diajukan Gibran kepadanya. Dia yakin Gibran pasti kecewa dan dia tidak ingin salah bicara yang justru akan membuat masalah semakin runyam. Apalagi pria yang menghamili kakaknya itu adalah teman sekolah Gibran juga.


" Bhi, jangan tutup-tutupi dari Kakak. Kamu pasti tahu siapa pria itu!" Tangan Gibran kini sudah menekan kedua pundak Abhi.


" Kak, sebaiknya Kak Gibran bicara sama Papa saja nanti. Biar Papa yang menjelaskan ke Gibran tentang rencana pernikahan Kak Kia." Abhi mencari aman, dia tidak ingin salah bicara soal rencana pernikahan kakak perempuannya kepada Gibran.


" Sebenarnya apa yang ditutupi dari Kakak, Abhi?" Gibran merasakan jika ada yang ditutupi oleh Abhi dan keluarga Yoga. Jika saat kehamilan Azkia baru diketahui oleh keluarga Yoga, dirinya langsung diberitahu, namun kenapa kini justru seperti ditutupi darinya.


" Sebaiknya Kak Gibran menunggu Papa saja. Tadi Papa baru kirim kabar katanya sudah di Jakarta. Mungkin sebentar lagi juga sampai. Sorry ya, Kak. Abhi sudah ditunggu teman-teman." Abhi langsung berpamitan kepada Gibran lalu meninggalkan Gibran sendiri daripada harus terus dicecar pertanyaan oleh Gibran.


***


" Kia, buka pintunya, Nak. Ijinkan Mama masuk. Kamu belum makan dari tadi."


Azkia masih bertahan di kamarnya hingga menjelang sore, hingga membuat Natasha kebingungan sendiri. Dia berkali-kali membujuk putrinya itu untuk keluar dari kamar namun belum juga berhasil.


" Kia, Kia jangan bikin Mama pusing begini dong, Nak!" Sepertinya rasa marah dan kesal Natasha pun percuma dia lampiaskan menghadapi putrinya ini.


" Ma, gimana ini, Ma? Kia masih nggak mau buka pintunya?" Natasha mengadu kepada Mama Nabilla saat melihat Mama Nabilla mendekat ke arahnya.


" Biar nanti Mama yang bujuk Kia. Kamu makan saja dulu, Ta. Kamu sendiri dari tadi belum makan, kan? Nanti kamu malah jadi sakit." Mama Nabila mengusap lengan putri pertamanya.


" Gimana Tata mau bisa makan, Ma? Sementara Tata masih belum tenang menghadapi sikap Kia yang keras kepala ini," keluh Natasha kembali seraya memijat pelipisnya.


" Ma, apa dulu Tata sering membantah Papa sama Mama? Perasaan Tata nggak begitu-begitu amat deh, Ma." Natasha berkaca pada dirinya sendiri, namun dia merasa jika dia tidak pernah membuat orang tuanya sampai sepusing ini seperti apa yang terjadi dengannya pada Azkia.


" Kamu harus sabar menghadapi Kia, Ta." Mama Nabilla mencoba menasehati putrinya untuk selalu bersabar.


" Dari semua anak-anakku dan Mas Yoga, hanya Kia yang keras kepala seperti ini, Ma."


" Saat kamu hamil Kia, kamu ingat bagaimana bandelnya kamu dulu?" Mama Nabilla mengingatkan kembali bagaimana saat Azkia masih berada di dalam perut Natasha.


" Memangnya apa yang Tata lakukan mempengaruhi sifat Kia sekarang ini, Ma?" Natasha mencebik mendengar sindiran dari Mamanya.


Mama Nabilla tertawa kecil. " Ya mungkin secara kebetulan saja. Ya sudah, kamu makan dulu, nanti Mama akan coba bicara dengan Azkia," lanjut Mama Nabilla.


" Iya, Ma."


Sementara Natasha segera berjalan menuju arah dapur, Mama Nabilla menggantikan posisi Natasha yang mengetuk pintu untuk membujuk cucunya.


" Kia, Sayang ... Nenek boleh masuk, Nak? Kia belum makan dari siang. Kalau Kia sakit, Nenek akan ikut sakit, karena Nenek pasti sangat mengkhawatirkan Kia. Apa Kia tidak kasihan sama Nenek, Nak?" Mama Nabilla mengetuk pintu kamar Azkia.


" Kia, Sayang ... Kia anak sholehah, yang nurut sama Nenek, Sayang ..." Kembali Mama Nabilla membujuk Azkia dengan kata-kata yang halus.


Di ketukan pintu yang ketiga kalinya akhirnya Azkia membuka pintu kamarnya.


" Kia ...."


" Mama sudah pulang, Nek?" Azkia menengok ke kanan dan kiri mencari keberadaan Mamanya.


" Mamamu sedang makan. Kasihan Mamamu, dia tidak naf su makan karena memikirkanmu, Nak." Mama Nabilla menepuk pundak Azkia.


Azkia mendengus mengetahui Mamanya masih berada di rumah Neneknya.


" Apa Nenek boleh masuk ke dalam?" tanya Mama Nabilla meminta ijin masuk ke dalam kamar cucunya.


Azkia kemudian membuka lebar daun pintu kamarnya.


" Kia makan dulu, Nak. Dari siang kamu belum makan. Kasihan janin yang ada di perutmu." Mama Nabilla membujuk Azkia untuk mengisi perutnya seraya mengusap perut rata cucunya itu.


" Kia nggak lapar, Nek." Azkia menolak.


" Tapi kamu harus tetap makan walaupun nggak lapar, karena di dalam perutmu saat ini ada janin yang harus diberikan asupan makanan agar tumbuh menjadi bayi yang sehat." Mama Nabilla menasehati Azkia kembali.


" Ck, menyebalkan sekali! Kenapa Kia harus hamil sih, Nek?" gerutu Azkia medudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur.


" Kia tidak boleh mengeluh, Nak. Semua sudah jalannya seperti itu, harus ikhlas menerimanya." Kini Mama Nabilla mengusap kepala Azkia.


" Nek, bantu Kia ... Kia nggak mau menikah dengan Kak Raffa." Azkia memeluk tubuh Neneknya yang berdiri di sampingnya.


" Kenapa Kia nggak mau menikah dengan anak itu?"


" Dia itu cowok berandalan, Nek."


" Nenek sering mendengar dari Mama dan Tante kamu kalau kalian sering berdebat. Tapi kalau Nenek lihat kemarin dia datang kemari, dia sangat sopan. Dan keputusannya untuk memberikan pengakuan kalau dialah yang bertanggung jawab atas kehamilanmu, itu menunjukkan jika dia itu laki-laki baik." Mama Nabilla mencoba membuka jalan pikiran Azkia yang terlalu berpikiran buruk kepada Raffasya.


" Itu semua palsu, Nek. Nenek belum tahu dia itu aslinya seperti apa." Azkia tetap beranggapan jika Raffasya bukanlah pria yang baik.


" Nenek dengar dari Mama kamu, Raffa beberapa kali menolong Kia. Berarti dia itu tidak seburuk apa yang kamu pikirkan, Nak."


" Tapi Kia nggak cinta sama Kak Raffa, bagaimana mungkin Kia menikah dengan Kak Raffa, Nek?" keluh Azkia putus asa.


" Sekarang ini yang harus dipikirkan itu janin yang ada di dalam perutmu. Kasihan anakmu nanti kalau Kia bersikeras hati seperti ini. Bayi di dalam perut kamu juga butuh sosok Papanya." Mama Nabilla terus memberi pengertian kepada Azkia agar bisa menerima Raffasya yang memang berniat bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.


***


Braaakkk


Raffasya tersentak kaget saat mendengar pintu ruang kerjanya didobrak dari luar dengan sangat kasar.


" Breng sek kau, Raffa!" Gibran yang muncul dari pintu ruang kerja Raffasya terlihat emosi langsung menghampiri Raffasya dengan langkah lebar kemudian mencengkram baju Raffasya hingga tubuh Raffasya terangkat dan menghantamkan tinjunya ke wajah tampan Raffasya.


Buugghh


Tinju yang dilancarkan oleh Gibran membuat Raffasya kembali terduduk di kursinya.


" Mas, tolong jangan buat keributan di sini!" Adam yang tadi gagal melarang langkah Gibran yang akan masuk ke dalam ruang kerja Raffasya mencoba menghalangi Gibran yang kembali akan menyerang Raffasya. Namun Gibran menepis tangan Adam yang mencoba melarangnya menyerang Raffasya, hingga kini dia berhasil menarik tubuh Raffasya dan kembali menghadiahi wajah Raffasya sebuah pukulan.


" Kau sengaja memanfaatkan kelemahan Kia! Kenapa kamu berani melakukan hal itu kepada Kia, Raffa?" Tinju ketiga berhasil dilancarkan Gibran menutup kalimatnya. Gibran yang akhirnya mendapatkan jawaban setelah menunggu Yoga tak kuasa menahan rasa kecewa dan amarahnya hingga akhirnya dia memilih mendatangi Raffasya di cafenya.


" Mas, sebaiknya Mas pergi dari sini!" Adam kembali menyuruh Gibran untuk pergi apalagi saat itu security sudah muncul di ruangan Raffasya.


Security dan Adam kini mencengkram bahu Gibran dan menarik tubuh pria itu untuk keluar ruang kerja Raffasya.


" Lepasin, Dam! Biarin dia!" Raffasya meminta Adam dan security cafe melepaskan Gibran karena dia memahami apa yang dirasakan Gibran saat ini.


" Lu sama Pak satpam tinggalkan kami berdua!" Raffasya meminta Adam dan security meninggalkannya bersama Gibran.


" Tapi, Mas ...."


" Gue nggak apa-apa, lu tenang saja." Raffasya merasa jika dia akan baik-baik saja menghadapi amarah Gibran. Dan akhirnya Adam dan security meninggalkan ruang kerja Raffasya.


" Duduk dulu!' Raffasya meminta Gibran untuk duduk dan berbincang dengan baik-baik.


" Semua ini adalah rencanamu, kan? Kau sengaja menyuruh orang untuk menjebak Kia dan kau memanfaatkan Kia!" Gibran menuding jika apa yang terjadi pada Kia adalah karena rencana Raffasya.


" Gue nggak sepicik itu!" sangkal Raffasya seraya memegang rahangnya yang terasa ngilu karena belakangan ini banyak menerima tinju secara gratis dari orang-orang yang kecewa kepada tindakannya.


" Lalu bagaimana kamu ada di tempat kejadian saat itu?" Gibran masih tidak percaya jika Raffasya tidak terlibat dalam penjebakan Azkia.


" Gue secara kebetulan lewat daerah sana," aku Raffasya jujur.


" Aku nggak percaya ucapanmu Raffa!" Gibran menunjukkan jari telunjuknya ke arah wajah Raffasya. " Dan aku nggak akan melepaskan Kia begitu saja untukmu, Raffa! Kau harus ingat itu!" Gibran lalu pergi meninggalkan ruang kerja Raffasya dan menutup pintu secara kasar karena emosi di hati pria itu belum juga surut.


***


Bi Jun membukakan pintu saat bunyi bel di rumah milik Yoga berbunyi. Bi Jun mendapati seorang wanita paruh baya dengan menggunakan kaca mata hitam berdiri di depan pintu rumah majikannya.


" Permisi, apa Yoga atau Natasha ada?" tanya wanita itu kepada Bi Jun yang sedang mengingat-ingat siapa wanita di hadapannya tu.


" Maaf, Ibu ini siapa, ya?" tanya Bi Jun.


" Saya Lusiana, saya kakaknya Raditya, suami dari adiknya Natasha." Wanita yang ternyata adalah Lusiana memperkenalkan dirinya kepada Bi Jun.


" Oh, kakaknya Pak Radit, ya? Mari silahkan masuk, Bu. Pak Yoga belum datang tapi kalau Ibu ada di kamar, sebentar saya panggilkan dulu." Bi Jun mempersilahkan Lusiana untuk masuk ke dalam rumah Yoga.


" Terima kasih ..." Lusiana kemudian memasuki ruang tamu rumah orang tua Azkia itu, sementara matanya mengedar pandangan ke seluruh sudut ruang tamu.


Beberapa menit menunggu akhirnya Natasha muncul di ruang tamu rumahnya menemui Lusiana.


" Mbak Lusiana?" Natasha mencoba menyapa Lusiana yang sedang memperhatikan foto keluarga Yoga di dinding ruang tamu.


" Oh, hai Natasha ..." Lusiana menghampiri Natasha dan melakukan cipika-cipiki terhadap Natasha.


" Silahkan duduk, Mbak!" Natasha mempersilahkan Lusiana untuk duduk terlebih dahulu.


" Begini, Natasha. Saya sudah mendengar dari Radit soal kehamilan Azkia. Jadi ... kapan rencananya kita menikahkan anak kita? Aku sudah menghubungi pihak WO untuk mengurus resepsi pernikahan Raffa dan Kia. Saya ingin membicarakan kira-kira wedding party mereka itu memakai konsep apa ya enaknya?" Lusiana menceritakan maksud kedatangannya menemui Natasha dengan sangat antusias.


Sementara Natasha langsung membulatkan matanya mendengar perkataan Lusiana. Saat ini jangankan memikirkan tentang konsep acara wedding party, membujuk Azkia untuk kembali ke Jakarta dan menerima pernikahan dengan Raffasya saja sulit dilakukannya.


" Hmmm, maaf, Mbak Lusiana. Saya rasa kita jangan terlalu jauh memikirkan hal itu lebih dulu," ujar Natasha akhirnya menyahuti perkataan Lusiana.


" Lho, memangnya kenapa? Memangnya kamu nggak ingin mengadakan pesta pernikahan mereka. Saya rasa relasi bisnis saya dan kamu juga harus tahu tentang pernikahan anak kita. Apalagi suami kamu itu juga seorang dosen, pasti acara wedding party ini perlu diadakan, dong!" Lusiana merasa heran dengan respon Natasha yang terlihat kurang antusias.


" Bukannya kami tidak ingin mengadakan acara resepsi, Mbak. Tapi apa yang terjadi pada Kia dan Raffa ini 'kan tidak sewajarnya karena kehamilan Kia." Natasha kurang sepaham dengan pandangan Lusiana. " Lagipula sampai saat ini kami masih belum bisa membujuk Kia untuk mau menikah dengan Raffa, Mbak." Natasha menerangkan apa yang sebenarnya terjadi.


" Apa Raffa menolak bertanggung jawab?" Lusiana bertanya karena dia sendiri tidak sempat menemui Raffasya terlebih dahulu, karena rasa bahagia saat mengetahui Azkia akan menjadi menantunya seolah menutup logikanya.


" Kia yang menolak, Mbak."


" Bisa saya bicara dengan Azkia? Biar saya bantu membujuk dia agar mau menikah dengan Raffa."


" Kia nggak ada di sini, Mbak. Dia masih berada di Bandung di rumah Neneknya, karena awalnya Kia memang tidak ingin kami mengetahui jika Raffa lah ayah dari janin yang saat ini di kandungnya. Karena itu dia memilih menenangkan diri di sana." Natasha menjelaskan kepada Lusiana bagaimana Azkia saat ini.


" Begitu, ya?" Kening Lusiana berkerut. " Tapi, ngomong-ngomong bagaimana Kia bisa hamil anak Raffa, ya?"


Pertanyaan Lusiana kali ini membuat Natasha kembali membulatkan bola matanya. Bagaimana mungkin Lusiana tiba-tiba datang ke rumahnya dan dengan antusiasnya membicarakan tentang rencana resepsi pernikahan Azkia dan Raffasya yang mendadak, tanpa mencari tahu terlebih dahulu sebelumnya, bagaimana kehamilan Azkia bisa terjadi. Seketika itu juga Natasha langsung memijat pelipisnya Karena kedatangan Lusiana hanya membuat kepalanya semakin pusing.


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading❤️