MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Menunggu Kapan Waktu Itu Akan Tiba



Beberapa jam sebelumnya ...


" Selamat siang, Pak Ananda. Maaf sudah membuat Pak Ananda memunggu. Kami sudah mengecek nomer polis asuransi atas bangunan milik Pak Ananda. Kami mohon maaf sebelumnya, ternyata status polis asuransi milik Pak Ananda sudah habis masa pertanggungannya sekitar lima bulan lalu." Pegawai Asuransi memberitahukan Raffasya soal status asuransi milik Raffasya.


" Sudah habis masa pertanggungannya?" Raffasya tersentak saat mengetahui jika cafenya sudah tidak dalam masa pertanggungan asuransi. Jelas saja ini satu kerugian untuknya.


" Benar, Pak Ananda. Sebelumnya bangunan yang diasuransikan ini dijaminkan ke pihak bank ya, Pak?" tanya pegawai asuransi.


" Iya benar, tapi sudah lunas sekitar setengah tahun lalu." Raffasya menjelaskan.


" Karena tanah dan bangunan milik Pak Ananda dijaminkan ke bank oleh karena itu dicover asuransi kami atas permintaan pihak bank. Dan sekitar lima bulan lalu masa pertanggungannya sudah berakhir, Pak." ujar pegawai asuransi itu kembali.


" Kenapa tidak ada pemberitahuan untuk perpanjangan asuransi ya, Mbak?"


" Kami sudah kirimkan pemberitahuan untuk perpanjang asuransi lewat email, kami juga sudah berusaha menghubungi nomer telepon Pak Ananda namun ternyata tidak ada respon dari pihak Pak Ananda."


Raffasya mendengus kasar. tentu saja mengetahui soal kadaluarsanya polis asuransi miliknya membuat kepalanya semakin pusing. Karena dia tidak bisa mengajukan klaim atas musibah yang terjadi dengan cafenya. Dia berharap akan mendapatkan penggantian uang asuransi untuk merenovasi cafenya, namun kecewa yang dia rasakan saat ini.


***


" Mas Raffa baru pulang?"


Raffasya terkesiap saat mendengar suara Bi Neng yang menyapanya saat dia memasuki rumahnya. Saat ini waktu hampir mendekati jam sebelas malam.


" Assalamualaikum, iya, Bi Neng." Raffasya langsung mengucapkan salam karena awalnya dia tidak menyadari keberadaan Bi Neng di ruangan tamu.


" Waalaikumsalam, Mas Raffa." Bi Neng menyahuti salam yang diucapkan Raffasya. " Mbak Kia dari tadi menunggu Mas Raffa di sini," lanjut Bi Neng.


" Sekarang ada di mana, Bi?" tanya Raffasya menghentikan langkahnya.


" Sudah kembali ke kamar jam sepuluh tadi, Mas Raffa."


" Oh ya sudah ...."


" Mas Raffa mau Bibi buatkan teh atau kopi?"


" Nggak usah, Bi. Makasih ..." Raffasya segera menaiki anak tangga menuju kamarnya.


" Kak Raffa ...."


Sama seperti saat disapa oleh Bi Neng, kali inipun Raffasya terkejut saat melihat Azkia menyapanya. Dia pun melihat istrinya bangkit dari sofa dan berjalan ke arahnya.


" Kamu belum tidur, May?" tanya Raffasya memberi pelukan pada Azkia yang menghampirinya.


" Aku belum bisa tenang sebelum Kak Raffa pulang," sahut Azkia mengeratkan pelukan di tubuh suaminya. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh suaminya itu bagaikan aromaterapi yang sanggup menenangkan hatinya saat ini.


" Aku 'kan sudah bilang kamu nggak usah menunggu aku." Raffasya mengusap kepala Azkia.


" Tapi aku tetap nggak bisa tenang, Kak." Azkia mendongakkan kepala menatap wajah suaminya yang menampakkan guratan kelelahan di wajah pria tampan itu.


" Bagaimana urusannya, Kak?" tanya Azkia penasaran.


" Aku mau cuci muka lalu ganti pakaianan dulu, May." Raffasya mengurai pelukannya kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Sementara Azkia segera menyiapkan pakaian yang akan dipakai oleh suaminya tidur.


" Kak Raffa sudah makan?" tanya Azkia setelah Raffasya keluar dari kamar mandinya.


" Sudah siang tadi," sahut Raffasya langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


" Tadi siang? Lalu makan malam?" Azkia mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur.


" Aku nggak selera, May." Raffasya menghela nafas yang terdengar berat.


" Kak Raffa harus tetap makan, aku nggak mau Kak Raffa jadi sakit karena masalah ini."


" Sudah malam, May. Sebaiknya tidur saja." Raffasya menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.


" Kak Raffa ingin aku buatkan teh hangat?" Azkia menawarkan minuman untuk suaminya itu.


" Nggak, May. Kamu sebaiknya istirahat saja ...."


" Bagaimana kondisi cafe, Kak? Sudah beres urus dokumen untuk klaim asuransinya?" tanya Azkia penasaran.


" Nggak ada yang kamu khawatirkan, semua bisa diatasi. Kemarilah ..." Raffasya meminta Azkia tidur di sampingnya. " Kamu jangan terlalu larut tidurnya, kasihan dedek bayinya dibawa begadang sama Mamanya."


Azkia pun akhirnya mengikuti apa yang diminta oleh Raffasya dengan membaringkan tubuhnya di samping suaminya itu.


***


Pagi harinya Azkia dan Raffasya menuju ruang makan untuk menikmati sarapan pagi bersama Nenek Mutia.


" Nenek mana, Bi Neng?" tanya Raffasya saat dia tidak menjumpai Nenek Mutia di meja makan.


" Ibu belum keluar dari kamar, Mas." Bi Neng menyahuti.


" Belum keluar?" Raffasya mengeryitkan keningnya. Tidak biasanya Neneknya itu masih berada di kamarnya, karena biasanya Neneknya itu selepas Shubuh sudah menemani Bi Neng di dapur walaupun hanya sekedar menemani mengobrol.


Raffasya kemudian melangkah ke luar dari ruang makan menuju kamar Neneknya yang segera diikuti oleh Azkia di belakangnya.


" Nek ..." Setelah mengetuk pintu Raffasya langsung menarik handle pintu kamar Nenek Mutia yang tidak terkunci.


" Nenek kenapa? Kok belum bangun? Nenek sakit?" Raffasya yang melihat Nenek Mutia masih berbaring bergegas mendekati Neneknya.


" Badan Nenek panas." Raffasya terperanjat saat merasakan suhu tubuh Neneknya yang dia sentuh dengan punggung tangannya.


" Raffa, bagaimana kerusakan cafenya? Apa parah, Nak?" Nenek Mutia menanyakan keadaan La Grande Caffee tanpa menghiraukan kekhawatiran cucunya.


Raffasya kembali terkesiap saat Nenek Mutia menyinggung soal cafenya. Dia sontak menoleh ke arah Azkia yang langsung menundukkan pandangan saat Raffasya menatapnya tajam.


" Hmmm, nggak apa-apa kok, Nek. Semua sudah bisa Raffa handle. Nenek jangan pikirkan soal cafe. Raffa panggilkan dokter ya, Nek?" Raffasya yang khawatir akan kesehatan Nenek Mutia berniat untuk memeriksakan Neneknya itu ke dokter.


" Tidak usah, Raffa. Nenek tidak apa-apa." Nenek Mutia menolak diminta Raffasya periksa ke dokter.


" Tapi badan Nenek panas, Raffa takut Nenek kenapa-napa. Raffa panggil saja dokternya kemari ya, Nek?"


" Nenek tidak apa-apa, Raffa." Nenek Mutia tetap menolak permintaan cucunya.


Sementara Azkia menatap dua orang yang merupakan Nenek dan Cucu di hadapannya. Ada rasa bersalah di hati Azkia, dia merasa Nenek Mutia menjadi sakit karena memikirkan soal musibah yang terjadi pada cafe milik Raffasya. Dan dialah yang telah memberitahukan hal itu kepada Nenek Mutia.


" Kalau begitu Nenek makan dulu setelah itu minum obat. Raffa ambilkan makannya ya, Nek." Raffasya langsung berjalan ke luar kamar Nenek Mutia dan melewati Azkia dengan tatapan mata kecewa.


Azkia menggigit bibirnya menatap punggung Raffasya yang berjalan ke luar dari kamar Nenek Mutia. Dia lalu menolehkan pandangan ke arah Nenek Mutia dan mendekat ke arah Nenek suaminya itu berbaring.


" Nek, Kia minta maaf, kalau Kia sudah bikin Nenek kepikiran soal cafe Kak Raffa." Azkia langsung menggenggam telapak tangan Nenek Mutia. Tangannya memang merasakan hawa panas dari tangan Nenek Mutia.


" Tidak apa-apa, Nak." Nenek Mutia melepaskan genggaman tangan Azkia lalu mengusap wajah istri dari cucunya itu.


" Kia, kamu harus sabar menghadapi Raffa ya, Nak. Jika Nenek sudah tidak ada, kamu harus selalu menemani Raffa. Dia sangat butuh seseorang yang memperhatikannya dan menyayanginya dengan tulus," tutur Nenek Mutia dengan nafas tersengal.


" Nenek tidak pernah melihat Raffa sebahagia sekarang ini setelah menikah dengan kamu, Nak. Nenek senang, akhirnya ada yang akan mengurus cucu Nenek yang bandel itu. Jadi Nenek bisa tenang jika Nenek harus tutup usia nanti," lanjut Nenek Mutia.


" Nek, Nenek jangan bicara seperti itu! Nenek jangan bikin Kia takut, Nek." Air mata Azkia langsung mengalir deras mendengar ucapan Nenek Mutia yang membahas tentang kematian.


" Apa yang harus Kia takutkan? Setiap manusia pasti akan kembali kepada Penciptanya, termasuk Nenek. Hanya kita tinggal menunggu kapan waktu itu akan tiba." Nenek Mutia menyeka air mata di pipi Azkia.


" Nek ..." Azkia semakin terisak.


" Jangan menangis, tidak ada yang harus ditangisi. Seandainya Nenek harus berpulang sekarang ini, setidaknya Nenek bisa berpulang dengan tenang dan damai."


" Nek, ayo Nenek makan dulu." Raffasya yang kembali masuk ke kamar Nenek Mutia dengan membawa nampan berisi makanan untuk Nenek Mutia membuat Azkia segera bangkit dan menghapus air matanya.


" Aku saja yang menyuapi Nenek, Kak." Azkia meminta nampan di tangan Raffasya.


" Nggak usah, biar aku saja." Raffasya menolak tawaran Azkia yang ingin menyuapi Neneknya.


Raffasya menaruh nampan di atas nakas dan mengangkat punggung Nenek Mutia lalu menumpuk beberapa bantal hingga posisi Nenek Mutia setengah terduduk.


" Nenek makan sekarang, Raffa yang akan menyuapi Nenek. Biar bisa minum obat. dan cepat sembuh. Raffa nggak ingin Nenek sakit seperti ini." Raffasya dengan telaten menyuapi Nenek Mutia.


Sementara Azkia hanya bisa memperhatikan suaminya yang sedang menyuapi Nenek Mutia. Perasaan bersalah semakin menguat di hatinya. Mungkin seandainya dia bisa menjaga ucapannya dan tidak memberitahukan kepada Nenek Mutia tentang kebakaran di La Grande, mungkin Nenek Mutia tidak akan menjadi sakit seperti ini. Dan saat ini Azkia merasa sangat asing dan diacuhkan oleh suaminya. Hingga akhirnya dia memilih untuk keluar dari kamar Nenek Mutia.


Azkia kembali ke arah meja makan dan duduk di kursi sambil melamun menyesali keteledorannya.


" Mbak Kia mau makan sekarang?" tanya Bi Neng ketika melihat Azkia terduduk dan terdiam di depan meja makan.


" Nggak, Bi Neng. Kia tunggu Kak Raffa saja makannya." Azkia menyahuti.


" Ibu Mutia kenapa, Mbak?" Pertanyaan Bi Neng justru membuat Azkia semakin sedih.


" Nenek sepertinya kepikiran sama masalah yang sedang menimpa cafe milik Kak Raffa, Bi. Ini salah Kia, seharusnya Kia nggak bicara tentang masalah itu kapada Nenek, Bi." Bola mata Azkia kembali mengembun.


" Itu bukan salah, Mbak Kia. Semalam Ibu 'kan memang memaksa Mbak Kia untuk cerita." Bi Neng mencoba menenangkan Azkia.


" Tapi Kak Raffa sebelumnya sudah meminta Kia untuk tidak menceritakan hal ini ke Nenek, Bi. Kak Raffa pasti marah besar sekarang. Karena Kia sudah membuat Nenek jatuh sakit, Bi Neng." Azkia tidak sanggup menahan cairan bening di matanya yang menetes ke pipinya.


" Mbak Azkia jangan berpikiran buruk seperti itu dulu. Mas Raffa itu sayang sama Mbak Kia, nggak mungkin akan marah." Kembali Bi Neng mencoba meyakinkan Azkia agar wanita muda itu tidak berpikiran jelek terhadap Raffasya.


Sementara di kamar Nenek Mutia ...


" Nenek masih punya uang simpanan, kamu pakailah jika butuh untuk renovasi cafe kamu, Raffa ..." ucap Nenek Mutia.


" Nek, Raffa 'kan sudah bilang, semua bisa Raffa handle, kok! Jadi Nenek nggak usah khawatirkan tentang cafe Raffa."


" Kenapa kamu nggak cerita sama Nenek soal kebakaran itu, Raffa?" Nenek Mutia mempertanyakan sikap Raffasya yang menyembunyikan masalah kebakaran cafe kepada dirinya.


" Nek, Raffa nggak ingin Nenek jadi sakit karena kepikiran masalah ini. Untuk Raffa, kesehatan Nenek di atas segalanya. Jadi Raffa mohon, Nenek harus sembuh, Raffa nggak bisa melihat Nenek sakit seperti ini. Raffa akan sedih, Nek." Tanpa disadari cairan bening mulai mengembun di bola mata Raffasya. Dia memang akan lemah jika menyangkut tentang Neneknya.


Beberapa saat kemudian Raffasya sudah kembali ke ruang makan.


" Bi Neng, tolong bereskan bekas makan Nenek. Nanti siang tolong jangan sampai telat kasih makan dan beri obat untuk Nenek." Raffasya memerintah Bi Neng untuk mengambil piring dan nampan bekas makan Nenek Mutia.


Azkia melirik ke arah suaminya dengan rasa bersalah. Sejujurnya ini pertama kalinya dia merasa takut berhadapan dengan seorang Raffasya.


" Kenapa belum dimakan makanannya?" tanya Raffasya saat melihat piring Azkia masih kosong belum terisi makanan.


" A-aku menunggu Kak Raffa," sahut Azkia tak berani menatap mata suaminya.


" Makanlah segera!" Raffasya menyuruh Azkia untuk segera menyantap makanan yang disediakan oleh Bi Neng.


" Kenapa kamu bilang sama Nenek soal kebakaran di cafeku?" tanya Raffasya setelah Azkia menikmati beberapa suap makanan.


" Maaf, Kak."


" Aku 'kan sudah bilang supaya tidak memberitahu Nenek soal musibah ini! Inilah yang aku takutkan kalau Nenek tahu soal kebakaran di La Grande. Nenek itu segalanya untuk aku, May. Dari kecil hanya Nenek orang tua yang mengurus aku. Aku nggak ingin sesuatu hal yang buruk menimpa Nenekku."


Kalimat-kalimat yang diucapkan terasa menohok langsung ke hati Azkia. Dia bisa merasakan kekecewaan suaminya terhadap dirinya.


Azkia hanya bisa tertunduk tanpa bisa membantah ucapan-ucapan Raffasya. Dia semakin merasa takut jika memang terjadi sesuatu kepada Nenek Mutia.


***


Selepas sarapan, Raffasya kembali keluar dari rumahnya meninggalkan Azkia bersama Nenek Mutia dan ART nya. Azkia sudah merasakan perubahan sikap Raffasya kepadanya dengan tidak berpamitan kepadanya saat meninggalkan rumah. Dia bisa memaklumi jika masalah kebakaran cafe dan sakitnya Nenek Mutia membuat suaminya itu pusing. Namun dia sendiri merasa belum siap jika harus mendapatkan sikap acuh dari Raffasya. Walaupun sebelumnya hubungan dia dan Raffasya memang tidak baik, tapi setelah apa yang terjadi dengan mereka beberapa bulan berumah tangga, rasanya dia tidak sanggup jika harus bertengkar dengan suaminya itu.


Azkia merasa gelisah di kamarnya. Kepergian Raffasya yang tidak berpamitan benar-benar mengganggu pikirannya.


" Mbak, makan dulu. Sudah masuk waktu makan siang ..." Bi Neng membawakan makanan ke kamar Azkia.


" Nenek sudah makan siang, Bi Neng?" tanya Azkia.


" Belum, Mbak. Ini makanya Bibi bawakan makanan untuk Mbak Kia dulu. Setelah ini Bibi mau antar makanan ke kamar Bu Mutia." Bi Neng menaruh nampan berisi makanan di atas nakas.


" Bi Neng siapkan saja makanan untuk Nenek, biar nanti Kia yang suapi Nenek makan."


" Biar Bi Neng saja yang menyuapi Bu Mutia, Bumil juga harus makan tepat waktu, kasihan dedek bayinya." Bi Neng mengelus perut buncit Azkia.


" Nggak ah, Bi. Kia mau menyuapi Nenek dulu, kalau Nenek sudah makan baru Kia bisa tenang menyantap makanan itu." Azkia menunjukkan makanan yang disiapkan Bi Neng dengan gerakan matanya.


" Ya sudah kalau begitu, Bi Neng siapkan dulu makanan untuk Bu Mutia." Bi Neng kemudian berjalan ke luar kamar yang diikuti oleh langkah Azkia yang akan menuju kamar Nenek Mutia.


" Nek, Nenek masih tidur?" tanya Azkia saat masuk ke dalam kamar Nenek Mutia. Dari arah pintu dia bisa melihat Nenek Mutia masih berbaring hingga membuatnya mendekat.


Azkia mengeryitkan keningnya melihat wajah Nenek Mutia yang terlihat pucat dengan mata terpejam dan mulut mengatup rapat. Tangan Nenek Mutia terlihat berlipat di atas perut dengan tasbih masih tergenggam di tangannya.


Seketika perasaan tidak enak langsung menghinggapi hati Azkia. Azkia langsung duduk di tepi tempat tidur Nenek Azkia secara perlahan dan menyentuh tangan Nenek Mutia yang terasa dingin.


" Nek, Nenek bangun, Nek." Tanpa bisa ditahan cairan bening mulai menetes di pipi Azkia. Karena pikiran buruk langsung berkelebatan melihat kondisi Nenek Mutia saat ini.


" Nek ..." Azkia mengoyang tubuh Nenek Mutia agar Nenek Mutia terbangun namun tubuh Nenek Mutia bergeming, hingg tangis Azkia pecah saat itu juga.


" Bi, Bi Neng ...!! Nenek, Bi ...!" Azkia berteriak memanggil Bi Neng.


" Nek, bangun, Nek." Azkia masih berusaha membangunkan Nenek Mutia, dia berharap ketakutannya itu tidak menjadi kenyataan.


" Ada apa, Mbak Kia?" Bi Neng bergegas masuk ke kamar Nenek Mutia saat mendengar Azkia berteriak memanggil namanya.


" Nenek, Bi." Azkia masih tersedu.


" Ibu kenapa, Mbak?" Bi Neng langsung menolehkan pandangan ke arah Nenek Mutia yang terlihat tidur dengan tenang. Bi Neng pun bisa melihat tubuh majikannya kini sudah terlihat berbeda hingga dia menyentuh bagian nadi Nenek Mutia dan mendekatkan jarinya ke bawah lubang hidung Nenek Mutia.


" Innalillahi Wa Innalillahi rojiuun ..." ucap Bi Neng mengucap kalimat istirja.


" Nenek ..." Azkia langsung memeluk tubuh Nenek Mutia dan menangis kencang.


*


*


*


Bersambung ...


Kasih konfliklah, biar seru😁


Happy Readingā¤ļø