
" Kak sudah, dong! Tanganku pegal, nih ..." Azkia memberengut karena sejak tadi Raffasya meminta Azkia untuk memijat kepalanya, sebab sejak semalam rasa pusingnya tak juga hilang.
" Kamu yang sudah bikin aku pusing, May." Raffasya menyandarkan kepalanya di paha Azkia seraya memejamkan mata. Sejak masuk ke dalam kamar, Raffasya meminta istrinya itu untuk memijat pelipisnya.
" Siapa suruh Kak Raffa jadi me sum seperti itu?" Azkia memutar bola matanya karena suaminya justru malah menyalahkannya. Sementara Raffasya langsung membuka mata dan melihat bibir istrinya yang terlihat berkomat-kamit. Dia menduga jika istrinya itu sedang mengumpatnya.
" Kak Raffa lupa kalau pernah bilang, nggak naf su lihat tubuh aku?? Sekarang kenapa malah kepinginnya nempel aku terus, coba??" cibir Azkia.
" Sudah jangan banyak tanya! Tinggal pijat saja, jangan banyak bicara! Cerewet banget!" Raffasya yang disindir Azkia soal perkataannya di masa lalu, menyuruh istrinya untuk tidak banyak berkata-kata.
" Aawww ...!" Raffasya seketika memekik karena Azkia tiba-tiba menarik rambut.
" Kamu apa-apaan sih, May?" Raffasya langsung bangkit dari tidur dan kini terduduk.
" Iiihhh ...!" Kini tangan Azkia memukuli bahu Raffasya. " Pantas saja dulu Kak Raffa menyumpahiku hamil duluan, ternyata Kak Raffa memang berniat menghamili aku, kan?" tuduh Azkia, karena tiba-tiba saja Azkia teringat akan umpatan yang pernah diucapkan oleh Raffasya terhadap dirinya saat dia masih duduk di bangku SMA.
" Ternyata Kak Raffa memang punya cita-cita bikin aku hamil, iya, kan?!" tuduh Azkia lagi seraya berkacak pinggang.
" Ngawur! Mana mungkin aku punya cita-cita hamilin orang! Kamu sendiri tahu alasannya kenapa kamu bisa sampai hamil! Atau, kamu lebih rela hamil dari dua orang pria yang ingin memper kosa kamu, gitu??" ketus Raffasya.
" Iiiihhh ..." Kembali Azkia memukul bahu Raffasya. " Mana mungkin aku ingin hamil dari pria-pria jahat! Kalaupun aku harus hamil, aku lebih rela hamil anak dari Kak Gibran!"
Raffasya menatap dengan sorot mata menghunus tajam. Dia tidak suka dengan ucapan Azkia yang menyinggung soal Gibran.
" Kamu mesti ingat posisi kamu sekarang ini, May! Meskipun dia lelaki yang kamu cintai, tapi akulah yang menjadi suamimu sekarang ini!" tegas Raffasya memperingatkan Azkia agar tidak memikirkan pria lain karena status wanita itu adalah istrinya.
" Kak Raffa juga mesti ingat kalau pernikahan kita itu bukan didasari karena cinta! Kalau aku nggak hamil anak Kak Raffa, nggak mungkin Kak Raffa jadi suami aku, dan aku masih bersama Kak Gibran sampai saat ini!" Azkia membalas ucapan suaminya.
Raffasya yang kesal mendengar Azkia langsung mendorong tubuh Azkia hingga terhempas di atas tempat tidur.
" Oke, baiklah ... aku akan membuat nama Gibran hilang di hati dan pikiran kamu!" Raffasya langsung mengurung tubuh Azkia. Raffasya tidak muna fik, walaupun baru sekali dia merasakan tubuh Azkia seutuhnya, rasanya dia seperti ketagihan ingin selalu mengulang kembali kejadian saat itu. Apalagi mengingat istrinya masih saja mengingat akan mantan kekasihnya.
Raffasya mencium paksa bibir Azkia, bahkan tangannya dengan kasar meremas dua bongkahan kenyal milik Azkia, hingga membuat Azkia berontak ingin melepaskan diri dari Raffasya. Karena bukan rasa nikmat yang didapat oleh Azkia, melainkan rasa sakit. Tangan Azkia bahkan memukul dan mencubit tubuh Raffasya namun hal itu tidak mampu menghentikan aksi Raffasya yang terus menyentuh tubuh Azkia tidak dengan kelembutan.
Tangan Raffasya bahkan mengoyak pakaian Azkia secara kasar dan melepas kain yang menutupi bagian inti Azkia.
" Aaakkkhh ...! Aku nggak mau diper kosa!!" teriak Azkia histeris.
Raffasya kembali membekap mulut Azkia yang tidak bisa diam.
.
" Kalau kamu nggak melawan, aku akan melakukannya dengan pelan. Percayalah, ini aman ..." bisik Raffasya di telinga Azkia diakhiri dengan menggigit lembut cuping telinga yang dilanjutkan menyentuh ceruk leher Azkia, membuat tubuh istrinya menggeliat karena di daerah itu merupakan salah satu titik sensitif Azkia hingga menghadirkan kembali gelenyar aneh itu.
Raffasya mengusap perut Azkia dan mengecupnya lalu berucap, " Papa janji nggak akan menyakiti kamu, Nak." Setelah itu Raffasya membuka paha Azkia hingga dia bisa melihat dengan jelas pusat kenikmatan dunia. Raffasya pun menurunkan celananya dan segera memposisikan dirinya untuk memasuki pusat kenikmatan itu. Setelah membaca doa terlebih dahulu Raffasya perlahan akhirnya melakukan penyatuan dengan Azkia membuat Azkia mengerang.
" Aaakkhh ... sakiiitt! Nanti kena bayinya, Kak!"
" Sssttt ... kamu tenang saja jangan berisik." Raffasya meminta agar Azkia tidak banyak protes hingga dia bisa melaksanakan aksinya dengan tuntas tanpa menyakiti ibu dan bayinya. Dan Raffasya pun bergerak perlahan.
" Tapi ini sakit, Kak." Azkia terus saja merintis kesakitan.
Raffasya mengerakkan amunisinya secara perlahan, karena sebelumnya dia sudah mencari informasi dan dia yakin apa yang dia lakukan pasti aman. Hingga beberapa saat dia melihat Azkia yang mulai tenang tidak lagi mengeluh,
Azkia memejamkan matanya, dia mencoba menahan diri untuk tidak terbuai dengan semua permainkan yang dilakukan sang suami. Jujur yang dia rasakan saat ini, rasa sakit itu perlahan semakin memudar, hingga rasa memabukkan itu yang melanda dirinya. Bahkan kini dia membuka bibirnya yang sedari tadi mengatup dan mengeluarkan suara de sahan.
Azkia membuka matanya dan melihat wajah suaminya yang kini sedang menatapnya lekat hingga mereka berdua saling pandang dengan pusat mereka yang masih menyatu. Dia kembali memejamkan matanya saat wajah Raffasya semakin mendekat ke wajahnya hingga akhirnya bibir Raffasya menyentuh bibirnya dengan penuh kelembutan
" Apa masih terasa sakit?" tanya Raffasya kemudian yang ditanggapi dengan gelengan kepala Azkia.
Mendapati jawaban dari bahasa tubuh Azkia, Raffasya kini menyentuhkan bibirnya ke seluruh wajah dan leher Azkia, membuat istrinya semakin melayang merasakan rasa nikmat akibat sentuhan demi sentuhan suaminya itu.
Setelah beberapa saat dan hampir mencapai *******, Raffasya langsung menarik miliknya dan mengeluarkan cairan di luar inti Azkia, karena dia masih merasa khawatir akan menyakiti darah dagingnya.
Raffasya membersihkan sisa percintaan dari tubuh Azkia. Dia pun menghapus peluh di wajah Azkia dengan tangannya.
" Terima kasih ..." ucap Raffasya seraya mengecup kening Azkia. Kemudian menjatuhkan tubuhnya di sebelah tubuh istrinya berbaring untuk mengistirahat tubuh mereka beberapa saat sebelum membersihkan diri.
" Kamu mau ke mana?" tanya Raffasya saat Azkia bangkit dari posisi tidurnya.
" Aku mau mandi ..." Azkia menutupi tubuh dengan selimut.
" Kamu kuat jalan sampai kamar mandi? Mau aku gendong?" Raffasya pun kemudian memakai boxernya kembali.
" Nggak usah, aku bisa sendiri." Azkia menolak, padahal tubuhnya terasa lelah. Dia kemudian melangkah perlahan menuju kamar mandi. Sedangkan Raffasya kemudian merapihkan tempat tidur yang berantakan karena permainan yang telah dia lakukan bersama sang istri.
***
Azkia duduk santai di atas ayunan rattan di teras balkon kamar Raffasya. Dia masih membayangkan aktivitas in tim yang akhirnya terulang lagi pagi tadi. Azkia mengerjapkan matanya jika harus mengingat bagaimana penyatuan mereka tadi selepas sarapan pagi. Dan anehnya lambat laun dia justru menikmati sentuhan suaminya yang sanggup memabukkan dirinya.
" Aaahhh, kenapa aku jadi membayangkan hal itu, sih?" Azkia menepuk kepalanya karena dia masih membayangkan saja kejadian tadi bersama Raffasya.
" Hmmm, Kak Raffa kenapa jadi begitu banget, ya? Padahal dulu itu galak, nggak perduli sama aku. Tapi kenapa malah jadi begini? Me sum lagi ..." Azkia merasa aneh dengan perubahan sikap Raffasya yang lebih care dan posesif terhadapnya. Dia lalu menurunkan pandangan ke arah perutnya dan mengusap perutnya itu.
" Pasti Kak Raffa berubah karena bayi ini. Kalau aku nggak hamil, nggak mungkin akan bersikap seperti sekarang ini." Azkia beranggapan sikap Raffasya hanya karena dia sedang mengandung darah daging Raffasya. Hal itu membuat Azkia mengerucutkan bibirnya.
Ddrrtt ddrrtt
Azkia melirik ke arah ponsel yang ada di tepi dia duduk. Terlihat nama Mamanya lah yang muncul di layar ponselnya itu.
" Assalamualaikum, Ma ..." Azkia mengangkat panggilan video dari Natasha.
" Waalaikumsalam, Kia. Kamu apa kabar?" tanya Natasha membalas ucapan salam Azkia.
" Alhamdulillah Kia baik, Ma." sahut Azkia.
" Sedang apa kamu di sana? Masih suka mual-mual nggak, Nak?" tanya Natasha kemudian.
" Masih, Ma. Tapi kadang-kadang saja. Kia sedang duduk santai di balkon kamar, Ma." Azkia memperlihatkan sitiasi seputar balkon kamar Raffasya kepada Natasha dari ponselnya.
" Iya, Ma. Selalu Kia minum, kok."
" Ya sudah kalau begitu. Oh ya, apa kamu betah tinggal di sana, Kia? Apa Raffa mengurus kamu dengan baik?" Natasha merasa penasaran dengan sikap Raffasya kepada putrinya, Apakah bersikap baik atau mengacuhkan putrinya itu.
" Hmmm, di sini sepi, Ma. Enak di rumah, ramai."
" Jadi kamu di sana sama siapa saja?"
" Sama Nenek, Bi Neng sama satu ART lagi."
" Raffa di mana?"
" Dia ke cafe, Ma. Ma, Kia ingin ke butik, urus butik lagi tapi Kak Raffa melarang," ucap Azkia mengadukan sikap Raffasya yang tidak mengijinkannya mengurus butik kembali.
" Iya mungkin karena sekarang ini kamu sedang hamil muda jadi Raffasya nggak mengijinkan kamu, Kia." Natasha memaklumi keputusan Raffasya, karena saat hamil, Yoga juga melarangnya mengurus butik miliknya itu.
" Tapi 'kan Kia bosan di rumah terus, Ma."
" Kamu main ke sini kalau bosan."
" Ah iya, aku main ke sana saja ya sekarang." Azkia nampak antusias disarankan Mamanya untuk ke rumah orang tuanya itu.
" Tapi kamu mesti ijin dulu sama Raffa," ucap Natasha.
" Aaahh, nanti malah nggak dibolehin main ke sana kalau Kak Raffa tahu." Azkia mencebikkan bibirnya.
" Masa nggak boleh?"
" Hmmm, Mama nggak tahu saja kalau Kak Raffa itu sekarang banyak aturan."
" Banyak aturan bagaimana maksudnya?"
" Iya banyak aturan, nggak boleh begini, nggak boleh begitu, harus nurut ini harus nurut itu ..." Azkia mengeluhkan sikap suaminya.
" Ya memang itu sudah hal yang wajar, kan? Istri itu memang harus menurut apa yang diperintahkan suami." Untuk hal ini, Natasha pun masih mengerti larangan yang dilakukan oleh Raffasya dirasanya hal yang lumrah.
" Tapi tuh nyebelin, Ma. Sudah maunya nempel-nempel lagi," gerutu Azkia.
" Nempel-nempel?" Natasha terlihat membulatkan matanya mendengar cerita Azkia tentang menantunya itu.
" Iya, Ma. Kak Raffa itu minta hubungan terus sama Kia. Nyebelin banget, kan?
" Kalian sudah berhubungan badan lagi?"
Kali ini Azkia yang terbelalak karena dia sedang membuka rahasia yang seharusnya tidak diketahui Mamanya itu.
" I-iya, Ma. Tadi pagi ..." Azkia menggigit bibirnya karena merasa malu hingga membuat wajahnya tanpak sadar bersemu merah.
" Ya ampun, pantas leher kamu merah-merah begitu."
" Hahh? Memang kelihatan, Ma?" Azkia terkejut saat Natasha mengatakan ada tanda merah di lehernya.
" Iya, memang kelihatan. Coba saja kamu bercermin."
" Ya ampun ..." Azkia langsung menutupi lehernya karena malu.
" Kenapa ditutupi? Mama sudah biasa mengalami hal itu. Lagipula kamu ini kayak bukan sama Mama sendiri saja, Kia." Natasha terkekeh karena melihat sikap malu-malu putrinya.
" Oh ya, bagaimana sikap Raffa terhadap kamu, Kia? Dia baik, kan?" tanya Natasha masih penasaran.
" Iya baik, sih. Tapi ya gitu ...."
" Mungkin Raffa melarang kamu itu karena dia takut bayi kalian itu kenapa-kenapa. Selama untuk kebaikan kamu nggak ada salahnya mendengarkan Raffa. Mama rasa Raffa ini sekarang banyak berubah, kok." Natasha menyampaikan pendapatnya.
" Iya memang berubah, tadinya garang sekarang me sum!" celetuk Azkia spontan.
Natasha terlihat menaikkan alisnya mendengar umpatan putrinya kepada menantunya itu. Dia seakan teringat bagaimana awal pernikahannya dulu dengan suaminya. Mungkin apa yang dialami Azkia tidak beda jauh dengan apa yang dialaminya saat muda dulu.
" Kalau Mama menduga, Raffa itu sudah mulai sayang sama kamu, Kia."
" Hahh?? Sayang aku, Ma? Nggak mungkinlah, Ma. Kak Raffa itu sukanya sama Rayya bukan sama Kia." Azkia menepis anggapan Mamanya yang mengatakan jika Raffasya sudah mulai menyanyanginya. Dia sendiri masih percaya jika apa yang dilakukan oleh Raffasya hanya karena bayi yang dikandungnya.
" Oh ya soal Rayya. Minggu depan Rayya dan Rama akan bertunangan. Nanti kamu sama Raffa bisa datang 'kan, Kia?"
" Acaranya di mana, Ma? Di hotel Uncle Gavin?"
" Acaranya di rumah saja, karena waktunya hampir berdekatan sama acara pertunangan Rama sama mantanya yang gagal. Jadi acara pertunangan nanti sederhana saja, nggak ada acara yang mewah." Natasha menjelaskan
" Oh ... Rayya enak ya, Ma. Akhirnya bisa bertunangan dengan Kak Rama, orang yang sejak lama dicintai Rayya. Aku malah nikah sama pria yang menyebalkan." Azkia langsung memasang wajah memberengut.
" Namanya takdir, siapa yang tahu, Nak? Kita tidak bisa memilih akan berjodoh dengan siapapun, walaupun kita mati-matian mempertahankannya. Semua itu sudah diatur sama yang Kuasa. Tinggal jika jalani sebaik mungkin, dan mensyukuri apa yang kita dapat sekarang ini. Raffa sudah berniat baik mau bertanggung jawab dengan menikahi kamu. Kamu juga harus menghargai itu."
" Dulu Mama juga waktu menikah dengan Papamu pernah berpikiran seperti kamu. Kenapa harus mempunyai suami pria yang tidak kita inginkan. Pria yang tidak kita cinta. Namun seiring berjalannya waktu, lambat laun rasa cinta itu tumbuh dengan sendirinya."
" Kamu ingat kita pernah bercerita. Papamu ada setiap Mama berada dalam situasi yang sulit. Dan sepertinya sekarang ini kamu pun mengalami apa yang Mama alami, Raffa selalu ada disaat kamu membutuhkan pertolongan. Mama hanya berharap Raffa bisa menjadi seperti Papamu, dan rumah tangga kamu dan Raffa bisa awet seperti rumah tangga Papa dan Mama." Natasha melambungkan harapannya tinggi-tinggi.
*
*
Bersambung
Happy Reading❤️
.