
Mobil Gibran memasuki halaman parkir rumah Lusiana. Sejak direstui keluarga Rosa, pria itu semakin intens mendekati adik dari Raffasya itu. Seperti meluangkan waktu untuk mengantar dan menjemput Rosa berangkat dan pulang dari kuliah.
" Assalamualaikum, Bi ..." Gibran menyapa ART di rumah Lusiana.
" Waalaikumsalam, eh, Mas Gibran. Masuk, Mas ... Mbak Oca nya sedang sarapan sama Bapak dan Ibu, Mas." ART di rumah Lusiana mempersilahkan Gibran masuk.
" Baik, Bi. Makasih ..." Gibran lalu melepas sepatunya dan masuk ke dalam rumah Lusiana.
" Gibran? Kamu sudah datang?" Fariz dan Lusiana datang dari arah ruangan makan karena sudah selesai menyantap sarapan pagi mereka.
" Om, Tante ..." Gibran lalu mendekat ke arah Fariz dan Lusiana lalu menyalami kedua orang tua yang akan menjadi calon mertuanya.
" Kamu nggak apa-apa tiap hari antar Oca kuliah, Gibran? Apa kamu nggak terlambat masuk kantor?" Fariz mengerti jika Gibran seorang pekerja kantoran yang harus tepat waktu sampai di kantornya.
" Nggak apa-apa, Om. Makanya saya datang jam segini biar nggak telat ke kantor." Gibran menjelaskan. Dia juga ingin membuktikan apa yang Raffasya minta yaitu menjaga Rosa. Dia tidak ingin gagal untuk kedua kalinya.
" Eh, Kak Gibran." Rosa yang menyusul Fariz dan Lusiana dari dapur menyapa pria yang baru saja resmi menjadi kekasihnya itu.
" Kamu cepat ambil tasnya dong, Ca! Kasihan Gibran harus nunggu lama. dia 'kan mau kerja!" Lusiana menegur Rosa agar lebih gesit dan tidak membuat Gibran menunggu lama.
" Iya, Ma. Sebentar ya, Kak." Rosa bergegas lari menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk bersiap ke kampus.
" Ya sudah, Gibran. Om sama Tante juga mau bersiap dulu, ya?" Fariz pun berpamitan karena dia dan Lusiana juga akan bersiap ke tempat kerja masing-masing.
" Baik, Om." Gibran tak menghalangi Fariz dan Lusiana yang ingin meninggalkan dirinya karena harus beraktivitas.
***
Rosa menoleh ke arah Gibran yang sejak tadi dia rasakan beberapa kali menatapnya seraya tersenyum.
" Kenapa sih, Kak? Senyum-senyum begitu?" Rosa merasa penasaran dengan sikap Gibran.
" Aku hanya sedang memandangi keindahan ciptaan Sang Pencipta." Gibran mulai menggoda Rosa hingga wajah gadis muda itu bersemu.
" Kamu makin cantik saja sekarang, Ca. Beda, ya? Kalau sudah punya pacar wajahnya makin berseri-seri." Gibran masih melancarkan jurus rayuan dibarengi kalimat menggoda membuat kulit wajah Rosa semakin merona.
" Kak, sudah jangan godain aku terus ...!" Rosa merajuk dengan memberengutkan wajahnya.
" Oh ya, Ca. Minggu depan aku akan pulang ke Jambi. Aku ingin bicara dengan orang tuaku untuk membicarakan soal hubungan kita." Gibran memang sudah memberitahukan kedua orang tuanya jika dia sedang dekat dengan seorang wanita. Gibran juga sudah mengirimkan foto Rosa kepada Papa dan Mamanya.
Kedua orang tua Gibran sepertinya tidak keberatan dengan kedekatan Gibran dengan Rosa. Namun yang menjadi masalah, Gibran belum menceritakan kepada kedua orang tuanya jika Rosa adalah adik ipar dari Azkia. Gibran berharap Papa dan Mamanya tidak mempermasalahkan hal tersebut dan bisa menerima dengan baik kehadiran Rosa di sisinya.
" Apa Papa sama Mama Kakak akan menyetujui hubungan kita, Kak?" Tidak bisa dipungkiri jika Rosa juga merasakan kecemasan jika kedua orang tua Gibran tidak menyetujui hubungan mereka.
" Kamu tenang saja, Papa Mamaku ingin melihat aku bahagia dan kebahagiaan aku sekarang adalah kamu, Ca." Gibran mencoba meyakinkan Rosa agar gadis itu tidak menjadi resah.
" Semoga saja ya, Kak." Rosa juga berharap hubungannya dengan Gibran akan lancar dan berjalan baik-baik saja.
***
" Pa, sudah, dong! Capek ...!" Azkia mengeluh karena suaminya masih belum juga menuntaskan aktivitas bercinta mereka jelang HPL Azkia.
" Sebentar lagi, Ma. Belum keluar ini ..." Milik Raffasya terus bergerak di dalam inti Azkia. Dia masih belum berniat mengakhiri aktivitas bercintanya karena dia belum mendapatkan pelepasan.
" Sakit, Pa ..." Azkia bahkan merengek merasakan kesakitan karena Raffasya seolah tidak memperdulikan keluhannya.
" Aku akan pelan-pelan, Ma. Biar dedek bayinya lancar keluarnya karena dituntun sama Papanya." Raffasya justru menyeringai.
" Aduh, aduh, Pa ... kayak mau pipis ini. Jangan-jangan ketubanku sudah pecah ini!" Azkia meracau karena merasakan cairan yang tak tertahankan akan segera keluar.
Perkataan Azkia sontak membuat Raffasya melepas penyatuan mereka. Dan Azkia segera bangkit ingin ke kamar mandi karena sudah tidak tahan ingin buang air kecil. Namun karena langkahnya yang berat karena membawa perut buncitnya akhirnya dia tidak kuasa harus menahan hingga kamar mandi.
" Aduh, aduh ... tuh, kan! Jadinya ngompol di sini." Azkia akhirnya mengeluarkan air seninya di lantai kamar.
" Ya sudah, nggak apa-apa, Ma. Biar nanti Papa yang mengelap." Raffasya menuntun istrinya terlebih dahulu ke dalam kamar mandi.
" Itu pipis apa ketuban, Ma?" tanya Raffasya khawatir.
" Kayaknya pipis deh, Pa." Azkia lalu membersihkan bagian intinya. Sementara Raffasya mengambil lap untuk membersihkan bekas urine Azkia.
Setelah selesai di kamar mandi, Azkia segera memakai baju dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Aktivitas bercinta dengan suaminya cukup membuat dia kelelahan malam ini. Sementara Raffasya yang baru selesai mencuci kain bekas mengelap urine Azkia juga ikut bergabung dengan Azkia.
" Tadi belum sempat keluar ya, Pa?" tanya Azkia karena saat menghentikan penyatuan suaminya itu belum mencapai ******* dan mendapatkan pelepasan.
" Sudah aku keluarkan tadi di kamar mandi." Raffasya menyeringai.
" Maaf ya, Pa. Kayaknya aku capek banget kalau harus lama-lama." Rasa tidak nyaman sudah mulai Azkia rasakan jika harus berhubungan dengan durasi yang lama.
" Aku juga minta maaf karena nggak perdulikan keluhan Mama tadi." Raffasya menyadari jika dirinya tidak boleh bersikap egois. " Ya sudah sekarang istirahat saja, Ma." Raffasya menyuruh istrinya itu untuk cepat beristirahat.
***
" Pa, Papa ..." Azkia menepuk lengan Raffasya yang terlelap di sebelahnya.
" Hmmm ... Ada apa, Ma?" Raffasya langsung terbangun dari tidurnya saat Azkia membangunkannya dengan menepuk dan memanggil namanya.
" Pa, perut aku sakit. Kayaknya aku mau melahirkan deh, Pa." Azkia memang sudah mulai merasakan kontraksi di perutnya.
" Sudah mau melahirkan?" Mendengar Azkia mengatakan akan melahirkan, Raffasya langsung loncat dari tempat tidur dan menghampiri tempat tidur Naufal. Dia langsung menggendong Naufal yang sedang tertidur pulas.
" Papa mau apa bawa Naufal lagi tidur?" Azkia merasa heran karena suaminya itu justru membawa Naufal, bukan membantunya turun dari tempat tidur.
" Papa nggak mau Naufal ketinggalan di rumah sendirian, Ma. Jangan sampai kejadian Papa Yoga yang meninggalkan Alden sendirian di rumah saat Mama Tata ingin melahirkan kamu akan terulang kepada Naufal." Raffasya menyebutkan alasannya kenapa dia langsung mengambil Naufal terlebih dahulu.
***
" Pa, jangan ngebut ...!" Azkia memperingatkan Raffasya yang terlihat mengendarai kendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi karena pria itu ingin segera sampai di rumah sakit.
Ditemani Atun, Raffasya membawa Azkia yang sudah merasakan kontraksi hingga terbangun tengah malam. Sementara Naufal ditinggal berasal Bi Neng dan Uni. Raffasya bahkan sudah menghubungi Lusiana dan meminta Mamanya itu ikut menjaga Naufal. Dia juga sudah menghubungi Natasha dan meminta Natasha untuk datang ke rumah sakit.
" Sudah pembukaan empat. Tapi Ibunya tenang sekali menghadapi persalinan. Sudah pengalaman ya, Bu?" Dokter Selly yang menangani Azkia berkomentar melihat sikap Azkia yang terlihat lebih tenang walaupun sedang mengalami kontraksi. Untuk persalinan kalau ini, Azkia memang tidak didampingi oleh dokter Dessy karena Tante dari Ramadhan itu sedang mempunyai hajat akan menikahkan anaknya besok.
" Ssshhh ... Iya, Dok. Baru saja melahirkan tahun lalu, Dok." sahut Azkia sambil mengelus pinggangnya yang mulai panas.
" Kalau Ibunya kuat, dibawa jalan saja, Bu. Biar cepat pembukaannya." Dokter Selly menyarankan agar Azkia berjalan agar mempermudah persalinannya nanti.
" Apa tidak apa-apa harus berjalan, Dok? Apa tidak membahayakan janin jika terlalu banyak bergerak?" Raffasya justru merasa khawatir jika saran dari membuat Azkia kelelahan.
" Tidak apa-apa kok, Pak. Saat jalan kaki, seluruh otot panggul dan rahim akan menjadi lebih rileks. Kondisi ini akan sangat membantu membuka jalan lahir, sehingga memungkinkan Ibu melahirkan secara normal dan pemulihan pasca-persalinan juga menjadi lebih cepat." Dokter Selly menjelaskan.
" Iya, nggak apa-apa kok, Pa. Sini bantu aku jalan, Pa." Azkia meminta suaminya itu menuntunnya berjalan.
Setelah Azkia mulai berjalan, Dokter Selly meninggalkan mereka berdua sambil menunggu Azkia mengalami pembukaan-pembukaan berikutnya.
" Sssshh ... Astaghfirullahal adzim ..." Azkia berhenti melangkah karena dia merasakan pinggulnya terasa panas dan nyeri.
" Istirahat dulu, Ma. Aku nggak tega lihat kamu kesakitan kayak gini." Melihat Azkia yang sudah mulai mengeluarkan keringat, Raffasya meminta istrinya itu menghentikan aktivitasnya dan beristirahat di ranjang persalinan.
" Nggak apa-apa, Pa. Biar pembukaannya makin cepat dan buat mempercepat melahirkan." Azkia berjalan tertatih dengan mengusap-usap pinggangnya.
" Assalamualaikum, gimana Kia. Sudah pembukaan berapa, Nak?" Natasha yang baru saja tiba bersama Yoga langsung masuk ke dalam rumah persalinan.
" Waalaikumsalam ..." Hanya Raffasya yang menjawab salam yang diucapkan oleh Natasha karena Azkia sedang merasakan sakit yang sangat teramat dahsyat. " Tadi dokter bilang baru masuk pembukaan empat, Ma." Raffasya menjelaskan kepada Mama mertuanya itu.
" Kalau kamu sudah capek, kamu istirahat saja, Kia." Natasha menyuruh Azkia beristirahat.
" Raffa juga tadi sudah menyuruh Almayra beristirahat, Ma. Tapi dia menolak." Raffasya tidak ingin disalahkan Mama mertuanya karena membiarkan Azkia terus kesakitan saat berjalan. Dia menjelaskan jika dirinya sudah melarang Azkia, namun istrinya itu bersikeras ingin tetap berjalan
" Ya sudah, kamu diluar saja dulu sama Papa Yoga, biar Mama yang menemani Kia. Nanti kalau pembukaannya sudah komplit dan sudah siap melahirkan, kamu yang menemani Kia." Natasha tahu menghadapi situasi istri melahirkan, ini adalah hal yang masih baru untuk Raffasya walaupun ini adalah kehamilan kedua Azkia. Karena itu Natasha menyuruh menantunya itu untuk rileks dan mengontrol dengan Yoga.
" Kamu nggak apa-apa aku tinggal?" Raffasya mengusap kening Azkia.
Azkia menganggukkan kepalanya " Tapi jangan jauh-jauh, Pa!" pinta Azkia.
" Hanya mengobrol di depan dengan Papa, Kia." Natasha menegaskan jika Raffasya tidak akan jauh dari ruang persalinan.
" Aku keluar dulu." Raffasya mengecup kening Azkia lalu ke luar dari ruangan bersalin.
" Bagaimana perasaan kamu menghadapi persalinan kedua kamu ini, Kia?" tanya Natasha setelah Raffasya meninggalkan ruangan itu.
" Lebih tenang sih, Ma. Nggak terlalu takut kayak waktu mau melahirkan Naufal dulu. Tapi tetap ada rasa deg-degan juga, sih." Azkia mengungkapkan apa yang dirasakannya saat ini.
" Itu adalah hal yang wajar kok, Nak. Ibu hamil mengalami sedikit nervous saat menjelang persalinan adalah hal yang wajar." Natasha mencoba menenangkan putrinya.
" Ma, doakan persalinan Kia lancar ya, Ma?" Azkia meminta Mamanya untuk mendoakan untuk persalinannya.
" Tentu saja Mama akan doakan, Nak. Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu tanpa harus kamu minta." Seorang ibu pasti akan mendoakan yang terbaik untuk putrinya begitu juga dengan Natasha.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading