
Satu bulan berlalu, kehamilan Azkia sudah memasuki usia tujuh bulan. Namun kehamilan yang semakin besar tak membuat wanita itu bermalas-malasan. Dia selalu saja aktif pergi ke sana dan kemari tanpa takut merasa kelelahan. Kadang main di cafe Raffasya, kadang berkunjung ke butik menemui Mamanya atau main ke rumah Mama mertuanya.
Rosa sendiri perlahan mulai beradaptasi dengan lingkungan kampusnya yang baru. Dia juga sudah mendapatkan beberapa mahasiswi yang menjadi temannya. Statusnya yang merupakan adik ipar Azkia, anak dosen di kampus ini membuat dirinya agak terlindungi.
Sedangkan Fariz terus berusaha menghubungi beberapa relasinya untuk mencari-cari lowongan pekerjaan yang bisa dia tempati di Jakarta.
" Ma, apa Mama nggak ingin mengajak Papa bekerja di kantor Mama?"
Lusiana yang sedang asyik bercanda dengan Naufal langsung menolehkan pandangannya saat mendengar pertanyaan menantunya tadi. Entah apa lagi yang direncanakan oleh Azkia. Yang pasti ada saja ide di otak menantunya itu yang membuat dirinya terkadang mati kutu dan salah tingkah.
" Kenapa Mama harus mengajak Papa mertuamu itu?" tanya Lusiana menyahuti.
" Siapa tahu Mama ingin pensiun jadi direktur dan memberikan posisi itu kepada Papa Fariz, jadi Mama bisa fokus menjadi ibu rumah tangga yang baik." Azkia terkikik meledek Lusiana. Hubungan antara menantu dan mertua itu memang benar-benar sangat harmonis termasuk saat berkomukasi dan bercanda. Bahkan Azkia tanpa segan sering berulang kali menggoda Mama mertuanya. Bukan bermaksud tidak sopan, dia hanya akan meledek Lusiana jika bersangkutan tentang Fariz, selebihnya Azkia selalu bersikap hormat terhadap Mama mertuanya itu.
" Azkia, kamu jangan meledek Mama seperti itu terus, dong!" protes Lusiana.
" Ma, memangnya apa sih, yang mengganjal di hati Mama sehingga susah sekali membuka hati untuk Papa kembali?" Azkia merasa penasaran karena Lusiana terkesan tidak menanggapi rencananya, berbeda dengan Fariz yang menurutnya sudah mulai melunak.
" Jika kamu berpisah dengan suamimu, lalu mantan suami kamu itu jatuh hati dan mencintai wanita lain apa kamu akan bisa melupakan begitu saja sikap mantan suamimu yang dengan mudahnya membagi cinta pada wanita lain, Kia?" Lusiana seakan mencurahkan apa yang dia rasakan terhadap Fariz.
" Iiihh, Mama ... masa mengharapkan Kia sama Papanya Naufal berpisah, sih?!" protes Azkia.
" Maksud Mama kalau kamu saat itu di posisi Mama, perasaan kamu bagaimana?" Lusiana merevisi perkataannya.
" Papa menikah itu setelah berpisah sama Mama, jadi nggak ada yang salah, kan?" Azkia berpendapat tidak ada yang salah dengan keputusan yang diambil oleh Fariz.
" Berarti cinta Papa mertuamu dulu ke Mama itu palsu! Secepat itu menikah lagi dengan wanita lain padahal belum genap dua tahun kami cerai," Lusiana mengungkapkan kekesalannya.
" Jadi Mama ingin Papa sama-sama menjomblo seperti Mama gitu? Nggak boleh menikah lagi? Lalu kalau Papa juga nggak menikah lagi, Mama mau apa? Mama ini aneh, deh!" Azkia merasa sikap Lusiana terlihat seperti anak kecil dan tidak dewasa.
" Ketika Mama dan Papa berpisah, Papa dan Mama berhak menentukan jalan hidup masing-masing termasuk membangun rumah tangga dengan orang lain. Kalau Mama nggak suka melihat Papa menikah dengan wanita lain kenapa Mama saat itu memutuskan untuk berpisah dengan Papa? Papa pernah bilang saat itu Mama terlalu sibuk mengejar karir Mama. Dan saat ini Mama memang sukses dengan karir Mama itu, tapi apa Mama benar-benar bahagia dengan apa yang sudah Mama capai sekarang ini?" Azkia mencoba membuka pikirkan Lusiana untuk merenungkan jika Lusiana telah salah mengambil keputusan saat berpisah dengan Fariz.
Lusiana terdiam, dia memang merasakan cemburu saat mendengar Fariz menikah kembali dari Nenek Mutia kala itu. Dan dia sendiri ternyata tidak bisa move on dari cintanya kepada mantan suaminya hingga dia sulit untuk memulai hubungan baru dengan pria lain.
***
Rosa melihat pesan yang masuk dari dalam ponselnya, ternyata Raffasya mengabari jika kakaknya itu tidak bisa menjemputnya siang ini. Rosa pun memutuskan untuk menggunakan Ojol untuk mengantarnya pulang ke rumah Lusiana. Namun sebelum pulang dia hendak membeli pembalut di mini market yang tak jauh dari kampusnya
Selepas membeli beberapa keperluan pembalut dan lainnya, Rosa pun akhirnya menghubungi driver Ojol langganan Azkia. Tapi ternyata driver Ojol langganan Azkia itu sedang menerima orderan lain sehingga Rosa terpaksa mencari driver Ojol lain.
Namun Rosa tidak menyadari ketika dia sedang mengetikkan orderannya di ponsel dua orang pengendara motor langsung mendekat ke arahnya yang sedang berdiri di tepi trotoar dan merebut ponsel di tangan Rosa membuat gadis itu tersentak kaget.
" Jambreeettt ...!" Rosa spontan berteriak dan berlari turun dari trotoar untuk mengejar pengendara motor itu. Rosa sampai tidak memikirkan keselamatannya saat sebuah mobil hampir saja menyerempetnya jika pengemudi mobil itu tidak menghentikan laju mobilnya.
Rosa sendiri langsung terduduk lemas saat dia hampir saja tertabrak sebuah mobil. Rasanya dia ingin menangis saat itu juga.
" Hati-hati, Neng! Kalau tadi ketabrak bisa celaka!" Seseorang meneriakinya.
" Makanya hati-hati kalau di jalanan jangan mainan HP, itu sama saja mengundang penjahat untuk datang." Seorang lainnya seolah menyalahkan dalam kemalangannya membuat Rosa semakin lemas.
" Permisi, permisi ... kamu nggak apa-apa, kan?" Seorang pria menghampiri Rosa yang berusaha bangkit dengan kaki gemetar.
" Maaf, tadi saya hampir menabrak kamu, kamu tadi berlari turun dari trotoar nggak melihat jalan." Pria yang hampir menabrak itu memperhatikan Rosa yang terlihat syok.
" HP saya tadi dijambret orang." Dengan ada bergetar Rosa menceritakan apa yang sedang dialaminya tadi.
" HP bisa diganti tapi keselamatan kamu itu lebih penting. Bagaimana kalau tadi saya nggak menghentikan mobil? Kamu bisa tertabrak tadi." Pria itu menasehati Rosa yang terlihat ketakutan ketakutan.
" Maaf ..." Rosa menundukkan kepalanya. Dia benar-benar merasa syok, saat dia merasa tertimpa kemalangan semua seakan menyalahkannya.
" Apa saja barang kamu yang diambil sama pejamret tadi?" tanya pria itu.
" Hanya HP, Kak. Saya tadi ingin memesan ojek online untuk pulang. Saya nggak tahu jalan dan nggak tahu naik angkutan umum apa karena saya baru di Jakarta ini." Rosa memang tidak pernah mengunakan bus atau angkutan umum selain ojek online jadi dia tidak tahu harus menggunakan transportasi apa untuk sampai ke rumah Lusiana. Dan Rosa sendiri sampai tidak bisa berpikir normal. Padahal dia bisa kembali ke kampus dan menemui Yoga untuk meminta bantuan Pak Diding mengantarnya pulang. Namun karena terlalu kaget dia sampai bisa terpikirkan ke arah sana.
" Kamu tinggal di daerah mana?" tanya pria itu.
" Tebet." sahut Rosa.
" Kalau begitu kamu ikut saya saja, kebetulan kita searah." Pria tersebut menawarkan tumpangan kepada Rosa karena Rosa memang terlihat kebingungan.
" Nggak usah, terima kasih, Kak." Rosa tentu tidak mau menerima tawaran orang yang tidak dikenalnya begitu saja.
" Kamu nggak usah khawatir, saya bukan orang jahat, kok." Pria itu tersenyum dan sudah menduga jika tawarannya tidak akan diterima begitu saja oleh Rosa.
" Kamu bilang kamu bingung harus naik transportasi apa karena HP kamu hilang. Daripada kamu kebingungan bagaimana harus sampai ke rumah, mending saya antar saja." Pria itu masih berusaha meyakinkan Rosa agar mau menerima tawarannya.
Setelah berpikir sebentar akhirnya Rosa pun menerima tawaran pria yang tadi hampir saja menabraknya. Dan segera masuk ke dalam mobil setelah pria itu membukakan pintu mobil untuknya.
" Oh ya, nama kamu siapa? Kalau saya Gibran, kamu kuliah di kampus itu, ya?" Pria yang ternyata adalah Gibran menoleh ke arah belakang menunjukkan gedung kampus yang berjarak sekitar seratus meter dari lokasi Rosa hampir tertabrak tadi.
" Saya Rosa, Kak. Iya saya kuliah di sana," sahut Rosa.
" Semester satu?" tanya Gibran mengingat Rosa tadi mengatakan jika gadis itu baru di Jakarta hingga dia menduga jika Rosa adalah mahasiswa baru yang baru memasuki bangku kuliah.
" Semester Lima, Kak."
Gibran mengeryitkan keningnya dan berkata, " Kamu bilang kamu baru tinggal di Jakarta."
" Iya, saya pindahan dari luar pulau," jawab Rosa menjelaskan.
" Oh, kamu asal dari mana?" tanya Gibran penasaran.
" Manado, Kak."
" Kamu tinggal di Jakarta ini kost atau ikut sama orang tua?"
" Saya tinggal di rumah Mamanya Kakak saya, Kak."
Kalimat jawaban dari Rosa terdengar aneh di telinga Gibran. " Mamanya Kakak kamu? Maksudnya?" Gibran masih kurang memahami.
" Saya dan Kakak saya beda Ibu." Rosa menerangkan hal yang membuat Gibran bingung.
" Lalu selama di sini kamu kuliah pakai ojek online, ya? Sampai nggak tahu transportasi apa yang bisa membawa kamu pulang?" tanya Gibran kembali.
" Biasanya Kakak saya yang selalu mengantar dan menjemput saya, tapi hari kakak saya berhalangan jadi tadi saya coba pesan Ojol." Rosa memberikan alasan kenapa dia selama ini tidak menggunakan transportasi umum lainnya.
" Oh gitu ..." Gibran pun menganggukkan kepalanya mengerti alasan yang diberikan oleh Rosa. " Lain kali hati-hati kalau di jalan! Kita harus waspada jangan sampai teledor jika nggak ingin tertimpa musibah. Nggak di Jakarta saja, di tempat lain juga sama. Jangan terlalu melakukan hal mencolok yang bisa menimbulkan kejahatan yang bisa merugikan diri kita sendiri." Gibran kemudian menasehati Rosa agar lebih hati-hati. Karena kejahatan itu bisa terjadi di mana saja jika ada kesempatan.
Setelah beberapa menit, mobil Gibran berhenti di jalan depan rumah Lusiana.
" Kamu tinggal di sini?" tanya Gibran.
" Iya, saya menumpang di sini, Kak." Rosa menegaskan jika rumah itu bukanlah milik keluarganya.
" Terima kasih sudah mengantar saya kemari." Rosa mengucapkan terima kasih atas pertolongan Gibran kepadanya kemudian turun dari mobil Gibran.
" Iya, sama-sama." Gibran menyahuti ucapan terima kasih Rosa. " Ya sudah, saya mau langsung ke kantor, ya!?" Gibran pun langsung berpamitan dan melajukan kendaraannya menuju arah kantornya.
***
Azkia berkali-kali menghubungi Rosa namun sambungan teleponnya tidak juga tersambung.
" Kok nomernya nggak aktif?" Azkia terheran saat beberapa kali menelepon Rosa, mesin operator menjawab jika nomer yang dia tuju sedang tidak aktif atau berada di luar area.
Azkia lalu menghubungi Bi Ati, ART di rumah Mama mertuanya untuk menanyakan apakah Rosa sudah pulang atau belum.
" Assalamualaikum, Mbak Kia. Ada apa, Mbak?" tanya Bi Ati saat panggilan telepon Azkia tersambung.
" Waalaikumsalam, Oca sudah pulang belum ya, Bi?" tanya Azkia menanyakan apakah adik iparnya itu sudah sampai rumah atau belum karena Raffasya mengabari tidak bisa menjemput Rosa pulang.
" Mbak Oca baru saja datang, Mbak Kia." jawab Bi Ati.
" Mana Oca nya, Bi? Aku dari tadi menghubungi Oca tapi nomer teleponnya nggak aktif terus, deh!"
" Mbak Oca bilang tadi di jalan dijambret orang, Mbak." Bi Ati yang sudah mendengar cerita dari Rosa segera menyampaikan kabar itu kepada Azkia.
" Astaghfirullahal adzim ...! Oca kena jambret?" Azkia tersentak kaget mendengar cerita Bi Ati tentang kemalangan yang menimpa Rosa.
" Lalu Oca nya gimana, Bi? Aku mau bicara sama Oca, Bi. Tolong kasih ponselnya ke Oca!" Azkia nampak senewen karena musibah yang menimpa adik iparnya itu.
" I-iya, Mbak. Sebentar ...."
Azkia menunggu beberapa saat karena Bi Ati sepertinya sedang berjalan ke arah kamar Rosa.
" Mbak Oca, ini Mbak Kia telepon." Suara Bi Ati terdengar samar.
" Kak Kia?" Kini giliran suara Rosa yang samar di telinga Risa.
" Iya, Mbak Kia mau bicara sama Mbak Rosa."
Azkia masih mendengarkan percakapan antara Rosa dan Bi Ati di ponselnya.
" Halo, Assalamualaikum, Kak." Suara Rosa mulai terdengar jelas di telinga Azkia.
" Waalaikumsalam, Oca kamu nggak apa-apa? Bi Ati bilang kamu kena jambret?" Azkia kemudian langsung merubah panggilan suara menjadi panggilan video karena dia ingin tahu kondisi adik iparnya sekarang ini.
" Iya, Kak. Tadi waktu mau pesan Ojol tiba-tiba HP aku dijambret orang." Rosa menjelaskan.
" Ya ampun, terus kamu gimana? Apa saja yang kejambret?" tanya Azkia lagi.
" Hanya HP saja, Kak." jawab Rosa.
" Apa pejambret nya mencelakai kamu, Ca?" tanya Azkia khawatir.
" Alhamdulillah aku nggak terluka apa-apa, Kak." Rosa yang tidak ingin kakak iparnya itu khawatir tidak menceritakan jika dia sendiri hampir terserempet mobil saat ingin mengejar pelaku kejahatan yang menimpanya tadi.
" Syukurlah kalau kamunya nggak terluka. Masalah HP nanti aku bilang ke Papanya Naufal supaya belikan yang baru." Azkia berniat membelikan ponsel baru untuk Rosa.
" Nggak usah, Kak. Nanti aku mau bilang ke Papa saja." Rosa menolak tawaran Azkia karena dia tidak ingin merepotkan Kakak dan Kakak iparnya terus menerus.
" Nggak apa-apa, Ca. Kamu jangan suka canggung sama aku dan suamiku." Azkia tetap memaksa ingin membelikan HP baru untuk Rosa. " Oh ya, terus kamu tadi naik apa pulang ke rumah Mama?"
" Aku tadi diantar orang yang lihat kejadian aku dijambret, Kak. Orang itu mengantar Oca pulang sampai rumah." Rosa menjelaskan.
" Yang antar kamu cewek atau cowok?" tanya Azkia penasaran.
" Cowok, Kak." sahut Rosa
" Kamu harus hati-hati kalau terima tawaran bantuan dari orang nggak dikenal, Ca." Azkia menasehati Rosa agar selalu waspada terhadap orang yang tidak dikenal.
" Tapi orang itu baik kok, Kak. Dia mengantar Oca sampai rumah tadi." Rosa menepis dengan mengatakan sejujurnya jika orang yang menolongnya itu adalah orang baik.
" Ya syukur kalau orang itu baik, tapi lain kali kamu harus lebih hati-hati, Ca." Azkia menasehati adik iparnya itu untuk lebih hati-hati dan tidak bersikap teledor.
*
*
*
Bersambung ...
Yang belum mampir silahkan masukan ke daftar favorit ya, Makasih🙏