
Raffasya memperhatikan Azkia yang sedang membersihkan wajahnya di cermin. Tak lama kemudian Azkia beranjak menuju ke peraduan dan menarik selimut tebalnya sampai batas leher.
Sejak istrinya itu menanyakan tentang perasaannya sekarang terhadap Rayya, Azkia terlihat tidak banyak bicara dan menghindar darinya. Karena Raffasya memang sengaja mengalihkan pembicaraan dan tidak ingin membahas soal perasaannya sekarang terhadap sepupu istrinya itu.
" Sudah ingin tidur, May?" tanya Raffasya bangkit dari sofa kemudian melangkah ke arah tempat tidur, yang dijawab dengan anggukkan kepala istrinya.
" Ya sudah, aku mau ke bawah dulu," pamit Raffasya kemudian memutar langkahnya ke luar dari kamarnya.
Azkia menoleh dan menatap bagian belakang tubuh suaminya yang keluar kamar. Dia lalu mengerucutkan bibirnya.
" Kalau masih cinta, bilang saja! Nggak perlu mengalihkan pembicaraan segala! Aku tahu Kak Raffa itu masih mengidamkan Rayya," keluh Azkia bergumam. Apalagi saat dia teringat mimpinya beberapa waktu lalu saat memimpikan Raffasya dengan Rayya.
Azkia langsung menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya. Entah kenapa hatinya terasa tergigit saat menyadari suaminya itu masih mengidamkan Rayya. Hingga tanpa terasa matanya terasa memanas dan siap memproduksi cairan bening yang sebentar lagi akan menetes di pipinya.
" Sabar ya, Nak. Walaupun Papamu masih menyukai Auntie Rayya dan tidak menyayangi Mama, tapi Papa tetap sayang sama kamu, Nak." Azkia mengusap perutnya seakan mengajak bicara bayinya itu. Kalau soal perhatian dan kasih sayang kepada janin di perutnya, Azkia yakin Raffasya sangat menyayangi calon bayi mereka.
***
Sekitar jam dua belas malam Raffasya kembali ke kamarnya. Dia mendapati Azkia yang tertidur dengan menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kaki sampai rambut dengan selimut. Sebuah senyuman terukir di sudut bibir pria tampan itu. Dia berpikir kalau Azkia menutup selimut sampai kepala, menandakan Azkia sedang marah atau kesal terhadapnya. Dan Raffasya menduga jika hal ini masih ada hubungannya dengan dugaan Azkia yang mengira dia masih menyimpan perasaan terhadap Rayya.
Raffasya membuka selimut yang menutupi wajah Azkia. Dia melihat pipi Azkia yang lembab karena air mata. Raffasya mengecup pipi Azkia kemudian merapihkan selimut Azkia sampai batas lehernya. Selanjutnya Raffasya merebahkan tubuhnya di samping Azkia dengan jarak hampir setengah meter dari istrinya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat penat karena aktivitas hari ini.
Keesokan paginya ...
Azkia merasakan tubuhnya terasa ringan tidak seperti biasanya, yang selalu berat karena ada tangan Raffasya yang melingkar di pinggangnya atau kaki Raffasya yang menimpa betisnya. Azkia sontak menolehkan wajahnya ke belakang. Dia menemukan punggung suaminya yang tertidur membelakanginya.
Azkia mendengus kasar dan menyibak selimut dengan kasar kemudian bersungut-sungut masuk ke dalam kamar mandi.
Azkia menatap wajahnya di cermin namun tak lama dia menengadahkan kepalanya ke atas guna menahan cairan bening yang tiba-tiba mengembun di bola matanya.
" Kamu jangan terbawa perasaan dong, Kia!" gumam Azkia seolah memeperingatkan dirinya sendiri seraya menyeka air mata yang hampir menetes di sudut matanya.
" Kak Raffa perhatian sama kamu hanya karena bayi ini, nggak lebih! Jadi jangan sampai kamu baper karena sikap manis Kak Raffa itu. Rayya itu cinta pertama Kak Raffa, jadi nggak mungkin perasaan sukanya kepada Rayya bisa hilang begitu saja," batin Azkia yang tiba-tiba saja merasa sakit membayangkan tentang hal itu.
" Jangan baper, Kia! Jangan baper!" Azkia memejamkan matanya hingga akhirnya cairan bening yang sedari tadi ditahan tumpah juga di pipinya.
Setelah membersihkan tubuhnya, Azkia keluar dari kamar mandi, namun dia tidak menemukan Raffasya di atas tempat tidur. Ada rasa kesal yang tiba-tiba muncul di hatinya.
" Tenang, Kia. Acuhkan saja! Jangan dipikirkan! Jangan menyakiti hatimu sendiri!" Azkia berusaha untuk tegar dan tidak terpengaruh dengan sikap Raffasya. Dia lalu memakai bajunya dan berhias dengan sapuan make up natural, karena dia akan berangkat ke kampus.
Dari cermin riasnya Azkia melirik ke arah pintu saat pintu kamar suaminya itu terbuka.
" May, kamu sarapan dulu, nih. Aku sudah buatkan nasi goreng spesial untuk kamu. Aku yang masak sendiri. Kamu cobain, deh! Kata yang pernah makan nasi goreng buatanku, semua bilang rasanya enak." Raffasya menaruh baki berisi sepiring nasi goreng, buah melon dan air mineral.
Raffasya lalu berjalan mendekati Azkia dan berdiri di belakang Azkia yang masih terduduk di kursi depan meja riasnya. Dia lalu menyentuh pundak istrinya dari belakang.
" Sudah nggak usah dandan lama-lama. Kalau sudah jelek ya sudah jelek saja!" Sambil terkekeh Raffasya sengaja menggoda Azkia dan sukses membuat Azkia memberengut.
Azkia langsung menyingkirkan tangan Raffasya yang menempel di pundaknya. Kemudian dia bangkit ingin melangkah ke luar dari kamar Raffasya.
" Hei, mau ke mana?" Raffasya lebih dulu berhasil menarik pinggang Azkia sebelum istrinya berhasil keluar dari kamarnya.
Azkia menarik nafasnya perlahan, " Tenang, Kia. Jangan emosi, santai saja menghadapi Kak Raffa," batin Azkia mencoba untuk mengontrol emosinya agar tidak meledak-ledak.
" Lepas dong, Kak. Aku mau keluar ..." Azkia memohon agar suaminya melepaskan belitan tangan di pinggangnya.
" Memangnya kamu mau ke mana?" Tangan kanan Raffasya mengusap wajah cantik Azkia. " Aku sudah buatkan makanan untuk kamu. Kamu sarapan dulu. Mau aku suapin?" ujar Raffasya dengan bahasa yang sangat lembut terdengar di telinga Azkia.
Azkia menelan salivanya, sungguh dia harus bisa menahan gejolak di hatinya. Sikap manis Raffasya seperti yang ditunjukkan saat ini benar-benar bisa membahayakan dirinya jika dia terhanyut dengan sikap mesra yang saat ini sedang diperlihatkan oleh Raffasya. Azkia menganggap Raffasya tidak menyayanginya dan hanya menyanyangi bayi yang dikandungnya. Jadi dia tidak ingin tenggelam dengan sikap mesra Raffasya yang akhirnya akan membuatnya jatuh cinta terhadap suaminya itu. Dan justru akan menyakiti hatinya di kemudian hari.
" Nggak usah, Kak! Kak Raffa nggak usah repot-repot meladeni aku seperti ini. Aku bisa ambil makan sendiri. Aku bisa meminta Bi Neng untuk membuatkan sarapan buat aku." Azkia mengatakan perkataan itu dengan bahasa yang halus tanpa dibumbui emosi. Dia lalu mengurai pelukan lengan Raffasya di pinggangnya.
" Lagipula aku sedang nggak ingin sarapan nasi. Aku mau buat roti bakar saja untuk sarapan." Azkia senjaga berasalasan.
" Sarapan roti nggak akan kenyang untuk kamu dan bayi di perut kamu, May. Kamu makan sarapan yang sudah aku buatkan saja. Aku suapin, ya? Biar kamu jadi mood sarapannya." Raffasya ganti melingkarkan lengannya di pundak Azkia dan membawa Azkia untuk duduk di sofa, kemudian dia duduk di samping Azkia setelah mengambil piring berisi nasi goreng di atas meja dan siap untuk menyuapi Azkia.
" Aku makan sendiri saja, Kak." Azkia berusaha merebut piring di tangan Raffasya.
" Sudah biar aku saja yang menyuapi kamu. Aaa ..." Tangan Raffasya menyendok nasi goreng dan mengarahkan ke mulut Azkia. " Ayo dimakan! Jangan buat dedek bayinya kelaparan." Raffasya memaksa Azkia untuk makan suapan darinya.
Azkia akhirnya menuruti apa yang diminta oleh Raffasya hingga dia menerima suapan demi suapan nasi goreng buatan suaminya itu hingga habis tak tersisa.
" Nah, seperti ini, nurut sama suami kalau ingin menjadi istri yang baik." Raffasya lalu mengambil air mineral dan membuka sealnya sebelum diserahkan kepada Azkia.
" Sekarang tinggal makan buahnya." Raffasya mengambil piring potongan buah melon.
" Aku sudah kenyang." Azkia menolak buah yang sudah disodorkan Raffasya ke dekat mulutnya.
" Kamu harus makan buah ini agar bayi di perut kamu tetap mendapat asupan gizi. Aku dapat informasi Buah melon ini baik untuk memenuhi kalsium harian dan nutrisinya berperan dalam pembentukan tulang dan gigi pada si janin. Kamu ingin bayi ini terlahir sehat, kan?" Raffasya kembali memaksa Azkia agar menuruti perintahnya.
" Ya sudah aku makan sendiri saja." Azkia meminta piring berisi melon itu dari tangan Raffasya.
" Biar aku suapin saja, biar kamu semangat makan buahnya, maksudku ... dedek bayinya semangat makannya. Kan dedek bayinya selalu ingin dimanja sama Papa, iya kan?" Raffasya kembali menggoda Azkia sambil melirik ke arah perut istrinya.
" Aku saja, Kak. Biar anakku ini nggak jadi manja sama Papanya kalau suatu saat pisah dari Papanya." Kalimat sindiran diucapkan oleh Azkia seraya mengambil paksa piring buah itu dari tangan Raffasya.
Raffasya seketika mengeryitkan keningnya mendengar ucapan Azkia.
" Maksud omongan kamu itu apa, May?"
" Aku nggak mau anakku ini nantinya akan ketergantungan sama Kak Raffa."
" Memangnya kenapa? Apa salahnya? Dia juga 'kan anak aku." Raffasya terlihat tidak suka dengan kalimat yang diucapkan oleh Azkia. " Lagipula kita sudah sepakat untuk membatalkan perjanjian sebelum nikah tentang perpisahan setelah anak ini lahir. Kamu juga sudah menyetujuinya, kenapa masih membahas soal perpisahan?" Kalimat Raffasya kali ini terdengar cukup serius.
" Kalau yang kamu permasalahkan adalah soal perasaan aku ke Rayya sekarang, untuk apa kamu pikirkan hal itu? Kamu sendiri tahu jika Rayya sebentar lagi akan menikah dengan Rama. Rayya akan menggapai kebahagiaan masa depannya dengan pria yang dia cintai. Dan aku juga sudah punya masa depan yang lebih pasti. Ada kamu dan anak aku ini." Raffasya mengusap perut Azkia. " Apa kamu nggak bisa melihat dan merasakan bagaimana sikap aku terhadap kamu selama kita menikah, May?"
Azkia terdiam, dia menarik nafas perlahan. Dia memang merasakan perubahan sikap Raffa sekarang ini berbanding seratus delapan puluh derajat jika dibandingkan dengan sikap Raffasya yang sejak kecil dia kenal. Tidak ada lagi sikap kasar Raffasya, namun itulah yang dia takutkan. Dia tidak ingin terjerembab dalam perasaan sayang dan cinta kepada suaminya karena dia sendiri belum mendapatkan kepastian soal perasaan suaminya itu kepada dirinya.
" Sejak kejadian di Bandung, aku merasa sangat bertanggung jawab terhadap kamu, May. Karena itu aku selalu berusaha untuk bicara sama kamu. Apalagi saat tahu kamu akhirnya hamil karena perbuatan aku. Dan rasa tanggung jawabku itu tidak akan berhenti sampai bayi ini lahir, tapi selamanya ... mungkin sampai aku menutup mata."
Azkia kini menatap wajah suaminya dengan bola mata yang mengembun.
" Jadi aku mohon kamu jangan pernah berpikiran untuk menyudahi pernikahan ini. Aku tidak akan membuat anak kita ini terpisah dari kedua orang tuanya. Kita akan mengurus dan membesarkan anak ini sampai dia tumbuh dewasa. Anak ini terlahir karena kesalahan kita, jadi kita tidak boleh salah mengurusnya. Kita harus membesarkan anak kita dengan limpahan kasih sayang layaknya kasih sayang yang pantas didapat oleh seorang anak dari kedua orang tuanya. Dan nanti kita akan berikan adik-adik lainnya untuk anak kita ini. Percayalah, aku akan berusaha menjadikan rumah tangga kita keluarga yang bahagia." tekat Raffasya, membuat Azkia tak tahan untuk terus menahan air matanya untuk tidak terjatuh.
***
Sejak mendapatkan kepastian tentang perasaan Raffasya terhadap dirinya sekarang ini, Azkia menjadi lebih tenang, dan itu berimbas terhadap hubungannya antara dia bersama Raffasya yang mulai membaik dari hari ke hari. Azkia menikmati setiap perlakuan spesial yang Raffasya tunjukkan kepadanya.
" Lu nggak dijemput sama suami lu, May?" tanya Atika saat Azkia ikut menumpang pulang pada sahabatnya itu karena Raffasya berhalangan menjemput Azkia pulang.
" Kak Raffa sedang keluar kota, Tik. Tapi Kak Raffa nggak kasih ijin gue bawa mobil sendiri, jadi suruh supir jemput gue. Tapi dari pada minta antar supir mending nebeng lu saja, deh." sahut Azkia terkekeh.
" Kalau gitu kita makan dulu saja, yuk!" Atika mengajak Azkia untuk makan siang sebelum pulang.
" Oke, tapi lu yang traktir, ya?"
" Hahaha, lu yang sudah punya suami minta ditraktir gue yang masih jomblo dan pengangguran," celetuk Atika kemudian.
" Sekali-kali, Tik." Azkia menyahuti dan ikut tertawa.
Ddrrtt ddrrtt
Terdengar panggilan telepon masuk dari ponsel Azkia saat masuk ke dalam mobil milik Atika. Azkia segera mengambil benda pipih itu dari dalam tasnya. Terlihat nama suaminya yang melakukan panggilan video call di ponselnya, dengan cepat dia mengangkat video call itu.
" Halo, assalamualaikum, Kak." sapa Azkia saat melihat wajah tampan Raffasya di layar ponselnya itu.
" Waalaikumsalam, kamu sudah pulang, May? Sudah dijemput sama Pak supir?" tanya Raffasya.
" Aku ikut pulang sama Atika, Kak." Azkia langsung mengarahkan kamera ponselnya ke arah Atika yang berada di balik kemudi.
" Hai, Kak Raffa ..." Atika menyapa Raffasya dengan melambaikan tangannya. " Kak, aku mau bawa Azkia makan dulu sebentar ya, Kak." Atika meminta ijin kepada Raffasya.
" Oh silahkan saja, Tika. Aku titip istriku dulu, ya!" Raffasya memberikan ijin kepada Atika dan menitipkan istrinya itu kepada Atika.
" Siap, Kak. Aku akan jaga bumil ini biar nggak berbuat yang aneh-aneh." Atika terkekeh berseloroh.
" Memang aku mau berbuat yang aneh apaan, Tik?" protes Azkia mendengar ucapan Atika tadi yang langsung ditanggapi oleh Atika dengan tawanya.
" Kak Raffa kapan akan pulang?" tanya Azkia kepada Raffasya.
" Mungkin malam ini aku pulangnya. Pokoknya sebelum kamu tertidur aku akan pulang. Karena aku tahu bayinya pasti nggak akan bisa bikin Mamanya tertidur lelap kalau Papa si bayi belum pulang." Raffasya menggoda Azkia.
Azkia terkekeh mendengar ucapan Raffasya karena dia selalu memberikan alasan jika bayinya yang selalu mencemaskan suaminya itu.
" Kalau aku mengantuk, sudah pasti aku akan tidurlah, Kak." sahut Azkia menepis anggapan Raffasya.
" Yakin bisa tidur kalau aku belum pulang?" ledek Raffasya menyindir.
" Kalau Kak Raffa selalu kasih kabar sih, aku bisa tenang." Azkia berasalasan.
" Oke deh, nanti setiap lima menit sekali aku kasih kabar kamu." Raffasya terkekeh.
" Ya nggak usah lebay gitu juga dong, Kak!" Azkia memutar bola matanya menanggapi ungkapan berlebihan sang suami.
" Daripada kamu khawatir dan bikin kamu menangis, kan lebih baik aku sering kasih kabar kamu."
" Sudah ah, nggak usah bicarakan hal itu. Kak Raffa sedang apa?" Azkia mengalihkan pembicaraan.
" Aku sedang nunggu pesanan makan siang sama teman," sahut Raffasya.
" Teman siapa? Cowok atau cewek?" selidik Azkia.
" Teman cewek, mau lihat? Ini dia ..." Layar ponsel Azkia kini berubah memperlihatkan seorang wanita cantik yang duduk bersebelahan dengan Raffasya.
" Hai, Kia ... apa kabar? Senang akhirnya bisa lihat kamu ..." Wanita itu dengan ramahnya menyapa Azkia, membuat Azkia mengeryitkan keningnya karena wanita itu ternyata mengenalinya.
" Kak, dia itu siapa?" tanya Azkia penasaran.
" Ini?" Raffasya kini merangkulkan lengannya di pundak wanita itu hingga kini wajah Raffasya dan wanita itu terlihat jelas di layar ponsel Azkia.
" Iya, siapa dia?" Azkia seketika terbakar cemburu saat pandangan matanya melihat Raffasya merangkul wanita cantik itu.
" Hahaha, dia ini Kak Elma, kakak sepupuku. Kak Elma ini anak dari Kakaknya Papa. Kak Elma ini cucu Nenek juga. Kebetulan dia ada di sini sama suaminya." Raffasya kemudian mengarahkan kamera ponselnya ke arah pria di hadapannya.
" Biasanya setahun sekali Kak Elma datang ke rumah tiap merayakan hari raya bersama Nenek dan kedua orang tuanya." Raffasya menerangkan.
" Hai, Kia ... maaf waktu pernikahan kamu Kakak nggak bisa datang karena menemani suami tugas ke Medan." Elma kemudian mengajak bicara Azkia kembali.
" Oh, nggak apa-apa, Kak." Setelah mengetahui siapa wanita yang bersama suaminya, Azkia kini bisa bernafas lega.
" Ya sudah, May. Nanti aku sambung lagi teleponnya. Ini pesanan makanannya sudah datang." Raffasya memperlihatkan hidangan yang sudah tersaji di mejanya. " Kamu jangan capek-capek. Kalau sudah makan langsung pulang jangan ke mana-mana." Raffasya menasehati.
" Iya, Kak. Assalamualaikum ..." Azkia mengakhiri percakapannya dengan suaminya.
" Waalaikumsalam ..." Raffasya sempat membalas sebelum menyudahi panggilan teleponnya.
" Suami lu itu sweet banget deh, Az. Gi la saja kalau lu nggak jatuh cinta sama dia." Atika yang sejak tadi mendengar percakapan Azkia dengan Raffasya langsung berkomentar setelah Azkia selesai berbincang dengan Raffasya.
" Eh, dilarang mengagumi laki orang, ya!" Azkia memperotes Atika yang memuji suaminya.
" Hahaha, bucin lu lama-lama, Az!" sahut Atika tergelak. " Tapi lu tenang saja, gue nggak bakalan rebut suami lu, kok! Tapi kalau ketemu cowok kayak suami lu itu, gue sih nggak akan menolak walaupun dia lakinya orang." Atika terkikik.
" Gi la lu, Tik! Jangan berani-beraninya jadi pelakor lu!" tegur Azkia yang langsung ditanggapi Atika dengan tawanya.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading ❤️