
Sekitar jam empat sore Azkia dan Atika keluar dari apartemen Chelsea. Kedua sahabat itu terus membahas apa yang tadi mereka lihat di acara bridal shower teman kuliah mereka itu.
" Gue nggak bakalan lagi mau datang di acara-acara seperti itu, Tik. Jijik banget gue lihat begituan ditonton rame-rame!" Azkia menggerutu saat mereka berjalan ke arah basement.
" Sebenarnya nggak semua acara bridal shower pakai putar video seperti itu sih, Az. Cuma lu tahu sendiri, karena calon mempelainya senang begituan ya jadi begitulah ..." Atika terkekeh menanggapi protes yang dilancarkan oleh Azkia.
" Gendeng memang itu si Chelsea!" umpat Azkia seraya menghampiri mobilnya. " Gue duluan ya, Tik!" Azkia membuka pintu mobilnya.
" Oke, Az. Hati-hati, ya! Awas jangan melamun gara-gara terbayang adegan yang tadi ditonton! Jangan ikut dipraktekkan sama Gibran sebelum halal ya, Az!" Atika tergelak seraya menggoda Azkia.
" Nggak akan, Tik! Bisa-bisa gue digantung sama orang tua gue kalau sampai kejadian begitu! Assalamualaikum ..." Azkia masih sempat menyahuti sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobilnya dan Azkia pun langsung keluar dari gedung apartemen milik Chelsea.
Ddrrtt ddrrtt
Azkia menepikan mobilnya saat dia mendengar ponselnya berbunyi ketika dia sudah berada di jalan raya. Azkia segera merogoh tasnya untuk mengambil benda pipih itu yang kembali berbunyi. Azkia melihat nomer yang tidak dia kenal di layar ponselnya itu.
" Assalamualaikum ..." sapa Azkia saat dia mengangkat panggilan telepon tersebut.
" Waalaikumsalam, benar ini dengan nomernya Mbak Azkia?" suara wanita terdengar di telinga Azkia.
" Iya, benar. Maaf ini dengan siapa, ya?" tanya Azkia kemudian karena dia merasa asing dengan suara orang yang meneleponnya itu.
" Oh perkenalkan saya Melanie, Mbak Azkia. Saya ini punya usaha konveksi, dan saya ingin mengajak kerjasama Mbak Azkia untuk bisa membantu memasarkan pakaian-pakaian yang saya produksi, Mbak." Orang yang mengaku bernama Melanie itu menjelaskan tujuannya menghubungi Azkia.
" Oh begitu, hmmm ... Mbak Melanie sendiri usaha konveksinya di daerah mana, ya?" tanya Azkia kemudian.
" Saya kebetulan di daerah Bandung, Mbak."
" Oke-oke, tapi untuk bisa masuk Alexa Butique, maksud saya kalau Mbak Melanie ingin saya bantu pasarkan produk Mbak Melanie di Alexa Butique, kualitasnya harus benar-benar diperhatikan lho, Mbak. Dari model, pemilihan bahan, kancing dan kerapihan jahitan. Karena selama ini produk yang dijual di butik kami harga minimalnya seharga lima ratus ribu rupiah. Tentu saja dengan harga minimum segitu konsumen kami harus mendapatkan produk yang benar-benar high quality." Azkia menjelaskan.
" Oh begitu ya, Mbak. Gimana kalau Mbak Azkia datang ke tempat konveksi kami di sini biar Mbak Azkia bisa lihat sendiri bagaimana kualitas produk konveksi kami?"
" Hmmm, gini saja deh, Mbak. Usaha Mbak Melanie ini 'kan di Bandung. Bagaimana kalau Mbak Melanie datang saja ke outlet kami yang di Bandung sekalian bawa beberapa contoh baju yang dibuat oleh konveksi Mbak Melanie. Nanti Mbak Melanie bisa ketemu sama yang pegang outlet di sana namanya Teh Wulan. Nanti Mbak Melanie bilang saja ke Teh Wulan kalau Mbak sudah konfirmasi ke saya dan saya suruh datang ke sana."
" Tapi saya ingin bertemu dengan Mbak Azkia langsung, biar lebih enak ngobrolnya antara sesama owner, Mbak. Maaf ya Mbak Azkia, bukan saya tidak yakin dengan karyawan-karyawan Mbak Azkia. Tapi saya lebih sreg kalau bicara langsung sama pemiliknya." Melani bersikukuh ingin bertemu dengan Azkia.
" Wah, kalau Mbak Melanie bilang ingin bertemu dengan pemiliknya, sebenarnya bukan saya juga yang punya Alexa Butique, Mbak. Itu bisnis punya Mama saya, dan saya hanya mengelola satu cabang outletnya di Jakarta. Posisi saya sama saja dengan Teh Wulan di Bandung.
" Tapi Mbak Azkia ini 'kan anaknya pemilik butik, setidaknya Mbak punya wewenang lebih, Mbak."
" Oke deh, gini saja ... kapan Mbak Melanie ingin bertemu dengan saya? Karena saya ada kuliah, jadi nggak bisa kalau hari-hari biasa kecuali weekend."
" Ya sudah, bagaimana kalau weekend saja, Mbak?"
" Oke deh, nanti saya atur jadwalnya."
" Ya sudah kalau begitu, sampai bertemu ya, Mbak Azkia. Semoga kita bisa bekerjasama."
" Semoga saja, Mbak Melanie."
" Ya sudah, saya tutup dulu teleponnya, terima kasih banyak untuk waktunya, Mbak. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
Azkia lalu mematikan ponselnya dan lalu melanjutkan mengendarai mobil ke arah butiknya
***
" Siang, Mas Raffa ..." sapa Benita salah satu staff di Raff FM saat melihat kedatangan Raffasya.
" Siang ..." Raffasya membalas sapaan dari pegawainya itu.
" Mas, tadi ada tamu datang ke sini mencari Mas Raffa," Benita menginformasikan kepada Raffasya soal tamu yang tadi datang ke Raff FM.
" Tamu? Siapa?"
" Tadi sih bilang namanya Mas Harlan, Mas." sahut Benita.
" Harlan? Kok nggak ada yang kasih tahu ke saya kalau ada yang mencari saya?" tanya Raffasya bernada serius.
" Tadi sih rencananya kita mau kabari Mas Raffa tapi orang itu bilang nggak usah, dia cuma mampir saja ke sini." Benita yang takut akan kena marah Raffasya langsung menjelaskan.
" Ya sudah ..." Raffasya lalu masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi orang yang tadi berkunjung ke Raff FM.
" Selamat siang, Bos. Ada di mana lu sekarang? Anak buah gue bilang katanya tadi lu kemari. Lu nggak kasih kabar gue dulu kalau lu mau ke sini, jadi gue bisa lebih awal datang ke sini nya," ujar Raffasya saat panggilan teleponnya tersambung dengan Harlan.
" Gue lagi jalan balik ke Bandung, Raf. Tadi kebetulan mampir saja sekalian ngopi-ngopi dikit. Bisnis lu lumayan juga kelihatannya, Raf." sahut Harlan.
" Ya lumayanlah buat nyambung hidup." Raffasya terkekeh.
" Gue kepingin juga bangun cafe bareng stasiun radio model gitu di Bandung, Raf." ucap Harlan menyampaikan minatnya membuat usaha seperti milik Raffasya.
" Ya lu tinggal bikinlah, duit lu 'kan banyak."
" Hahaha, itu yang desain lu sendiri?" tanya Harlan.
" Gue sama teman gue yang arsitek."
" Kalau gue bikin model gitu pakai nama Raff FM juga boleh nggak, Raf? Secara di Jakarta radio lu 'kan sudah terkenal. Gue punya bangunan kosong bekas toko onderdil bokap gue dulu, nih. Lagi bingung mau dibikin usaha apa?"
" Boleh saja asal lu kasih royalty lah ke gue." Raffasya tergelak.
" Boleh, asal jangan mahal-mahal, harga teman." Harlan ikutan tertawa.
" Gampang diatur itu."
" Jadi kira-kira kapan lu sama teman lu bisa ke Bandung buat lihat lokasinya?" tanya Harlan.
" Eh, lu serius mau bangun kayak punya gue, nih?"
" Seriuslah, Raf. Mumpung gue ada duit. Gue tuh lagi bingung mau bikin usaha apa? dan gue tertarik bikin usaha kayak lu punya."
" Ya sudah gue tanya teman gue dulu, kapan kira-kira bisa cek ke lokasi."
" Oke deh, kalau gitu gue tutup dulu teleponnya. Kabari gue secepatnya."
" Oke." Raffasya lalu mengakhiri percakapan telepon dengan Harlan. Dan dia lalu menghubungi Dimas, teman arsiteknya.
" Halo, Bang. Sorry gue ganggu nggak, nih?" tanya Raffasya setelah panggilan telepon selanjutnya berbunyi.
" Ada apa, Raf? Nggak, kok. Gue lagi nggak sibuk." Dimas menyahuti pertanyaan Raffasya.
" Begini, Bang. Teman gue di Bandung minat bikin Raff FM di Bandung. Rencananya mau pakai jasa Bang Dimas lagi. Bang Dimas bisa bantu nggak? Kira-kira punya waktu kapan buat cek lokasi di sana?" Raffasya menjelaskan tentang niat temannya itu.
" Oh bisa-bisa, Raf. Gimana kalau akhir pekan ini saja ke Bandung nya?" tanya Dimas.
" Boleh, Bang. Nanti gue kabari teman gue kalau weekend kita bisa meluncur ke Bandung."
" Oke, Raf. Thanks ya, Raf."
" Sama-sama, Bang. Sedang sibuk garap apa sekarang, Bang?" tanya Raffasya berbasa-basi sebentar.
" Baru selesai bikin proyek karaoke family punya nya anggota DPR, Raf."
" Lancar terus ya, Bang?"
" Alhamdulillah, Raf.
" Ya sudah kalau gitu gue tutup dulu ya, Bang. Mau kasih tahu teman gue, kapan kita bisa ke Bandung. Thanks ya, Bang.*
" Oke, Raf."
Raffasya pun kemudian mengakhiri perbincangan via telepon dengan Dimas dan segera mengirimkan pesan kepada Harlan tentang rencana untuk meninjau lokasi yang akan dibangun cafe dan stasiun Radio di daerah Bandung.
***
" Ma ..." Azkia menyembulkan kepalanya di pintu kamar Natasha saat Natasha sedang dimassage di kamarnya.
" Ada apa, Kia?" Natasha yang sedang berposisi telungkup langsung menolehkan wajahnya saat Azkia memanggil namanya.
" Mbak aku juga mau dong dipijat kayak Mama." Bukannya langsung menjawab pertanyaan Natasha, Azkia malah berbicara pada Mbak pijat langganan Natasha.
" Boleh, nanti setelah Ibu selesai ya, Non Kia." sahut Mbak pijat.
" Ada apa, Kia?" Natasha kembali mengulang pertanyaannya.
" Mesti lihat barangnya dulu, Kia. Kita nggak bisa asal masuk-masukin barang ke butik kita. Jangan sampai kita nanti dikomplen sama konsumen kita." Natasha memperingatkan.
" Iya, Kia juga bilang seperti itu ke orangnya kalau kualitas harus diperhatikan. Dan orang itu minta ketemu Kia untuk lihat langsung produk mereka di Bandung. Gimana, Ma?" tanya Azkia kemudian.
" Boleh saja, selama hanya sekedar membantu memasarkan, tidak lebih!" Natasha sepertinya masih trauma dengan pengalamannya saat masih muda dulu, ketika dia bekerja sama dan akhirnya harus berurusan dengan Agatha.
" Kapan Kia mau ke Bandung nya? Nanti mampir ke rumah Nenek kalau kamu ke Bandung, Kia." ujar Natasha meminta anaknya itu untuk mampir ke rumah Mama Nabilla.
" Iya, Ma. Kia juga kangen sama Nenek. Mama masih lama nggak pijatnya, Mbak?" tanya Azkia kepada Mbak pijat.
" Masih sejam lagi!" Natasha yang menyahuti.
" Perasaan Mama sudah dari tadi deh dipijatnya." Azkia menoleh ke arah jam dinding. " Kok nggak selesai-selesai?"
" Iya Mama kalau pijat bisa dua sampai tiga jam," sahut Natasha.
" Lama banget sih, Ma." protes Azkia.
" Ibu kalau belum sampai tertidur nggak akan minta berhenti dipijatnya, Non." Mbak pijat menimpali.
" Tuh dengar, makanya kamu sana keluar! Kalau Kia ajak Mama mengobrol terus, nggak akan selesai pijatnya." Natasha menyuruh Azkia untuk keluar dari kamarnya.
" Iiihh, curang banget deh, Mama." Azkia pun kemudian berjalan keluar ke kamar Natasha dengan mengerucutkan bibirnya.
***
Azkia menempelkan benda pipih alat komunikasi ke telinganya. Dia sedang menghubungi Gibran. Karena Gibran hari Sabtu libur kerja, Azkia berencana mengajak kekasihnya itu untuk menemaninya menemui Melanie Sabtu ini di Bandung.
" Assalamualaikum, ada apa, Yank?" sapa Gibran saat panggilan telepon Azkia terhubung dengan kekasihnya itu.
" Waalaikumsalam ... Kak Gibran hari Sabtu bisa temani Kia ke Bandung, kan?" sahut Azkia saat mendengar suara kekasihnya itu.
" Ke Bandung? Ada acara apa, Yank? Mau ke rumah Nenek?" tanya Gibran kemudian.
" Pulangnya nanti kita mampir ke rumah Nenek. Aku mau ketemu sama orang yang mau suplai barang ke butik," sahut Azkia.
" Kita malmingan di Bandung nih ceritanya? Atau mau menginap di Bandung?" Gibran terkekeh.
" PP lah, Kak. Ketemu juga sebentar, kok." tepis Azkia. " Jadi Kak Gibran bisa temani Kia, kan?" tanya Azkia kembali.
" Bisa, dong! Untuk pacarku tersayang pasti bisa, dong!"
" Iiihh, gombal, deh!"
Terdengar suara tawa Gibran menanggapi ucapan Azkia.
" Oh ya, tadi gimana acara bridal shower temanmu itu? Jadi nggak sabar ingin bikin bridal shower sendiri nggak?" ledek Gibran.
" Nggak ih, amit-amit bikin acara begitu, Kak!" Azkia langsung menepis dugaan Gibran jika dia juga ingin mengadakan acara seperti itu.
" Lho, memangnya kenapa? Banyak cewek-cewek jaman now yang mengadakan acara seperti itu apalagi di kalangan sosialita."
" Bukan acaranya sih, Kak. Cuma aku nggak sreg saja, apalagi tadi pakai setel film bo kep segala."
" Hahh?? Apa, Yank?" Gibran terkejut saat mendengar Azkia mengatakan sesuatu tentang film yang tidak selayaknya ditonton.
" Eh, aku keceplosan." Azkia spontan menutup mulutnya saat dia menyadari telah mengatakan soal film yang dia tonton karena terpaksa.
" Kamu nonton film begituan?" Gibran tertawa saat mendengar Azkia dengan polosnya menceritakan kejadian di acara bridal shower Chelsea tadi.
" Ya terpaksa, orang Chelsea tiba-tiba putar video begituan."
" Tapi kamu lihat, kan?" Gibran terkekeh, dia sengaja menggoda Azkia.
" Ya lihat, sih. Tapi sedikit, kok! Nonton film begituan malu sendiri aku, Kak." ucap Azkia malu-malu.
" Berarti sekarang kamu sudah tahu gaya-gaya nya kalau nanti kita nikah dong, Yank." Gibran kembali menggoda Azkia.
" Sudah ah, Kak! Nggak usah bahas itu lagi, deh!"
" Nanti kalau malam pertama pas kita nikah, kamu praktekin gaya yang kamu lihat di film itu ya, Yank!"
" Kak Gibran!!" Azkia meninggikan volume suaranya hingga terdengar menyentak meminta agar kekasihnya itu berhenti membahas soal film yang dia tonton di acara milik Chelsea tadi. Sementara Gibran masih terus tertawa senang karena berhasil menggoda kekasihnya itu.
Sedangkan di kamarnya, Raffasya yang baru saja pulang dari cafe segera mengangkat panggilan telepon masuk saat ponselnya berbunyi.
" Halo, gimana, Bang?" sahut Raffasya saat menjawab panggilan masuk dari Dimas.
" Raf, nanti kita ketemu di Bandung saja. Soalnya gue rencana mau ajak liburan keluarga ke Lembang, jadi gue dari Jumat sudah ada di Bandung. Nanti lu kirim saja alamatnya, Raf." Dimas memberitahukan.
" Oh oke, Bang. Family time ya, Bang?"
" Iya, Raf. Beginilah kalau sudah berkeluarga. Nanti lu bisa merasakan kalau lu sudah berkeluarga, Raf."
" Iya, Bang."
" Lu kapan rencana married, Raf? Kelihatannya adem-adem saja nih, nggak pergerakan. Nggak pernah dengar lu dekat sama cewek juga."
" Masih mencari, Bang."
" Apalagi yang lu cari, Raf? Tampang oke, bisnis lu lancar, keuangan mapan. Gue rasa nggak sulit buat lu dapetin cewek. Apa lagi yang lu tunggu, Raf?"
" Belum ada lagi yang nempel di hati, Bang." Raffasya terkekeh menjawab pertanyaan Dimas.
" Jangan terlalu pilih-pilihlah, Raf. Kalau ada yang mau serius sudah langsung saja bawa ke KUA."
" Iya, Bang."
" Okelah, Raf. Gue cuma kasih tahu itu saja. Sampai jumpa di Bandung, Raf."
" Oke, Bang." Setelah mengakhiri percakapannya dengan Dimas, Raffasya pun kemudian berjalan menuju arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
***
Azkia memperhatikan bangunan cafe di depannya sebelum dia keluar dari dalam mobilnya. Pagi ini Azkia berangkat ke Bandung tanpa didampingi Gibran, karena Gibran Jumat siang kemarin harus terbang ke Jambi setelah pria itu mendapatkan kabar jika salah seorang sepupunya meninggal dunia.
Azkia lalu menghubungi nomer Melanie, karena wanita itu meminta bertemu dengan Azkia di sebuah cafe.
" Assalamualaikum, Mbak Melanie. Mbak saya sudah sampai di cafe yang Mbak Melanie maksud. Tapi sepertinya cafe nya belum buka deh, masih sepi begini. Mbak Melanie ada di mana ya sekarang?"
" Waalaiakumsalam, Oh Mbak Azkia sesudah sampai, ya? Silahkan masuk saja dulu, Mbak. Kebetulang cafe itu milik teman saya. Mbak bilang saja sama pelayan di sana kalau Mbak Azkia sedang menunggu dan ada janji dengan saya di cafe itu." sahut Melanie menjawab telepon dari Azkia.
" Oke deh, Mbak. Assalamualaikum ..." Azkia ingin mengakhiri panggilan teleponnya itu.
" Waalaikumsalam."
Setelah Melanie menjawab salam dari Azkia, Azkia mematikan sambungan teleponnya dengan mendengus kasar.
Sebenarnya dia merasa kesal karena Melanie tidak tepat waktu sesuai dengan jam yang dijanjikan mereka bertemu. Dia yang datang dari Jakarta saja bisa datang lebih awal, justru Melanie yang berada di kota itu malah tidak datang tepat waktu.
" Belum apa-apa sudah mengecewakan begini. Gimana nanti kalau sudah jadi bekerjasama. Orang ngaret begini nggak akan bisa kepakai kalau kerja sama Mama." gerutu Azkia seraya turun dari mobilnya dan berjalan ke arah pintu masuk cafe yang masih bertuliskan. Sorry, we'are closed .
Azkia mencoba mengintip ke arah dalam cafe. Dia melihat beberapa pekerja cafe di dalam bangunan itu. Sepertinya mereka sedang mempersiapkan cafe sebelum buka jam sepuluh nanti. Azkia lalu mengetuk pintu itu hingga membuat salah satu pegawai cafe itu mendekat ke arah pintu dan membukanya.
" Maaf, Mbak. Kami belum buka." ucap pegawai itu.
" Hmmm, saya bisa ikut menunggu di dalam, Mbak? Saya sedang menunggu Mbak Melanie. Katanya saya suruh bilang ke pegawai di sini. Mbak Melanie itu bilangnya teman dari pemilik cafe ini." Azkia menceritakan yang sebenarnya.
" Oh sebentar nanti saya tanyakan dulu ya, Mbak. Silahkan duduk di sini saja dulu, Mbak." Pegawai itu lalu menarik kursi di teras cafe dan mempersilahkan Azkia untuk duduk menunggu di sana.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
.