MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Menginap Di Rumah Mama Mertua



Raffasya memperhatikan sebuah foto seorang bayi perempuan yang sedang tengkurap di samping seorang bayi laki-laki yang duduk di sebelahnya. Foto dua anak yang diambil puluhan tahun silam masih tersimpan rapih di album foto keluarga Azkia.


" Kamu sama Alden selisih berapa tahun, May?" tanya Raffasya kepada istrinya yang menunjukkan foto-foto kecil Azkia dan keluarganya.


" Aku sama Kak Alden itu selisih empat belas bulan. Waktu Kak Alden masih bayi Mama kebobolan lagi, jadilah aku terlahir ke dunia ini." Azkia terkekeh menjelaskan selisih usia dia dengan kakak pertamanya itu.


" Wah, patut dicontoh itu, May. Nanti kita tiru Papa sama Mama kamu, ya? Kayaknya bisa deh, bikin anak sebanyak orang tuamu. Biar suasana di rumah jadi ramai." Raffasya menyeringai menimpali cerita dari istrinya tentang keluarga dari istrinya.


" Iiihh, Kak Raffa ... yang di perut saja belum lahir sudah mikir bikin anak lagi." Azkia memutar bola matanya.


" Bikin anak itu 'kan enak, May." Raffasya tertawa kencang.


" Ini siapa, Kak?" Azkia lalu menyodorkan sebuah foto gadis cilik berusia sekitar tiga tahun duduk di anak tangga dan dirangkul oleh bocah laki-laki yang mencium pipi chubby gadis cilik itu.


" Kamu sama Alden, kan?" Raffasya memperhatikan foto yang diperlihatkan oleh Azkia kepadanya. Dia berpikir itu adalah Azkia dan Alden.


" Iiiihh, ini foto jadul banget, Kak. Masa aku, sih? Ini Mama sama Uncle Gavin ..." Azkia memanyunkan bibirnya.


" Masa, sih? Kok mirip sama foto-foto kamu waktu kecil Mamamu ini?" Raffasya mencoba memperhatikan lebih teliti karena memang ada kemiripan wajah antara Azkia dan Natasha.


" Namanya juga anaknya pastilah aku mirip Mama, masa mirip tetangga?" jawaban Azkia justru membuat Raffasya terkekeh..


" Oh ya, Kak Raffa tahu nggak, sih? Dulu Mamihnya Papaku hampir menjodohkan Papa sama Auntie Rara. Dan Papa itu cinta pertamanya Auntie, tapi malah Papa nikahnya sama Mama." Azkia menceritakan sedikit rahasia kisah percintaan kedua orang tuanya.


" Serius?" Raffasya kini menoleh ke arah Azkia, dia nampak terkejut mendengar kisah asmara mertuanya itu. " Lalu kenapa bisa menikah sama Mama kamu? Dan sekarang mereka saling akrab, apa karena Tante Rara menikah dengan Paman Gavin, kah?" tanya Raffasya penasaran.


" Iya, karena Auntie akhirnya menikah dengan Uncle, jadinya sampai sekarang Mama sama Auntie jadi akrab," jelas Azkia.


" Foto-foto masa kecil kamu banyak sekali, May." Entah sudah album ke berapa yang dibuka oleh Raffasya dan banyak sekali foto-foto kecil Azkia, baik sendiri maupun bersama keluarganya. Berbeda dengan dirinya, mungkin foto dirinya bersama keluarganya tidak banyak tertempel di album foto keluarganya. Bahkan dia sendiri tidak tahu tersimpan di mana album foto itu.


" Memang banyak, Kak." Azkia melirik suaminya, dia tahu apa yang ada di pikiran suaminya saat ini.


" Aku sangat iri dengan keluargamu ini, May."


Azkia langsung memeluk suaminya, " Sekarang Kak Raffa nggak boleh iri, dong. Saat ini Kak Raffa sudah punya aku dan keluargaku juga." Azkia kembali berusaha membesarkan hati suaminya. Namun tak lama dia mengurai pelukannya.


" Besok kita main dan menginap di rumah Mama Lusi ya, Kak?" Azkia menyampaikan keinginannya menginap di rumah Mama mertuanya itu.


Raffasya terkejut dengan permintaan Azkia. Jangankan menginap, menginjakkan kaki ke rumah baru Mamanya saja tidak pernah Raffasya lakukan selama ini. Jika ada perlu dengan Mamanya itu, Raffasya lebih sering menemui Lusiana di kantor Mamanya.


" M-menginap di rumah Mamaku?"


" Iya, nggak ada salahnya 'kan sekali-sekali menginap di rumah Mama Lusi? Mama Lusi juga sekarang orang tua aku lho, Kak. Bukan cuma orang tua Kak Raffa saja. Aku yakin Mama Lusi pasti senang jika kita berkunjung ke sana apalagi sampai menginap di sana." Azkia memang sempat beberapa kali diajak berkunjung ke rumah Mama mertuanya itu, namun tentu saja tanpa didampingi oleh suaminya, karena suaminya itu terlalu gengsi untuk berdamai dengan masa kecilnya bersama orang tuanya.


Raffasya tidak langsung menjawab pertanyaan Azkia.


" Ayolah, Kak. Kak Raffa harus berdamai dengan masa lalu Kak Raffa. Kak Raffa harus bisa ikhlas memaafkan kesalahan Mama Lusi yang Kak Raffa anggap telah mengabaikan Kak Raffa dulu. Insya Allah hidup Kak Raffa akan lebih tenang. Dan Kak Raffa bisa merasakan kebahagiaan bisa dekat kembali dengan orang tua sendiri." Azkia mencoba menasehati suaminya.


" Kak Raffa sebentar lagi akan jadi Papa, Kak Raffa harus mengajarkan anak Kak Raffa ini untuk menghormati Kakek dan Neneknya, baik itu dari pihak keluargaku ataupun dari pihak keluarga Kak Raffa. Kalau Kak Raffa masih keras saja terhadap Mama Lusi, bagaimana Kak Raffa bisa memberikan contoh yang baik untuk anak kita ini?" lanjut Azkia terus mencoba mengetuk pintu hati suaminya itu agar lekas luluh.


Raffasya menghela nafas yang terasa berat untuk dihirupnya. Karena sampai sekarang dia merasa masih ada jarak antara dirinya dengan orang tuanya.


" Baiklah, besok kita ke rumah Mamaku." Akhirnya Raffasya mengabulkan permintaan istrinya itu.


" Aaahh ... makasih, Kak Raffa." Azkia kembali memeluk suaminya. " Aku makin sayang sama Kak Raffa kalau Kak Raffa seperti ini." Azkia tak ragu lagi menyatakan perasaannya terhadap suaminya.


" Aku juga sayang kamu, May. Aku yakin Mamaku juga akan makin sayang sama kamu, kalau Mama tahu kamu sudah meluluhkan hatiku untuk bisa berdamai dengan Mama." Raffasya mengusap kepala Azkia yang masih memeluknya.


" Itu 'kan bagus, Kak. Bukankah setiap wanita itu ingin mendapatkan Mama mertua yang baik, yang sayang dan mendukungnya? Bukan Mama mertua yang memusuhinya. Dari sebelum aku jadi menantu Mama Lusi, Mamanya Kak Raffa itu memang ngebet kepingin punya menantu aku, kan?" ucap Azkia percaya diri.


" Itu juga yang bikin aku heran, May. Kenapa Mama suka sama kamu sampai berencana menyatukan kita? Aku pikir Mamaku matanya terkena katarak, sampai memilihkan calon istri seperti preman kayak kamu." Raffasya tergelak menyindir Azkia.


" Kayak preman juga sekarang Kak Raffa cinta 'kan?" Azkia mencibir, dia lalu merapihkan album foto itu dan meminta suaminya untuk menaruh kembali di laci bawah buffet yang ada di kamarnya itu.


Raffasya lalu menaruh tumpukan album foto di laci yang ditunjuk oleh Azkia, namun saat masukkan album foto, pandangan matanya menangkap sebuah benda berwarna pink. Raffasya lalu mengambil benda berupa music box. Dia ingat benda itu adalah pemberian dari Gibran untuk istrinya saat mereka masih kecil.


" Kamu masih menyimpan ini, May?" Raffasya menunjuk music box itu kepada Azkia.


" Aku nggak mungkin menyingkirkan pemberian Kak Gibran begiu saja. Kak Gibran nggak ada salah sama aku. Lagipula kita menikah mendadak dan Kak Raffa langsung bawa aku ke rumah Kak Raffa, mana sempat aku membereskan barang-barang di sini. Tapi kalau Kak Raffa nggak suka barang ini masih ada di kamarku ini, nanti aku kasih ke Aulia atau Aliza saja." Azkia lalu mengambil music box itu dari tangan suaminya dan ingin melangkah meninggalkan kamar untuk mengeluarkan barang yang dia anggap akan menjadi masalah untuk suaminya itu.


" Nggak usah, biarkan saja ditaruh di tempat tadi." Raffasya kembali merebut music box dari tangan Azkia lalu menaruhnya di tempat semula. " Kalau kamu mau aku akan belikan music box juga untuk kamu, May."


" Nggak usah, Kak. Aku nggak mau ..." Kembali Azkia memeluk suaminya, sepertinya berada dalam pelukan suaminya itu adalah hal paling menyejukkan hatinya. " Kak Raffa nggak usah beri apa-apa untuk aku, aku sudah sangat bahagia bersama Kak Raffa."


" Aku juga bahagia mempunyai kamu, May." Raffasya membalas pelukan Azkia seraya mengecup pucuk kepala istrinya penuh dengan kelembutan dan kasih sayang.


***


Seperti janjinya kepada Azkia, sepulang dari cafe hari ini, Raffasya ingin membawa Azkia berkunjung dan menginap di rumah Lusiana.


" Kamu telepon Mama dulu, May. Barangkali Mama belum pulang dari kantornya," perintah Raffasya saat mereka bersiap meninggalkan cafe miliknya.


" Iya, Kak." Azkia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Mama mertuanya itu.


" Assalamualaikum, Ma. Mama masih di kantor?" tanya Azkia saat panggilan teleponnya terhubung dengan Lusiana.


" Kami mau ke Mama. Maksud Kia, Kia sama Kak Raffa mau main ke rumah Mama. Mau menginap di sana, boleh 'kan, Ma?" Azkia menjelaskan tujuannya menghubungi Mama mertuanya itu.


" Kalian mau menginap di rumah Mama? Tentu saja boleh dong, Sayang. Kalian ada di mana sekarang? Ya sudah, Mama pulang sekarang, ya!" Lusiana terdengar antusias saat mengetahui Azkia dan Raffasya ingin berkunjung dan juga menginap di rumahnya.


" Iya, Ma. Kami mau jalan ke sana sekarang," sahut Azkia.


" Ya sudah, kita ketemu di rumah Mama. Mama mau pulang sekarang. Assalamualaikum ..." Lusiana bergegas mengakhiri sambungan telepon dengan Azkia karena dia akan bergegas pulang ke rumahnya. Tentu saja kabar tentang Azkia dan putranya yang ingin menginap di rumahnya merupakan kabar bahagia untuknya.


" Waalaikumsalam, Ma." Azkia menyahuti ucapan salam Mama mertuanya sebelum menutup teleponnya.


" Mama kelihatannya senang banget lho, Kak. Dengar kita mau menginap di sana." Azkia menyampaikan apa yang dia dengar dari Mama mertuanya tadi.


" Aku harap ini akan jadi awal yang bagus untuk memperbaiki hubungan Kak Raffa dengan Mama Lusi. Kak Raffa selalu bilang ke aku untuk tidak melawan terhadap suami. Begitu juga kepada orang tua, Kak Raffa juga harus menurut dan tidak selalu bertentangan dengan Mama. Karena bagaimanapun juga surga seorang anak terletak di telapak kaki ibunya. Doa orang tua terutama seorang Ibu sangat mujarab untuk anaknya."


" Bahkan tanggung jawab untuk berbakti kepada orang tua tetap tidak akan berhenti meskipun sekarang ini Kak Raffa sudah menikah dengan aku. Mungkin kalau aku sebagai seorang istri, bakti dan ketaatan tertinggi adalah kepada Kak Raffa sebagai suami aku, tapi bagi Kak Raffa, bakti dan ketaatan tertinggi tetap kepada orang tua Kak Raffa."


" Dan sebagai istri Kak Raffa, aku ingin Kak Raffa mendapatkan kebahagiaan lahir batin, dengan mendapatkan kembali kebahagiaan Kak Raffa dengan orang tua Kak Raffa." Azkia terus berusaha mendekatkan Raffasya dengan orang tua dari suaminya itu.


" Segitunya kamu ingin membuat aku dekat dengan Mama, May?" Raffasya kini menangkup wajah Azkia. Sejujurnya dia sangat bahagia mendapati istrinya sangat mendukung memperbaiki hubungan dia dengan orang tuanya.


" Sudah kewajiban suami istri saling mengingatkan, bukan? Aku nggak ingin Papa anakku ini durhaka terhadap orang tuanya dan dikutuk jadi batu kayak Malin Kundang, Kak." Azkia terkikik meledek suaminya.


" Kalau aku jadi batu nanti kamu nikah sama Gibran, gitu?" celetuk Raffasya.


" Iiihhh, kenapa bawa-bawa nama orang, sih?" Azkia memberengut.


" Ya kamu pakai bilang aku dikutuk jadi batu segala." Raffasya menyahuti.


" Aku hanya mengumpamakan, Kak. Siapa juga yang ingin Kak Raffa dikutuk begitu?" Azkia memutar bola matanya.


" Kamu kasih perumpamaannya yang nggak enak, sih." Raffasya terus menanggapi ucapan istrinya. " Coba bilangnya dikutuk jadi sultan yang banyak duitnya, banyak ceweknya gitu ...."


Azkia langsung membelalakkan matanya mendengar kalimat yang diucapkan suaminya.


" Peace, May." Raffasya langsung mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya secara bersamaan seraya terkekeh. " Aku hanya bercanda." Dia lalu memeluk Azkia dan menghujani istrinya itu dengan kecupan.


" Sudah, ah. Kita berangkat sekarang, yuk." Azkia segera mengajak suaminya itu segera pulang ke rumah Mama mertuanya.


***


Azkia menarik tangan suaminya yang nampak ragu memasuki bangunan rumah yang terlihat megah berlantai dua di hadapannya.


" Ayo masuk, Kak. Kenapa melamun? Ini rumah Mamanya Kak Raffa, lho. Bukan rumahnya orang lain," ucap Azkia terkekeh. Raffasya pun akhirnya mengikuti apa yang diminta oleh istrinya itu.


Azkia menekan bel di dekat pintu saat mereka sampai di teras rumah bergaya Mediterania. Dan setelah beberapa saat menunggu akhirnya pintu rumah milik Lusiana dibuka oleh ART Lusiana.


" Assalamualaikum, Bu Wasma." sapa Azkia kepada ATR yang membukakan pintu rumah Lusiana, karena beberapa kali diajak ke rumah mertuanya itu hingga Azkia hapal beberapa ART yang bekerja di sana.


" Waalaikumsalam, Non. Silahkan ..." Bu Wasma mempersilahkan Azkia masuk seraya memperhatikan Raffasya yang baru pertama kali datang ke rumah itu.


" Oh ya, kenalkan ini Kak Raffa. Kak Raffa ini suami aku, anaknya Mama Lusiana." Azkia memperkenalkan suaminya kepada ART Lusiana. Karena dia berpikir, bagaimanapun juga ART di rumah Lusiana harus mengenal siapa Raffasya yang merupakan anak majikan mereka.


" Oh, ini yang namanya Den Raffasya? Akhirnya bisa melihat orangnya langsung. Soalnya saya selama ini hanya melihat fotonya Den Raffasya saja, Non." sahut Bu Wasma.


Raffasya hanya tersenyum tipis seraya menganggukkan kepala menanggapi sapaan Bu Wasma.


" Oh ya, Bu. Mama sudah pulang?" tanya Azkia kemudian.


" Belum, Non. Tapi tadi Ibu Lusi sudah telepon saya suruh mempersiapkan kamar untuk Non Kia menginap di sini," ujar Bu Wasma. " Mari Den, Non, Saya antar ke kamar." Bu Wasma lalu membawa Azkia dan Raffasya ke kamar mereka yang sudah disiapkan.


" Silahkan ..." Bu Wasma mempersilahkan Azkia dan Raffasya untuk masuk ke dalam kamar mereka.


" Terima kasih, Bu." sahut Azkia.


" Saya mau ke bawah dulu ya, Non. Mau menyiapkan untuk makan malam. Ibu tadi pesan untuk masak menu makan malam untuk Non Kia dan Den Raffa." Bu Wasma meminta ijin kepada Azkia dan Raffasya untuk meninggalkan mereka.


" Iya, Bu. Terima kasih, Bu Wasma." ujar Azkia kembali sebelum Bu Wasma menghilang dari kamar mereka.


Azkia mengedar pandangan ke kamar mereka, dia sudah pernah ditunjukkan kamar itu sebelumnya oleh Lusiana saat berkunjung ke rumah itu, jadi dia sudah tidak asing dengan situasi di kamarnya saat ini.


" Kita harus atur jadwal rutin menginap di sini ya, Kak. Minimal sebulan sekali pas weekend kita menginap di sini, biar nanti anak kita juga dekat dengan Neneknya." Azkia menyampaikan keinginannya. " Bagaimana, Kak?" Azkia meminta persetujuan suaminya itu.


" Terserah kamu saja, May. Selama itu bikin kamu senang." Raffasya tidak ingin menolak apa yang diminta oleh istrinya itu. Walaupun hubungan dia dan Mamanya masih nampak canggung, tapi demi istri dan anaknya, Raffasya rela harus berdamai dengan masa lalunya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️