MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Menginap Di Rumah Mama Lusi



Azkia memberengut mendengar perkataan Abhinaya yang menyebutnya terlalu lebay. Padahal dia berusaha melindungi Rosa yang dia anggap masih sangat polos.


" Kia, Oca, kalian sudah selesai?" Suara Yoga yang terdengar di telinga mereka membuat mereka yang ada di meja itu menolehkan pandangannya ke arah dosen senior di kampus itu yang muncul dari pintu masuk kantin Bu Dzul.


" Papa ..." Azkia langsung menyalami Yoga saat Papanya itu menghampirinya.


" Sudah selesai, Om." Kali ini Rosa menjawab pertanyaan Yoga ikut mencium tangan Yoga.


" Apiiiih ..." Naufal yang duduk dipangkuan Abhinaya mengulurkan kedua tangannya seakan minta untuk digendong oleh Papinya.


" Naufal mau ikut Papi?" Yoga pun akhirnya mengambil Naufal dari tangan Abhinaya.


" Salim dulu sama Papi ..." Yoga menyodorkan tangan kanannya yang langsung disambut kedua tangan Naufal lalu menempelkan punggung tangan Yoga ke bibirnya berkali-kali.


" Anak pintar cucu Papi ..." Yoga memberikan kecupan ke kening Naufal.


" Papa mau makan?" tanya Azkia kepada Papanya.


" Nggak, Papa belum lapar," jawab Yoga. " Kamu kapan mulai kuliah, Ca?" tanya Yoga kemudian.


" Besok, Om." sahut Rosa.


" Semoga kamu betah dan bisa mengikuti kuliah di sini." lanjut Yoga.


" Iya, Om." jawab Rosa kembali.


" Setelah ini kalian mau pulang?" tanya Yoga.


" Kami mau ke butik dulu, Pa. Mau cari-cari baju untuk Rosa." Azkia memberitahukan rencana selanjutnya setelah pulang dari kampus kepada Papanya it..


" Oh, Naufal mau ke tempat Mami, ya?" Yoga mengajak bicara Naufal yang berada dalam gendongannya.


" Amiiih ya amiiih ... Apiiihh ..." Bayi itu menjawab seakan tahu apa yang ditanya oleh Yoga.


Yoga terkekeh dan tak tahan untuk mencium dengan gemas pipi cucunya itu. " Cucu Papi makin pintar ..." ucapnya kemudian menarik kursi dan menduduk tubuhnya di atas kursi tersebut.


" Ini mie ayamnya, Mas Abhi. Sama es jeruk seperti biasa ..." Bu Dzul menaruh pesanan Abhinaya di atas meja ditambah es jeruk gemeran Abhinaya.


" Makasih, Bu." Abhinaya langsung mengambil mangkuk berisi mie ayam yang dihidangkan oleh Bu Dzul. " Makan, Pa. Ca, Mbak Atun ..." Abhinaya menawari Papanya, Rosa dan Atun sebelum menyantap mie ayam setelah membaca doa.


" Kamu nanti akan tinggal di rumah Raffa, Ca? Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di rumah Om. Di rumah Om ada kamar kosong, nanti kalau ke kampus kamu bisa berangkat sekalian ke kampus ikut sama Om atau sama Abhi." Yoga menawarkan Rosa untuk tinggal di rumahnya. Karena di rumahnya ada Aulia dan Aliza yang mungkin akan bisa menjadi teman Rosa.


" Oca nanti akan tinggal di rumah Mama Lusi, Pa." Azkia yang menjawab Yoga.


" Kamu akan tinggal di rumah Mamanya Raffa?" Yoga kaget mendengar jawaban Azkia yang menjelaskan jika Rosa akan ikut tinggal bersama Mama mertua Azkia.


" Iya, Pa. Biar rencana menjodohkan Papa Fariz sama Mama Lusi biar berjalan lancar ..." Azkia menyeringai.


" Ya sudah kalau begitu, tadinya Papa pikir lebih baik Oca ikut tinggal di rumah Papa biar mempermudah dia adaptasi ." Yoga menyampaikan alasannya kenapa dia berharap Rosa bisa tinggal di rumahnya.


" Oca juga sedang adaptasi kok, Pa. Adaptasi jadi anak tiri Mama Lusi. Hahaha ..." Dengan tertawa renyah Azkia menyindir Rosa membuat Rosa hanya bisa menundukkan kepalanya mendengar kalimat Azkia yang berkata blak-blakan.


" Astaga, Mbak Kia ini kalau ngomong nggak pernah lihat-lihat sikon. Tuh, Oca jadi malu, Mbak." Abhinaya mengkritik Azkia karena melihat Rosa yang langsung tertunduk malu. Walaupun ucapan Azkia hanya bercanda tapi kadang tidak semua orang bisa menerima baik gurauannya itu.


" Ca, kamu harus maklum sama tingkah Mbakku ini, ya!?" Abhinaya langsung menyampaikan permintaan maaf kepada Rosa.


" Oh, iya, Kak. Nggak apa-apa, kok." Rosa menaikkan pandangannya dan bisa memaklumi apa yang diucapkan oleh Azkia.


" Oca sudah kebal sama Mbak, Bhi." Azkia tertawa, pembawaan wanita cantik itu memang selalu riang. " Pa, Kia mau pamit sekarang, ya!? Biar nggak terlalu sore sampai rumah, karena di butik juga pasti Naufal akan lama ditahan sama Mama. Masalahnya nanti sore Mama Lusi mau ke rumah jemput Rosa." Azkia yang sudah selesai menyantap batagor di hadapannya langsung berpamitan kepada Yoga.


" Ya sudah, Kalian diantar sama Pak Diding, kan?" tanya Yoga.


" Iya, Pa." sahut Azkia bangkit dan menyalami tangan Yoga.


" Kami pamit dulu ya, Om." Rosa pun menyalami tangan Yoga.


" Iya, hati-hati, ya!" sahut Yoga.


" Kia pulang dulu ya, Pa. Naufal, ayo ... salim sama Papi." Azkia menyuruh anaknya menyalami tangan Yoga.


" Naufal mau pulang, ya? Cium Papi dulu, ya!" Yoga menyodorkan pipinya meminta cucunya itu mencium pipinya bergantian. Dan si bayi pintar itu menjalankan apa yang diperintahkan Yoga kepadanya.


" Barakallah, anak pintar." Setelahnya Yoga berganti mencium pipi cucunya itu. Kemudian pria paruh baya yang masih nampak gagah dan tampan itu menyerahkan Naufal kepada Atun.


" Kami pulang ya, Pa. Assalmaualaikum ..." pamit Azkia kembali.


" Waalaikumsalam ... hati-hati, bilang sama Pak Diding jangan ngebut," sahut Yoga sembari memperhatikan Azkia, Rosa, Naufal juga Atun keluar meninggalkan kantin Dzul.


***


Azkia membantu Rosa melipat beberapa baju yang tadi dia borong di butik untuk Rosa. Azkia memang sudah menganggap Rosa seperti adik kandungnya sendiri. Tidak sulit Azkia memperlakukan Rosa dengan baik karena dia sendiri mempunyai dua adik perempuan yang usianya tidak jauh dengan Rosa.


" Aku jadi ngereotin Kak Kia, ya? Kak Kia banyak banget beliin baju untuk Oca." Rosa merasa tidak enak hati dengan perhatian yang Azkia berikan kepadanya.


" Kamu tenang saja, Ca. Butik itu sudah Mama kasih ke aku dan sudah jadi milik aku." Azkia menyahuti dengan enteng.


" Biarpun punya Kak Kia, tapi butik juga 'kan butuh cari profit, Kak." ujar Rosa berpendapat.


" Gampang itu sih, Ca. Kamu tenang saja, deh." Azkia mengibas tangannya ke udara.


" Tante Lusi nanti mau ke sini, Kak?" tanya Rosa kemudian.


" Iya, nanti kamu harus pintar-pintar ambil hati Mama Lusi ya, Ca!? Mama tuh aslinya baik, kok!" Azkia megajari Rosa bagaimana harus bersikap agar mendapat perhatian dari Lusiana.


" Tapi aku deg-degan juga lho, Kak." Tentu rasa khawatir tetap ada di hati Rosa, walaupun Azkia selalu meyakinkan dia jika Omanya Naufal itu orang yang baik.


" Jangan dibawa tegang, enjoy saja ... segalanya harus dinikmati dengan santai biar kamu nggak stress." Azkia mencoba menenangkan hati Rosa yang masih menyimpan rasa khawatir.


" Senangnya kalau punya sifat seperti Kak Kia, jadi enak bergaul dengan siapa saja." Melihat sifat Azkia yang humble, Rosa merasa sangat menyenangkan jika mempunyai sifat seperti kakak iparnya itu.


" Mbak, Ibu Lusi sudah datang." Atun yang muncul di pintu kamar memberitahukan Azkia dan Rosa yang masih asyik berkemas dan berbincang.


" Oh ya, Mbak Atun. Nanti kita sebentar lagi turun. Mbak Atun tolong bantu bawakan koper Oca, dong! Sama tas punya Naufal di kamar, soalnya aku juga mau ikut menginap di rumah Mama Lusi." Azkia berencana ikut menginap di rumah Lusiana. Selain menemani Rosa juga dia pikir karena Raffasya tidak akan pulang malam ini karena masih di luar kota.


" Kak Kia mau menginap juga di rumah Tante Lusi?" Rosa nampak senang, setidaknya kehadiran Azkia akan mencairkan ketegangan jika dirinya hanya berdua dengan Lusiana.


" Iya, Papanya Naufal sepertinya akan menginap di Bandung, jadi aku juga mau menginap saja di rumah Mama," sahut Azkia. " Ayo, kita berangkat ...!" Azkia lalu mengajak Rosa untuk segera menemui Lusiana di bawah.


" Ma, Kia sama Naufal juga mau ikut menginap di rumah Mama, ya!? Soalnya Papanya Naufal keluar kota, mungkin baru pulang besok." Sesampainya di ruang tamu Azkia langsung menyampaikan keinginannya itu kepada Mama mertuanya.


" Naufal mau menginap di rumah Oma? Boleh nggak, Oma? Boleh banget dong, Sayang." Lusiana yang sedang menggendong Naufal langsung menanggapi ucapan Azkia itu dengan suka cita dan menciumi cucunya.


" Memang Raffa ke mana, Kia?" tanya Lusiana kemudian.


" Ke Bandung, Ma. Ada urusan sama Kak Harlan urus cafe di sana. Bilangnya sih, besok pagi baru akan pulang." Azkia menjawab pertanyaan Lusiana.


" Oh, ya sudah, kamu menginap di Mama saja biar ada teman." Lusiana menanggapi. " Sudah siap semua?" tanya Lusiana.


" Sudah, Ma." sahut Azkia.


" Ya sudah kita berangkat sekarang ..." Masih dengan menggendong Naufal, Lusiana pun keluar ruangan tamu rumah Raffasya menuju ke mobilnya.


" Mbak Atun, Mbak Uni, titip rumah, ya!? Aku menginap di rumah Mama. Assalamualaikum ..." Sebelum keluar rumahnya, Azkia menitipkan rumah suaminya itu kepada ART nya, lalu bersama Rosa, dia melangkah menuju mobil Lusiana.


***


Setelah sholat Maghrib, Lusiana mengajak Azkia dan Rosa makan malam bersama di meja makan. Lusiana memang sudah menyuruh ART nya memasak untuk menu makan malam karena dia berpikir akan ada Rosa yang akan datang di rumahnya namun tanpa persiapan membuatkan makan malam untuk Azkia karena menantunya itu tidak memberi kabar terlebih dahulu tentang rencana menginap di rumahnya.


" Mama nggak suruh Bibi buat sayur untuk kamu karena kamu nggak bilang akan menginap di sini, Kia." ucap Lusiana setelah memimpin doa sebelum mereka menyantap hidangan makan malam.


" Nggak apa-apa kok, Ma. Ini juga sudah enak semua menunya." Azkia melihat ayam bakar, tumis kangkung, tahu dan juga tempe goreng.


" Kalau nggak ada yang menginap di sini, apa Mama juga sering makan malam di sini?" Azkia iseng bertanya kepada Mama mertuanya.


" Mama makan sebelum pulang di kantor, atau biasanya Bibi bawa makanan ke kamar," jawab Lusiana.


" Enak mana, Ma? Makan ngumpul di sini sama makan sendirian di kamar?" Azkia sebenarnya sedang memancing jawaban dari Mama mertuanya itu.


" Lebih senang makan rame-rame begini, jadi ada teman ngobrol dan nggak menjenuhkan." Lusiana yang memang tidak menyadari jika menantunya itu sedang memancingnya, menjawab jujur suasana yang sebenarnya memang dia rindukan.


" Memang benar, Ma. Lebih enak itu makan bersama begini apalagi kalau makan bersamanya ditemani anak dan suami. Hehehe ... makanya, Ma. Ayo dong, Ma. Balikan lagi saja sama Papa Fariz. Oca sudah Mama terima di rumah ini, Papa Fariz coming soon ya, Ma?" Azkia terkikik meledek Lusiana membuat Lusiana mendelik ke arah Azkia lalu menoleh ke arah Rosa yang mengulum senyuman tipis.


" Kamu nggak malu ngomong begitu di depan Rosa, Kia?" Lusiana merasa apa yang diucapkan Azkia bisa saja menyinggung Rosa, karena Papanya dijodohkan dengan dirinya. Pikirnya, anak mana yang rela Papanya membagi cintanya kepada wanita lain selain Mamanya?


" Iiisshh, Kia sama Oca 'kan ce es, Ma. Bestie, iya nggak, Ca?" Azkia memainkan alisnya melirik ke arah Rosa membuat Lusiana hanya menggelengkan kepala menanggapi tingkah laku menantunya itu.


" Sudah-sudah, ayo kita makan dulu ..." Lusiana meminta agar menantunya itu berhenti menggodanya dan melanjutkan makannya, sementara Azkia masih belum bisa menghentikan senyumnya sambil melirik ke arah Rosa dan mengedipkan matanya menandakan dia berhasil membuat Lusiana salah tingkah.


***


Sekitar jam sepuluh malam Raffasya sampai ke rumahnya. Setelah mematikan mesin mobilnya, dia pun turun dari mobil dan bergegas berjalan ke teras rumah. Raffasya memang memaksakan diri untuk pulang ke Jakarta karena dia tidak betah jauh lama-lama dari istri dan juga anaknya.


Raffasya mencoba membuka pintu dengan kunci yang dia bawa, karena dulu dia sering pulang malam, jadi dia masih menyimpan kunci rumahnya itu. Namun sepertinya kunci di dalam rumah tidak terlepas dan masih menggantung di lubangnya hingga Raffasya kesulitan membuka pintu. Mungkin ART di rumah Raffasya berpikir jika Raffasya tidak akan pulang karena Azkia pun menginap di rumah Lusiana, hingga mereka tidak melepas kunci tersebut.


Raffasya lalu menekan bel rumahnya dan menunggu beberapa saat namun tak ada satupun ART nya yang keluar membukakan pintu untuknya.


Raffasya lalu mengambil ponselnya dan menghubungi nomer Uni.


" Uni, tolong bukaan pintu!" saat mendengar nada panggilan teleponnya terhubung Raffasya langsung menyuruh Uni membukakan pintu rumah. Dan tak berapa lama, Uni pun turun dan membukakan pintu untuk Raffasya.


" Assalamualaikum ..." sapa Raffasya saat masuk ke dalam rumahnya.


" Waalaikumsalam. Lho, katanya Mas Raffa menginap di Bandung?" tanya Uni heran dengan kedatangan Raffasya.


" Aku nggak betah jauh dari istri dan anak, Ni!" Raffasya tersenyum menjawab pertanyaan Uni.


" Tapi, Mas ...."


Belum sempat Uni melanjutkan kalimatnya Raffasya sudah lebih dahulu bergegas berlari ke menaiki tangga.


" Mbak Kia sama Naufalnya nggak ada ..." Bahkan suara Uni sudah tidak terdengar di telinga Raffasya karena pria itu kini sudah sampai di depan pintu kamarnya.


Raffasya segera membuka pintu kamar dan menyalakan lampu kamarnya yang mati. Namun dia terkesiap karena tidak menemukan Azkia di atas tempat tidur juga Naufal di box nya.


" Ma, Mama ..." Raffasya berjalan dan mengecek ke dalam kamar mandi berharap Azkia ada di sana. Namun Raffasya kecewa karena tidak mendapati anak dan istrinya di kamar mandi. Raffasya pun kemudian berlari ke luar dari kamarnya untuk bertanya kepada Uni.


" Istriku sama Naufal ke mana, Uni?" tanya Raffasya kepada Uni yang sedang menaiki anak tangga. Setelah menutup dan mengunci pintu, Uni memang menyusul Raffasya ke atas karena ingin memberitahukan keberadaan Azkia dan Naufal.


" Mbak Kia sama Naufal menginap di rumah Bu Lusi, Mas." jawab Uni.


" Menginap di rumah Mama? Kok aku nggak diberitahu?" tanya Raffasya kesal.


" Uni nggak tahu, Mas. Uni pikir Mbak Kia sudah kasih kabar ke Mas Raffa. Soalnya Mbak Kia bilang Mas Raffa nggak pulang malam ini." Uni menjawab apa yang dia tahu.


Raffasya mendengus kesal dan mengusap kasar wajahnya, Rasa penatnya pulang dari Bandung belum bisa terobati karena ternyata istri dan anaknya yang memacu semangatnya untuk segera kembali ke Jakarta saat ini tidak berada di rumahnya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️