
" Ada apa, Dam?" Raffasya melihat Adam yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu namun tertahankan.
" Hmmm, ini, Mas Raffa. Mbak Tuti 'kan rencananya mau resign bulan depan karena mau fokus urus keluarga. Untuk penggantinya saya mau rekomendasikan adik sepupu saya buat mengisi posisi itu. Kalau Mas Raffa berkenan saya mau suruh dia masukan lamarannya kemari." Adam menyampaikan maksudnya kepada Raffasya.
" Apa sepupu lu itu pernah bekerja sebelumnya, Dam?" tanya Raffasya.
" Pernah tiga tahun sebagai kasir bank, Mas. Tapi sekarang masa kontraknya sudah habis," ucap Adam.
" Memang dia mau kerja di sini?" tanya Raffasya karena dia menganggap biasanya orang yang pernah bekerja di bank akan mudah berpindah dari satu bank ke bank lainnya.
" Dia bilang nggak masalah yang penting bisa dapat bekerja lagi, Mas." ujar Adam kemudian.
" Ya sudah suruh kirim saja lamarannya dan suruh menghadap gue secepatnya biar Mbak Tuti bisa mengajari sepupu lu dulu sebelum dia resign." Raffasya menyuruh Adam segera menghubungi sepupunya.
" Baik, Mas Raffa. Nanti saya suruh adik sepupu saya itu untuk kemari hari ini," sahut Adam. " Permisi, Mas." Adam pun kemudian berpamitan dan keluar dari ruangan kerja Raffasya.
Ddrrtt ddrrtt
Raffasya melirik ponselnya yang bergetar dan segera mengambil ponsel itu saat mengetahui Azkia lah yang ingin melakukan panggilan video call dengannya.
" Assalmaualaikum, Ma." sapa Raffasya saat dia mengangkat panggilan teleponnya itu.
" Waalaikumsalam, Papa ..." Walaupun suara Azkia yang terdengar namun wajah Naufal lah yang penuh menghiasi layar ponsel Raffasya.
" Papapaaa ..." Kini Naufal justru yang menyapa Papanya.
" Oh hallo, anak Papa ... ada apa, Nak?" sahut Raffasya. Dia lalu menatap Naufal yang sudah berpakaian rapih sepertinya hendak pergi. " Naufal mau ke mana?" tanya Raffasya. " Mau pergi ke mana, Ma?" Kali ini Raffasya bertanya kepada Azkia.
" Naufal mau main ke butik, Papa." jawab Azkia.
" Ke butik? Memang ada apa?" tanya Raffasya karena Azkia tidak membicarakan rencana kepergiannya ini sebelumnya kepada dirinya.
" Nggak ada apa-apa sih, Pa. Hanya ingin main saja," sahut Azkia.
" Lalu kamu ke sana sama siapa? Aku nggak kasih ijin kamu bawa mobil sendiri ya, Ma!" Raffasya langsung melarang Azkia membawa mobil sendiri.
" Aku sama Pak Mamat kok, Pa. Tadi Maminya Naufal sudah suruh Pak Mamat jemput kemari. Nanti pulang diantar sama Mami sekalian pulang Papa." ujar Azkia menjelaskan kalau dirinya tidak akan membawa mobil sendiri.
" Nanti pulangnya biar aku yang jemput saya, Ma." Raffasya berinisiatif jika dialah yang akan menjemput anak dan istrinya di butik milik Mama mertuanya yang sebenarnya sudah diserahkan kepada Azkia. Namun karena Azkia menikah dan mempunyai anak darinya, wanita muda itu tidak diberi kesempatan olehnya untuk mengelola butik itu.
" Oke, Pa. Papa yang jemput juga nggak apa-apa, kok. Tapi kalau ke butik jangan tebar pesona ke pegawai di sana, ya!" Azkia melarang Raffasya tebar pesona kepada pegawai wanita di butiknya itu. Karena kehadiran Raffasya di sana akan menarik perhatian pegawai wanita di sana.
Raffasya sontak tertawa mendengar ancaman Azkia seraya berucap, " Aku itu dari dulu nggak pernah tebar pesona kok, Ma." sangkalnya.
" Papa itu memang nggak pernah tebar pesona, tapi cewek-ceweknya yang cepat baper. Makanya kalau sama cewek itu yang tegas dan galak kayak ke aku jaman dulu, jadi nggak ada yang kebaperan!" Azkia menyindir.
" Aku sekarang 'kan sudah berubah. Ma. Nggak mau kayak dulu lagi ..." Raffasya terkekeh menimpali ucapan istrinya yang menyuruhnya untuk bersikap ketus terhadap wanita.
" Awas saja kalau Papa berani macam-macam di belakangku!" ancam Azkia kembali.
" Insya Allah, aku nggak akan macam-macam kok, Ma. Malu sama Naufal kalau Papanya berani macam-macam." Raffasya langsung mengalah saat dilihatnya istrinya itu sudah mulai menebar ancaman.
" Mbak, Kia. Pak Mamat sudah datang!" Suara Uni terdengar samar di telinga Raffasya.
" Oke, Mbak. Suruh tunggu sebentar!" Azkia menyahuti perkataan Uni. " Pa, sudah dulu, ya!? Pak Mamat nya sudah sampai. Daaggg Papa, Assalamualaikum ..." Terlihat Azkia melambaikan tangan Naufal karena ingin mengakhiri video call nya.
" Waalaikumsalam ... hati-hati ya, Ma." sahut Raffasya sebelum Azkia mengakhiri teleponnya.
***
" Hai, Dedek Naufal ..." Sapa Wanda saat melihat Azkia menggandeng Naufal berjalan menuju ruangan kerja Natasha. Asisten Alexa Boutique itu lalu berjalan menghampiri Naufal dan menggendong bayi itu.
" Wah, Naufal sudah mau punya adik lagi, ya?" komentar Wanda saat melihat perut Azkia yang sudah mulai membuncit.
" Iya, Mbak Wanda." sahut Azkia.
" Getol nih Mbak Kia produksi anaknya ..." celetuk Wanda terkekeh.
" Iya dong, Mbak. Mumpung masih muda." Azkia menyeringai lalu berjalan masuk ke dalam ruangan Mamanya.
" Assalamualaikum, Mami Tata ..." Azkia mengucapkan salam saat masuk ke dalam ruang kerja Natasha,
" Waalaikumsalam ... Naufal sudah datang, ya?" Natasha bangkit dari duduknya dan menghampiri cucunya yang digendong oleh Wanda. Wanita paruh baya itu mencium pipi cucu pertamanya dan mengambil Naufal dari tangan Wanda.
" Mami kangen banget sama Naufal. Naufal kangen nggak sama Mami?" Natasha mendudukkan Naufal di sofa dan mengajak bicara cucunya itu. Sementara Wanda kembali ke tempatnya.
" Amiii ..." sahut Naufal kemudian berdiri di sofa dan memeluk tubuh Natasha dan mencium pipi neneknya itu
" Cucu Mami sudah pintar ya sekarang?" Natasha senang menanggapi sikap Naufal yang terlihat begitu menyanyanginya.
" Kandungan kamu gimana, Kia? Kemarin sudah periksa ke Tante Dessy?" tanya Natasha menanyakan kondisi bayi di perut Azkia.
" Alhamdulillah janinnya sehat, Ma. Calon cucu Mama ini perempuan ..." Azkia memang belum sempat mengabari Mamanya soal jenis kelamin calon anaknya bersama Raffasya.
" Alhamdulillah, kayak kamu sama kakakmu, ya?" sahut Natasha.
" Iya, Ma. Kayak Kia sama Kak Alden jadinya. Semoga Naufal bisa jadi kakak yang baik untuk adiknya ini." Azkia berharap dengan mengusap perutnya yang membuncit.
" Oh ya, Kia. Bagaimana kabar mertuamu itu? Apa sudah ada perubahan yang signifikan?" tanya Natasha tiba-tiba menanyakan soal mertua dari anaknya itu.
" Kemarin sih Papanya Naufal bilang kalau Papa Fariz sempat tanya soal harapan suamiku terhadap mereka, Ma. Terus Kia belum tahu lagi perkembangan seperti apa? Tapi sepetinya Papa Fariz sudah mulai terbuka pikiran dan hatinya, tinggal tunggu Mama Lusi saja. Ya semoga sih sesuai dengan yang kita harapkan, Ma." harap Azkia.
" Kalau Mama mertuamu itu belum menikah lagi setelah perceraian, kemungkinannya ada dua. Dia trauma atau belum bisa move on. Tapi kalau dibilang trauma, Papa mertuamu itu terlihat baik, bukan tipe pria yang suka menyakiti wanita ..." Natasha berpendapat.
" Kalau begitu mungkin Mama Lusi belum bisa move on dari Papa Fariz kali ya, Ma!?"
" Bisa jadi, mantan suaminya itu baik dan juga ganteng gitu, lho! Nggak mustahil Mbak Lusi itu masih belum bisa melupakan Mas Fariz," ujar Natasha kembali.
" Iiisshh jangan muji-muji besan dong, Ma. Kalau Papa dengar bisa sewot, lho! Mama memuji-muji Papa Fariz." Azkia terkekeh meledek Mamanya.
Natasha tergelak menanggapi ledekan Azkia, biarpun sudah separuh abad, namun memang suaminya itu tidak akan membiarkan dirinya memuji pria lain.
" Papa kamu memang begitu, Kia." sahutnya kemudian.
" Apa semua pria begitu ya, Ma? Papanya Naufal juga begitu, nggak boleh aku memuji cowok lain." ujar Azkia.
" Begitulah resikonya kalau punya suami yang bucin, hahaha ..." Natasha tertawa senang karena bahagia dicintai begitu dalam oleh sang suami. Hal yang sama juga dirasakan oleh anaknya, Azkia yang begitu dicintai oleh Raffasya. Namun kedua wanita ibu dan anak itu tidak menyadari jika mereka pun mempunyai sikap yang sama, tidak suka jika suami-suami mereka dekat atau memuji wanita lain.
***
" Permisi, Mas Raffa. Ini sepupu saya yang saya ceritakan tadi." Adam memperkenalkan adik sepupunya kepada Raffasya.
Raffasya memperhatikan wanita cantik yang terlihat mengerutkan keningnya saat melihatnya.
" Silahkan duduk!" Raffasya mempersilahkan adik sepupu Adam itu untuk duduk. " Siapa namanya?" Raffasya lalu mengambil surat lamaran kerja yang diserahkan oleh Adam.
" Salsa Adelia, Pak." sahut adik sepupu yang bernama Salsa itu.
" Saya dengar dari Adam kamu pernah bekerja di bank. Kenapa nggak mencoba melamar di bank lagi?" tanya Raffasya kemudian.
" Saya mau mencari pekerjaan dengan suasana yang baru, Pak." sahut Salsa.
" Bukannya kerja di bank itu enak, ya? Kelihatannya keren juga daripada kerja di cafe begini," tanya Raffasya.
" Iya itu anggapan kebanyakan orang awam. Mungkin kalau menjadi karyawan tetap sih, memang enak, Pak." jawab Salsa.
Raffasya mendengarkan jawaban Salsa sembari mengecek berkas di dalam amplop coklat milik Salsa. Dari pas foto, fotocopy KTP, surat lamaran, curriculum vitae, fotocopy ijazah referensi kerja sampai Surat Keterangan Catatan Kepolisian. Dan di antara semua arsip milik Salsa, tentu saja yang menarik perhatian Raffasya adalah ijazah Salsa yang berasal dari salah satu SMA Negeri favorit di kota tersebut. Bukan hanya karena SMA favorit namun karena SMA tempat Salsa itu adalah sekolah yang sama dengan istrinya, Azkia. Apalagi tahun kelulusannya pun sama dengan tahun angkatan Azkia.
" Kamu alumnus SMAN xx?" tanya Raffasya dengan kening berkerut.
" Iya, Pak. Apa Bapak juga sekolah di sana?" tanya Salsa saat Raffasya menanyakan tempat dia menuntut ilmu dulu.
" Nggak, saya nggak sekolah di sana," sanggah Raffasya.
" Saya kira Bapak juga pernah sekolah di sana, soalnya saya merasa familiar sama Bapak." Salsa terus memperhatikan wajah tampan Raffasya dan terus berusaha mengingat.
" Saya dulu memang sering ke sana." Raffasya mengulum senyuman mengingat masa-masa dia berusaha pedekate kepada Rayya. Dia sering datang menemui Rayya untuk mengantar gadis itu pulang walaupun tidak pernah berhasil. Dan salah satu penghalang yang selalu menggagalkan keinginannya itu adalah wanita yang saat ini menjadi istrinya.
" Oh, pantas ... mungkin dulu saya pernah lihat Bapak waktu Bapak ke sekolah itu."
" Mungkin ..." ujar Raffasya. " Okelah, kira-kira kapan kamu bisa mulai bekerja? Besok bisa?" tanya Raffasya sepertinya dia sudah mengambil keputusan untuk menerima Salsa.
" Saya siap, Pak." jawab Salsa pasti.
" Ya sudah, nanti Adam akan antar kamu ke tempat yang akan kamu isi. Untuk salary nanti Adam juga akan jelaskan ke kamu." Raffasya memasukan kembali arsip milik Salsa ke dalam amplop dan meletakkan di pinggir mejanya.
" Baik, Pak. Terima kasih." Salsa mengucapkan terima kasih kepada Raffasya karena sudah menerima dia bekerja di cafe milik Raffasya itu.
" Dam, kamu bawa Salsa ke tempatnya Tuti, biar dia bisa mengajarkan Salsa apa-apa saja yang akan dihandle oleh Salsa nantinya." Raffasya menyuruh Adam membawa Salsa ke ruangan Tuti, karyawan Raff cafe yang akan resign.
" Baik, Mas. Permisi ..." Adam pun kemudian berpamitan bersama Salsa keluar dari ruangan kerja Raffasya.
" Kak, aku tuh beneran merasa kayak pernah ketemu sama Pak Raffa, deh!" Saat keluar dari ruangan Raffasya, Salsa masih saja penasaran dengan Raffasya.
" Kan tadi Mas Raffa sudah bilang kalau pernah ke SMA kamu dulu." Adam menanggapi.
" Iya, sih. Tapi kok kayak yang kenal gitu deh, Kak."
" Jangan sok kenal kamu, Sa. Mas Raffa itu sudah punya istri, dan istrinya itu galak ... maksudnya galak itu kalau ada cewek-cewek yang sok kenal sok dekat sama suaminya." Adam memperingatkan Salsa agar jangan merasa sok kenal dengan Raffasya karena dia tahu bagaimana garangnya Azkia jika ada wanita yang berusaha mencari perhatian Raffasya dan dia tidak ingin adik sepupunya itu menjadi korban amukan Azkia.
" Sudah punya istri, ya? Sayang banget ..." Salsa terkikik menutup mulutnya.
Adam menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya dengan tangan berkacak pinggang " Kamu jangan bikin malu Kakak ya, Sa! Kakak sudah berusaha bantu carikan kamu pekerjaan!"
" Siap, Bos!" Salsa langsung memberi hormat kepada Adam layaknya anak buah kepada komandannya sambil menahan senyuman.
***
Azkia menekan tombol di remote televisinya mencari acara yang enak untuk ditonton, sementara Naufal sudah tertidur pulas karena di butik milik Natasha tadi anaknya itu tidak pernah diam selalu saja bergerak hingga membuat bayi itu kecapean.
" Cari acara apa sih, Ma? Dari tadi ganti-ganti terus?" Raffasya mengomentari Azkia yang tidak berhenti menganti-ganti Chanel.
" Cari film yang bagus ..." sahut Azkia.
" Nonton olah raga saja deh, Ma."
" Olah raga apa?"
" Olah raga malam ..." sahut Raffasya seraya terkekeh membuat Azkia memutar bola matanya.
" Oh ya, Ma. Di cafe ada pegawai baru, lho. Cewek, cantik lagi ...."
Azkia seketika menghentikan aktivitasnya dan langsung menoleh ke arah suaminya itu.
" Pegawai cewek? Cantik?" Azkia melotot.
" Iya, buat mengganti pegawai yang akan resign bulan depan."
" Pegawai untuk posisi apa?" selidik Azkia.
" Pembukuan dan Bank,"
" Kenapa harus cewek dan cantik? Apa nggak bisa terkena pegawai cowok saja?!" tanya Azkia bernada curiga.
" Karena dia yang pertama melamar dan kebetulan dia adik sepupu Adam. Dia juga sudah pernah kerja di bank, berpengalaman bekerja jadi apa salahnya aku terima dia kerja di sana." Raffasya memberikan alasan.
" Ini ...ini, nih, yang aku bilang Papa itu terlalu lemah kalau urusan sama cewek apalagi cantik! Jangan hanya karena dia itu saudaranya Pak Adam lalu Papa merasa nggak enak terus main terima-terima saja! Nggak kapok juga sama kasusnya Ratih? Papa mau ada orang yang mau mengganggu rumah tangga kita lagi?" Azkia terlalu insecure. Dia takut akan tumbuh Ratih-Ratih lainnya yang akan mengusik keutuhan rumah tangga mereka.
" Jangan suudzon gitu dong, Ma."
" Pokoknya aku nggak setuju ya, Pa! Besok Papa harus segera keluarkan dia! Kalau Papa nggak begani mengeluarkan biar aku yang mengeluarkan wanita itu!" tegas Azkia tidak ingin ditentang oleh suaminya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
.