MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Rencana Ke Jambi



" Kamu kenapa wajahnya ditekut seperti itu?" tanya Gibran yang mendapati kekasihnya itu tak menampakkan wajah cerianya.


" Kak Gibran tahu siapa yang ada di butik tadi?" tanya Azkia seolah melayangkan suatu tebak-tebakan kepada Gibran.


" Siapa memangnya?" tanya Gibran membalas pertanyaan Azkia.


" Teman Kak Gibran," sahut Azkia.


" Temanku? Siapa? Raffa?"


Azkia langsung mendelik saat Gibran menyebutkan nama Raffasya.


" Kenapa sebut nama orang itu, sih?!" Azkia bersungut-sungut saat nama Raffasya disebut oleh Gibran.


" Hehe ... memangnya teman aku siapa?" Gibran terkekeh melihat Azkia semakin memberengut.


" Teman SMA Kakak yang pernah ketemu dulu." Azkia menjelaskan siapa yang dia maksud dengan teman dari Gibran.


" Oh ... Shendy?" Gibran langsung mengenali orang yang dimaksud Azkia. " Kok kamu nggak kasih tahu kalau ada Shendy di butik kamu tadi?"


" Memangnya kenapa? Mau ketemu gitu?!" Azkia sudah memasang wajah galaknya.


" Nggak ada salahnya 'kan kalau ketemu? Dia teman aku waktu SMA." Gibran sengaja menggoda kekasihnya itu.


" Kalau teman itu mestinya Kak Gibran ingat siapa sama dia! Buktinya waktu pertama ketemu Kak Gibran malah nggak ingat siapa perempuan itu. Bisa saja dia hanya mengaku sebagai teman Kak Gibran," tuding Azkia.


" Kamu mau tahu alasan aku nggak ingat siapa dia?"


Azkia langsung menoleh ke arah Gibran saat pria itu bertanya padanya, walau dia tidak menjawab dengan pertanyaan 'Kenapa?' Namun Gibran sudah pasti memahami jika Azkia menginginkan jawaban darinya.


" Karena aku itu ingatnya cuma sama kamu seorang, Sayang." ucap Gibran seraya mengulum senyuman seraya mengusap kepala Azkia.


" Gombal ...!" celetuk Azkia cepat.


" Kok gombal, sih? Aku bicara serius, lho! Sejak kecil saat kamu tolong aku dulu, wanita yang selalu aku ingat itu hanya Almayra, Almayra dan Almayra ...."


Wajah Azkia langsung bersemu dengan tersipu malu di bibirnya mendengar Gibran mengatakan hal itu. Tentu saja hatinya merasa bahagia, karena dia memang yakin jika Gibran memang mengatakan hal itu dengan sejujurnya.


" Oh ya, Yank. Ngomong-ngomong soal teman SMA, kemarin aku dihubungi temanku, katanya SMA aku dulu sekolah mau mengadakan temu kangen sesama alumnus angkatanku." Gibran teringat akan rencana reuni kecil tempat dia sekolah di Jambi.


" Kapan acaranya?"


" Minggu depan."


" Di mana? Di Jambi?"


" Iya, dong! Aku sekolah 'kan di sana. Kamu ikut, ya?"


" Ikut, dong! Kalau nggak ikut, nanti Kakak bakal reunian sama cewek-cewek yang suka sama Kak Gibran jaman sekolah dulu dan akan berbuntut selingkuh. Aku nggak mau ya, Kak Gibran sampai begitu!" gertak Azkia posesif.


" Haha ... nggak mungkin dong aku selingkuh! Kalau aku niat selingkuh atau berpaling kepada wanita lain, aku nggak akan sabar nunggu kamu sebesar sekarang ini." Gibran yang memang menyimpan rasa kagum kepada Azkia sejak kecil sudah menumbuhkan rasa suka kepada gadis kecil pemberani yang telah menolongnya dulu atas perundungan yang dilakukan Raffasya kepadanya.


***


" Mas Raffa, ada tamu yang mencari." Adam, salah seorang karyawan di Raff FM, stasiun radio anak muda dan juga cafe miliknya, memberitahukan tentang kedatangan seseorang yang mencari Raffasya.


" Siapa, Dam?" tanya Raffasya yang sedang duduk bersandar punggung ke sandaran kursi kerjanya dengan kaki selonjor ke atas meja dan paha memangku laptop.


" Cewek, Mas. Namanya Gladys." sahut Adam kembali.


Raffasya berdecak mengetahui siapa yang menemuinya saat ini.


" Lu bilang saja gue sedang ada tamu, Dam! Dan lain waktu jika ada wanita itu datang kemari lagi, langsung saja bilang kalau gue tidak ada di tempat!" tegas Raffasya yang tidak menyukai dengan kehadiran Gladys di tempatnya.


" Baik, Mas Raffa." sahut Adam.


" Memangnya siapa yang tidak ada di tempat?"


Raffasya langsung tersentak saat Gladys sudah masuk ke dalam ruangannya.


" Berani sekali lu masuk tanpa ijin ke ruangan gue!" geram Raffasya kesal karena mengganggap Gladys sudah tidak sopan memasuki ruang privacy nya.


" Memangnya kenapa sih, Raf? Cuma ingin bertemu saja memangnya nggak boleh?" Gladys dengan tanpa canggung langsung duduk di sofa ruang kerja Raffasya.


" Maaf, Mas Raffa. Saya nggak tahu kalau Mbak ini ikut masuk ke sini." Adam merasa bersalah karena tamu yang tidak diinginkan Raffasya malah nyelonong masuk ke dalam ruang Raffasya.


" It's Ok, lu boleh keluar." Raffasya menyuruh Adam meninggalkan ruangannya.


" Lu mau apa lagi, sih?" tanya Raffasya kesal kepada Gladys.


" Aku itu mau ajakin kamu datang ke acara reuni teman SMA aku di Jambi."


" Jangan harap gue akan ikut dengan lu!" tegas Raffasya.


" Raf, kali ini saja penuhi permintaanku. Aku beberapa kali berharap tapi kamu selalu saja menolak." Gladys kini berjalan mendekati Raffasya lalu dia melingkarkan tangannya di leher pria itu membuat Raffasya tersentak kaget.


" Jaga sikapmu, Gladys! Lu ini cewek, nggak pantas lu bersikap seperti ini terhadap cowok!" Raffasya dengan cepat mengurai tangan Gladys yang melingkar di lehernya. Dan setelah itu berjalan ke arah pintu. " Pekerjaan gue masih banyak, jadi tolong lu segera tinggalkan ruangan ini!" usir Raffasya kemudian, membuat Gladys berdecak dengan kaki menghentak sebelum meninggalkan ruangan Raffasya dengan wajah memberengut.


***


" Ke Jambi?" Natasha menyahuti dengan cepat.


" Iya."


" Sama siapa saja kamu akan ke Jambi? Berapa lama?" tanya Natasha kemudian.


" Kia sama Kak Gibran saja, kemungkinan Kia akan menginap satu atau dua malam, Ma." sahut Azkia.


" Menginap? Semalam dua malam? Dengan Gibran?" Natasha langsung membulatkan bola matanya.


" Ya nggak sekamarlah, Ma." tepis Azkia menanggapi kekhawatiran Natasha.


" Mas ..." Natasha langsung menoleh ke arah suaminya.


" Gibran memang sudah minta ijin ke Papa soal hal itu." Yoga yang sudah mendapat konfirmasi dari Gibran lebih tenang menyingkapi hal itu.


" Jadi Papa ijinkan Kia ke sana, kan?" Azkia terlihat antusias saat mengetahui jika Gibran sudah meminta ijin lebih dahulu kepada Papanya.


" Iya, Papa juga sudah bicara dengan Papanya Gibran. Mereka berharap kamu bisa datang karena mereka ingin bertemu dengan kamu." Yoga menjelaskan soal keinginan kedua orang tua Gibran.


" Yess, makasih, Pa." Azkia langsung bersorak karena dia diijinkan Papanya untuk ikut ke Jambi bersama Gibran.


***


" Mas, apa Mas nggak khawatir Kia ikut ke Jambi? Dia 'kan anak gadis, pergi jauh ke luar pulau dengan pria dan menginap. Aku takut terjadi sesuatu dengan Kia lho, Mas." Natasha terlihat belum tenang dengan keputusan Yoga.


" Kita sudah mengenal orang tua Gibran, kita juga kenal Gibran itu pria yang baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Yank." Yoga terlihat lebih santai.


" Tapi tetap nggak pantas saja, Mas. Kalau orang-orang tahu anak kita pergi-pergian dengan laki-laki, pasti akan beranggapan negatif, deh." Natasha mencebikkan bibirnya.


" Kia bersama orang yang tepat, kamu jangan khawatirlah." Yoga melingkarkan lengannya di pinggang Natasha.


" Mas kok bisa tenang banget sih menghadapinya?" Natasha merasa heran karena melihat Yoga nampak santai dan tidak mempermasalahkan kepergian Azkia dengan Gibran.


" Gibran dengan aku sudah dekat sekali, Yank. Gibran banyak cerita dan bertukar pikiran denganku. Dia mengajak Azkia ke sana, selain untuk hadir di acara reunian juga dia ingin mengenalkan Azkia ke keluarga besar dia di Jambi sebagai calon istrinya. Dan orang tua Gibran juga sudah meminta aku untuk mengijinkan Kia dibawa ke Jambi. Aku rasa nggak ada salahnya Gibran melakukan itu." Yoga menjelaskan alasan kenapa dia memperbolehkan Azkia ikut bersama Gibran.


" Sudah tenang sekarang?" tanya Yoga seraya mencium pundak Natasha. " Setidaknya sebelum menikah, keluarga besar Gibran tahu dan mengenal wanita yang akan menikah dengan Gibran. Jangan sampai kejadian seperti aku dulu terjadi." Yoga kemudian mengurai pelukannya namun dia menggenggam tangan Natasha mengajaknya berjalan dan dia duduk di tepi tempat tidur lalu mengarahkan tubuh Natasha di pangkuannya.


" Jangan seperti kejadian Mas dulu memangnya kenapa?" kening Natasha berkerut.


" Orang tuaku langsung syok saat aku mengenalkan kamu ke Papih dan Mamih sebagai istri, padahal baru pertama kali mengajak kamu ke rumah orang tuaku, kan?"


Natasha terkekeh mengenang masa lalunya bersama sang suami tercintanya. " Iya, aku masih ingat waktu Mamih langsung marah dan nggak mau terima aku sebagai istri Mas, kan?"


" Tapi untungnya suamiku ini benar-benar suami idaman banget." Natasha melingkarkan lengannya memeluk Yoga dan menenggelamkan kepalanya di bahu sang suaminya. Karena suaminya itu bisa meredam kemarahan Mamih Ellena yang awalnya menolak kehadirannya sebagai menantu Atmajaya.


***


Azkia berlari memasuki restoran Raff cafe FM, karena dia berjanji dengan temannya di cafe tersebut. Dia lalu mengedar pandangan ke seluruh sudut bangunan cafe itu, namun dia tak mendapati temannya itu di sana.


" Tik, lu di mana?" Azkia segera menghubungi temannya saat dia tak mendapati temannya ada di ruangan lantai dasar cafe.


" Gue di atas, Az ... lu naik saja ke sini." Atika, teman Azkia menjawab panggilan telepon dari Azkia.


" Oke ..." Azkia langsung mematikan panggilan teleponnya setelah dia mendapat jawaban dari temannya itu.


Azkia lalu berjalan menaiki anak tangga menuju lantai atas, namun pandangannya tertuju pada sosok pria yang sedang menuruni anak tangga yang serius dengan ponsel di tangannya. Sepertinya pria yang tak lain adalah Raffasya tidak menyadari keberadaan dirinya di sana saat itu.


Azkia memalingkan wajahnya berharap Raffasya tidak melihatnya dan tetap sibuk dengan ponselnya itu, hingga jarak mereka menipis dan ingin saling melewati satu sama lain. Namun karena mereka sama-sama tidak konsentrasi pada anak tangga yang mereka jejaki hingga lengan Raffasya menyenggol bahu Azkia dan membuat Azkia hilang keseimbangan.


" Aakkkhh ...."


" Oh, maaf-maaf ..." Raffasya yang menyadari jika dia baru saja menabrak orang secara refleks melingkarkan lengannya mencoba melindungi dan menahan tubuh orang yang dia tabrak agar tidak terjatuh dan berguling ke bawah. Sementara Azkia juga tanpa sadar melingkarkan tangannya ke leher Raffasya untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


Sontak apa yang terjadi di tangga mencuri perhatian orang-orang yang sedang berada di cafe itu.


" Kamu nggak apa-apa?" tanya Raffasya kepada wanita yang saat ini ada dalam pelukannya dan dia tidak menyadari jika tubuh yang dipeluknya itu adalah milik Azkia.


" Kak Raffa gimana, sih?! Kalau jalan lihat-lihat, dong! Masa badan sebesar ini main tabrak-tabrak saja!" Azkia yang merasa dirinya hampir celaka langsung mengomeli Raffasya.


" Lu? Ngapain lu di sini?" Raffasya yang menyadari jika yang dia tabrak adalah Azkia langsung terbelalak tanpa melepaskan pelukannya kepada tubuh Azkia.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️