
Tok tok tok
" Lus, Lusi ... buka pintunya! Bawa Naufal keluar, kenapa kau menghaki Naufal sendirian? Naufal juga cucuku, aku ingin menemaninya." Fariz mengetuk pintu kamar Raffasya, karena sejak Azkia dan Raffasya keluar dari rumah, Lusiana memang membawa Naufal ke kamar orang tua Naufal dan sengaja mengunci pintu agar Fariz tidak bisa mendekati Naufal.
" Lusi ...!!" Fariz masih saja mengetuk pintu kamar Raffasya karena Lusiana tidak juga membuka pintu kamar.
" Apaan sih, Mas Fariz berisik amat!? Ganggu Naufal yang sedang mau tidur saja!" Akhirnya pintu kamar Raffasya dibuka oleh Lusiana setelah berkali-kali pintu kamar diketuk.
Fariz menerobos pandangan ke arah dalam kamar Raffasya, dia melihat cucunya itu masih terjaga karena dia mendengar suara ocehan bocah lucu itu.
" Naufal belum tidur, kan?"
" Tadi dia hampir tidur, gara-gara suara Mas Fariz yang berisik jadi terganggu!" Lusiana menampakkan wajah kesal.
" Pasti Naufal kepingin digendong sama Opa, ya? Jadi Naufal nggak bisa bobo." Fariz lalu masuk ke dalam kamar tanpa seijin Lusiana dan segera menghampiri cucu pertamanya itu.
" Mas Fariz sebaiknya keluar, deh! Naufal mau tidur." Lusiana langsung menyuruh mantan suaminya itu keluar dari kamar anak mereka.
" Biar Naufal tidur bersamaku saja di kamar bawah," ucap Fariz santai seraya merebahkan tubuhnya setengah berbaring di tempat tidur milik Raffasya dan Azkia.
" Enak saja! Naufal akan di sini sama aku sampai Raffa dan Kia pulang!" tegas Lusiana menolak permintaan Fariz. " Sudah buruan keluar dari sini deh, Mas! Nggak pantas seorang pria ada di kamar bersama wanita!" Lusiana memperingatkan etika orang timur yang menganggap tidak sepantasnya seorang pria dan wanita yang tidak berada dalam satu ikatan pernikahan berada dalam satu kamar.
Fariz langsung menoleh ke arah Lusiana, tak lama dia mengedar pandangan seluruh sudut ruangan kamar dia berada saat ini. Dia teringat jika kamar yang sekarang dia singgahi ini adalah kamar mereka dulu saat masih menjadi pasangan suami istri. Fariz mendadak melengkungkan senyuman di sudut bibirnya.
" Sepertinya kamu tidak nyaman berada dekatku, Lusi. Kenapa? Apa kamu takut terbawa perasaan ketika dekat denganku?" Fariz justru meledek mantan istrinya yang seketika membulatkan matanya menanggapi perkataannya tadi.
" Jangan terlalu kepedean deh, Mas! Siapa juga yang terbawa perasaan??" Lusiana melipat tangan di dadanya seraya memalingkan wajahnya.
Fariz terkekeh mendapati sikap Lusiana yang mendadak salah tingkah. " Ya, siapa tahu kamu masih belum bisa move on dari perasaan kamu dulu ke aku, Lus. Soalnya setelah dua puluh tahun berpisah, kamu masih sendiri saja. Tidak berminat mencoba untuk membuka hati untuk pria lain?" sindir Fariz kembali.
" Aku masih sendiri atau tidak, itu nggak ada sangkut pautnya dengan Mas Fariz, jadi jangan berasumsi yang macam-macam deh, Mas!" Lusiana merasa kesal karena Fariz justru meledeknya. Dia berpikir, mungkin karena Fariz bisa menikah dan mempunyai keluarga baru dan memiliki anak lagi, karena itu mantan suaminya selalu beranggapan jika dirinya masih belum bisa move on dari pria paruh baya yang masih tetap mempesona walaupun sudah tidak berusia muda lagi.
***
Dengan saling bergandengan tangan Azkia dan Raffasya memasuki gedung yang digunakan untuk menyelenggarakan acara reuni yang diselenggarakan oleh para alumnus sekolah angkatan Raffasya dulu.
" Wah, si trouble maker Raffa akhirnya datang juga."
Sebuah sapaan langsung terdengar saat Raffasya memasuki gedung itu.
" Hai, Raf. Apa kabar?" Seorang pria lainnya menyapa Raffasya dan menyalami tangan Raffasya.
" Hai, Ky. Alhamdulillah sehat." Raffasya pun menjawab sapaan Oky, teman satu kelasnya dulu.
" Wah, lebih calm ya lu sekarang, Raf?" Budi, teman pertama yang tadi menyapa Raffasya ikut mengomentari.
Raffasya hanya tersenyum menanggapi komentar Hendra.
" Siapa yang lu bawa ini Raf? Cewek lu?" tanya Budi penasaran.
Raffasya menoleh ke arah Azkia dengan senyuman yang belum menyurut dari bibirnya.
" Dia bini gue." Raffasya langsung melingkarkan tangan di pinggang Azkia.
" Lu sudah nikah, Raf? Cepat banget lu nikahnya." Oky ikut mengomentari.
" Usia gue sudah dua puluh tujuh tahun, usia yang ideal untuk rumah tangga, kan?" Raffasya menyahuti enteng. " Gue mau menyapa guru-guru dulu, ya!" Raffasya memilih berpamitan karena ingin menyapa guru-gurunya saat mengajarnya ketika SD.
" Hai, Raf!"
Seseorang menyapa Raffasya membuat Raffasya menghentikan langkahnya dan menolehkan wajahnya.
" Hei, Do." Raffasya membalas sapaan Aldo, salah seorang teman dia juga.
" Apa kabar lu, bro? Lama nggak ketemu,. ya?" Aldo langsung melakukan fist bump kepada Raffasya dan menatap ke arah Azkia. " Siapa ini, Raf?"
" Dia bininya Raffa. Kita kalah saing sama Raffa, Do. Dia sudah sold out duluan." Budi menimpali.
" Bini lu?" Aldo seakan tidak mempercayai pendengarannya tentang Azkia yang merupakan istri dari Raffasya. " Tunggu, tunggu ... kayaknya kita pernah bertemu, deh." Aldo mengeryitkan keningnya mencoba mengingat Azkia.
" Ah, lu, Do! Di mana ada cewek cantik dibilang pernah ketemu," sindir Oky.
" Eh, beneran gue pernah ketemu dia, Ky." Aldo merasa yakin jika dia memang pernah bertemu dengan Azkia.
" Memang lu pernah lihat di mana?" tanya Raffasya kemudian.
" Sebentar gue ingat-ingat dulu." Aldo terus memperhatikan wajah Azkia.
" Modus lu, Do. Bilang saja lu mau menikmati kecantikan bininya Raffa!" celetuk Budi menyindir.
" Siapa nama bini lu ini, Raf?" tanya Aldo yang masih berusaha mengumpulkan ingatannya.
" Almayra, Azkia Almayra ..." Raffasya menyebut nama Azkia seraya tersenyum. Dia menduga jika teman-temannya akan terkejut jika mengetahui siapa istrinya itu.
" Azkia Almayra?" Aldo mencoba mengingat kembali seraya mengusap rahangnya.
" Azkia? Azkia ini adiknya yang jago karate bukan, sih?" Budi pun sepertinya mulai mengenali Azkia.
" Iya, bini gue ini adiknya Alden," sahut Raffasya. Nama Alden yang sangat populer di kalangan sekolah karena selain berprestasi dalam hal pendidikan, Alden pun berprestasi dalam bidang olah raga karate dan sering memenangi perlombaan, membuat putra pertama Yoga dan Azkia itu sangat dikenal termasuk oleh kakak kelasnya.
" Kalau benar adiknya Alden, berarti bini lu ini cewek yang suka lu ajak ribut dulu dong, Raf?" tanya Budi. Seperti prestasi Alden yang cukup terkenal, permusuhan antara Azkia dan Raffasya pun tak kalah populernya di lingkungan sekolah kala itu.
Raffasya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
" Nah, gue ingat sekarang. Kalau lu adiknya Alden, berarti lu pacarnya Gibran, kan?" Aldo akhirnya mengingat siapa Azkia.
Azkia dan Raffasya saling berpandangan saat nama Gibran disebut oleh Aldo. Terutama Azkia yang sejak tadi ikut berpikir di mana Aldo pernah bertemunya.
" Gue pernah ketemu Gibran sama bini lu ini tahun lalu di acara gathering di tempat gue kerja. Gue sama Gibran 'kan satu perusahaan cuma beda cabang." Aldo menjelaskan.
Mendengar penjelasan Aldo, Azkia pun akhirnya ingat jika saat itu Gibran pernah mengajaknya ke acara di kantornya dan mengenalkan dia dengan rekan Gibran yang juga teman sekolah mantan kekasihnya dulu.
" Gibran yang gemuk itu, kan?" tanya Budi yang ingatannya cukup tajam menghapal orang-orang.
" Iya, dia memang dulu pacar Gibran. Tapi itu sudah cerita lalu." Raffasya mencoba menjelaskan agar tidak terjadi salah paham.
" Oh iya gue ingat, Gibran itu dulu memang dekat sama Azkia ini, kan? Makanya kita sering meledek jika mereka itu pacaran. Tapi kok kenapa justru nikahnya sama lu, Raf?" Kali ini Oky yang bertanya.
Azkia dan Raffasya spontan menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Oky, dan mereka memang mendapati Gibran yang berjalan ke arah mereka.
Azkia langsung menggigit bibirnya, dia merasa tidak enak hati karena harus bertemu kembali dengan Gibran di hadapan teman-teman Gibran, apalagi ada salah satu teman yang tahu tentang kedekatannya dulu dengan mantan kekasihnya itu yang justru kini telah diketahui oleh teman-teman yang lainnya.
" Hai, Bro! Apa kabar ..." Oky lebih dulu menyapa Gibran disusul Budi kemudian Aldo.
" Hai, baik Alhamdulillah ..." Gibran satu persatu menyapa temannya hingga kini dia menatap Azkia dan Raffasya bergantian.
" Hai, Gib ..." sapa Raffasya namun tak mengulurkan tangannya.
" Kak Gibran ..." Azkia juga menyapa Gibran.
Namun Gibran sama sekali tak menanggapi sapaan Azkia maupun Raffasya.
" Lu sama siapa ke sini, Gib? Sendirian saja kayak kita-kita? Berarti baru si Raffa doang dong yang sold out. Padahal anak paling bandel tapi ada juga cewek yang mau sama dia." Budi sengaja meledek Gibran seakan memprovokasi.
" Hmmm, gue pamit duluan, mau menyapa yang lain." Gibran tak menggubris perkataan Budi, dia justru berlalu pergi meninggalkan mereka semua.
" Si al lu, Bud! Pakai ngomong gitu segala." Aldo menoyor kepala Budi yang langsung cengegesan karena melihat Gibran yang meninggalkan mereka dengan wajah menahan kesal.
" Hahaha, kok gue yang disalahin? Raffa noh, yang harusnya disalahkan. Dia 'kan yang menikung Gibran." Budi berkelit.
" Gue permisi dulu." Raffasya yang melihat suasananya kurang nyaman memilih membawa. Azkia menjauh dari teman-temannya.
" Aku nggak ingat kalau Kak Gibran juga kemungkinan datang ke sini, Kak. Aku jadi nggak enak deh, Kak." Azkia merasa tidak enak dengan suasana yang terjadi tadi.
" Kamu tenang saja, May. Jangan khawatir ..." Raffasya mengusap punggung istrinya itu.
Acara demi acara reuni dilewati Raffasya dan Azkia. Selama acara berlangsung Raffasya memang sengaja memilih bergabung dekat dengan para guru ketimbang teman-temannya agar membuat Azkia merasa lebih aman.
" Bapak ingat dulu saat Om kamu menyuruh Bapak mengeluarkan Raffa, eh ternyata kalian sekarang berjodoh." Pak Wildan kepala sekolah mereka dulu mencoba mengenang masa lalu anak-anak muridnya itu kepada Azkia dan Raffasya.
" Sudah bisa kalian bayangkan bagaimana pusingnya Bapak saat itu? Bapak harus menghadapi nama besar Tuan Gavin Richard dan juga pemilik yayasan Tuan Dirgantara, sementara Bapak berpikir mengeluarkan Raffa saat itu justru tidak akan membuat Raffa akan semakin membaik, namun kemungkinan akan menjadi anak yang pembangkang dan berontak." Pak Wildan menceritakan kenapa dia tetap mempertahankan Raffasya di sekolah itu walaupun sempat mendapat tekanan dari Gavin .
" Terima kasih saat itu Pak Wildan tidak mengeluarkan saya." Raffasya menghaturkan ucapan terima kasihnya kepada kepala sekolahnya yang sudah mempertahankannya walaupun dia sering melakukan ulah yang menyebabkan teman-temannya merasa terganggu.
" Bapak senang sekarang kamu semakin dewasa, Raffa. Kamu sekarang sudah berubah, apa yang Bapak lakukan dulu tidaklah sia-sia." Tentu Pak Wildan merasa senang dengan perubahan sikap Raffasya.
" Maafkan Uncle Gavin ya, Pak Wildan. Karena sikap Uncle membuat Pak Wildan tidak merasa nyaman. Maafkan Kak Raffa juga yang dulu selalu bikin Bapak pusing." Azkia meminta maaf kepada Pak Wildan karena dia merasa jika Uncle nya sudah mengintimidasi Pak Wildan secara tidak langsung. Dan juga meminta maaf atas kelakukan masa kecil suaminya.
" Tidak apa-apa, Azkia. Bapak bisa mengerti kalau Uncle kamu merasa khawatir dengan kamu dan juga sepupu kamu itu," sahut Pak Wildan. " Masalah kenakalan Raffa dulu itu memang sudah tugas kami sebagai pengajar untuk membuat anak-anak murid bisa menjadi lebih baik. Dan tentu saja itu akan menjadi kenangan yang bisa diingat saat Bapak pensiun nanti." Pak Wildan menganggap apa yang dialaminya selama menghadapi sikap Raffasya dulu sudah menjadi tugas dia sebagai pemimpin di sekolah.
Setengah jam kemudian acara pun berakhir, para guru berpamitan terlebih dahulu meninggalkan sekumpulan anak muda yang pernah menjadi murid mereka.
" Tan, gue duluan, ya!?" Raffasya berpamitan kepada Nathan, teman yang beberapa Minggu sebelumnya datang ke Raff cafe.
" Oke, Raf. Thanks atas partisipasi lu buat acara ini," sahut Nathan.
" Sama-sama, Tan. Gue balik, ya. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
Setelah berbincang sebentar dan berpamitan dengan Nathan, Azkia dan Raffasya pun berjalan ke luar gedung menuju halaman parkir.
" Gue duluan ya, bro!" Raffasya berpamitan kepada Budi dan juga Oky yang bersua di parkiran.
" Oke, Raf." sahut Budi..
" Kapan-kapan mampirlah ke cafe gue, kita nanti ngobrol-ngobrol lagi." Lanjut Raffasya kemudian.
" Oke, Raf. Nanti kita nongkrong-nongkrong di sana." Kali ini Oky yang menyahuti.
" Gib, lu kok nggak tegur sapa sama Raffa dan bininya? Katanya dia mantan lu. Hehehe ... Kok bisa lu ketikung sama Raffa?" Budi yang tadi sempat menyindir Gibran kembali menyindir pria itu saat melihat Gibran melintas di hadapannya yang ingin berjalan ke arah mobilnya.
Gibran kembali tak menghiraukan sindiran dari Budi, dia tetap berjalan ke tujuannya.
" Dewasalah, Bro! Jangan kayak anak kecil begitu!"
Buuugghh
Sebuah pukulan meluncur ke wajah Budi dari tangan Gibran yang memutar tubuhnya saat mendengar sindiran Budi. Sepertinya Gibran terpancing dengan provokasi yang dilancarkan Budi.
" Astaghfirullahal adzim, Kak Gibran!" Azkia nampak syok dan terperanjat saat mengetahui Gibran meninju muka Budi. Karena selama dia mengenal Gibran, dia tidak pernah sekalipun melihat mantan kekasihnya itu berbuat kasar.
" Gibran ...!" Oky langsung mencengram lengan Gibran agar Gibran tidak menyerang Budi.
" Shi_t!!" Budi yang terkejut atas pukulan yang dia dapatkan dari Gibran berusaha menyerang balik Gibran dengan melancarkan pukulan namun Raffasya lebih dahulu menahannya.
" Bud, sabar ...!" Raffasya mencoba menenangkan Budi.
" Si al! Dia mukul gue duluan, Raf!" Budi merasa tak terima dipukul secara tiba-tiba oleh Gibran.
" Lu, tenang dong, Bud! Lu sendiri yang mancing dengan ucapan lu tadi." Raffasya mencoba mengingatkan Budi jika apa yang dilakukan Gibran karena kesalahan Budi sendiri yang mengeluarkan kalimat yang menyindir Gibran.
" Apa yang salah sama ucapan gue? Kenyataannya dia memang ketikung sama lu, kan?? Makanya dia emosi!" Budi kembali menyindir Gibran yang masih berselimut emosi.
" Sia lan, Kau!" Gibran menepis tangan Oky yang mencengkram lengannya dan kembali ingin menyerang Budi.
" Gib, sabar, Gib ...!" Oky berusaha menahan Gibran namun terlambat karena sebuah pukulan kembali dilayangkan Gibran ke arah Budi.
Buuugghh
" Aaaakkkhh ...."
" Kak Raffa ...!!" Azkia langsung mendekati Raffasya yang terkena sasaran tinju Gibran, walaupun sebenarnya tinju itu ditujukan untuk Budi. Karena tadi posisi Raffasya membelakangi Budi membuat Raffasya kaget saat mendengar Oky berteriak dan saat Raffasya menolehkan wajahnya ke arah Gibran, dan Oky, dia terlambat menangkis sebuah tinju yang langsung mengenai wajah tampannya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️