
Azkia mendengarkan dengan serius apa yang diceritakan oleh Raffasya di kantor Lusiana. Dia nampak terharu saat suaminya itu mengatakan jika Lusiana sampai menangis tersedu saat Raffasya mencurahkan perasaannya terhadap kedua orang tuanya itu.
" Kalau aku ada di sana, aku juga pasti akan ikutan nangis deh, Pa." Azkia menyandarkan kepalanya di bahu Raffasya.
" Kamu memang cengeng, sudah pasti akan menangis, Ma." Raffasya meledek Azkia.
" Enak saja ngatain aku cengeng!" Azkia mencubit lengan sang suami sebagai bentuk protes karena suaminya itu menyebutnya cengeng, membuat Raffasya langsung tergelak.
" Mama Lusi itu pernah bilang ke aku, kalau Mama itu kecewa karena Papa Fariz menikah lagi nggak lama setelah Papa dan Mama berpisah lho, Pa." Azkia memang belum pernah menceritakan apa yang dipendam Lusiana selama ini kepada suaminya.
" Oh ya?" Raffasya terlihat kaget mendengar penuturan Azkia. " Kapan Mama cerita itu? Kok aku nggak tahu, Ma?" tanya Raffasya serius.
" Beberapa waktu lalu waktu aku tanya kenapa Mama Lusi seperti susah banget membuka hati kembali untuk Papa Fariz, Mama mengira kalau cinta Papa Fariz itu palsu kepada Mama Lusi." Azkia menceritakan obrolannya saat itu dengan Mama mertuanya.
" Apa kita harus kasih tahu Papa tentang perasaan Mama yang sebenarnya ya, Pa? Biar Papa Fariz lebih memperhatikan Mama Lusi. Aku yakin kalau Papa memperhatikan Mama, Mama pasti akan cepat luluh." Azkia berpendapat.
" Nggak usahlah, Ma. Mamaku sepertinya sudah mulai bisa menerima apa yang ditawarkan Papaku." Raffasya merasa tidak perlu memberitahukan soal perasaan cemburu Lusiana kepada Fariz.
" Sekarang kita biarkan mereka yang bekerja, dan untukmu, Ma. Kamu harus fokus sama kehamilan kamu ini. Perut kamu sudah mulai membesar, jangan memikirkan hal lain selain bayi di perutmu ini." Raffasya meminta istrinya tidak lagi memusingkan pikirannya dengan mencari-cari cara untuk mendekatkan kembali Lusiana dan Fariz
" Fokus sama bayi di perutku dan nggak boleh memikirkan hal yang lain, termasuk nggak usah mikirin Papa juga, ya?" Azkia tesenyum mengusap rahang tegas sang suami.
" Aku nggak usah dipikirkan karena aku sudah terpatri di sini." Raffasya menyentuh ke dada Azkia.
" Me sum banget sih, Pa. Pakai pegang-pegang dadaku segala," sindir Azkia.
" Yang me sum itu otak Mama ini, deh! Papa itu 'kan sedang menunjuk hati Mama, me sumnya di mana?" Raffasya menyangkal tuduhan Azkia.
" Ini pegang dada pasti nanti ujung-ujungnya geser ke kanan dan ke kiri," cibir Azkia kembali.
Mendengar ucapan Azkia, Raffasya langsung menjatuhkan tubuh istrinya itu di atas sofa tempat mereka tadi duduk bersama.
" Bilang saja Mama minta dime sumin sama Papa!" Raffasya langsung mencium bibir Azkia dengan penuh ga irah.
" Pa, ada Naufal, iiihh ...!" Azkia mendorong tubuh suaminya agar menjauh karena dia tidak ingin suaminya itu bertindak lebih jauh di hadapan anak mereka.
***
Lusiana menatap ponselnya, dia terlihat ragu ingin menghubungi seseorang. Beberapa kali dia mencari nomer Fariz, dia ingin menghubungi mantan suaminya itu namun tak lama dia mengurungkan kembali niatnya. Dan itu terjadi berulang-ulang. Hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk menghubungi nomer telepon Fariz.
" Assalamualaikum ... Lusi, ada apa? Apa Oca baik-baik saja?" Suara Fariz langsung terdengar di telinga Lusiana saat panggilan teleponnya terhubung dengan pria itu.
" Rosa baik-baik saja," sahut Lusiana.
" Syukurlah kalau Oca baik-baik saja. Lalu ada apa kamu meneleponku, Lusi?" tanya Fariz kembali.
Lusiana mendengus mendengar pertanyaan Fariz, seolah Fariz tidak pernah menemuinya untuk membicarakan soal rujuk.
" Untuk apa Mas Fariz sampai menyuruh Raffa bicara denganku? Apa Mas Fariz merasa tidak mampu mempengaruhiku lalu menyuruh Raffa yang maju?" tuding Lusiana mengira Fariz lah yang menyuruh Raffasya menemuinya.
" Siapa yang menyuruh Raffa? Aku nggak pernah menyuruh dia untuk menemuimu. Dia sendiri yang mempunyai inisiatif untuk berbicara denganmu. Memangnya apa yang dikatakan Raffa sampai kamu menuduhku seperti itu, Lusi?" sanggah Fariz atas tuduhan Lusiana.
Lusiana diam tak langsung menjawab pertanyaan Fariz. Sebenarnya dia adalah seorang wanita yang pandai berdebat dan tindak ingin kalah dalam perdebatan, namun beberapa waktu belakangan, dia selalu kalah jika diajak berdebat oleh menantu dan mantan suaminya itu.
" Sebenarnya apa yang dikatakan Raffa, Lusi? Apa Raffa mengatakan apa yang dia harapkan terhadap kita berdua? Lalu apa tanggapanmu? Apa kamu masih berkeras hati mengabaikan keinginan anakmu satu-satunya itu?" tanya Fariz kembali
" Aku kesal dengan Mas Fariz!" Lusiana menahan untuk tidak menangis saat mengatakan hal itu padahal saat ini dadanya sudah bergemuruh. Entah mengapa dia tiba-tiba menjadi melankolis seperti sekarang ini.
Tentu saja apa yang diucapkan oleh Lusiana membuat Fariz terkejut hingga dia bertanya, " Kau kesal denganku? Karena apa?"
Namun bukan jawaban yang Fariz dapatkan namun isak tangis Lusiana yang terdengar di telinga Fariz.
" Hei, kenapa kamu menangis, Lusi? Apa Raffa mengatakan sesuatu yang menyakiti hatimu?" Tentu saja Fariz kaget mendengar Lusiana menangis.
" Hei, kamu harus tenang, ada apa? Ada masalah apa?" tanya Fariz kembali karena Lusiana masih saja menangis.
" Oke, oke ... aku video call kamu sekarang ya, Lus. Kamu cerita apa yang membuat kamu menangis seperti ini?" Fariz sampai ingin mengganti panggilan menjadi video call karena Lusiana tidak juga berhenti menangis.
" Nggak usah, aku nggak apa-apa!" Mendengar Fariz akan melakukan video call membuat Lusiana akhirnya bersuara.
" Kamu yakin nggak apa-apa?" tanya Fariz khawatir.
" Iya, aku nggak apa-apa. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum ..." Lusiana langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dalam dari Fariz.
Setelah hubungan teleponnya terputus, Lusiana langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dan meneruskan isak tangisnya.
Seperempat jam kemudian Lusiana mendengar suara ketukan pintu kamarnya.
" Siapa?" tanya Lusiana segera bangkit dari tempat tidur dan menyeka air matanya.
" Ini Rosa, Tante ..." Ternyata suara Rosa yang terdengar dari luar pintu kamar Lusiana.
" Ada apa, Rosa?" tanya Lusi tanpa membuka pintun kamarnya.
" Tante, apa Tante baik-baik saja? Apa Rosa boleh masuk ke kamar Tante?"
Lusiana tidak tahu jika setelah dia menutup panggilan teleponnya, Fariz segera menghubungi Rosa dan meminta Rosa untuk mengecek ke kamar Lusiana dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Lusiana.
" Tante baik-baik saja, Rosa!" Lusiana tentu tidak ingin Rosa mengetahui keadaannya sekarang ini.
" Tante, apa Rosa bisa masuk sebentar ke kamar Tante?" Namun Rosa tidak mudah percaya begitu saja atas apa yang diucapkan oleh Lusiana.
" Tante, tolong buka pintunya dulu. Rosa ingin memastikan kalau Tante baik-baik saja." Rosa memaksa Lusiana membukakan pintu untuknya.
Akhirnya pintu kamar Lusiana terbuka secara perlahan setelah berkali-kali Rosa membujuk mantan istri Papanya itu.
" Tante, Tante kenapa? Tante habis menangis?" Rosa mendapati mata sembab Lusiana dan dia langsung menyentuh lengan kedua Lusiana. " Tante sakit? Atau Tante ada masalah? Kenapa Tante menangis?" tanya Rosa penasaran.
" Nggak, Rosa! Tante nggak menangis, ini tadi hanya kemasukan debu saja jadi merah." Lusiana mencoba menyangkal jika dirinya baru saja menangis.
" Tante, kalau Tante ada masalah, Tante bisa cerita sama Rosa. Rosa ada di sini bukan hanya untuk menumpang saja, tapi Rosa ingin menemani Tante. Jadi jika sesuatu hal yang mengganjal di hati Tante, Tante bisa curhat sama Rosa. Itu mungkin akan meringankan apa yang sedang Tante rasakan."
Lusiana menatap anak gadis suaminya itu. Dia sungguh sangat terharu dengan ketulusan hati wanita muda itu. Dia benar-benar merasa seperti diperhatikan oleh anaknya sendiri. Hingga tanpa dia sadari kini tangannya menyentuh dan mengusap wajah Rosa membuat Rosa terkesiap.
" Tante nggak apa-apa kok, Rosa. Kamu nggak usah khawatir ..." Suara Lusiana begitu lembut terdengar di telinga Rosa.
Rosa seketika tertegun mendapatkan sikap Lusiana saat ini. Dia lalu tersenyum dan menggenggam tangan Lusiana.
" Tante, aku sudah menganggap Tante seperti Mama aku sendiri. Rosa ingin Tante tidak sungkan terhadap Rosa."
Lusiana kembali tersenyum, dia lalu membawa Rosa ke arah sofa hingga mereka duduk saling berdampingan.
" Rosa, apa kamu rela Papamu menikah lagi dengan Tante?" Lusiana memberanikan diri bertanya tentang hal itu kepada Rosa.
" Teman-teman Rosa di kampus yang dulu banyak yang suka sama Papa apalagi setelah tahu kalau Papa itu sudah berstatus duda. Rosa nggak ingin punya Ibu tiri yang seumuran Rosa, atau Ibu tiri yang nggak benar-benar tulus mencintai Papa. Karena itu Rosa lebih setuju jika Papa kembali dengan Tante saja," sambungnya kemudian.
Lusiana terkesiap mendengar banyak wanita yang siap menerima Fariz, tentu saja dia tidak ingin Fariz jatuh ke tangan wanita lain untuk kedua kalinya hingga dia harus bisa mengalahkan egonya dan menerima Fariz kembali.
" Terima kasih, Rosa. Kamu benar-benar sangat dewasa. Almarhumah Mamamu pasti akan sangat bahagia mempunyai anak sepertimu." Lusiana merangkulkan tangannya di pundak Rosa membuat Rosa akhirnya ikut melingkarkan tangannya ke tubuh Lusiana.
" Rosa juga pasti akan senang mendapatkan Ibu sambung seperti Tante Lusi."
" Mulai saat ini, kamu jangan panggil Tante lagi, ya!? Kamu panggil seperti Raffa dan Kia memanggil Mama." Lusiana sepertinya sudah berdamai dengan hatinya dan meminta Rosa mengganti panggilan terhadapnya.
Rosa tersenyum senang, sepertinya harapan Kakak dan Kakak iparnya sebentar lagi akan terwujud.
" Iya, Ma. Mama juga sekarang panggilnya Oca saja seperti yang lain, ya!?" Rosa juga meminta Lusiana mengganti panggilan untuknya.
" Baiklah, Oca."
" Ya sudah, sekarang Mama istirahat, sudah malam. Selamat malam, Ma. Selamat beristirahat ..." Rosa bangkit ingin meninggalkan kamar Lusiana dan menyuruh Lusiana beristirahat.
" Iya, Ca. Kamu juga cepat tidur, ya!" Lusiana mengusap kepala Rosa yang langsung dibalas dengan anggukan kepala Rosa sebelum keluar dari kamar Lusiana.
***
Apa? Kamu serius, Ca?"
Raffasya memperhatikan istrinya yang sedang menerima panggilan telepon dari Rosa saat dia sedang melipat lengan kemejanya.
Pagi ini Rosa memang mengabarkan tentang keputusan yang diambil Mama dari Raffasya itu kepada Azkia.
" Serius kamu, Ca? Alhamdulillah ..." Azkia sampai bersorak hingga melompat.
" Ma, hati-hati! Jangan meloncat-loncat!" Raffasya langsung menegur istrinya saat melihat istrinya itu bersorak kegirangan.
" Eh, iya, Pa. Ini Oca bilang kalau Mama Lusi sudah bersedia menerima Papa Fariz. Bahkan sekarang Mama menyuruh Oca untuk memanggil Mama dengan panggilan Mama bukan Tante lagi, Pa." Azkia menyampaikan berita yang disampaikan Rosa dengan gembira.
" Iya, tapi jangan melompat-lompat seperti itu, Ma. Bisa membahayakan dedek bayi di perutmu ini." Raffasya menyentuhkan tangannya ke perut istrinya itu.
Azkia menyeringai dan melanjutkan obrolannya dengan Rosa. " Aku senang dengar berita ini, Ca. Alhamdulillah rencana kita akan segera berhasil dengan baik."
" Iya, Kak. Oca juga nggak menyangka secepat itu Mama Lusi bisa luluh," sahut Rosa.
" Secepat itu? Sudah setahun lebih aku merencanakan ini, Ca. Lama juga, dong!" protes Azkia mendengar Rosa mengatakan jika Lusiana luluh dan mau menerima Fariz kembali hanya dalam waktu singkat.
" Oh, iya, Oca lupa kalau Kak Kia sudah merencanakan sejak lama." Terdengar suara kekehan Rosa diakhir kalimatnya.
" Kita harus merayakan hal ini, Ca. Nanti kalau Papa datang, kita ajak makan malam Papa dan Mama bersama ya, Ca!? Makan malam keluarga kita. Papa, Mama, Papanya Naufal, aku sama kamu." Azkia bahkan sudah merencanakan malam bersama untuk merayakan keberhasilan rencananya itu.
" Naufalnya memang ditinggal, nggak diajak, Kak?" tanya Rosa polos.
" Hahaha, diajak kok, Ca. Naufal kan cucu pertama Papa Mama, masa ditinggalin?"
" Hihihi, iya, Kak. Ya sudah, Kak. Aku mau mandi dulu mau siap-siap ke kampus," ujar Rosa.
" Oke, Ca. Ini Kakakmu juga sebentar lagi jalan ke sana, kok." sahut Azkia menoleh ke arah Raffasya.
" Oke, Kak. Assalamualaikum ..." pamit Rosa.
" Waalaikumsalam ..." Azkia membalas sebelum menutup teleponnya. Dia lalu berjalan ke arah suaminya itu dan melingkarkan tangannya di pinggang sang suami serta merebahkan kepalanya di dada Raffasya dan menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh suaminya.
" Aku bahagia, Pa. Akhirnya impian kita untuk menyatukan Papa Fariz dan Mama Lusi akan terealisasi dalam waktu dekat," ucap Azkia tanpa mendongakkan kepala ke arah suaminya.
" Ini pasti karena Papa bicara langsung sama Mama Lusi jadi Mama Lusi mau membuka hatinya." Azkia tiba-tiba menarik tubuhnya dari pelukan Raffasya dan menatap wajah suaminya dengan wajah memberengut.
" Kenapa nggak dari dulu Papa bicara sama Mama Lusi? Jadi kita nggak harus menunggu selama ini buat menyatukan mereka berdua," keluh Azkia
" Semua ini bukan karena aku tapi karena ide kamu, Ma. Kalau kamu nggak bersikeras, aku juga pesimis sebenarnya Papa sama Mamaku bisa bersatu kembali." Raffasya merasa semua itu berkat dorongan Azkia hingga dia akhirnya tergerak untuk turun tangan. " Tapi yang pasti ini adalah rencana Allah yang melibatkan kita berdua di dalamnya," lanjutnya.
" Bertiga lah, Pa. Memang Oca nggak dihitung?" protes Azkia.
" Iya, berempat, berlima malah. Naufal dan adiknya." Raffasya terkekeh seraya mengelus perut Azkia kembali. " Ya sudah, kita sarapan dulu, yuk!" Raffasya lalu mengajak istrinya itu untuk sarapan pagi sebelum dia menjemput Rosa untuk berangkat ke kampusnya.
***
Gibran hendak kembali ke kantornya setelah dia menemui seorang klien di kantor dia bekerja. Gibran lalu meperlambat laju mobilnya saat dia melewati kampus tempat dia kuliah. Kampus yang banyak menyimpan kenangan karena dia dulu sering menjemput mantan kekasihnya itu pulang kuliah.
Gibran menghela nafas panjang. Sudah berjalan dua tahun namun dia masih belum bisa melupakan tentang cinta lamanya itu. Gibran kembali menormalkan laju mobilnya seperti semula hingga dia hampir melewati pintu gerbang kampus. Namun matanya mendapati sosok wanita yang beberapa waktu lalu hampir dia tabrak.
Gibran lalu menghentikan mobilnya tetap di hadapan Rosa yang sedang berdiri di trotoar. Dia juga lalu membuka kaca jendela mobilnya.
" Hai, mau pulang?" sapa Gibran kepada Rosa.
" Eh, Kakak?" Rosa yang melihat sebuah mobil berhenti di hadapannya, lalu sebuah sapaan saat jendela terbuka langsung mengenali Gibran.
" Mau pulang? Mau saya antar?" tanya Gibran kemudian.
" Hmmm, nggak usah, Kak. Kakakku sedang menjemput kemari, kok." Rosa menolak dengan sopan tawaran Gibran itu.
" Oh, ya sudah ... tapi sebelum Kakak kamu datang kamu harus hati-hati, jangan sampai kejadian seperti kemarin lagi." Gibran menasehati Rosa agar selalu waspada.
" Iya, Kak." Rosa mengangguk. " Kakak mau ke kantor, ya?" Rosa tidak menyangka jika dia akan bertemu lagi dengan Gibran.
" Iya, mau kembali ke kantor, tadi habis ketemu klien." Gibran menjelaskan.
" Oh, ya sudah ... silahkan kalau Kakak mau kembali ke kantor." Rosa mempersilahkan Gibran yang akan kembali ke kantornya.
" Oke, kalau gitu. Saya tinggal, ya!?" Gibran kembali menyalakan mesin mobilnya.
" Iya, Kak."
Gibran pun kemudian meninggalkan Rosa yang sedang menunggu kedatangan Raffasya yang akan menjemputnya. Dia lalu menoleh dari kaca spion sosok Rosa yang masih mengarahkan pandangan ke arah mobilnya yang menjauh dari wanita itu. Seulas senyuman langsung mengembang di sudut bibir mantan kekasih Azkia itu.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️