
Azkia membantu melipat lengan kemeja gingham berwarna navy berpadu dengan putih yang dikenakan Raffasya. Sedikit demi sedikit dia belajar bagaimana melayani suaminya itu dengan baik.
" Aku ikut ke cafe ya, Kak!? Aku nggak betah berjauhan terlalu lama dengan Kak Raffa." Azkia membujuk Raffasya agar mengijinkannya ikut ke cafe milik suaminya itu.
" Kamu jangan ke mana-mana, May. Sebaiknya di rumah saja. Kelahiran kamu tinggal menunggu waktu, aku nggak mau tiba-tiba kamu kontraksi di mobil atau di cafe, bisa bikin panik aku nantinya." Raffasya melarang keinginan Azkia yang ingin ikut dengannya.
" Tapi aku ingin menemani Kak Raffa." Azkia kini memeluk tubuh Raffasya walaupun terhalang dengan baby bump nya.
" Tapi kesehatan kamu lebih penting, May. Aku nggak ingin kamu kelelahan." Raffasya memberi pengertian agar Azkia tidak terus memintanya ikut ke cafe.
" Aku hanya menemani, Kak. Nggak ikut bekerja." Azkia tetap berharap Raffasya memberinya ijin untuk ikut ke cafe.
" Nurut sama suami dong, May! Jangan membantah terus!" Raffasya tetap menolak, membuat Azkia langsung merenggangkan pelukannya.
" Aku akan pulang cepat." Ucap Raffasya sebelum pelukan Azkia terlepas di tubuhnya, " Selepas Ashar aku akan pulang." Raffasya memilih mempersingkat waktu di cafenya demi membuat istrinya itu tidak terus merajuk.
" Habis Dzuhur, jam makan siang saja, Kak." Azkia pun menawar.
" Kok jadi tawar menawar kayak pedagang dan pembeli saja." Raffasya tertawa kecil menyadari dirinya dan istrinya sedang tawar menawar waktu kerja.
" Deal, ya? Jam makan siang Kak Raffa harus pulang ke sini!" Azkia langsung memutuskan tak memperdulikan sanggahan yang akan dilancarkan oleh Raffasya.
Raffasya mende sah menanggapi permintaan istrinya yang wajib dilaksanakan olehnya.
" Baiklah ..." Dia pun terpaksa menyetujui apa yang diputuskan oleh Azkia.
" Ya sudah, aku berangkat sekarang. Kamu nggak usah antar aku ke bawah." Raffasya mengecup kening Azkia beberapa saat lalu membenamkan kecupan di bibir istrinya itu. Assalamualaikum ..." pamit Raffasya.
" Waalaikumsalam, aku antar sampai tangga." Azkia mengantar Raffasya sampai di ujung tangga tanpa mengikuti langkah suaminya turun ke bawah.
" Cepat pulang, Kak!" teriak Azkia.
" Iya ..." Raffasya menyahuti.
" Kamu sudah mau berangkat Raffa?" Natasha yang baru masuk ke dalam rumahnya berpapasan dengan Raffasya di pintu masuk rumahnya.
" Iya, Ma. Raffa berangkat ya, Ma." Raffasya mencium punggung tangan Mama mertuanya itu.
" Ya sudah, hati-hati, jangan ngebut bawa mobilnya." Natasha menasehati.
" Iya, Ma. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
Setelah mendapatkan balasan ucapan salam dari mertuanya, Raffasya pun segera meninggalkan rumah milik kedua orang tua istrinya itu.
" Mama habis darimana?" tanya Azkia dari lantai atas.
" Habis menengok Bu RT, kata Bu Ririn tadi pagi jatuh di toilet." Natasha menjelaskan kenapa dia keluar dari rumahnya tadi.
" Ya Allah, terus gimana kondisinya Bu RT, Ma?" tanya Azkia prihatin.
" Sudah dipanggilkan tukang urut katanya, tapi untungnya saja nggak sampai terkena kepala saat jatuh tadi." Natasha menjelaskan.
" Syukurlah kalau begitu, Ma."
" Kamu mau Mama buatkan salad buah, Kia?" Natasha menawarkan salad kepada Azkia.
" Boleh, Ma."
" Ya sudah, Mama buatkan dulu, kamu tunggu di kamar saja." Natasha lalu berjalan ke arah dapur sementara Azkia kembali ke kamarnya.
***
Raffasya memperhatikan dua orang pria dan satu orang wanita yang terlihat sedang berdebat saat dia keluar dari pintu lift basement sebuah apartemen, karena dia baru saja bertemu dengan Donny yang menyewa apartemen tersebut selama beberapa hari tinggal di Jakarta Raffasya mengeryitkan keningnya, karena dia mengenal satu orang pria yang terlihat perdebatan, yang ternyata adalah Sony. Dia tidak tahu siapa pria lainnya dan wanita yang bernama Sony, karena tubuh wanita itu berdiri membelakanginya.
" Mau apa lagi ikuti aku terus?!" tanya Gladys terdengar kurang bersahabat.
" Sayang, jangan seperti itulah ... masa hanya karena aku tidak bisa membantu, kamu langsung memutuskan hubungan kita."
" Jangan sembarang sebut-sebut Sayang kepada kekasihku ini!" Pria lainnya menegur Sony dan langsung memeluk pinggang Gladys yang berdiri di sebelahnya
" Kamu itu sudah nggak bisa melakukan apa yang aku inginkan, jadi untuk apa hubungan kita diteruskan??" Gladys bertanya dengan ketus.
" Aku bisa kasih kamu apa saja asal jangan suruh aku mengambil cafe itu, Terlalu beresiko jika mengusik menantu sahabatku itu."
Awalnya Raffasya tak tertarik menguping pertengkaran Sony dengan sepasang kekasih di hadapan Sony, dan ingin berjalan menuju mobilnya. Namun saat mendengar kata mengambil cafe dan menantu sahabat, membuat dirinya memutar langkah dan berjalan mendekat ke arah Sony dan kedua orang yang masih belum dia lihat jelas wajahnya.
" Yang lain itu nggak penting! Yang penting itu mengambil kepemilikan La Grande!!"
Raffasya seketika menghentikan langkahnya saat mendegar kata La Grande terucap dari wanita di depan Sony, yang suaranya mulai dia kenali.
" Gladys?" gumam Raffasya. " Oh, jadi Sony itu orang suruhannya Gladys? Si al!! Nggak ada kapoknya wanita licik satu ini!" Raffasya terlihat geram bahkan sampai mengepalkan tangannya saat mengetahui jika Gladys ada di belakang Sony dan berniat menjatuhkannya.
" Sayang, aku 'kan sudah katakan. Pria itu menantu sahabatku yang juga mempunyai koneksi yang erat dengan bos besarku. Aku nggak mungkin mempertaruhkan karirku hanya untuk mencapai ambisimu itu." Sony tetap berusaha menjelaskan kepada Gladys.
" Kamu jangan paksa aku kalau aku sudah tidak ingin bersama kamu! Dan jangan panggil aku sayang, karena aku sudah bukan milik kamu lagi!" tegas Gladys. " Come on, Beib! " Gladys mengajak kekasihnya meninggalkan Sony, namun saat dia memutar tubuhnya dia langsung terperanjat saat melihat Raffasya kini sudah berada di hadapannya.
" Ra-Raffa?" Mata Gladys seketika terbelalak melihat orang yang sedang mereka perbincangkan kini tepat berada di depannya.
" Raffa?" Bukan hanya Gladys yang terkejut, bahkan Sony pun seketika memucat saat melihat Raffasya ada di dalam basement itu.
" Apa harus gue jebloskan lu ke dalam penjara baru lu merasa jera, Gladys?!" geram Raffasya menatap dengan sorot mata tajam ke arah wanita yang memang sudah lama mengejarnya itu.
" Hey, hati-hati kau bicara, Bung!!" Pria kekasih Gladys justru mendorong kedua bahu Raffasya hingga membuat tubuh Raffasya terhuyung dua langkah karena dia tidak menyangka pria yang bersama Gladys itu akan menyerangnya.
" Gue nggak ada urusan sama lu!" Raffasya yang tersulut emosi karena diserang secara tiba-tiba oleh kekasih Gladys langsung menunjukkan telunjuknya ke arah wajah pria yang bersama Gladys.
" Heh, lu dulu yang bicara kasar sama cewek gue! Breng sek, lu!!" Pria itu lalu mengayunkan tangannya ke arah Raffasya, namun kali ini Raffasya cepat mengantisipasi dengan menangkap kepalan tangan pria itu dan dengan gerakan cepat pula dia memelintirkan tangan pria itu hingga merintih kesakitan.
" Kalau nggak bisa apa-apa, jangan sok jagoan lu!!" Raffasya mendorong tubuh kekasih Gladys hingga menabrak pilar tembok basement.
Raffasya lalu berjalan ke arah Gladys yang tadi sempat menjauh karena melihat Raffasya dan kekasihnya beradu otot.
" Almayra meminta gue untuk nggak memperpanjang soal kejadian di Bandung, tapi ternyata hal itu nggak juga membuat lu sadar diri, ya!? Gue punya bukti keterlibatan lu sebagai otak penjebakan Almayra. Apa perlu gue jebloskan lu ke penjara atas ulah lu, biar lu kapok hahh!?" Mungkin jika saja yang dihadapi saat ini adalah pria, ingin rasanya Raffasya meninju wajah Gladys saat itu juga.
" Jangan, Raffa! Aku nggak mau mendekam di penjara!" Gladys langsung melingkarkan tangannya di lengan Raffasya.
" Jangan sentuh tangan gue! Gue ji jik lihat lu!" Raffasya menepis kasar tangan Gladys.
" Gue peringatkan sekali lagi lu, Dys! Kalau lu masih berani mengusik semua yang hal yang berhubungan sama gue, gue pastikan polisi langsung akan menciduk lu secepatnya!" Raffasya menebar ancaman.
" Raf, tolong jangan laporkan aku ke polisi ..." Gladys kini menangis bahkan berlutut dan memeluk kaki Raffasya.
" Lepaskan!!" Raffasya menarik kakinya yang dipeluk oleh Gladys. " Sebaiknya lu bawa pacar banci lu itu dan renungkan apa yang gue ucapkan tadi, kalau lu nggak ingin gue jebloskan ke penjara!" Raffasya lalu berjalan ke arah Sony yang masih berdiri di tempatnya tadi.
" Raffa, Om tidak terlibat! Om bahkan tidak tahu jika orang yang dia maksud itu adalah kamu, menantu dari Yoga." Sony berusaha membela diri.
" Bagaimana seandainya Papa Yoga tahu jika sahabatnya hampir saja mencelakai suami dari anak perempuan Papa Yoga?" ucap Raffasya dengan nada dingin.
" Tolong jangan beritahu Papa mertuamu, Raffa! Lagipula Om juga langsung menolak saat tahu jika kamu adalah menantu Yoga." Sony menegaskan jika dia pun menolak permintaan Gladys saat tahu siapa Raffasya.
" Seharusnya Om lebih memikirkan istri Om dan juga keluarga Om, daripada harus meladeni wanita licik seperti dia!" Raffasya menoleh ke arah Gladys yang sudah pergi ke arah pintu lift.
" Asal Om tahu, Gladys itu hampir mencelakai Almayra. Aku yakin Papa Yoga akan langsung menonjok wajah Om, seandainya Papa tahu justru Om memelihara wanita ja lang yang hampir mencelakai putri kesayangan Papa Yoga." Raffasya merasa kesal karena Gladys dan Sony berusaha menjebaknya, walaupun saat itu Sony tidak mengenal Raffasya sebagai menantu dari keturunan keluarga Atmajaya.
" Om minta maaf, Raffa." sesal Sony.
***
" Kak Raffa ...."
Raffasya mengangkat pandangannya saat mendengar suara wanita memanggil namanya ketika dia hendak keluar dari bank.
" Rayya?" Raffasya mendapati Rayya bersama Ramadhan yang berjalan memasuki bangunan bank. " Hai, Ram." Raffasya pun menyapa Ramadhan yang hanya ditanggapi dengan senyum samar di wajah anak dari Ricky Pratama itu. Apalagi saat dia melihat Ramadhan langsung merangkulkan tangannya di pundak Rayya, Raffasya pun hanya mengembangkan senyumannya.
" Kak Raffa sama siapa? Kia mana?" tanya Rayya.
" Almayra di rumah, dia nggak aku kasih ijin berpergian," Raffasya menyahuti.
" Kapan prediksi Kia akan melahirkan, Kak?" tanya Rayya.
" Perkiraannya Minggu ini melahirkan."
" Semoga persalinan Kia lancar ya, Kak." Rayya mendoakan agar persalinan yang akan dihadapi oleh sepupunya itu berjalan lancar.
" Aamiin ..." sahut Raffasya. " Kalian mau transaksi ke teller juga?" tanya Raffasya.
" Kami mau ke bagian prioritas," sahut Rayya.
" Oh ..." Raffasya menyadari jika Rayya adalah anak dari salah satu orang kaya di Indonesia, tentu saja dia akan mendapatkan pelayanan yang prioritas.
" Kita ke atas sekarang, Sayang." Ramadhan terlihat ingin menyudahi pertemuan mereka dengan Raffasya.
" Kak, aku mau ke bagian prioritas. Salam untuk Kia ya!?"
" Oke, Rayya."
" Assalamualaikum, Kak."
" Waalaikumsalam ...."
" Ayo, Sayang." Ramadhan langsung membawa Rayya pergi meninggalkan Raffasya.
Raffasya kembali menarik satu sudut bibirnya ke atas menanggapi sikap Ramadhan yang masih saja mencemburuinya, tak lama dia pun kemudian melangkah meninggalkan gedung Bank swasta terkenal itu.
***
Selepas Ashar, Raffasya dan Azkia duduk bersantai di teras balkon kamar Azkia sambil berbincang ringan dan bercanda dengan Raffasya yang menyuapkan potongan buah ke mulut Azkia.
" Tadi aku ketemu Rayya dan Rama di bank, May." ujar Raffasya disela-sela canda mereka.
" Oh ya?"
" Suaminya itu masih saja cemburu sama aku deh kayaknya." Raffasya terkekeh mengingat sikap Ramadhan yang seolah beranggapan dirinya akan merebut Rayya dari tangan asisten bos perusahaan Angkasa Rayya itu.
" Biarkan saja, yang penting Kak Raffa 'kan sudah nggak cinta sama Rayya." Azkia mengibas tangannya ke udara.
" Tentu saja, dong! Sekarang dan seterusnya aku ini hanya cinta kamu, Almayra."
" Hihihi ..." Azkia tertawa geli mendengar kalimat rayuan yang dilontarkan suaminya.
" Kenapa tertawa?" Raffasya menyipitkan matanya melihat reaksi istrinya yang menetawakannya.
" Kak Raffa tahu nggak, sih? Pria yang romantis ini dulunya kaku banget kayak kanebo kering nggak kesiram air setahun, hahaha ..." Azkia tergelak menyindir suaminya.
" Kamu meledek aku??" Raffasya langsung menggelitik pinggang Azkia hingga membuat Azkia kegelian.
" Sudah, Kak. Ampun ..." Azkia menyerah agar Raffasya tidak terus menggelitiknya.
" Kak Raffa ingat, nggak? Waktu kita berantem sampai pukul-pukulan di rumah Om Radit?"
Kening Raffasya berkerut mencoba mengingat. " Aku ingatnya hanya saat kita berantem di rumahku, waktu aku lihat hutan gersang kamu saja. Lainnya aku nggak ingat, May. Soalnya hutan gersang kamu itu seolah menghilangkan ingatan aku lainnya tentang kamu." Raffasya menyeringai.
" Dasar ..." Azkia berkacak pinggang seraya menggelembungkan pipi dan mengatup bibirnya.
" Hahaha, pipi kamu persis ikan buntal kalau begitu, May." Raffasya meledek pipi istrinya yang seperti balon.
" Iiiihhh, Kak Raffa ...!!" Kali ini Azkia mencubit pinggang Raffasya karena suaminya itu malah mengejeknya seperti ikan buntal yang suka menggelembungkan tubuhnya seperti balon.
" Istri cantik begini dibilang ikan buntal!" protes Azkia masih dalam mode merajuk.
" Hahaha, iya, iya ... istri cantik ini milik aku." Raffasya langsung memeluk istrinya. " Walaupun kayak ikan buntal, tapi aku cinta, kok." Raffasya masih saja meledek istrinya.
" Oh ya, May. Kamu tahu siapa yang aku temui tadi?"
" Rayya sama Kak Rama, kan?"
" Bukan ...."
" Lalu Kak Raffa ketemu siapa lagi?" tanya Azkia.
" Sony ...."
" Kenapa lagi sama Om Sony? Masih ngotot ingin kerjasama dengan La Grande lagi?"
" Bukan itu, May."
" Lalu?"
" Ternyata dia itu punya wanita peliharaan."
" Hahahaha, kayak kucing dipelihara." Azkia malah tertawa mendengar Raffasya menyebut kata peliharaan.
" Ya kucing peliharaan Om-Om ...."
" Sugar baby maksudnya?"
" Aku nggak paham istilahnya, tapi yang pasti dia itu punya wanita muda yang menjadi simpanan dia."
" Aneh 'kan cowok itu!? Senang banget punya cewek simpanan. Kalau nyimpan cewek nggak akan kaya, yang ada bikin bangkrut, kalau simpan duit baru bisa kaya," celetuk Azkia.
" Kamu tahu siapa ceweknya itu siapa?"
" Siapa?"
" Gladys ...."
" Hahh???" Azkia terkesiap saat mengetahui jika wanita yang menjebak dirinya itu ternyata wanita simpanan teman papanya.
" Iya, dan kamu tahu kenapa Sony itu ngotot ingin berkerjasama dengan La Grande? Karena itu adalah rencana Gladys yang ingin mengambil cafe itu dari aku." Raffasya menerangkan apa yang sebenarnya terjadi.
" Ya ampun, dasar jahat banget si Gladys itu!" geram Azkia. " Aku harus kasih tahu Papa kalau teman Papa itu bukan orang baik karena bekerjasama dengan wanita licik itu!" Azkia langsung bangkit ingin melaporkan perihal Sony kepada Papanya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️